Dahulu kala, legenda menceritakan tentang satu keluarga bangsawan yang namanya sangat dikenal, disegani sekaligus ditakuti. Mereka menutup rapat urusan dalam dan keuangan, hidup tertutup dari dunia luar. Yang paling membuat orang segan adalah sifat mereka yang kejam dan tak kenal ampun — dikenal luas sebagai keluarga assassin/pembunuh yang tak tertandingi.
Ciri khas mereka tak perlu diragukan lagi. Jika darah masih murni, rambut mereka berwarna perak keemasan pucat, berkilau tipis saat terkena cahaya. Mata mereka sejernih es beku — biru terang hingga menebarkan rasa dingin hanya dengan sekali tatap. Di zamannya, keluarga ini memegang kekuasaan penuh, bisa mengatur segalanya sesuka hati. Namun di balik kekayaan dan kekuasaan itu tersembunyi satu tradisi aneh yang menjadi alasannya: setiap lima puluh tahun sekali, mereka wajib menyerahkan satu nyawa sebagai tumbal — dan harus yang berdarah murni, bukan campuran.
Lama‑kelamaan, keturunan darah murni makin sulit didapat. Sulit memiliki keturunan, banyak yang meninggal muda — membuat fondasi keluarga yang kokoh itu mulai retak dan goyah.
Suatu malam, di dalam gedung besar yang remang dan sedingin makam, sepasang suami istri berdiri berhadapan dengan keributan. Orang‑orang tak dikenal menerobos masuk — suruhan para tetua keluarga. Sang istri hanya berdarah campuran, namun suaminya murni penuh. Mereka memiliki seorang putri berusia sepuluh tahun — Sofia. Para tetua ingin mengambil gadis itu untuk dijadikan tumbal berikutnya.
Keduanya mahir bertarung, namun jumlah lawan terlalu banyak. Akhirnya sang suami memutuskan menahan semua penyerang sendirian. Sang istri hanya sempat melirik sekali — hati hancur berkeping‑keping — lalu segera menarik tangan mungil putrinya dan berlari keluar. Ia memegang tangan anaknya dengan lembut namun erat, tak ingin Sofia terjatuh meski napasnya terengah‑engah dan dadanya sesak. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada yang terlalu dekat.
Mereka terus berlari, menerobos masuk ke dalam hutan yang gelap dan lebat, berharap bisa mencapai perbatasan dan lolos dari wilayah kekuasaan keluarga itu. Sofia hanya mengikuti langkah ibunya dengan tubuh gemetar hebat, ketakutan menyelimuti setiap inci tubuhnya. Wajahnya masih terbayang jelas — ayahnya yang harus ditinggalkan sendirian di tengah kerumunan pengejar. Ia ingin berteriak, memanggil, namun lidahnya terasa kelu seolah tertanam di langit‑langit mulut.
Belum jauh berlari, lima orang pengejar mulai mendekat. Sang ibu berhenti mendadak, mendorong tubuh Sofia sedikit menjauh ke balik semak, lalu langsung menyambut dua orang yang paling depan. Gerakannya secepat kilat — hanya dalam hitungan detik, keduanya sudah tergeletak tak bergerak. Ia segera kembali menghampiri anaknya, berlutut di tanah yang basah dan dingin, memegang kedua pipi Sofia dengan tangan yang sedikit bergetar.
Rambut perak keemasan gadis itu terurai panjang, sedikit berantakan terkena ranting dan dahan tajam. Matanya yang biru bening berkaca‑kaca, penuh air mata dan ketakutan yang tak bisa disembunyikan. Ia masih mengenakan gaun tidur putih yang kini kotor terkena lumpur dan daun kering. Tangannya meringkuk di dada, sesenggukan tak berhenti, bahunya naik turun menahan isak tangis yang menyakitkan.
Ibunya menahan sesak di tenggorokan, berusaha tersenyum meski matanya juga basah berkaca‑kaca. Ia mengeluarkan sebilah belati dari pinggangnya, lalu menaruh gagangnya ke telapak tangan Sofia dan memeganginya agar tak terlepas dari genggaman kecil itu.
Belati itu terasa berat di tangan anak itu. Bilahnya panjang dan mengilap, memantulkan cahaya remang dari bulan yang tersembunyi di balik awan. Ada ukiran halus yang memanjang di sepanjang permukaannya — pola yang rumit namun indah, seolah menyimpan kisah berabad‑abad. Gagangnya terbuat dari bahan gelap yang pas digenggam, dihias ukiran logam yang rumit di bagian ujung dan silangnya. Sarungnya juga sama, dipadukan kulit bertekstur dan hiasan logam yang serasi. Benda ini bukan sekadar senjata — terasa seperti warisan yang menyimpan beban berat, namun juga perlindungan yang tak terlihat.
Dari balik pepohonan yang gelap, tiga orang lagi muncul mendekat. Suara ibu itu berubah tegas, namun nadanya tetap bergetar menahan tangis yang tertahan di kerongkongan:
“Sayang… kau putri kesayangan Ibu. Kau kuat, kan? Bawa ini. Pergilah sejauh mungkin.” Ia menatap mata biru anaknya dengan pandangan yang dalam — penuh cinta, penuh kepedihan, penuh perpisahan yang tak terucap. “Ingat… kalau ada yang menyakitimu, pakai belati ini. Faham? Cepat pergi, Nak.”
Anak itu hanya menggeleng cepat, air matanya makin deras membasahi pipi. Ia tak mau melepaskan tangan ibunya, tak mau pergi sendirian ke dalam kegelapan yang menakutkan itu. Namun ibunya sudah berdiri, berbalik memunggungi Sofia, menghadap kedatangan musuh sambil bersiap bertarung lagi — tubuhnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena harus meninggalkan satu‑satunya alasan untuk tetap hidup.
Tiba‑tiba teriakan keras memecah keheningan hutan — penuh keputusasaan dan cinta yang tak terukur:
“SOFIA! PERGI! PERGI SEKARANG! LARI DAN JANGAN PERNAH BERHENTI!”
Gadis itu menoleh sekali lagi — satu kali, untuk selamanya. Melihat ibunya yang sudah dikelilingi oleh bayangan‑bayangan gelap, bertarung sekuat tenaga meski tubuhnya mulai terluka, darah menetes jatuh ke tanah hutan yang lembap. Ia menggenggam belati itu erat‑erat sampai buku‑buku jarinya memutih, sampai kuku menancap ke telapak tangannya sendiri, lalu memutar badan dan berlari — sekuat tenaga kaki mungilnya bisa membawanya. Sempat terantuk akar pohon yang besar dan jatuh telungkup ke tanah yang berlumpur, tapi ia bangkit lagi tanpa membuang waktu, terus berlari masuk ke dalam kegelapan yang pekat — membawa air mata yang tak henti menetes, dan belati itu yang terasa makin berat di tangannya, seolah menanggung seluruh beban darah yang mengalir di dalam dirinya.
Bertahun‑tahun berlalu.
Terbentang sebuah desa kecil yang tersembunyi di lembah pegunungan tinggi, jauh dari bising kota dan hiruk‑pikuk dunia luar. Di tengah hamparan rumput hijau luas yang penuh bunga liar kuning yang mekar indah, berdiri rumah‑rumah kayu sederhana beratap papan. Sudah puluhan tahun berdiri kokoh — kayunya memudar terkena hujan dan matahari, namun tetap kuat tak goyah diterpa angin kencang. Jalan tanahnya berkelok lembut, dipagari kayu dan kawat kasar yang menjadi batas ladang milik warga satu sama lain.
Di kejauhan, gunung‑gunung tinggi menjulang gagah, puncaknya sering tertutup kabut tipis seolah tak ingin memperlihatkan seluruh keindahannya. Udara di sini sangat sejuk dan segar, terasa ringan menyejukkan paru‑paru saat dihirup dalam‑dalam. Kendaraan jarang lewat; sesekali hanya terdengar suara motor melaju pelan di jalan berbatu, membawa sayuran dari kebun lalu berhenti sebentar untuk menawarkannya ke rumah‑rumah. Di pinggir jalan ada warung kayu kecil, tempat warga berkumpul belanja beras atau garam, sekaligus mengobrol melepas lelah di sore hari.
Di ujung desa, tak jauh dari sungai yang airnya bening sampai terlihat kerikil di dasarnya, ada air terjun yang menyembur pelan di sela‑sela batu besar. Airnya turun perlahan, mengalir tenang di antara bebatuan yang berlumut hijau. Tepat di sebelahnya berdiri rumah kami — dibangun dari batu alam dan kayu tebal, seolah sudah tumbuh menyatu dengan lingkungan sekitar sejak zaman dahulu.
Halaman depannya ada tangga batu yang tersusun sederhana namun kokoh, ditumbuhi lumut hijau di celah‑celahnya. Di sisi‑sisinya tumbuh rumput pendek dan bunga liar berwarna putih, biru, serta ungu yang menjalar bebas sampai ke dinding rumah. Beberapa tiang kayu besar menopang atap teras, memberi tempat teduh yang sejuk sepanjang hari. Di belakangnya terlihat pepohonan lebat dan lereng gunung yang hijau, sementara suara air terjun terdengar terus‑menerus — lembut, berirama, tak pernah berhenti, seperti detak jantung yang menenangkan.
Dinding rumah itu dari papan kayu yang warnanya sudah pudar terkena angin gunung dan hujan berkabut. Pintu depannya dari kayu tua yang berat, terasa kasar saat dipegang namun kokoh sekali — tak ada satu pun paku yang terlihat menonjol. Di sampingnya ada jendela dengan bingkai kayu serasi, daun jendelanya mudah digerakkan tanpa berdecit sedikit pun. Di depan teras dipasang pagar kayu kasar yang setinggi pinggang, lantainya semen yang sudah dipadatkan puluhan tahun — sekarang terasa halus dan rata saat dipijak, dipoles oleh waktu dan tapak kaki yang tak terhitung jumlahnya. Di ambang jendela tergantung pot tanah liat berisi bunga merah yang tumbuh subur, memberi sedikit warna cerah pada bangunan yang terlihat begitu alami dan tenang.
Di teras itu, sepasang suami istri duduk bersila beralaskan tikar plastik tipis yang sudah agak menipis di beberapa bagian, namun masih cukup nyaman. Mereka diam menikmati angin sore yang berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan bunga liar.
Sang ibu berwajah lembut sekali — seolah seluruh kelembutan di dunia ini berkumpul di wajahnya. Kulitnya putih bersih, tak pernah memakai krim apa pun tapi tetap terlihat bersinar segar setiap kali terkena cahaya senja. Rambutnya yang panjang sampai di pinggang disisir rapi, diikat longgar ke belakang, berkilau lembut terkena cahaya keemasan matahari yang mulai turun. Matanya bening dan hangat — menatap siapa saja dengan pandangan yang menenangkan, seolah ia tahu beban apa yang sedang kau pikul. Saat tersenyum, terasa tulus tanpa kepura‑puraan sedikit pun. Tangannya bergerak terampil menuangkan air hangat dari teko tanah liat ke cangkir kayu yang permukaannya kasar namun halus dipegang. Senyumnya tak pernah hilang — seolah ia sudah merasa cukup dengan apa yang ada, dan tak meminta lebih dari hidup.
Di sampingnya duduk ayah. Kulitnya sawo matang, terbakar matahari ladang sejak muda. Ada garis‑garis halus di dahi dan sudut matanya — peta kehidupan yang penuh kerja keras dan kejujuran. Matanya tajam namun terasa lembut setiap kali menatap istri dan anak‑anaknya. Rambutnya lebat namun agak berantakan, seperti baru saja mengusap keringat lalu langsung duduk bersama keluarga tanpa mempedulikan penampilan. Ia mengenakan kemeja katun biru yang sudah pudar warnanya, lengan digulung sampai siku, dipadukan celana kain cokelat yang agak lusuh di bagian lutut. Tapi ia selalu terlihat bersih dan rapi, dan saat ada di dekatnya — rasanya aman. Seolah tak ada badai yang berani mendekat selama ia berdiri tegak.
Di dekat kaki ayah berdiri Zara, baru tujuh tahun. Kulitnya putih bersih seputih susu murni, halus tanpa noda. Rambutnya cokelat kehitaman diikat menjadi dua sanggul kecil yang rapi, dihiasi pita kain kuning dan hijau — pemberian ibu yang dijaganya dengan sangat baik, hingga warnanya tak pernah pudar sedikit pun. Matanya besar dan cokelat gelap, menatap ibunya dengan saksama saat mendengarkan cerita, kadang sedikit ragu sebelum melangkah — seolah sudah terbiasa mengamati dulu sebelum bertindak. Bibirnya jarang terbuka lebar, kecuali saat ia benar‑benar merasa senang. Tangannya sering menggenggam ujung roknya erat‑erat, mencari pegangan saat merasa canggung di hadapan orang asing. Hari itu ia mengenakan baju tanpa lengan berwarna biru langit yang sudah agak pudar, dipadukan celana pendek cokelat polos — dicuci berkali‑kali, namun tetap rapi dan bersih di tubuhnya.
Di sebelahnya duduk adiknya, Aslan, berusia enam tahun — duduk nyaman di pangkuan ayah sambil memainkan sebatang ranting kecil dengan jari‑jarinya yang lincah. Sesekali ia mengoceh hal‑hal aneh yang hanya dimengerti anak seusianya, suaranya renyah memecah keheningan sore. Suasana terasa hangat, sederhana — tak ada kepura‑puraan sedikit pun di antara mereka.
Tak lama, rasa canggung Zara hilang sepenuhnya. Ia melangkah perlahan mendekati ibunya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Menarik lengan baju ibunya pelan, ia bertanya dengan suara lembut:
“Ibu… itu seru sekali, mereka sangat luar biasa… terus bagaimana kelanjutannya? Ceritain lagi, ya?”
Aslan pun langsung bangkit dari pangkuan ayah, berlari mengelilingi ibunya lalu menarik tangan ibu dari sisi lain, matanya berbinar penuh semangat:
“Iya, Ibu! Ayo dilanjutkan! Aku juga mau dengar!”
Ibu hanya tertawa kecil, suaranya lembut seperti angin sore yang berhembus di lembah, lalu menekan lembut pipi kedua anaknya dengan penuh kasih sayang.
“Setelah itu, gadis kecil itu berhasil lari menjauh, lolos dari kejaran orang‑orang jahat itu. Ia memulai hidup baru yang tenang dan bahagia, jauh dari segala ancaman.”
Zara mengangguk senang, namun segera bertanya lagi — matanya menatap lurus ke mata ibunya, tak ingin ada yang disembunyikan:
“Lalu… bagaimana nasib ayah dan ibunya? Apakah mereka selamat? Apakah mereka berkumpul kembali?”
Seketika senyum di wajah ibu memudar sedikit. Ia diam sebentar, menelan ludah seolah menahan sesuatu yang berat di kerongkongan, lalu mencubit hidung Zara dengan gemas, berusaha menyembunyikan kesedihan yang tiba‑tiba muncul di matanya.
“Sudahlah… itu rahasia. Anak kecil belum boleh tahu semuanya.”
Mendengar jawaban itu, Zara langsung melepaskan genggamannya, membuang muka sambil membusungkan pipi. Wajahnya jelas terlihat marah bercampur kecewa — bibirnya mengerucut, matanya menatap ke tanah dengan cemberut.
Ibu hanya tertawa lagi melihat tingkahnya yang polos, lalu menambahkan pelan sambil mencubit pipi gadis itu dengan penuh kasih sayang:
“Sayang… ini hanyalah legenda. Itu mitos. Mereka tidak pernah benar‑benar ada di dunia ini.”
Sore itu, keluarga kecil ini terasa begitu damai — seolah tak ada dunia lain di luar lembah yang tersembunyi ini. Namun tak ada satu pun yang sadar: kebahagiaan ini hanya sementara. Segala ketenangan dan kehangatan yang mereka nikmati perlahan akan runtuh, berubah menjadi ujian yang tak terbayangkan — tepat saat Zara menginjak usia tujuh belas tahun.
Hari itu sebenarnya seperti hari‑hari biasa. Di samping rumah, aku duduk bersama adikku di bawah naungan pohon besar yang rindang.
Tinggiku hanya seratus enam puluh lima sentimeter — tak terlalu tinggi, jauh dari kesan mewah atau menjulang. Kulitku putih bersih cerah seperti susu murni, halus dan lembut saat tersentuh cahaya matahari. Rambutku yang cokelat kehitaman panjangnya sampai melewati siku, hanya diikat ke belakang dengan karet biasa tanpa hiasan apa pun — sehingga garis wajahku terlihat polos, jelas, tanpa penyamaran. Kecantikanku alami dan tak bisa disembunyikan: dahiku halus bersih tanpa kerutan, alisku berbentuk lengkungan alami yang rapi, mataku besar dan bening berwarna cokelat lembut — biasanya menatap segala sesuatu dengan jujur dan tulus. Hidungku mungil dan sedikit mancung, bibirku berwarna merah muda alami tanpa pewarna — kini terkatup rapat, seolah menahan sesuatu yang berat di dada. Leherku ramping dan kosong, tak ada sebutir perhiasan yang melingkarinya. Bajuku hanya katun sederhana berwarna gading pudar, tanpa corak mencolok, namun selalu kusetrika rapi agar tetap bersih dan enak dipakai di kulit.
Sekarang usiaku sudah tujuh belas tahun. Saat itu aku duduk di bangku kayu tua di bawah pohon, di hadapanku ada meja dari papan yang dipaku sederhana namun kokoh. Tanganku sibuk memegang pulpen, menyelesaikan tugas sekolah yang cukup menumpuk. Di sampingku duduk Aslan — adikku yang setahun lebih muda. Ia sudah selesai mengerjakan tugasnya, kini asyik merakit potongan kayu kecil menjadi mobil‑mobila. Tangannya terampil sekali; ia bisa menciptakan mainan sendiri meski bahannya hanya potongan kayu bekas yang ditemukan di sekitar halaman. Terlihat sederhana, namun bentuknya rapi, kokoh, dan penuh jiwa. Aku hanya melirik sebentar lalu tersenyum tipis — merasa bangga melihatnya — sebelum kembali menunduk memegang pulpen, melanjutkan tulisanku.
Belum lama berselang, langit mulai menggelap. Awan kelabu berkumpul makin tebal di ufuk barat, seolah mau turun hujan lebat. Jam dinding di dapur sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku langsung berdiri dan berjalan ke tempat menjemur di samping rumah. Tiangnya hanya dua batang kayu yang ditancapkan kuat ke tanah, dihubungkan seutas tali yang sudah agak usang dimakan waktu. Aku mengambil satu per satu pakaian yang sudah kering, melipatnya rapi di lengan, lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Setelah selesai, aku keluar lagi dan duduk kembali di tempat semula, melanjutkan tulisan yang sempat terhenti tadi.
Tak lama kemudian, ibu keluar dari dapur sambil membawa nampan kecil berisi segelas air dan sepiring kentang goreng yang masih mengepul hangat — dipotong kecil‑kecil agar mudah dimakan. Kentang ini hasil tanam sendiri di kebun samping rumah; pekarangannya lumayan luas, sebagian ditanami kentang, tomat, dan cabai supaya tak perlu membeli ke mana‑mana.
Ibu menghampiri kami dengan senyum lebar yang tak pernah berubah sejak kecil, lalu meletakkan piring dan gelas itu di atas meja kayu yang kasar itu. Begitu melihat kentang goreng yang masih mengeluarkan uap hangat, tanganku langsung menyambar satu potong, menggigitnya sekaligus. Masih terasa agak panas di mulut, namun renyah dan gurih sekali — enak meski sederhana saja, tanpa bumbu mewah.
Aslan pun tak kalah cepat, langsung mengambil banyak potong dan memasukkannya ke mulutnya dengan gembira. Sementara itu, ibu mendorong gelas berisi cairan berwarna hijau pekat ke hadapanku.
“Minumlah ini, Nak,” katanya lembut, namun tak bisa ditawar.
Aku menatap isi gelas itu dengan wajah masam. Sudah berapa tahun rasanya aku mulai bosan dengan hal ini — setiap hari, tanpa pernah absen. Akhirnya aku berani bertanya, suaranya terdengar kesal dan tak sabar:
“Ibu… apakah aku punya penyakit? Kenapa aku harus selalu minum ini setiap hari? Aku tidak suka, rasanya pahit sekali!”
Ibu tersenyum, namun nada bicaranya agak tegas — seperti biasa, agar aku mengerti bahwa ini bukan hal yang bisa diperdebatkan:
“Zara, kamu sehat‑sehat saja. Ini bagus diminum, biar pikiranmu jernih dan jadi anak yang pintar.”
Aku makin curiga, lalu melirik dan menunjuk ke arah Aslan yang asyik mengunyah kentang gorengnya tanpa beban:
“Kalau begitu kenapa cuma aku saja? Lihat… kenapa Adik tidak perlu minum ini juga?”
Aslan hanya melirik sebentar, tak peduli, lalu kembali melahap kentang gorengnya dengan nikmat.
Ibu mendekat, mengelus kepalaku perlahan — jari‑jarinya yang lembut menyisir rambutku — wajahnya mulai terlihat serius, matanya menatapku dalam seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tak bisa diucapkan dengan kata‑kata:
“Zara, percayalah… ini semua demi kebaikanmu.”
Di dalam hati, aku tak pernah benar‑benar mengerti. Sejak kecil sampai sekarang, ibu selalu memberiku minuman ini setiap hari — tak boleh ditolak, tak boleh ditunda. Aku sering bertanya‑tanya sendiri, apa sebenarnya alasannya? Mengapa hanya aku? Mengapa setiap hari? Tapi di sisi lain, aku juga yakin — ibu takkan pernah melakukan hal yang buruk untukku.
Akhirnya aku mengangkat gelas itu, mendekatkannya ke bibir, lalu meminumnya sekaligus hingga tetes terakhir. Rasanya pahit, menyengat, ada bau seperti rumput liar yang baru dipetik — terasa sampai ke hidung dan membuat perutku bergejolak. Aku menelan sambil mengerutkan hidung, lalu buru‑buru mengambil kentang goreng lagi untuk menghilangkan rasa pahit yang menempel di lidah itu.
Ibu hanya menatapku — menatapku dengan tatapan yang penuh kasih sayang, namun juga penuh kesedihan yang tak bisa ia sampaikan. Seolah ia sedang melindungiku dari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada rasa pahit itu. Sesuatu yang sedang menunggu di luar lembah ini, perlahan mendekat, tak terlihat namun tak terelakkan.
Tapi saat ibu menatapku lega setelah melihatku menghabiskan minuman itu, napasnya yang sempat tertahan perlahan terurai. Namun seketika pandangannya melesat ke jalan masuk. Matanya membelalak lebar, napasnya tercekat di tenggorokan.
Aku ikut terkejut, menoleh cepat ke arah yang sama. Di sana ayah baru saja muncul dari kejauhan, pulang dari ladang. Langkahnya berat, terseret dan pincang di satu kaki; rahangnya mengatup rapat menahan rasa perih yang nyata. Lengan dan betisnya penuh lecet segar, beberapa bagian masih basah meneteskan darah di debu jalan. Meski begitu, saat matanya menangkap kami yang menunggu di teras, ia memaksakan senyum lebar — tipis dan goyah, seolah ingin menyembunyikan segala rasa sakit.
“Ibu…,” gumamku pelan, suaraku bergetar.
Ibu langsung berlari menghampiri, langkahnya terburu‑buru hingga napasnya tersengal pendek. Tangannya sigap menopang lengan ayah agar ia tidak roboh ke tanah. Aku dan Aslan berlari kecil menyusul di belakang, napas kami tertahan menatap luka‑luka itu dengan mata berkaca‑kaca. Bersama‑sama kami menuntunnya masuk ke dalam rumah dengan perlahan.
Di luar, suara bisik‑bisik mulai terdengar samar dari arah pagar tetangga yang berkumpul. Rendah, tapi tajam dan jelas tertangkap telinga:
“Lihat saja… minggu lalu juga dia pulang dalam keadaan terluka parah. Ini bukan kali pertama lagi.”
Suara lain menyahut dengan nada rendah namun penuh makna:
“Mau bagaimana lagi? Kau tak lupa kan, putri mereka itu dianggap pembawa sial. Ingat tidak, dua belas tahun yang lalu…”
Kenangan itu kembali muncul jelas di benakku. Saat itu, seorang wanita tua datang melintasi desa kami. Tubuhnya bungkuk namun langkahnya teguh, rambutnya putih bersih seperti kapas, kulit keriput menandai usia panjang yang penuh perjuangan. Ia mengenakan pakaian hitam sederhana yang agak lusuh tapi rapi, hanya menggenggam erat tas kain kecil di tangannya. Katanya hanya ingin beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan jauh.
Sore itu, aku dan teman‑teman baru saja pulang bermain, tawa kami riang memecah kehangatan senja yang memerah langit. Kami berjalan cepat ingin segera sampai rumah, saat suara parau namun lembut memanggil dari pinggir jalan:
“Nak… apakah kalian punya sedikit makanan? Nenek sudah lama tidak makan, perut ini terasa sangat lapar.”
Kami berhenti seketika. Aku merogoh saku bajuku — hanya ada dua butir permen yang baru saja kuterima sebagai hadiah. Tanpa ragu sedikit pun, aku menyodorkannya ke telapak tangannya yang keriput dan kasar. Dia menerimanya sambil tersenyum tipis, namun tak lama kemudian senyum itu lenyap seketika. Tatapannya berubah menjadi serius, matanya menatap tajam ke telapak tanganku seolah melihat sesuatu yang menakutkan di sana.
Tiba‑tiba ia menarik pergelangan tanganku perlahan — tak terlalu keras, tapi aku tak bisa melepaskannya begitu saja.
“Nak… karena kau sudah berbuat baik… izinkan Nenek lihat telapak tanganmu. Nenek bisa membaca garis takdir seseorang.”
Aku masih kecil dan polos, hanya mengangguk patuh sambil membiarkan tanganku dipegangnya.
Wanita itu menatap lama — menatap telapak tanganku dengan pandangan yang makin dalam, makin kelam. Lalu wajahnya seketika berubah pucat pasi. Suaranya terdengar berat, penuh kepedihan dan ketegasan yang tak bisa dibantah:
“Hidupmu akan selalu dikelilingi kesialan, setiap langkahmu adalah malapetaka. Kau terikat erat dengan kematian yang tak akan pernah lepas darimu.”
Aku menarik tanganku sekuat tenaga dengan napas terengah ketakutan. Jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. Wanita itu menyeramkan, persis seperti nenek sihir dalam dongeng yang sering kudengar. Teman‑teman di sampingku diam mematung, tak ada yang berani bersuara. Tanpa berpikir panjang kami berbalik dan berlari sekuat tenaga pulang ke rumah, napas pendek‑pendek, hati penuh ketakutan.
Aku masuk tergopoh‑gopoh ke dapur, di mana ibu sedang mengaduk panci sup yang mengeluarkan uap hangat dan aroma sedap seisi rumah. Tanpa kata aku langsung memeluk pinggangnya erat, tubuhku gemetar hebat hingga bahuku berguncang.
Ibu terkejut, lalu tangannya hendak menepuk punggungku lembut — namun saat menoleh dan melihat wajahku pucat pasi, senyumnya langsung lenyap. Ia meletakkan sendok kayu perlahan, memutar tubuhku menghadapnya, menggenggam kedua pipiku dengan lembut namun kuat. Matanya menyelidik cemas dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu pucat seperti ini?” tanyanya cemas, suaranya bergetar.
Keringat dingin sudah membasahi dahiku, suaraku keluar terbata‑bata nyaris tak terdengar:
“Ibu… tadi di jalan aku bertemu nenek tua yang menyeramkan sekali. Dia bicara hal yang aneh… aku takut sekali, Bu.”
Ibu makin mengeratkan pelukannya, nadanya lembut namun tegas — berusaha menenangkan sekaligus melindungi:
“Apa yang dia katakan? Ceritakan saja pada Ibu, jangan disimpan sendiri.”
Aku menelan ludah yang terasa pahit, suaraku nyaris berbisik seolah takut didengar angin:
“Dia bilang… aku pembawa sial. Dan hidupku terikat erat dengan kematian. Ibu, aku takut sekali…”
Ibu memelukku semakin erat, pipinya menempel di kepalaku, napasnya bergetar hebat. Tak lama ia mengajakku dan Aslan ke kamar, membaringkan kami di kasur empuk. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya terus mengusap lembut keningku, namun matanya menatap kosong ke dinding — pikirannya melayang jauh ke tempat yang tak bisa kucapai.
Keesokan paginya aku terbangun tepat pukul enam. Kicau burung dan gemericik air terjun terdengar jernih masuk lewat celah jendela seperti biasa. Namun udara pagi ini terasa berbeda, lebih berat dan dingin.
Saat melangkah ke depan halaman, aku mendengar suara gumaman rendah dari kelompok tetangga yang berkumpul. Kata‑kata mereka jelas sampai ke telingaku:
“Hei… dengar tidak? Wanita tua yang kemarin singgah di desa kita itu… ditemukan tewas di sungai, tidak jauh dari sini. Katanya kematiannya mengenaskan sekali, tubuhnya penuh luka‑luka.”
Orang lain menyahut sambil menggeleng kepala dengan wajah muram:
“Aduh… kasihan sekali. Tapi aku dengar dia itu pandai membaca nasib. Bahkan sempat meramal Zara, tahu tidak apa katanya?”
“Memang apa?” tanya yang lain dengan mata terbelalak.
“Dia bilang Zara itu pembawa sial, dia adalah malapetaka, hidupnya terikat dengan kematian.”
Mereka semua langsung terdiam seketika, lalu saling pandang dengan wajah pucat ketakutan.
“Ya ampun… jangan‑jangan wanita itu mati gara‑gara anak itu?”
Begitu sadar aku berdiri tak jauh dari mereka, nada bicara mereka makin keras dan tajam. Salah satu ibu‑ibu langsung menarik anaknya menjauh dariku sambil memperingatkan dengan nada tegas:
“Mulai sekarang jangan main lagi sama Zara, dengar? Nanti kamu ketularan nasib sialnya!”
Semua mata tertuju padaku. Bukan tatapan warga biasa, melainkan tatapan jijik, takut, dan curiga seolah aku adalah benda berbahaya yang harus dijauhi. Jantungku terasa remuk, mataku perih dan panas menahan air mata. Tanpa sepatah kata aku hanya menunduk dalam, membalikkan badan dan masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah lambat dan berat.
Sejak hari itu, hal‑hal aneh dan tak wajar sering terjadi di desa. Ternak mati mendadak, jalan tanah longsor padahal tak ada hujan lebat, panen gagal padahal tanah sebelumnya subur dan terawat. Dan setiap kali itu terjadi, bisikan itu selalu terdengar di mana‑mana:
“Pasti gara‑gara dia. Sudah dibilang membawa sial, tidak mau percaya juga.”
“Mari kita bubar. Jangan lama‑lama di sini, takut kita juga tertimpa nasib buruknya,” jawab yang lain, lalu semua berhamburan pergi menjauh.
Aku mendengar setiap kata itu sampai ke tulang, perih dan menusuk. Namun aku berusaha tegar. Cemoohan dan tuduhan mereka tak ada artinya bagiku. Yang penting hanya ayah, ibu, dan Aslan — satu‑satunya keluargaku yang tulus menyayangiku apa adanya.
Dengan hati penuh cemas namun tekad kuat, aku segera membantu ibu menuntun dan merawat ayah yang terluka itu, berjanji dalam hati akan selalu menjaga mereka sekuat tenaga yang kumiliki.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!