Malam di pinggiran Desa Sukamaju tidak pernah sesunyi ini, biasanya, suara jangkrik dan gesekan daun bambu menjadi irama pengantar tidur yang damai.
Namun malam itu, atmosfer berubah mencekam, bau asap mesiu dan bau anyir darah samar-samar terbawa angin malam, merusak kesucian desa kecil yang terisolasi tersebut.
Di dalam sebuah gubuk kayu sederhana di ujung desa, Kimberly baru saja selesai merapikan sisa rajutan jamunya.
Gadis berusia dua puluh tahun itu memiliki kecantikan yang murni tanpa riasan wajah, dengan rambut hitam legam yang dikepang dua, dan sepasang mata bulat yang selalu memancarkan ketulusan.
Kehidupannya sangat sederhana; dia hanya seorang gadis yatim piatu yang menyambung hidup dengan menjual jamu tradisional keliling dan berkebun.
Prak!
Suara pintu belakang rumahnya yang terhempas keras mengejutkan Kimberly, dia tersentak, hampir menjatuhkan pelita minyak di tangannya.
"Si-siapa di sana?" bisik Kimberly dengan suara bergetar.
Melangkah perlahan ke arah dapur dengan sebilah pisau pemotong sayur yang dipegangnya erat, jantung Kimberly berdegup kencang.
Begitu sampai di ambang pintu dapur, matanya terbelalak, seorang pria bertubuh tegap ambruk di lantai tanahnya.
Pria itu mengenakan kemeja hitam satin yang robek di bagian bahu, memperlihatkan luka tembak yang masih mengalirkan darah segar.
Kulitnya pucat, namun rahangnya yang tegas dan garis wajahnya yang terahat sempurna memancarkan aura dominasi yang luar biasa, bahkan dalam kondisi sekarat sekalipun.
Dia adalah Justin Devano Ardiansyah.
Bagi dunia luar, nama itu adalah sinonim dari malaikat maut.
Justin adalah pemimpin tertinggi dari The Ardiansyah Syndicate, organisasi mafia terbesar yang menguasai jalur bisnis gelap, pelabuhan, hingga kasino di ibu kota.
Pengkhianatan dari salah satu anak buahnya saat transaksi rahasia di wilayah pinggiran membawanya terdesak hingga ke desa terpencil ini.
"J-Jangan mendekat..." geram Justin.
Suaranya serak, rendah, dan penuh ancaman, sepasang mata elangnya yang tajam dan dingin menatap Kimberly, mencoba mengintimidasi meskipun kesadarannya berada di ambang batas.
Kimberly ketakutan. Dia tahu pria di hadapannya ini berbahaya, tato naga yang mengintip dari balik kemejanya yang robek dan pistol perak yang tergeletak di samping tubuhnya adalah bukti nyata.
Namun, melihat darah yang terus mengucur, rasa kemanusiaan Kimberly mengalahkan ketakutannya.
"Anda terluka parah. Jika tidak diobati, Anda bisa mati," ucap Kimberly, mencoba menenangkan suaranya.
Kimberly perlahan berlutut, meletakkan pisaunya, dan mendekati Justin, ketika tangan kecilnya yang halus menyentuh bahu Justin untuk memeriksa luka, pria itu dengan gerakan kilat mencengkeram pergelangan tangan Kimberly.
Cengkeramannya begitu kuat seperti catok besi.
"Jika kau mencoba menjebakku... aku bersumpah akan mematahkan lehermu, Gadis Kecil," bisik Justin tepat di telinga Kimberly. Napasnya yang panas dan berbau alkohol serta darah membuat Kimberly merinding.
"Aku hanya ingin menolongmu! Di desa ini tidak ada rumah sakit, dan jika orang-orang melihatmu seperti ini, mereka akan gempar," balas Kimberly berani, menatap langsung ke dalam mata hitam pekat milik sang mafia.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Justin, ada seorang wanita terlebih lagi hanya seorang gadis desa sederhana yang berani menatap matanya tanpa rasa tunduk atau ketakutan yang histeris.
Ada kilau kejujuran di mata Kimberly yang entah bagaimana meruntuhkan pertahanan keras milik Justin.
Perlahan, cengkeraman tangan Justin mengendur, dan sedetik kemudian, sang penguasa kegelapan itu pingsan total.
Dengan susah payah, Kimberly menyeret tubuh kekar Justin ke atas dipan bambu miliknya.
Sepanjang malam, Kimberly tidak tidur, dengan telaten, dia membersihkan luka tembak di bahu Justin, mengeluarkan peluru yang bersarang di sana menggunakan alat seadanya yang disterilkan dengan api, lalu membalutnya dengan tumbukan daun binahong dan kain bersih.
Setiap kali jarinya menyentuh kulit dada Justin yang bidang dan penuh bekas luka masa lalu, jantung Kimberly berdebar aneh, pria ini seperti misteri yang berbahaya, namun sangat memikat.
Keesokan paginya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah dinding bambu, ajustin perlahan membuka matanya.
Rasa sakit di bahunya sudah jauh berkurang, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di tubuhnya.
Dia menoleh dan menemukan gadis semalam sedang tertidur dengan posisi duduk di lantai, menyandarkan kepalanya di pinggiran dipan, masih memegang kain kompresan yang sudah mengering.
Justin terdiam.
Dia memandangi wajah tidur Kimberly. Begitu damai, begitu polos, di dunianya yang penuh dengan pengkhianatan, wanita-wanita berbaju minim yang mendekatinya hanya menginginkan uang dan kekuasaannya.
Namun gadis ini, dia menyelamatkan nyawanya tanpa tahu siapa dia sebenarnya, Justin bangkit duduk, mengabaikan rasa perih di bahunya.
Dia mengulurkan tangan tangannya yang kasar, dengan lembut mengelus pipi Kimberly yang halus, sentuhan itu membuat Kimberly terbangun.
"Eh? Anda sudah sadar? Bagaimana keadaan Anda? Apa lukanya masih sakit?" Kimberly langsung memberondong Justin dengan pertanyaan penuh kekhawatiran, spontan menyentuh dahi Justin untuk memeriksa suhu tubuhnya.
Justin terpaku, kehangatan tangan Kimberly seolah mencairkan gunung es yang selama bertahun-tahun membeku di hatinya.
Dia menangkap tangan Kimberly, bukan dengan cengkeraman kasar seperti semalam, melainkan dengan genggaman yang protektif dan posesif.
"Siapa namamu?" tanya Justin, suaranya kini terdengar berat dan dalam.
"Kimberly. Cukup panggil Kim," jawabnya agak gugup karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Kimberly..." Justin mengeja nama itu seolah itu adalah sebuah mantra.
"Aku Justin."
"Tuan Justin, sebaiknya Anda istirahat lagi. Aku akan membuatkan bubur dan teh hangat untukmu," kata Kimberly hendak berdiri, namun Justin menahan pergelangan tangannya.
"Kau tahu siapa aku, Kimberly? Kau tahu apa yang bisa kulakukan pada hidupmu karena kau telah mencampuri urusanku?" tanya Justin dengan senyum misterius yang sarat akan bahaya, Kimberly menelan ludah.
"Aku tidak peduli siapa Anda di luar sana. Di rumah ini, Anda hanyalah seorang pasien yang membutuhkan bantuan."
Justin terkekeh rendah, sebuah tawa yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah didengar oleh para anak buahnya.
Keberanian gadis desa ini benar-benar menarik perhatiannya, detik itu juga, ego posesif seorang Justin Devano Ardiansyah bangkit.
Dia menginginkan gadis ini. Bukan hanya untuk sesaat, tapi untuk selamanya, di dalam benaknya yang gelap, Justin sudah memutuskan: gadis desa ini telah menjadi miliknya.
Tiga hari berlalu. Justin menyembunyikan keberadaannya di gubuk Kimberly sambil memulihkan diri.
Selama tiga hari itu pula, Justin menyaksikan kehidupan Kimberly yang bersahaja.
Dia melihat bagaimana Kimberly dengan sabar menumbuk jamu, menyapa tetangga dengan senyum manis, dan memasak makanan sederhana yang anehnya terasa lebih nikmat daripada hidangan restoran bintang lima langganan Justin.
Bagi Justin, gubuk kecil ini adalah surga ketenangan yang tidak pernah dia miliki di rumah mewahnya yang dingin di kota.
Dan Kimberly adalah poros dari ketenangan itu, namun, kedamaian itu pecah pada hari keempat.
Siang itu, ketika Kimberly sedang mencuci baju di sungai belakang, tiga buah mobil hitam mewah meluncur masuk ke pekarangan gubuk Kimberly, membelah keheningan desa.
Penduduk desa ketakutan dan bersembunyi di dalam rumah mereka, dari dalam mobil, belasan pria berjas hitam dengan senjata api turun.
Mereka adalah anak buah setia Justin yang akhirnya berhasil melacak keberadaan sang bos setelah membersihkan para pengkhianat, dipimpin oleh tangan kanan Justin, Marco.
"Tuan Besar!" Marco segera berlutut memberikan hormat saat melihat Justin berjalan keluar dari gubuk dengan langkah tegap, meskipun bahunya masih dibalut kain seadanya.
"Maafkan keterlambatan kami. Wilayah kota sudah aman, dan para pengkhianat telah dieksekusi."
Justin hanya mengangguk dingin, auranya kembali menjadi sang Tuan Mafia yang kejam dan tak tersentuh.
"Siapkan mobil. Kita kembali ke kota sekarang."
"Baik, Tuan."
Pada saat yang sama, Kimberly kembali dari sungai dengan baskom baju di tangannya.
Langkahnya terhenti saat melihat kerumunan pria bersenjata dan mobil-mobil mewah di halaman rumahnya.
Baskom di tangannya jatuh, menumpahkan baju-baju basah ke tanah, Kimberly memandang Justin dengan tatapan tidak percaya. Dia tahu Justin bukan orang biasa, tapi melihat kenyataan ini tetap membuatnya syok.
Pria yang selama tiga hari ini membantunya memetik sayur kini berdiri seperti seorang raja di antara para pembunuh.
Justin berjalan mendekati Kimberly, langkah sepatunya terdengar intimidatif, dia berhenti tepat di depan Kimberly yang mulai gemetar.
"Tuan Justin... Anda... Anda akan pergi?" tanya Kimberly dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba menyergap hatinya, sesuatu yang tidak dia mengerti.
Justin tidak menjawab, dia justru merengkuh pinggang ramping Kimberly, menarik tubuh gadis itu merapat ke dada bidangnya.
Kimberly terpekik kecil, wajahnya merona merah sekaligus pucat karena terkejut.
"Ya, aku akan pergi. Dan kau, ikut bersamaku," ucap Justin dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
"Apa? Tidak! Ini rumahku, duniaku ada di sini! Aku tidak bisa ikut denganmu ke kota!" tolak Kimberly panik, mencoba mendorong dada Justin.
Justin mencengkeram dagu Kimberly dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu menatap matanya yang memancarkan kilatan obsesi yang mendalam.
"Duniaku sangat berbahaya, Kimberly. Tapi kau telah menyelamatkanku, dan itu membuatmu terlibat. Musuh-musuhku akan mencarimu jika kau tetap di sini. Mulai hari ini, keselamatanmu adalah tanggung jawabku. Dan yang paling penting..." Justin mendekatkan bibirnya ke telinga Kimberly, membisikkan kata-kata yang mengunci takdir sang gadis desa.
"Kau sudah memikatku, Gadis Kecil. Aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku. Selamat datang di hidupku, Nyonya Ardiansyah."
Sebelum Kimberly sempat memprotes, Justin mengangkat tubuhnya dengan mudah dalam gendongan bridal style.
Mengabaikan jeritan dan pukulan lemah di dadanya, Justin membawa Kimberly masuk ke dalam mobil limosin hitamnya.
Mobil-mobil itu kemudian melesat pergi, meninggalkan debu yang berterbangan di Desa Sukamaju.
Kimberly, sang gadis desa yang polos, kini telah dibawa masuk ke dalam sangkar emas milik sang Tuan Mafia, memulai babak baru kehidupannya yang penuh dengan intrik, bahaya, dan romansa yang membara dalam sebuah ikatan rumah tangga yang tak terduga.
Metropolitan Limosin hitam melaju membelah jalanan tol beraspal mulus, meninggalkan lanskap hijau Desa Sukamaju yang perlahan memudar digantikan oleh siluet gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang angkuh.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma kayu cendana bercampur parfum mahal, keheningan terasa begitu pekat sekaligus mengintimidasi.
Kimberly duduk menyudut di dekat jendela, memeluk kedua lututnya erat-erat, jantungnya masih bertalu hebat.
Baju kaos pudar dan kain jarik yang dipakainya terasa sangat kontras dengan jok kulit premium mobil ini.
Matanya sesekali melirik ke arah pria yang duduk di sampingnya, Justin Devano Ardiansyah.
Pria itu kini tidak lagi memakai kemeja robek yang penuh noda darah, Marco, tangan kanannya, telah menyiapkan kemeja hitam baru bertingkat custom-tailored yang membungkus sempurna tubuh kekarnya.
Gurat kelelahan di wajah Justin lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin, tajam, dan berwibawa wajah asli seorang penguasa dunia bawah tanah.
Dia tengah fokus menatap layar tabletnya, membaca laporan bisnis, seolah penculikan yang baru saja dilakukannya terhadap seorang gadis desa adalah urusan sepele.
"Sampai kapan kau akan terus menatap jendela seperti itu?" suara berat Justin memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Kimberly tersentak, dia memalingkan wajah, menatap langsung pada netra hitam Justin yang kini beralih menatapnya.
"Tuan Justin, tolong turunkan aku. Aku tidak punya tempat di kota ini. Aku hanya akan menyusahkanmu."
Justin menaruh tabletnya di meja kecil lipat. Dia menggeser duduknya, mengikis jarak di antara mereka hingga Kimberly bisa merasakan aura dominan yang mencekam.
"Sudah kukatakan di desa, Kimberly. Hidupmu yang lama sudah selesai sejak kau mengeluarkan peluru dari bahuku. Namamu sudah tercatat oleh informan musuh. Jika aku meninggalkanmu di gubuk itu, malam ini kau hanya akan menjadi mayat tanpa kepala."
Kata-kata Justin yang begitu lugas dan kejam membuat bulu kuduk Kimberly meremang.
"Tapi aku tidak tahu apa-apa tentang duniamu! Aku hanya penjual jamu!"
"Maka belajarlah menjadi wanita dari seorang Justin Devano Ardiansyah," sahut Justin dingin namun sarat akan penekanan posesif.
"Kau tidak perlu menjual jamu lagi. Tugasmu sekarang hanya menuruti perintahku dan tetap hidup."
Mobil akhirnya melambat dan memasuki sebuah kawasan elit di perbukitan Jakarta Selatan.
Setelah melewati gerbang besi setinggi tiga meter yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata laras panjang, limosin itu berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya Eropa modern.
Dindingnya didominasi warna putih marmer dan kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah kolam renang luas.
"Turun," perintah Justin singkat sembari membuka pintu mobil.
Kimberly melangkah keluar dengan ragu. Sepatunya yang berbahan kain murah berdecit di atas lantai marmer yang mengkilap.
Puluhan pelayan berseragam rapi sudah berbaris di lobi utama, menundukkan kepala begitu Justin melintas.
"Selamat datang kembali, Tuan Besar," ucap seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi, kepala pelayan di mansion tersebut.
"Bi Minah, bawa dia ke kamar utama di lantai dua. Ganti pakaiannya dengan yang layak. Panggil dokter pribadi untuk memeriksa kesehatannya secara menyeluruh. Pastikan dia tidak menyentuh benda tajam apa pun," titah Justin tanpa memandang Kimberly, lalu melangkah pergi menuju ruang kerja pribadinya di sayap kanan bangunan.
Kimberly hanya bisa terpaku melihat punggung tegap itu menjauh, dia merasa seperti seekor burung liar yang tiba-tiba ditangkap dan dimasukkan ke dalam sangkar emas yang terlalu megah untuk ukurannya.
Satu jam kemudian, Kimberly telah selesai membersihkan diri. Kamar mandi di kamar utama itu bahkan lebih luas daripada seluruh gubuknya di desa.
Air hangat yang mengalir dari pancuran emas sempat membuatnya bingung, namun bantuan dari Bi Minah membuat semuanya berjalan lancar.
Kini, Kimberly duduk di tepi ranjang berukuran king size yang dilapisi sprei sutra putih.
Dia mengenakan gaun tidur satin berwarna pastel yang lembut, rambut hitam panjangnya yang biasa dikepang kini digerai indah, memancarkan aroma bunga melati dari sabun mewah yang digunakannya.
Tok, tok.
Pintu kamar terbuka, Justin masuk tanpa mengetuk lebih keras, dia sudah menanggalkan jasnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga sikut, memperlihatkan tato naga yang melilit lengan berototnya.
Di tangannya, terdapat sebuah kotak beludru hitam kecil, melihat Justin mendekat, Kimberly refleks memundurkan posisinya hingga punggungnya membentur sandaran ranjang.
Sikap defensif gadis itu membuat alis Justin bertaut, ada rasa tidak suka yang menggelitik hatinya melihat Kimberly ketakutan padanya.
Di dunia luar, ketakutan orang lain adalah makanannya, tetapi tidak dengan gadis ini, dia menginginkan rasa hormat dan kepatuhan yang tulus dari Kimberly.
Justin duduk di tepi ranjang, tepat di depan Kimberly, dia mengulurkan tangan, meraih pergelangan tangan kanan Kimberly.
"Apa yang mau Anda lakukan?" bisik Kimberly lirih.
Justin tidak menjawab, dia membuka kotak beludru tersebut, mengambil sebuah gelang emas putih murni yang dihiasi berlian kecil berbentuk kelopak bunga.
Dengan perlahan namun pasti, Justin memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Kimberly yang mungil.
"Ini adalah tanda," ucap Justin, suaranya terdengar rendah dan serak.
"Siapa pun di kota ini yang melihat gelang ini, mereka akan tahu bahwa kau adalah milikku. Menyentuh seujung rambutmu berarti memicu perang dengan The Ardiansyah Syndicate."
Kimberly menatap gelang yang berkilauan di tangannya. Indah, namun terasa seperti borgol tak kasat mata.
"Kenapa Anda melakukan ini padaku, Tuan? Anda bisa memberikan uang sebagai imbalan atas pengobatan semalam, lalu membiarkanku pergi."
Justin mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga Kimberly dapat mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh sang mafia.
Tangan kasar Justin bergerak naik, mengelus rahang lembut Kimberly dengan ibu jarinya.
"Uang bisa kubeli dengan mudah, Kimberly. Tapi ketulusan... dan keberanianmu menatap mataku tanpa rasa takut di malam itu, tidak bisa kubeli di mana pun," ujar Justin dengan mata yang menggelap, memancarkan kilat obsesi yang mendalam.
"Aku menginginkanmu sejak pertama kali kau menyentuh bahuku yang terluka. Di dunia yang penuh dengan ular, kau adalah satu-satunya hal murni yang ingin kusimpan."
"Tapi kita berbeda dunia! Pernikahan atau hubungan rumah tangga bukanlah hal yang bisa dipaksakan seperti ini!" protes Kimberly, matanya mulai berkaca-kaca menahan sesak.
"Di duniaku, apa yang kuinginkan akan menjadi milikku, dengan atau tanpa persetujuanmu," balas Justin dingin, dia bangkit berdiri, menatap Kimberly dari ketinggian tubuhnya.
"Mulai besok, guru etika dan desainer akan datang. Kau akan dipersiapkan untuk menjadi pendampingku. Istirahatlah, Istriku."
Kata 'Istriku' yang diucapkan Justin terdengar begitu mutlak, mengunci sisa argumen di tenggorokan Kimberly.
Justin berbalik dan melangkah keluar dari kamar, menyisakan Kimberly yang akhirnya menumpahkan air mata kesedihannya di atas bantal sutra.
Hari-hari berikutnya menjadi neraka kultural bagi Kimberly, kamar mewahnya kini dipenuhi oleh gaun-gaun rancangan desainer ternama, sepatu hak tinggi yang menyiksa kakinya, serta perhiasan yang harganya bisa membeli seluruh tanah di desanya.
Setiap hari, seorang wanita paruh baya berwajah ketat melatihnya cara berjalan, cara berbicara, hingga tata cara makan malam ala bangsawan.
Kimberly yang terbiasa hidup bebas di alam desa merasa tercekik, beberapa kali dia menjatuhkan piring porselen karena tangannya gemetar, memicu helaan napas sinis dari sang guru etika.
Namun, di balik semua siksaan itu, ada satu hal yang disadari Kimberly, Justin selalu mengawasinya.
Setiap malam, Justin akan pulang larut dengan aroma cerutu dan terkadang bau darah yang samar.
Pria itu tidak pernah menyentuhnya secara kasar, Justin hanya akan tidur di sampingnya, memeluk pinggangnya dari belakang dengan erat seolah-olah Kimberly akan menghilang jika dia mengendurkan pelukannya.
Dalam tidurnya, sang mafia yang kejam itu kerap kali mengerang, bayang-bayang masa lalu yang kelam tampaknya selalu menghantuinya.
Dan entah mengapa, setiap kali Kimberly mengusap lengan kekar yang memeluknya itu, erangan Justin akan mereda.
Suatu sore, saat Kimberly sedang berada di perpustakaan besar mansion, mencoba membaca buku untuk mengusir jenuh, pintu tiba-tiba didobrak kasar.
Bukan Justin, melainkan seorang wanita cantik dengan pakaian sangat modis dan seksi melangkah masuk.
Wajahnya dipenuhi amarah, dia adalah Evelyn, putri dari ketua kartel sekutu Justin yang selama ini terobsesi untuk menjadi Nyonya Ardiansyah.
"Jadi ini pelacur desa yang dibawa Justin dari tempat sampah?" cicit Evelyn sinis, menatap Kimberly dari atas ke bawah dengan pandangan menghina.
Kimberly berdiri, mencoba tetap tenang sesuai pelajaran etika yang diterimanya, meski hatinya mencelos
"Siapa Anda?"
"Aku adalah wanita yang seharusnya berada di samping Justin! Bukan gadis kumal sepertimu!" teriak Evelyn.
Dia melangkah maju dan dengan kasar mengangkat tangannya, siap melayangkan tamparan keras ke pipi Kimberly.
Kimberly memejamkan mata, bersiap menerima pukulan, namun, tamparan itu tidak pernah tiba.
Brak!
"Sentuh dia, dan aku akan memastikan ayahmu menerima kepalamu di dalam kotak es besok pagi," sebuah suara dingin yang sangat akrab menggelegar di ambang pintu perpustakaan.
Kimberly membuka mata, Justin sudah berdiri di sana, matanya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
Aura membunuh yang dipancarkannya begitu kuat hingga Evelyn langsung pucat pasi dan melangkah mundur, melupakan harga dirinya sebagai putri kartel.
Sang singa telah kembali ke sarangnya, dan dia siap mencabik siapa saja yang berani mengusik miliknya.
Suasana di dalam perpustakaan megah itu seketika membeku, kehadiran Justin Devano Ardiansyah yang tiba-tiba membawa tekanan udara yang begitu berat hingga pasokan oksigen seolah menipis.
Sepasang mata elangnya menancap lurus pada Evelyn, memancarkan kilat sadis yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut hingga ke titik nadi terendah.
Evelyn, yang beberapa detik lalu tampak begitu angkuh dan berkuasa, kini gemetar hebat.
Tangan yang tadi diangkatnya untuk menampar Kimberly kini turun dengan lemas, bersembunyi di balik gaun mahalnya.
"J-Justin... aku... aku hanya ingin melihat siapa wanita yang membuatmu mengabaikan pertemuan dengan ayahku," suara Evelyn bergetar, kehilangan seluruh nada tingginya yang melengking.
"Gadis desa ini tidak cocok untukmu! Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia kita. Dia hanya akan menjadi kelemahanmu!"
Justin melangkah maju, setiap ketukan pantofelnya di atas lantai kayu ek terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian bagi Evelyn.
Pria itu melewati Kimberly begitu saja, namun satu tangannya bergerak protektif, menyembunyikan tubuh kecil Kimberly di balik punggung bidangnya.
"Kelemahanku atau bukan, itu bukan urusanmu, Evelyn," ucap Justin, suaranya begitu rendah, menyerupai geraman serigala di tengah malam.
"Dan yang paling penting, tidak ada seorang pun termasuk ayahmu yang boleh menginjakkan kaki di kediaman pribadiku tanpa izin. Apalagi mengangkat tangan pada wanita yang memakai gelangkku."
Justin menjentikkan jarinya sekali, dua orang pengawal bertubuh tegap berjas hitam langsung muncul di ambang pintu, membungkuk hormat.
"Seret dia keluar. Katakan pada ayahnya, kerja sama di pelabuhan utara dibatalkan. Jika aku melihat putrinya mendekati propertiku lagi, aku sendiri yang akan meratakan bisnis keluarga mereka," titah Justin tanpa belas kasihan.
"Justin! Kau tidak bisa melakukan ini! Ayahku sekutu terbesarmu!" jerit Evelyn histeris saat kedua pengawal mencengkeram lengannya tanpa memedulikan statusnya sebagai putri kartel.
Suara jeritannya perlahan menjauh seiring diseretnya wanita itu keluar dari mansion.
Setelah keheningan kembali menguasai ruangan, Justin membalikkan badannya.
Amarah yang membara di matanya seketika meredup, digantikan oleh tatapan intens yang dipenuhi kecemasan tersembunyi.
Dia mencengkeram kedua bahu Kimberly, memutar tubuh gadis itu ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada luka sedikit pun.
"Apa dia sempat menyentuhmu? Ada yang sakit?" tanya Justin cepat.
Napasnya agak memburu, sesuatu yang sangat langka terjadi pada seorang pemimpin mafia yang terkenal selalu tenang dalam situasi paling kritis sekalipun.
Kimberly menggeleng perlahan.
Dia mendongak, menatap mata hitam Justin yang begitu dekat, keberanian pria ini dalam membelanya memicu getaran aneh di dalam dadanya.
"Tidak, Tuan. Anda datang tepat waktu. Aku tidak apa-apa."
Justin menghela napas berat, lalu sedetik kemudian dia menarik Kimberly ke dalam pelukannya.
Dekapan itu begitu erat, seolah-olah dia sedang berusaha menyatukan tubuh Kimberly ke dalam tubuhnya sendiri. Kimberly tertegun.
Dia bisa merasakan detak jantung Justin yang berdegup kencang di dadanya, pria ini benar-benar takut jika sesuatu terjadi padanya.
"Panggil aku Justin, Kimberly. Sudah kubilang, kau bukan orang asing di sini," bisik Justin di sela-sela rambut hitam Kimberly yang beraroma melati.
"Di luar sana, semua orang menginginkan kepalaku. Mereka akan menggunakan cara apa pun untuk menjatuhkanku, termasuk memanfaatkanmu. Itu sebabnya aku harus mengurungmu di sini. Bukan karena aku ingin menyiksamu, tapi karena hanya di dekatku kau bisa aman."
Kimberly perlahan mengangkat tangannya yang gemetar, memberanikan diri untuk membalas pelukan Justin dengan menepuk-nepuk punggung kekar pria itu.
"Aku mengerti... tapi duniaku sangat berbeda dengan ini. Aku merindukan rumahku, Justin. Aku merindukan bau tanah setelah hujan, bukan aroma mesiu atau ancaman pembunuhan seperti ini."
Justin melepaskan pelukannya, namun tangannya tetap bertumpu di pinggang Kimberly, mengunci pergerakan gadis itu.
Sebuah senyuman tipis yang terlihat tulus tanpa topeng kekejaman muncul di sudut bibirnya.
"Kalau begitu, aku akan membawa desamu ke sini," ucap Justin lugas.
"Hah? Apa maksudmu?" Kimberly mengerutkan keningnya bingung.
Keesokan paginya, Kimberly terbangun bukan karena suara ketukan pintu Bi Minah yang bernada formal, melainkan karena aroma yang sangat akrab di hidungnya.
Bau tanah basah, pupuk alami, dan wangi tanaman herbal, dia segera bangkit dari ranjang, mengenakan jubah tidurnya, dan berjalan menuju balkon kamar utama yang luas.
Begitu membuka pintu kaca besar, mata Kimberly terbelalak tak percaya, mulutnya sedikit terbuka, tangannya membekap bibir menahan pekikan haru.
Halaman belakang mansion yang luas, yang tadinya hanya berupa hamparan rumput hias yang kaku ala Eropa, kini telah berubah total.
Ratusan pot besar berisi tanaman jahe, kunyit, temulawak, dan daun binahong berjejer rapi.
Di sudut lain, sebuah rumah kaca mini telah dibangun semalam suntuk, di dalamnya terdapat berbagai macam bibit tanaman sayur yang biasa ditanam Kimberly di desanya.
Di tengah-tengah kebun buatan itu, Justin berdiri dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.
Di tangannya terdapat sebuah sekop kecil, beberapa anak buahnya yang berjas hitam tampak kikuk memegang gembor penyiram tanaman, mencoba menyiram pucuk-pucuk daun hijau dengan sangat hati-hati di bawah pengawasan ketat bos mereka.
"Penyiraman di sebelah kanan kurang rata, Marco. Jika tanaman jamunya mati, aku akan memotong bonus bulananmu," terdengar suara dingin Justin memberi instruksi pada tangan kanannya.
Marco, sang pembunuh berdarah dingin yang ditakuti di jalanan kota, tampak berkeringat dingin memegang gembor air.
"B-Baik, Tuan Besar. Akan saya perbaiki."
Kimberly tidak bisa menahan tawanya lagi.
Suara tawa yang renyah dan merdu itu terdengar hingga ke bawah, membuat Justin seketika mendongak.
Melihat gadisnya tersenyum lebar dengan mata yang berbinar bahagia, rasa lelah Justin setelah tidak tidur semalaman suntuk mengatur proyek kilat ini langsung menguap begitu saja.
Justin memberikan isyarat dengan tangannya agar Kimberly turun, tanpa memedulikan etika berjalan yang diajarkan gurunya, Kimberly berlari kecil menuruni tangga dan langsung menuju halaman belakang. Kaki telanjangnya menginjak rumput yang masih berembun.
"Justin! Kamu... kamu melakukan semua ini?" tanya Kimberly dengan mata yang berkaca-kaca, kali ini karena perasaan haru yang membuncah.
"Kau bilang kau merindukan desamu. Aku tidak bisa membawamu kembali ke sana demi keselamatanmu, jadi aku membawa apa yang kau sukai ke rumah ini," jawab Justin tenang, melangkah mendekati Kimberly dan mengusap setetes air mata yang lolos di pipi gadis itu.
"Sekarang, tempat ini adalah rumahmu. Kau bisa membuat jamu sebanyak yang kau mau di sini."
Kimberly menatap hamparan tanaman herbal di depannya, lalu beralih menatap wajah tampan pria di hadapannya.
Pria ini adalah seorang mafia, pembunuh, dan penguasa kegelapan yang ditakuti satu negara.
Namun di depannya, dia hanyalah seorang suami yang rela mengotori tangannya dengan tanah demi mengukir senyuman di wajah istrinya.
Ikatan pernikahan yang awalnya dipaksakan ini perlahan-lahan mulai menumbuhkan benih baru di hati Kimberly.
Pagar pembatas yang dia bangun untuk membentengi dirinya dari sang mafia perlahan retak, runtuh oleh perhatian tak terduga yang diberikan sang pemangsa.
"Terima kasih, Justin," bisik Kimberly tulus.
Untuk pertama kalinya, dia melangkah maju secara sukarela dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Justin, menghirup aroma tubuh pria itu yang kini bercampur dengan bau tanah yang disukainya.
Justin tersenyum penuh kemenangan, memeluk tubuh Kimberly erat-erat, di bawah sinar matahari pagi yang hangat, sang tuan mafia bersumpah di dalam hatinya: siapa pun yang berani merusak kebahagiaan kecil yang baru saja dia bangun ini, akan dia pastikan mendekam di dasar neraka yang paling dalam.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!