Rumah itu gelap dan sunyi, hanya diterangi cahaya bulan yang menyusup tipis melalui celah gorden kamar utama. Ibu Josh tidur menyamping, satu tangannya masih terulur ke arah tempat di sampingnya—tempat yang seharusnya ditempati putranya yang baru berusia tiga tahun, yang sejak senja tadi memintanya untuk ditemani tidur karena takut gelap.
Josh kecil, dengan pipi tembam dan rambut halus yang berantakan menutupi dahinya, sebenarnya sudah terjaga sejak beberapa menit yang lalu.
Ia membuka mata perlahan di tengah kegelapan kamar, matanya yang bulat menatap langit-langit tanpa rasa takut sedikit pun—hal yang aneh untuk anak seusianya yang tadi sore begitu ketakutan hanya karena lampu kamar mandi berkedip.
Ia turun dari ranjang tanpa membangunkan ibunya, kaki-kaki kecilnya melangkah pelan menyusuri lantai kayu yang dingin menuju kamar mandi di ujung lorong. Rumah itu benar-benar sunyi malam itu, hanya suara detak jam dinding tua di ruang tamu yang terdengar teratur, seperti detak jantung rumah itu sendiri.
Setengah jam kemudian, ibu Josh terbangun oleh insting keibuan yang tiba-tiba menyergap tanpa alasan jelas—perasaan hampa di sisi ranjang yang seharusnya hangat oleh tubuh kecil putranya. Ia meraba-raba dalam gelap, dan ketika tangannya tidak menemukan apa pun selain seprai yang dingin, kepanikan langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Josh?"
panggilnya, suaranya masih serak oleh kantuk namun mulai bergetar oleh kecemasan. Ia menyalakan lampu kamar, memeriksa kolong ranjang, lemari, bahkan balik pintu. Kosong.
Ia berlari ke kamar mandi. Kosong, gelap, tidak ada tanda-tanda anaknya baru saja berada di sana. Ia memeriksa dapur, ruang tamu, bahkan gudang kecil di belakang rumah yang jarang dibuka. Namanya terus ia panggil, semakin keras, semakin panik, suaranya memantul di lorong-lorong rumah yang kosong dan tidak menjawab.
Tidak menemukan apa pun di dalam rumah, ibu Josh—dengan hanya mengenakan daster tidur dan sandal jepit yang terpasang asal—berlari keluar rumah, menerjang dinginnya udara malam tanpa peduli. Ia menyusuri jalan kompleks perumahan yang sepi, memanggil nama putranya di setiap sudut, mengetuk pagar tetangga yang sudah lelap tertidur, matanya menyapu setiap bayangan gelap dengan harapan menemukan sosok kecil yang ia cari.
Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam berlalu tanpa hasil apa pun. Air matanya sudah mengalir deras di pipinya, pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan terburuk yang bisa ia bayangkan sebagai seorang ibu. Ia berlari kembali ke rumah dengan napas terengah, berniat mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya dan mungkin polisi, ketika langkahnya terhenti mendadak di ambang pintu dapur.
Di sana, di tengah kegelapan dapur yang hanya diterangi cahaya lampu jalan dari jendela, Josh kecil duduk tenang di lantai, punggungnya bersandar pada kaki meja makan, kedua tangannya terlipat di pangkuan seolah sedang menunggu sesuatu—atau seseorang.
"Josh!"
Ibunya berlari mendekat, mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dengan tangan gemetar, memeriksa setiap inci tubuhnya untuk memastikan tidak ada yang terluka. Anak itu tidak menangis, tidak juga terlihat ketakutan—hanya menatap ibunya dengan mata polos yang justru terlihat sedikit bingung dengan reaksi berlebihan sang ibu.
"Kamu dari mana saja?" tanya ibunya,
suaranya masih bergetar antara lega dan panik yang belum sepenuhnya reda, air mata masih membasahi pipinya.
"Ibu nyariin kamu ke mana-mana, sayang. Ibu takut banget."
Josh kecil menggeleng pelan, wajahnya begitu tenang seolah tidak memahami kepanikan yang baru saja terjadi di sekelilingnya. "Aku nggak kemana-mana kok, Bu. Dari tadi aku di sini terus, lagi ngobrol sama temanku." Ibunya terdiam, jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berdegup kencang. Rumah itu kosong, tidak ada siapa pun selain mereka berdua. Ia menatap sekeliling dapur yang gelap, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin putranya sedang mengarang cerita seperti anak-anak seusianya yang lain.
"Temannya mana sekarang?" tanyanya pelan,
berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski bulu kuduknya perlahan mulai berdiri. Josh kecil menoleh sekilas ke sudut dapur yang paling gelap, tempat cahaya lampu jalan tidak sepenuhnya menjangkau, seolah memastikan sesuatu di sana sebelum kembali menatap ibunya dengan wajah polos.
"Udah pergi," jawabnya sederhana,
seolah itu adalah jawaban paling wajar di dunia. Ibunya memeluk tubuh kecil putranya semakin erat malam itu, menahan diri untuk tidak gemetar di hadapan anaknya sendiri. Ia tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapa pun selain suaminya, dan bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, jam di dinding ruang tamu rumah itu—jam tua peninggalan neneknya yang kelak akan diwariskan kepada keluarga kecil mereka—entah kenapa, malam itu untuk pertama dan satu-satunya kalinya dalam sejarah rumah tersebut, berhenti tepat di pukul 02.02, meski baterainya baru saja diganti seminggu sebelumnya.
Josh tidak pernah mengingat kejadian malam itu ketika ia tumbuh besar. Namun entah kenapa, setiap kali ia melewati dapur rumahnya di malam hari, ada sudut kecil yang selalu ia hindari tanpa sadar—sudut paling gelap, tempat cahaya lampu jalan tidak pernah sepenuhnya menjangkau, seolah tubuhnya menyimpan ingatan yang tidak sanggup diakses oleh pikirannya sendiri.
Ayah Josh, yang malam itu sedang dinas luar kota, baru mendengar cerita tersebut keesokan harinya melalui telepon, suara istrinya masih bergetar menceritakan detail demi detail. Ia mencoba menenangkan dengan penjelasan paling masuk akal yang bisa ia pikirkan—anak kecil kadang berjalan dalam tidur, memiliki teman khayalan, atau sekadar bingung menjelaskan tempat persembunyiannya sendiri. Namun jauh di dalam hati, bahkan ayah Josh yang paling rasional sekalipun, tidak sepenuhnya bisa menjelaskan bagaimana seorang anak berusia tiga tahun bisa berjalan sejauh itu tanpa terbangun sekali pun, tanpa menangis ketakutan sendirian dalam gelap seperti anak-anak seusianya pada umumnya.
Selama beberapa minggu setelah kejadian itu, ibu Josh tidak pernah lagi membiarkan putranya tidur sendirian, bahkan setelah Josh tumbuh cukup besar untuk memiliki kamarnya sendiri. Ia akan duduk di tepi ranjang Josh setiap malam, menunggu hingga napas anaknya benar-benar teratur tanda tertidur lelap, sebelum akhirnya berani meninggalkan kamar itu dengan hati yang masih diselimuti kekhawatiran yang tidak pernah sepenuhnya hilang.
Dan setelah malam itu, "temannya" tidak pernah lagi disebut-sebut oleh Josh kecil. Tidak ada obrolan lain, tidak ada penampakan lain, tidak ada satu pun kejadian aneh yang membuat ibunya harus terjaga panik di tengah malam. Bertahun-tahun berlalu dengan tenang, begitu tenang hingga ibunya sendiri perlahan mulai memercayai bahwa malam itu hanyalah satu kejadian aneh yang berdiri sendiri, sebuah momen kecil dalam masa kanak-kanak yang tidak akan pernah terulang lagi.
Josh tumbuh menjadi remaja yang biasa saja—tenang, sedikit pendiam, gemar mengamati langit sore selepas pulang sekolah. Tidak ada lagi sudut gelap yang ia hindari secara sadar, tidak ada lagi cerita tentang teman yang tidak terlihat. Kejadian malam itu benar-benar terkubur, dianggap sebagai kenangan aneh yang tidak lagi relevan bagi siapa pun, termasuk Josh sendiri yang bahkan tidak mengingatnya sama sekali.
Namun menjelang usia enam belas tahun, sesuatu yang baru mulai muncul—bukan lagi kehadiran yang duduk diam menunggu di sudut ruangan, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelisah. Sebuah bayangan hitam, samar dan cepat, mulai sesekali melintas di ujung penglihatannya—berlari melintasi halaman sekolah saat sore mulai turun, menyeberang gang sempit dekat rumahnya saat ia berjalan pulang, atau sekadar berkelebat di balik pohon-pohon pinggir jalan sebelum menghilang secepat kemunculannya. Setiap kali Josh menoleh cepat untuk memastikan, bayangan itu sudah tidak ada, seolah sengaja menghindari agar tidak benar-benar tertangkap mata.
Ia tidak pernah menghubungkan bayangan berlari itu dengan kejadian masa kecilnya yang sudah lama terlupakan. Baginya, itu hanya efek lelah, kurang tidur, atau sekadar trik cahaya sore yang menipu mata siapa pun yang berjalan sendirian terlalu lama.
Ia tidak tahu, bayangan itu sudah mengawasinya jauh lebih lama dari yang bisa ia bayangkan—dan tidak akan puas hanya berlari di kejauhan untuk selamanya.
...****************...
Next Part???
Suara alarm ponsel berbunyi pelan, tapi Josh sudah lebih dulu terjaga, menatap langit-langit kamarnya yang masih temaram oleh cahaya subuh yang menyusup tipis dari celah gorden. Ia mematikan alarm sebelum bunyinya sempat mengganggu siapa pun, lalu berbaring sejenak, menikmati beberapa menit terakhir sebelum rutinitas pagi yang biasa dimulai—mandi, sarapan, seragam, dan langkah kaki menyusuri jalan menuju sekolah yang sudah ia hafal setiap tikungannya.
Bagi kebanyakan orang, pagi hari mungkin terasa membosankan. Tapi bagi Josh, ada semacam ketenangan dalam keteraturan itu, sesuatu yang membuatnya merasa aman. Ia suka hal-hal yang bisa diprediksi—jadwal kereta, urutan mata pelajaran, bahkan posisi awan di langit yang selalu ia amati dan foto setiap sore sepulang sekolah.
Satu-satunya hal yang belakangan ini sedikit mengusik keteraturan itu adalah bayangan hitam yang sesekali berkelebat di ujung penglihatannya—berlari melintas begitu cepat hingga ia tidak pernah benar-benar yakin apa yang baru saja ia lihat. Kadang di halaman sekolah saat sore mulai turun, kadang di gang dekat rumahnya. Setiap kali ia menoleh untuk memastikan, tidak ada apa-apa di sana. Ia sudah membiasakan diri untuk mengabaikannya, menganggapnya sekadar efek lelah setelah seharian penuh pelajaran.
Koridor sekolah pagi itu ramai seperti biasa, dipenuhi suara obrolan, derap sepatu, dan aroma khas kantin yang mulai menyeruak dari ujung lorong. Josh berjalan dengan earphone tersemat di telinga kiri, satu tangan menggenggam ponsel yang menampilkan foto langit senja kemarin—gradasi jingga dan ungu yang menurutnya lebih indah dari kebanyakan foto yang pernah ia ambil.
"Josh! Woy, Josh!"
Suara Gibran memecah lamunannya. Sahabatnya itu duduk di bangku belakang kelas XI IPA 2, melempar bola kertas ke arah tempat sampah dengan gaya seperti pemain basket profesional yang sedang berlatih free throw. Bola ketiga masuk mulus, membuat Gibran mengangkat kedua tangan merayakan kemenangan kecilnya sendiri—sebelum bola keempat justru melenceng dan mendarat telak di kepala Brandon yang baru saja melangkah masuk kelas dengan tas tersampir di satu bahu.
"WOY!"
Brandon mengaduh keras, mengusap kepalanya sambil melotot ke arah Gibran.
"Sialan lo, kena kepala gue!"
"Maaf, maaf!" Gibran tertawa,
sama sekali tidak terlihat menyesal.
"Lumayan kan, latihan refleks pagi-pagi."
"Latihan refleks kepala gue jadi korban," gerutu Brandon,
meski akhirnya ikut tertawa juga sambil menjatuhkan diri ke kursi di samping Gibran. Josh hanya tersenyum tipis menyaksikan keributan kecil itu, meletakkan tasnya di bangku dekat jendela—tempat favoritnya sejak kelas sepuluh. Dari situ, ia bisa melihat halaman sekolah, deretan pohon trembesi tua di sudut lapangan, dan sepotong langit biru yang selalu menjadi pengalih perhatiannya di sela-sela pelajaran yang membosankan.
Bel tanda masuk berbunyi. Tidak lama kemudian, Pak Ian melangkah masuk membawa map berisi kertas ulangan yang sudah dikoreksi, wajahnya seperti biasa—datar, tenang, sedikit sulit ditebak. Namun pagi itu, ada sesuatu di sorot matanya yang membuat beberapa siswa di baris depan langsung menegakkan punggung, seolah insting mereka membaca sinyal bahaya sebelum kata-kata sempat diucapkan.
"Nilai kalian secara umum menurun dibanding ulangan sebelumnya,"
kata Pak Ian sambil mulai membagikan kertas satu per satu, suaranya datar namun tegas.
"Saya harap ini bukan karena kalian mulai malas belajar menjelang ujian tengah semester."
Satu per satu nama dipanggil. Ketika gilirannya tiba, Josh menerima kertasnya dengan tangan yang terasa sedikit dingin. Angka 68 tertera di pojok kanan atas, dilingkari tinta merah yang terasa seperti sindiran diam-diam. Bukan angka yang buruk-buruk amat, tapi jauh dari standar biasanya yang selalu di atas delapan puluh.
Ia menatap angka itu cukup lama, jauh lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar membaca sebuah nilai. Sebenarnya, ia tahu persis alasannya—beberapa malam terakhir, tidurnya selalu terganggu. Bukan karena begadang menonton atau bermain game seperti kebanyakan remaja seusianya, melainkan karena ia selalu terbangun di jam yang nyaris sama setiap malam, tanpa alasan yang bisa ia jelaskan, tanpa alarm yang ia pasang untuk itu.
Sepulang sekolah, Gibran menawarkan tumpangan motor seperti biasa, tapi Josh menolak dengan alasan ingin jalan kaki—alasan yang sebenarnya juga tidak sepenuhnya salah, karena berjalan kaki memang caranya untuk berpikir jernih.
"Lo aneh deh akhir-akhir ini," celetuk Gibran,
sambil menyeimbangkan motornya di pinggir trotoar, menatap Josh dengan alis terangkat.
"Jarang ngobrol, mukanya kayak abis begadang mulu tiap hari."
"Gue cuma capek," jawab Josh singkat, mencoba terdengar senormal mungkin.
"Capek atau ada masalah?" Gibran menyipitkan mata, curiga.
Josh tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan sekilas dan berjalan menjauh, meninggalkan Gibran yang menatap punggungnya dengan raut wajah campuran antara khawatir dan tidak sepenuhnya percaya pada jawaban sahabatnya sendiri.
Di rumah, suasana terasa hangat seperti biasa. Ibunya menyambut dari dapur dengan senyum lebar, menanyakan bagaimana harinya di sekolah sambil sibuk menyiapkan makan malam, sementara ayahnya—seperti kebanyakan hari kerja lainnya—belum juga pulang dari kantor. Josh naik ke kamarnya, melempar tas ke sudut ruangan, lalu merebahkan diri di kasur sambil menatap langit-langit yang perlahan menggelap seiring senja yang mulai surut di luar jendela.
Ia memejamkan mata, berusaha tidur lebih awal malam itu, berharap bisa melewati satu malam penuh tanpa gangguan aneh seperti hari-hari sebelumnya. Ia bahkan sempat berharap dalam hati—semoga malam ini berbeda, semoga tubuhnya bisa beristirahat sepenuhnya tanpa terbangun tiba-tiba di tengah kegelapan. Namun jauh sebelum matanya benar-benar terpejam sempurna, sesuatu di dalam kamarnya berbunyi pelan—bukan alarm, bukan notifikasi ponsel, melainkan detak jam dinding tua di sudut kamar yang selama ini nyaris tak pernah ia perhatikan. Detaknya melambat, seolah waktu itu sendiri mulai enggan bergerak maju. Dan Josh, tanpa sepenuhnya menyadarinya, membuka mata sekali lagi malam itu—jauh lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan.
...****************...
Josh membuka mata dengan jantung berdebar tanpa sebab yang jelas, seolah tubuhnya baru saja tersentak dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia alami. Kamar masih gelap, hanya diterangi cahaya samar dari lampu jalan yang menembus celah gorden. Ia meraba meja di sampingnya, mencari ponsel untuk memastikan
waktu. Pukul 02.02.
Pukul 02.02. Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat apakah ia pernah bangun di jam yang sama sebelumnya. Rasanya iya—tapi ia tidak pernah benar-benar memperhatikannya sampai malam ini, ketika angka itu terasa begitu mencolok, seolah sengaja ditunjukkan kepadanya.
Ia menghela napas, menyalahkan rasa lelah dan pikiran yang terlalu banyak bekerja akibat nilai ulangan tadi siang, lalu mencoba memejamkan mata kembali. Namun sebelum benar-benar terlelap, terdengar suara pelan dari luar jendela seperti gesekan kain yang tersapu angin, atau mungkin hanya dedaunan pohon mangga di halaman yang bergoyang tertiup malam.
Ia tidak mempedulikannya, menganggapnya hanya bagian dari rumah tua yang sesekali berbunyi aneh karena termakan usia—kayu yang menyusut, pipa yang berdenyit, atau angin yang menyelinap lewat celah kusen jendela yang sudah longgar. Rumah itu memang penuh suara-suara kecil di malam hari, dan selama enam belas tahun hidupnya, Josh tidak pernah sekalipun menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Pagi harinya, Josh terbangun bukan karena alarm seperti biasa, melainkan karena suara berisik dari lantai bawah. Ia turun dengan mata masih setengah terpejam, mendapati ibunya berdiri di ruang tamu sambil berbicara di telepon dengan nada khawatir yang tidak biasa.
"Iya, Bu, saya juga nggak ngerti kenapa jam dinding di ruang tamu berhenti persis di angka yang sama tiap pagi,"
ibunya berkata sambil sesekali tertawa kecil, seolah berusaha meredam kecemasannya sendiri di hadapan lawan bicaranya di telepon.
"Mungkin baterainya emang udah lemah, ya. Nanti saya beliin yang baru."
Josh melirik jam dinding tua peninggalan neneknya yang tergantung di sudut ruang tamu, benda yang sudah ada di rumah itu sejak sebelum ia lahir. Jarumnya berhenti tepat di pukul 02.02—jam yang sama dengan waktu ia terbangun semalam.
Kebetulan, pikirnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. Jam tua memang sering rewel, baterainya bisa melemah kapan saja, dan tidak ada alasan logis untuk mengaitkannya dengan waktu ia terbangun tadi malam. Tapi ada sesuatu yang mengganjal jauh di dasar pikirannya, semacam rasa familiar yang sulit dijelaskan, seolah angka itu punya makna lain yang belum bisa ia pahami.
Di sekolah, hari berjalan seperti biasanya—pelajaran demi pelajaran, obrolan ringan saat istirahat, tawa Brandon yang selalu terdengar dari ujung kelas. Namun pikiran Josh terus melayang, sulit fokus meski ia berusaha keras memperhatikan penjelasan guru di depan kelas.
Veron, teman sekelasnya yang dikenal tenang dan jarang bicara kecuali benar-benar diperlukan, duduk di bangku depan Josh saat jam kosong menjelang siang. Ia menoleh sejenak, memperhatikan Josh yang tampak melamun menatap keluar jendela.
"Lo kelihatan nggak fokus dari tadi," katanya sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. "Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa," jawab Josh cepat, meski nadanya sendiri terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
Veron menatapnya sejenak, seolah tahu ada sesuatu yang disembunyikan, namun tidak memaksa.
"Kalau berubah pikiran, gue di sini,"
katanya singkat, lalu kembali membuka bukunya, membiarkan Josh dengan pikirannya sendiri.
Malam harinya, Josh kembali berusaha tidur lebih awal, kali ini dengan persiapan lebih matang ia menyalakan lampu tidur kecil di sudut kamar, memutar musik lembut dari ponselnya sebagai pengantar tidur, bahkan mencoba teknik pernapasan yang pernah ia baca di internet untuk membantu tidur lebih nyenyak.
Namun entah bagaimana caranya, matanya kembali terbuka di tengah malam, seolah ada sesuatu yang membangunkannya secara paksa, menariknya keluar dari alam mimpi dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia meraih ponsel di meja, jantungnya sudah mulai berdebar bahkan sebelum melihat layar.
Pukul 02.02.
Angka yang sama, malam kedua berturut-turut.
Ia menghela napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kebetulan lain—sampai matanya menangkap sesuatu di luar jendela kamarnya yang membuat seluruh tubuhnya membeku seketika.
Sesosok bayangan berdiri diam di ujung gang kecil dekat rumahnya, mengenakan jas hitam panjang meski malam itu sama sekali tidak dingin. Sosok itu tidak bergerak, tidak melakukan apa pun selain berdiri tegak menghadap langsung ke arah jendela kamar Josh, seolah tahu persis di mana harus mengarahkan pandangannya.
Lampu jalan di dekatnya berkedip pelan, seolah keberadaan sosok itu mengganggu aliran listrik di sekitarnya. Josh menahan napas, tubuhnya membeku di tempat, tidak berani bergerak sedikit pun khawatir gerakannya akan menarik perhatian sosok tersebut. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri memukul-mukul dadanya dengan keras, begitu keras hingga ia yakin suaranya bisa terdengar hingga ke luar jendela.
Josh mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya efek kantuk atau permainan cahaya lampu jalan yang temaram. Namun saat ia mengerjap untuk ketiga kalinya, sosok itu masih berdiri di sana, tidak bergerak sedikit pun, seolah waktu di sekitarnya telah berhenti sepenuhnya.
Tangan Josh gemetar saat ia menutup gorden dengan gerakan tergesa, jantungnya berdebar begitu keras hingga ia bisa mendengarnya sendiri di tengah keheningan kamar. Ia berusaha tidur kembali meski butuh waktu lama sebelum matanya benar-benar terpejam, dan sepanjang sisa malam itu, ia merasa seolah ada sepasang mata yang terus mengawasinya dari balik gorden yang tertutup rapat.
Pagi harinya, ia memutuskan untuk tidak menceritakan apa yang ia lihat kepada siapa pun—bukan karena ia yakin itu tidak penting, melainkan karena ia tahu persis, tanpa bukti nyata, ceritanya hanya akan terdengar seperti halusinasi anak yang kurang tidur.
Namun ketika ia melangkah keluar rumah menuju sekolah, matanya sekilas menangkap sesuatu di aspal dekat gang tempat sosok itu berdiri semalam jejak sepatu basah yang mengarah lurus ke rumahnya, lalu berhenti tepat di depan pagar, seolah pemiliknya baru saja lenyap begitu saja tanpa jejak lebih lanjut.
...****************...
Next Besok 02.02 🙏🙏
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!