Malam kian larut di Desa Klawitan, sebuah wilayah pesisir di selatan Mataram yang berbatasan langsung dengan deru ombak Samudra Hindia dan angkuhnya Pegunungan Sewu. Alam yang keras, gersang, dan penuh batu karang di wilayah ini telah lama menitiskan watak yang sama kerasnya pada manusia-manusia yang hidup di sana.
Di tengah lingkaran alam yang kejam itu, kediaman Ki Japat berdiri angker bagai benteng kecil. Sebagai sodagar terkaya di Klawitan, ia paham betul bahwa tumpukan hartanya adalah magnet bagi maut. Oleh karena itu, rumahnya dijaga oleh barisan centeng pilihan yang terkenal garang. Namun malam ini, keangkuhan benteng itu perlahan runtuh bersama kabut tipis yang turun dari lereng bukit.
Di halaman luar, suasana begitu sunyi. Lima orang penjaga bertubuh kekar berjaga di titik-titik gelap. Mereka mengira kegelapan malam adalah kawan, tanpa sadar bahwa maut justru sedang menari di dalam bayang-bayang tersebut.
Sreeeetttttt...
Gerakan itu luar biasa halus, hampir mustahil terdengar oleh telinga manusia biasa. Dari balik rumpun bambu hias, sebuah bayangan hitam melesat tanpa suara, merapat ke punggung salah seorang penjaga.
Sebuah tangan kekar berbalut kain hitam membekap mulut sang penjaga dengan daya cengkeram luar biasa. Bersamaan dengan itu, sebilah golok bermata lebar yang dingin menyayat kulit leher.
"Hegghh... kkhhh... khhhhhkkk..."
Hanya eraman lirih yang tertahan di tenggorokan. Penjaga itu menggelepar sesaat, namun cengkeraman di mulutnya membuat jeritan kematian itu terkunci rapat. Darah hangat menyembur, membasahi tanah kering Klawitan. Dengan keahlian seorang jagal profesional, sang penyusup merebahkan tubuh tak bernyawa itu ke tanah dengan sangat perlahan agar tak menimbulkan dentum.
Satu tumbang. Dan maut belum ingin berhenti.
Bagaikan hantu kelaparan, bayangan itu bergerak cepat dari satu sudut ke sudut lain. Menggorok, menusuk, dan mematahkan leher. Dalam waktu yang amat singkat, lima penjaga luar telah tewas mengenaskan dengan luka menganga di leher, tanpa sempat memberi isyarat bahaya sedikit pun ke dalam rumah.
Sementara itu, di dalam pendopo yang hangat oleh pendar obor, dua penjaga dalam mulai merasakan keanehan. Udara malam terasa mencekam secara mendadak.
"Hmmm... sepi sekali malam ini," bisik penjaga pertama sambil mengeratkan pegangan pada tombaknya.
"Iya, tumben. Suara jangkrik pun tak kedengaran," sahut temannya, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. "Hey, mari kita lihat teman-teman kita di luar. Jangan-jangan pada tidur semua."
"Ayo lah. Kalau Ki Japat tahu mereka teledor, bisa habis kita diamuk."
Kedua penjaga itu pun melangkah mantap menuju gerbang kayu jati yang kokoh. Slot kunci besi digeser perlahan, menimbulkan suara berderit halus yang memecah keheningan. Namun, baru saja daun gerbang terbuka setengah...
Dari kegelapan di atas ambang gerbang, sebuah bayangan meluncur turun. Posisi tubuhnya terbalik, kedua kakinya bergelantungan dengan kokoh pada balok kayu atas, bagaikan kelelawar raksasa yang mengincar mangsa. Sebelum penjaga di bawah sempat mendongak, sebuah hantaman angin dingin melesat ke bawah.
Claabbb!
Mata golok yang tebal dan tajam menghantam telak, menancap sedalam beberapa inci tepat di tengah-tengah jidat penjaga pertama.
"Heggggg..."
Mata penjaga itu mendelik, tubuhnya mendadak kaku seiring darah segar yang meleleh cepat membanjiri wajahnya. Ia limbung dan berbalik patah-patah ke arah temannya.
Karuan saja temannya tersentak mundur, jantungnya serasa copot melihat pemandangan mengerikan di depannya: sebilah golok tertancap kokoh di dahi rekannya yang kini menatapnya dengan pandangan kosong penuh darah.
"Per... Perrrr... peramm..." Witir mulutnya bergetar hebat, mencoba meneriakkan kata 'perampok' untuk memperingatkan seisi rumah.
Namun, maut bergerak lebih cepat dari suara.
Srettttt!
Si penyusup melepas gantungannya, melompat turun dengan ringan sembari menarik kembali goloknya dari jidat korban pertama, lalu menebaskannya dalam satu gerakan melingkar yang sebat.
Mata penjaga kedua hanya sempat menangkap sekilas kilatan perak baja yang memantulkan cahaya obor. Rasa dingin yang teramat sangat menjalar di lehernya. Detik berikutnya, dunia di matanya berputar aneh; penglihatannya tiba-tiba jatuh ke bawah, melihat lantai batu yang kian mendekat, sebelum akhirnya semuanya runtuh ke dalam kegelapan abadi.
Kepalanya menggelinding di lantai pendopo, terpisah sempurna dari badannya yang ambruk menyusul kemudian, menyemburkan anyir darah yang mengukir awal dari bencana besar bagi Ki Japat malam itu. Di atas genangan darah, sang pembunuh berdiri tegak, menyeringai menatap pintu utama kamar sang sodagar.
Suasana di dalam kamar utama Ki Japat yang semula hangat dan tenang mendadak berubah mencekam. Di atas ranjang jati yang besar, Ki Japat tersentak dari tidurnya. Di sampingnya, sang istri yang masih muda dan putra kecilnya yang baru berumur delapan tahun masih mendengkur lelap, tak menyadari maut telah melompati pagar rumah mereka.
Tok... Tok... Tok...
Pintu kamar itu diketuk pelan, namun getarannya seolah meremas dada Ki Japat.
"Ki Japat, keluarlah..." sebuah suara berat dan dingin berbisik dari balik kayu jati yang tebal.
Ki Japat menegang, tangannya refleks meraba ke bawah bantal. "Siapa?" tanyanya, berusaha menekan getaran di suaranya.
"Keluarlah Ki Japat. Cepattt...!!!"
Bentakan yang tiba-tiba itu menggelegar, meruntuhkan keheningan malam. Seketika itu juga, sang istri dan anak lelakinya terbangun dengan napas memburu karena terkejut.
"Siapa itu, Kang?" tanya istrinya dengan mata melebar penuh ketakutan, tangannya gemetar memeluk erat sang anak.
"Entah, Nyai. Firasatku tidak enak," bisik Ki Japat, wajahnya pucat pasi. "Kalian cepat berlindung di bawah tempat tidur! Jangan keluar sebelum kupanggil!"
"KI JAPAT! CEPAT KELUAR! ATAU KU DOBRAK PINTU INI MAU?!" Suara di luar kian meninggi, penuh ancaman yang mutlak.
"Baik, baik! Aku keluar!" sahut Ki Japat mencoba mengulur waktu.
Dengan tangan gemetar, ia menyambar keris pusaka warisan leluhurnya, lalu menyelipkannya di pinggang belakang. Sambil menarik napas dalam-dalam, ia melangkah maju dan membuka selot pintu.
Krieeek...
Baru saja daun pintu terbuka selebar satu jengkal, sebuah benda bulat memantul di lantai dan menggelinding pelan ke arah kakinya. Jantung Ki Japat serasa berhenti berdetak saat matanya menangkap rupa benda itu: kepala salah seorang penjaga setianya, dengan mata mendelik dan darah yang masih menetes segar.
Di ambang pintu, berdiri tegap seorang pria berbadan tegap dengan kain hitam menutupi seluruh wajahnya, menyisakan sepasang mata yang menatap dingin bagai sepasang mata ular beludak.
"Kalau kau tak ingin kepalamu terpisah dari tubuhmu seperti ini... kumpulkanlah hartamu," kata pria misterius itu datar, tanpa nada ragu sedikit pun.
Melihat kepala penjaganya yang terputus dan hawa membunuh yang begitu pekat, jelas sudah bagi Ki Japat; malam ini kediamannya sedang dirampok oleh seorang pembantai berdarah dingin.
"Maaf, Ki Sanak... aku tak punya harta yang banyak. Tahun ini paceklik, daganganku—"
Srettt!
Kilatan baja golok kembali membelah udara dengan kecepatan yang mengerikan. Sebelum kalimat Ki Japat selesai, bahkan sebelum matanya sempat menangkap gerakan tangan si perampok, rasa perih yang luar biasa menghantam tangannya.
"Arghhh!" Ki Japat mengerang kesakitan, memegangi pergelangan tangan kanannya yang kini robek dan mengucurkan darah segar. Keris di pinggangnya bahkan tak sempat ia sentuh.
"Aku tidak main-main, Ki Japat. Kau boleh pelit dengan tetanggamu, tapi tidak denganku," desis pria itu, melangkah maju hingga bayangannya mengurung Ki Japat. "Satu lagi ucapan bohong keluar dari mulutmu, kilatan golokku tidak akan lagi melukai tanganmu. Paham?!"
Bugh!
Si perampok melemparkan sebuah karung goni kosong ke dada Ki Japat yang terluka. "Kumpulkan hartamu sekarang! Masukkan semua perhiasan dan keping emasmu ke dalam situ!"
Namun, sebuah kejutan terjadi. Didorong oleh rasa cinta dan keputusasaan, sang istri yang sejak tadi mengintip dari bawah ranjang tidak tinggal diam. Dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, ia merangkak keluar sambil menghunus sebilah pedang pendek yang biasa tergantung di dinding kamar. Dia menerjang maju, berniat menusuk punggung si perampok.
"Mati kau, jahanam!" teriak sang istri.
Gerakan itu cepat, namun bagi seorang pembunuh berwatak keras dari Pegunungan Sewu, gerakan itu terlalu lambat. Tanpa menoleh penuh, si perampok berputar dengan refleks seorang pendekar tingkat tinggi.
Klaaanggg! Traaangg! Craasss!
Hanya dalam satu detik, tiga suara mengerikan beruntun terdengar. Golok si perampok menangkis pedang pendek itu hingga terpental ke udara, dan dalam gerak lanjut yang tak tertahankan, mata goloknya berputar menyayat melintang.
Robekan besar seketika menganga di perut sang istri. Kain kembennya koyak, bersimbah warna merah yang pekat.
"Arghhhhhh..." Wanita muda itu memekik parau, tubuhnya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya ambruk ke lantai dengan tangan mencoba menahan ususnya yang terluka.
"Ibuuuuuuuuu!!!!!"
Sebuah jeritan histeris pecah. Anak lelaki berumur delapan tahun itu tidak lagi memedulikan ketakutannya. Ia berlari keluar dari kolong tempat tidur, menerjang maju dan langsung bersimpuh memeluk tubuh ibunya yang bersimbah darah, menangis sejadi-jadinya di tengah badai maut yang sedang melanda rumah mereka.
Melihat tubuh istrinya terbujur bersimbah darah, nalar Ki Japat runtuh seketika. Rasa takut yang sedari tadi menjeratnya kini menguap, digantikan oleh amarah yang membakar dada. Matanya merah menyala, menatap nanar pada sosok bertopeng di hadapannya.
"Bajingan! Kau membunuh istriku!!!" raung Ki Japat, suaranya parau penuh dendam.
Pria bertopeng itu hanya mendengus dingin, tak secuil pun riak penyesalan tampak dari sorot matanya. "Bukan salahku. Istrimu yang menyerang tiba-tiba," jawabnya datar, seolah nyawa manusia tak lebih dari helaian daun kering. "Sekarang, kumpulkan hartamu. Cepat. Kesabaranku ada batasnya."
"Bangsaaattt..!!!!!"
Wussss!
Dengan sisa tenaga dan tangan yang bercucuran darah, Ki Japat mencabut keris pusaka di pinggangnya. Ia melesat maju, menerjang kalap tanpa memedulikan keselamatan dirinya lagi. Sebagai seorang sodagar di tanah pesisir yang keras, Ki Japat memang membekali diri dengan sedikit ilmu silat. Namun, gerakan yang didasari amarah buta itu jelas bukan tandingan bagi sang jagal bertopeng.
"Keras kepala," desis si perampok.
Si perampok bahkan tidak perlu bersusah payah menangkis. Dengan ketenangan seorang pembunuh berdarah dingin, ia hanya menggeser kaki kirinya ke samping, membiarkan ujung keris Ki Japat menikam angin kosong di lambungnya.
Bersamaan dengan gerak hindar itu, lengan kekar si perampok berayun kuat. Golok besarnya melesat horizontal, membelah udara malam yang pekat, mengincar leher Ki Japat yang terbuka lebar tanpa pertahanan.
Crattttt!
Kecepatan golok itu mutlak. Keris di tangan Ki Japat masih terhunus di posisi bawah, namun di bagian atas, mata baja yang dingin telah lebih dulu menyelesaikan tugasnya.
Srettttt!
"Heghhhhhh..."
Suara parau itu menjadi helaan napas terakhir sang sodagar. Sesaat, tubuh Ki Japat masih berdiri kaku, sebelum akhirnya limbung dan ambruk ke lantai. Seperti nasib para penjaga setianya di luar, malam ini riwayat Ki Japat pun berakhir tragis dengan kepala yang terpisah sempurna dari raga. Darah segar menyembur riuh, menggenangi lantai kamar yang kini menjelma menjadi ruang pembantaian.
Semua kengerian itu—detik demi detik, kilatan baja, hingga suara tebasan yang memuakkan—terjadi tepat di depan mata sang anak.
Bocah lelaki berusia delapan tahun itu terpaku, memeluk tubuh ibunya yang kian mendingin. Air matanya berhenti mengalir bukan karena rasa sedihnya sirna, melainkan karena jiwanya mendadak mati rasa akibat syok yang teramat sangat. Di usianya yang masih begitu belia, ia dipaksa menyaksikan kedua orang tuanya disembelih bagai binatang di hadapan matanya sendiri.
Keheningan malam kembali mencekam, hanya menyisakan suara deru napas si perampok dan detak jantung bocah itu yang berpacu liar. Di atas genangan darah yang kian meluas, sang pembunuh perlahan memutar tubuhnya, mengarahkan tatapan dingin dari balik topeng hitamnya tepat ke arah anak lelaki yang kini menggigil ketakutan.
"K-kau jahat... Kau jahaaat...!" Suara bocah itu melengking di sela tangisnya yang pecah, bergetar hebat di antara jasad kedua orang tuanya yang terbujur kaku.
Namun, raungan pilu itu sama sekali tak menyentuh hati sang perampok. Baginya, nyawa dan air mata di rumah ini tak lebih dari sekadar angin lalu. Dengan dingin, ia berbalik memunggungi bocah itu, melangkah menuju lemari kayu jati berukir di sudut kamar. Menggunakan ujung goloknya, ia merusak paksa selot kunci lemari hingga jebol, lalu mulai meraup kepalan demi kepalan keping emas, perak, dan perhiasan pusaka milik Ki Japat, memasukkannya dengan rakus ke dalam karung goni.
Melihat harta benda ayahnya dijarah oleh tangan yang baru saja menumpahkan darah keluarganya, amarah sang bocah mengatasi rasa takutnya. Ia merangkak di antara genangan darah, menatap punggung sang pembunuh dengan mata memerah.
"Kenapa kau jahat pada ayah dan ibuku?! Kau iblissss!!!"
Dikatai iblis oleh seorang bocah ingusan, gerakan tangan si perampok mendadak terhenti. Udara di dalam kamar mendadak terasa lebih berat. Sang perampok mengeram rendah, suara yang keluar dari tenggorokannya mirip harimau yang terusik.
Ia berbalik, melangkah lambat namun pasti ke arah bocah itu. Tanpa peringatan, tangan kekarnya mencengkeram kuat rambut sang bocah, menjambaknya ke atas hingga tubuh ringkih itu terangkat dari lantai.
"Arggghhh! Sakit! Turunkan aku!" jerit bocah itu kesakitan, namun matanya tetap menatap tajam. "Bajingan kau! Pembunuh! Iblis laknattt!"
"Hmmmmm... Bocah," desis si perampok, mendekatkan wajah bertopengnya hingga hanya berjarak beberapa senti dari muka sang bocah. "Aku tidak biasa membunuh anak kecil. Tapi kalau kau terus-terusan berteriak... terpaksa aku harus membuatmu bungkam selamanya. Paham?!"
Ancaman maut yang biasanya membuat anak seusianya terkencing-kencing, justru membakar sesuatu yang berbeda di dalam dada bocah ini. Darah pesisir selatan yang keras mengalir murni di tubuhnya.
"Bunuh aku, Iblis! Bunuh aku! Aku tidak takut padamu..!!!" teriak bocah itu lantang. Kedua kaki kecilnya bergerak liar, menendang-nendang dada dan perut berlapis kain hitam sang perampok dengan sisa seluruh tenaganya.
Sang perampok tertegun sesaat. Ia tidak melihat binar ketakutan di mata bocah ini, yang ada hanyalah kobaran dendam yang murni dan pekat. "Hmmm... Nyalimu boleh juga, bocah. Kau benar-benar tidak takut mati?"
Cuihhh!
Sebuah ludah bercampur darah mendarat telak di kain penutup wajah sang perampok, tepat di bagian pipinya.
Suasana sempat hening satu detik, sebelum akhirnya...
"Hahahahahaha! Kau sungguh berani, bocah!" Tawa si perampok pecah, menggema mengerikan di dalam kamar penuh mayat itu.
Bugh!
Si perampok melemparkan tubuh bocah itu ke atas ranjang. Belum sempat sang bocah bangkit, si perampok mencengkeram kerah bajunya dan merobeknya hingga hancur. Dengan kasar, tangan besarnya meraba dan menekan sepanjang jalur tulang belakang sang bocah, memeriksa dari tengkuk hingga pinggang. Mata di balik topeng itu seketika berbinar jalang. Struktur tulang belakang bocah ini sangat sempurna—kokoh, lurus, dan memiliki kelenturan alami yang langka. Bakat alami seorang pendekar besar.
"Nyalimu kuat... Struktur tulangmu pun luar biasa," ucap si perampok, suaranya kini berubah menjadi ketertarikan yang gila. "Bagaimana bila kita buat perjanjian, bocah? Kau mau?"
"Cuihh! Aku tak sudi!" sergah bocah itu memalingkan muka.
"Hahahha... Bocah, bocah. Kau sangat ingin aku mati, kan?" tanya si perampok memancing.
"Tentu saja! Aku ingin menebas lehermu! Memotong-motong tubuhmu!" raung sang bocah dengan gigi mengertak.
"Baik. Tapi dengan tubuh ringkihmu yang sekarang, bergerak pun kau masih lamban. Kau harus belajar dulu denganku. Nanti, setelah kau pintar silat, setelah kau kuat... baru kau bisa mencoba membunuhku. Gimana? Adil, bukan?"
"Cuihhh! Aku tidak sudi berguru pada iblis!"
Bocah itu kembali menerjang, mencoba menendang wajah si perampok dengan sisa tenaga terakhirnya. Namun, kali ini si perampok hanya tertawa renyah. Dengan satu gerakan kilat yang hampir tak terlihat, dua jari si perampok mematuk urat di leher dan bahu sang bocah.
Takk! Takk!
Seketika itu juga, tubuh si bocah menegang. Suaranya tercekat di tenggorokan, dan kesadarannya runtuh dalam sekejap. Ia ambruk, pingsan tak sadarkan diri karena totokan saraf.
Si perampok memungut karung goni berisi harta rampokan dengan tangan kiri, lalu dengan tangan kanannya, ia menyambar tubuh pingsan sang bocah dan memanggulnya di atas bahu. Di tengah kegelapan malam Desa Klawitan, bayangan hitam itu melesat keluar jendela, meninggalkan kepulan asap obor dan bau anyir darah yang menguap dari kediaman Ki Japat yang kini telah musnah.
Kelopak mata bocah itu bergerak perlahan, terasa amat berat. Saat pertama kali terbuka, pandangannya kabur dan berputar. Kepalanya berdenyut, sementara tenggorokannya terasa begitu kering dan panas, bagai digerogoti pasir. Ia tidak tahu sudah berapa lama tak sadarkan diri di dalam gubuk bambu asing yang pengap ini.
Lambat laun, bayang-bayang di sekitarnya mulai tampak jelas. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Seketika itu juga, memori mengerikan di malam pembantaian itu berputar hebat di kepalanya. Bayangan darah, kepala yang menggelinding, dan jeritan ibunya menyergap ingatannya. Detik itu juga ia ingin menjerit histeris, namun tenggorokannya seolah tersumbat dan tak mampu mengeluarkan suara.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha bangkit. Tubuhnya bergetar, dan rasa nyeri yang luar biasa menjalar di punggungnya—akibat hempasan kasar si perampok ke atas ranjang tempo hari. Menahan rasa sakit yang mendera, ia memaksakan diri turun dari balai-balai bambu.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, matanya menangkap sebuah gentong tanah liat berisi air. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah tertatih-tatih, menyendok air dengan gayung tempurung kelapa, lalu meminumnya dengan rakus.
"Ahhhh..."
Napasnya memburu setelah air segar membasahi kerongkongannya. Kesadarannya pulih sepenuhnya. Matanya mendadak liar memandangi sudut gubuk. "Dimana iblis itu?" bisiknya penuh dendam.
Saat meletakkan gayung, matanya tak sengaja melihat sebilah pisau dapur tua yang terselip di celah dinding anyaman bambu tepat di atas gentong. Tanpa ragu, tangan kecilnya langsung menyambar gagang pisau tersebut. Sembari menggenggam senjata tajam itu erat-erat, ia melangkah mengendap-endap, menyelidiki setiap sudut gubuk kecil yang sepi. Namun, sosok sang pembantai sama sekali tidak ada di sana.
"Aku harus kabur," batinnya tegas.
Bocah itu bergerak cepat menuju pintu dapur di bagian belakang gubuk. Begitu daun pintu bambu terbuka, pemandangan di depannya membuat jantungnya mencelos. Gubuk ini berdiri terpencil di tengah-tengah hutan rimba yang lebat, dikepung oleh pohon-pohon raksasa yang angker. Diliputi rasa takut yang amat sangat, namun didorong oleh keinginan kuat untuk hidup, tekadnya sudah bulat. Ia harus lari.
Ia melompat keluar, menerobos semak ilalang setinggi dada yang langsung tersibak kasar oleh tubuh kecilnya. Bermodalkan sebilah pisau dapur, bocah itu menekan rasa takutnya dalam-dalam, merangsek membelah keheningan hutan yang asing. Ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Anehnya, tidak ada tanda-tanda pengejaran. Sepertinya perampok jahanam itu lengah dan meremehkannya, membiarkan dirinya kabur begitu saja.
Namun, kebebasan itu tak bertahan lama. Langkah kakinya mendadak terhenti ketika sebuah gelombang udara dingin menyapu tengkuknya, disusul oleh suara erangan rendah yang menggetarkan tanah tempatnya berpijak.
"Grrrrrrrrrr..."
Bocah itu mematung. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Hah... suara apa itu?" gumamnya dengan bibir bergetar.
Belum sempat ia mencerna keadaan, suara itu kembali terdengar. Kali ini jauh lebih dekat, lebih nyaring.
"Groaaaarrr!!!"
Seluruh tubuh bocah itu mulai gemetaran hebat. Lututnya lemas, namun entah dari mana datangnya kekuatan itu, jemarinya justru mencengkeram gagang pisau dapur kian erat.
Dugaannya tak salah. Dari balik semak belukar yang rimbun di depannya, semak-semak itu bergoyang hebat sebelum akhirnya memunculkan sosok predator mengerikan. Seekor macan gembong berukuran besar, dengan bulu loreng jingga-hitam yang legam dan mata kuning yang menyorotkan rasa lapar, melangkah keluar dengan anggun namun mematikan.
"Ohhh... mmm... macan..." napas bocah itu tercekat. Sambil melangkah mundur perlahan, ia mencoba mengusir binatang buas itu dengan sisa keberaniannya. Ia mengibas-ngibaskan pisau dapurnya ke udara. "Huss! Huss! Pergi kau! Huss!"
Melihat mangsa kecil di depannya mencoba melawan, sang penguasa hutan itu merasa tertantang. Macan loreng itu merendahkan tubuhnya, otot-otot kakinya menegang kokoh. Sambil membuka mulutnya lebar-lebar memperlihatkan taring-taringnya yang kuning dan tajam, ia meraung keras, siap melesat untuk menerkam dan mengoyak tubuh sang bocah.
Tepat sebelum macan loreng itu melesat membelah udara untuk mengoyak tubuhnya, sebuah dentuman keras yang memekakkan telinga mendadak pecah membelah keheningan hutan.
Pletarrrrrrrrr!!!
Suara itu begitu dahsyat, menggelegar layaknya petir yang menyambar di siang bolong. Hantaman suaranya membuat nyali sang penguasa hutan menciut seketika. Macan itu membatalkan terkamannya, menjejakkan empat kakinya kuat-kuat ke tanah sambil menggeram waspada, mengedarkan pandangan mencari sumber ledakan.
Dari balik rimbunnya semak belukar, sosok tegap berpakaian hitam kombor melangkah keluar dengan santai. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah cambuk panjang berbahan kulit jalinan tebal yang ujungnya masih menyisakan hawa panas. Sang Warok telah datang.
"Hahaha, bocah! Kau mau kutolong, atau kubiarkan saja macan itu mengisi perutnya yang lapar dengan dagingmu, hah?" tanya perampok itu, tertawa mengejek.
Bocah itu menelan ludah, seluruh badannya gemetar hebat, namun harga dirinya menolak untuk tunduk. "To.. to... Tidak! Biarkan saja macan itu memakanku! Aku lebih baik mati dan membusuk di hutan ini daripada harus tinggal bersama iblis sepertimu!" raungnya, memeluk pisau dapur erat-earat di dada.
"Hey, jangan keras kepala, bocah. Kau pasti belum pernah mencicipi daging macan, kan? Apa perutmu tidak lapar?" sahut sang perampok dengan nada santai, seolah keberadaan predator di dekat mereka hanyalah seekor kucing rumahan.
Namun, macan gembong itu tak mau menunggu obrolan mereka selesai. Merasa diabaikan dan terancam, binatang buas itu mengambil kesempatan. Dengan satu tolakan kaki yang kuat, tubuh lorengnya yang besar melesat cepat, melompat menerkam lurus ke arah sang bocah. Bocah itu terkesiap, wajahnya seketika pucat pasi. Ia memejamkan mata erat-erat, bersiap menyambut ajal yang sudah di depan mata.
Tetapi, maut kembali tertunda.
Pletarrrrrr!!!
Ledakan cambuk itu kembali mengguncang rimba. Gerakannya teramat cepat, nyaris tak tertangkap oleh mata telanjang. Ujung cambuk yang legam menjepret telak ke lambung macan yang sedang melayang di udara. Daya hantam cambuk itu begitu mengerikan, mampu menghentikan momentum terkaman dan melempar tubuh macan seberat ratusan kilogram itu hingga terpelanting ke samping.
"Groaaaaarrrrrr!"
Sang penguasa hutan tersuruk keras ke tanah, bergulingan di atas serasah daun kering. Sebuah luka sayatan yang sangat dalam dan menganga kini merobek kulit lorengnya, mengucurkan darah segar yang kental.
"Dasar bocah bodoh," dengus sang perampok sembari mengibas cambuknya ke tanah. "Daging macan itu berserat padat dan nikmat. Kau akan menyukainya nanti."
Rasa sakit yang luar biasa ternyata tidak membuat macan itu lari. Naluri liarnya bergolak, digantikan oleh amarah yang kalap. Mata kuningnya menyala merah.
"Groarrrrr!!!"
Sambil meraung dahsyat hingga menggetarkan pepohonan sekitar, macan itu kembali bangkit. Kali ini, ia mengalihkan sasarannya. Ia melesat dengan kecepatan penuh, menerjang kalap ke arah sang perampok.
Menghadapi terkaman maut itu, sang perampok bahkan tidak menggeser kedua kakinya. Ia hanya menarik lengan kanannya ke belakang, lalu menyentakkan cambuknya dengan pengerahan tenaga dalam yang luar biasa.
Pletarrrrrr!!!
Ledakan kali ini jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Dentumannya menciptakan gelombang kejut tak kasat mata yang menyapu udara sekitar, membuat tubuh ringkih sang bocah terjerembab dan terseret beberapa langkah di atas tanah.
Di depan, ujung cambuk itu melilit kuat dan menyayat leher sang macan yang sedang menerjang. Dengan satu sentakan bertenaga karang, sang perampok menarik cambuknya kembali.
Crassss!
Hentakan itu tanpa ampun merobek urat leher sang macan hingga nyaris putus. Tubuh besar berbulu loreng itu seketika kehilangan daya, terjerembab hebat ke tanah dengan posisi mengenaskan. Binatang buas itu hanya bisa mengerang parau, tubuhnya kejang-kejang beberapa saat di atas tanah yang kian memerah, sebelum akhirnya merenggang nyawa sepenuhnya.
Suasana hutan kembali sunyi, menyisakan bau anyir darah segar dan kepulan asap tipis dari ujung cambuk sang warok yang berdiri tegak menatap murid barunya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!