MALAM YANG MENGEJUTKAN
Suara musik berdengung di satu ruangan luas. Sorak-sorai dari mereka yang menikmati DJ sambil melakukan kegiatan dosa lainnya.
Sementara itu, di meja tengah. Seorang wanita menidurkan kepalanya ke meja disaat teman-temannya yang lain asik melepaskan penat mereka.
“Myra!” panggil Erlina penuh semangat hingga wanita bernama Myra itu mendongak, menatapnya malas tanpa semangat. “Ayo! Lepaskan pikiranmu, kita senang-senang dulu!”
“Ck.” Myra berdecak, meneguk sodanya. “Aku mau kembali ke apartemen saja.”
“Ayolah, Myra. Kita di sini ingin mengajakmu rileks.”
Myra memperhatikan teman-temannya di sana terutama Erlina yang paling dekat dengannya. Lalu ia meraih tasnya, “Aku ke toilet sebentar. Kalian lanjutkan saja.”
Dengan pakaian sederhana, jaket putih dan celana hitam, Myra benar-benar bukan tipe wanita yang menarik perhatian para pria, namun dia pemilik senyuman yang manis.
“Myra— ” tak bisa menghentikannya. Wanita rambut pirang itu memberikan waktu sendiri untuk temannya itu.
Ya. Sejak Myra Mahira (29th) tahu tentang hutang mendiang ayahnya mencapai 500 juta, seketika dunia Myra langsung tak ada artinya. Ia benar-benar tak tahu harus mencari ke mana lagi.
Sedangkan Tante dan pamannya terus mendesaknya untuk segera melunasi hutang tersebut, jika tidak, rumah mereka yang akan menjadi tebusan. Itupun kurang.
Namun satu hal yang tidak Myra sadari malam ini. Bahwa seseorang mengamatinya sejak tadi di ujung ruangan, sofa dan meja para VVIP.
“Bagus. Sekarang aku tersesat.” gumamnya pasrah. Langkahnya membawa dia ke halaman belakang club besar yang ada di Bali. Kini dia tak tahu ke mana keberadaan toiletnya.
Myra menoleh ke kanan dan kiri. Hanya ada keheningan dihalaman luas bernuansa Sisilia keramik. Wanita itu mengernyit.
“Kau tersesat.”
Sontak Myra langsung berbalik badan, kaget melihat seorang pria berdiri di hadapannya. Pria paras bule, kemeja hitam dua lengan terlingkis, kumis dan brewok tipis. Dan tatapan... Datar.
“Ah. Tidak.. Hanya mencari toilet.” balas Myra hampir tersenyum namun dia menahannya lalu berjalan melewati pria gagah dan tinggi. Namun anehnya, dia seperti pernah melihatnya.
Dan untuk pertama kalinya, Myra merasa merinding ketika dia mulai menyadari pria asing itu berjalan mengikutinya dari belakang. Langkah yang tentang menjadi lebih cepat saat Myra mempercepat langkahnya dan sesekali menoleh ke belakang dengan wajah panik, nafas memburu.
Brugh!
Tanpa sadar ia menabrak tubuh seseorang.
Tentu ia langsung menatap pria botak beserta dua temannya yang juga sama berpakaian jas hitam.
Semuanya mencurigakan hingga Myra melangkah mundur dan langsung berbalik badan. Tapi justru pria yang sama, yang mengikutinya tadi sudah berdiri di sana dan langsung memukul wajah Myra tanpa melukainya, namun membuat wanita itu pingsan detik itu juga.
Pria pemilik manik cokelat terang itu membopong tubuh Myra bak karung beras.
“Tutupi semua jejak.” pintanya kepada tiga anak buahnya tadi.
Sementara di dalam club. Erlina menunggu cukup lama, ia mencoba menelepon Myra namun dia tidak mendapatkan jawaban maupun balasan chat. “Tidak seperti biasanya. Apa dia sudah ke apartemen?” gumam Erlina khawatir.
”Hey, Erlina! Come here!” panggil kawannya dari arah pintu masuk.
Wanita itu mengangguk seraya mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat.
Cukup lama dia menatap ponselnya dan berharap Myra baik-baik saja. Secara, uang 500 juta seperti sedang melilit lehernya saat ini.
“Andai saja aku miliader.” Ucapnya menyeringai pasrah lalu masuk lagi ke club.
...***...
Beberapa jam berlalu dengan cepat. Ketika cahaya lampu berwarna putih dan kuning menerpa matanya. Myra mengernyit, merasa sedikit pening hingga ingatannya yang panik membuatnya terbangun saat itu juga.
Nafasnya tersengal, memperhatikan keseluruhan ruangan asing baginya. Kemewahan bergaya keramik elegan. Rambut Myra yang panjang bergelombang itu sedikit berantakan.
“How are you?”
Wanita itu langsung menoleh kaget, melihat pria yang sama. Yang kini duduk di sofa singel warna hitam sembari memperhatikannya entah sejak kapan.
Myra mengernyit. “Who are you?” tanya nya penuh penelitian, sembari mengamati wajah tampan itu.
Tak ada senyuman dari si pria. Hanya tatapan yang mengintimidasinya. Hingga pria itu bersandar dengan kedua lengan tangannya bertumpu di kedua lengan sofa.
“Seseorang yang kau benci.” ucap pria itu berat, serak dan dingin.
Tentu saja Myra tak tahu. Dia mengamati pria itu, bahkan aromanya pun benar-benar memikat. -‘Siapa dia?’ pikirnya.
Pria itu berdiri dari duduknya dan melangkah maju ke arahnya, sehingga Myra langsung tergopoh mencoba berdiri namun terlambat dan kini ia hanya memundurkan tubuhnya sampai bersandar ke sofa.
Kedua matanya menatap lekat ke pria yang berdiri di depannya.
Tangan kanannya yang besar dan berurat itu menyentuh pipi Myra, namun wanita itu langsung berpaling kesal.
“Don't touch me!” tegasnya menatap tajam.
Bukannya marah, pria itu menyeringai kecil hampir seperti senyuman devil yang begitu memikat.
“Tatapanmu dan ucapanmu selalu berhasil membuatku tertantang.”
“Aku tidak mengenalmu. Lepaskan aku atau kau berurusan dengan polisi, Tuan.” tegas Myra.
Pria itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat hingga kedua tangannya bertumpu di sofa. Dan Myra semakin mundur, menoleh ke kiri, menghindari tatapan mematikan itu.
“Lakukan saja.” ucapnya penuh sensual hampir dekat dengan telinga Myra sehingga ia bisa merasakan nafas panas pria itu di cerucuk lehernya.
Pria itu membelai rambut panjang Myra kebelakang. “Aku yakin kau masih mengingatku. Secara... kebencian mu begitu besar hanya karena sebuah cincin.”
Myra langsung tertegun. Ia menatap pria itu lekat. Ingatan di masa lalunya mulai berputar di kepalanya, ia menelan ludah, nafasnya semakin memburu memperhatikan paras pria asing itu.
Tanpa pikir panjang, Myra langsung mendorong dan beranjak pergi. Namun pria itu lebih cepat mengejarnya hingga memepetkan tubuhnya ke dinding dan berdiri dekat di belakang tubuh Myra dengan menahan kedua tangan wanita itu ke belakang.
“Sekarang kau mengingatku? Nice to meet you.” bisiknya begitu dekat di telinga kanan Myra hingga hidung mancung pria itu mengendus Dau telinga Myra turun ke cerucuk leher.
Sebisa mungkin Myra mencoba melepaskan dirinya dengan menggeram kesal hingga menggertakkan giginya.
“Lepaskan— ”
Pria itu melepaskannya hingga Myra menjauh, menatapnya tak percaya.
Setelah 18 tahun lebih mereka tidak bertemu. Kini Myra tak percaya anak laki-laki menyebalkan itu kembali lagi, tapi sekarang dia sudah menjadi pria dewasa yang begitu memikat.
“Aku tidak peduli siapa dirimu.” kesal Myra yang tergopoh ia bergegas ke arah pintu. Namun pintu itu tak bisa dibuka, bahkan jendela besar di sana juga paten.
Tentu saja Myra frustasi sampai berteriak saking marahnya.
Dan akhirnya... Ia menunduk, menyisir rambut panjangnya ke belakang dan berbalik menatap pasrah ke pria yang dia kenal dengan nama Al.
“Apa yang kau inginkan?” ucapnya terus terang.
Pria itu masih berdiri di tempatnya. “Not me. But you.”
Kedua alis Myra berkerut.
Pria itu berjalan santai menuju meja, sembari menuangkan sebotol beer di gelas kristal. “Bukankah aku seperti malaikat yang datang kepadamu di saat kau sedang membutuhkan sesuatu yang besar.”
Sejenak mata cokelat itu menatap ke Myra sebelum akhirnya dia meneguk beer tersebut.
Tentu, Myra tak bodoh. Dia tahu apa yang Al maksudkan. Tapi bagaimana bisa pria itu tahu?
“Itu bukan urusanmu. Biarkan aku pergi, aku tidak membutuhkan mu.” ucapnya angkuh hingga gelas kembali mendarat ke atas meja.
“Keangkuhanmu lebih besar daripada kebutuhan mu, Nona.”
Myra terdiam, mengingat kebutuhan yang benar-benar besar dan hampir membuatnya ingin mati. Dan kali ini dia tak bisa menjawab apapun selain diam dan berpaling agar air mata tidak jatuh.
Dan Silas Al Wolfe. Memperhatikannya hingga berjalan mendekat, begitu dekat sampai jarak mereka tak lagi terhitung.
“Aku bisa memberimu 5 juta dolar, asal kau mau menjadi milikku malam ini.” ucapnya terus terang yang tentu saja Myra langsung menatapnya tajam serta lunak.
5 juta dolar bukan uang kecil. Itu bahkan lebih dari 500 juta rupiah.
Tapi di depannya. Bukan sembarangan pria, dia Al. Anak laki-laki menyebalkan yang membuatnya kesal dan kini Myra tidak tahu siapa Al kali ini.
SEBUAH PILIHAN
Keadaan ruangan begitu hening. Hanya terdengar suara gemericik dari air pancur yang ada di halaman. Dan Myra tak tahu di mana letaknya, dan kini dia berada di tempat apa.
Ia tak berkutik selain diam menatap penuh kekesalan ke mata cokelat itu. Mata yang selalu merendahkan, devil, dan kini penuh dengan rahasia.
“Aku tidak membutuhkannya. Dan jika yang kau maksud adalah tubuhku, maka aku tidak menjual tubuhku.” ucap Myra.
Tatapan Silas masih sama. Ia diam, rahangnya yang tegas itu berdenyut. “Kalau begitu bunuh diri lah, itu bisa meringankan bebannya.”
Kedua tangan Myra mengepal kuat, kedua matanya mulai berkilat, berkaca-kaca namun ia sebisa mungkin menahannya.
“Kau memiliki kesempatan untuk memilih, dan aku membuka kesempatan itu.”
Suaranya begitu pelan, menusuk dan berat sehingga nyaring seperti sebuah godaan di telinga Myra yang masih menatap mata itu cukup dalam dan dekat.
Bibirnya gemetar, pikirannya kacau. Ingatan akan masa lalunya kembali muncul— bagaimana pria di depannya itu dulu selalu bersikap menyebalkan, keterlaluan dan suka menindas. Namun satu hal yang Myra tidak tahu tentang isi hati Silas.
“Why me? (Kenapa aku)?”
Tak ada senyuman. Silas mendekatkan wajahnya lebih dekat hingga hidung mancungnya hampir bersentuhan dengan hidung Myra.
“Karena kau gadis pertama yang membenciku.”
Seketika tubuh Myra merinding dari kaki ke wajahnya. Ia tak pernah berpikir sampai ke situ, tapi Silas ternyata menanggapinya lain.
Dan Myra benar-benar marah karena pria itu menghilangkan cincin peninggalan mendiang ibunya.
Tangan kiri Silas bergerak menelusup ke rambut hingga menyentuh leher Myra. “Jika pun kau berpikir ingin berubah menjadi gadis penggoda untuk menghindari ku. Maka kau salah besar.”
Kedua alis Myra mengernyit.
“Karena aku akan semakin mengejar mu.”
Myra langsung mendorongnya dan menjaga jarak. Nafasnya tersengal, ia begitu gerah namun rasa kesalnya lebih besar. “Keluarkan aku dari tempat ini.”
Silas menatapnya diam dan tegas. Hingga dia berjalan ke arah pintu dan mengetuk dua kali.
Tanpa menunggu lama, pintu dibuka dari luar oleh seorang pria botak yang merupakan anak buahnya. Tentu saja Myra tertegun, menatap Silas lalu ke arah pintu yang dibuka dengan mudah.
“Pergilah.” ucap pria itu dengan santai. Seolah-olah pembicaraan mereka hanyalah angin lewat.
Myra yang masih tegang, dia mengangguk-anggukkan kepalanya kecil lalu bergegas keluar melewati pintu itu dengan perasaan kesal.
Halaman yang begitu luas dan asri, namun nuansanya begitu mencengkram hingga langkah Myra perlahan mulai berhenti saat hampir sampai di arah gerbang besi.
Ia terdiam beberapa detik saat ponselnya bergetar di dalam tas jinjingnya. Myra segera mengeluarkan ponsel itu dan melihat sebuah panggilan dari pihak yang menagih hutang hingga panggilan berganti dengan telepon dari Tantenya.
(“Besok itu terakhir, Myra. Kalau kamu tidak segera mencarikan uangnya, rumah Tante sama paman mu yang menjadi jaminan. Ayolah bantu Tante, apa semua ini balasanmu setelah kami memberimu tumpangan di rumah kami?”)
Wanita itu diam untuk sesaat, memejamkan matanya begitu rapat. Ia menunduk dan tangannya terkepal kuat, kedua matanya berkaca-kaca. Kepalanya benar-benar kacau. Hingga Myra akhirnya berputar arah dan berjalan dengan langkah panjang ke arah pintu yang sama.
Sejenak Myra terdiam menatap penjaga di sana, sebelum akhirnya ia melangkah masuk.
Mendengar pintu terbuka. Sila yang tadinya membelakangi arah pintu sambil meletakkan sebotol beer yang baru ia tuang ke gelas. Ia menoleh sekilas saat melihat Myra kembali lagi.
“Aku harap keputusan mu tidak membuatmu menyesal.” ucap Silas menyeringai licik lalu meneguk habis beer itu.
“Berikan aku 500 juta, hari ini juga. Setelah itu... ” Ia tak bisa melanjutkan perkataan yang menjijikan itu.
“Setelah itu apa?” tanya Silas yang masih berdiri membelakanginya.
Myra menarik nafas dalam-dalam. “Aku milikmu malam ini, Tuan Al.”
Pria itu meletakkan gelasnya, lalu berbalik menatapnya dingin. “Aku sudah melupakan nama itu.” ucapnya datar. “Panggil aku Silas. Agar kau bisa menyebut namaku dalam desahan indah mu.” ucapnya yang masih dingin dan menatap tajam sembari berbalik ke arah lain.
“Come here.” pintanya sambil berjalan masuk ke sebuah lorong.
Myra mencoba untuk tetap tenang. Ia benar-benar merasa jijik mendengar ucapan tadi. Namun bagaimanapun, malam ini dia harus mendapatkan uang itu.
Sampai di sebuah kamar yang begitu dominan bertema dark yang lebih elegan serta mencengkram daripada ruang utama dan halamannya.
Ranjang warna hitam berbentuk lingkaran dengan selimut merah terlihat elegan.
“Kau suka beer?”
“Aku membencinya.” Jawab ketus Myra yang terlihat pasrah.
Pria itu seketika menuangkan segelas air putih dan membiarkannya di atas meja disaat dia duduk di sofa singel warna hitam yang menghadap langsung ke arah Myra berdiri.
“Minumlah.” pintanya.
Mata Myra melirik ke gelas berisi air putih. Lalu dia kembali menatap tegas ke Silas. “Aku tidak yakin kau tidak mencampurkan sesuatu di dalam sana.”
Kepala Silas mengangguk kecil.
Cukup lama pria itu memperhatikannya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas sehingga Myra merasa risih, mencoba berpaling.
Tak lama seorang anak buah mengetuk pintu lalu masuk. Namun tatapan Silas masih mengarah ke arah Myra.
“Tuan, Silas. Yang Anda minta sudah selesai.” ucapnya.
“Good.” balas Silas singkat namun anak buah itu langsung pergi.
Myra tak tahu urusan apa yang dimaksud, sampai pria berkemeja hitam itu membuka suara. “Bebanmu sudah lunas, Nona.”
Tentu saja Myra berkerut alis dan langsung memeriksa ponselnya saat itu juga. Ia mengecek sendiri hingga bertanya langsung lewat pesan. Dan detik itu juga jawaban ia dapatkan— sebuah pesan yang mengatakan kalau hutang itu sudah selesai.
-‘Syukurlah.’ batin Myra begitu lega, namun saat dia melihat ke arah pria yang duduk di sofa. Kelegaan itu hilang seketika, karena dia harus membayar dengan hal lain.
Myra memasukkan kembali ponselnya, ia menatap ke Silas yang masih memperhatikannya begitu detail. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana pria itu bisa mengetahui tentang hutang nya.
Namun malam ini... Myra harus menurunkan ego dan harga dirinya.
“Kau bisa menari?”
“Aku bukan penari.”
“Kalau begitu lakukan dan buat aku tergoda oleh mu.”
Rasanya begitu sulit menelan ludahnya. Myra merasa sesak mendengar permintaan itu. Dia bahkan tidak pernah memiliki seorang pria yang pernah dia goda, karena hubungan percintaannya selalu kandas lebih cepat karena mereka bosan dengan Myra yang tak bisa menggoda seperti wanita lain.
“Aku tidak bisa.”
“Lakukan saja. Dan biarkan aku melihatnya.”
Tak bisa lagi mengelak setelah pria itu melunasi hutangnya. Myra menggigit bibir bawahnya.
Dengan penuh keberanian ia meletakan tasnya di atas meja panjang. Tatapan matanya tak luput dari mata Silas yang masih memperhatikannya.
Wanita itu berjalan tenang ke arah Gramofon. Tangannya bergerak menyalakan musik hingga mengalun lembut mengisi ruangan itu. Sementara Silas masih memperhatikannya.
Saat musik klasik mengalun lembut, Myra berbalik menatap Silas sembari menurunkan resleting jaketnya sampai benar-benar terbuka. Ia menanggalkan jaket putih itu dan melepas celana panjangnya sehingga kini Myra hanya mengenakan tanktop hitam serta celana pendek ketat warna hitam.
Rahang tegas Silas mulai mengeras. Jari telunjuknya berhenti mengetuk lengan sofa ketika wanita di depannya itu mulai bergerak mengikuti musik. Menari lembut sembari membuka tanktop hitamnya yang kini menunjukkan bra hitamnya hingga rambut panjangnya ikut bergerak, menari.
ONE NIGHT STAND
Dengan gerakan perlahan, Myra menggerakkan pinggulnya ke kanan dan kiri. Tariannya begitu lembut mengikuti alunan musik yang masih mengalun. Tak sesekali rambut panjangnya itu berterbangan indah setiap kali dia berputar.
Langkahnya yang mengikuti gerakan salsa semakin mendekat dan dekat ke arah Silas. Ia menyeringai penuh godaan saat mengibaskan rambutnya ke wajah pria itu hingga berdiri membelakanginya sembari bergoyang slowed ke kanan dan kiri dengan kedua tangannya membelai sisi tubuhnya dari pinggul ke atas.
Pria itu menatap diam dan tegas, namun ia menelan ludah sampai Myra berbalik menatapnya tajam dan duduk di atas pangkuan Silas seraya membelai wajah pria itu.
Saat musik berhenti. Seketika Myra kembali tertegun, terpaku dengan tangan kanan masih berada di pipi pria itu dan jarak yang begitu intim. Jantungnya berdegup kencang sat Myra hendak bangkit namun Silas langsung menahan tangannya dan menariknya ke arah bibirnya.
Tentu saja Myra semakin panik ketika pria itu memasukkan ibu jari Myra ke mulutnya dan mengulumnya singkat sembari menatap wajah merah padam Myra yang terlihat jelas bagaimana wanita itu tersipu.
“Tarian yang indah.” ucapnya pelan sembari menelusupkan tangannya ke tengkuk leher Myra dan menariknya lebih dekat sebelum akhirnya bibir itu mendarat sempurna ke bibir peach Myra.
Tak bisa menolak selain memejamkan matanya ketika bibir Silas mencium perlahan dan bertahap. Ia semakin menekan tengkuk Myra, memperdalam ciuman itu hingga melumat habis bibir Myra.
Hingga tangan Myra mengepal kuat mencoba mendorong pundak dan dada bidang Silas seolah ia membutuhkan oksigen yang hampir habis. Namun Silas lebih kuat dan lebih bertahan lama, hingga ia melepaskan ciuman bergairah itu sejenak saat ia menggendong tubuh Myra, membantingnya ke kasur empuk lalu membuka kemeja hitamnya sembari membelakangi Myra yang bergerak mundur dengan fas tersengal.
Ia melihat jelas punggung lebar dan berotot Silas Al Wolfe yang terdapat tato di bawah tengkuknya.
-‘Astaga.. Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin melakukannya. Tidak mungkin dengannya.’ batin Myra yang mulai ketakutan, menelan ludah hingga menggigit bibir bawahnya sembari menatap berkerut alis.
Pria itu berbalik menatapnya. Melepaskan gesper nya dan mendekat ke Myra yang mencoba mundur. Silas menarik kedua kakinya lebih dekat dan mengikat kedua tangan Myra menggunakan gesper hitam itu.
“Ap-apa yang kau lakukan? Lepaskan aku.” ronta Myra yang mulai panik.
“Sesuatu yang membuat mu nyaman.” kata Silas yang seketika menahan kedua tangan Myra ke atas kepala wanita itu.
Kontak mata saling bertemu. Nafas Myra naik turun tak karuan ketika pria itu berada di atasnya dalam keadaan telanjang dada.
“Berapa pria yang pernah bersamamu?” tanya Silas tanpa beralih.
“Tidak ada.” jawab Myra berpaling kesal hingga tangan kanan Silas mencengkram ringan tapi pasti kedua rahang Myra sehingga wanita itu kembali menatapnya.
“Good.” balas Silas. “Aku tidak perlu menikmati bekas orang lain.”
Pria itu kembali melumat bibir Myra satu gerakan dan kembali menatapnya, mengusap bibir bawah itu menggunakan ibu jarinya. “Kau memiliki bibir yang seksi.” ujar Silas tanpa senyuman, hanya ada tatapan penuh damba.
Ia kembali mencium, melumat bibir ranum Myra, mencengkram leher wanita itu hingga Myra perlahan membuka bibirnya, mengikuti ritme Silas. Ciuman itu merambat ke bawah, ke rahang Myra hingga ke leher wanita itu.
Untuk pertama kalinya Myra merasakan darahnya berdesir, tubuhnya gemetar tatkala sentuhan-sentuhan Silas begitu candu. Kini ciuman itu berpindah ke tulang selangka Myra.
“Haaa~ ”
Sekilas, Silas menghentikan aksinya, menatap wajah Myra yang sudah merah padam, mata tertutup dan bibir terbuka mengeluarkan desah pelan.
Tak berhenti di situ. Tangan kiri Silas melepas tangan Myra yang masih terikat dengan gesper nya. Ia kembali menciumi area dada wanita itu, mengusap perut serta pinggang polosnya. Tak sesekali ia menggigit dan menjilat saat turun ke pusar Myra.
“Sshh~ Hahh~ Hahh~ ”
Nafas Myra naik turun tak karuan. Matanya terbuka saat merasakan gerakan Sils terhenti.
Dan benar saja, pria itu menegakkan tubuhnya, menatap ke Myra sembari membuka resleting celananya. Seketika Myra langsung berpaling dengan pipi merona dan jantung berdegup kencang.
-‘Ini akan cepat berakhir... Setelah itu semuanya selesai,’ pikir Myra yang memejamkan matanya hingga ia mulai melenguh saat ia merasakan tangan Silas mencengkram dan membelai pahanya.
“Kau tahu, berapa lama aku menantikan mu?” ucapnya pelan dan serak. Namun Myra masih bisa mendengarnya meski dia mencoba menahan desahannya tatkala tangan itu mulai beraksi di area yang begitu lebih sensitif.
Silas merendahkan tubuhnya ke depan sehingga ia bisa melihat wajah Myra lebih dekat meski tangan kanannya masih bergerak teratur di area terlarang Myra.
“Sangat lama.” bisiknya begitu dekat ke telinga Myra yang tak sanggup membuka matanya.
“Ahh~ sshh~ ” desahan Myra semakin menjadi dan terdengar seksi.
Silas menatap lekat wajah cantik dan seksi itu, hingga bibir Myra yang terbuka dan punggung yang melengkung.
Tak bisa mengabaikannya begitu saja. Pria itu kembali mencium bibir Myra. Bersamaan dengan itu, ia menyadari satu hal tentang wanita di bawahnya saat ini.
Bahwa dia masih seorang virgin.
“Call my name.” ucap Silas terdengar lebih sensual sehingga Myra menatap lekat mata itu.
Seperti terhipnotis. Ia tak berpaling, hingga satu hentakan keras langsung membuatnya terlonjak kaget dan langsung menggeliat kesakitan. Tentu saja Silas menatapnya beberapa detik, menikmati eskpresi itu hingga ia menelusupkan tangannya kirinya ke tengkuk Myra sembari melumat bibir itu seiring gerakan pinggulnya menghentak tanpa kelembutan. Hanya kenikmatan yang panjang.
Tak tinggal diam, tangan kanan Silas yang lain membelai keseluruhan tubuh polos Myra.
Namun satu hal yang membuat Silas kesal.
Myra sama sekali tidak memanggil namanya. Dia hanya mengeluarkan desahan, lenguhan serta merintih sakit. Bahkan kedua tangannya mencengkram kuat lengan berotot Silas hingga punggung pria itu.
“Ahhh~ Please, stop~ sshh, ahh~ ”
Dering ponsel milik Myra yang ada di dalam tas kembali bergetar. Sudah ketiga kali ini suara dering itu terdengar, namun suaranya tertutup oleh desahan serta erangan dari permainan malam yang panas di kamar tersebut.
Bahkan kedua kaki Myra gemetar hebat, namun anehnya dia tak ingin benar-benar berhenti.
.
.
.
“Ck.” decak Erlina berkerut alis menatap ponselnya.
“Belum diangkat? Mungkin dia sudah ke apartemen.” kata temannya yang lain.
Wanita dengan pakaian terbuka itu masih tak percaya kalau Myra kembali tanpa dirinya. Dan ini sudah lewat tengah malam. Bahkan kata Tante Myra pun sama. Myra tak mengangkat telepon darinya.
“Kau di mana, Myra?” gumamnya dengan cemas sendiri hingga menggigit bibirnya penuh kekhawatiran.
Erlina takut jika temannya itu bunuh diri karena terlilit hutang 500 juta. Apalagi Myra tak bisa dihubungi.
Namun Erlina tak tahu, bahwa di luar sana, temannya sedang bercumbu dengan seseorang yang seharusnya dijauhi. Harus dijauhi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!