Suara benturan tinju ke perut Lin Liu terdengar nyaring di gang sempit belakang ruko itu. Dia ambruk, tangannya refleks meremas kerikil di tanah yang becek bekas hujan sore tadi.
"Lin Liu, aku sudah baik sama kau," kata pria bertubuh besar bertato naga di lengannya, sambil berjongkok agar sejajar dengan wajah Lin Liu yang sudah babak belur. "Bosku memberi kamu waktu tiga bulan. Sekarang sudah lewat, dan kamu masih belum bayar lima puluh juta itu."
"A-Wei... aku... aku sedang berusaha," suara Lin Liu serak, darah menyembur tipis dari sudut bibirnya. "Berikan waktu seminggu lagi..."
"Seminggu?" A-Wei tertawa, lalu berdiri, melirik dua anak buahnya yang berdiri mengapit. "Kamu sudah bilang begitu tiga kali, Lin Liu. Kali ini aku hanya memberi peringatan. Lain kali, bukan hanya wajahmu yang babak belur."
Salah satu anak buahnya menendang perut Lin Liu sekali lagi sebelum mereka bertiga pergi, meninggalkan Lin Liu yang meringkuk sendirian di gang gelap itu, hanya diterangi lampu jalan yang berkedip-kedip.
Butuh waktu lama bagi Lin Liu untuk bangun. Setiap gerakan kecil membuat tulang rusuknya berdenyut nyeri. Ia berjalan terseok-seok keluar gang, menyusuri trotoar yang mulai sepi karena malam telah larut. Tangannya memegang pipi kirinya yang bengkak, matanya sedikit sembab, entah karena pukulan atau karena menahan tangis.
"Kenapa sih... kenapa harus aku yang menanggung," gumamnya sendiri, melangkah sempoyongan seperti orang mabuk padahal hanya kesakitan. "Papa, Mama... kalian meninggalkanku begitu saja. Utang lima puluh juta, kalian yang membuat, aku yang disuruh membayar. Kabur ke mana sebenarnya kalian?"
Dia tertawa getir sendiri, berbicara pada udara kosong seperti orang gila. Orang-orang yang lewat hanya melirik sekilas lalu buru-buru mempercepat langkah, malas berurusan dengan pemuda babak belur yang bicara sendiri.
GUUURRR...
Perutnya keroncongan. Sejak pagi Lin Liu belum makan apa-apa. Matanya melihat sebuah rumah makan kecil di seberang jalan, lampu kuning hangatnya membuat perutnya semakin protes keras. Ia meraba kantong celananya, hanya menemukan selembar uang lima ribuan yang sudah lecet.
"Sudahlah, coba saja dulu," pikirnya, sambil menyeberang jalan dengan langkah gontai.
Begitu masuk, aroma nasi goreng dan mie rebus langsung menyerbu hidungnya, membuat perutnya semakin melilit. Ia mendekati ibu penjaga warung yang sedang mengaduk wajan.
"Bu, permisi... uang saya hanya segini," Lin Liu memberikan uang lima ribuan itu dengan tangan gemetar. "Boleh minta nasi putih saja? Atau apa pun, yang penting bisa makan..."
Ibu itu melirik uangnya, lalu melirik wajah Lin Liu yang babak belur, alisnya langsung mengernyit jijik. "Yang paling murah di sini sepuluh ribu, Nak. Lima ribu dapat apa? Air putih pun tidak cukup!"
"Bu, tolonglah, saya sudah dari pagi belum makan—"
"Sudah, pergi sana! Mengganggu pelanggan saja!" ibu itu mendorong bahu Lin Liu sampai ia menyenggol meja, dan suaminya yang keluar dari dapur langsung menarik kerah baju Lin Liu, menendangnya keluar sampai jatuh ke aspal trotoar.
"Preman miskin begini masuk-masuk warung orang!" suami ibu itu mengomel, lalu membanting pintu kaca warung.
Lin Liu hanya bisa terkapar di pinggir jalan, kepalanya terasa pusing. Rasa lapar, sakit, dan lelah menjadi satu, menumpuk di dadanya seperti batu.
"Tuhan... siapa pun yang mendengarkan," bisiknya lirih, matanya perlahan terpejam, "aku hanya ingin makan sekali ini saja. Hanya itu."
Dan tepat saat kesadarannya hampir hilang sepenuhnya, sebuah cahaya biru transparan muncul mendadak di depan matanya, melayang seperti layar hologram.
...[SISTEM TERDETEKSI... MEMPROSES...]...
Sebuah kartu bercahaya muncul, berputar pelan di udara, dengan angka besar tertulis di tengahnya:
...50%...
Lin Liu berkedip beberapa kali, ragu apakah dia sedang bermimpi atau memang sudah gila saking laparnya. Kartu biru itu masih melayang di depan matanya, angka 50% berkedip pelan seperti detak jantung.
"Ini... apa," gumamnya, suaranya serak, sambil berusaha duduk meskipun tulang rusuknya masih berdenyut nyeri. "Aku sudah gila rasanya. Mulai berhalusinasi."
Belum sempat dia berpikir lebih jauh, layar itu berubah, menampilkan tulisan lain yang muncul huruf demi huruf, seperti sedang diketik pelan-pelan.
...[SELAMAT DATANG, HOST. SISTEM DISKON TELAH TERAKTIVASI SEBESAR 50%.]...
...[FUNGSI SISTEM SAAT INI: TIDAK STABIL. HARAP BERSABAR.]...
Lin Liu melongo, lalu tertawa sendiri, pelan tapi getir. "Sistem? Keberuntungan? Aku tidak sedang membaca novel, ini hidupku yang berantakan, bukan cerita fiksi murahan..."
...[HOST TERDETEKSI DALAM KONDISI KRITIS: LAPAR, LUKA FISIK, TEKANAN MENTAL TINGGI.]...
...[MEMBERIKAN BANTUAN AWAL...]...
Tiba-tiba dari udara kosong di sebelah tangannya, muncul sebuah bungkusan kecil, seperti makanan yang baru saja diteleportasi begitu saja. Aromanya langsung menyerbu hidung Lin Liu—bau roti hangat, manis, membuat air liurnya otomatis menetes.
Dia diam sesaat, memandangi bungkusan itu dengan mata melebar. Tangannya gemetar saat mengambil bungkusan itu, sebagian karena lapar, sebagian lagi karena masih tidak percaya semua ini nyata.
"Ini... sungguhan?" bisiknya, suaranya nyaris tidak terdengar. Dia membuka bungkusan itu perlahan, menemukan dua potong roti isi daging yang masih mengepul hangat.
Tanpa berpikir panjang lagi, Lin Liu langsung melahap roti itu, kunyahannya cepat, hampir tersedak sangking laparnya. Air matanya tiba-tiba menetes, entah karena terharu atau karena emosi yang menumpuk seharian akhirnya pecah juga.
"Enak... ini enak sekali," katanya di sela-sela kunyahannya, sambil tertawa dan menangis bersamaan, seperti orang setengah waras.
...[HOST TELAH MENGONSUMSI MAKANAN. KONDISI FISIK MEMBAIK 15%.]...
...[SISTEM AKAN MENJELASKAN FUNGSI LEBIH LANJUT SETELAH HOST STABIL.]...
Lin Liu mengunyah potongan terakhir roti itu, lalu bersandar ke tembok warung yang tadi mengusirnya, napasnya masih agak berat tapi setidaknya perutnya sudah tidak segila tadi. Dia menatap layar biru itu lama, alisnya berkerut.
"Kau siapa sebenarnya? Kenapa muncul sekarang, saat aku sudah di titik paling bawah?" tanyanya, kali ini lebih tenang, meskipun masih ada nada curiga di suaranya.
...[PERTANYAAN HOST TIDAK DAPAT DIJAWAB SEPENUHNYA. TINGKAT AKTIVASI SISTEM MASIH 50%. INFORMASI TERBATAS.]...
...[YANG PERLU HOST KETAHUI: SISTEM AKAN MEMBANTU HOST KELUAR DARI KESULITAN, DENGAN SYARAT DAN TANTANGAN TERTENTU.]...
"Syarat?" Lin Liu langsung waspada, badannya yang tadi rileks kembali tegang. "Syarat seperti apa? Aku sudah cukup menderita, jangan bilang kau mau menyusahkan diriku lagi."
...[TENANG, HOST. SYARAT AKAN DIJELASKAN SECARA BERTAHAP. SAAT INI, PRIORITAS UTAMA ADALAH PEMULIHAN KONDISI HOST.]...
Layar itu perlahan meredup, meninggalkan Lin Liu sendirian lagi di pinggir trotoar yang mulai sepi.
Dia menghela napas panjang, menatap langit malam yang berawan tebal, tidak ada satu pun bintang yang terlihat. Tangannya masih memegang bungkusan kosong bekas roti tadi, meremasnya pelan.
"Sistem diskon, ya," gumamnya sendiri, ada seulas senyum tipis, samar, muncul di sudut bibirnya yang masih berdarah. "Kalau kau memang sungguhan nyata, aku butuh lebih dari sekadar roti untuk membayar utang lima puluh juta itu."
Dia berusaha berdiri, meskipun badannya masih gemetar, lalu melangkah pelan menyusuri jalanan sepi menuju kamar kosnya yang sempit, sementara pikirannya penuh tanda tanya tentang apa yang baru saja terjadi—dan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lin Liu terbangun dengan seluruh badan terasa kaku. Sinar matahari pagi menerobos celah gorden tipis kamar kosnya yang berukuran tidak lebih dari tiga kali tiga meter, menerangi debu yang beterbangan pelan di udara. Dia meringis saat mencoba duduk, tulang rusuknya masih terasa nyeri setiap kali dia menarik napas dalam.
"Sialan... sakit sekali," gerutunya, sambil meraba lebam di pipinya yang sudah mengering.
Baru saja dia hendak berdiri untuk mencuci muka, layar biru itu muncul lagi, melayang tepat di depan matanya, membuatnya kaget setengah mati sampai terjengkang duduk kembali di kasur tipisnya.
...[SELAMAT PAGI, HOST. KONDISI FISIK TELAH STABIL 62%.]...
...[SISTEM AKAN MENJELASKAN MEKANISME UTAMA.]...
Lin Liu mengusap wajahnya, masih setengah tidak percaya bahwa kejadian semalam bukan mimpi. "Oke... oke, aku dengarkan. Jelaskan."
...[SISTEM DISKON BEKERJA MELALUI MISI. SETIAP MISI YANG DISELESAIKAN AKAN MEMBERIKAN HOST SEBUAH KARTU DISKON.]...
...[KARTU DISKON DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MEMOTONG HARGA PADA TRANSAKSI TERTENTU, DENGAN SYARAT DAN BATASAN YANG BERLAKU.]...
Lin Liu mengerutkan kening. "Kartu diskon? Maksudnya seperti diskon belanja begitu? Terus itu bisa aku pakai untuk membayar utangku, bukan?"
...[STATUS: TIDAK DAPAT DIKONFIRMASI SEPENUHNYA. PENGGUNAAN KARTU DISKON TERBATAS PADA TRANSAKSI YANG DIAKUI SISTEM SEBAGAI "PEMBELIAN SAH". HOST DISARANKAN MENCARI TAHU SENDIRI BATASANNYA.]...
"Apa sih, jawabannya tidak jelas begitu," Lin Liu mendengus kesal, tapi tidak ada gunanya juga marah-marah pada sebuah sistem yang bahkan tidak punya wujud. "Sudahlah, terus misi pertamaku apa?"
Layar itu berkedip sebentar sebelum menampilkan sebuah kotak baru dengan garis tepi keemasan.
...[MISI DITERIMA: "MODAL AWAL"]...
...[DESKRIPSI: KUMPULKAN UANG SEBESAR Rp500.000 DALAM WAKTU 3x24 JAM MELALUI CARA YANG SAH.]...
...[HADIAH: KARTU DISKON 10%]...
...[WAKTU TERSISA: 71:59:56]...
Lin Liu menatap angka waktu yang terus berjalan mundur itu dengan raut wajah campur aduk antara panik dan tidak percaya. "Tiga hari? Kau bercanda? Aku bahkan tidak punya pekerjaan tetap, badanku masih remuk, dan kau menyuruhku mengumpulkan lima ratus ribu dalam tiga hari?"
...[SISTEM TIDAK BERCANDA, HOST. KEGAGALAN MENYELESAIKAN MISI TIDAK AKAN MEMBERIKAN HUKUMAN LANGSUNG, NAMUN KESEMPATAN MISI AKAN HILANG.]...
Lin Liu menghela napas panjang, menggosok wajahnya dengan kedua tangan. Uang lima ratus ribu memang tidak seberapa dibandingkan utang lima puluh juta yang menggantung di kepalanya, tapi setidaknya itu bisa jadi awal, bisa untuk makan dan bertahan hidup beberapa hari ke depan.
"Sudahlah, aku coba," katanya akhirnya, bangkit dari kasur meskipun badannya masih protes keras. Dia mengganti bajunya yang kotor dan robek dengan kaus lain yang agak lebih layak, satu-satunya yang belum dia jual ke tukang loak bulan lalu.
Begitu keluar dari gang sempit tempat kosnya berada, Lin Liu berjalan menyusuri jalan utama yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. Pedagang sayur mendorong gerobaknya, anak-anak sekolah berjalan sambil tertawa, dan aroma gorengan dari pinggir jalan membuat perutnya kembali berbunyi, meskipun tidak sekencang semalam.
Matanya menangkap sebuah kertas ditempel di kaca sebuah toko kelontong kecil, tulisannya sederhana namun cukup menarik perhatiannya:
"DICARI: KURIR HARIAN. BAYAR LANGSUNG PER HARI. DATANG LANGSUNG."
Lin Liu berdiri mematung sejenak di depan toko itu, menatap tulisan tangan yang agak berantakan itu. Dia menghela napas, mengumpulkan sedikit keberanian yang tersisa, lalu mendorong pintu kaca toko yang berderit pelan.
Di dalam, seorang perempuan muda sedang menyusun kardus-kardus mi instan dengan cekatan, rambutnya diikat asal ke belakang, wajahnya serius seperti sedang fokus menghitung sesuatu. Mendengar bunyi lonceng pintu, perempuan itu menoleh, menatap Lin Liu dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan menilai.
"Cari apa?" tanyanya, singkat dan agak dingin.
"Aku... lihat ada lowongan kurir. Masih dibuka, Kak?" Lin Liu bertanya, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Perempuan itu menyipitkan mata, memperhatikan lebam di wajah Lin Liu yang belum sepenuhnya hilang. "Mukamu babak belur begitu, habis berantem sama siapa? Aku tidak mau memperkejakan orang bermasalah."
"Bukan berantem, Kak. Aku hanya... sedang apes belakangan ini," jawab Lin Liu, mencoba tersenyum meskipun terasa kaku.
Perempuan itu terdiam sebentar, menatap Lin Liu lebih lama, seolah sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya.
"Namaku Su Yan. Ini toko punya keluargaku," katanya akhirnya, meletakkan kardus yang dipegangnya. "Kau bisa mulai sekarang. Tapi awas kalau macam-macam."
Lin Liu baru saja hendak menjawab dengan lega, saat tiba-tiba lonceng pintu toko berbunyi lagi, dan sosok yang sangat familiar—yang seharusnya tidak dia temui secepat ini—melangkah masuk dengan seringai lebar di wajahnya.
"Lin Liu? Wah, kebetulan sekali ketemu di sini."
Darah Lin Liu langsung berdesir dingin begitu mengenali suara itu. A-Wei.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!