Indonesia
NovelToon NovelToon

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Bab 1

Plak!

​Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Arka hingga wajahnya terpaling.

​Rasa panas dan perih langsung menjalar di kulitnya.

​Namun rasa sakit di wajahnya tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya saat ini.

​"Kamu itu cuma pedagang kaki lima yang miskin dan tidak tahu diri." Suara melengking Siska memecah keheningan malam di depan warung tenda yang sudah sepi.

​Arka memegangi pipinya sambil menatap nanar wanita cantik yang sudah dipacarinya selama tiga tahun terakhir itu.

​"Siska, kenapa kamu begini?" Arka bertanya dengan suara bergetar menahan emosi.

​"Aku sudah muak makan janji manismu yang katanya mau sukses." Siska melipat tangannya di dada dengan tatapan sangat merendahkan.

​Brummm!

​Suara mesin mobil sport terdengar menderu sebelum akhirnya berhenti tepat di belakang Siska.

​Dari balik mobil sport merah yang terparkir sembarangan itu, seorang pria berjas mahal melangkah keluar.

​Pria itu adalah Kevin, anak pemilik restoran mewah bintang lima yang bangunannya berdiri megah tepat di seberang jalan.

​"Sudahlah Siska sayang, jangan buang waktu berhargamu dengan gembel ini." Kevin merangkul pinggang Siska dengan senyum mengejek yang membuat darah Arka mendidih.

​"Siska, jadi kamu selingkuh dengan si sombong ini?" Arka menunjuk wajah Kevin dengan tangan gemetar.

​"Jaga mulutmu itu, Arka." Siska menepis tangan Arka dengan kasar.

​"Kevin bisa memberikanku segalanya, perhiasan, tas mewah, dan masa depan yang cerah." Siska tersenyum manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.

​"Sedangkan kamu? Kamu cuma bisa memberiku bau asap dan minyak jelantah setiap hari." Siska menutup hidungnya seolah merasa jijik.

​"Sialan, apa yang harus aku lakukan sekarang, semuanya sudah hancur." Arka mengutuk dalam hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

​"Lihat saja warung reyotmu ini, sebentar lagi juga akan rata dengan tanah." Kevin tertawa meremehkan sambil menendang salah satu kursi plastik milik Arka hingga terpental.

​Brak!

​Kursi plastik itu pecah menghantam tiang tenda.

​"Jangan berani-berani kamu merusak barang peninggalan orang tuaku!" Arka maju selangkah dan berniat membalas perbuatan Kevin.

​Namun tiba-tiba dua orang pria berbadan besar dan bertato muncul dari kegelapan dan langsung menahan kedua lengan Arka.

​"Hei bocah, jangan macam-macam dengan Tuan Kevin." Ucap salah satu preman itu dengan suara serak yang mengancam.

​"Kalian siapa, lepaskan aku!" Arka meronta dengan sekuat tenaga tetapi cengkeraman preman itu terlalu kuat.

​"Kami ini orang suruhan Bos Boni." Preman satunya lagi tersenyum sinis sambil menepuk pipi Arka.

​Mendengar nama Bos Boni, seketika nyali Arka ciut dan wajahnya menjadi pucat pasi.

​Bos Boni adalah lintah darat paling kejam di kota ini, tempat di mana almarhum ayah Arka meminjam modal usaha sebelum meninggal dunia.

​"Hutang ayahmu sudah jatuh tempo hari ini beserta bunganya yang totalnya lima puluh juta." Preman bertato itu mengeluarkan secarik kertas tagihan dan menempelkannya di dada Arka.

​"Lima puluh juta? Bukannya ayahku cuma pinjam sepuluh juta?" Arka membelalakkan matanya tidak percaya dengan angka yang tidak masuk akal itu.

​"Itu namanya bunga berbunga, bodoh." Kevin menyela dengan nada mengejek sambil terus memeluk Siska.

​"Biar aku beritahu sebuah rahasia kecil untukmu, Arka." Kevin mencondongkan tubuhnya ke depan.

​"Akulah yang menyuruh Bos Boni untuk menagih hutangmu malam ini juga." Bisik Kevin dengan senyum iblis yang sangat menyebalkan.

​"Kamu memang bajingan licik, Kevin!" Arka berteriak marah sambil terus berusaha melepaskan diri.

​"Aku cuma ingin membersihkan sampah dari seberang restoranku agar pemandangannya lebih bagus." Kevin mengedikkan bahunya dengan santai.

​"Ayo sayang, kita pergi dari tempat kumuh ini." Siska menarik lengan Kevin untuk segera masuk ke dalam mobil.

​"Selamat menikmati malam terakhirmu dengan warung sampah ini, Arka." Kevin tertawa keras sebelum masuk ke mobil sportnya.

​Mobil merah itu pun melaju dengan cepat meninggalkan kepulan asap knalpot yang menerpa wajah Arka.

​"Nah, karena bos muda sudah pergi, sekarang giliran kita yang bersenang-senang." Preman bertato itu memberikan kode kepada temannya.

​Bugh!

​Sebuah pukulan keras mendarat di perut Arka hingga pemuda itu terbatuk dan jatuh berlutut di tanah.

​"Itu pukulan peringatan untukmu." Ucap preman itu sambil meretakkan buku-buku jarinya.

​Prang! Brak!

​Tanpa aba-aba lagi, kedua preman itu mulai menghancurkan isi warung tenda milik Arka dengan membabi buta.

​Mereka membalikkan meja kayu, membanting piring-piring kaca, dan menendang gerobak etalase hingga kacanya pecah berantakan.

​"Tolong hentikan, jangan hancurkan warung ini!" Arka memohon sambil merangkak mencoba menahan kaki salah satu preman itu.

​"Diam kamu!" Preman itu menendang bahu Arka hingga ia kembali tersungkur di atas genangan kuah kaldu yang tumpah.

​"Dengar baik-baik bocah." Preman bertato itu berjongkok dan menarik kerah baju Arka dengan kasar.

​"Kami beri waktu dua puluh empat jam untuk menyiapkan uang lima puluh juta itu." Preman itu menatap mata Arka dengan tajam.

​"Kalau besok malam uangnya belum ada, kami akan mengambil alih tanah ini dan menjual organ tubuhmu." Ancaman itu terdengar sangat nyata dan mengerikan.

​Setelah puas menghancurkan segalanya, kedua preman itu pergi meninggalkan Arka yang terkapar tidak berdaya di antara puing-puing warungnya.

Malam semakin larut dan udara terasa semakin dingin menusuk tulang.

​Arka perlahan bangkit dengan tubuh yang dipenuhi memar dan pakaian yang kotor oleh tanah serta sisa makanan.

​Ia memandang sekelilingnya dengan tatapan kosong dan air mata yang mulai menetes perlahan.

​Meja-meja patah, piring-piring berserakan, dan bahan makanan hancur terinjak-injak di tanah.

​"Ayah, Ibu, maafkan aku karena tidak bisa menjaga warung ini." Arka bergumam lirih dengan suara serak yang memilukan.

​Ia berjalan tertatih-tatih menuju kompor gas yang untungnya masih utuh tidak tersentuh oleh amukan preman tadi.

​Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan menandakan bahwa ia belum makan apa pun sejak siang tadi karena sibuk melayani pelanggan.

​Arka melihat masih ada sisa sedikit nasi putih di dalam panci dan beberapa bumbu dasar yang belum tumpah.

​"Lebih baik aku mati setelah perutku kenyang." Arka tertawa miris pada dirinya sendiri.

​Ia menyalakan kompor dan menuangkan sedikit minyak ke dalam wajan yang sudah penyok di bagian pinggirnya.

Srek! Srek!

​Suara spatula besi bergesekan dengan wajan terdengar sumbang di tengah keheningan malam itu.

​Arka memasukkan bawang putih, telur sisa, dan nasi putih ke dalam wajan dengan gerakan yang kaku dan tanpa tenaga.

​Ia memasak nasi goreng itu tanpa minat sama sekali, hanya sekadar mencampurkan bahan agar bisa dimakan.

Bab 2

​​Tidak ada teknik khusus, tidak ada cinta dalam masakannya malam ini, hanya keputusasaan yang mendalam.

​Setelah beberapa menit, seporsi nasi goreng pucat dengan tampilan seadanya tersaji di atas piring plastik yang retak.

​Arka duduk di atas sebuah kotak minuman ringan yang kosong karena semua kursi sudah hancur tak bersisa.

​Ia menyendok nasi goreng itu dan memasukkannya ke dalam mulut dengan tatapan yang masih kosong.

​"Rasanya seperti sampah." Arka bergumam sambil mengunyah nasi yang terasa sangat hambar dan berminyak itu.

​Namun ia tidak peduli dan terus menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya sambil membiarkan air matanya jatuh membasahi piring.

​Setiap suapan terasa seperti menelan duri yang menyayat tenggorokannya mengingat semua kejadian tragis malam ini.

​Hutang yang menumpuk, pacar yang berkhianat, dan musuh yang berkuasa membuat Arka merasa dunia ini sangat tidak adil.

​"Tuhan, kalau memang jalanku harus berakhir di sini, tolong berikan aku sedikit saja keajaiban." Arka memejamkan matanya dan berdoa dengan sisa-sisa harapannya yang hampir padam.

​Tiba-tiba, suara mekanis yang aneh terdengar menggema dengan jelas di dalam kepalanya.

​[Ding!]

​Arka membuka matanya dengan terkejut dan melihat sekelilingnya yang sepi, tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya.

​[Memindai host...]

​[Host memenuhi syarat keputusasaan dan tekad tingkat tinggi.]

​"Suara apa itu, apa aku sudah mulai gila karena terlalu banyak tekanan?" Arka memukul-mukul kepalanya sendiri dengan panik.

​[Mengikat Sistem Kuliner Sakti pada jiwa host... 10%... 50%... 100%...]

​[Pengikatan berhasil!]

​Tiba-tiba sebuah layar transparan berwarna biru muda yang bercahaya muncul mengambang tepat di depan wajah Arka.

​Arka melompat mundur hingga terjatuh dari kotak minumannya karena terkejut melihat layar yang melayang itu.

​"Apa-apaan benda ini, teknologi dari masa depan?" Arka mengusap matanya berkali-kali memastikan dia tidak sedang berhalusinasi.

​Ia mencoba menyentuh layar biru itu tetapi tangannya menembus begitu saja seolah layar itu hanya sebuah proyeksi cahaya.

​[Selamat malam, Host Arka. Saya adalah Sistem Kuliner Sakti yang akan membantu Anda menjadi Dewa Kuliner di dunia ini.]

​Teks berwarna putih muncul di layar biru itu bersamaan dengan suara mekanis di kepala Arka.

​"Sistem? Maksudmu seperti yang ada di dalam novel dan komik fantasi itu?" Arka bertanya dengan suara ragu.

​[Tepat sekali. Sistem ini dirancang untuk mengubah pecundang menjadi penguasa melalui jalur kuliner.]

​"Hei, jangan sembarangan memanggilku pecundang, aku ini cuma sedang kurang beruntung saja." Arka membalas dengan sedikit kesal meski masih merasa takjub.

​[Fakta menunjukkan bahwa Anda baru saja diputuskan pacar, dianiaya preman, dan memiliki hutang lima puluh juta yang jatuh tempo besok.]

​Arka terdiam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam menyadari bahwa perkataan sistem itu seratus persen benar.

​"Lalu, apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku membayar hutang lima puluh juta dalam waktu satu hari?" Arka menatap layar biru itu dengan secercah harapan.

​[Sistem ini sangat sederhana. Setiap kali Host memasak hidangan yang memuaskan pelanggan, Host akan mendapatkan poin kepuasan dan hadiah uang tunai secara langsung.]

​"Uang tunai secara langsung? Berapa banyak?" Mata Arka mulai berbinar mendengar kata uang.

​[Jumlah uang tergantung pada tingkat kepuasan pelanggan dan tingkat keahlian Host. Selain itu, poin kepuasan bisa ditukar dengan resep dewa dan keterampilan memasak tingkat tinggi.]

​"Ini luar biasa, kalau ini bukan mimpi, aku bisa membalikkan keadaan dan membalas dendam pada Kevin." Arka mengepalkan tangannya dengan semangat baru yang berkobar.

​[Karena ini adalah pengikatan pertama, Sistem memberikan Paket Pemula untuk Host.]

​[Apakah Host ingin membuka Paket Pemula sekarang?]

​"Tentu saja buka sekarang, aku sangat butuh bantuan!" Arka berseru dengan lantang tanpa ragu sedikit pun.

​Layar biru itu memancarkan cahaya yang lebih terang sebelum menampilkan animasi sebuah kotak kado yang terbuka dengan meriah.

​[Selamat! Host mendapatkan: Resep Nasi Goreng Tingkat Dewa (Tahap 1).]

​[Selamat! Host mendapatkan: Keterampilan Pisau Dasar Tingkat Menengah.]

​[Selamat! Host mendapatkan: Uang Modal Awal Rp. 5.000.000,-]

​Begitu teks itu muncul, ponsel di saku celana Arka bergetar pelan.

​Arka buru-buru mengambil ponselnya dan membuka pesan masuk dari banknya.

​"Saldo bertambah lima juta rupiah, ini benar-benar nyata!" Arka berteriak kegirangan hingga suaranya bergema di jalanan yang sepi.

​Uang lima juta memang belum cukup untuk membayar hutangnya yang lima puluh juta, tetapi ini adalah awal yang sangat bagus.

​[Resep Nasi Goreng Tingkat Dewa sedang ditransfer ke dalam ingatan Host.]

​Tiba-tiba kepala Arka terasa sedikit pening dan aliran informasi yang sangat banyak masuk ke dalam otaknya.

​Ia tiba-tiba memahami takaran suhu api yang sempurna, cara mengayunkan wajan yang benar, hingga kombinasi bumbu rahasia yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

​"Pengetahuan ini luar biasa, aku merasa bisa membuat nasi goreng paling enak di dunia hanya dengan bahan seadanya." Arka menatap kedua tangannya dengan perasaan tidak percaya.

​[Misi Utama Pertama Diberikan!]

​[Misi: Dapatkan 50 pelanggan pertama yang memberikan penilaian 'Sangat Puas' dalam waktu 24 jam.]

​[Hadiah Misi: Rp. 50.000.000,- dan Resep Rahasia Bumbu Serbaguna.]

​[Hukuman Jika Gagal: Sistem akan mencabut semua kemampuan dan Host dibiarkan mati ditangan lintah darat.]

​Membaca hukuman itu, bulu kuduk Arka langsung berdiri seketika.

​"Sistem, kamu ini mau membantuku atau mau membunuhku perlahan-lahan?" Arka protes dengan wajah kesal.

​[Sistem tidak membutuhkan Host yang lemah dan malas. Waktu Anda dimulai dari sekarang.]

​Layar biru itu berkedip sesaat sebelum sebuah penghitung waktu mundur muncul di sudut kanan atas pandangan Arka.

​Angka 23:59:59 terlihat jelas berdetak mengurangi waktu hidupnya.

​"Sial, aku harus cepat merapikan kekacauan ini dan membeli bahan-bahan segar di pasar subuh." Arka langsung berdiri dan mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

​Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan pecahan piring serta merapikan meja-meja yang masih bisa dipakai.

​"Kevin, Siska, Bos Boni, tunggu saja pembalasanku." Arka bergumam sambil tersenyum penuh arti di bawah cahaya remang-remang lampu jalanan.

​"Mulai besok, warung kaki lima ini akan membuat restoran bintang lima milikmu terlihat seperti tempat pembuangan sampah."

​Arka menatap tajam ke arah bangunan restoran mewah milik keluarga Kevin di seberang jalan sana.

​Angin malam kembali berhembus kencang seolah menyambut lahirnya sang raja dapur yang baru di kota ini.

Bab 3

Waktu menunjukkan pukul empat pagi saat langit masih gelap dan udara terasa sangat dingin.

Arka mengayuh sepeda motor tuanya yang bersuara bising menembus jalanan kota yang masih tertidur pulas.

Tujuannya hanya satu pagi ini, yaitu Pasar Induk untuk membeli bahan-bahan segar berkualitas tinggi.

Berkat uang lima juta rupiah dari sistem, Arka tidak perlu lagi berhutang kepada tengkulak bahan makanan seperti biasanya.

Motor butut itu akhirnya berhenti di depan sebuah kios sayur yang sudah terang benderang dan ramai oleh kuli panggul.

"Pagi Bi Narti, aku mau belanja untuk warung hari ini." Sapa Arka sambil tersenyum tipis ke arah seorang wanita paruh baya yang sedang menyusun tomat.

Bi Narti menoleh dan langsung terbelalak melihat wajah Arka yang dipenuhi memar ungu di sekitar pipi dan pelipisnya.

"Astaga Tuhan, wajahmu kenapa bisa babak belur begitu Arka?" Bi Narti berseru panik sambil mengusap tangannya ke celemek.

"Biasa Bi, cuma insiden kecil tadi malam karena terpeleset di dekat gerobak." Arka berbohong dengan nada santai agar wanita baik hati itu tidak khawatir.

"Terpeleset apanya, ini pasti perbuatan preman-preman suruhan lintah darat itu kan?" Bi Narti menatap Arka dengan tatapan iba bercampur marah.

Arka hanya terdiam dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena tebakan Bi Narti sangat akurat.

"Sudahlah Bi, tidak usah dibahas lagi karena hari ini aku mau bangkit." Arka mencoba mengalihkan pembicaraan dengan cepat.

"Kamu ini selalu saja keras kepala persis seperti almarhum ayahmu." Bi Narti menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Bantu aku siapkan beras pandan wangi kualitas super sepuluh kilo, telur ayam kampung omega tiga puluh butir, dan daun bawang segar." Ucap Arka yang membuat Bi Narti kembali terkejut.

"Tumben sekali kamu beli bahan-bahan mahal begini, biasanya juga kamu beli beras patah yang murah itu." Bi Narti menatap Arka dengan curiga.

"Hari ini aku punya resep baru Bi, jadi bahan-bahannya juga harus kelas satu." Arka menjawab dengan mata berbinar penuh semangat.

"Kamu punya uangnya tidak, jangan sampai kamu malah menambah hutang lagi di tempat lain." Bi Narti menyilangkan tangan di depan dada.

"Tenang saja Bi, hari ini aku bawa uang tunai kok." Arka mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari saku jaketnya.

Mata Bi Narti membulat melihat uang tunai yang dipegang oleh pemuda malang di depannya itu.

"Syukurlah kalau begitu, sebentar Bibi siapkan dulu semua pesananmu dengan kualitas yang paling bagus." Bi Narti segera berbalik dan mulai membungkus barang-barang yang diminta Arka.

Sambil menunggu, Arka berjalan menuju kios daging sapi dan ayam yang berada tepat di sebelah kios Bi Narti.

"Mang Ujang, tolong potongkan daging dada ayam fillet dua kilo dan udang laut segar satu kilo." Teriak Arka kepada pria berkumis tebal yang sedang memotong tulang sapi.

"Siap laksanakan Bos Arka, tumben belanjanya banyak dan mewah hari ini." Mang Ujang tertawa kecil sambil mengasah pisau dagingnya.

"Iya Mang, warungku mau buka menu spesial mulai hari ini jadi mohon doanya saja." Balas Arka dengan nada penuh harap.

Setelah menghabiskan sekitar lima ratus ribu rupiah untuk semua bahan premium, Arka segera kembali ke warungnya sebelum matahari terbit.

Ia memarkir motornya dan melihat kondisi warung tendanya yang kini hanya menyisakan satu meja utuh dan tiga kursi plastik.

"Tidak apa-apa, tempat yang kecil tidak akan menutupi rasa makanan yang besar." Arka bergumam menyemangati dirinya sendiri sambil menurunkan karung beras.

Ia mulai mencuci beras dengan sangat teliti, memastikan tidak ada kotoran yang tersisa sebelum menanaknya.

Pengetahuan dari Resep Nasi Goreng Tingkat Dewa mengalir di kepalanya, memberitahukan rasio air dan beras yang sempurna agar tekstur nasi tidak terlalu lembek.

Sambil menunggu nasi matang, Arka mengambil pisau dapurnya yang murah dan seikat daun bawang segar.

"Mari kita lihat seberapa hebat Keterampilan Pisau Dasar tingkat menengah ini." Arka memegang gagang pisau itu dengan mantap.

Begitu ujung pisau menyentuh talenan kayu, tangan Arka tiba-tiba bergerak sendiri seolah memiliki nyawanya sendiri.

Tak tak tak tak!

Suara irisan pisau terdengar sangat cepat, konstan, dan berirama seperti mesin pemotong profesional di restoran bintang lima.

Dalam sekejap mata, seikat daun bawang itu telah berubah menjadi potongan-potongan kecil yang ukurannya sangat presisi dan seragam.

"Wah, ini gila sekali, tanganku rasanya ringan dan pisaunya seperti menari di atas talenan." Arka menatap takjub pada hasil potongannya sendiri.

Ia kemudian melanjutkan mengiris bawang putih, bawang merah, dan memotong daging ayam menjadi dadu-dadu kecil yang sempurna.

Tidak ada satu gerakan pun yang terbuang sia-sia, semuanya dilakukan dengan sangat efisien dan rapi.

Matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menerangi sisa-sisa reruntuhan warung tenda Arka.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, waktu di mana banyak orang mulai berangkat kerja atau sekadar berolahraga pagi.

Jalanan di depan warungnya mulai dilewati oleh beberapa pejalan kaki dan pengendara motor.

Arka berdiri di belakang wajannya dengan celemek bersih yang baru ia temukan di dalam laci gerobak yang selamat dari amukan preman semalam.

Ia menyalakan kompor gas dengan api sedang untuk memanaskan wajan baja berukuran besar itu.

Srenggg!

Ia memasukkan sedikit minyak dan segenggam bawang putih cincang ke dalam wajan yang sudah panas.

Seketika itu juga, aroma harum bawang putih yang ditumis menyeruak dengan sangat kuat dan terbawa oleh hembusan angin pagi.

Aroma itu bukan sekadar wangi tumisan biasa, melainkan memiliki kedalaman aroma yang sangat menggugah selera.

Di trotoar seberang jalan, seorang gadis muda berambut sebahu yang diikat ekor kuda sedang berlari kecil dengan napas terengah-engah.

Gadis itu bernama Laras, seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang stres menyusun skripsi dan melampiaskannya dengan jogging pagi.

Langkah Laras tiba-tiba terhenti ketika hidungnya menangkap aroma gurih yang tiba-tiba melintas di udara.

"Wangi apa ini, perutku jadi berbunyi tiba-tiba." Laras memegang perutnya yang keroncongan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sumber aroma.

Matanya tertuju pada sebuah warung tenda kaki lima yang terlihat sangat berantakan di seberang jalan.

"Masak dari tempat kumuh begitu wangi seenak ini berasal?" Laras bergumam ragu namun kakinya melangkah menyeberangi jalan tanpa bisa ditahan.

Ia berdiri di depan warung Arka sambil menatap papan nama kayu yang sudah miring bertuliskan Warung Nasi Goreng Arka.

"Permisi Mas, apakah di sini sudah buka?" Laras bertanya dengan suara lembut sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil.

Arka yang sedang fokus mengaduk bumbu dasar di wajan segera menoleh dan tersenyum ramah.

"Tentu saja sudah buka Kak, silakan duduk di kursi yang tersisa itu." Arka menunjuk ke arah satu-satunya meja plastik yang masih berdiri tegak.

Laras mengangguk pelan dan duduk di kursi plastik biru itu sambil menatap sekeliling warung yang terlihat seperti habis dilanda angin topan.

"Mas, warungnya ini habis kerampokan atau bagaimana kok berantakan sekali?" Laras bertanya karena rasa penasarannya tidak bisa ditahan.

"Oh ini, semalam ada sedikit renovasi dadakan Kak, jadi harap maklum kalau tempatnya seadanya." Arka menjawab dengan candaan ringan agar pelanggannya tidak merasa tidak nyaman.

"Pesan apa Kak, kebetulan pagi ini saya cuma punya menu Nasi Goreng Spesial saja." Arka menawarkan menunya sambil memegang spatula dengan gaya meyakinkan.

"Ya sudah, saya pesan satu porsi Nasi Goreng Spesial ya Mas, pedasnya sedang saja." Laras memesan sambil memainkan ponselnya.

"Siap, satu Nasi Goreng Spesial segera datang." Arka menjawab dengan lantang dan penuh semangat.

[Misi Utama: Dapatkan 50 pelanggan pertama yang memberikan penilaian 'Sangat Puas' dalam waktu 24 jam.]

[Kemajuan saat ini: 0/50]

Melihat layar biru transparan yang kembali muncul sekilas di sudut matanya, Arka membulatkan tekadnya.

Ia harus membuat pelanggan pertamanya ini merasa sangat puas agar misinya bisa berjalan dengan lancar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!