BAB 1 — TANTANGAN
Hujan menghantam atap seng bangunan tua itu seperti amukan orang putus asa.
_Duk. Duk. Duk._
Setiap dentumannya menghantam gendang telinganya sampai ke ulu hati.
Air menetes dari celah langit-langit, jatuh ke lantai semen retak dan membentuk genangan kotor yang memantulkan lampu redup. Sepatu Eirina sudah basah kuyup, kaos kakinya dingin dan lengket. Tapi kakinya terasa mati rasa.
Udara di sini menusuk tulang. Bau besi berkarat bercampur debu tua dan... bau kegagalan. Dua tahun dikejar utang, rasanya seperti ini. Pengap. Sesak. Tidak ada jalan keluar.
Di tengah ruangan kosong itu, Eirina berdiri membeku.
Jantungnya menabrak dada. `Drr... drr... drr...` Napasnya naik turun, tersengal seperti habis lari marathon. Kedua tangannya mengepal erat sampai kuku menancap ke telapak dan menimbulkan rasa perih. Kalau dia pingsan sekarang, siapa yang bayar utang 2 Miliar itu? Mama di rumah sakit masih butuh biaya. Adiknya masih sekolah.
Dia tidak boleh lemah. Tidak boleh.
"Eirina..."
_BRAKK!_
Sebuah pisau perak melesat membelah udara dan menancap tepat di tembok, hanya berjarak beberapa sentimeter dari kepalanya. Anginnya sampai membuat beberapa helai rambut keemasannya beterbangan.
"Akh!"
Jerit itu tertahan di tenggorokan. Yang keluar cuma desis ketakutan.
Tubuh gadis itu menegang. Bola mata merah mudanya membelalak lebar. Darah di wajahnya rasanya habis seketika. Napas tercekat di dada. Selisih sedikit saja, benda tajam itu pasti sudah menembus pelipisnya dan mengakhiri semuanya malam ini.
Di hadapannya, berdiri seorang pria tinggi. Jas hitam mahal melekat di tubuhnya, basah kuyup oleh hujan. Air menetes dari ujung rambut maroonnya, jatuh ke lantai satu persatu dengan suara yang memekakkan di tengah keheningan.
Tapi Eirina tidak melihat jasnya. Dia melihat matanya.
Mata biru sedingin es. Kosong. Mati. Tatapan yang biasa melihat nyawa manusia sebagai angka di atas kertas.
Dadanya mencelos. Ada sesuatu yang familiar dari sorot itu. Sesuatu yang pernah dia lihat 10 tahun lalu di teras rumah kecilnya. Waktu seorang anak laki-laki berjanji sambil menggenggam tangannya erat. `Aku akan selalu melindungi.`
Tidak. Itu tidak mungkin. Itu pasti halusinasi karena takut. Mahendra Axlarta tidak mungkin kenal dia. Orang itu CEO termuda. Pemilik setengah kota. Sedangkan dia... hanya anak penanggung utang.
Sudut bibir pria itu terangkat. Sebuah seringai tipis muncul, tidak sampai ke matanya.
"Heh..."
Tawa pelan keluar. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan. Tapi tawa itu membuat seluruh bulu kuduk Eirina berdiri. Lebih dingin dari hujan yang mengguyur di luar.
Keheningan menggantung. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap dan detak jantungnya sendiri yang berpacu seperti genderang perang.
Langkah kaki terdengar. _Tok. Tok. Tok._
Pelan. Pasti. Menggetarkan lantai semen yang retak.
Setiap langkah mendekat membuat dada Eirina semakin sesak. Lututnya gemetar. Dia ingin lari. Tapi kemana? Pintu sudah dikunci dari luar. Dia sudah dijebak.
Hingga akhirnya jarak berhenti hanya sejengkal. Cukup dekat untuk merasakan hawa dingin dari tubuh pria itu. Cukup dekat untuk mencium wangi cologne mahal yang bercampur bau hujan.
"Keluargamu punya hutang."
Suara berat itu memecah keheningan. Setiap katanya menekan seperti palu godam yang menghantam dadanya.
Kepala Eirina menunduk. Bahunya bergetar.
Kalimat itu sudah terlalu sering terdengar selama dua tahun terakhir. Surat tagihan. Penagih berbadan besar. Ancaman. Semua karena satu lembar kertas utang peninggalan orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan.
"Dan sekarang," lanjutnya, napasnya yang dingin terasa di kulit pipinya, "seluruh tanggung jawab itu jatuh ke tanganmu."
Tenggorokan Eirina terasa tercekat seperti dicekik. Dengan suara bergetar yang hampir tidak terdengar, kalimat itu keluar. "Se-sedang berusaha melunasi..."
"Berusaha?"
Tawa kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Lebih mengejek. Lebih menyakitkan dari pisau tadi.
"SRETT!"
Pisau itu tercabut dari tembok dengan satu tarikan. Kilatan tajamnya memantulkan cahaya lampu redup, menyilaukan mata. Ujungnya perlahan terangkat. Bergerak naik, hingga berhenti tepat di bawah dagu Eirina. Kulitnya terasa dingin oleh sentuhan logam.
Napas Eirina tertahan. Tubuhnya tidak berani bergerak sedikit pun. Satu sentakan, lehernya bisa sobek. Air matanya hampir jatuh, tapi dia gigit bibir sampai terasa darah. Jangan nangis. Jangan lemah di depannya.
"Ada dua pilihan."
Ketenangan dalam suara itu justru lebih menakutkan daripada teriakan.
Jantung Eirina serasa berhenti.
"Pilihan pertama: melunasi seluruh hutang. 2 Miliar. Lunas malam ini juga."
Jeda. Lama. Menyiksa.
Eirina bisa mendengar suara darahnya sendiri yang berdesir. 2 Miliar. Tabungannya tidak sampai 10 juta. Gaji sebulan hanya 2 juta. Bahkan kalau dia jual ginjal pun tidak akan cukup.
"Pilihan kedua: menerima tantangan."
Keheningan kembali. Hanya suara hujan yang semakin deras di luar, seperti ikut menertawakan nasibnya.
Air mata akhirnya menggenang. Bukan karena takut mati. Tapi karena tidak ada jalan lain. Tidak ada.
Dengan sisa keberanian yang ada, Eirina memaksa dirinya mengangkat kepala. Bertemu dengan mata biru itu dari jarak sedekat ini. Dan untuk sepersekian detik, dia yakin melihat sesuatu berkedip di sana. Luka?
Bibirnya bergetar sebelum akhirnya mengeluarkan suara. "Me-menerima... tantangan itu."
"Bagus."
_BRAKK!_
Pisau kembali dilempar. Menancap di tembok sisi lain dengan suara menggelegar yang menggema dan membuat jantungnya melompat.
"Eirina Karamyka Aldrick."
Nama lengkapnya disebut dengan penekanan di setiap suku kata. Suara itu berat, seakan mencicipi namanya.
"Dengan ini, secara resmi kau menerima tantangan dari Mahendra Axlarta."
Dunia Eirina serasa runtuh. Nama itu. Nama yang selama ini hanya ada di berita, di majalah bisnis, di bisik-bisik karyawan. CEO termuda Grup Axlarta. Pemilik setengah kota. Dan orang paling kejam di industri.
Kaki Eirina lemas. Lututnya hampir menyerah. Dia berpegangan ke tembok agar tidak jatuh.
"Ta... tantangan apa...?"
Pertanyaan itu keluar dengan susah payah. Suaranya serak.
Mahendra tidak menjawab. Dia hanya berbalik. Punggung lebarnya menghadap. Jas hitamnya yang basah membuat siluetnya terlihat seperti malaikat pencabut nyawa.
Langkahnya menuju pintu besi yang berkarat.
Berhenti di ambang pintu. Tangannya menggenggam gagang pintu. Tanpa menoleh, kalimat terakhir terucap dengan dingin.
"Lusa."
Pintu terbuka. _Kriiit..._
Suara engsel tua yang berkarat terdengar nyaring.
Lalu tertutup dengan bunyi _BRAKK_ yang memekakkan telinga dan membuat debu berjatuhan dari langit-langit.
Ruangan kembali sunyi. Sunyi yang lebih bising dari ribuan suara.
Hanya tersisa seorang gadis yang terduduk lemas di lantai dingin. Dada masih naik turun. Jantung belum juga tenang. Tangannya masih gemetar.
Apa sebenarnya yang diinginkan Mahendra Axlarta darinya?
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban, berputar-putar di kepalanya seperti pisau yang tadi.
Eirina memejamkan mata. Air mata yang dari tadi dia tahan akhirnya jatuh juga. Satu. Dua.
Dan tidak ada yang menyadari...
bahwa 10 tahun yang lalu, di sebuah rumah kecil dengan atap bocor, seorang anak laki-laki bernama Mahendra Axlarta itu pernah berjanji dengan suara bergetar sambil mengusap kepala Eirina kecil:
"Aku akan selalu melindungi. Janji ya."
Janji yang kini terkubur. Tertutup oleh jas mahal, hutang 2 Miliar, dan sebuah tantangan yang belum diketahui bentuknya. Tantangan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Bersambung...
BAB 2
Tiga hari kemudian.
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kamar kos yang sempit tanpa ampun. Debu beterbangan di udara, tertangkap cahaya keemasan dan menari pelan.
Ruangan itu hanya berisi kasur tipis tanpa seprai, meja kayu tua dengan kaki pincang, kompor portable, dan lemari usang yang pintunya menganga seperti mulut orang kelaparan.
Eiri terbangun dengan mata sembab dan kepala berat seperti ditimpa batu. Semalaman mata tidak bisa terpejam. Setiap kali memejam, yang muncul cuma sepasang mata biru sedingin es.
`Duk. Duk. Duk.`
Jantungnya berdetak mengingat suara tawa rendah itu. Bisikan. `Ada dua pilihan.` Senyuman tipis yang mengerikan.
"Apa sebenarnya tantangan itu...?"
Suara Eiri serak. Parau. Seperti sudah berteriak sepanjang malam.
Napas panjang keluar. Bahunya naik turun. Tubuhnya duduk di tepi kasur yang berderit memprotes. Dingin lantai semen langsung merambat ke telapak kakinya.
Tangan kurusnya meraih dompet lusuh di atas meja. Kulitnya sudah mengelupas. Resleting dibuka pelan dengan hati-hati, seolah takut uangnya akan terbang.
Isinya dihitung satu persatu dengan jari yang gemetar.
Lima puluh ribu. Ujungnya sobek.
Dua puluh ribu. Kusut.
Sepuluh ribuan. Dua lembar.
Lima ribuan. Tiga lembar.
Koin receh.
Total: Sembilan puluh lima ribu.
Senyum pahit terukir di bibir yang pecah-pecah. Uang itu bahkan tidak cukup untuk bertahan seminggu. Beras 1 karung 300rb. Minyak. Listrik. Belum lagi tagihan rumah sakit Mama yang masih menumpuk. Dan hutang ratusan miliar yang seperti gunung es siap menenggelamkannya.
Kepala Eiri tertunduk. Air mata menggenang di pelupuk. Panas. Perih. Tapi segera diusap kasar dengan punggung tangan.
Menangis tidak akan membayar hutang. Menangis tidak akan membuat orang tua kembali dari kecelakaan 2 tahun lalu. Menangis tidak akan membuat Mahendra Axlarta membatalkan tantangannya.
Harus bekerja. Itu satu-satunya pilihan. Satu-satunya cara.
Satu jam kemudian.
Eiri berjalan kaki menuju pasar tradisional. Matahari sudah naik. Keringat membasahi punggung kaosnya yang tipis. Gula satu kilo, pewarna makanan merah, dan sirup stroberi kecil masuk ke dalam tas belanja plastik yang sudah melar.
Langkahnya terhenti saat melewati toko permen pinggir jalan.
Di balik kaca etalase yang sedikit buram, lolipop warna-warni berjejer rapi. Merah, pink, kuning, biru. Mengkilap terkena cahaya. Ada yang bentuk hati. Ada yang bentuk bunga.
Dada Eiri mendadak sesak. Sakit. Seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya.
Perasaan aneh menusuk. Seolah benda manis itu pernah sangat berarti. Pernah digenggam erat oleh tangan kecil. Pernah ditunggu setiap sore dengan penuh harap. Pernah... diberikan oleh seseorang?
"Anah..."
Kepala Eiri menggeleng pelan. Pipinya langsung memanas. Mungkin hanya halusinasi karena kurang tidur 3 hari. Mungkin juga karena lapar.
Langkahnya kembali dilanjutkan. Tapi rasa aneh itu masih tertinggal di dadanya.
Di kamar kos, di atas kompor kecil, gula mulai dipanaskan. Api biru menjilat wajan. Aromanya menguar. Lengket. Manis. Bercampur dengan keringat.
Percobaan pertama gagal. Gosong. Baunya pahit dan membuat Eiri batuk.
Percobaan kedua terlalu keras, sampai patah saat dilepas dari cetakan dan melukai jarinya.
Percobaan ketiga meleleh, tidak bisa dibentuk.
Tangan Eiri tidak berhenti mengaduk. Keringat menetes ke adonan. Lututnya pegal karena jongkok terlalu lama. Tapi dia terus mencoba.
`Kalau gagal, dari mana uangnya?`
`Kalau gagal, Mama bagaimana?`
Menjelang siang, akhirnya berhasil.
"Nah."
Suara Eiri pelan. Hampir seperti doa.
Puluhan permen kecil berbentuk bunga tersusun rapi di atas nampan seng. Merah muda seperti kelopak. Mengkilap. Wangi stroberi. Dimasukkan satu persatu ke plastik bening dan diikat dengan pita merah yang dia beli sisa uang terakhir.
"Hari ini harus laku."
Bisik itu seperti mantra. Seperti janji pada dirinya sendiri.
Pukul tujuh pagi.
Eiri duduk di bangku plastik di pinggir Jalan Melati. Keranjang rotan di depan berisi permen yang dia tata secantik mungkin. Suara menawarkan keluar dengan senyum yang dipaksa.
"Permen... Permen buatan sendiri... Manis... Hanya dua ribu..."
Satu jam. Sepi. Hanya suara motor yang lewat.
Dua jam. Masih sepi.
Orang-orang hanya melirik sekilas lalu berlalu. Ada yang mencibir. "Permen apaan itu." Ada yang mengabaikan seolah dia tidak ada.
Senyum di wajah Eiri perlahan memudar. Jari kanannya menggenggam ujung baju sampai kusut. Rasanya sudah pas. Manisnya tidak kemanisan. Harga juga murah. Hanya 2 ribu. Seharga es teh.
Tapi kenapa tidak ada yang mau?
Apa karena wajahnya yang lusuh? Apa karena keranjangnya yang jelek?
Perutnya mulai keroncongan. Bunyinya memalukan. Tapi uang sembilan puluh lima ribu itu tidak boleh dipakai untuk makan. Harus untuk beli bahan besok. Harus.
Sementara itu, di lantai 78 Gedung M.A Corporation.
Mahendra berdiri di depan jendela kaca setinggi 3 meter. Pemandangan kota di bawah terlihat kecil seperti mainan. Kedua tangannya masuk ke saku celana bahan. Jasnya rapi. Wajahnya datar.
Pintu terbuka pelan tanpa suara.
"Tuan. Laporan."
Asisten 01 menyerahkan map hitam. "Nona Eiri sedang berjualan di Jalan Melati. Sejak jam tujuh pagi. Di bawah terik."
Mahendra tidak menoleh. Rahangnya mengeras. Garis di pelipisnya terlihat.
"Tidak ada yang membeli dagangannya. Hingga siang ini, Tuan. Hanya 3 bungkus."
Keheningan. Panjang. Menekan.
Untuk pertama kalinya setelah 10 tahun, alis pria itu berkerut. Bukan marah. Tapi kesal. Kesal pada diri sendiri. Kesal karena tantangan bodoh yang dia buat.
"Terus awasi. Pastikan tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada yang berani mendekat."
"Baik, Tuan."
Setelah pintu tertutup, Mahendra membuka laci meja. Di dalamnya, tergeletak satu buah lolipop rasa stroberi. Bungkusnya sudah pudar, benangnya menguning.
Jari panjangnya mengambilnya. Diputar-putar.
Ingatan 10 tahun lalu menerobos. `Kak, ini buat kamu. Lolipop terakhir.` Suara kecil. Tawa.
Senyum tipis muncul di bibirnya. Sangat tipis, sampai hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk melunakkan garis keras di wajahnya.
"...Gadis bodoh."
Bisiknya. Entah untuk Eiri, atau untuk dirinya sendiri.
Menjelang sore. Jam 4.
Keranjang Eiri masih penuh. Hanya 3 bungkus yang laku. Uang 6 ribu di genggamannya terasa memalukan.
"Eiri?"
Suara hangat membuat kepala Eiri menoleh. Matanya yang lelah langsung berkedip.
Seorang pria berambut hitam berdiri di sana. Kemeja putihnya rapi. Mata ungu bersinar lembut. Di tangannya dua gelas es teh. Embunnya menetes.
"E-Ergan?"
"Syukurlah masih ingat sama aku."
Ergan tersenyum. Gigi putihnya terlihat. Dia duduk di bangku plastik sebelah Eiri tanpa sungkan. Menyerahkan satu gelas. "Dari tadi lihat dari seberang. Belum makan ya? Bibirmu pucat."
"Masih kuat," jawab Eiri bohong dengan senyum canggung. Tangannya menerima es teh. Dingin.
"Jangan bohong. Aku kenal kamu sejak SD."
Mereka duduk berdampingan. Angin sore berhembus, membawa aroma permen dan debu jalanan.
"Aku dengar kafe kecilmu disita bank," kata Ergan pelan. Hatinya sakit.
Anggukan kecil dari Eiri. "Hutangnya belum lunas. Semua aset atas nama Papa."
Ergan menatap lama. Sejak kecil gadis ini memang keras kepala. Tidak pernah mau merepotkan orang. Bahkan saat jatuh pun dia bangkit sendiri.
"Eiri. Bagaimana kalau bekerja di perusahaanku? Bagian admin. Gajinya lumayan. Bisa buat bayar..."
"Tidak."
Penolakan itu cepat. Tegas. Tanpa pikir.
"Aku mau menyelesaikan sendiri. Dengan caraku."
Ergan menghela napas panjang. "Sama seperti dulu. Selalu keras kepala."
Lalu matanya beralih ke keranjang yang masih penuh. "Kalau begitu... semua permennya kubeli."
"Hah? Semua?"
Mata Eiri langsung berbinar. Ada harapan di sana.
"Iya. Buat dibagi ke kantor. Anak-anak pasti suka. Anggap saja dukungan teman lama."
"Terima kasih, Ergan."
Tawa kecil keluar dari bibir Eiri. Lega. Untuk pertama kalinya hari ini, dadanya terasa ringan.
Namun di seberang jalan, di dalam mobil hitam dengan kaca gelap.
Sepasang mata biru menyipit. Jari Mahendra mengetuk setir dengan keras. `Tok. Tok. Tok.`
Pemandangan dua orang yang tertawa itu terasa seperti pisau yang menusuk langsung ke dadanya. 10 tahun dia tunggu. Dan sekarang ada pria lain yang membuat Eiri tertawa.
"Siapa pria itu..."
Gumamnya pelan. Berbahaya.
Genggaman di setir semakin erat hingga buku-buku jari memutih.
Mobil hitam itu melaju pergi, meninggalkan asap.
Hem..mau lanjut?
Jangan lupa like dan komen dong..hehe..
BAB 3 — GILA
Sore itu, sebuah mobil sedan hitam berhenti di seberang Jalan Melati.
Mesinnya mati. Kaca filmnya gelap pekat. Dari dalam, sepasang mata biru tidak berkedip menatap ke arah trotoar yang mulai sepi.
Eiri.
Gadis itu sedang tersenyum kecil. Senyum lelah tapi tulus. Di hadapannya berdiri seorang pria berambut hitam pekat dengan mata ungu yang hangat. Tawa pelan terdengar dari jarak jauh. Pembicaraan berlangsung akrab. Terlalu akrab.
Pria itu bahkan menghabiskan seluruh isi keranjang dagangan. Memberikan uang, lalu mengacak rambut Eiri seperti adik kecil.
Di dalam mobil, genggaman di atas setir mengerat. Buku-buku jari memutih. Pembuluh di punggung tangan menonjol.
"Siapa pria itu?"
Suaranya rendah. Dingin. Menekan sampai ke tulang. Setiap kata seperti perintah.
Asisten 01 yang duduk di samping segera membuka tablet. Jarinya menari cepat. "Namanya Ergandawa Varjerya Akzan, Tuan."
Keheningan. Hanya suara AC yang berdengung.
"Putra tunggal dari Tuan Akzan. Dua hari lalu perusahaannya baru menandatangani kontrak kerja sama senilai 500 Miliar dengan M.A Corporation."
Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibir Mahendra. Tidak sampai ke matanya.
"Jadi... anak Akzan."
"Iya, Tuan."
"Bagaimana hubungan mereka?"
Jari menelusuri layar. "Menurut data, mereka teman masa kecil. Tinggal di kampung yang sama sejak lahir. Setelah Tuan Ergan pindah ke kota umur tiga belas tahun, komunikasi sempat terputus. Beberapa bulan lalu mereka bertemu kembali di pasar saat Nona Eiri sedang... berjualan."
Pandangan Mahendra tidak lepas dari sosok di luar sana. Dari cara Eiri tertawa. Dari cara Eiri menunduk malu saat diacak rambutnya.
"Teman masa kecil..."
Gumam itu pelan. Hampir tidak terdengar. Tapi ada rasa pahit yang menyebar di lidahnya.
Dadanya terasa sesak tanpa sebab. Sakit. Melihat senyum yang seharusnya miliknya diberikan kepada orang lain menimbulkan rasa tidak nyaman yang aneh. Rasa yang sudah lama dia kubur 10 tahun lalu.
Cemburu.
Kata itu terasa asing.
"Cukup."
Mata terpejam sebentar. Saat dibuka lagi, sudah sedingin es. "Lanjutkan pengawasan 24 jam. Laporkan setiap gerak-geriknya."
"Baik, Tuan."
Mobil perlahan meninggalkan tempat. Sebelum berbelok, kaca sempat terbuka sedikit. Sempat terlihat Eiri tertawa. Tawa kecil yang ringan. Tawa yang dulu pernah dia dengar di dapur kecil.
"...Masih sama."
Bisikan itu tenggelam bersama suara mesin yang meraung.
Keesokan paginya.
Eiri terbangun lebih awal dari biasanya. Jam 5 pagi. Semangat terasa berbeda hari ini. Dadanya ringan.
Permen yang dibuat kemarin habis dibeli. 200 ribu masuk ke dompet. Itu artinya masih ada harapan. Masih bisa bertahan satu minggu. Masih bisa beli obat Mama.
"Hari ini pasti lebih baik."
Bisiknya sambil mencuci muka. Air dingin membuat matanya melek.
Tangan mulai mengaduk gula di atas kompor. Api kecil. Pewarna merah muda dituang perlahan. Aromanya manis. Adonan panas dibentuk menjadi bulatan kecil dengan hati-hati.
Saat satu permen berbentuk bunga selesai, dada Eiri berdebar aneh. Hangat. Rasanya familiar. Seolah pernah membuat permen yang sama bersama seseorang, di dapur kecil, di atas meja kayu. Sambil tertawa. Sambil dikejar seseorang.
Tapi bayangan itu hilang begitu cepat. Hanya menyisakan sakit di kepala.
"Kenapa akhir-akhir ini sering merasa seperti itu..."
Kepala menggeleng. Pelipisnya dipijat. "Lupakan saja. Halu."
Pukul delapan pagi.
Begitu pintu kamar kos dibuka, empat pria berbaju hitam sudah berdiri di depan. Wajah datar. Di dada kiri mereka ada pin emas bertuliskan ASISTEN M.A.
Jantung Eiri langsung jatuh ke perut.
"Nona Eirina Karamyka Aldrick?"
"I-iya..."
Suara Eiri tercekat. Tangannya otomatis memegang pintu.
"Silakan ikut. Tuan Mahendra menunggu."
Ingin menolak. Ingin lari. Tapi ancaman beberapa hari lalu masih terngiang. `Pilihan kedua: menerima tantangan.` Tidak ada pilihan lain.
Dengan tangan gemetar, Eiri mengunci pintu. "Baik..."
Perjalanan 40 menit terasa seperti 4 jam. Mobil hitam melaju tanpa suara. Tidak ada yang bicara.
Perjalanan berakhir di depan sebuah gerbang besi hitam yang tinggi 3 meter. Begitu terbuka dengan suara `Kriing`, pemandangan di dalam membuat napas Eiri tercekat.
Taman luas dengan air mancur di tengah berbentuk malaikat. Bunga-bunga mawar putih dan merah tertata rapi. Bangunan utama menjulang seperti istana dengan pilar marmer.
"Rumah siapa ini..."
Gumam Eiri pelan. Lututnya lemas.
"Silakan masuk, Nona."
Pintu mobil dibuka.
Langkah Eiri masuk ke dalam rumah. Langit-langit tinggi 5 meter. Lampu kristal menggantung seperti air terjun. Lantai marmer putih memantulkan bayangan dan membuat langkahnya terdengar `tak... tak... tak...`
"Indah sekali..."
Bisiknya tanpa sadar. Tapi indah ini terasa mencekik.
_BRAK!_
Pintu utama tertutup dengan sendirinya oleh pelayan. Suaranya menggema.
Refleks Eiri menoleh ke belakang. Dadanya sesak.
"Sedang mencari jalan keluar?"
Suara berat itu membuat seluruh bulu kuduk Eiri berdiri.
Beberapa langkah di belakang, Mahendra berdiri. Jas hitam rapi tanpa lipatan. Rambut maroon disisir ke belakang. Sorot mata biru sedingin es seperti pertemuan terakhir di gudang tua.
"Tu-Tuan Mahendra..."
Kepala Eiri menunduk cepat. Jantungnya berdegup `drr drr drr`
Langkah mendekat terdengar jelas. _Tok. Tok._ Berhenti tepat di depan. Jaraknya terlalu dekat. Sampai Eiri bisa mencium wangi cologne mahal dan dingin dari tubuhnya.
"Kenapa? Takut?"
Nada mengejek.
"Aku... bukan begitu..."
Bohong.
"Lalu?"
Dagu Eiri terangkat perlahan oleh dua jari Mahendra. Kulitnya dingin. Tidak ada pilihan selain menatap balik.
Begitu kedua mata bertemu, dada Eiri terasa bergetar. Tatapan itu... masih sama. Tajam. Menusuk. Tapi kini kosong. Tidak ada pengenalan di dalamnya. Tidak ada kehangatan anak laki-laki 10 tahun lalu.
Jantung Eiri sakit.
Jari segera dilepas. Mahendra berjalan ke sofa kulit putih dan duduk dengan anggun.
"Duduk."
Dengan ragu, tubuh Eiri duduk di ujung sofa. Jarak 2 meter. Ruangan kembali sunyi. Hanya ada suara jam dinding `tik... tok... tik... tok...` yang menyiksa.
Sebuah map putih diambil dari meja kaca dan didorong ke depan dengan satu jari.
"Lihat."
Tangan Eiri menerima dengan bingung. Ujung jarinya dingin. Saat dibuka, mata langsung membesar. Napasnya tertahan.
_SURAT PERSETUJUAN PERNIKAHAN KONTRAK_
Nama sendiri tertulis di sana. `Eirina Karamyka Aldrick`.
Nama Mahendra Axlarta di sebelahnya.
Durasi: 2 Tahun.
Pasal: Melunasi seluruh hutang keluarga senilai 2 Miliar.
Tangan Eiri mulai gemetar. Kertasnya berisik. Dibaca ulang. Tidak salah.
"T-Tuan... ini apa?"
Suara Eiri pecah.
"Inilah tantangannya."
Mahendra bersandar. Kedua tangannya membentuk segitiga di depan dada. "Menikah denganku."
Suasana membeku. Udara di ruangan terasa berat. Seperti ada batu yang menindih dada Eiri.
"Jika pernikahan ini terjadi dan berjalan 2 tahun, seluruh hutang keluarga akan lunas. Termasuk biaya rumah sakit ibumu."
"Ini tidak masuk akal. Kenapa harus menikah?"
Air mata sudah menggenang.
"Itu bukan urusanmu."
Senyum tipis muncul di bibir Mahendra. Senyum yang tidak punya kehangatan. "Aku hanya butuh istri. Kamu butuh uang. Simpel."
Pikiran Eiri kacau. Berantakan.
Menikah dengan orang yang hampir tidak dikenal. Orang yang 3 hari lalu melempar pisau ke kepalanya. Demi melunasi hutang ratusan miliar.
Benar atau salah?
Bertahan dikejar penagih dan rentenir seumur hidup, atau menyerahkan diri ke dalam kontrak gila ini?
Air mata akhirnya jatuh. Satu. Panas. Tangan mengepal di atas pangkuan sampai sakit.
"Ayah... Ibu... apa yang harus dilakukan sekarang...?"
Isaknya tertahan.
Mahendra melihatnya. Rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang berkedip di mata birunya. Tapi cepat hilang.
"Berikan jawaban lusa. Sebelum jam 12 malam."
Dia berdiri. "Kamu boleh pulang."
Eiri berdiri dengan kaki gemetar. Map itu masih di genggamannya. Berat.
Saat berjalan ke pintu, suara Mahendra kembali terdengar. Pelan.
"Dan Eiri..."
Eiri berhenti. Tidak berani menoleh.
"Jangan dekat-dekat dengan Ergandawa lagi."
Pintu tertutup.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!