...HALO SAHABAT SEMUA KALAU BACA NOVEL AKU INI JANGAN LUPA LIKE YA GUYS, COMENT JUGA GUYS,BANTU AKU YA GUYS SUPAYA NOVEL INI BISA TERPILIH DALAM 80 BAB TERBAIK,CARANYA DENGAN LIKE DAN JANGAN LUPA VOTE. TERIMAKASIH...
...SELAMAT MEMBACA♥️♥️♥️...
"Berdiri, Askara! Jangan jadi pengecut!"
Suara itu menggelegar, menggetarkan dinding-dinding kayu rumah mereka yang tua. Bara api kecil beterbangan di udara, keluar dari sela-sela jemari tangan pria paruh baya yang berdiri dengan napas memburu. Bram, ayah Askara, menatap putranya dengan tatapan yang lebih panas daripada sihir api yang dikuasainya. Tatapan penuh kebencian.
Askara terbatuk, mencoba bangkit dari lantai tanah. Sudut bibirnya berdarah, bukan karena pukulan fisik, melainkan karena hawa panas yang dipancarkan ayahnya sejak satu jam lalu telah menguras oksigen di dalam ruangan. Di usianya yang kini beranjak remaja, tubuh Askara memang jauh lebih tegap dan terlatih karena setiap hari dipaksa melakukan pekerjaan fisik yang berat, namun di hadapan seorang penyihir api, dia tetaplah dianggap seonggok daging tak berguna.
"Setiap kali aku melihat wajahmu, aku hanya melihat kesialan!" Bram melangkah maju, tangannya mulai diselimuti kobaran api merah keunguan. "Ibumu... seorang penyihir hebat dari keluarga terhormat, harus mati hanya untuk melahirkan anak cacat sepertimu! Tujuh belas tahun aku menahan malu di desa ini, Askara. Tujuh belas tahun orang-orang berbisik di belakangku bahwa keturunan keluarga Barata melahirkan seorang Nirmala—manusia tanpa sihir!"
Askara mengepalkan tinjunya erat-erat hingga kukunya memutih. Dia tidak menjawab. Percuma. Sejak bisa mengingat, dialog di antara mereka selalu searah. Ayahnya mengutuk, dan dia menerima.
"Kenapa diam?! Jawab aku!" bentak Bram lagi, wajahnya memerah. "Hari ini adalah ujian seleksi akademi desa. Dan kau bahkan tidak bisa menyalakan sepercik api pun di batu ujian! Kau sengaja ingin mempermalukan aku, hah?!"
"Aku tidak bisa mengeluarkan apa yang memang tidak ada di dalam tubuhku, Ayah," jawab Askara, suaranya parau namun terdengar sangat tenang. Ketenangan yang justru semakin menyulut kemarahan Bram.
"Jangan panggil aku Ayah! Aku tidak punya anak selemahmu!"
Bram kehilangan kendali. Amarah yang dipendamnya belasan tahun memuncak. Dia menghentakkan kakinya, dan dalam sekejap, tiga bola api sebesar kepalan tangan terbentuk di udara, melayang di sekeliling tubuhnya. Udara di dalam rumah seketika menjadi sangat kering dan menyesakkan.
"Kalau saja ibumu tidak mengorbankan nyawanya untukmu..."
Bram mengarahkan telapak tangannya tepat ke dada Askara.
"Mati kau!"
Wusss!
Tiga bola api itu melesat cepat, membelah udara dengan suara menderu yang mengerikan.
Askara tidak bisa menghindar. Kecepatan sihir itu terlalu tinggi untuk fisik manusianya. Dia secara refleks mengangkat kedua tangannya ke depan dada, memejamkan mata, dan bersiap merasakan kulitnya yang akan melepuh terbakar. Apakah ini akhirnya? pikirnya pasrah.
Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.
Syuuuut—!
Suara benturan api yang membakar justru berubah menjadi suara desingan aneh, seolah-olah api-api itu tersedot masuk ke dalam sebuah lubang hampa.
Askara membuka matanya perlahan. Dia tertegun. Tiga bola api milik ayahnya tidak membakarnya. Aliran energi panas itu justru mengalir masuk melalui telapak tangannya, menembus kulit, menjalar lewat pembuluh darah, dan berkumpul di dalam dadanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Askara merasakan sesuatu yang luar biasa di dalam tubuhnya yang selama ini dianggap "kosong". Itu adalah energi. Energi sihir api milik ayahnya. Namun, rasanya tidak panas. Di dalam tubuh Askara, energi itu terasa jinak, patuh, dan menunggu perintah.
Napas Askara mendadak menjadi sangat memburu.
Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Stamina fisiknya terkuras drastis dalam hitungan detik, seolah-olah dia baru saja berlari maraton sejauh belasan kilometer. Lututnya gemetar menahan beban energi asing tersebut.
Di seberang ruangan, Bram mematung. Matanya membelalak lebar, menatap kedua telapak tangan Askara yang kini memancarkan pendaran cahaya merah redup.
"A-apa... apa yang kau lakukan?!" suara Bram bergetar, campur aduk antara syok dan tidak percaya. "Sihirku... ke mana sihirku?!"
Askara menatap tangannya sendiri. Dia bisa merasakan bahwa tiga bola api yang diserapnya tadi kehilangan sebagian besar kekuatannya saat masuk ke dalam tubuhnya. Jika dia melepaskannya sekarang satu per satu, kekuatannya hanya akan seperti percikan api pemantik instan yang lemah.
Namun, ada sebuah insting purba yang mendadak bangkit di kepala Askara. Gabungkan. Sebuah bisikan tanpa suara menyuruhnya untuk menyatukan ketiga energi yang terpecah itu di dalam dadanya.
Askara memejamkan mata, fokus pada rasa lelah yang menghimpit staminanya. Dia memeras sisa-sisa tenaga fisiknya, memaksa ketiga aliran sihir lemah di dalam dirinya untuk saling berbenturan, melebur, dan memadat menjadi satu kesatuan yang utuh.
Glek. Askara menelan ludah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Teknik penggabungan ini benar-benar menguras staminanya secara brutal, tapi hasilnya instan. Energi di dalam dadanya berlipat ganda, menjadi jauh lebih padat dan berbahaya daripada tiga bola api asli milik ayahnya.
Askara kembali menatap ayahnya. Kali ini, tidak ada lagi ketakutan di mata pemuda itu.
"Kau bilang aku sial karena lahir tanpa sihir, bukan?" Askara mengangkat sebelah tangannya, mengarahkan telapak tangannya ganti mengunci posisi ayahnya.
"Kau..." Bram mundur satu langkah, insting bertarungnya mendadak berteriak bahaya saat melihat pusaran udara di sekitar Askara mulai memanas ekstrem.
"Sihirmu... aku kembalikan!"
BLAAAM!
Satu gelombang api raksasa berbentuk raungan naga melesat keluar dari telapak tangan Askara. Itu bukan lagi sekadar bola api biasa, melainkan hasil penggabungan murni yang tekanannya membuat lantai tanah di bawah kaki Askara retak dan hangus terbakar.
Bram yang terkejut setengah mati secara refleks memunculkan perisai api untuk menahan serangan itu. Namun, daya hancur dari api yang sudah digabungkan Askara terlalu masif.
BOOM!
Perisai Bram hancur berantakan. Tubuh pria paruh baya itu terpental ke belakang, menghantam lemari kayu hingga hancur dan jatuh terduduk di sudut ruangan. Pakaiannya koyak dan dipenuhi bercak hangus.
Hening mencekam seketika melingkupi rumah itu. Yang terdengar hanyalah suara kayu yang terbakar perlahan dan deru napas Askara yang terengah-engah.
Askara jatuh bertumpu pada satu lututnya. Tubuhnya luar biasa lelah, otot-ototnya terasa lemas seperti jeli akibat staminanya yang terkuras habis untuk melakukan penggabungan tadi. Namun, dia tersenyum tipis. Ditatapnya sang ayah yang kini menatapnya balik dengan wajah pucat pasi dan dipenuhi rasa takjub sekaligus ketakutan yang mendalam.
Hari itu, di dalam rumah tua yang pengap, sang Nirmala telah tiada. Yang tersisa hanyalah Askara—sang pemangsa sihir.
Keputusan itu sudah bulat. Malam setelah insiden yang menghancurkan sebagian isi rumah mereka, Askara tidak pernah lagi berbicara dengan ayahnya. Pria paruh baya itu pun hanya bisa menatap Askara dengan pandangan asing—campuran antara benci, bingung, dan rasa takut yang disembunyikan. Bagi Askara, rumah itu sudah lama mati. Dan kini, di usianya yang menginjak tujuh belas tahun, kaki-kaki tegapnya siap melangkah keluar dari lingkaran setan yang mengurungnya seumur hidup.
Sebuah tas kain usang bergelantung di pundaknya, berisi beberapa potong pakaian dan sedikit bekal. Namun, sebelum bayangan desa ini benar-benar hilang dari pandangannya, ada satu utang perpisahan yang harus ia bayar.
Askara melangkah menuju bukit di pinggir desa, tempat sebuah rumah dengan halaman penuh tanaman obat berdiri. Di sanalah Rose tinggal.
"Kau benar-benar akan pergi?"
Suara lembut Rose memecah keheningan sore itu. Gadis berambut kecokelatan itu berdiri di ambang pintu, menatap Askara yang sudah rapi dengan pakaian perjalanannya.
Tidak ada riak terkejut yang berlebihan di wajah Rose.
Sebagai satu-satunya orang yang tahu bagaimana memar dan luka bakar sering menghiasi tubuh Askara akibat amukan ayahnya, Rose sudah lama menduga hari ini akan datang.
Askara tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Tempat ini terlalu sempit untuk seseorang yang tidak punya 'wadah' sepertiku, Rose. Kalau aku tetap di sini, aku hanya akan menjadi benalu bagi nama besar Barata. Dan... aku ingin melihat dunia luar."
Rose berjalan mendekat, langkahnya terasa berat. Ada binar kesedihan di matanya, namun dia menahan diri untuk tidak menangis. Dia tahu betul betapa tersiksanya hidup Askara selama belasan tahun ini. Ditindas, dihina, dan dianggap pembawa sial hanya karena terlahir berbeda.
"Aku tidak akan menahan mu, Askara," ucap Rose, suaranya sedikit bergetar namun sarat akan ketegasan. "Dunia ini luas, dan kau berhak mencari tempat di mana kau dihargai bukan karena apa yang kau miliki sejak lahir, tapi karena siapa dirimu yang sebenarnya. Pergilah. Kejarlah takdirmu."
Rose merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah jimat pelindung kecil yang terbuat dari rajutan benang hijau—sihir penyembuh tingkat rendah yang biasa ia pelajari. Ia meraih tangan Askara, meletakkan jimat itu di telapak tangan sahabatnya yang kasar penuh kapalan.
"Ini tidak seberapa, tapi kuharap ini bisa sedikit membantumu di jalan nanti. Jaga dirimu baik-baik," lanjut Rose, menatap lekat-lekat sepasang mata Askara.
"Terima kasih, Rose. Ini lebih dari cukup," jawab Askara tulus, menggenggam erat jimat tersebut. Keduanya terdiam sejenak, menikmati angin sore yang berembus pelan, menyampaikan salam perpisahan yang tak terucap.
Sebelum Askara berbalik untuk melangkah, Rose tiba-tiba tersenyum bimbang, seolah teringat sesuatu. Ada semburat kebanggaan yang coba ia sampaikan di tengah suasana haru ini.
"Oh ya, Askara... ada satu hal yang ingin aku ceritakan sebelum kau pergi," kata Rose, matanya sedikit berbinar. "Kemarin, surat pengumuman dari ibu kota datang. Aku... aku diterima menjadi anggota Guild Golden Eagle."
Askara tertegun. Matanya membelalak takjub. "Golden Eagle? Guild nomor satu di kerajaan? Yang seleksinya terkenal sangat kejam itu?"
Rose mengangguk pasti, senyumnya kini mengembang penuh.
"Iya. Mereka bilang kemampuan sihir pemulihanku memenuhi standar khusus mereka. Bulan depan aku harus sudah berada di markas pusat untuk pelantikan."
Sebuah rasa bangga yang luar biasa menyeruak di dada Askara. Dia tahu betul seberapa keras Rose berlatih setiap malam di bukit ini untuk mengasah sihirnya. Golden Eagle bukanlah tempat bagi sembarang orang; hanya mereka yang memiliki bakat, mental, dan kemampuan di atas rata-rata yang bisa menembus gerbangnya. Sahabatnya kini telah menjelma menjadi salah satu elit di negeri ini.
Askara menepuk pundak Rose dengan bangga. "Aku selalu tahu kau hebat, Rose. Golden Eagle beruntung mendapatkan mu. Berjanjilah padaku, saat kita bertemu lagi nanti, kau sudah menjadi penyembuh terhebat di kerajaan ini."
"Dan kau," Rose menunjuk dada Askara dengan jari telunjuknya, "berjanjilah padaku untuk menunjukkan pada dunia, bahwa seorang yang mereka sebut tanpa sihir bisa mengguncang segalanya."
Askara tertawa kecil, rasa sesak di dadanya perlahan mencair digantikan oleh semangat baru yang membara. Dia berbalik, melangkah tegap menuruni bukit tanpa menoleh lagi. Matahari senja yang mulai tenggelam di ufuk barat seolah mengiringi langkah pertamanya.
Perjalanan jauh Askara telah dimulai. Tujuan pertamanya belum pasti, namun satu hal yang jelas: dunia luar tidak akan pernah siap menghadapi apa yang tersembunyi di dalam tubuh pemuda tanpa sihir ini.
Setiap langkah yang diambil Askara menjauhkan dirinya dari bayang-bayang rumah tua itu. Jalan setapak yang biasa dilaluinya berganti menjadi jalan tanah yang semakin sempit, diapit oleh pepohonan raksasa yang dahan-dahannya saling membelit, menghalangi cahaya matahari sore. Udara di sini terasa lebih lembap dan berat, penuh dengan aroma tanah basah dan samar-samar bau bangkai. Ini adalah wilayah tak bertuan yang memisahkan desa Askara dengan kota perbatasan terdekat, Kota Gada.
Sudah tiga hari dia berjalan. Bekal pemberian ayahnya (yang dia ambil diam-diam sebelum pergi) sudah menipis, namun jimat rajutan Rose masih menggantung setia di lehernya, memberikan sedikit rasa tenang.
Selama perjalanan ini, Askara tidak hanya berjalan.
Pikirannya terus berputar pada kejadian malam itu. Kekuatan itu... dia belum sepenuhnya paham. Sejak insiden dengan ayahnya, Askara mulai bereksperimen. Diam-diam, sebelum benar-benar meninggalkan desa, dia sempat berjalan-jalan di pasar malam, berpura-pura bersenggolan dengan beberapa penyihir amatir atau penjual barang sihir. Setiap sentuhan fisik, setiap hembusan hawa sihir yang dilepaskan secara tidak sengaja di dekatnya, dia serap.
Dia menyerap sepercik sihir tanah dari seorang petani, sedikit sihir angin dari kipas penyihir jalanan, dan bahkan sihir penyembuh tingkat rendah yang tersisa di udara dekat kedai tabib. Semua energi itu sekarang diam di dalam "wadah" di dadanya, seperti kelereng-kelereng energi yang terpisah.
Tubuhnya terasa lebih penuh, namun juga lebih lelah karena harus terus-menerus menopang energi asing tersebut. Dia belum tahu bagaimana cara menggabungkannya secara efektif, dia hanya "menyimpan".
Grrr...
Suara geraman rendah menghentikan langkah Askara. Di depan, dari balik semak-semak berduri, sepasang mata merah menyala menatapnya tajam. seekor Grakon—monster hutan hibrida antara serigala dan kadal—perlahan muncul. Ukurannya sebesar anak sapi, dengan sisik keras berwarna hijau gelap dan taring-taring tajam yang meneteskan liur.
Ini adalah Grakon, monster level rendah yang biasa dihadapi oleh petualang pemula. Kekuatannya ada pada fisik yang kuat dan semburan asam lemah.
Askara meletakkan tas kainnya perlahan di tanah. Dia tidak takut. Tubuh fisiknya sudah terlatih untuk menghadapi ancaman seperti ini. Dia tersenyum kecil. Ujian pertama.
Grakon itu menerjang. Gerakannya cepat, namun Askara lebih gesit. Pemuda itu berguling ke samping, menghindari cakaran mematikan yang menghantam pohon di belakangnya hingga kulit pohon itu terkelupas. Grakon itu berbalik dengan cepat, mengarahkan mulutnya ke Askara dan menyemburkan cairan asam berwarna hijau.
Askara mengangkat kedua tangannya ke depan. Serap.
Suara desingan aneh kembali terdengar. Cairan asam itu tidak mengenainya, melainkan terhisap masuk ke dalam telapak tangannya. Askara merasakannya—energi sihir asam yang tajam dan korosif itu sekarang ikut bergabung dengan koleksi energi di dalam dirinya.
"Hanya itu?" Askara memprovokasi, merasakan staminanya
sedikit berkurang akibat penyerapan tadi, namun masih jauh dari batasnya. Dia sengaja tidak menggunakan energinya dulu, dia ingin mengamati pola serangan monster ini.
Grakon yang bingung karena serangannya tidak mempan kembali menerjang, kali ini dengan sundulan kepala yang masif. Askara menghindari sundulan itu, namun ekor monster yang bersisik keras itu menghantam punggungnya.
Bugh!
Askara terpental beberapa meter, menghantam tanah dengan keras. Dadanya sesak. Serangan fisik murni monster itu jauh lebih berbahaya baginya daripada sihir asamnya. Dia batuk darah, namun stamina fisiknya membuatnya bisa segera bangkit. Grakon ini tidak menggunakan sihir murni, melainkan fisik berbalut sihir, pikirnya cepat.
Askara tahu dia tidak bisa mengalahkan monster ini hanya dengan fisik belaka. Dia harus menggunakan apa yang dia simpan.
Gabungkan.
Askara memfokuskan pikirannya pada energi di dadanya. Dia memeras sisa-sisa tenaga fisiknya, memaksa "kelereng" energi api (serap dari ayahnya), energi angin (serap dari kipas penyihir), dan energi asam (serap dari monster tadi) untuk saling bergesekan.
Teknik penggabungan kali ini jauh lebih rumit daripada saat melawan ayahnya. Dia harus menjaga agar ketiga energi yang berlawanan ini tidak saling menghancurkan di dalam tubuhnya. Keringat dingin bercucuran. Lututnya gemetar. Staminanya terkuras drastis, jauh lebih cepat daripada saat dia hanya menyerap.
Argh!
Di dalam dadanya, ketiga energi itu meledak dan melebur menjadi satu. Energi gabungan baru yang dihasilkan tidak lagi merah, melainkan berwarna hijau-kuning yang berpendar berbahaya—sebuah Badai Api Asam.
Askara mengangkat tangannya. Grakon itu, melihat Askara diam, bersiap untuk terkaman terakhir.
"Ini dia... teknik eksperimen pertama."
Wusss!
Dari telapak tangan Askara, melesat keluar sebuah tornado api raksasa yang berputar kencang. Tornado itu tidak hanya membakar, tetapi juga melepaskan partikel asam yang tajam.
Grakon yang sedang menerjang itu terjebak di tengah badai. Sisik kerasnya melepuh oleh api, dan kulitnya yang terbuka hancur perlahan oleh asam yang korosif.
Aoooowww!
Monster itu melolong kesakitan yang memilukan. Dalam hitungan detik, Grakon itu ambruk, tubuhnya hangus dan hancur di tengah badai api asam buatan Askara.
Badai itu perlahan mereda. Askara jatuh bertumpu pada kedua lututnya. Dia terengah-engah, staminanya hampir habis total. Otot-ototnya terasa seperti terbakar. Menggabungkan tiga elemen sekaligus secara brutal ternyata memiliki risiko stamina yang sangat tinggi. Tubuhnya belum cukup kuat untuk menjadi wadah bagi kekuatan yang terlalu besar.
Askara menatap bangkai monster itu. Dia berhasil. Grakon level rendah itu berhasil dikalahkannya tanpa harus melepaskan seluruh staminanya di awal, tapi penggabungan brutal di akhir tadi mengajarkannya satu hal: tekniknya belum sempurna.
Dia masih harus belajar mengontrol seberapa banyak stamina yang dia gunakan, dan bagaimana cara menggabungkan energi dengan lebih efisien, bukan sekadar memaksanya melebur.
Askara menyeret tubuhnya yang kelelahan menuju bangkai monster. Di dekat kepala Grakon, dia menemukan sebuah Inti Sihir kecil berwarna hijau redup—hadiah bagi siapa saja yang berhasil mengalahkan monster bersisik sihir. Askara tersenyum lemah. Ini adalah mata uang dunia luar.
"Langkah pertamaku... sedikit menyakitkan," gumam Askara, mengusap darah di sudut bibirnya. Dia mengambil kembali tasnya, menelan sedikit bekal, dan melanjutkan perjalanan.
Kota Gada sudah tidak jauh lagi. Di sana, dia akan mencari tempat untuk beristirahat, memulihkan stamina, dan yang paling penting... belajar memahami wadah kosong di dalam dirinya ini sebelum dia menghadapi musuh yang sesungguhnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!