"Mentari! Tolong bawa dokumen proposal kerja sama dengan Elvano Group ke ruang rapat utama sekarang juga! CEO baru mereka sudah datang!"
Suara pekikan Siska, sekretaris direksi, membuyarkan konsentrasi Mentari yang sedang menatap layar komputernya. Mentari mengembuskan napas lelah. Sudah seminggu ini kepalanya mau pecah. Ibunya baru saja masuk rumah sakit akibat komplikasi diabetes, dan biaya pengobatannya menumpuk hingga ratusan juta rupiah. Jika dia kehilangan pekerjaannya di agensi periklanan ini, habislah sudah.
"Baik, Mbak. Ini aku langsung ke sana," jawab Mentari seraya meraih map tebal berwarna biru gelap.
Mentari merapikan rok span hitam dan kemeja kerjanya sejenak sebelum melangkah cepat menuju ruang rapat di lantai paling atas. Jantungnya berdegup aneh. Elvano Group adalah raksasa kuliner baru yang baru saja membeli 35% saham perusahaan tempatnya bekerja. Mendengar rumor yang beredar, pemiliknya adalah seorang pengusaha muda yang sangat kejam dalam berbisnis.
Tok! Tok!
Mentari mengetuk pintu kaca buram tersebut lalu mendorongnya perlahan.
"Permisi, Pak. Ini dokumen yang diminta..." Suara Mentari mendadak tercekat di tenggorokan.
Di ujung meja panjang, duduk seorang pria dengan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap. Postur tubuhnya tegap, rahangnya tegas, dan rambutnya tertata rapi dengan gaya undercut. Pria itu sedang menyesap kopi hitamnya dengan tenang.
Begitu mendengar suara Mentari, pria itu mendongak. Sepasang mata elang yang tajam langsung mengunci pandangan Mentari.
Deg!
Map di tangan Mentari hampir saja merosot ke lantai. Wajah itu... garis wajah yang sangat familier, namun kini terlihat jauh lebih matang, berwibawa, dan dingin.
"Devan...?" bisik Mentari, nyaris tak terdengar.
Pria di depannya tidak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali. Dia hanya menatap Mentari dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang membuat kulit Mentari meremang.
"Lama tidak bertemu, Mentari Ayuningtyas. Atau harus kupanggil... Nona Mentari?" suara berat dan bariton milik Devan menggema di ruangan yang sunyi itu.
Mentari membeku di tempatnya. Otaknya mendadak macet. Devan Elvano. Mantan kekasihnya saat SMA sembilan tahun yang lalu. Pria yang dulu selalu mengenakan seragam lusuh, mengendarai motor tua, dan sering dihina oleh teman-teman sekolahnya—termasuk oleh keluarga Mentari sendiri hingga akhirnya Mentari terpaksa memutuskannya dengan cara yang kejam.
Kini, pria itu duduk di kursi kekuasaan. Menjadi pemilik dari puluhan restoran bintang lima di Singapura, Malaysia, London, dan sekarang sedang mengekspansi bisnisnya secara besar-besaran di Indonesia.
"Pak Devan, Anda sudah mengenal Mentari sebelumnya?" tanya Direktur Utama Mentari, Pak Hermawan, dengan wajah semringah, berharap ini bisa menjadi pelicin kerja sama mereka.
Devan menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Tentu saja. Kami punya... banyak sejarah di masa lalu. Benar kan, Nona Mentari?"
Mentari mengepalkan jemarinya di balik map, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. "Itu... hanya masa lalu, Pak. Ini dokumen proposalnya." Mentari melangkah maju dan meletakkan map tersebut di meja, sebisa mungkin menghindari kontak fisik maupun mata dengan Devan.
"Masa lalu?" Devan terkekeh sinis, sebuah suara yang membuat dada Mentari terasa sesak. "Bagi sebagian orang, masa lalu adalah sampah. Tapi bagiku, masa lalu adalah bahan bakar untuk berada di posisiku yang sekarang. Untuk membuktikan pada orang-orang yang dulu membuangku... bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar."
Kalimat itu jelas-jelas sebuah tamparan keras bagi Mentari.
"Pak Hermawan," Devan mengalihkan pandangannya pada sang Direktur, mengabaikan Mentari yang berdiri kaku di samping meja. "Saya akan menyetujui pendanaan dan kerja sama iklan senilai lima puluh miliar rupiah ini. Dengan satu syarat."
Pak Hermawan langsung berbinar. "Apa syaratnya, Pak Devan? Apapun akan kami penuhi!"
Devan kembali menatap Mentari. Kali ini, seringai tipis muncul di sudut bibirnya yang seksi namun mematikan.
"Saya ingin Mentari Ayuningtyas yang menjadi Personal Account Executive untuk proyek saya. Dia harus menangani seluruh kebutuhan saya secara langsung. 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jika dia menolak, atau jika kinerjanya mengecewakan... investasi saya tarik kembali, dan saya pastikan perusahaan ini gulung tikar dalam waktu satu bulan."
Bag!
Mentari merasa seolah dunia di sekitarnya runtuh. Menjadi penanggung jawab pribadi Devan? Pria yang hatinya telah dia hancurkan di masa lalu? Ini bukan lagi sekadar urusan pekerjaan. Ini adalah awal dari aksi balas dendam Devan yang terencana rapi.
"Bagaimana, Nona Mentari? Apakah ibumu yang sedang sekarat di Rumah Sakit Medika itu bisa menunggu jika kamu menolak pekerjaan ini?" bisik Devan mematikan, tepat saat dia berdiri dan menyejajarkan wajahnya di samping telinga Mentari, memanfaatkan tinggi badannya untuk mengintimidasi wanita itu.
Mentari membelalakkan matanya. Bagaimana Devan bisa tahu soal ibunya?!
Ruangan rapat mendadak senyap bagai kuburan setelah Devan melangkah keluar bersama para ajudannya yang berbadan tegap. Aroma parfum woody maskulin milik pria itu masih tertinggal di udara, mengintimidasi indra penciuman Mentari yang kini berdiri lemas. Lututnya terasa seperti jeli.
"Mentari! Kamu dengar sendiri, kan?!" Pak Hermawan, sang Direktur, langsung berdiri dari kursinya dengan wajah memerah menahan antusias sekaligus cemas. "Lima puluh miliar! Itu nilai proyek terbesar perusahaan kita tahun ini! Kamu harus mengambilnya. Bagaimanapun caranya!"
Mentari menelan ludah yang terasa getir. "Tapi, Pak... Pak Devan sengaja melakukan ini untuk—"
"Aku tidak peduli apa masalah masa lalu kalian!" potong Pak Hermawan tegas. "Yang aku tahu, Elvano Group memegang kendali atas nasib ratusan karyawan di perusahaan ini sekarang. Termasuk nasib pekerjaanmu. Dan... bukankah kamu butuh biaya besar untuk operasi ibumu? Pak Devan sudah memberikan penawaran awal berupa bayaran bonus di muka jika kamu bersedia menandatangani kontrak eksklusif ini."
Mendengar kata 'operasi ibumu', pertahanan Mentari runtuh. Wajah pucat sang ibu yang terbaring lemah di ruang ICU RS Medika langsung terbayang di benaknya. Tagihan rumah sakit sudah menumpuk hingga tiga ratus juta rupiah, dan pihak administrasi sudah memberikan tenggat waktu hingga besok malam.
Mentari memejamkan mata rapat-rapat, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Tidak ada pilihan lain, Mentari. Demi Ibu.
"Baik, Pak. Saya... saya terima tugas ini," bisik Mentari pasrah.
Satu jam kemudian, Mentari sudah berada di dalam lift menuju lantai paling atas gedung perkantoran Elvano Group yang terletak di kawasan pusat bisnis Sudirman. Gedung pencakar langit itu tampak begitu megah dengan dominasi kaca dan marmer hitam, mencerminkan betapa besarnya kekuasaan sang pemilik.
Ting!
Pintu lift terbuka. Seorang sekretaris wanita berpenampilan sangat rapi dan modis menyambut Mentari dengan senyum formal. "Nona Mentari Ayuningtyas? Mari, Pak Devan sudah menunggu Anda di dalam."
Mentari melangkah dengan dada yang bergemuruh hebat. Ketika pintu ruang kerja CEO dibuka, ia disuguhi pemandangan dinding kaca raksasa yang menampilkan lanskap kota Jakarta dari ketinggian lantai 50. Di depan meja kerja marmer hitam yang mewah, Devan sedang duduk menyandarkan punggungnya, memutar-mutar sebuah pena emas di jemarinya yang kokoh.
"Duduk," perintah Devan singkat tanpa memandang Mentari. Suaranya terdengar dingin dan mutlak.
Mentari berjalan mendekat dan duduk di kursi kulit di hadapan Devan. Jarak yang dekat ini membuat Mentari bisa melihat dengan jelas bagaimana garis-garis ketampanan mantan kekasih SMA-nya itu telah berubah menjadi sosok pria dewasa yang sangat matang dan memikat.
Sebuah dokumen tebal dihempaskan Devan ke atas meja tepat di hadapan Mentari.
"Baca dan tanda tangani," ujar Devan dingin.
Mentari meraih dokumen tersebut. Judul di halaman depan membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat: KONTRAK KERJA SAMA EKSKLUSIF PERSONAL ACCOUNT EXECUTIVE.
Ia membuka halaman demi halaman. Isinya bukan sekadar kontrak kerja biasa.
Pasal 3: Pihak Kedua (Mentari Ayuningtyas) wajib mendampingi Pihak Pertama (Devan Elvano) dalam setiap kegiatan bisnis, perjamuan, maupun acara formal/informal kapan pun diperlukan.
Pasal 5: Pihak Kedua dilarang keras menjalin hubungan asmara atau terlibat kedekatan romantis dengan pria lain selama masa kontrak berlaku (1 Tahun), demi menjaga citra profesionalitas Elvano Group.
Pasal 9: Sebagai kompensasi, Pihak Pertama akan melunasi seluruh biaya pengobatan Ibu dari Pihak Kedua secara penuh pada hari penandatanganan kontrak, serta memberikan gaji bulanan sebesar lima puluh juta rupiah.
"Apa-apaan ini, Devan?!" Mentari tidak bisa menahan suaranya lagi. Ia menatap Devan dengan mata berkaca-kaca akibat emosi yang meluap. "Melarangku dekat dengan pria lain? Mendampingimu di acara informal? Ini bukan kontrak kerja! Ini kontrak budak!"
Devan menghentikan gerakan penanya. Ia menegakkan tubuh, menumpu kedua tangannya di atas meja, lalu condong ke depan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Mentari. Tatapan matanya berpendar berbahaya.
"Budak? Jangan terlalu percaya diri, Mentari," desis Devan, suaranya pelan namun menusuk. "Aku hanya sedang membeli waktumu secara profesional. Bukankah dulu kamu dan keluargamu meninggalkan aku hanya karena aku miskin? Karena aku tidak bisa menjamin masa depanmu?"
"Devan, waktu itu keadaannya tidak seperti yang kamu bayangkan—"
"Cukup!" Devan memotong dengan bentakan rendah yang membuat Mentari tersentak. "Aku tidak butuh penjelasan masa lalu. Sekarang, roda sudah berputar. Aku punya uang, dan kamu butuh uang itu. Sangat sederhana, bukan?"
Devan menyodorkan pena emas ke tangan Mentari. "Tanda tangani sekarang, dan sore ini juga ibumu akan dipindahkan ke kamar Suite VVIP dengan tim dokter terbaik. Atau... kamu bisa keluar dari pintu itu sekarang, membawa harga dirimu, dan melihat ibumu dikeluarkan dari rumah sakit besok pagi."
Air mata Mentari akhirnya luruh membasahi pipinya. Devan yang sekarang benar-benar telah berubah menjadi monster yang tidak memiliki perasaan. Namun, Mentari tahu ia tidak punya kemewahan untuk memilih. Nyawa ibunya adalah segalanya.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Mentari menerima pena itu. Ia menggoreskan tanda tangannya di atas meterai pada lembar terakhir dokumen tersebut.
Selesai. Mentari merasa baru saja menjual kebebasannya sendiri pada iblis masa lalunya.
Devan menarik kembali dokumen itu, menatap tanda tangan Mentari dengan senyum kepuasan yang dingin. Ia lalu menekan tombol interkom di mejanya.
"Siska, transfer dana sebesar lima ratus juta ke RS Medika untuk pasien atas nama Ibu Rahayu sekarang juga. Dan batalkan semua jadwal pertemuan luar kotaku besok malam."
Setelah mematikan interkom, Devan kembali menatap Mentari yang masih menghapus sisa air matanya.
"Bagus. Mulai detik ini, kamu adalah milikku secara profesional, Mentari," kata Devan sambil berdiri dari kursinya. "Besok malam, ada jamuan makan malam dengan salah satu investor saham dari Singapura. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Pakai gaun yang pantas."
Mentari berdiri dari kursinya dengan sisa-sisa kekuatannya. "Ada hal lain lagi, Pak Devan?" tanyanya formal, mencoba menjaga jarak profesionalitas yang tersisa.
Devan berjalan mendekati Mentari, langkah kakinya terdengar begitu mengancam di keheningan ruangan. Ia berhenti tepat di belakang tubuh Mentari, menundukkan kepalanya hingga napas hangatnya terasa di tengkuk wanita itu.
"Satu hal lagi... bersiaplah, Mentari. Karena ini baru permulaan dari apa yang harus kamu bayar atas air mataku sembilan tahun yang lalu."
Malam berganti pagi dengan begitu cepat, namun bagi Mentari, waktu rasanya berjalan lambat seperti siksaan yang sengaja diperpanjang. Kabar baiknya, komitmen Devan dalam kontrak itu bukan bualan belaka. Pihak Rumah Sakit Medika menghubungi Mentari secara resmi pada pukul delapan pagi, mengabarkan bahwa seluruh biaya tunggakan administrasi dan dana operasi Ibunya sebesar lima ratus juta rupiah telah dilunasi oleh sebuah korporasi bernama Elvano Group.
Ibunya pun langsung dipindahkan ke kamar Suite VVIP di lantai teratas gedung rumah sakit. Fasilitasnya menyerupai hotel berbintang dengan penanganan tim dokter spesialis terbaik di negeri ini. Ketika Mentari datang berkunjung sebelum berangkat kerja, ia melihat Ibunya tidur dengan wajah yang jauh lebih tenang, tidak lagi terganggu oleh suara bising dari bangsal umum.
Namun, kelegaan itu dibayar mahal dengan rasa cemas yang terus menggerogoti dadanya. Mentari tahu, tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Terlebih dari seorang pria yang sembilan tahun lalu ia tinggalkan dalam kubang rasa sakit hati teramat dalam.
Pukul enam sore, sebuah kotak hitam besar beludru dikirim langsung ke meja kubikel Mentari di kantor. Pengirimnya tidak menuliskan nama, hanya sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan tulisan tangan beraksen tegas yang sangat ia kenali: "Pakai ini. Mobil jemputan menunggumu di lobi pukul tujuh tepat. Jangan terlambat satu detik pun."
Ketika Mentari membuka kotak tersebut di toilet kantor, ia terkesiap. Di dalamnya terdapat sebuah gaun malam berwarna hijau zamrud (emerald green) berbahan satin sutra yang sangat halus. Potongannya begitu elegan, dengan kerah sabrina yang akan mengekspos garis leher dan tulang selangkangkannya dengan pas, serta belahan setinggi paha yang tidak terlalu mencolok namun memberikan kesan sensual yang berkelas. Di bagian bawah gaun, terdapat kotak beludru lebih kecil berisi sepasang sepatu hak tinggi berwarna perak berkilauan.
"Dia bahkan masih ingat ukuran pakaianku," bisik Mentari dengan dada berdesir aneh. Kenangan masa lalu mendadak berputar di benaknya. Dulu, saat SMA, Devan pernah berjanji akan membelikan Mentari gaun terindah jika ia sudah sukses nanti. Siapa sangka janji itu terwujud di bawah paksaan sebuah kontrak balas endem.
Mentari mematut dirinya di depan cermin toilet setelah memoles wajahnya dengan riasan tipis dan lipstik merah bata. Rambut hitam panjangnya ia biarkan tergerai dengan aksen gelombang alami di bagian ujungnya. Ketika ia melangkah keluar menuju lobi tepat pukul tujuh, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam sudah terparkir gagah di depan lobi kantornya, menarik perhatian ratusan pasang mata karyawan yang baru saja pulang kerja.
Seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam langsung membukakan pintu belakang untuk Mentari. Begitu Mentari masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma mewah itu, jantungnya seolah berhenti berdetak. Devan sudah duduk di sana.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam formal dengan kemeja putih bersih di dalamnya. Dasinya berwarna hijau zamrud, senada dengan gaun yang dikenakan Mentari malam ini. Kehadiran Devan yang begitu dekat membuat ruang kabin mobil yang luas terasa mendadak sempit dan dipenuhi aura intimidasi yang pekat.
Devan mengalihkan pandangannya dari tablet digital di tangannya ke arah Mentari. Untuk beberapa detik, mata elang pria itu tampak melebar, terpaku pada kecantikan Mentari yang malam ini begitu bersinar. Sinar kekaguman sempat melintas di manik matanya yang gelap, sebelum dengan cepat digantikan oleh tatapan dingin dan datar yang biasa ia tunjukkan.
"Tidak buruk. Setidaknya selera berpakaianmu tidak turun meskipun bekerja di tempat seperti ini," ujar Devan sinis sambil kembali menatap layar tabletnya.
Mentari mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, mencoba menahan diri agar tidak terpancing emosi. "Terima kasih atas bantuan Anda untuk Ibu saya, Pak Devan. Saya akan profesional menjalankan tugas saya malam ini," jawab Mentari dengan nada suara yang sengaja dibuat seformal mungkin.
Devan terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang terdengar mengejek. "Ingat, Mentari. Tugasmu malam ini adalah menjadi pasanganku di depan para kolega bisnis dari Singapura. Kamu hanya perlu tersenyum, mengiyakan perkataanku, dan jangan bertingkah bodoh."
Mobil mewah itu berhenti di depan pelataran sebuah hotel bintang lima di kawasan Segitiga Emas Jakarta. Tempat berlangsungnya gala dinner eksklusif para investor saham papan atas. Ketika pintu mobil dibuka, jepretan kamera dari beberapa media bisnis langsung menyambut mereka. Devan turun terlebih dahulu, kemudian berbalik dan mengulurkan tangan kokohnya ke arah Mentari.
Mentari sempat ragu selama satu detik, namun mengingat ancaman Devan, ia akhirnya meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan Devan yang hangat dan besar. Devan segera menggenggam jemari Mentari dengan erat—terlalu erat hingga membuat Mentari sedikit meringis, sebelum pria itu menarik pinggang Mentari mendekat dan melingkarkan tangan wanita itu di lengan jasnya.
Mereka melangkah masuk ke dalam ballroom yang megah dengan lampu kristal raksasa yang memancarkan cahaya keemasan. Begitu nama Devan Elvano diumumkan, perhatian seluruh ruangan langsung tersedot pada pasangan itu. Bisik-bisik kekaguman sekaligus penasaran mulai terdengar dari para pengusaha dan sosialita yang hadir.
"Siapa wanita di sebelah CEO Elvano Group itu? Bukankah selama ini dia dikenal tidak pernah membawa wanita ke acara formal?"
"Sangat cantik. Apa dia putri dari salah satu konglomerat rekan bisnisnya?"
Mentari berusaha menjaga senyumnya tetap merekah di wajahnya yang mendadak kaku, sementara Devan berjalan dengan langkah penuh percaya diri, menyapa beberapa taipan bisnis internasional dengan bahasa Inggris yang sangat fasih dan berwibawa. Mentari benar-benar terpukau melihat bagaimana Devan mengendalikan percakapan bisnis tingkat tinggi dengan begitu tenang, sangat jauh berbeda dari Devan remaja yang dulu selalu minder jika diajak bicara.
Namun, ketenangan itu terusik ketika sebuah suara bariton yang sangat familier memanggil nama Mentari dari arah belakang.
"Mentari? Kamu... benar Mentari Ayuningtyas?"
Mentari menoleh dan terkejut saat mendapati siapa yang berdiri di sana. Pria itu mengenakan setelan jas biru navy yang rapi, berwajah tampan dengan senyum ramah yang selalu menenangkan. "Pak Rian?" ucap Mentari spontan.
Rian adalah Direktur Kreatif sekaligus bos langsung Mentari di agensi periklanan. Selama satu tahun terakhir bekerja bersama, Rian dikenal sangat perhatian pada Mentari, bahkan di luar urusan pekerjaan. Diam-diam, Rian menyimpan rasa kagum dan cinta pada kepribadian Mentari yang tangguh.
Rian menatap Mentari dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. "Astaga, Mentari. Kamu malam ini... luar biasa cantik. Aku hampir tidak mengenalimu tanpa pakaian kantoranmu," puji Rian tulus, melangkah maju mendekati Mentari tanpa menyadari aura berbahaya yang mendadak memancar dari pria di sebelah wanita itu.
"Terima kasih, Pak Rian. Kebetulan saya menghadiri acara ini sebagai..." Kalimat Mentari terputus.
Secara tiba-tiba, sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggang ramping Mentari, menarik tubuh wanita itu hingga menempel erat pada dada bidang Devan. Mentari tersentak, menoleh ke arah Devan yang kini menatap Rian dengan pandangan yang seolah siap menguliti pria itu hidup-hidup. Sepasang mata elang Devan berkilat penuh amarah dan kecemburuan yang mendalam, meskipun wajahnya tetap terlihat tenang.
"Direktur Rian, bukan?" suara Devan terdengar sangat rendah dan dingin, sanggup membuat suhu di sekitar mereka mendadak drop beberapa derajat. "Kukira Anda cukup cerdas untuk mengetahui batasan antara seorang atasan kantor... dan pria lain yang sedang mengagumi milik orang lain."
Rian tertegun, menatap tangan Devan yang mencengkeram pinggang Mentari dengan begitu dominan. Senyum di wajah Rian perlahan memudar, digantikan oleh tatapan menantang. Sebagai seorang pria, Rian langsung bisa membaca ketertarikan dan rasa kepemilikan yang besar dari mata Devan terhadap bawahannya itu.
"Pak Devan Elvano," balas Rian, mencoba tetap tenang demi menjaga reputasinya. "Saya hanya menyapa karyawan saya yang kebetulan hadir di sini. Saya tidak tahu kalau Mentari memiliki hubungan sedekat ini dengan investor utama perusahaan kami."
"Sekarang Anda sudah tahu," desis Devan tajam, melangkah satu blok ke depan untuk menutupi tubuh Mentari dari pandangan Rian. "Dan sebagai informasi tambahan untuk Anda, Direktur Rian... Mentari bukan sekadar karyawan biasa di mata saya. Dia adalah wanita yang seluruh waktunya, siang dan malam, sudah menjadi hak penuh saya. Jadi, saya sarankan Anda menjaga jarak sejauh mungkin mulai besok di kantor, atau saya pastikan posisi Anda sebagai Direktur Kreatif digantikan oleh orang lain dalam waktu 24 jam."
Mentari membelalakkan matanya mendengar ancaman Devan yang begitu arogan. "Devan, cukup! Jangan bawa-bawa urusan pekerjaan Pak Rian!" bisik Mentari setengah panik, mencoba melepaskan diri dari kukungan tangan Devan, namun cengkeraman pria itu justru semakin mengerat hingga membuatnya tak berkutik.
Rian mengepalkan tangannya di dalam saku celana, merasa terhina dengan arogansi kekuasaan Devan. Namun, sebelum ketegangan itu meledak menjadi keributan yang memalukan di tengah ballroom, sebuah suara wanita yang manja dan melengking mendadak memecah keheningan di antara mereka.
"Devan! Akhirnya aku menemukanmu! Mengapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu akan datang ke gala dinner ini, Sayang?"
Seorang wanita cantik bergaun merah menyala dengan belahan dada rendah berjalan mendekat dengan anggun. Wanita itu adalah Clara, putri tunggal dari pemilik Wijaya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia yang juga memegang beberapa saham penting di jaringan bisnis kuliner Devan. Yang paling krusial, Clara adalah wanita yang selama ini dijodohkan oleh keluarga besar Devan untuk menjadi calon istrinya.
Clara langsung bergelayut manja di lengan Devan yang bebas, mengabaikan kehadiran Rian dan menatap Mentari dengan pandangan menilai yang penuh dengan penghinaan dan ketidaksukaan.
"Siapa wanita ini, Devan? Asisten barumu? Mengapa penampilannya begitu murahan untuk acara sekelas ini?" tanya Clara dengan nada sinis yang sengaja dikeraskan, memancing perhatian beberapa tamu di sekitar mereka.
Mentari merasakan hatinya berdenyut sakit mendengar kata 'murahan', namun ia hanya bisa terdiam. Sementara itu, Devan tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Mentari, membuat posisi mereka berdua kini terjebak di antara tatapan cemburu Rian, tatapan penuh permusuhan Clara, dan tatapan posesif yang tak terbaca dari Devan sendiri.
Dilema urban yang rumit baru saja dimulai, dan Mentari tahu malam panjang ini akan mengubah hidupnya selamanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!