Indonesia
NovelToon NovelToon

Wanita Pilihan Sang Ceo

Bab 1

Nial berdiri di depan jendela tinggi yang menghadap ke pusat kota. Jas hitamnya masih sempurna, dasinya lurus tanpa sedikit pun kusut meskipun jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.

Sebagian besar karyawan sudah pulang sejak dua jam lalu. Namun bagi Nial, waktu bukanlah sesuatu yang membatasi pekerjaannya.

Ia menatap pemandangan kota tanpa benar - benar melihatnya. Pikirannya sibuk.

Di belakangnya, seorang pria berdiri dengan sikap profesional. Rayden Alastair—Asisten sekaligus tangan kanan Nial selama hampir sepuluh tahun terakhir.

Tentunya Rayden mengenal bosnya itu lebih baik daripada siapa pun di perusahaan ini.

Nial Percy adalah pria yang disiplin, dingin, dan hampir tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan. Itulah sebabnya Rayden sedikit terkejut ketika Nial tiba - tiba memanggilnya kembali ke kantor malam ini.

Tanpa agenda rapat. Tanpa dokumen penting.

Hanya … pertemuan pribadi.

Nial akhirnya berbalik dari jendela. Tatapannya tenang, seperti biasa.

“Rayden.”

“Ya, Tuan.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Rayden sudah terbiasa dengan kebiasaan bosnya yang sering berbicara seperlunya. Namun kali ini, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Tatapan Nial tampak lebih tajam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”

Rayden sedikit mengangkat alisnya. “Tentu, Tuan.”

Nial berjalan menuju meja kerjanya. Ia meletakkan kedua tangannya di atas permukaan meja marmer hitam, lalu menatap Rayden dengan ekspresi datar.

“Carikan aku seorang wanita.”

Rayden berkedip sekali. Hanya sekali. Namun bagi seseorang yang mengenal Nial Percy, kalimat itu terdengar … tidak biasa. Sangat tidak biasa.

“Seorang wanita?” ulang Rayden dengan hati-hati.

“Ya.” Nial menjawab singkat, seolah permintaan itu adalah hal paling normal di dunia.

Rayden berdehem pelan. “Maaf, Tuan … apakah maksud Anda—”

“Untuk kebutuhan pribadi.”

Jawaban itu datang cepat. Dan sangat jelas.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Rayden benar - benar kehilangan kata - kata. Bukan karena permintaan itu aneh.

Banyak pria kaya melakukan hal seperti itu.

Namun Nial Percy bukanlah salah satu dari mereka. Selama bertahun - tahun bekerja dengannya, Rayden belum pernah melihat bosnya berkencan dengan siapapun.

Tidak ada wanita yang datang atau pergi dari hidupnya. Hanya rumor - rumor yang sengaja dibuat oleh media. Pria itu seolah hidup hanya untuk pekerjaannya.

Tapi kenapa mendadak ia meminta hal itu?

Rayden segera menggeleng. Sebagai pria dewasa, tentu bosnya ini juga butuh menyalurkan h*sratnya.

“Apakah ada kriteria khusus, Tuan?” tanya Rayden akhirnya.

Nial bersandar sedikit di kursinya. “Tentu saja.”

Rayden menghela napas dalam hati. Ia sudah menduga.

“Wanita itu harus dewasa,” kata Nial tenang. “Bukan seseorang yang masih bermain - main dengan emosi.”

Rayden mengangguk, mencatat secara mental.

“Dia harus lincah.”

“B–baik.”

“Dan dia tidak boleh datang hanya karena uang.”

Rayden berhenti. Ia menatap Nial sejenak. “Maaf, Tuan … tapi biasanya wanita dengan tipe seperti ini memang datang karena uang.”

Nial menatapnya tanpa ekspresi. “Itulah sebabnya aku memintamu mencarinya.”

Rayden menghela napas kecil. Permintaan ini jelas tidak mudah.

“Apakah wanita itu harus tahu siapa Anda?”

Nial berpikir sejenak. “Tidak harus.”

“Dan jika dia tahu?”

“Itu tidak masalah.”

Rayden menyilangkan tangannya. “Dengan kata lain … Anda menginginkan seorang wanita yang cukup menarik untuk datang, tapi tidak cukup tertarik pada uang Anda?”

“Kurang lebih begitu.”

Rayden hampir tersenyum. Hampir. “Tuan,” katanya akhirnya, “saya tidak yakin wanita seperti itu benar - benar ada.”

Nial hanya menatapnya datar. “Kalau begitu temukan yang paling mendekati.”

Rayden mengangguk. “Baik, Tuan.”

Percakapan itu seharusnya berakhir di sana. Namun tepat saat Rayden keluar dari ruang kerja, ia tidak menyadari bahwa seseorang berdiri beberapa meter dari pintu—di koridor yang sepi.

Seorang wanita.

Wanita itu bersandar santai di dinding, kedua tangannya menyilang di depan dada.

Rambut panjangnya jatuh lembut di bahu.

Gaun hitam dengan tali tipis membingkai tubuhnya dengan elegan, membuatnya terlihat seperti bagian dari dunia glamor yang sama dengan para pengusaha elit di gedung ini.

Queen Lexian Arresta.

Ia sebenarnya ingin menemui temannya yang bekerja di gedung sebelah. Namun, karena salah membaca papan nama di lobi, ia justru masuk ke gedung ini dan naik ke lantai eksekutif.

Saat ia melangkah ragu menyusuri koridor untuk turun, langkahnya terhenti; ia tidak sengaja mendengar potongan percakapan rahasia dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Dan sekarang … Ia menatap Rayden yang baru saja keluar dari ruangan itu.

“Permisi.”

Rayden berhenti berjalan. Ia menoleh, sedikit terkejut melihat seorang wanita berdiri di sana.

“Ya?”

Queen tersenyum tipis. “Aku tidak sengaja mendengar percakapan Anda.”

Rayden langsung waspada. “Percakapan apa?”

Queen mengangkat bahu santai. “Yang tentang ... mencari seorang wanita untuk seseorang di dalam sana.”

Rayden terdiam. Beberapa detik. Tatapannya berubah lebih tajam. “Maaf, Nona. Itu percakapan pribadi dengan bos saya.”

"Begitu ya?" Queen tertawa kecil. “Tenang saja, aku tidak berniat menyebarkannya.”

Rayden tetap menatapnya dengan hati - hati.

“Kalau begitu…?”

Queen memiringkan kepalanya sedikit.

“Aku hanya penasaran.”

“Penasaran?”

“Ya.” Matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. “Pria seperti apa yang membuat Anda terdengar begitu serius saat mencarikan wanita untuknya?”

Rayden hampir tertawa. “Percayalah, Nona … Anda tidak ingin tahu.”

“Oh?” Queen melangkah mendekat sedikit. “Justru sekarang aku semakin ingin tahu.”

Rayden menghela napas. Wanita ini jelas tipe yang suka mencari masalah.

“Bos saya bukan pria yang suka bermain - main.”

“Bagus.” Queen menjawab cepat. “Aku juga tidak suka bermain - main.”

Rayden mengerutkan kening. “Apa sebenarnya maksud Anda?”

Queen tersenyum. “Jika kau benar - benar sedang mencari wanita untuknya…” Ia berhenti sejenak. Lalu berkata dengan nada santai, “Mungkin kau tidak perlu mencari terlalu jauh.”

Rayden menatapnya. Beberapa detik, dan kemudian ia menyadari sesuatu. “Anda tidak sedang mengatakan bahwa—”

“Aku tertarik.”

Rayden menghela napas panjang. “Tertarik pada uangnya?”

Queen tertawa kecil. “Aku bahkan belum pernah bertemu langsung dengannya.”

“Lalu?”

Queen mengangkat bahu. “Hanya ingin mencoba.”

Rayden menatap wanita itu lama. Ia tidak tahu apakah harus menganggapnya serius atau tidak. Namun satu hal yang pasti … Wanita ini jelas tidak terlihat seperti seseorang yang melakukan sesuatu karena uang.

Rayden akhirnya berkata pelan, “Anda mungkin akan menyesal, Nona.”

Queen hanya tersenyum lebih lebar. “Mungkin.”

Lalu ia berkata tenang, “Tapi aku tetap ingin mencobanya.”

Rayden menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Sekali lagi, tatapannya menilai, mengukur, mencoba menebak apakah wanita di hadapannya ini hanya bercanda … atau benar-benar serius.

Koridor lantai eksekutif malam itu sangat sepi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.

“Nama Anda?” tanya Rayden akhirnya.

Queen mengangkat alis tipisnya. “Langsung ke wawancara?”

Rayden tidak tersenyum. “Jika Anda benar-benar serius, saya perlu tahu dengan siapa saya berbicara.”

Queen memperhatikannya sejenak, lalu menjawab santai. “Queen.”

“Queen…—?”

“Queen Lexian.”

Rayden mengangguk pelan, menyimpan nama itu dalam ingatannya. “Dan Anda datang ke gedung ini untuk…?”

“Menemui seorang teman,” jawab Queen ringan. Tak berniat menjelaskan lebih lanjut tentang dirinya yang salah alamat.

“Baiklah, Nona,” Rayden akhirnya mengambil keputusan. “Jika Anda berubah pikiran, ini kesempatan terakhir untuk pergi.”

Queen menatapnya lurus. “Aku tidak akan berubah pikiran secepat itu.”

Rayden menatapnya beberapa detik lagi, lalu menghela napas pendek. “Baiklah.” Ia berbalik menuju pintu besar di belakangnya. “Tunggu di sini.”

Queen menyandarkan punggungnya ke dinding lagi dengan santai. “Baik.”

Rayden pun membuka pintu ruang kerja Nial dan masuk kembali.

Di dalam ruangan, Nial sudah duduk di kursinya. Ia sedang membaca sesuatu di layar tablet di tangannya. Namun begitu Rayden masuk, pria itu langsung mengangkat pandangannya.

“Ada hal lain yang perlu ditanyakan?”

“Emm, itu ... begini Tuan....”

Alis Nial sedikit terangkat. “Ada apa?”

Rayden berhenti beberapa langkah dari meja. “Ada seorang wanita di luar.”

Tatapan Nial berubah sedikit lebih tajam. “Cepat sekali, Rayden.”

Rayden menahan napas sejenak sebelum menjawab. "Dia tidak sengaja mendengar sebagian percakapan kita.”

Keheningan turun di ruangan itu. Nial menatapnya tanpa ekspresi. “Dan?”

“Dia menawarkan diri.”

Beberapa detik berlalu. Tidak ada perubahan besar di wajah Nial, tetapi Rayden tahu bosnya sedang berpikir.

“Apa alasannya?”

“Rasa penasaran dan ingin mencoba, katanya.”

Nial menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Nama?”

“Queen Lexian.”

Tatapan Nial tetap tenang. “Menurutmu?”

Rayden berpikir sejenak. “Dia tidak terlihat seperti seseorang yang melakukan ini karena uang.”

“Semua orang punya alasan.”

“Benar, Tuan.”

Nial mengetuk meja dengan ujung jarinya sekali. “Dia tahu siapa aku?”

“Tidak secara langsung.”

Hening.

Rayden menunggu. Beberapa detik kemudian, Nial akhirnya berkata, “Bawa dia masuk!”

Bab 2

Sembari menunggu Rayden keluar, Queen membuka peramban di ponselnya. Ia mengetikkan dua kata kunci: Ceo Percy Group.

Hanya butuh 0,3 detik bagi mesin pencari untuk memunculkan ribuan hasil. Queen menggeser layarnya dengan cepat.

Nial Percy (32). CEO Percy Group. Pengusaha Muda Paling Berpengaruh Tahun Ini.

Dikenal sebagai "The Ice King" di dunia korporat karena metodenya yang tanpa kompromi dan kehidupan pribadinya yang tertutup rapat. Kekayaan bersih diperkirakan mencapai miliaran dolar.

Queen menekan bagian gambar. Sederet foto Nial dalam balutan jas custom-made muncul. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, tulang pipi tinggi, dan mata yang menatap kamera dengan intensitas yang hampir bisa dirasakan melalui layar.

Pria itu tampan, tapi dengan cara yang berbahaya—seperti predator yang sedang mengamati mangsanya.

"Jadi, ini pria yang butuh bantuan asistennya hanya untuk mencari teman tidur?" gumam Queen sinis.

Drrtt!

Ponsel di tangannya bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: “Mom”.

Queen menarik napas kecil sebelum menjawab.

“Halo, Mom.”

Suara wanita paruh baya di ujung sana terdengar lembut—namun cukup tegas.

"Queen, kau di mana sekarang?"

“Masih di luar.”

“Jangan pulang terlalu malam.”

Queen tidak menjawab langsung. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini akan ke mana.

Benar saja.

“Kau ingat besok malam ada makan malam keluarga?”

Queen memejamkan mata sebentar. “Yang mana?”

“Jangan pura-pura lupa.”

Nada suara ibunya berubah sedikit lebih serius. “Makan malam dengan keluarga Tuan Armand.”

Queen menahan napas. Nama itu lagi.

Seorang pengusaha kaya raya yang usianya hampir dua puluh tahun lebih tua darinya. Pria yang ingin dijadikan suaminya.

“Mom…”

“Ini bukan hal yang bisa kau hindari terus,” potong ibunya, tegas. “Keluarga kita sudah membicarakan ini sejak lama.”

Queen menatap kosong layar ponselnya. “Aku bahkan belum melihatnya sama sekali.”

“Justru itu tujuan makan malam besok.”

Queen menghela napas pelan. Ia memandangi foto Nial Percy yang masih terbuka di layar ponselnya.

Seorang CEO muda, dingin, dominan. Sudah pasti berbeda jauh dari pria yang ingin dijodohkan dengannya.

“Queen?” suara ibunya terdengar lagi.

“Iya, Mom.”

“Datanglah besok malam. Jangan mempermalukan keluarga.”

Panggilan itu berakhir beberapa detik kemudian.

Queen tetap berdiri di tempatnya, menatap layar ponselnya dalam diam. Rasa kesal perlahan naik di dadanya.

Perjodohan.

Rencana keluarga.

Pria yang bahkan tidak ia inginkan.

Ia terkekeh pelan pada dirinya sendiri. “Pantas saja aku ingin melakukan hal gila malam ini.”

Ia melirik lagi foto Nial Percy di layar. Tatapan dingin pria itu terlihat menantang bahkan dari gambar.

Queen segera mengunci layar ponselnya. Matanya kembali tenang.

Jika ia memang harus menghadapi kehidupan yang sudah diatur orang lain…

Malam ini setidaknya ia ingin melakukan sesuatu atas keputusannya sendiri.

Tepat saat itu, pintu ruang kerja terbuka kembali.

Rayden muncul di ambang pintu.

“Silakan masuk, Nona. Bos saya ingin menemui Anda.”

Queen memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”

***

Queen melangkah masuk ke ruang kerja itu dengan tenang. Begitu pintu tertutup di belakangnya, suasana ruangan langsung terasa berbeda.

Lampu hangat dari langit - langit memantul di permukaan meja marmer hitam yang besar di tengah ruangan. Dan di balik meja itu—

Nial Percy berdiri.

Bukan duduk seperti sebelumnya. Seolah ia sengaja ingin melihat wanita yang baru saja masuk itu dengan lebih jelas.

Tatapan mereka langsung bertemu. Untuk sesaat, Queen merasa sedikit aneh.

Baru beberapa menit yang lalu ia melihat foto pria ini di layar ponselnya, dan sekarang ia berdiri tepat di depannya. Harus ia akui … pria ini bahkan terlihat lebih mengintimidasi secara langsung.

Di sisi lain, Nial menatap Queen dari ujung kepala hingga kaki, tanpa berusaha menyembunyikan penilaiannya.

Gaun hitam bertali tipis yang dikenakan Queen membingkai tubuhnya dengan elegan. Rambut panjangnya jatuh lembut di bahunya, sementara ekspresinya tetap tenang—seolah ia benar-benar tidak merasa terintimidasi berada di ruangan seorang CEO yang terkenal dingin itu.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Rayden berdiri di samping pintu, memperhatikan keduanya dengan hati - hati.

Akhirnya Nial berbicara.

“Jadi kau wanita yang tadi dimaksud Rayden.”

Queen sedikit mengangkat alis. “Dan Anda Nial Percy.” Nada suaranya terdengar santai. Seolah ia tidak sedang berbicara dengan salah satu pria paling berpengaruh di kota ini.

Sudut bibir Nial bergerak sedikit. Bukan senyum. Lebih seperti ketertarikan kecil.

Queen menyilangkan lengannya santai. “Aku disini untuk menjawab permintaan Anda.”

Tatapan Nial menjadi lebih tajam. “Aku tidak pernah meminta wanita datang sendiri ke kantorku.”

“Benarkah?” Queen memiringkan kepalanya sedikit. “Tapi Anda memang sedang mencarinya.”

Rayden menahan napas kecil di belakang mereka.

Nial melangkah keluar dari balik meja.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hingga akhirnya ia berhenti hanya beberapa langkah dari Queen.

Perbedaan tinggi mereka cukup terasa sekarang.

Nial lebih tinggi hampir satu kepala. Dan aura dominan pria itu terasa jauh lebih kuat dari jarak sedekat ini.

“Rayden bilang kau penasaran, dan ingin mencoba,” katanya pelan.

“Ya.”

“Penasaran tentang apa?”

Queen menatapnya tanpa ragu. “Pria seperti apa yang harus menyuruh asistennya mencarikan teman tidur untuknya.”

“Hey!” Rayden tersentak.

Selama tujuh tahun bekerja untuk Nial Percy, ia telah menghadapi berbagai macam orang—mulai dari kolega bisnis yang licik hingga wanita yang mencoba merayu bosnya—tapi belum pernah ada yang seberani ini. Kalimat Queen bukan sekadar pertanyaan; itu adalah sebuah ejekan terang-terangan yang menghantam harga diri Nial.

“Jaga ucapan Anda, Nona! Anda tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Lancang sekali—”

“Rayden.”

Suara Nial tidak keras, namun sanggup memotong kalimat Asistennya itu seketika.

“Biarkan dia!” ucap Nial pelan, matanya tidak sekalipun beralih dari Queen. “Aku lebih suka kejujuran yang tajam daripada kepura-puraan yang manis.”

Queen hanya diam. Sementara Nial kembali ke meja kerjanya, menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Tatapannya yang sedingin es kini terkunci pada Queen, seolah sedang membedah isi kepala wanita itu.

“Apa alasan sebenarnya?” tanya Nial tiba-tiba.

Queen mengerutkan alis kecil. “Alasan?”

“Kau tidak terlihat seperti wanita yang melakukan hal impulsif tanpa alasan.”

Queen terdiam sebentar. Ia teringat panggilan telepon ibunya beberapa menit lalu.

Perjodohan.

Makan malam keluarga.

Ia tersenyum tipis. “Mungkin karena aku sedang kesal.”

“Kesal? pada siapa?”

“Itu ... privasi.”

Jawaban itu membuat Rayden mengangkat alis.

Namun Nial menatap Queen lebih dalam.

“Kesal sampai menawarkan diri kepada pria asing?”

Queen menatapnya lurus. “Anda bukan pria asing lagi. Aku sudah mencari tahu tentang Anda di internet.”

"Oh ya ampun." Rayden hampir tersedak.

“Dan?” tanya Nial.

Queen mengangkat bahu. “Anda terkenal.”

“Semua orang tahu itu.”

“Dan juga cukup tampan untuk membuat keputusan gilaku malam ini tidak terlalu buruk.”

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Rayden benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Namun Nial justru tertawa kecil. Tawa yang sangat jarang terdengar darinya.

“Rayden.”

“Ya, Tuan.”

“Pulanglah.”

Rayden berkedip. “Tuan?”

“Aku tidak membutuhkanmu lagi malam ini.”

Rayden menatap Queen sebentar, lalu kembali ke Nial. Ia mengerti maksud perintah itu.

“Baik, Tuan.”

Bab 3

"Ikut aku!" ucap Nial, rendah.

Dia berjalan menuju sudut ruangan, di mana sebuah panel kayu yang tampak seperti bagian dari dinding bergeser saat ia menekannya. Di baliknya, terdapat sebuah pintu minimalis tanpa gagang. Itu adalah akses menuju private suite miliknya—ruang istirahat yang tidak pernah dimasuki oleh siapa pun, bahkan Rayden sekalipun.

Queen terdiam di tempatnya. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ini adalah momen yang ia cari—sebuah pelarian ekstrem untuk mengacaukan rencana ibunya—tapi saat kenyataan itu berdiri tegak di depannya dalam wujud pria sedominan Nial, rasa gugup mulai merayap naik ke tenggorokannya.

Jemarinya yang memegang tas kecil bergetar halus. Ia tahu persis apa yang ada di balik pintu itu. Ia yang menawarkan diri, ia yang memancing singa ini keluar dari kandangnya, namun sekarang lututnya terasa sedikit lemas.

Nial berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit saat menyadari Queen belum bergerak.

"Kenapa? Rasa penasaranmu tiba - tiba hilang?"

Queen menelan ludah. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, meski napasnya mulai pendek. "Tentu saja tidak."

Ia melangkah maju. Setiap ketukan hak sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur. Saat ia melewati ambang pintu, aroma maskulin yang lebih pekat—campuran antara linen bersih dan mask—menyambutnya.

Kamar itu luas, dengan ranjang king size yang didominasi warna abu-abu gelap dan jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota New York dari ketinggian lantai 50.

Nial menutup pintu di belakang mereka dengan bunyi klik yang halus namun terdengar sangat intimidatif bagi Queen.

Pria itu berbalik, lalu mulai melepas kancing manset kemejanya dengan gerakan santai namun penuh tekanan.

"Kau tampak gugup," observasi Nial datar. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Queen bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya.

"Aku hanya ... tidak terbiasa dengan ruangan sesunyi ini," kilah Queen, suaranya sedikit bergetar.

Ia mencoba menjaga tatapan matanya tetap berani, namun ia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa aura Nial saat ini jauh lebih berbahaya daripada saat di meja kerja tadi.

Nial berhenti tepat di depan Queen. Tangannya terangkat, perlahan menarik tali tipis gaun hitam Queen di bahu kirinya, membiarkannya merosot sedikit.

"Tadi kau begitu lantang bertanya pria seperti apa aku ini," bisik Nial di dekat telinga Queen, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Sekarang, aku akan memberimu jawaban yang tidak akan kau temukan di internet."

Nial menyapukan jemarinya di sepanjang tulang rahang Queen yang menegang. "Kau yang datang ke sini. Kau yang menawarkan diri,  Jadi, jangan harap aku akan membiarkanmu keluar dari kamar ini sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan."

Queen merasakan desakan adrenalin yang bercampur dengan rasa takut yang memikat. Ia memejamkan mata sejenak, membuang bayangan wajah ibunya dan Tuan Armand jauh-jauh.

Malam ini, ia bukan lagi putri penurut keluarga Aressta.

"Lakukan," perintah Nial.

Queen memejamkan matanya rapat - rapat. Ia meremas kerah kemeja Nial dengan gagah berani—atau setidaknya, ia mencoba terlihat berani dan langsung mencium bibir Nial.

Nial mengerang rendah. Ia menyambar pinggang Queen, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang menuntut, panas, dan dominan.

Nial mengangkat tubuh Queen dengan mudah, membawa wanita itu menuju ranjang king size yang dingin.

Saat punggungnya menyentuh seprai sutra abu - abu yang halus, kenyataan menghantam Queen seperti ember berisi air es.

Ini benar-benar terjadi.

Ia, Queen Lexian, sang porselen mahal keluarga Aressta, sedang berada di ranjang CEO paling dingin se-ibu kota. Dan ini adalah yang pertama kalinya baginya.

Tiba-tiba, keberanian yang dipicu oleh amarah pada ibunya menguap entah ke mana, digantikan oleh kepanikan murni. Pikirannya mendadak kosong, kecuali satu fakta: ia tidak tahu harus berbuat apa.

Nial menindihnya, menumpu berat tubuhnya dengan kedua lengan yang kokoh. Napasnya memburu, dan tatapannya begitu intens hingga Queen merasa seolah sedang dipindai oleh sinar X.

Tangan Nial terangkat, hendak menelusuri ritsleting di punggung gaun Queen. Namun...

"T-TUNGGU!" seru Queen tiba-tiba, suaranya melengking ngeri. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Nial, menahan pria itu agar tidak mendekat.

Nial membeku. Jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. Alisnya terangkat tinggi, ekspresi dominannya perlahan berubah menjadi kebingungan total.

"Ada apa?" tanya Nial, suaranya berat dan berbahaya, tapi ada nada keheranan di sana.

Queen menelan ludah dengan susah payah. Matanya bergerak liar ke sekeliling kamar, mencari ide apa saja untuk menunda momen ini. "Itu ... Tuan Percy..."

"Nial," koreksi pria itu datar.

"Iya, Nial. Maksudku ... bukankah ini ... terlalu cepat?" Queen memaksakan sebuah senyum kaku yang terlihat seperti ringisan kesakitan.

Nial menatapnya datar. "Bukankah sudah seharusnya."

"Itu ... itu tidak!" ucap Queen panik. Ia bisa merasakan hawa panas dari tubuh Nial, dan itu membuatnya semakin gugup. "Maksudku, kita ... kita tidak bisa langsung ... melakukannya."

"Kenapa tidak?" Nial menyipitkan mata, mulai curiga.

"Karena ... karena kita belum melakukan pemanasan!" seru Queen riang, seolah baru saja menemukan solusi paling brilian sedunia.

Nial terdiam. Satu detik. Dua detik.

"Pemanasan?" tanyanya, suaranya datar namun ada nada geli yang tertahan. Ia menatap Queen seolah wanita itu baru saja menyarankan agar mereka membangun roket ke bulan sekarang juga.

"Iya! Pemanasan!" Queen mengangguk antusias, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Kau tahu, seperti di gym. Kita ... kita harus menyiapkan otot-otot kita agar tidak kram. Ini masalah kesehatan dan keselamatan kerja."

Nial menatap tangan Queen yang masih menempel di dadanya, lalu kembali menatap mata wanita itu. "Kau ingin kita ... stretching?"

"Bukan cuma stretching!" Queen melepaskan tangannya dari dada Nial dan mulai melakukan gerakan memutar bahu yang kaku di atas bantal. "Kita harus meningkatkan detak jantung dulu. Bagaimana kalau ... bagaimana kalau kita jumping jack? Lima puluh kali! Itu bagus untuk sirkulasi darah."

Nial menatap Queen lekat. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun Rayden bekerja dengannya, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai The Ice King, Nial Percy merasa dadanya bergetar karena keinginan kuat untuk tertawa terbahak-bahak.

Tantangan gairah yang tadi membara di matanya perlahan luluh kedinginan, digantikan oleh rasa geli yang luar biasa. Wanita ini ... gila. Tapi gila yang ... menyegarkan.

Nial menahan senyumnya kuat-kuat, mempertahankan karakter dinginnya walau sudut bibirnya sedikit berkedut. Ia perlahan bangkit dari atas tubuh Queen, duduk di pinggir ranjang dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan.

"Kau ingin jumping jack?" tanya Nial pelan, menoleh ke arah Queen yang masih sibuk memutar-mutar pergelangan tangannya di atas ranjang.

Queen berhenti bergerak. Ia menatap Nial dengan tatapan harap-harap cemas. "Iya. Itu ... itu akan membuat kita lebih rileks. Percayalah padaku."

"Hentikan gerakan konyol itu," ucap Nial, suaranya kembali dingin dan datar, namun ada kilat tajam di matanya.

Queen berhenti bergerak. Ia menarik gaunnya yang tersingkap, mencoba duduk meski dengan jarak yang cukup dekat dari Nial. "Aku tidak bercanda. Ini demi keamanan—"

"Berapa banyak pria yang sudah menyentuhmu sebelum ini?" potong Nial telak.

Pertanyaan itu menghantam Queen seperti godam. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar. Kepalanya refleks menggeleng kuat, sebuah reaksi spontan yang jauh lebih jujur daripada kata-kata apa pun yang bisa ia susun.

Nial memperhatikan reaksi itu. Ia menyipitkan mata, menelisik setiap inci ekspresi ketakutan dan kepolosan yang terpancar dari wajah wanita yang tadi begitu berani menawarkan diri di meja kerjanya.

"Jangan bertingkah seolah ini yang pertama bagimu," desis Nial, mencoba memancing kejujuran di balik topeng 'wanita pemberontak' yang dipakai Queen.

Queen menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memucat. Ia menunduk, tidak berani menatap mata elang pria di sampingnya. Keberanian yang tadi ia kumpulkan untuk melawan ibunya benar-benar telah luluh lantah.

"Memangnya ... memangnya sangat kelihatan?" gumam Queen sangat pelan, suaranya hampir hilang tertelan kesunyian kamar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!