Indonesia
NovelToon NovelToon

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Tragedi di Atas Panggung Turnamen

Sambil menyuapkan sepotong kue beras kukus ke mulut anak kecil di sampingnya,

seorang wanita berjubah biru muda menyeka sisa tepung di pipi anak itu.

"Makanlah pelan-pelan, Chen'er," bisik Mu Xue dengan suara lembut, mengusap

helai rambut hitam putranya.

Di sampingnya, seorang anak laki-laki berusia enam tahun mengunyah dengan cepat

sambil menatap lurus ke arah panggung batu di tengah arena. "Apakah Ayah akan

bertarung setelah ini?" tanya Luo Chen dengan mata bulatnya yang berbinar,

menatap pria gagah yang duduk tenang di sisi kanan ibunya.

Dengan tawa kecil yang rendah, pria bertubuh tegap itu mengulurkan tangan

kasarnya untuk menepuk bahu kecil sang anak. "Dua pertandingan lagi, Chen'er,"

sahut Luo Hao, mengarahkan pandangannya ke arah dua praktisi muda yang kini

tengah bersiap di atas area pertarungan. "Perhatikan baik-baik bagaimana mereka

mengalirkan energi Qi ke kaki."

Dua orang murid cabang kelima klan Luo melompat maju ke tengah panggung batu,

memicu kepulan debu tipis di bawah kaki mereka. Salah satu dari mereka

mengayunkan pedang kayu berlapis besi, melepaskan "Seni Tebasan Angin Puyuh"

yang memancarkan riak energi hijau transparan setebal dua sentimeter dari mata

pedangnya.

Satu hantaman keras terdengar saat murid kedua menepis tebasan itu menggunakan

perisai kayu yang diperkuat energi Qi berwarna cokelat tanah. Benturan tersebut

menyebarkan tekanan angin kecil yang berdesir hingga ke barisan kursi penonton

di bagian depan.

"Ayah, kenapa aliran energinya tidak stabil?" tanya Luo Chen sambil menarik

ujung jubah ayahnya, menunjuk ke arah murid berbaju hijau yang mulai

terengah-engah setelah melepaskan serangan ketiga.

Sambil mengusap kepala putranya, Luo Hao memberikan penjelasan dengan nada datar

namun jelas. "Dia terlalu cepat menghabiskan energinya di awal tanpa

memperhitungkan sisa napas. Seorang praktisi yang baik harus tahu kapan harus

menahan dan kapan harus melepaskan."

"Dengarkan kata ayahmu, Chen'er," sela Mu Xue merapikan lipatan jubah

suaminya yang sedikit kusut. "Kultivasi bukan hanya tentang kekuatan murni,

tetapi juga tentang ketenangan pikiran."

Suara lantang dari arah panggung utama memotong pembicaraan keluarga kecil

tersebut, memanggil nama petarung berikutnya yang harus segera bersiap.

"Pertandingan perebutan posisi sepuluh besar cabang utama! Luo Hao dari cabang

utama melawan Luo Jun dari cabang ketiga!"

"Giliranmu, Hao," bisik Mu Xue dengan tatapan mata yang mendadak lurus menatap

suaminya, tangannya menggenggam erat jemari Luo Hao selama beberapa detik.

Dengan anggukan pelan, Luo Hao melepaskan genggaman tersebut dan berdiri dari

kursi kayunya. "Jaga Chen'er di sini. Pertandingan ini tidak akan berlangsung

lama."

"Berjanjilah untuk tidak memaksakan diri, Ayah!" seru Luo Chen

melambaikan tangan kecilnya saat melihat sosok ayahnya mulai berjalan menuruni

tangga tribun penonton.

Langkah kaki tegap Luo Hao bergema pelan saat ia melangkah naik ke atas panggung

batu berukuran dua puluh meter persegi tersebut. Di ujung panggung yang

berlawanan, sesosok pria berkaus abu-abu dengan sepasang belati pendek di

pinggangnya sudah berdiri menunggu dengan tangan bersilang di depan dada.

Di atas panggung yang mulai sunyi, kedua petarung saling berhadapan dalam jarak

sepuluh langkah. "Lama tidak bertemu, Kakak Sepupu," ujar Luo Jun dengan senyum

miring yang memperlihatkan deretan giginya. "Kudengar kultivasimu sudah mencapai

ranah Inti Emas tahap empat."

Dengan wajah tanpa ekspresi, Luo Hao membiarkan energi keemasan mulai berpendar

tipis di permukaan kulitnya. "Gunakan seluruh kemampuanmu sejak awal, Luo Jun.

Aku tidak ingin membuang waktu di sini."

"Sombong seperti biasanya," desis Luo Jun mencabut kedua belati

pendeknya, mengalirkan energi Qi berwarna hijau tua yang memancar tipis dari

bilah logam tajam tersebut.

Dua bilah angin transparan melesat cepat saat Luo Jun mengibaskan tangannya ke

depan, membelah udara kosong menuju dada lawannya. Serangan pembuka itu bergerak

sangat cepat, meninggalkan garis putih samar di udara arena.

Sambil memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan, Luo Hao membiarkan bilah angin

pertama lewat hanya beberapa sentimeter dari bahunya. Di saat yang sama, ia

mengangkat lengan kirinya, memicu "Seni Perisai Emas Pelindung" yang memunculkan

dinding energi keemasan setebal lima sentimeter untuk mementalkan bilah angin

kedua dengan suara dentang logam yang keras.

Dan pertempuran pun pecah dengan intensitas yang meningkat pesat dalam hitungan

detik. Luo Jun menerjang maju bagai bayangan hijau, melepaskan puluhan tebasan

cepat yang mengarah ke titik-titik vital di tubuh lawannya.

Namun, setiap serangan belati tersebut hanya membentur pelindung emas yang

menyelimuti tubuh Luo Hao. "Kecepatanmu meningkat, tetapi bobot seranganmu

terlalu ringan," komentar Luo Hao menggeser kaki kirinya ke belakang,

menghindari tebasan menyilang yang mengarah ke lehernya.

"Jangan hanya menghindar, Hao!" teriak Luo Jun melompat mundur sejauh

tiga meter untuk mengambil jarak, napasnya mulai terdengar memburu dengan cepat.

Dengan gerakan tangan yang tenang namun bertenaga, Luo Hao membentuk segel satu

tangan, mengaktifkan "Jurus Tapak Emas Penghancur". Energi kuning keemasan yang

sangat pekat langsung memadat di atas kepala Luo Jun, membentuk cetakan telapak

tangan raksasa berdiameter satu meter yang menekan udara di sekitarnya hingga

memunculkan retakan kecil di permukaan panggung batu.

Melihat tekanan energi raksasa itu runtuh ke arahnya, Luo Jun segera

menyilangkan kedua tangannya di atas kepala untuk memicu "Seni Dinding Batu

Pertahanan". Lapisan energi berwarna cokelat keruh setebal sepuluh sentimeter

segera terbentuk, mencoba menahan hantaman tapak emas raksasa tersebut.

Suara ledakan tumpat yang sangat keras mengguncang seluruh arena pertarungan

saat kedua energi berbeda warna itu berbenturan hebat. Serpihan energi yang

hancur terlontar layaknya pecahan kaca tajam, menggores permukaan batu panggung

dan meninggalkan bekas parit-parit kecil sedalam beberapa milimeter di bawah

kaki mereka.

Dari arah tribun penonton, Luo Chen mencondongkan tubuhnya ke depan pembatas

kayu, menatap jalannya pertarungan dengan cemas. "Ibu, apakah Ayah sudah

menang?" tanyanya lirih menggenggam erat lengan baju Mu Xue.

"Belum, Chen'er," jawab Mu Xue dengan pandangan mata yang tidak sedetik pun

beralih dari panggung batu. "Pertarungan belum selesai sebelum lawan benar-benar

jatuh."

Di tengah panggung yang diselimuti debu tebal, Luo Jun berlutut dengan satu

kaki, menyeka darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya menggunakan punggung

tangan. "Sialan," umpatnya menatap Luo Hao yang masih berdiri tegak tanpa

luka sedikit pun di tubuhnya.

"Kau tidak akan bisa menang dengan tingkat kultivasi seperti itu, Luo Jun," ujar

Luo Hao memutar pergelangan tangannya perlahan. "Menyerahlah."

"Menyerah?" Luo Jun tertawa serak, suaranya terdengar penuh keputusasaan

sekaligus kebencian yang mendalam. "Dalam kamus cabang ketiga klan Luo, tidak

ada kata menyerah di hadapan cabang utama yang selalu merasa paling tinggi!"

Sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, Luo Jun menyalurkan

"Seni Tusukan Bayangan Ungu". Pendaran energi ungu gelap yang sangat tipis dan

tidak biasa mendadak muncul di sela-sela jarinya, memancarkan aura dingin yang

asing dan langsung menusuk tulang siapa pun di sekitarnya.

Melihat fluktuasi energi yang sangat tidak stabil tersebut, Luo Hao mengerutkan

dahi dan segera mempertebal perisai emas pelindungnya hingga mencapai sepuluh

sentimeter. "Jurus apa itu?" tanyanya dengan nada yang mulai waspada.

"Jurus yang akan mengirimmu ke neraka, Hao!" pekik Luo Jun melepaskan

satu jarum kecil berwarna ungu gelap yang melesat keluar dari sela jarinya

dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara.

Suara benturan tajam berbunyi, Trak!

Jarum ungu gelap itu menabrak perisai emas milik Luo Hao, namun alih-alih

hancur, jarum tersebut justru melepaskan energi hitam pekat yang bersifat

korosif, melubangi lapisan pelindung emas dalam hitungan milidetik sebelum

menembus ulu hati Luo Hao tepat di titik tengah koordinat dantian miliknya

berada.

Suara erangan tertahan keluar dari tenggorokan Luo Hao saat tubuhnya mendadak

kaku, disusul dengan hilangnya seluruh pendaran cahaya emas yang menyelimuti

dirinya sejak awal pertarungan. Ia jatuh berlutut dengan kedua tangan menekan

dadanya yang mulai mengeluarkan darah hitam pekat.

Di atas panggung pertarungan, tubuh Luo Hao bergetar hebat sebelum akhirnya ia

roboh ke lantai batu dengan mata yang membelalak menahan rasa sakit luar biasa

dari pecahnya Inti Emas di dalam tubuhnya.

"Ayah!" teriak Luo Chen dengan suara melengking dari arah tribun, mencoba

melompati pembatas kayu sebelum akhirnya didekap erat oleh ibunya yang juga

mulai panik melihat kondisi suaminya yang mendadak tumbang.

"Hao!" teriak Mu Xue menggendong putranya, berlari menuruni tangga tribun

dengan langkah yang tergesa-gesa menuju ke arah panggung batu pertarungan.

Dari arah deretan kursi tetua, seorang pria tua berambut putih panjang berdiri

dengan cepat, melompat turun dari panggung kehormatan dan melesat dalam satu

tarikan napas menuju tempat putranya terbaring. "Hentikan pertarungan!" teriak

Elder Luo Zhan seraya menempelkan telapak tangannya di punggung Luo Hao untuk

menyalurkan energi Qi murni, mencoba menahan kehancuran meridian putranya yang

menjalar cepat.

Dua orang penjaga panggung segera bergerak maju untuk menahan Luo Jun yang masih

berdiri tegak dengan senyum kemenangan yang sangat lebar di wajahnya. "Aku tidak

melanggar aturan apa pun, Tetua Agung," ujar Luo Jun dengan santai sambil

mengangkat kedua tangannya. "Senjata spiritual diperbolehkan dalam turnamen

ini."

"Dantian miliknya hancur," bisik Elder Luo Zhan dengan mata yang bergetar

menatap lantai panggung yang ternoda darah hitam, tangannya perlahan turun dari

punggung putranya yang kini mulai kejang-kejang. "Inti Emasnya... pecah menjadi

serpihan tanpa sisa."

"Jangan sentuh suamiku!" pekik Mu Xue yang baru saja sampai di atas panggung,

segera berlutut di samping tubuh suaminya yang dingin dan memeluk kepala Luo Hao

dengan erat.

Sambil menangis sesenggukan, Luo Chen kecil memegang erat tangan ayahnya yang

terus gemetar di atas lantai batu. "Ayah... bangunlah, Ayah... Chen'er ada di

sini..." tangisnya dengan suara yang serak karena terlalu banyak berteriak.

Di tengah keheningan arena yang mendadak mencekam, beberapa asisten tabib segera

membawa tandu kayu untuk mengevakuasi tubuh Luo Hao yang kini tidak lagi

memiliki sisa energi Qi sedikit pun di dalam tubuhnya—menandakan bahwa ia telah

berubah menjadi manusia fana yang lumpuh sepenuhnya.

Runtuhnya Sang Pilar Kehormatan

Para asisten tabib bergerak tergesa-gesa di sepanjang koridor batu,

membawa tandu kayu tempat tubuh Luo Hao terbaring kaku. Di belakang mereka, Mu

Xue melangkah cepat sambil mendekap erat tubuh kecil putranya yang masih menyeka

sisa air mata di pipi.

Di dalam ruang perawatan Paviliun Medis yang dingin, tubuh Luo Hao segera

dipindahkan ke atas ranjang batu putih. Tabib kepala klan langsung menempelkan

tiga jarinya di perisai nadi pergelangan tangan kiri pria tersebut, mengalirkan

energi Qi murni berwarna hijau lembut untuk memeriksa sisa meridian di dalam

tubuhnya.

"Bagaimana kondisinya, Tabib?" tanya Mu Xue dengan suara bergetar

meletakkan Luo Chen di lantai batu di samping ranjang.

Sambil menarik kembali tangannya, tabib kepala klan menggelengkan kepala

perlahan dengan wajah datar. "Racun korosif dari jarum spiritual itu telah

melelehkan seluruh jalur meridian utamanya. Tidak ada lagi energi Qi yang

mengalir di tubuhnya."

"Apakah tidak ada obat, Tabib? Pil tingkat tinggi? Pil Penyelamat Jiwa?" tanya

Mu Xue melangkah maju, memegang tepian ranjang batu dengan jemari yang

memucat.

"Tidak ada harapan lagi, Bahkan tabib yang tersohor pun tidak akan bisa membangun kembali dantian

yang telah meleleh," sahut tabib kepala klan dengan nada dingin dan objektif.

"Inti Emas miliknya telah pecah menjadi serpihan abu. Dia kini lumpuh total,

setara dengan manusia fana biasa tanpa sisa kultivasi sedikit pun."

Tangan kecil anak laki-laki di samping ranjang menggenggam erat jemari ayahnya

yang terasa dingin dan kaku. "Ayah akan sembuh, kan, Ibu?" tanya Luo Chen

mendongak menatap wajah ibunya yang pucat.

"Tentu saja, Chen'er," bisik Mu Xue berlutut dan merengkuh bahu kecil

putranya, mencoba menghentikan getaran di tubuh anak itu. "Ayah hanya perlu

beristirahat."

Suara langkah kaki yang berat dari arah pintu masuk mengalihkan perhatian

mereka.

Sambil mengepalkan kedua tangannya di belakang punggung, Tetua Agung Luo Zhan

melangkah masuk ke dalam ruang perawatan dengan jubah kebesarannya yang tampak

berdebu. Pandangan matanya yang tajam menatap lurus ke arah wajah putranya yang

kini memucat di atas ranjang batu. "Bagaimana laporan hasil pemeriksaannya,

Tabib?"

"Kondisinya permanen, Tetua Agung," jawab tabib kepala klan membungkuk

hormat. "Luo Hao tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi seumur hidupnya.

Bahkan untuk sekadar berdiri dan berjalan, ia akan membutuhkan bantuan orang

lain karena sebagian besar saraf motoriknya telah rusak akibat hantaman energi

hitam."

Mendengar hal itu, Luo Zhan memejamkan matanya selama beberapa detik, menarik

napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan. Kekecewaan yang mendalam

terpancar jelas dari garis-garis kerutan di wajahnya yang menua. "Klan utama

tidak bisa memiliki pewaris yang lumpuh," ujarnya dengan suara berat yang

bergema di dalam ruangan dingin tersebut.

"Ayah!" pekik Mu Xue berdiri tegak menghadap mertuanya. "Bagaimana bisa

Ayah memikirkan posisi pewaris di saat suamiku baru saja kehilangan kultivasinya

demi membela nama klan?"

"Ini adalah hukum klan, Mu Xue," sahut Luo Zhan tanpa memandang wajah

menantunya. "Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya. Tanpa kekuatan,

posisi Luo Hao di klan utama hanya akan menjadi sasaran empuk bagi cabang-cabang

lain yang ingin merebut kekuasaan."

Dari balik jubah ibunya, Luo Chen menatap kakeknya dengan pandangan dingin yang

tidak biasa bagi anak seusianya. "Kakek... apakah Kakek akan membuang Ayah?"

tanyanya dengan suara pelan namun terdengar jelas di tengah kesunyian ruangan.

"Kalian tidak dibuang, Chen'er," jawab Luo Zhan memandang cucunya sesaat

sebelum mengalihkan pandangan kembali ke pintu keluar. "Tetapi klan harus

membuat keputusan yang adil bagi seluruh anggota klan utama dan cabang."

Dua jam kemudian, di dalam Aula Pertemuan Utama klan Luo yang megah, puluhan

tetua dari berbagai cabang klan telah berkumpul mengelilingi meja batu

melingkar.

"Luo Hao kini hanyalah sampah manusia fana!" seru seorang tetua dari cabang

ketiga dengan nada suara yang meninggi. "Bagaimana mungkin klan utama terus

mendanai kehidupan seorang lumpuh dengan sumber daya berharga yang seharusnya

diberikan kepada murid-murid berbakat?"

"Dia terluka dalam turnamen resmi klan!" bantah seorang tetua pendukung faksi

utama seraya menggebrak meja batu. "Klan Luo tidak boleh terlihat membuang

pahlawannya begitu saja setelah dia tidak lagi berguna!"

"Pahlawan yang kalah bukanlah pahlawan," balas tetua cabang ketiga dengan

dengusan dingin. "Luo Jun memenangkan pertarungan secara sah. Aturan klan

menyatakan bahwa posisi pewaris harus diberikan kepada yang terkuat. Membiarkan

seorang lumpuh tinggal di paviliun utama hanya akan merusak reputasi klan Luo di

mata klan-klan tetangga."

Sambil mengetukkan tongkat kayunya ke lantai batu hingga menimbulkan suara

ketukan yang keras, Luo Zhan menghentikan perdebatan di dalam aula tersebut.

"Cukup. Aku, sebagai Tetua Agung klan utama, telah mengambil keputusan."

Keheningan seketika menyelimuti seluruh ruangan pertemuan saat para tetua

menunggu kalimat selanjutnya dari mulut sang pemimpin tertinggi.

"Demi menjaga stabilitas dan keadilan klan, Luo Hao resmi dicopot dari posisinya

sebagai pewaris utama," ujar Luo Zhan dengan nada suara yang datar dan tanpa

emosi. "Mulai hari ini, seluruh tunjangan spiritual dan fasilitas kediaman utama

untuk keluarganya akan dihentikan."

"Lalu di mana mereka akan tinggal, Tetua Agung?" tanya salah satu tetua dari

faksi netral.

"Mereka sekeluarga akan dipindahkan ke Desa Yin Yang yang terletak di kaki

Gunung Tiga Jari," jawab Luo Zhan berdiri dari kursi kebesarannya.

"Mereka akan diberikan sebuah kediaman di sana dan dilarang kembali ke area klan

utama tanpa izin tertulis dariku."

Suara bisik-bisik persetujuan terdengar dari kubu cabang ketiga yang tampak puas

dengan keputusan keras tersebut.

Keesokan paginya, di luar paviliun kediaman utama, dua kereta kuda sederhana

berstruktur kayu kasar telah menunggu di depan gerbang batu. Beberapa pengawal

klan mengawasi dengan pandangan dingin saat Mu Xue membantu memapah tubuh

suaminya yang terkulai lemas untuk naik ke atas kereta.

"Kita akan pergi ke mana, Ibu?" tanya Luo Chen memegang buntelan kain

berisi pakaian mereka yang tersisa.

"Kita akan pergi ke tempat yang lebih tenang, Chen'er," jawab Mu Xue

tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan wajah lelahnya di hadapan sang anak. "Di

sana kita bisa merawat ayahmu dengan lebih baik tanpa gangguan siapa pun."

Dengan tubuh yang bersandar lemas pada bantalan kursi kereta yang keras, Luo Hao

menatap tangan kanannya yang gemetar tanpa daya. "Maafkan aku, Mu Xue... aku

telah membuat kalian berdua terpuruk seperti ini," bisiknya dengan suara serak

yang hampir tenggelam oleh deru roda kereta yang mulai berjalan.

"Jangan katakan itu, Hao," sahut Mu Xue menggenggam tangan suaminya, lalu

menarik Luo Chen ke dalam pelukannya saat kereta mulai bergerak meninggalkan

gerbang megah klan utama yang perlahan mengecil di kejauhan.

Perjalanan melelahkan itu berlangsung selama satu hari penuh melalui jalan

setapak berbatu yang kasar dan berdebu. Roda kereta terus berguncang keras,

membuat tubuh Luo Hao berulang kali meringis menahan sakit akibat gesekan

sarafnya yang rusak.

Hingga akhirnya, kereta kuda tersebut berhenti di sebuah area terbuka yang

dikelilingi oleh pepohonan liar di kaki gunung yang menjulang tinggi dengan tiga

puncak runcing.

"Kita sudah sampai," ujar kusir kereta dari luar dengan nada suara yang tidak

ramah membukakan pintu kayu kereta. "Turunlah. Ini adalah batas wilayah

yang bisa dilalui oleh kereta klan."

Sambil menggendong Luo Chen turun terlebih dahulu, Mu Xue memandang ke arah

bangunan yang ditunjuk oleh sang kusir.

Sebuah gubuk kayu reyot dengan atap jerami yang sebagian telah membusuk berdiri

di atas tanah berlumpur di pinggiran Desa Yin Yang. Dinding-dinding kayunya

tampak berlubang di beberapa bagian, menyisakan celah lebar yang bisa dimasuki

oleh embusan angin malam yang dingin.

"Ini tempat tinggal kita?" tanya Luo Chen menatap gubuk tersebut dengan

dahi berkerut, tangannya memegang erat ujung jubah ibunya yang kini mulai kotor

terkena cipratan lumpur jalanan.

"Iya, Chen'er," jawab Mu Xue menarik napas panjang, menatap bangunan

reyot di depannya dengan pandangan mata yang tegas. "Mulai hari ini, ini adalah

rumah baru kita."

Dua pengawal klan segera menurunkan buntelan pakaian mereka ke atas tanah

berlumpur sebelum membantu memindahkan tubuh Luo Hao dari dalam kereta dan

membaringkannya di atas ranjang kayu tua di dalam gubuk tanpa sepatah kata pun.

Begitu tugas mereka selesai, kereta kuda tersebut segera berputar arah dan

melaju cepat kembali menuju arah kota klan utama, meninggalkan kepulan debu

tipis yang perlahan turun menutupi area di sekitar gubuk kayu reyot tersebut.

Di dalam gubuk yang pengap, Luo Hao menatap langit-langit jerami yang berlubang

dengan pandangan kosong. "Tempat ini... bahkan tidak layak untuk dihuni oleh

hewan ternak klan utama," bisiknya lirih dengan air mata yang perlahan mengalir

dari sudut matanya yang kering.

"Kita akan memperbaikinya bersama, Hao," ujar Mu Xue sambil mulai membersihkan

debu tebal di atas meja kayu tua menggunakan saputangan kainnya yang tersisa.

"Selama kita bertiga bersama, tempat ini akan menjadi rumah yang layak bagi

kita."

Sambil melangkah mendekati ranjang ayahnya, Luo Chen meletakkan buntelan pakaian

mereka di sudut ruangan yang kering sebelum menggenggam kembali tangan dingin

sang ayah. "Chen'er akan menjadi kuat, Ayah," bisiknya dengan nada suara yang tenang dan tegas untuk anak seusianya. "Chen'er akan melindungi Ayah dan

Ibu di tempat ini."

Luka yang Belum Pulih

Malam pertama di gubuk kayu reyot itu terasa sangat panjang bagi keluarga kecil

yang terusir dari klan utama.

Sambil merapatkan selimut tipis berlubang ke dada suaminya, seorang wanita

mencoba merapikan jerami yang menjadi alas tidur mereka. "Cobalah untuk tidur,

Hao," bisik Mu Xue mengusap kening Luo Hao yang terasa panas akibat

demam.

Dengan suara lirih dan serak, pria yang kini tidak lagi memiliki kekuatan itu

menatap kegelapan di atas langit-langit gubuk. "Tempat ini... sangat dingin

untukmu dan Chen'er. Aku benar-benar tidak berguna sekarang."

"Jangan berbicara seperti itu," sahut Mu Xue menarik Luo Chen ke dalam

pelukannya untuk membagi kehangatan tubuh mereka yang tersisa. "Kita masih

hidup, dan itu adalah hal yang paling penting saat ini."

Beberapa bulan bergulir dengan lambat di kaki Gunung Tiga Jari, membawa

penderitaan yang semakin nyata bagi keluarga tersebut. Tabungan koin emas yang

mereka bawa dari kediaman utama habis dalam waktu singkat demi membeli

obat-obatan pereda nyeri untuk jalur meridian Luo Hao yang rusak.

Dari arah luar gubuk, kepulan asap tipis dari tungku tanah liat mulai membubung

tinggi setiap pagi hari.

Sambil membawa sebaskom besar pakaian kotor milik warga Desa Yin Yang, Mu Xue

melangkah menuju ke sungai kecil di pinggiran hutan dengan tangan yang mulai

mengeras dan memerah akibat detergen murah. "Aku pergi mencuci dulu, Chen'er.

Jaga ayahmu baik-baik di rumah," ujarnya berpamitan pada putranya yang

berdiri di ambang pintu gubuk.

"Iya, Ibu," jawab Luo Chen membawa sebuah ember kayu kecil, berniat

membantu mengambilkan air bersih dari sumur desa yang berjarak seratus meter

dari rumah mereka.

Di pinggiran sungai desa yang berbatu, beberapa anak laki-laki setempat yang

bertubuh lebih besar tampak sedang melempar kerikil ke dalam air.

"Lihat, anak si sampah lumpuh dari gunung datang!" teriak seorang anak laki-laki

bertubuh gempal yang dikenal sebagai Hu San menunjuk ke arah kedatangan

Luo Chen. "Hei, anak buangan! Apakah ayahmu hari ini masih mengompol di atas

ranjangnya?"

"Jangan mendekatinya, Hu San," sahut temannya yang bertubuh kurus dengan tawa

mengejek yang keras. "Nanti kau bisa tertular penyakit lumpuhnya. Kudengar

ayahnya adalah sampah klan yang diusir karena kalah bertarung."

Dengan tenang, anak berusia enam tahun itu terus berjalan melewati mereka tanpa

mengalihkan pandangan dari ember kayunya. Ia tidak membalas ejekan tersebut,

juga tidak menunjukkan kemarahan di wajahnya yang bersih, hanya terus melangkah

dengan ritme kaki yang konstan.

Satu dorongan keras mendarat di bahu kanan Luo Chen hingga membuatnya terhuyung

dan menjatuhkan ember kayunya ke atas tanah berlumpur. "Kenapa kau diam saja,

hah?" tanya Hu San berdiri menghalangi jalan anak itu dengan tangan

bersilang di dada. "Kudengar kau dulu adalah tuan muda di kota. Tunjukkan pada

kami bagaimana gaya seorang tuan muda klan Luo saat marah!"

"Permisi, aku harus mengambil air untuk ayahku," ujar Luo Chen dengan suara

pelan dan datar membungkuk untuk memungut ember kayunya yang kotor

terkena lumpur.

"Ambil air ini saja!" teriak Hu San menendang ember kayu tersebut hingga

menggelinding masuk ke dalam sungai yang mengalir deras. "Keluarga sampah

sepertimu tidak pantas menggunakan sumur desa!"

Sambil berdiri dan menatap ember kayunya yang perlahan hanyut terbawa arus

sungai, Luo Chen menarik napas panjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia

membalikkan tubuhnya dan memutuskan untuk kembali ke gubuk tanpa air,

mengabaikan sorakan kemenangan dari kelompok anak-anak desa yang terus

melemparinya dengan lumpur kering dari belakang.

Dua jam setelah kejadian di sungai, Luo Chen tiba di halaman gubuknya yang sepi,

namun langkah kakinya mendadak terhenti di dekat jendela kayu yang terbuka

lebar.

Suara pecahan tembikar terdengar nyaring dari dalam ruangan gubuk, disusul

dengan aroma arak murah yang menyengat hidung.

"Hentikan, Hao!" teriak Mu Xue dengan suara yang serak karena menangis, mencoba

merebut sebuah botol arak tanah liat dari tangan suaminya. "Kau terus meminum

racun murah ini setiap hari! Uang dari hasil mencuci pakaian warga hanya cukup

untuk membeli beras, bukan untuk mendanai kecanduanmu!"

"Lalu apa yang harus kulakukan, Mu Xue?" balas Luo Hao dengan teriakan yang

penuh keputusasaan dengan memukuli ranjang kayunya menggunakan tangan kanan yang

gemetar tanpa tenaga. "Aku hanya seonggok daging tak berguna di atas ranjang

ini! Setiap kali aku menutup mata, aku melihat wajah Luo Jun dan jarum ungu

sialan itu hancur dalam kepalaku!"

"Tetapi kau masih memiliki aku dan Chen'er!" pekik Mu Xue menyembunyikan

wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang kasar, bahunya naik turun dengan

cepat akibat tangisan yang tertahan. "Apakah kau ingin melihat putramu tumbuh

besar tanpa seorang ayah yang peduli pada masa depannya?"

Sambil melangkah masuk ke dalam gubuk dengan perlahan, Luo Chen menutup pintu

kayu reyot di belakangnya sebelum berjalan mendekati ranjang kedua orang tuanya.

"Jangan bertengkar lagi, Ibu... Ayah..." bisik Luo Chen memeluk lutut

ibunya yang masih berlutut di atas lantai tanah yang dingin.

Dengan napas terengah-engah dan mata yang memerah akibat pengaruh alkohol, Luo

Hao menatap putranya dengan pandangan yang kosong dan penuh rasa bersalah yang

mendalam. "Chen'er... maafkan ayahmu yang tidak berguna ini..."

"Ibu, jangan menangis lagi," ujar Luo Chen menyeka air mata di pipi

ibunya menggunakan lengan bajunya yang kasar. "Aku berjanji akan berlatih keras

setiap hari di hutan. Kelak, aku pasti akan membalaskan dendam Ayah kepada Luo

Jun!"

Mendengar nama tersebut diucapkan oleh putranya yang baru berusia enam tahun,

tubuh Luo Hao mendadak kaku dengan mata yang melebar penuh kengerian. "Apa yang

kau katakan?" tanyanya dengan suara yang mendadak meninggi dan bergetar hebat.

"Aku akan membalas dendam kepada Luo Jun," ulang Luo Chen dengan pandangan mata

yang lurus dan tegas, penuh dengan tekad yang tidak goyah.

"Jangan pernah sebut nama itu lagi!" teriak Luo Hao dengan kemarahan yang

meluap-luap, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di keningnya menonjol

keras. "Kau hanyalah anak kecil! Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia kultivasi!

Menyebut namanya hanya akan membawa kematian bagi kita semua!"

Suara pecahan botol arak kembali terdengar keras saat Luo Hao menyapu sisa botol

tanah liat di samping ranjangnya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai,

serpihan tajamnya hampir mengenai kaki kecil putranya.

"Pergi dari sini! Jangan pedulikan aku !" teriak Luo Hao

menunjuk ke arah pintu luar dengan tangan yang bergetar hebat. "Jangan pernah

kembali ke gubuk ini sebelum kau melupakan nama bajingan itu!"

Sambil menatap ayahnya yang masih mengamuk di atas ranjang, Luo Chen merasakan

matanya mulai memanas dan berair. Ia melepaskan pelukannya pada ibunya, berbalik

arah dengan cepat, dan berlari keluar melewati pintu gubuk yang terbuka lebar.

Langkah kaki kecil Luo Chen bergerak cepat menerobos rimbunnya semak-semak liar di belakang gubuk, masuk semakin dalam ke dalam hutan lebat yang terletak di kaki Gunung Tiga Jari. Air mata mengalir deras di pipinya saat ia terus berlari tanpa arah, mengabaikan duri-duri semak yang sesekali menggores lengan dan kakinya yang telanjang.

Hingga akhirnya, anak laki-laki itu jatuh terduduk di bawah sebuah pohon bambu besar yang rindang, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya seraya menangis dengan suara yang teredam di tengah kesunyian hutan yang dingin.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!