Indonesia
NovelToon NovelToon

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Bab 1. Awal Mula

Matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Sukamaju, tapi Bumi sudah berdiri di depan cermin retak yang menggantung di dinding anyaman bambu rumahnya. Rumah peninggalan orang tuanya itu sudah tampak ringkih. Atapnya banyak yang bocor kalau hujan, dan tiang penyangganya sudah agak miring. Bumi menghela napas pendek, lalu membenarkan posisi kaos oblongnya yang sudah mulai pudar warnanya.

"Bumi! Woii, Bumi! Udah siap belum?" teriak sebuah suara dari luar pagar.

Bumi bergegas melangkah keluar, mengunci pintu kayu rumahnya yang sudah agak seret. Di depan pagar, berkacak pinggang seorang pria paruh baya dengan handuk kecil melingkar di leher. Itu Pak Joko, mandor bangunan di desa mereka.

"Eh, Pak Joko. Sudah, Pak. Ini baru aja mau keluar," jawab Bumi sambil tersenyum sopan.

"Ya sudah, ayo cepat. Hari ini material semen sama batako datang. Tenaga kamu sangat dibutuhin buat ngangkut ke dalam gang. Kuat, kan?" tanya Pak Joko sambil berjalan mendahului.

"Siap, Pak. Kuat kok. Kan yang penting sarapannya tadi sudah banyak," seloroh Bumi.

"Halah, kamu ini. Sarapan pakai apa rupanya?"

"Nasi sisa semalam digoreng pakai garam aja, Pak. Sama teh anget. Alhamdulillah kenyang."

"Sabar ya, Bum. Namanya juga hidup. Yang penting kamu itu tekun, gak milih-milih kerjaan. Gak kayak anak muda zaman sekarang, maunya kerja kantoran tapi malas nyari," puji Pak Joko sambil menepuk pundak Bumi.

"Hahaha, saya mah apa atuh, Pak. Gak punya ijazah tinggi. Kerja apa aja yang penting halal dan bisa buat makan besok."

Sesampainya di lokasi proyek pembangunan rumah salah satu warga kaya di Desa Sukamaju, sebuah truk engkel bermuatan penuh sudah menunggu. Debu jalanan beterbangan saat angin berembus.

"Nah, itu dia kenek andalan kita datang!" seru Kang maman, salah satu tukang bangunan senior.

"Wah, Kang Maman bisa aja. Mana nih yang harus diturunin duluan?" tanya Bumi sambil menggulung lengan kaosnya.

"Itu batako di bak belakang. Tolong estafet ya sama si Dani. Tapi kamu yang di bawah, kuat gak ngangkatnya sendirian dari bak?"

"Bisa, Kang. Selow aja. Sudah biasa."

Dani, pemuda seusia Bumi yang juga ikut kerja serabutan, naik ke atas bak truk. "Bum, siap-siap ya! Ini agak berat, agak basah soalnya kena embun tadi malam."

"Oke, Dan. Lempar pelan-pelan aja, jangan langsung diguyur kayak air," canda Bumi.

"Satu... dua... tangkap!" Dani mulai menurunkan batako satu per satu.

Bumi menerima batako-batako itu dengan cekatan. Otot lengan dan punggungnya yang terbentuk karena kerja keras sehari-hari tampak menegang. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya, membasahi kaos oblongnya yang langsung berubah warna menjadi lebih gelap.

"Bum, istirahat dulu gih. Udah tiga puluh menit kamu gak berhenti," teriak Pak Joko dari kejauhan sambil membawa segelas kopi.

"Bentar, Pak. Tanggung, tinggal dikit lagi yang di pojok bak ini," sahut Bumi tanpa menghentikan gerakannya.

"Kamu ini bener-bener ya. Gak ada capeknya. Anak yatim piatu kayak kamu ini malah biasanya mentalnya lebih baja dibanding yang punya orang tua lengkap tapi dimanja," bisik Kang Maman yang sedang mengaduk semen di dekatnya.

Bumi tersenyum tipis mendengar ucapan Kang Maman. "Gak ada pilihan lain, Kang. Kalau saya manja, rumah warisan bapak bisa roboh menimpa saya pas tidur."

"Iya juga sih. Tapi kamu gak pernah ngeluh ya? Saya perhatiin dari dulu senyum terus."

"Ngeluh gak bikin batako ini pindah sendiri, Kang. Mending dibawa happy aja."

"Bener juga omonganmu. Nih, minum dulu," Dani melemparkan sebotol air mineral dingin setelah bak truk benar-benar kosong.

"Wah, makasih, Dan. Segar bener," ucap Bumi setelah meneguk air itu sampai tinggal setengah.

Siang harinya, setelah makan siang darurat berupa nasi bungkus warung tegal, Pak Joko menghampiri Bumi yang sedang meluruskan kakinya di bawah pohon rindang.

"Bum, ini upah kamu buat hari ini. Maaf ya, cuma bisa ngasih segini. Soalnya anggarannya emang lagi ketat dari yang punya rumah," kata Pak Joko sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang sudah agak lusuh.

Bumi menerima uang itu, menghitungnya sekilas, lalu mengangguk bersyukur. "Alhamdulillah, Pak. Ini lebih dari cukup buat beli beras sama lauk beberapa hari ke depan. Makasih banyak ya, Pak."

"Iya, sama-sama. Besok kayaknya di sini gak ada bongkar muatan lagi. Kamu ada kerjaan lain?"

"Belum tahu, Pak. Paling nanti sore saya mau keliling desa, nanya-nanya kalau ada yang butuh bantuan."

"Oh, iya. Tadi pagi saya dengar Pak Haji Somad lagi nyari orang buat nyabit rumput di lahan belakang rumahnya. Katanya udah tinggi-tinggi banget, mengganggu pemandangan. Coba kamu ke sana nanti."

"Wah, info bagus itu, Pak. Makasih ya, Pak. Habis ashar saya coba ke rumah Pak Haji."

Sesuai rencana, sore harinya Bumi sudah berjalan kaki menuju rumah Pak Haji Somad yang berada di ujung Desa Sukamaju. Di bahunya tersampir sebuah sabit yang sudah diasah tajam, lengkap dengan karung goni besar.

"Assalamu’alaikum, Pak Haji!" seru Bumi dari balik pagar besi rumah Pak Haji Somad.

Tak lama, seorang pria tua berpeci putih keluar dari pintu samping. "Wa’alaikumussalam. Eh, Bumi. Ada apa, Bum?"

"Anu, Pak Haji. Tadi siang dapat kabar dari Pak Joko katanya lahan di belakang rumah Pak Haji rumputnya sudah tinggi ya? Saya mau nawarin jasa buat nyabit, Pak. Kalau boleh."

Pak Haji Somad melihat ke arah sabit dan karung yang dibawa Bumi, lalu tersenyum. "Kebetulan banget, Bum. Memang bapak lagi pusing nyari orang. Anak-anak muda sekarang kalau disuruh nyabit rumput puyeng katanya, takut gatal lah, takut cacing lah."

Bumi tertawa kecil. "Saya mah gak takut gatal, Pak Haji. Yang penting upah rumputnya halal."

"Ya sudah, langsung ke belakang aja. Itu lahannya luas loh ya, kamu sanggup sendirian menjelang magrib gini?"

"Sanggup, Pak Haji. Dapat setengahnya dulu juga gak apa-apa, besok pagi bisa saya lanjutin lagi."

"Oke, silakan. Kerjain serapih mungkin ya. Nanti masalah upah gampang, bapak gak bakal pelit sama orang rajin kayak kamu."

"Siap, Pak Haji. Terima kasih banyak."

Bumi mulai mengayunkan sabitnya ke arah rumput liar yang tingginya sudah mencapai lutut orang dewasa. Gerakannya konstan, berirama, dan sangat hati-hati agar tidak mengenai batu tersembunyi yang bisa merusak mata sabitnya.

"Bum! Bumi!" panggil sebuah suara perempuan dari arah dapur rumah Pak Haji.

Bumi menghentikan aktivitasnya, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Iya, Neng Siti? Ada apa?"

Siti, anak gadis Pak Haji Somad, berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi segelas teh manis hangat dan dua potong pisang goreng. "Ini, Kang Bumi. Kata bapak disuruh minum dulu. Capek kan baru datang langsung kerja keras begitu."

"Walah, ngerepotin aja, Neng. Makasih banyak ya," kata Bumi sambil meletakkan sabitnya di tanah.

"Nggak repot kok, Kang. Kebetulan emang lagi bikin buat bapak juga. Kang Bumi hebat ya, apa aja dikerjain. Kemarin saya lihat lagi bantu benerin jembatan desa, sekarang udah nyabit rumput lagi."

"Ya gimana lagi, Neng. Kalau gak gerak, dapur gak ngebul," jawab Bumi santai seraya mengambil pisang goreng yang masih hangat.

"Tapi rumah Kang Bumi yang di dekat mushola itu... apa gak mau dibetulin? Kemarin lewat sana, atapnya kayaknya udah ada yang melorot."

Bumi mengunyah pisang gorengnya, lalu tersenyum simpul. "Mau banget sih, Neng. Cuma celengannya belum cukup. Sekarang fokus buat makan sehari-hari dulu. Kalau rumah mah, selagi belum roboh total, masih bisa ditempatin."

"Kang Bumi kok bisa sesabar itu sih? Padahal sebatang kara, kerjaannya serabutan, rumahnya begitu..." Siti menatap Bumi dengan rasa kagum bercampur iba.

"Sabar itu kan gratis, Neng. Gak perlu bayar. Kalau saya ngamuk sama keadaan, emangnya keadaan bakal berubah jadi kaya raya dalam semalam? Kan nggak. Mending dijalanin aja dengan tekun, gusti Allah mboten sare."

"Iya juga sih. Kagum saya sama pemikiran Kang Bumi. Ya sudah, dilanjutin lagi Kang kerjanya. Tehnya dihabisin ya."

"Siap, Neng Siti. Makasih ya pisang gorengnya, enak banget."

Matahari makin merunduk, menyisakan semburat jingga di langit Desa Sukamaju. Bumi berhasil mengumpulkan dua karung penuh rumput liar, membuat lahan belakang rumah Pak Haji Somad tampak jauh lebih bersih dari sebelumnya.

"Pak Haji, ini sudah selesai sebagian besar. Karungnya saya taruh di pojok dekat kandang ya," lapor Bumi saat menemui Pak Haji Somad di teras depan.

"Wah, cepat banget kamu kerjanya, Bum. Bersih lagi," puji Pak Haji sambil memeriksa hasil kerja Bumi. "Ini upahmu, sekalian ada sedikit bonus buat beli lauk."

Pak Haji memberikan beberapa lembar uang kertas kepada Bumi. Jumlahnya ternyata lebih banyak dari perkiraan Bumi untuk kerja sesingkat itu.

"Loh, Pak Haji, ini kebanyakan uangnya," kata Bumi, berniat mengembalikan sebagian.

"Sudah, ambil saja. Jangan ditolak, itu rezeki kamu karena kerjaanmu bagus dan kamu anak yang jujur. Jarang ada pemuda setekun kamu di desa ini."

Bumi menunduk dalam, hatinya dipenuhi rasa syukur yang membuncah. "Terima kasih banyak, Pak Haji. Semoga berkah buat Pak Haji sekeluarga."

"Amin. Sudah, ganti baju sana, sebentar lagi magrib. Pulang ke rumah, istirahat."

"Baik, Pak Haji. Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumussalam."

Bumi berjalan pulang menyusuri jalanan setapak Desa Sukamaju yang mulai menggelap. Di tengah keterbatasan hidupnya, langkah kakinya tetap terasa ringan. Dia tahu hidup ini berat, tapi dia memilih untuk tetap sabar, tekun, dan menjalani hari-harinya apa adanya tanpa pernah mengeluh.

Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat

Pagi berikutnya, matahari Desa Sukamaju kembali bersinar terang. Bumi sudah berada di area sekitar pasar desa, memanggul cangkulnya. Rencananya hari ini ia ingin menawarkan jasa membersihkan selokan atau ladang milik warga pasar. Sambil berjalan, ia tersenyum ramah setiap kali berpapasan dengan tetangga yang dikenalnya. Namun, suasana tenang itu mendadak pecah saat ia melewati warung kopi di pojok pasar, tempat nongkrong favorit anak-anak muda desa yang pengangguran.

"Eh, liat tuh! Si kuli panggul abadi udah lewat!" teriak sebuah suara lantang yang sangat akrab di telinga Bumi.

Itu suara Doni, anak Kepala Desa Sukamaju. Doni sedang duduk menyilangkan kaki di bangku warung, dikelilingi oleh beberapa temannya dan dua orang gadis desa yang terkenal centil, berpenampilan menor dengan pakaian yang sok modis.

"Wah, pagi-pagi udah bawa cangkul aja, Bum. Mau gali kuburan sendiri ya?" timpal joni, salah satu kaki tangan Doni, disambut gelak tawa riuh dari yang lain.

Bumi menghentikan langkahnya sebentar, menoleh, lalu mengangguk sopan. "Selamat pagi, Don, Jon. Enggak, ini mau nyari kerjaan bakti atau bersihin ladang orang kalau ada yang butuh."

"Halah, sok rajin banget sih lu! Kerjaan serabutan aja bangga. Sampai mampus juga hidup lu bakal gitu-gitu aja, tinggal di rumah reot yang bentar lagi ambruk!" sahut Doni dengan nada sinis, matanya menatap Bumi dengan penuh kebencian.

"Iya ih, najis banget deh. Tiap hari baunya bau keringat melulu. Gak ada keren-kerennya jadi cowok," celetuk rina, salah satu gadis yang sedang asyik mengikir kukunya.

"Betul banget, Rin. Gak level banget sama kita-kita. Kulitnya aja udah dekil kayak aspal jalanan," tambah mita, temannya, sambil tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya dengan tangan yang memakai cincin imitasi.

Bumi hanya menghela napas pendek. Ia sudah sangat biasa menerima perlakuan seperti ini dari anak-anak muda seumurannya. Sifat sabarnya yang sudah terlatih sejak kecil membuatnya tidak mudah terpancing emosi.

"Ya gak apa-apa, Rin, Mit. Namanya juga cari nafkah yang halal, yang penting gak minta-minta atau ngerugiin orang lain," jawab Bumi dengan nada suara yang tetap tenang dan datar.

Mendengar jawaban Bumi yang begitu tenang, Doni justru makin naik pitam. Ia berdiri dari bangkunya, lalu melangkah menghampiri Bumi dengan berkacak pinggang. Tatapan matanya sangat sinis.

"Lu gak usah sok suci ya, Bum! Lu pikir gua gak tahu kelakuan lu kemarin sore?" gertak Doni, wajahnya mendekat ke wajah Bumi.

Bumi agak bingung. "Kelakuan yang mana, Don? Kemarin sore saya cuma nyabit rumput di belakang rumah Pak Haji Somad."

"Nah, itu dia! Lu sengaja kan nyari muka di depan Pak Haji? Terus lu godain Siti juga, kan? Pake acara makan pisang goreng bareng segala!" bentak Doni, nada suaranya meninggi, dipenuhi rasa cemburu yang membara.

"Oh, soal itu. Neng Siti cuma anterin minum sama camilan atas perintah Pak Haji, Don. Saya gak ada maksud menggoda sama sekali. Saya tahu diri siapa saya," jelas Bumi, berusaha meluruskan kesalahpahaman.

"Halah, bohong lu! Lu tuh cuma kuli sabit rumput miskin, gak usah mimpi ketinggian dapetin Siti! Siti itu cuma cocok sama gua, anak Kepala Desa! Bukan sama anak yatim piatu yang rumahnya kayak kandang kambing kayak lu!" teriak Doni sambil mendorong bahu Bumi cukup keras.

Bumi agak terhuyung ke belakang akibat dorongan itu, namun ia segera menyeimbangkan badannya. Cangkul di pundaknya diturunkan perlahan, diletakkan di tanah agar tidak membahayakan orang lain. Warga pasar yang lewat mulai menoleh ke arah mereka, tetapi tidak ada yang berani ikut campur karena tahu Doni adalah anak orang berkuasa di desa itu.

"Don, kalau kamu suka sama Neng Siti, ya silakan dekati baik-baik. Gak usah bawa-bawa status sosial saya, apalagi bawa-bawa mendiang orang tua saya," kata Bumi, kali ini dengan tatapan mata yang tegas namun tetap terkontrol, tanpa ada nada amarah yang meledak-ledak.

"Wah, berani lu ngelawan gua sekarang? Hebat ya lu semenjak dikasih perhatian sama Siti!" Joni ikut berdiri, memprovokasi suasana agar makin panas.

"Sudahlah, Don, Jon. Saya ke sini mau nyari kerja, bukan mau berantem. Permisi," ucap Bumi sambil kembali memungut cangkulnya, bersiap untuk pergi dari tempat itu.

"Heh, miskin! Jangan kabur lu! Dengerin ya, seisi desa ini juga tahu kalau lu itu cuma benalu di Desa Sukamaju! Gak punya masa depan!" teriak Doni lagi, masih berusaha memancing amarah Bumi.

Rina dan Mita kembali tertawa mengejek dari bangku warung. "Iya, mending pulang aja deh, Bum. Sadar diri, ngaca di air keruh sana! Hahaha!"

Bumi terus berjalan menjauh, mengabaikan segala makian dan tawa ejekan yang menggema di belakangnya. Di sepanjang jalan pasar, beberapa warga desa yang terkenal sombong dan bermulut tajam yang kebetulan mendengar keributan itu ikut menatap Bumi dengan pandangan merendahkan.

"Kasihan ya si Bumi, udah miskin, dihina-hina begitu tiap hari," bisik seorang ibu penjual sayur kepada temannya, namun suaranya cukup keras hingga terdengar oleh Bumi.

"Ya lagian dia gak tahu diri sih, berani-beraninya deketin Siti anak Pak Haji. Ya jelas Doni ngamuk lah," sahut temannya yang mengenakan kalung emas tebal di lehernya.

Bumi tetap melangkah dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, ia sama sekali tidak merasa dendam atau berniat membalas. Baginya, kata-kata kasar dan hinaan itu justru menjadi pengingat bahwa ia harus bekerja lebih keras lagi, lebih tekun lagi, agar bisa memperbaiki kehidupannya suatu saat nanti.

"Bumi! Eh, Bumi, tunggu dulu!" panggil seorang bapak-bapak paruh baya dari arah ladang jagung di pinggir pasar. Itu Pak jaya, salah satu petani di desa.

Bumi menoleh dan tersenyum. "Eh, Pak Jaya. Ada apa, Pak?"

"Itu... tadi bapak gak sengaja dengar si Doni ngomong kasar banget sama kamu di warung kopi depan. Kamu gak apa-apa, Bum?" tanya Pak Jaya dengan raut wajah khawatir sekaligus simpati.

"Gak apa-apa kok, Pak. Sudah biasa. Anggap aja angin lalu," jawab Bumi santai, sambil mengusap pelipisnya yang mulai terasa hangat oleh sinar matahari.

"Kamu ini bener-bener sabar ya, Bum. Kalau bapak jadi kamu, mungkin sudah bapak hantam si Doni pakai gagang cangkul itu. Sombong sekali itu anak, mentang-mentang bapaknya Kepala Desa," ketus Pak Jaya kesal sendiri.

"Hahaha, jangan, Pak. Nanti urusannya malah panjang sama hukum. Mending sabar aja. Hinaan mereka gak bikin saya kenyang, dan gak bikin saya makin miskin juga kok. Yang penting saya tetap kerja keras."

Pak Jaya menggeleng-gelengkan kepalanya, kagum dengan keteguhan hati pemuda di depannya ini. "Luar biasa kamu, Bum. Mental kamu benar-benar kuat. Oh ya, kamu tadi nyari kerjaan kan?"

"Iya, Pak. Kebetulan hari ini jadwal bangunan lagi kosong. Ada yang bisa saya bantu di ladang Bapak?" tanya Bumi dengan mata yang berbinar penuh harap.

"Itu, saluran irigasi di ujung ladang jagung bapak mampet gara-gara tumpukan lumpur sama sampah daun kering. Kamu bisa tolong bersihin pakai cangkulmu itu? Nanti bapak upah sewajarnya."

"Wah, bisa banget, Pak! Jangankan lumpur, rumput liar juga saya babat kalau ada. Di sebelah mana jalurnya, Pak?"

"Ayo ikut bapak ke belakang. Sekalian nanti kalau sudah selesai, ada sisa panen singkong, kamu bawa pulang aja buat direbus di rumah."

"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Pak Jaya. Rezeki emang gak kemana," ucap Bumi dengan tulus.

Sambil berjalan mengikuti Pak Jaya menuju area ladang, Bumi kembali memikirkan kata-kata Doni dan gadis-gadis tadi. Hinaan mereka sama sekali tidak mengurangi rasa percaya dirinya. Bagi Bumi, setiap kata merendahkan yang ia terima hari ini adalah bahan bakar untuk membuatnya tetap bertahan, bekerja secara tekun, dan membuktikan pada dirinya sendiri bahwa anak seorang yatim piatu yang serabutan pun bisa hidup mandiri dengan terhormat tanpa harus mengemis pada siapapun.

"Nah, ini dia jalurnya, Bum. Agak panjang ya, sampai ke pembatas desa sebelah," kata Pak Jaya sambil menunjuk parit kecil yang dipenuhi lumpur hitam.

"Siap, Pak Jaya. Ini mah gampang. Bapak tinggal tunggu beres aja, biar saya yang selesaikan semuanya sampai airnya lancar lagi," jawab Bumi penuh semangat, langsung mengayunkan cangkulnya ke dalam parit, memulai pekerjaannya hari itu dengan hati yang lapang dan damai.

Bab 3. Fitnah yang Kejam

Malam baru saja larut di Desa Sukamaju. Bumi baru selesai membersihkan badannya setelah seharian penuh mencangkul parit di ladang Pak Jaya. Di dalam rumah peninggalan orang tuanya yang reyot, ia baru saja menyalakan lampu minyak kecil. Namun, ketenangan malam itu mendadak pecah ketika suara derap langkah kaki beramai-ramai terdengar mendekati gubuknya, diiringi teriakan-teriakan penuh amarah.

"Keluar lu, Bumi! Keluar! Jangan sembunyi lu maling!" teriak Doni dari luar pagar, suaranya menggelegar membelah keheningan malam.

Bumi yang kaget langsung membuka pintu kayunya yang seret. Di halaman rumahnya, sudah berkumpul puluhan warga yang dipimpin oleh Doni dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa di antara mereka membawa obor dengan wajah memerah menahan geram.

"Eh, ada apa ini, Don? Kenapa ramai-ramai ke rumah saya malam-malam begini?" tanya Bumi bingung, menatap kerumunan warga.

"Halah, gak usah sok polos lu, Bum! Rumah bokap gua, baru aja kerampokan! Perhiasan emas sama uang kas desa di lemari ilang semua!" bentak Doni sambil menunjuk muka Bumi dengan kasar.

"Innalillahi... kok bisa, Don? Tapi, apa hubungannya sama saya? Saya seharian di ladang Pak Jaya, baru pulang pas magrib tadi," jelas Bumi, berusaha tetap tenang walau jantungnya mulai berdegup kencang.

"Gak usah banyak alesan lu! Joni, geledah gubuk reotnya ini! Periksa semuanya sampai ketemu!" perintah Doni pada anak buahnya.

Joni dan dua orang pemuda lain langsung menerobos masuk ke dalam rumah Bumi. Mereka mengacak-acak kasur tipis, melempar pakaian Bumi yang hanya sedikit, dan membuat seisi ruangan berantakan. Tak lama kemudian, Joni keluar dengan senyum culas sambil mengangkat sebuah kotak beludru merah dan seikat uang tebal.

"Ketemu, Don! Bener kan kata lu, barangnya disembunyiin di bawah tumpukan baju dekilnya!" seru Joni lantang agar didengar semua warga.

Warga yang melihat barang bukti itu langsung riuh. Sebagian besar warga yang memang pro kepada Doni dan ayahnya langsung tersulut emosinya.

"Wah, bener-bener gak tahu diri lu, Bum! Udah ditampung di desa ini malah maling!" teriak salah seorang warga pendukung Doni.

Bumi terbelalak menatap kotak merah itu. "Demi Allah, Don! Itu bukan punya saya! Saya gak pernah megang barang itu, apalagi masuk ke rumah Kepala Desa! Saya dijebak!"

"Halah! Bukti udah jelas ada di rumah lu, masih mau ngelak lu? Dasar maling! Bakar aja sekalian rumahnya biar desa kita bersih dari sampah kayak dia!" hasut Doni kepada massa.

Seseorang melemparkan obor menyala ke arah atap rumbia gubuk Bumi. Dalam sekejap, api langsung berkobar melahap bangunan kayu yang sudah kering dan lapuk tersebut. Bumi hanya bisa menatap nanar tempat tinggal satu-satunya peninggalan orang tuanya hancur menjadi abu dalam hitungan menit.

"Jangan! Kenapa dibakar, Pak? Saya beneran gak salah!" jerit Bumi, matanya berkaca-kaca menatap kobaran api.

"Gak usah banyak bacot lu! Seret dia ke balai desa! Arak!" perintah Doni kejam.

Joni dan beberapa warga langsung meringkus kedua lengan Bumi. Mereka menyeret Bumi menyusuri jalanan desa yang berbatu. Sepanjang jalan, Bumi dipaksa berjalan dengan kepala tertunduk, diarak seperti seorang kriminal kelas berat. Beberapa warga yang terhasut bahkan tega melayangkan pukulan dan tendangan ke tubuh Bumi.

"Ngaku gak lu? Ngaku lu yang maling!" bentak seorang warga sambil mendaratkan pukulan di pipi Bumi hingga sudut bibirnya berdarah.

Bumi meringis kesakitan, rasa perih menjalar di sekujur tubuhnya, namun tatapan matanya tetap lurus. "Saya tidak bersalah, Pak. Saya bersumpah saya tidak mengambil uang itu."

"Masih keras kepala juga lu ya!" Doni ikut menendang punggung Bumi dari belakang hingga pemuda itu tersungkur di tanah berbatu. "Ayo bangun! Jangan akting lu!"

Di antara kerumunan yang beringas, sebenarnya ada beberapa warga yang berdiri di pinggir jalan dengan tatapan iba dan tidak percaya. Pak Jaya dan Kang Maman yang baru tiba di lokasi langsung berusaha menerobos kerumunan.

"Heh, Don! Berhenti dulu! Jangan main hakim sendiri begini! Kasihan si Bumi!" teriak Pak Jaya mencoba melerai.

"Pak Jaya gak usah ikut campur! Barangnya ketemu di dalam gubuknya sendiri kok! Udah jelas dia pelakunya!" sahut Doni ketus.

"Tapi saya tahu betul Bumi, Don! Dia seharian kerja sama saya sampai sore, gak mungkin dia punya waktu buat merampok rumah Kepala Desa!" bela Pak Jaya dengan nada tinggi.

"Bisa aja dia suruhan orang, atau dia ngelakuinnya pas magrib! Pokoknya hukum harus ditegakkan!" potong Joni memprovokasi warga lain.

"Iya, betul! Siksa aja sampai ngaku! Bikin malu Desa Sukamaju aja!" seru warga yang pro-Doni.

Arak-arakan itu akhirnya sampai di halaman depan balai desa yang terang benderang. Bumi dipaksa berlutut di atas tanah yang dingin, dikelilingi oleh lingkaran warga yang marah. Tubuhnya sudah penuh memar dan pakaiannya robek di beberapa bagian.

"Bumi, dengar ya. Mending lu ngaku sekarang di depan semua orang, biar pukulan ini berhenti!" ancam Doni sambil menjambak rambut Bumi agar mendongak.

Bumi menahan rasa sakit di kepalanya, menatap langsung ke mata Doni dengan keteguhan yang luar biasa. "Mau dipukuli sampai mati pun, Don... saya tetap akan bilang kalau saya tidak bersalah. Karena mencuri itu dosa besar, dan saya tidak melakukannya."

"Lu bener-bener nantangin gua ya!" Doni mengangkat tangannya, bersiap melayangkan pukulan lagi.

"Stop! Doni, berhenti!" sebuah teriakan melengking menghentikan gerakan tangan Doni.

Siti berlari kencang dari arah rumahnya, menerobos kerumunan warga bersama Pak Haji Somad. Wajah Siti tampak pucat dan matanya berkaca-kaca melihat kondisi Bumi yang mengenaskan.

"Siti? Ngapain kamu ke sini malam-malam? Ini urusan kriminal, kamu masuk rumah aja," kata Doni, mendadak melunakkan suaranya.

"Kamu yang apa-apaan, Don! Kenapa Kang Bumi dipukuli sampai kayak gini? Memangnya kamu punya bukti kuat?" tanya Siti dengan suara bergetar karena marah dan sedih.

"Bukti? Tuh, kotak perhiasan emas bokap gua sama uang kas desa ketemu di rumahnya sendiri! Kurang kuat apa lagi?" jawab Doni bangga sambil menunjuk barang bukti yang dipegang Joni.

Pak Haji Somad melangkah maju, memeriksa kotak beludru merah tersebut, lalu menatap Bumi yang masih berlutut bersimbah darah.

"Bumi, bapak tanya sama kamu dengan jujur. Apa benar kamu yang mengambil barang-barang ini dari rumah Kepala Desa?" tanya Pak Haji Somad dengan nada bicaranya yang tenang namun berwibawa.

Bumi menatap Pak Haji Somad, air matanya menetes pelan mengalir di sela darah di pipinya. "Pak Haji, demi Allah yang memegang jiwa saya... saya tidak pernah menyentuh atau mengambil barang-barang itu. Saya dijebak, Pak Haji. Seseorang menaruh barang itu di rumah saya tanpa sepengetahuan saya."

"Tuh kan, Pak Haji! Maling mana ada yang mau ngaku! Jangan dipercaya, Pak Haji!" seru Joni memotong.

"Diam kamu, Jon! Saya tidak sedang bicara dengan kamu!" bentak Pak Haji Somad tegas, membuat Joni langsung terbungkam.

Siti mendekati Bumi, mengabaikan tatapan sinis dari Doni. "Kang Bumi, saya percaya Kang Bumi gak mungkin ngelakuin ini. Saya tahu betul sifat Kang Bumi."

"Makasih, Neng Siti... tapi gak apa-apa. Biar Gusti Allah yang tahu kebenarannya," bisik Bumi lirih, tubuhnya mulai lemas akibat luka-luka yang dideritanya.

"Don, bawa urusan ini ke jalur hukum yang benar besok pagi. Serahkan ke pihak berwajib, jangan main hakim sendiri sampai membakar rumah orang begini. Ini sudah keterlaluan!" tegas Pak Haji Somad kepada Doni.

Doni mendengus kesal, menyadari bahwa kehadiran Pak Haji Somad dan pembelaan beberapa warga mulai membuat massanya ragu. "Ya sudah! Malam ini kita kurung dia di sel balai desa dulu! Besok pagi baru kita bawa ke kantor polisi biar dia membusuk di penjara!"

Beberapa warga pro-Doni langsung menarik tubuh Bumi yang sudah tidak berdaya, menyeretnya masuk ke dalam ruang tahanan kecil di belakang balai desa. Sementara itu, malam yang pekat di Desa Sukamaju meninggalkan puing-puing rumah Bumi yang masih membara, menyimpan misteri dari sebuah fitnah kejam yang sengaja dirancang untuk menghancurkan hidup pemuda sabar tersebut.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!