Namanya Anya. Dia anak dari dirman dan narti. Anya mempunyai dua saudara laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bernama aryan, dan perempuan bernama revi. Anya adalah anak bungsu dari 3 saudara. Karna tuntutan kerja dikantor pusat. Akhirnya dia ditugaskan ke tempat lain, di Kantor cabang.
"Jaga diri baik-baik ya, Nak. Jangan lupa makan teratur," ucap Narti sambil menggenggam tangan Anya.
Dirman menepuk bahu putri bungsunya. "Bapak bangga sama kau. Kerja yang baik, tapi jangan maksakan diri."
Aryan dan Revi juga ikut mengantar. Mereka berusaha menyembunyikan rasa sedih dengan candaan, agar suasana tidak semakin berat.
"Kalo pulang nanti, jangan lupa bawain oleh-oleh," kata Aryan sambil tersenyum.
Revi memeluk adiknya erat. "Kalo ada apa-apa, cerita ya. Jangan dipendam sendiri."
Anya hanya mengangguk. Ia tersenyum menanggapi ucapan keluarganya. Anya paham, selama ini dia tidak pernah pisah dengan keluarganya. Karna tuntutan kerja, akhirnya dia harus di pindahkan tempat lain.
Mobil yang jemput Anya akhirnya datang juga. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum walau hatinya sakit harus berpisah dengan keluarganya. Perjalanan menuju kos hanya sekitar 7 jam. Selama perjalanan, Anya lebih banyak terdiam sambil memandangi pemandangan di balik jendela mobil. Hamparan sawah, perbukitan, dan deretan rumah perlahan berganti menjadi jalan-jalan yang lebih ramai, lebih kota. Sesekali ponselnya berbunyi. Ternyata ibunya mengirim pesan.
"Kalo sudah sampai kabari Ibu, ya. Jangan lupa makan."
Anya tersenyum kecil. Ia membalas singkat "Iya, Bu. Nanti Anya kabarin."
Menjelang sore, mobil akhirnya memasuki kawasan tempat kantor cabang berada. Bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan dengan pertokoan baru. Suasananya tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak sepi.
Sopir kemudian menghentikan mobil di depan sebuah rumah kos yang sudah dipesankan oleh pihak kantor."Sudah sampai, Mbak," ucap sopir sambil membantu menurunkan koper.
Anya mengucapkan terima kasih, lalu memandangi bangunan dua lantai di hadapannya. Cat dindingnya mulai memudar, namun masih terlihat bersih dan terawat. Di halaman depan terdapat pohon mangga yang cukup besar, menaungi sebagian atap rumah.
Tak lama kemudian, seorang ibu paruh baya keluar dari dalam rumah."Kamu Anya, ya? Saya Bu Mimi , pemilik kos ini," sapanya ramah.
"Iya, Bu." Kata Anya
"Kamarmu di lantai dua, paling ujung. Semoga betah tinggal di sini." kata Bu Mimi sambil menyerahkan kunci kos."kalo butuhkan sesuatu kabari aja ya."
Anya mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia masuk ke lantai atas tempat yang di tunjuk kan Bu mimi. Tempanya lumayan. Setelah membereskan barang-barangnya, ia duduk di tepi tempat tidur. Kamar itu tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman. Ada sebuah lemari kayu, meja belajar, kipas angin, dan sebuah jendela yang menghadap ke halaman belakang. Sebelum magrib, Anya menelepon kedua orang tuanya untuk mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat.
Narti merasa sedikit lega setelah mendengar suara putri bungsunya."Yang penting jaga kesehatan ya, Nak. Kalo ada apa-apa langsung telepon."
"Iya, Bu. Di sini juga kelihatannya nyaman kok."
Malam pertama Anya tidur cukup nyenyak karena kelelahan setelah perjalanan jauh. kantor cabang menjadi awal babak baru dalam kehidupan Anya. Kota yang baru, lingkungan yang berbeda, serta rekan kerja yang belum dikenalnya membuatnya harus belajar beradaptasi. Pada hari-hari pertama, rasa rindu kepada keluarga sering datang, terutama saat malam tiba. Ia terbiasa mendengar suara ibunya memanggil dari dapur atau melihat ayahnya duduk santai di teras rumah sepulang kerja.
Namun setiap kali rasa rindu itu muncul, Anya mengingat pesan kedua orang tuanya untuk tetap semangat. Ia mulai menjalani pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Keramahan dan ketekunannya membuat rekan-rekan kerja mudah menerimanya. Sedikit demi sedikit, Anya merasa lebih nyaman di tempat barunya.
Meski terpisah jarak, hubungan mereka tidak pernah renggang. Hampir setiap malam, Anya menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan keluarganya. Mereka saling bercerita tentang kegiatan masing-masing, tertawa bersama, bahkan saling menguatkan ketika ada masalah.
Bagi Narti dan Dirman, melihat senyum Anya melalui layar ponsel sudah cukup mengobati rasa rindu. Mereka percaya bahwa suatu hari nanti semua pengorbanan ini akan membuahkan hasil yang indah. Sementara bagi Anya, sejauh apa pun ia melangkah, rumah akan selalu menjadi tempat yang ingin ia pulang.
Keesokan paginya, suara alarm ponsel membangunkan Anya tepat pukul lima. Ia membuka mata perlahan, masih sedikit asing dengan langit-langit kamar kos yang baru. Selama beberapa detik, ia terdiam sebelum akhirnya mengingat bahwa mulai hari itu ia akan bekerja di kantor cabang. Anya segera bangun, merapikan tempat tidur, lalu bersiap-siap. Setelah mandi dan mengenakan pakaian kerja, ia turun ke lantai bawah.
Di halaman depan, Bu Mimi sedang menyapu halaman."Selamat pagi, Anya. Tidurnya nyenyak?" tanyanya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, nyenyak, Bu." kata Anya
"Mau berangkat kerja, ya?" tanya Bu mimi
"Iya, Bu. Hari ini hari pertama saya di kantor cabang."
Bu Mimi mengangguk. "Semoga lancar. Sarapan dulu, ya. Di meja ada teh hangat sama roti."
Anya tersenyum penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Bu."
Setelah sarapan, Anya berpamitan lalu berjalan menuju kantor yang letaknya tidak terlalu jauh dari kos. Udara pagi masih sejuk. Beberapa pedagang mulai buka lapak, kendaraan lalu lalang mengawali aktivitas hari itu.
Tak sampai 5 menit, Anya tiba di depan gedung kantor cabang. Bangunannya tidak sebesar kantor pusat, tapi terlihat rapi dan nyaman. Anya menarik napas pelan sebelum melangkah masuk.
Di bagian resepsionis, seorang petugas menyambut ramah."Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?"
"Selamat pagi. Saya Anya, pegawai yang dipindahkan dari kantor pusat."
"Oh baik, Mbak Anya. Silakan tunggu sebentar. Saya hubungi Pak Arif dulu."
Tak lama, seorang pria sekitar empat puluh tahun menghampiri. "Selamat pagi. Saya Arif, kepala kantor cabang."
Anya berdiri. "Selamat pagi, Pak."
"Selamat datang. Semoga betah kerja di sini ya."
"Terima kasih, Pak."
Pak Arif mengajak Anya berkeliling. Ia memperkenalkan tiap ruangan. menjelaskan tugas yang akan jadi tanggung awab Anya. Setelah itu, Pak Arif membawa Anya ke ruang kerja. "Teman-teman," panggilnya. Semua menoleh. "Mulai hari ini kita kedatangan rekan baru. Namanya Anya. Saya harap kita bisa kerja sama dengan baik."
Beberapa pegawai langsung menyambut.
"Selamat datang, Mbak Anya. Semoga betah di sini."
Anya membalas dengan senyum hangat. "Terima kasih. Mohon bimbingannya."
Di antara mereka, perhatian Anya tertuju pada seorang perempuan di meja dekat jendela. Perempuan itu menghampiri sambil tersenyum. "Hai, aku Serra," sapanya.
"Anya," balas Anya.
"Kalau ada yang belum tahu, tanya aja ya. Kebetulan meja kita bersebelahan."
"Terima kasih, Serra."
Perkenalan singkat itu bikin Anya sedikit lebih tenang. Sepanjang hari ia diisi dengan penjelasan sistem kerja, pengenalan dokumen, dan penyesuaian lingkungan baru. Meski masih banyak yang harus dipelajari, Anya mencatat semua dengan teliti.
Menjelang istirahat, Serra mengajaknya makan siang."Ayo makan. Di dekat kantor ada warung enak."
"Boleh."
Mereka ke warung sederhana yang cukup ramai. Selama makan, Serra banyak cerita tentang suasana kantor, kebiasaan pegawai, sampai tempat nongkrong di kota itu. Tanpa terasa, rasa canggung Anya perlahan hilang.
Satu minggu berlalu seperti putaran roda yang cepat. Anya mulai terbiasa dengan ritme barunya. Suara alarm pukul lima pagi tidak lagi terasa asing, begitu pula langit-langit kamar kos milik Bu Mimi. Namun, jika ada satu hal yang paling membantu Anya melewati masa transisi ini, itu adalah Serra.
Rekan kerja di meja sebelah jendela itu tidak hanya menjadi pemandu di kantor, tetapi juga menjelma menjadi teman mengobrol yang asyik.
"Nya, fokus banget. Jangan sampai lupa berkedip," goda Serra suatu sore, bersandar pada sekat meja kerja mereka sambil memegang segelas es kopi.
Anya tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer. "Tanggung, Ser. Laporan rekonsiliasi data dari kantor pusat harus beres sebelum jam lima. Pak Arif minta ini selesai hari ne."
"Pak Arif memang perfeksionis, tapi dia baik kok," ujar Serra, lalu menyerahkan satu cup es kopi serupa ke meja Anya. "Nih, asupan kafein biar matanya melek. Hadiah karena kau udah bantu aku rapihin berkas audit kemarin."
"Wah, tahu aja aku lagi butuh yang manis-manis. Makasih ya, Serra."
Kehadiran Serra membuat hari-hari Anya di kantor cabang terasa jauh lebih ringan. Tugas-tugas baru yang awalnya terasa rumit perlahan-lahan bisa ia kuasai berkat penjelasan detail dari Serra dan bimbingan sabar dari Pak Arif.
Sore harinya, setelah jam kerja usai, Anya berjalan kaki kembali ke kosan. Udara kota menjelang magrib terasa sedikit gerah, berbeda dengan kampung halamannya yang cenderung sejuk. Begitu sampai di rumah kos, Bu Mimi tengah menyiram tanaman mangganya yang rimbun.
"Baru pulang, Anya? Gimana kerjanya hari ini?" sapa Bu Mimi ramah.
"Iya, Bu. Alhamdulillah lancar, makin banyak yang dipelajari," jawab Anya sambil menyeka keringat di dahinya.
"Baguslah. Oh ya, tadi ibu habis bikin kolak pisang kebanyakan. Nanti malam kalo mau, ambil saja di dapur bawah ya. Sudah ibu pisahkan di mangkuk."
"Aduh, jadi merepotkan. Terima kasih banyak ya, Bu Mimi. Ibu baik sekali."
"Ah, tidak repot sama sekali. Sudah anggap saja rumah sendiri."
Kehangatan Bu Mimi sedikit banyak mengobati rasa sepi Anya. Masuk ke dalam kamarnya di lantai dua, Anya langsung membersihkan diri. Setelah menunaikan ibadah magrib, ia duduk di tepi kasur dan meraih ponselnya. Ritual wajibnya dimulai: video call bersama keluarga.
Layar ponselnya menampilkan wajah sang ibu, Narti, disusul oleh ayahnya, Dirman, yang ikut melongok dari balik bahu ibunya.
"Anya! Gimana kabarmu, Nak? Sudah makan malam belum?" tanya Narti antusias.
"Sudah, Bu. Ini baru selesai shalat. Bapak apa kabar? Kak Aryan sama Kak Revi mana?"
"Bapak sehat, Nya. Itu kakak-kakakmu lagi rebutan remote TV di depan," sahut Dirman sambil terkekeh. "Kamu betah di sana? Teman-teman kantornya gimana?"
"Betah, Pak. Anya punya teman dekat namanya Serra. Dia baik banget, sering bantuin Anya kalau bingung soal kerjaan. Ibu kosnya juga perhatian, sering ngasih makanan."
Mendengar cerita Anya, gurat cemas di wajah Narti perlahan memudar, digantikan senyuman lega. "Alhamdulillah kalau begitu. Ibu selalu doa supaya kamu ketemu orang-orang baik di sana. Jaga hubungan baik sama mereka, ya."
Percakapan malam itu berlanjut dengan candaan random dari Aryan yang tiba-tiba merebut ponsel, dan wejangan dari Revi agar Anya tidak lupa memakai pelembap udara karena kota tempatnya bekerja terkenal cukup berdebu. Ketika panggilan berakhir, dada Anya terasa hangat. Jarak memang memisahkan fisik mereka, namun doa dan dukungan keluarganya tetap menjadi semangatnya.
Keesokan paginya, suasana di kantor cabang sedikit lebih tegang dari biasanya. Pak Arif memanggil Anya dan Serra ke ruangannya.
"Anya, Serra, kita kedatangan proyek mendadak dari kantor pusat untuk audit wilayah timur," buka Pak Arif sambil menyerahkan sebuah map tebal. "Saya ingin kalian berdua yang memegang kendali untuk penyusunan laporannya. Waktunya hanya tiga hari. Apakah sanggup?"
Anya dan Serra saling berpandangan. Bagi Serra, ini mungkin hal biasa. Namun bagi Anya, ini adalah proyek besar pertama yang dipercayakan langsung kepadanya sejak pindah.
"Insya Allah sanggup, Pak. Kami akan usahakan yang terbaik," jawab Anya mantap, meski ada sedikit desir gugup di dadanya.
"Bagus. Kerja sama yang baik, ya. Saya percaya dengan kemampuan kalian."
Keluar dari ruangan Pak Arif, Serra langsung menepuk pundak Anya. "Siap-siap lembur mini ya, Nya. Tapi tenang, kita kerjain bareng-bareng. Habis ini kita bagi tugas."
Anya mengangguk dengan senyum tekad. Ini adalah kesempatannya untuk membuktikan bahwa keputusan kantor pusat memindahkannya ke sini tidak salah, dan bahwa kepercayaan bapak serta ibunya tidak akan ia sia-siakan. Babak baru kehidupannya baru saja dimulai, dan Anya siap menghadapinya.
Hari berikutnya berubah menjadi hari-hari paling sibuk sejak Anya menginjakkan kaki di kantor cabang. Meja kerja Anya dan Serra kini dipenuhi tumpukan berkas audit, catatan kecil berwarna-warni yang menempel di pinggiran monitor, dan beberapa cangkir kopi yang sudah kosong.
"Nya, tolong cek data pengeluaran logistik bulan lalu. Angkanya enggak matching sama laporan dari pusat," ujar Serra dengan mata yang masih tertuju pada layar komputer. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard.
Anya segera membuka map tebal di pangkuannya. Ia menelusuri deretan angka menggunakan penggaris agar tidak terlewat satu baris pun. "Ketemu, Ser! Ada selisih di biaya operasional gudang ketiga. Pusat belum memasukkan retur barang minggu kedua."
"Bagus! Tolong kau koreksi di spreadsheet bersama ya," sahut Serra lega."Untung kau teliti, kalo nggak bisa begadang kita malam ini."
Anya tersenyum sambil tangannya cekatan mengetik angka yang benar. Rasa gugup yang sempat ia rasakan di ruang Pak Arif beberapa hari lalu perlahan terkikis, berganti menjadi suntikan adrenalin. Ia merasa berguna, dan yang lebih penting, ia merasa menjadi bagian dari tim yang solid.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika Pak Arif keluar dari ruangannya. Beliau melihat Anya dan Serra yang masih berkutat dengan pekerjaan mereka di ruangan yang mulai sepi.
"Anya, Serra, bagaimana progresnya?" tanya Pak Arif sambil menghampiri meja mereka.
Anya berdiri sopan. "Sudah sekitar delapan puluh persen, Pak. Malam ini kami targetkan draf kasarnya selesai, jadi besok tinggal proses finishing dan pemeriksaan ulang."
Pak Arif mengangguk puas. "Luar biasa. Tapi jangan dipaksakan sampai larut malam ya. Ini...!saya tadi pesan makanan lebih untuk kalian. Dimakan dulu baru lanjut kerja." Pak Arif meletakkan dua kotak nasi ayam bakar di atas meja kosong di sebelah mereka.
"Wah, terima kasih banyak, Pak!" ucap Serra dan Anya kompak dengan mata berbinar. Perut mereka memang sudah mulai berdemo sejak satu jam yang lalu.
Setelah Pak Arif pulang, keduanya memutuskan untuk istirahat sejenak dan menyantap makanan tersebut. Di sela-sela suapan, Anya menyempatkan diri mengecek ponselnya. Ada sebuah pesan singkat dari kakaknya, Aryan.
“Dek, Ibu nanyain kok belum telepon jam segini? Kamu lembur ya? Jangan lupa makan, awas kalau pulang-pulang jadi kurus, nanti Ibu nyalahin bapak sama aku lagi.”
Anya tertawa kecil membaca pesan itu. Ia langsung mengetik balasan: “Iya Kak, lagi lembur dikit nih. Ini lagi makan dibelikan bos. Bilang Ibu, Anya aman dan sehat walafiat!”
Melihat Anya tersenyum menatap ponselnya, Serra bertanya, "Dari pacar ya, Nya?"
"Bukan," jawab Anya sambil menggeleng."ne dari Kak Aryan, kakak laki-lakiku. Dia sama Ibu suka heboh kalau aku telat ngasih kabar."
"Seru ya punya saudara kandung," ucap Serra, senyumnya sedikit meredup. "Aku anak tunggal, jadi kalau di rumah ya sepi banget. Makanya aku senang pas kau pindah ke sini, berasa punya adik."
Anya menyentuh lengan Serra lembut. "Sekarang kan ada aku, Ser. Di kantor atau di luar kantor, anggap aja aku adikmu sendiri."
Serra kembali tersenyum cerah. "Siap, Adikku! Yuk, habisin makannya, biar kita bisa babat habis sisa laporan ini!"
Hari Penyerahan. Hari yang ditentukan pun tiba. Tepat pukul dua siang, Anya dan Serra berdiri di dalam ruang rapat bersama Pak Arif untuk melakukan video conference dengan jajaran direksi kantor pusat. Anya ditugaskan untuk mempresentasikan bagian analisis data logistik yang ia kerjakan.
Meski jantungnya berdegup kencang saat giliran bicaranya tiba, Anya mengingat pesan bapaknya: "Kerja yang baik, jangan maksakan diri, tapi lakukan dengan bangga."
Anya menarik napas dalam-dalam, lalu memaparkan data dengan suara yang tenang, jelas, dan terstruktur. Semua pertanyaan dari kantor pusat berhasil ia dan Serra jawab dengan baik berkat persiapan matang mereka.
Ketika layar monitor mati tanda rapat telah selesai, Pak Arif langsung berdiri dan bertepuk tangan.
"Kerja bagus, kalian berdua! Kantor pusat sangat puas dengan detail laporan kita. Proyek pertama kita sukses besar!" puji Pak Arif dengan senyum lebar.
Serra langsung memeluk Anya erat. "Kita berhasil, Nya! Kamu keren banget tadi pas presentasi!"
"Kamu yang lebih keren, Ser. Tanpa bimbinganmu, aku enggak bakal bisa," balas Anya, matanya berkaca-kaca karena lega dan bahagia.
Sore itu, Anya pulang ke kosan dengan langkah yang jauh lebih ringan. Rasa lelah selama tiga hari berturut-turut seolah menguap begitu saja. Sesampainya di kos, ia melihat Bu Mimi sedang duduk di beranda.
"Berita baik?" tanya Bu Mimi.
"Iya, Bu. Tugas besar pertama Anya di kantor baru saja selesai dengan lancar," jawab Anya dengan senyum paling manis yang ia miliki.
"Alhamdulillah. Nah, karena tugasmu selesai, kebetulan besok kan hari Sabtu, besok malam ada pasar malam di dekat alun-alun kota. Kamu harus pergi menyegarkan pikiran. Ajak Anak kos yang lain juga bisa," usul Bu Mimi.
Anya berpikir sejenak. Menjelajahi kota baru di akhir pekan sepertinya bukan ide yang buruk. Ia sudah tidak sabar untuk menceritakan keberhasilannya hari ini kepada ayah, ibu, dan kakak-kakaknya nanti malam, sekaligus merencanakan akhir pekan pertamanya di kota ini.
Malam itu, setelah menceritakan keberhasilan presentasinya lewat video call yang penuh tawa bersama bapak, ibu, Aryan, dan Revi, Anya tidur dengan sangat nyenyak. Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Untuk pertama kalinya sejak pindah, Anya bisa menikmati bangun pagi tanpa terburu-buru menyetrika baju kerja.
Sesuai saran Bu Mimi, Anya berniat mengunjungi pasar malam di alun-alun kota nanti malam. Ia sudah mengirim pesan kepada Serra, namun Serra ternyata harus menghadiri acara keluarga yang tidak bisa ditinggalkan.
"Maaf banget ya, Nya! Padahal aku pengen banget nemenin kamu berburu jajanan. Tapi aku ada urusan lain. coba ajak anak-anak kos. mana tau mereka mau!" tulis Serra di pesan WhatsApp-nya.
Awalnya Anya ragu. Ia adalah tipe orang yang sungkan untuk memulai percakapan dengan orang baru. Namun, sore harinya saat ia turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum, ia melihat dua perempuan seumurannya sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
Bu Mimi yang kebetulan lewat langsung menyapa, "Eh, Anya. Sini bergabung. Nah, kebetulan kalian berkumpul, ini Anya, anak baru di kantor cabang yang kemarin ibu ceritakan." Bu Mimi kemudian beralih ke Anya, "Anya, ini Wulan, yang kuliah di jurusan komunikasi, dan yang ini Tari, dia kerja di bank dekat sini. Nah yang ne Tio, keponakan ibu yang lagi kuliah juga."
Dinda yang berambut pendek langsung melambaikan tangan dengan ceria. "Hai Anya! Wah, akhirnya ketemu. Kemarin-kemarin kita cuma lihat kamu berangkat pagi pulang malam terus."
Tari ikut tersenyum ramah. "Iya, kelihatan sibuk banget. Salam kenal ya."
Rasa canggung Anya langsung mencair melihat sambutan hangat mereka. "Salam kenal Dinda, Tari, Tio. Iya kemarin sempat kejar deadline proyek kantor."
Oh ya, Anya," sela Bu Mimi sambil tersenyum penuh arti. "Kemarin kan ibu bilang ada pasar malam di alun-alun. Dinda sama Tari juga rencananya mau ke sana nanti malam. Kalian berangkat bareng aja. gimana?"
Wulan langsung semangat. "Wah, serius? Kebetulan banget! Kau mau bareng kita, Nya? Kita mau berburu telur gulung sama naik bianglala!"
Anya tertegun, namun senyum tulus dari Dinda dan Tari membuatnya langsung mengangguk. "Boleh, aku mau ikut. Kebetulan belum pernah keliling kota ini juga."
Suasana sore di ruang tengah kosan Bu Mimi langsung berubah heboh setelah rencana ke pasar malam disepakati. Tari yang berambut pendek, Wulan yang ekspresif tampak bersemangat memikirkan jajanan apa saja yang akan mereka buru. Sementara itu, Tio hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman-teman kosnya, walau ia akhirnya bersedia ikut menjadi "pengawal" sekalian sopir dadakan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!