Indonesia
NovelToon NovelToon

Cemara Juga Punya Luka

rusuk sang kubus.

"Kak..."

Suara Haseena terdengar lirih.

Tak ada jawaban.

Husna tetap melanjutkan kegiatannya tanpa sedikit pun menoleh.

Haseena memberanikan diri melangkah mendekat. Tangannya perlahan meraih pergelangan tangan sang kakak.

"Plis, Kak... jangan pergi." Haseena berusaha membujuk kakaknya agar tidak pergi

Kali ini Husna berhenti, Namun bukan untuk mendengarkan.

Ia menepis tangan Haseena hingga terlepas.

"Cukup."

Suaranya dingin, Sangat dingin.

"Aku capek." ucap Husna dengan suara datar

Haseena menggeleng pelan. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, bendungan yang ia bangun tiba-tiba saja roboh.

"Kita bisa ngobrol baik-baik..." bujuk haseenaa lagi

"Nggak ada lagi yang perlu diobrolin."

Husna menutup tasnya dengan kasar.

Brakk!

Suara resleting yang dibanting seolah menjadi penutup dari semua kesabaran yang selama ini ia pendam.

Perlahan Husna membalikkan tubuhnya.

Matanya merah.

ka plis jangan pergi" ucap Haseenaa sambil berusaha menahan husna yang sedang merapikan baju ke dalam tasnya

"diam deh kamu gak pernah tau gimana rasanya jadi kakak , dan mulai sekarang stop panggil aku kakak! aku kasih kasih sayang abah sama ibu ke kamu. kamu puas kan! "

haseenaa hanya bisa terdiam, kata-kata yang keluar bener bener menyakiti hatinya. ini lebih sakit daripada luka apapun.

"kenapa? nangis lagi? mau caper ke Zafran juga? ambil! mulai sekarang aku bukan bagian dari kamu lagi!! " suaranya mulai meninggi

"enak ya jadi kamu dapat semuanya"

Tangan haseenaa tiba-tiba mengepal dan emosinya pecah. sambil menangis dia berkata

"stop ya kak! Bukannya kakak yang gak mau kesempatan ini? kakak yang gamau jadi ustadzah seperti apa yang ibu mau, kakak gamau jadi pengusaha kayak yang bapa mau" haseenaa berdiri "asal kakak tau ya aku ga pernah mau jadi penanggung jawab kegagalan kalian, aku juga punya mimpi aku mau mimpiku sendiri! " haseenaa keluar dan membanting pintu membiarkan husna sendiri dengan emosinya yang tumpah

Brakk!

Pintu kamar terbanting.

Suaranya menggema ke seluruh rumah.

"Hasena!"

Rayyan dan Syafa berlari keluar dari kamar mereka hampir bersamaan.

"Ada apa?"

Haseena buru-buru mengusap pipinya.

Ia memaksa tersenyum meski napasnya masih tersengal.

"Nggak apa-apa, Bu..."

"Tadi nggak sengaja."

Syafa menatap putri bungsunya beberapa detik.

Ada bekas air mata yang belum sepenuhnya hilang.

Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, Haseena sudah lebih dulu berjalan menuju dapur.

Meninggalkan lorong rumah yang kembali dipenuhi keheningan.

Sementara itu...

Di balik pintu kamar yang kini tertutup rapat, Husna terduduk di lantai sambil memeluk tasnya erat.

Air mata mengalir tanpa suara.

"benar ternyata abah dan ibu hanya peduli pada haseena. padahal jelas suara pintu itu pintu kamarku, tapi yang ditanya cuma haseena" ucap husna dalam hati

Tatapannya kosong menembus jendela.

Entah sedang memandang langit...

atau sedang mengucapkan selamat tinggal pada rumah yang selama ini ia sebut sebagai keluarga.

Malam itu...

Tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang menyangka.

Bahwa pertengkaran itu akan menjadi percakapan terakhir antara dua saudara.

Keesokan harinya...

Husna benar-benar pergi.

Dan sejak hari itu, Haseena hidup dengan satu penyesalan yang tak pernah selesai.

Hidup Haseena selalu ia bayangkan seperti sebuah kubus.

Bangun sederhana yang berdiri kokoh karena dua belas rusuk saling menopang. Selama seluruh rusuk itu utuh, kubus akan tetap menjadi kubus. Namun, jika satu saja patah, keseimbangannya mulai goyah. Dan bila penyangga utamanya runtuh, kubus itu tak lagi mampu berdiri.

Empat rusuk terkuat dalam hidup Haseena adalah keluarganya.

Abah.

Ibu.

Kak Husna.

Dan Abang Zafran.

Empat orang yang selama ini menjadi alasan ia pulang, tertawa, dan percaya bahwa apa pun yang terjadi, rumah akan selalu menjadi tempat paling aman.

Delapan rusuk lainnya adalah dirinya sendiri.

Harapan.

Mimpi.

Tanggung jawab.

Juga semua ekspektasi yang perlahan dipikulkan kepadanya seiring bertambahnya usia.

Saat Kak Husna memutuskan mengikuti ekspedisi konservasi hutan, Abah mulai menatap Haseena dengan harapan baru.

"Kalau Husna memilih jalan lain... mungkin kamu yang akan meneruskan cita-cita Abah menjadi ustazah."

Haseena hanya mengangguk.

Ia tak pernah benar-benar bercita-cita menjadi ustazah.

Namun, jika itu bisa membuat Abah tersenyum, ia rela belajar lebih keras.

Begitu pula ketika Zafran memutuskan merantau untuk mengejar mimpinya sendiri.

Ibu kemudian menggenggam tangan Haseena sambil berkata pelan,

"Kalau Abang sibuk mengejar dunia di luar sana... nanti kamu yang belajar berdagang ya, Nak. Biar usaha keluarga tetap ada yang meneruskan."

Sekali lagi Haseena hanya mengangguk.

Ia menyimpan semua mimpi itu di dalam hatinya.

Menjadi ustazah.

Menjadi pengusaha.

Menjadi anak yang membanggakan.

Menjadi harapan terakhir.

Ia tidak pernah sadar...

Bahwa menjadi harapan terakhir berarti bersiap memikul semua beban yang ditinggalkan orang lain.

 

Dua minggu lalu...

Kabar itu datang.

Ekspedisi yang diikuti Husna kehilangan kontak dan Tim penyelamat sudah diterjunkan namun hingga hari ini...

Nama Husna masih tercatat sebagai orang hilang.

Rumah yang biasanya dipenuhi tawa perlahan berubah sunyi ibu lebih sering menangis diam-diam dan abah mulai menghabiskan malamnya dengan berdoa.

Sedangkan Zafran berkali-kali menawarkan diri ikut mencari sang kakak namun selalu ditolak.

"Kamu tetap di rumah."

"Tapi Bah—"

"Cukup."

Abah tidak pernah memberi kesempatan Zafran menyelesaikan kalimatnya seolah masih ada secercah keyakinan bahwa Husna akan pulang sendiri.

Keyakinan yang perlahan berubah menjadi kecemasan.

Dan pagi ini...

Cobaan itu kembali datang.

"Haseena..."

Suara Abah terdengar begitu lirih dari balik telepon.

"kamu ke rumah sakit sekarang ya nak."

Jantung Haseena langsung berdegup kencang.

"Bah...? Ada apa?"

"Ibu pingsan."

Kalimat itu membuat tubuh Haseena membeku, hasena yang kala itu sedang di sekolah segera pergi meninggalkan sekolah tanpa pamit

 

Koridor rumah sakit dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk hidung. Langkah kaki para tenaga medis terdengar bersahutan, sementara suara roda ranjang pasien beradu dengan lantai keramik yang dingin.

Di ujung lorong...

Lampu merah bertuliskan ICU masih menyala, Haseena berlari kecil menghampiri Abah. Lelaki itu berdiri membelakangi pintu ruang intensif.

Biasanya, punggung Abah selalu tampak tegap.

Namun hari ini...

Untuk pertama kalinya, Haseena melihat bahu itu seolah kehilangan kekuatannya.

"Bah..."

Abah menoleh namun wajahnya terlihat pucat dan lingkar matanya memerah.

"Ibu kenapa, Bah?" suara Haseena bergetar.

Abah menarik napas panjang sebelum menjawab pelan,

"Ibu masih diperiksa."

Tak jauh dari sana, Zafran mondar-mandir tanpa arah. Tangannya berkali-kali meremas rambut sendiri "Ibu nggak apa-apa, kan, Bah?" tanyanya dengan suara yang hampir pecah.

Abah menatap pintu ICU cukup lama.

"Doain aja."

Hanya itu tiidak ada kalimat penenang, tidak ada senyum yang biasanya selalu berhasil membuat anak-anaknya tenang. Hanya dua kata sederhana yang justru terdengar jauh lebih menakutkan.

Suasana kembali tenggelam dalam keheningan, tak ada seorang pun yang berani berbicara.

Yang terdengar hanya bunyi monitor dari balik pintu ICU dan detak jam dinding yang seolah berjalan lebih lambat daripada biasanya.

Sementara di luar sana...

Langit masih sama, matahari tetap bersinar dan orang-orang tetap berlalu-lalang.

Dunia terus berjalan...

Tanpa peduli bahwa di sudut rumah sakit itu, sebuah keluarga sedang menunggu kabar yang mungkin akan mengubah hidup mereka untuk selamanya.

langkah Zafran

Waktu berjalan begitu lambat.

Jarum jam di dinding rumah sakit terus bergerak, tetapi bagi Haseena, setiap detiknya terasa seperti satu tahun yang dipenuhi kecemasan.

Koridor ICU masih dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk. Sesekali perawat berlalu-lalang mendorong troli, disusul suara monitor pasien yang samar terdengar dari balik pintu kaca. Namun, tidak satu pun dari suara itu mampu mengalihkan pikiran keluarga kecil itu.

Mereka hanya menunggu.

Menunggu sebuah kabar yang entah akan menjadi harapan atau justru akhir dari segalanya.

Haseena menggenggam tas kecil di pangkuannya erat-erat. Jemarinya mulai memutih karena terlalu kuat mencengkeram.

Di sampingnya, Abah duduk dengan kedua tangan saling bertaut. Bibirnya tak henti bergerak melantunkan doa dalam hati. Sesekali lelaki itu mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi garis-garis kelelahan.

Tak jauh dari mereka, Zafran kembali mondar-mandir.

Satu putaran.

Dua putaran.

Tiga putaran.

Langkahnya tak pernah berhenti.

"Bang... duduk dulu," lirih Haseena.

Zafran menggeleng.

"Aku nggak bisa diam."

Nada suaranya terdengar berat, seolah ada sesuatu yang terus mengganjal di dadanya.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan, akhirnya Zafran tiba-tiba berhenti dan menghampiri Abah.

"Bah..."

Abah mendongak pelan.

"Aku mau ikut tim pencarian Kak Husna."

Kalimat itu membuat Haseena spontan menoleh.

"Bang..."

"Bah, udah dua minggu." Suara Zafran mulai bergetar "kakak di luaran sana pak, kita gak tau keadaan dia. gimana kalo dia sendiri di hutan itu, kesian kakak pasti ketakutan, dua minggu Kak Husna nggak ada kabar dan aku nggak bisa cuma duduk nunggu."

Abah menghela napas panjang. menatap mata Zafran dengan harapan besar di hatinya

"Kita sudah serahkan ke tim SAR."

"Tapi mereka belum nemuin Kakak!"

"Zafran." Abah berusaha menenangkan Zafran

"Nggak ada yang lebih kenal Kak Husna selain keluarga!" Nada suara Zafran meninggi. "Kalau kita ikut nyari, peluang ketemunya pasti lebih besar!"

Koridor rumah sakit mendadak sunyi. suara Zafran terdengar sampai ujung koridor, Beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka.

Abah perlahan berdiri.

Tatapannya tetap tenang, tetapi sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.

"Kalau kamu pergi..."

"...siapa yang jagain Ibu?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Zafran terdiam.

Dadanya naik turun menahan emosi.

"Tapi Kak Husna juga sendirian di sana, Bah."

Suara itu hampir pecah.

"Kalau memang dia masih hidup, gimana kalau dia lagi nunggu kita? lagian ibu juga pasti seneng kalo tau aku nyari kakak"

"ibu pasti khawatir juga sama kamu Zafran"

Haseena hanya bisa menundukkan kepala, semua kalimat itu menyesakkan Karena jauh di lubuk hatinya... Ia juga memikirkan hal yang sama.

Bagaimana jika Kak Husna memang sedang menunggu mereka?

Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, Abah kembali membuka suara.

"Abah juga pengen nyari Kak Husna."

Suara lelaki itu terdengar lirih.

"Sangat pengen."

"Tapi sekarang..."

"Ibu lebih membutuhkan kita."

Kalimat itu membuat Zafran mengepalkan tangan.

Matanya mulai memerah.

"Jadi..."

"...kita tinggalin Kakak?"

"Bukan."

"Kita berdoa."

Jawaban itu justru membuat sesuatu dalam diri Zafran runtuh.

Berdoa.

Lagi.

Selalu berdoa.

Sementara Kak Husna belum juga pulang.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu ICU, Lalu menatap Haseena yang terlihat sangat tertekan Kemudian kembali memandang Abah.

Untuk pertama kalinya...

Ia merasa menjadi orang yang paling sendirian di ruangan itu sebelum kemudian Zafran berjalan menjauh tanpa mengatakan apa pun.

Ia berhenti di taman kecil rumah sakit.

Beberapa pohon kamboja berdiri diam diterpa angin sore. Ia menjatuhkan tubuhnya di bangku kayu. Tatapannya kosong. Tanpa sadar, kenangan tentang Kak Husna kembali memenuhi pikirannya.

"Tau nggak, Zaf?"

"Kalau lagi di hutan itu rasanya beda."

"Udara yang kita hirup tuh benar-benar hidup."

"Setiap pohon kayak lagi ngajak kita ngobrol."

Dulu Zafran hanya tertawa mendengar cerita itu.

Kini...

Ia berharap bisa mendengar ocehan itu sekali lagi. Air matanya jatuh tanpa suara.

"Aku nggak bisa diem, Kak..."

"Aku nggak bisa..."

Tangannya meremas rambut sendiri. Kalau ia tetap di rumah sakit...Ia hanya akan menunggu. Kalau ia pergi... Setidaknya ia sedang melakukan sesuatu. Walaupun itu mungkin sebuah kesalahan, keputusan itu perlahan tumbuh. Bukan karena ia tidak menyayangi Ibu atau Bukan pula karena ia ingin meninggalkan Abah dan Haseena Melainkan karena rasa bersalah.

Bagaimana jika benar Kak Husna masih hidup?

Bagaimana jika selama ini Kak Husna terus berharap ada keluarganya yang datang menjemput?

Bagaimana jika...

Hari ini adalah kesempatan terakhir?

Zafran menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Lalu mengembuskan napas panjang.

"Aku harus pergi."

Kalimat itu nyaris tak terdengar. Namun, tekad di dalam hatinya telah bulat.

Ia bangkit.

Menatap sekali lagi ke arah gedung rumah sakit.

"Lindungi Ibu..."

"...sampai aku pulang bawa Kak Husna."

Tanpa seorang pun menyadarinya Zafran melangkah meninggalkan rumah sakit dan segera pergi menuju rumah.

Menuju sebuah keputusan...

Yang kelak akan mengubah hidup keluarganya untuk selamanya.

kafan putih

Langit mulai berubah jingga ketika Zafran tiba di halaman rumah. Rumah itu begitu sunyi tak ada satu orang pun yang menyambut Zafran seprti biasanya. Tak ada suara Ibu memanggil dari dapur, Tak ada aroma masakan yang biasanya menyambut begitu pintu dibuka. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang terasa asing.

Zafran berdiri cukup lama di depan pintu dia menatap setiap bagian sudut rumah itu. Tangannya yang memegang kunci terus bergetar.

"Aku minta maaf, Bu..." bisiknya lirih.

Pintu terbuka perlahan.

Cklek...

Ruangan yang biasanya hangat kini terasa dingin, Ia melangkah menuju kamar orang tuanya. Setiap langkah terasa semakin berat.

Di atas meja rias masih tergeletak sisir kayu milik Ibu. Sebuah mukena putih tergantung rapi di balik pintu, seolah pemiliknya hanya pergi sebentar dan akan kembali memakainya untuk salat Magrib nanti.

Dada Zafran sesak...

Ia membuka laci meja rias dengan tangan gemetar. Kotak beludru biru itu masih berada di tempatnya. dia Perlahan ia mengangkatnya.

Tatapannya kosong.

"Bu..."

"Aku pinjam dulu."

"Bukan buat foya-foya."

"Aku cuma mau jemput Kak Husna pulang."

Air mata menetes membasahi tutup kotak beludru itu, Dengan napas memburu, ia memasukkan seluruh perhiasan ke dalam tas ransel.

Tangannya kembali meraih tumpukan kain batik di sudut laci.

Benar saja.

Amplop cokelat berisi tabungan darurat keluarga masih tersimpan di sana.

Ia memejamkan mata.

Seandainya ada pilihan lain, Ia tidak akan melakukan ini. Namun baginya, waktu terus berjalan.Jika Husna benar-benar masih hidup, setiap menit sangat berarti.

"Aku janji bakal balikin semuanya..."

bisiknya sebelum menutup laci perlahan.

Tak berani menoleh lagi ke arah kamar itu, Zafran segera meninggalkan rumah.

Pintu kembali tertutup.

Menyisakan rumah yang kini terasa semakin kehilangan penghuninya.

 

Sementara itu...

Di rumah sakit, waktu seolah berhenti. Haseena masih duduk di kursi yang sama. Tak sekali pun ia beranjak. Tangannya menggenggam tas di pangkuan, sementara matanya terus menatap pintu ICU tanpa berkedip.

Di sebelahnya, Abah masih setia melafalkan doa dalam hati. Bibir lelaki itu terus bergerak, meski suaranya tak pernah terdengar.

Hanya doa dan harapan...

Beberapa menit kemudian...

Pintu ICU akhirnya terbuka, dokter keluar dengan langkah pelan.

Masker yang menutupi wajahnya dilepas perlahan. Tatapannya jatuh kepada Abah. Kemudian kepada Haseena.

Tak seorang pun berani bertanya.

Keheningan itu justru terasa lebih menakutkan daripada jawaban apa pun.

Dokter menarik napas panjang.

"Keluarga Ibu Syafa?"

Abah berdiri lebih dulu dan segera menghampiri dokter.

"Iya, Dok."

Haseena ikut berdiri di sampingnya.

Jantungnya berdegup begitu keras hingga telinganya sendiri seolah dipenuhi suara detaknya.

Dokter menundukkan kepala sesaat.

"Kami mohon maaf..."

Kalimat itu membuat tubuh Haseena membeku.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."

"Tapi..."

"...Allah berkehendak lain."

"Ibu Syafa telah berpulang."

Sunyi.

Tidak ada suara, Tidak ada tangisan. Hanya keheningan yang terasa begitu panjang.vHaseena menatap dokter tanpa berkedip.

Wajahnya datar.

Seolah otaknya menolak memahami setiap kata yang baru saja didengar.

"Dokter..."

Suaranya lirih.

"...bercanda, kan?"

Dokter hanya menggeleng pelan.

Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Haseena.

"Tidak..."

"Ini salah."

"Ibu tadi cuma pingsan."

"Ibu nggak mungkin..."

Kalimatnya terputus.

Langkahnya perlahan bergerak memasuki ruang ICU.

Di sana...

Tubuh Ibu telah terbujur diam dan seluruh tubuhnya tertutup kain putih. Hanya wajahnya yang masih terlihat Begitu damai dan Begitu tenang.

Namun...

Terlalu tenang.

"Ibu..."

Suara Haseena pecah.

Ia menghampiri ranjang itu dengan langkah yang limbung.

Tangannya yang gemetar menyentuh pipi sang Ibu.

Dingin.

"Ibu..."

"Bangun, Bu..."

"Haseena datang..."

Tidak ada jawaban.

Ia menggenggam tangan Ibu yang sudah Dingin. Tak lagi membalas genggaman kecil putrinya dan Air mata Haseena akhirnya runtuh.

"Buka mata, Bu..."

"Tolong..."

"Haseena belum sempat bikin Ibu bangga."

"Haseena belum jadi ustazah seperti kata Abah..."

"Belum jadi pengusaha seperti keinginan Ibu..."

"Belum sempat pakai toga..."

Suaranya berubah menjadi isakan.

"Bu..."

"Nanti siapa yang nyiapin kebaya buat wisuda Haseena...?"

"Nanti siapa yang bilang Haseena cantik...?"

"Nanti..."

"...siapa yang manggil Haseena pulang?"

Kalimat terakhir itu membuat seluruh tubuhnya kehilangan tenaga.

Ia bersimpuh di samping ranjang.

Kepalanya bersandar di sisi tubuh sang Ibu, seolah masih berharap bisa menemukan kehangatan yang selama ini menjadi tempatnya pulang.

Namun yang ia rasakan hanyalah dingin.

Dingin yang perlahan menyadarkan bahwa pelukan itu tak akan pernah kembali.

Abah berdiri beberapa langkah di belakang kemudian Matanya perlahan memerah, Bibirnya bergetar Namun lelaki itu tetap berusaha berdiri tegak. Dengan langkah pelan, ia menghampiri putrinya. Tangannya mengusap kepala Haseena.

"Ikhlaskan Ibu ya, Nak..."

Suara itu terdengar pecah untuk pertama kalinya.

"Ibu pasti ingin kita kuat."

Kalimat itu justru membuat air mata Abah jatuh.

Satu tetes.

Lalu satu lagi.

Lelaki yang selama ini menjadi tiang keluarga itu akhirnya ikut menangis. Bukan dengan suara keras. Melainkan dalam diam. Tangis yang jauh lebih menyakitkan. Karena bahkan kesedihannya pun masih ia tahan agar putrinya tidak semakin hancur.

Beberapa menit kemudian, seorang perawat menghampiri dengan berkas administrasi.

"Pak..."

"Silakan mengurus administrasi di bagian depan."

Abah mengangguk pelan.

Ia menatap Haseena yang masih memeluk tubuh Ibu.

"Abah sebentar ya, Nak."

Haseena tak menjawab.

Tatapannya masih terpaku pada wajah sang Ibu.

Seolah berharap...

Jika ia terus menunggu sedikit lebih lama...

Ibu akan membuka mata.

Dan berkata...

"Haseena... ayo pulang."

Namun harapan itu...

Tak pernah datang.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!