Brak!
Suara tubuh seseorang menghantam lantai beton bergema di dalam sebuah gudang tua di pinggiran Kota Zurich, Swiss.
Pria bertubuh besar itu mengerang kesakitan. Darah mengalir dari sudut bibirnya setelah sebuah tendangan telak menghantam dadanya. Ia mencoba bangkit, tetapi lututnya kembali jatuh menyentuh lantai.
Di sekelilingnya, lebih dari tiga puluh pria berbadan kekar berdiri rapi. Sebagian mengenakan jas hitam, sebagian lagi memegang koper besi dan senjata api yang tetap mengarah ke bawah.
Tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara. Tatapan mereka hanya tertuju ke satu sosok di ujung ruangan.
Seorang pemuda duduk dengan tenang di kursi kulit berwarna hitam. Jas yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun kerutan. Rambut hitamnya tersisir ke belakang dengan beberapa helai jatuh di dahinya, membuat wajah tampannya terlihat semakin dingin.
Kedua matanya yang tajam memandang lurus ke arah pria yang berlutut. Tak ada amarah, kepanikan, hanya ketenangan yang justru terasa lebih mengerikan.
"Bangun." Suaranya pelan.
Namun seluruh ruangan langsung membeku.
Pria yang berlutut itu gemetar sambil berusaha berdiri. "Do... Don... saya bisa menjelaskan..."
Pemuda itu perlahan berdiri dari kursinya.
Langkah sepatunya bergema memenuhi gudang.
Tap... Tap... Tap...
Setiap langkahnya membuat jantung semua orang berdetak lebih cepat.
Ia berhenti tepat di depan pria itu. "Apa aturan pertama keluarga Moretti?"
Pria itu menelan ludah. "Kesetiaan..."
"Lanjutkan."
"Kesetiaan... adalah harga mati."
Pemuda itu mengangguk pelan. "Lalu kenapa kau menjual informasi kepada organisasi Dragovic?"
Wajah pria itu langsung pucat. "Saya... saya terpaksa. Mereka mengancam keluarga saya."
Beberapa anak buah mulai saling melirik. Semua orang tahu siapa organisasi Dragovic. Mereka adalah musuh terbesar keluarga Moretti selama bertahun-tahun. Memberikan informasi kepada mereka sama saja dengan mengundang kematian.
Pemuda itu menghela napas pendek. "Setiap pengkhianat selalu memiliki alasan." Ia berbalik. "Johan."
Seorang pria bertubuh tinggi dengan bekas luka di pelipis segera melangkah maju. "Ya, Don."
"Bawa istri dan anaknya ke rumah perlindungan."
Pria yang berlutut langsung menangis. "Terima kasih... Terima kasih, Don!"
"Tapi..."
Ucapan pemuda itu membuat harapan pria tersebut kembali runtuh.
"Dia tetap harus mempertanggungjawabkan pengkhianatannya."
Johan mengangguk. "Saya mengerti."
Dua orang segera menyeret pria itu keluar gudang. Teriakan memohon ampun terdengar semakin menjauh hingga akhirnya menghilang.
Ruangan kembali sunyi.
Pemuda itu menatap seluruh anak buahnya. "Aku tidak pernah melarang kalian takut. Tapi jangan pernah menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk mengkhianati keluarga."
Semua orang langsung menundukkan kepala.
"Siap, Don!" Suara mereka bergema bersamaan.
Pemuda itu kembali duduk. Di atas meja kayu di depannya terdapat beberapa map rahasia, laptop, dan segelas kopi yang bahkan belum sempat disentuh.
Namanya adalah Adrian Moretti. Usianya baru dua puluh tiga tahun. Namun namanya telah menjadi mimpi buruk bagi banyak organisasi kriminal di Eropa.
Tidak hanya memimpin keluarga Moretti, Adrian juga mengendalikan jaringan keamanan rahasia yang melindungi aset-aset milik para pengusaha, kolektor, dan tokoh berpengaruh. Banyak orang kaya mempercayakan penyimpanan benda-benda berharga dan senjata koleksi mereka kepada keluarga Moretti karena reputasi mereka yang selalu menepati janji.
Bagi dunia luar, keluarga Moretti hanyalah perusahaan keamanan internasional. Namun bagi dunia bawah, nama Moretti adalah simbol kekuasaan.
Pintu gudang kembali terbuka.
Johan masuk sambil membawa sebuah tablet. "Don."
"Ada apa?"
"Kondisi di Jenewa sudah aman. Barang milik Tuan Bernard berhasil dipindahkan tanpa hambatan."
Adrian menerima tablet itu. Ia membaca laporan tersebut selama beberapa detik sebelum mengangguk puas. "Bagus."
"Bagaimana dengan wilayah Basel?"
"Masih terkendali."
"Dan Dragovic?"
Johan menghela napas. "Mereka mulai bergerak lagi."
Tatapan Adrian berubah tajam. "Aku sudah menduganya."
"Menurut informasi Luca, mereka sedang merekrut banyak orang baru."
Adrian tersenyum tipis. "Kalau begitu... biarkan mereka merasa menang lebih dulu."
Johan mengangguk. Ia sudah memahami cara berpikir Don mudanya. Adrian bukan tipe pemimpin yang terburu-buru. Ia lebih suka menunggu hingga lawannya lengah sebelum memberikan serangan yang tidak bisa dibalas.
Itulah alasan mengapa, meski usianya masih sangat muda, seluruh organisasi tetap menghormatinya. Tak lama kemudian, Adrian berjalan menuju jendela besar di sisi gudang.
Dari sana terlihat lampu-lampu Kota Zürich yang berkilauan di bawah langit malam. Kota itu tampak damai. Padahal di balik kemegahannya, banyak organisasi kriminal saling berebut kekuasaan. Dan keluarga Moretti berdiri di puncaknya.
Johan menghampiri. "Don."
"Hm?"
"Hari ini tepat delapan tahun sejak Tuan Leonardo menemukan Anda."
Kini tatapan Adrian berubah. Lebih dalam dan sunyi. Delapan tahun, rasanya seperti baru kemarin. Saat itu... ia hanyalah seorang anak berusia lima belas tahun yang bahkan tidak memiliki tempat untuk pulang.
Setiap hari ia bekerja serabutan demi bisa makan. Namun semua orang selalu memandang rendah dirinya. Ia sering dipukul oleh anak-anak yang lebih tua, uangnya dirampas.
Bahkan para penagih hutang yang bekerja untuk rentenir setempat kerap menjadikannya pelampiasan amarah hanya karena ayah kandung Adrian pernah memiliki hutang yang tak mampu dilunasi.
Malam itu hujan turun sangat deras. Adrian yang baru pulang bekerja dicegat di sebuah gang sempit.
"Lihat siapa yang datang." Beberapa pria tertawa mengejek. "Anak miskin, sampah. Mau lari ke mana sekarang?"
Tanpa banyak bicara, mereka langsung memukulinya. Adrian berusaha melawan. Namun jumlah mereka terlalu banyak. Pukulan demi pukulan menghantam wajah dan tubuhnya.
Tak lama kemudian, tubuhnya tergeletak di pinggir jalan dengan wajah penuh darah. Dalam keadaan hampir kehilangan kesadaran. Ia mendengar suara pintu mobil terbuka.
Sepasang sepatu kulit hitam berhenti tepat di depannya. Adrian membuka matanya perlahan. Seorang pria tua berjas hitam sedang menatapnya. Tatapan pria itu begitu tajam, tetapi anehnya tidak dipenuhi rasa meremehkan seperti orang-orang lain.
"Apa kau ingin terus menjadi korban?"
Adrian tidak menjawab.
"Aku bertanya sekali lagi."
Pria itu berjongkok. "Apa kau ingin bangkit... dan membuat mereka menyesali semuanya?"
Kali ini baru ada seseorang yang menawarkan harapan. Bukan belas kasihan, melainkan kesempatan. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Adrian mengangguk pelan.
Pria tua itu tersenyum tipis. "Mulai hari ini, kau ikut denganku."
Namanya adalah Leonardo Moretti, Don keluarga Moretti. Pria yang kemudian mengubah seluruh jalan hidup Adrian. Lamunan Adrian buyar ketika ponselnya bergetar. Ia melihat nama yang muncul di layar... Leonardo Moretti.
Senyum tipis akhirnya menghiasi wajahnya. "Selamat malam, Ayah."
"Bagaimana keadaanmu, Adrian?"
"Semuanya terkendali."
"Aku sudah mendengarnya." Suara Leonardo terdengar hangat. "Kau semakin mirip denganku."
Adrian terkekeh pelan. "Itu pujian atau peringatan?"
"Keduanya."
Leonardo tertawa kecil. "Lupakan pekerjaanmu malam ini. Datanglah ke mansion. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
"Sesuatu yang penting?"
"Sangat penting."
Sambungan telepon pun berakhir. Adrian menatap layar ponselnya beberapa saat.
Adrian masih menatap layar ponselnya selama beberapa detik sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku jas. Tatapannya beralih ke Johan. "Siapkan mobil."
"Baik, Don."
Tak sampai lima menit kemudian, sebuah Rolls-Royce Phantom hitam keluar dari gudang dengan iring-iringan tiga mobil SUV berwarna senada. Di depan dan belakang, kendaraan pengawal bergerak menjaga jarak.
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Adrian duduk di kursi belakang sambil memandangi pemandangan Kota Zurich yang mulai diselimuti cahaya lampu malam.
"Berapa lama menuju mansion?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
"Dua puluh menit lagi, Don."
Adrian hanya mengangguk pelan. Entah mengapa, ucapan Leonardo tadi masih terngiang di kepalanya.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
Jika ayah angkatnya sampai memintanya datang langsung ke mansion, berarti persoalan itu bukan perkara sepele. Leonardo bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.
Tiba-tiba...
"Ciiittt!"
Suara rem mendadak membuat seluruh iring-iringan berhenti. Tubuh Johan yang duduk di kursi depan refleks menoleh.
"Ada apa?"
Salah satu pengawal turun dari mobil paling depan. Beberapa detik kemudian, suara seseorang terdengar samar di luar.
"Tolong... jangan! Aku benar-benar tidak punya uang!"
Adrian mengernyit.
Ia menoleh ke arah jendela. Di seberang jalan, sekitar tiga puluh meter dari mobilnya, seorang gadis berambut panjang tengah berusaha melepaskan diri dari cengkeraman dua pria bertubuh besar.
Pakaiannya sederhana, tas kain yang dibawanya jatuh ke trotoar hingga seluruh isinya berserakan. Beberapa orang yang melintas hanya melirik sekilas sebelum memilih pergi. Tak ada yang berani ikut campur.
Salah satu pria itu menarik rambut gadis tersebut dengan kasar. "Kau pikir bisa terus kabur, hah?"
"Aku sudah bilang... beri aku waktu beberapa hari lagi," ucap gadis itu dengan suara bergetar.
"Waktu?"
Pria itu tertawa sinis. "Bos kami sudah menunggu hampir tiga bulan!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu hingga tubuhnya terjatuh.
Adrian yang menyaksikan dari balik kaca mobil tetap diam. Namun sorot matanya berubah sangat dingin. Ia memperhatikan wajah pria yang baru saja menampar gadis itu, ada sesuatu yang terasa tidak asing.
Pria itu... Adrian memejamkan mata sesaat, seolah mencoba mengingat. Lalu... seketika ingatan delapan tahun lalu memenuhi kepalanya.
Malam, hujan, gang sempit, suara tawa mengejek.
"Anak miskin!"
"Sampah!"
"Pukul dia!"
Mata Adrian perlahan terbuka. Kini ia benar-benar mengenali wajah itu. Meski usia pria tersebut bertambah dan tubuhnya lebih gemuk. Bekas luka panjang di pelipis kirinya masih sama. Dia adalah salah satu penagih hutang yang dulu berkali-kali memukul Adrian tanpa belas kasihan.
Jemari Adrian perlahan mengepal. "Don?"
Johan menoleh heran karena merasakan perubahan aura pemimpinnya, Adrian membuka pintu mobil.
Klik.
"Don, biarkan kami yang turun."
"Tidak." Suara Adrian terdengar datar.
"Tapi..."
"Aku bilang tidak." Ia melangkah keluar.
Sepatu kulit hitamnya menyentuh aspal dengan tenang. Langkahnya perlahan mendekati kerumunan itu. Salah satu penagih utang yang melihatnya langsung berseru kasar.
"Hei! Jangan ikut campur kalau tidak mau celaka!"
Adrian tetap berjalan, tak sedikit pun langkahnya terhenti. Sementara itu, gadis yang masih terduduk di atas aspal perlahan mengangkat wajahnya.
Pipi kirinya memerah akibat tamparan, sudut bibirnya sedikit berdarah. Air mata masih menggantung di pelupuk matanya.
Saat mata mereka bertemu... entah mengapa, untuk sesaat dunia di sekitar Adrian terasa hening. Tatapan gadis itu begitu jernih, penuh ketakutan. Namun masih menyimpan secercah harapan.
Pria bertubuh besar itu mendengus. "Aku bilang pergi!"
Tangannya terangkat hendak mendorong Adrian. Namun dalam sekejap...
Bugh!
Sebuah pukulan telak menghantam wajah pria itu hingga tubuhnya terpental beberapa meter dan menghantam kap mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dentuman keras menggema.
Semua orang membeku.
Tak ada yang sempat melihat kapan Adrian menggerakkan tangannya. Ia hanya berdiri tenang, merapikan sedikit lengan jasnya, lalu menatap pria-pria itu dengan sorot mata yang membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.
"Sudah lama..." ucap Adrian pelan. "Aku menunggu hari untuk bertemu kalian lagi."
Suasana jalan yang semula riuh mendadak berubah sunyi. Semua orang memandang pria muda berjas hitam yang berdiri dengan tenang di tengah jalan.
Pria bertubuh besar yang baru saja menerima pukulan Adrian masih tergeletak di atas kap mobil. Darah menetes dari hidungnya, sementara matanya berkunang-kunang.
"Kau...!" geramnya sambil memegangi rahangnya.
Tiga pria lainnya langsung mencabut pisau lipat dari balik jaket mereka.
Salah seorang menunjuk Adrian. "Berani sekali kau ikut campur urusan kami!"
Adrian hanya memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya tetap datar. "Urusan kalian?" Ia melirik sekilas ke arah gadis yang masih terduduk di atas aspal. "Lima orang pria dewasa mengeroyok seorang wanita. Kalian menyebut itu urusan?"
"Dia punya hutang! Kalau tidak bisa bayar, kami berhak membawanya!"
Adrian tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. "Aku tidak peduli."
Ucapan singkat itu justru membuat mereka semakin marah.
"Sialan! Habisi dia!"
Empat pria itu berlari bersamaan. Pria pertama menusukkan pisaunya lurus ke arah perut Adrian. Namun... bukannya menghindar dengan panik, Adrian hanya menggeser tubuhnya setengah langkah.
Sreet!
Ujung pisau meleset beberapa sentimeter dari tubuhnya. Dalam waktu yang sama...
Brak!
Lutut Adrian menghantam perut lawannya. Pria itu langsung memuntahkan darah sebelum tubuhnya terangkat dan terpental ke belakang. Belum sempat dua pria lainnya bereaksi...
Bugh!
Sebuah tendangan berputar menghantam kepala salah satu dari mereka hingga tubuhnya jatuh berguling di atas jalan. Pria terakhir mencoba menyerang dari belakang. Namun Adrian seolah memiliki mata di belakang kepalanya. Tangannya menangkap pergelangan tangan lawan.
Krek!
Suara patahan tulang membuat beberapa pejalan kaki spontan menutup mulut.
"Aaaaaargh!"
Pisau itu terjatuh. Adrian menendangnya hingga meluncur jauh ke bawah sebuah mobil. Kemudian...
Bugh!
Satu pukulan terakhir mendarat tepat di wajah pria tersebut. Tubuhnya ambruk tanpa mampu bangkit lagi. Hanya dalam hitungan kurang dari satu menit...
Empat pria itu telah terkapar, mereka bahkan tidak sempat menyentuh Adrian. Keheningan menyelimuti jalan, beberapa orang mulai mengeluarkan ponsel untuk merekam.
Namun sebelum sempat menekan tombol kamera. Puluhan pria berjas hitam turun dari SUV yang sejak tadi berhenti di belakang Rolls-Royce. Mereka berdiri membentuk barisan, salah seorang mengangkat tangan.
"Dilarang merekam." Suaranya tenang.
Tetapi cukup membuat semua orang mengurungkan niat.
Sementara itu...
Pria yang sejak awal memimpin penagihan utang berusaha berdiri. Saat menatap wajah Adrian lebih lama... matanya perlahan membesar.
"Tidak... mungkin...."
Adrian berjalan mendekatinya. Setiap langkahnya terdengar jelas.
"Kau..." Pria itu menelan ludah. "Ka-kau Adrian?"
Adrian berhenti tepat di depannya. "Masih ingat rupanya."
Wajah pria itu berubah pucat pasi. Delapan tahun lalu... ia memang sering memukul seorang anak jalanan bernama Adrian. Namun siapa sangka... anak lemah yang dulu mereka hina kini berdiri di hadapannya dengan aura yang membuat lututnya gemetar.
"Mustahil.... kau seharusnya sudah mati!"
Adrian menatapnya tanpa ekspresi. "Sayangnya aku masih hidup."
Pria itu mundur beberapa langkah. "Kami hanya menjalankan perintah! Sama seperti dulu."
Adrian mengingat setiap pukulan yang pernah diterimanya. Setiap hinaan, tawa, namun anehnya ia tidak lagi merasakan kebencian sebesar dulu. Yang tersisa hanyalah rasa hampa.
"Johan."
"Ya, Don."
"Bawa mereka."
"Ke mana, Don?"
Adrian memandang pria-pria itu beberapa saat. "Ke gudang."
Mendengar satu kata itu, wajah mereka langsung kehilangan warna. Semua orang di dunia bawah tahu, tidak ada pengkhianat atau penjahat yang dibawa ke gudang keluarga Moretti tanpa alasan.
"To-tolong ampuni kami! Kami tidak akan mengulanginya lagi!"
Adrian membalikkan badan. "Kesempatan kedua hanya diberikan kepada orang yang tahu cara menghargai kesempatan pertama. Sedangkan kalian... tidak pernah memberikannya kepadaku."
Anak buah Adrian segera menyeret mereka masuk ke dalam mobil. Tangisan dan teriakan memohon ampun memenuhi jalan. Namun Adrian sama sekali tidak menoleh, perhatiannya kini tertuju pada gadis yang masih terduduk diam. Ia berjalan perlahan, gadis itu tampak ketakutan. Refleks ia sedikit menggeser tubuhnya ke belakang.
Adrian berhenti sekitar satu meter di depannya. "Kau terluka?"
Gadis itu menggigit bibirnya. "A-aku... tidak apa-apa."
Adrian menghela napas pelan. "Kalau tidak apa-apa, kau tidak akan gemetar seperti itu."
Tanpa meminta izin, ia membungkukkan badan lalu mengambil tas kain milik gadis itu. Buku-buku, dompet kecil, dan beberapa lembar dokumen yang berserakan ia kumpulkan satu per satu. Setelah semuanya rapi, Adrian menyerahkan tas itu.
"Periksa."
Gadis tersebut menerima tasnya dengan kedua tangan. Tak ada satu pun barang yang hilang. Ia menatap pria di hadapannya dengan bingung. Pria ini... berpenampilan seperti orang yang sangat berbahaya. Tetapi justru memperlakukannya dengan sopan.
"Terima kasih...."
Kini Adrian melihat senyum kecil di wajah gadis tersebut. Entah mengapa... dadanya yang selama ini begitu tenang terasa sedikit berbeda. Perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai muncul.
Untuk beberapa detik, Adrian hanya menatap wajah gadis itu. Tatapan mereka kembali bertemu, kini Adrian dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas. Usianya mungkin sekitar dua puluh dua tahun.
Meski pipinya memerah akibat tamparan dan rambut panjangnya berantakan, kecantikannya tetap sulit disembunyikan. Ada sesuatu dalam sorot mata gadis itu rapuh, namun masih menyimpan keberanian untuk bertahan hidup.
"Siapa namamu?" tanya Adrian.
Gadis itu terdiam sesaat sebelum menjawab lirih. "Aurora."
"Aurora?"
"Aurora Bellini."
Adrian mengangguk pelan. "Mulai sekarang kau ikut denganku."
Ucapan itu membuat Aurora langsung mengangkat kepala.
"Apa?"
"Kau dengar ucapanku."
Aurora buru-buru menggeleng. "Ti-tidak. Terima kasih karena sudah menolongku, tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin merepotkan siapa pun. Aku juga tidak mengenalmu."
Adrian tetap memasang wajah datar. "Itu bukan masalah."
"Bagiku itu masalah." Aurora menggenggam erat tasnya. "Aku hanya orang biasa. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
Adrian melirik ke arah mobil tempat para penagih utang tadi dibawa. "Kalau kau bisa mengurus dirimu sendiri, mereka tidak akan menyeretmu sampai ketengah jalan seperti ini."
Aurora terdiam, ia tahu pria itu benar. Namun mengikuti pria asing yang bahkan dikelilingi puluhan pengawal bersenjata juga bukan pilihan yang masuk akal.
"Maaf...." Aurora membungkukkan badan singkat. "Sekali lagi terima kasih sudah menyelamatkanku. Kalau tidak ada lagi yang lain... aku permisi."
Baru beberapa langkah Aurora berjalan.
"Tunggu." Suara Adrian kembali menghentikannya.
Aurora memejamkan mata sejenak sebelum berbalik. "Apa lagi?"
"Kau tidak boleh pergi."
Kening Aurora berkerut. "Memangnya kau siapa melarangku untuk pergi?"
"Aku hanya tidak ingin melihatmu dikejar orang yang sama untuk kedua kalinya."
"Itu urusanku."
"Tidak." Jawaban Adrian terdengar begitu tegas. "Mulai sekarang itu juga urusanku."
Aurora mulai merasa kesal. "Kau memang sudah menolongku. Tapi itu tidak berarti kau bisa mengatur hidupku. Aku tidak butuh perlindungan, aku juga tidak ingin berurusan dengan orang seperti kalian."
Pandangan Aurora menyapu para pria berjas hitam yang berdiri di belakang Adrian. Meski tak ada satu pun yang berbicara, aura mereka cukup membuat siapa saja tahu bahwa mereka bukan orang biasa.
Aurora mundur selangkah. "Lupakan saja pertemuan kita malam ini, aku harus pergi." Ia kembali membalikkan badan.
Namun belum sempat melangkah jauh...
"Johan."
"Ya, Don."
"Bawa dia."
Johan sempat terdiam. "Don?"
"Bawa dia ke mobil."
Perintah itu membuat seluruh anak buah langsung memahami maksud pemimpinnya. Dua orang wanita pengawal segera mendekati Aurora.
"Nona, mohon ikut bersama kami."
Aurora membelalakkan mata. "Apa-apaan ini? Lepaskan!" Ia mencoba melepaskan diri. "Aku tidak mau ikut! Hei! Kalian tidak bisa memaksa orang seperti ini!"
Meski berusaha melawan, tenaga Aurora jelas tidak sebanding dengan kedua pengawal wanita yang telah terlatih. Dengan tetap berhati-hati agar tidak menyakitinya, mereka mengarahkan Aurora menuju Rolls-Royce.
"Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan!"
Adrian hanya memandang tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
Johan mendekat perlahan. "Don... apa Anda yakin?"
Adrian tetap menatap Aurora yang masih berusaha memberontak. "Kalau ku biarkan dia pergi malam ini... besok mungkin aku hanya akan menemukan jasadnya."
Johan tidak membantah, ia sendiri sudah membaca laporan mengenai kelompok rentenir itu. Mereka terkenal kejam kepada orang yang gagal membayar hutang.
"Saya mengerti."
Tak lama kemudian, Aurora berhasil dimasukkan ke kursi belakang mobil.
Ia langsung menatap Adrian dengan kesal. "Anda menculik ku!"
"Aku menyelamatkanmu."
"Ini tetap penculikan!"
"Kalau kau ingin menyebutnya begitu, silahkan."
Aurora menggertakkan giginya. "Dasar pria aneh!"
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun memimpin keluarga Moretti. Ada seseorang yang berani memarahinya tepat di depan wajahnya.
Anehnya... Adrian sama sekali tidak merasa tersinggung. Justru sudut bibirnya terangkat sangat tipis. Senyum yang nyaris tak terlihat. Johan yang menyadarinya sampai berkedip beberapa kali.
Selama delapan tahun bekerja bersama Adrian. Belum pernah sekali pun ia melihat Don mudanya tersenyum kepada seorang wanita.
Johan segera menutup pintu mobil. "Don, bagaimana dengan Mansion Moretti?"
Adrian mengeluarkan ponselnya. Ia menekan nomor Leonardo. Tak lama kemudian sambungan terhubung.
"Adrian?"
"Maaf, Ayah. Ada perubahan rencana, aku tidak bisa datang malam ini."
Leonardo terdiam beberapa saat. "Ada masalah?"
"Aku harus menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu."
"Baiklah."
"Ayah akan menunggumu besok pagi."
Sambungan telepon pun berakhir.
Adrian menyimpan kembali ponselnya.bIa menoleh ke arah Johan. "Kita kembali ke markas."
"Baik, Don."
Mesin Rolls-Royce kembali menyala. Disusul tiga SUV pengawal yang perlahan bergerak meninggalkan lokasi. Sementara di kursi belakang... Aurora masih memeluk tasnya erat sambil sesekali melirik pria di sampingnya dengan penuh waspada.
Rolls-Royce Phantom melaju mulus membelah jalanan Kota Zurich yang mulai lengang. Di dalam mobil, suasana begitu hening. Hanya suara mesin yang terdengar samar.
Aurora duduk di sudut kursi belakang, memeluk tas kainnya erat-erat seolah itu satu-satunya benda yang bisa memberinya rasa aman. Sesekali ia melirik pria di sampingnya.
Adrian duduk tegak dengan kedua kaki menyilang. Tatapannya lurus ke depan, seolah tidak terusik oleh tatapan tajam yang sejak tadi diarahkan kepadanya.
Aurora menggigit bibir. "Kalau aku berteriak, orang-orang akan tahu kalau kau menculik ku."
Adrian tidak menoleh. "Silahkan."
Jawaban singkat itu membuat Aurora terdiam.
"Apa?"
"Berteriaklah."
Aurora mengernyit.
"Kaca mobil ini kedap suara, dan orang-orang di luar tidak akan mendengarmu."
Aurora langsung kehilangan kata-kata. Ia menatap ke luar jendela. Benar saja, mobil itu memiliki kaca yang sangat gelap. Bahkan suara klakson kendaraan lain hampir tidak terdengar dari dalam.
Aurora mengepalkan tangannya. "Kenapa kau melakukan ini kepadaku?"
Kali ini Adrian menoleh. "Aku hanya ingin memastikan kau tetap hidup."
"Tapi aku bahkan tidak mengenal kau."
"Mulai sekarang kau akan mengenalku."
Jawaban itu membuat Aurora mendengus pelan. "Apa kau selalu memaksa orang lain?"
"Kalau diperlukan."
Aurora memutar bola matanya kesal. "Aneh... apa semua orang kaya memang seperti ini?"
Sudut bibir Johan yang duduk di kursi depan nyaris terangkat. Belum pernah ada orang yang berbicara kepada Don mereka dengan nada seperti itu.
Namun Adrian tetap tenang. "Tidak."
"Lalu kenapa kau seperti ini?"
Adrian terdiam beberapa saat. "Aku tidak suka kehilangan seseorang yang sudah kupilih untuk kulindungi."
Aurora memandangnya heran, ucapan itu terdengar aneh. Mereka bahkan baru bertemu kurang dari tiga puluh menit. Belum sempat Aurora menjawab, mobil perlahan keluar dari pusat kota. Gedung-gedung tinggi mulai berganti dengan kawasan yang lebih sepi.
Lima belas menit kemudian...
Mobil memasuki sebuah jalan pribadi yang dijaga gerbang besi raksasa. Puluhan petugas keamanan berpakaian hitam langsung memberi hormat ketika iring-iringan kendaraan tiba.
"Selamat datang, Don."
Gerbang perlahan terbuka.
Mata Aurora langsung membulat. Di balik gerbang itu berdiri sebuah kompleks megah yang lebih menyerupai istana modern daripada markas.
Bangunan utama terdiri dari empat lantai dengan dinding marmer hitam dan kaca-kaca tinggi yang memantulkan cahaya lampu taman. Air mancur besar berdiri tepat di tengah halaman. Di sisi kanan terlihat landasan helikopter.
Sementara di sisi kiri berjajar beberapa mobil mewah yang nilainya mungkin cukup untuk membeli puluhan rumah.
Aurora menelan ludah. "D-di mana ini?"
"Markasku."
"Ini bukan markas..." Aurora berbisik pelan. "Ini seperti istana."
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama. Seorang kepala pelayan yang telah berusia sekitar enam puluh tahun segera keluar bersama beberapa pelayan lain.
Mereka membungkukkan badan bersamaan. "Selamat datang kembali, Don Muda."
Adrian turun lebih dulu, ia kemudian membuka pintu di sisi Aurora. "Turun."
Aurora justru memeluk tasnya semakin erat. "Aku tidak mau."
Adrian menatapnya tanpa berkedip. "Di luar dingin."
"Itu bukan urusan kau."
"Lima detik."
Aurora mengernyit.
"Kalau kau tidak turun sendiri... Aku akan menggendongmu."
Wajah Aurora langsung memerah. "Apa?"
"Satu..."
"Hei!"
"Dua..."
"Jangan menghitung!"
"Tiga..."
Aurora buru-buru turun dari mobil. "Aku bisa jalan sendiri!"
Kini beberapa pengawal saling bertukar pandang. Mereka hampir tidak percaya, Don Adrian baru saja mengancam akan menggendong seorang wanita.
Sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan. Adrian berjalan lebih dulu menuju pintu masuk. Aurora hanya bisa mengikutinya dengan langkah ragu.
Sesampainya di dalam, matanya kembali membesar. Langit-langit aula menjulang tinggi dengan lampu kristal raksasa menggantung di tengah.
Lantai marmer putih mengilap hingga memantulkan bayangan siapa pun yang berjalan di atasnya. Lukisan-lukisan mahal menghiasi setiap dinding.
Aurora yang sejak kecil hidup sederhana belum pernah melihat tempat semewah ini. "Ini... benar-benar seperti istana."
"Bukan." Adrian menjawab datar. "Ini markas keluarga Moretti."
Ucapan itu membuat Aurora berhenti melangkah.
"Keluarga... Moretti?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!