Zhang Lin, sang "Dewa Perang" yang namanya pernah membuat gemetar musuh-musuh di perbatasan Dinasti Yin, kini berlutut di atas altar eksekusi. Di hadapannya, ribuan rakyat yang pernah ia lindungi dengan taruhan nyawa kini bersorak gembira, melempari dirinya dengan caci maki.
“Pengkhianat negara!”
“Matilah kau, Zhang Lin!”
Demi melindungi nama baik sang pangeran yang melarikan diri dari medan perang, beberapa pejabat negara menjebak Zhang Lin— mengatakan jika dialah sosok penghianat yang telah melarikan diri dari medan perang karena takut kematian.
Padahal yang sebenarnya, Zhang Lin adalah sosok pemberani yang tidak pernah mundur atau pun takut dengan kematian! Tetapi kini semua itu sudah tidak lagi berarti, karena demi melindungi nama baik sang pangeran, ia harus menerima semua makian, hinaan dan juga kematian.
"Tegakkan kepalamu, Zhang Lin!" bentak sang algojo, mengangkat pedang besar yang berkilau dingin di bawah terik matahari.
Zhang Lin tidak takut mati. Namun, dadanya sesak oleh amarah yang membakar. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku bersumpah tidak akan pernah lagi menjadi perisai bagi mereka yang tidak tahu diri!
SRAKKK!
Kilatan perak pedang menebas lehernya. Rasa sakit yang luar biasa menghantam, pandangannya menggelap, dan detak jantung sang Dewa Perang berhenti seketika.
HIIIIKKKK—!!
Suara lengkingan tajam yang belum pernah didengarnya seumur hidup memaksa kesadaran Zhang Lin kembali. Alih-alih mencium bau tanah altar atau dinginnya alam baka, hidungnya justru dipenuhi bau asap aneh yang menyengat dan aroma karet terbakar.
"Hei! Kalau mau mati jangan di tengah jalan, Goblok!" sebuah teriakan kasar bergema.
Zhang Lin tersentak, matanya terbuka lebar. Rasa sakit di lehernya lenyap tanpa bekas. Ia tidak lagi berlutut di atas altar kayu, melainkan bersimpuh di atas permukaan hitam yang sangat keras dan rata.
Kebingungan... Zhang Lin benar-benar tidak tahu di mana keberadaannya dirinya saat itu. Tempat aneh, orang-orang aneh, pakaian aneh... bahkan, gaya rambut yang aneh.
Semuanya benar-benar sangat aneh bagi Zhang Lin!
Melihat keanehan yang ada di depan matanya, Zhang Lin benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Segala hal yang ada di depan matanya pada saat itu benar-benar baru bagi dirinya—kotak besi yang bisa berjalan dengan empat roda, dan di mana di dalam kotak besi tersebut ada seseorang... pemandangan itu benar-benar sangat aneh bagi Zhang Lin.
Zhang Lin terpaku. Ia perlahan bangkit berdiri, menatap sekeliling dengan jantung yang berdegup kencang. Ini bukan Dinasti Yin. Ini bahkan tidak terlihat seperti bumi yang ia kenal.
Di sekelilingnya, menara-menara kaca raksasa menjulang tinggi hingga seolah menembus awan.
Cahaya lampu berwarna-warni berkedip dari papan-papan besar yang menampilkan gambar manusia yang bergerak. Dan orang-orang... puluhan, ratusan orang di sekitarnya berjalan dengan tergesa-gesa.
Zhang Lin menunduk melihat dirinya sendiri. Ia masih mengenakan jubah perang berlapis zirah perak milik Dinasti Yin yang compang-camping dan berlumuran darah kering. Rambut panjangnya terurai berantakan.
"Wah, lihat itu. Cosplay-nya niat banget ya?" bisik seorang gadis muda yang lewat sambil mengarahkan kotak kecilnya ke arah Zhang Lin.
"Keren sih, tapi mukanya pucat banget. Kayak habis keluar dari set film beneran."
"Bukan hanya orang-orangnya saja yang aneh... tetapi, cara mereka berbicara juga sangat aneh. Dan kenapa orangtua mereka membiarkan para wanita memakai pakaian ketat dan terbuka seperti itu? Benar-benar tid—"
Brukk!
Karena asik berbicara sendiri, Zhang Lin sampai tidak menyadari bahwa sebuah mobil bergerak dengan laju kearah dirinya dan kemudian menabraknya hingga ia melayang sedikit jauh dari posisi awal ia berdiri.
Dan tepat ketika Zhang Lin membuka matanya kembali, ia sekali lagi terkejut karena ini berada di sebuah tempat dimana pencahayaan disana begitu terang bahwa juga sangat dingin.
"Apakah sekarang aku benar-benar sudah pergi ke alam lain? Apakah ini yang dinamakan alam baka?"
Di tengah-tengah kebingungan yang dirasakan oleh Zhang Lin, tiba-tiba saja di balik tirai seorang wanita muncul.
Wanita itu terlihat sangat cantik, namun wajahnya terlihat sangat kelelahan. Dia juga terlihat gugup serta panik ketika berhadapan langsung dengan Zhang Lin.
Dan tepat ketika Zhang Lin ingin bertanya, wanita itu langsung menunduk di hadapannya dan kemudian memohon maaf kepada Zhang Lin.
"Maafkan aku..." Wanita itu terus membungkuk di hadapan Zhang Lin yang kebingungan. "Aku benar-benar tidak sengaja menabrak kamu. Sebenarnya aku sangat kelelahan karena terus bekerja lembur beberapa hal terakhir ini; dan karena itulah hal seperti ini akhirnya terjadi. Kumohon tolong maafkan aku... dan jika bisa tolong jangan laporkan hal ini kepada polisi. Aku ini orang miskin... aku benar-benar tidak punya uang untuk memberikan kompensasi."
Ketika wanita aneh itu terus berbicara, Zhang Lin tidak terlalu mendengarkan karena pada saat itu ia terlalu sibuk melihat kesibukan para dokter dan juga suster dalam merawat orang-orang sakit yang ada di ruang unit darurat tersebut.
Zhang Lin tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap kelincahan para tenaga medis dalam menangani orang-orang yang sedang sakit; dan jauh di dalam hatinya, Zhang Lin sedikit berharap... jika saja Dinasti Yin memiliki semua ini, maka orang-orang tidak akan mati begitu saja ketika wabah datang.
Saat wanita itu terus berbicara tanpa henti, dan ketika Zhang Lin terus mengagumi semua hal yang ada di sekitarnya... tiba-tiba seorang suster datang dan kemudian membuat keduanya langsung mengalihkan perhatian mereka kepada suster itu.
"Maaf sebelumnya, tetapi kami harus mengetahui dahulu data pasien. Dan jika boleh tahu, siapa nama Anda, tuan?" tanya Suster kepada Zhang Lin.
"Zhang Lin," jawab Zhang Lin dengan lancar.
"Baik. Tuan Zhang Lin... apakah Anda punya kartu identitas?"
Zhang Lin sekali lagi kebingungan karena ditanya hal-hal yang tidak dia mengerti.
"Ka-kartu identitas? Apa itu?" tanya Zhang Lin, menatap wanita yang menabrak dirinya, dan kemudian menatap suster.
Ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Zhang Lin, suster tersebut kemudian langsung menarik wanita yang menabrak Zhang Lin— membawa wanita itu untuk menjauh dari Zhang Lin.
Setelah beberapa saat, wanita itu berbalik seorang diri tanpa ada suster di sampingnya. Dan ekspresi wanita itu jauh lebih kelihatan lelah daripada sebelumnya.
"Apakah saat ini kamu tahu kamu sedang berada di mana?" tanya wanita itu tiba-tiba.
Zhang Lin menjawab dengan jujur dengan menggelengkan kepalanya.
Ketika mendapat di jawaban yang diberikan oleh Zhang Lin, wanita itu tampak ingin menangis.
"Baiklah... mungkin ini memang sudah menjadi nasibku. Nasib buruk... benar-benar buruk."
Zhang Lin benar-benar tidak mengerti kenapa wanita itu menyalahkan nasibnya sendiri; tetapi setelah ia keluar dari rumah sakit itu, akhirnya ia mengerti kenapa wanita tersebut menyalahkan nasib buruknya.
"Karena ini adalah kesalahanku, dan karena aku tidak punya cukup uang untuk memberikan kompensasi lebih lanjut kepadamu... karena itu, mulai sekarang kamu bisa tinggal denganku; setidaknya sampai kamu bisa mendapatkan kembali kewarasanmu," ucap wanita itu.
"Dan... kenalkan. Aku Li Na."
...
-Bersambung-
Li Na adalah seorang wanita biasa yang dimana hidupnya selalu tertimpa nasib buruk. Sejak kecil Li Na tidak pernah mendapatkan keberuntungan di dalam hidupnya; bahkan ketika sang nenek sudah membawanya pergi ke orang pintar untuk dibuang kesialannya... semua itu benar-benar tidak ada gunanya, karena sampai detik ini pun juga Li Na masih ketiban sial.
Dan kesialannya kali ini adalah; dia tidak sengaja menabrak Zhang Lin. Dan mengingat kondisi Zhang Lin yang seperti orang tidak waras, ph kroma sakit menyerahkan tanggung jawab untuk merawat Zhang Lin kepada Li Na. Dan jika Li Na menolak, maka pihak rumah sakit mengancam akan menghubungi polisi dan membiarkan hukum bekerja.
Karena tidak ingin berurusan dengan polisi, Li Na terpaksa membawa Zhang Lin bersama dengan dirinya untuk tinggal di rumah peninggalan neneknya yang kecil dan juga sempit.
"Maaf. Rumah ini mungkin kecil, tetapi setidaknya rumah ini masih kuat. Kurasa rumah ini masih bisa menampung satu orang tambahan lagi. Dan ngomong-ngomong... kenapa kamu berpakaian seperti itu? Apakah kamu aktor?" tanya Li Na.
Setelah begitu lama waktu berlalu, Li Na baru sempat mempertanyakan hal aneh itu sekarang; karena sejak tadi dia terlalu sibuk menyalahkan nasib buruk yang menghantui dirinya.
"A-Aktor? Apa itu aktor?"
Zhang Lin benar-benar tidak bisa mengerti dengan bahasa yang diucapkan oleh Li Na. Baginya, segala hal yang Li Na katakan adalah hal-hal baru.
Sama halnya dengan Zhang Lin yang merasa jika Li Na itu aneh, Li Na pun juga merasakan hal yang sama. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Zhang Lin. Dan di matanya, sosok Zhang Lin bukanlah sosok manusia yang waras.
"Ha-ha-ha. Sudahlah, tidak perlu memikirkan tentang itu lagi jika memang kamu tidak tahu. Dan ngomong-ngomong, kamu bisa menggunakan kamar ini."
Li Na membukakan pintu dan kemudian memperlihatkan kepada Zhang Lin kamar kosong yang ada di rumah kecilnya. Dan sebenarnya, kamar itu bukanlah kamar kosong.
Sebenarnya kamar itu adalah kamar yang biasa ditempati oleh adik Li Na. Tetapi adiknya itu jarang pulang ke rumah, dan bahan hubungannya dengan Li Na pun juga tidak baik. Karena itulah Li Na berani menyerahkan kamar itu untuk ditempati oleh Zhang Lin.
"Dan... ini..." Li Na membuka lemari pakaian adiknya, memperlihatkan kepada Zhang Lin semua pakaian itu dan kemudian mengatakan kepadanya jika Zhang Lin boleh memakai apapun yang Zhang Lin inginkan.
"Ini adalah baju adikku. Kamu bisa menggunakannya untuk berganti pakaian. Karena dari yang kulihat, sepertinya baju yang kamu gunakan terlalu merepotkan," ujar Li Na.
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Li Na... rasa pede dan juga rasa bangga yang sebelumnya ia rasakan ketika memakai pakaian itu... seketika hilang begitu saja.
"Oke. Kurasa semuanya kamu sudah paham kan? Dan jika sudah tidak ada lagi pertanyaan, aku akan pergi keluar untuk memasak makan malam. Dan sebaiknya kamu ganti pakaianmu. Setelah itu keluarlah untuk makan bersamaku," ucap Li Na sebelum pergi keluar dan kemudian menutup kamar itu.
Dan ini, Zhang Lin sendirian di dalam kamar itu. Ia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia benar-benar sangat terkejut dengan segala hal yang ada di dalam kamar itu— terlebih lagi ketika ia mencoba untuk duduk di atas kasur yang empuk. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan ada benda yang selembut dan juga seempuk itu.
"Benda aneh apa ini?"
Zhang Lin benar-benar terlihat seperti anak kecil yang baru saja dibawa ke taman bermain. Ia begitu antusias melihat barang-barang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Segala hal yang ada di tempat itu benar-benar baru baginya. Dan hal yang paling membuatnya merasa tertarik adalah: foto masa kecil Li Na.
Ketertarikan itu muncul ketika Zhang Lin melihat adanya kemiripan wajah kecil Li Na dengan wanita yang dulu ia cintai; tetapi pada akhirnya cintanya tidak terbalas karena wanita itu terlanjur dinikahkan oleh pangeran yang telah membuat dirinya dicap sebagai seorang penghianat negara.
Ketika mengingat akan hal tersebut, Zhang Lin benar-benar merasa marah sampai dia menutup foto masa kecil Li Na dengan kuat. Padahal foto itu tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Selanjutnya, Zhang Lin beralih ke lemari pakaian yang dimana sebelumnya Li Na mengatakan jika ia bebas menggunakan apa saja yang ada di dalam lemari tersebut.
"Semua kain aneh ini... kainnya begitu lembut dan juga halus. Ini jauh lebih ringan dibandingkan pakaian yang aku pakai sekarang. Ini benar-benar luar biasa."
Zhang Lin masih merasa takjub dengan hal-hal baru yang ada di hadapannya pada saat itu. Dan terasa penasaran itu mendorong Zhang Lin untuk mencoba beberapa pakaian yang ada di sana.
Dan ketika pakaian itu sudah ada di tubuhnya, Zhang Lin benar-benar langsung terlihat seperti orang lain. Ia terlihat sama seperti orang-orang yang ia temui di jalanan sebelumnya.
"Tampan..."
Zhang Lin tersenyum. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap dirinya sendiri yang terlihat begitu tampan dengan balutan pakaian modern tersebut.
Ia terus menikmati pemandangan dirinya sendiri di cermin, sampai tiba-tiba aroma makanan sedap membuat perutnya langsung berbunyi— tidak menunggu lagi, Zhang Lin langsung keluar dari kamar mengikuti aroma sedep itu.
Dan ternyata aroma sedap tersebut berasal dari makanan yang dibuat oleh Li Na.
"Wah!"
Li Na tampak benar-benar terkejut melihat penampilan terbaru Zhang Lin. Dan begitu jelas wanita itu tampaknya terpesona dengan Zhang Lin.
Namun pada saat itu Zhang Lin tidak memiliki cukup banyak waktu untuk menyadari akan hal itu, karena ia terlalu sibuk mengurus perutnya yang terus berbunyi karena lapar.
"Apakah semua makanan ini boleh aku makan?" tanya Zhang Lin dengan mata yang berbinar-binar; sehingga membuat Li Na tidak bisa untuk mengatakan 'tidak' kepadanya.
"Iya, tentu saja. Kamu bisa memakan semuanya. Tapi, bisakah kamu menunggu sebentar sampai supnya masak? Dan selagi menunggu, kamu bisa duduk dulu di situ," jawab Li Na.
Zhang Lin patuh. Ia langsung duduk begitu Li Na memerintahkan hal itu. Dan ketika semua masakan yang dimasak oleh Li Na sudah siap, Li Na dengan hati-hati memberikan semangkuk nasi untuk Zhang Lin.
"Sekarang, kamu bisa makan."
Tepat setelah Li Na memberikan izin kepada Zhang Lin untuk mulai menikmati makanannya, saat itu Zhang Lin langsung bereaksi dengan memakan semua makanan yang ada di depan matanya tanpa henti.
Ia memberikan pertunjukan makan yang begitu luar biasa di hadapan Li Na. Dan cara makannya yang tidak biasa membuat wanita itu tidak bisa melakukan apa-apa selain menonton pertunjukan makan yang dibuat oleh Zhang Lin.
Dan tepat ketika Li Na sadar, tiba-tiba saja semua piring yang berisi lauk sudah habis dimakan oleh Zhang Lin!
...
-Bersambung-
"Masakanmu... sungguh luar biasa," puji Zhang Lin tulus, matanya berbinar. "Bahkan koki istana Dinasti Yin tidak bisa membuat nasi selembut ini."
Li Na mengerjapkan mata, antara ingin bangga atau menangis meratapi stok berasnya yang habis dalam semalam. 'Dia bilang istana? Benar-benar delusi tingkat akut,' batin Li Na prihatin.
"I-iya, syukurlah kalau enak," sahut Li Na kaku. "Nah, karena perutmu sudah kenyang, sekarang duduklah di ruang tengah. Jangan menyentuh apa pun, mengerti?"
Zhang Lin mengangguk patuh. Dengan setelan kaos hitam dan celana training longgar milik adik Li Na, langkah kakinya terdengar ringan saat berjalan ke ruang tengah yang hanya seukuran kamar tidurnya di masa lalu.
Tiba-tiba...
CEKLEK.
Li Na menyalakan sakelar lampu ruang tengah yang tadinya temaram.
"Argh! Sihir macam apa ini?!"
Zhang Lin langsung melompat mundur, mengambil posisi kuda-kuda bertarung yang kokoh.
"Kau... kau bisa memanggil cahaya matahari ke dalam kotak kaca ini tanpa membakarnya?"
Li Na yang sedang membawa piring kotor ke dapur hampir saja menjatuhkan cuciannya. "Itu lampu, Zhang Lin! Sakelar lampu! Astaga, apa di tempat asalmu tidak ada listrik?"
"Lis-trik?" Zhang Lin mengeja kata asing itu dengan kening berkerut. Sebelum ia sempat mencerna konsep 'listrik', matanya menangkap sebuah benda bundar dengan bilah-bilah besi di dalamnya yang menempel di dinding.
Karena udara malam itu agak gerah, Li Na berjalan mendekati benda itu dan menekan tombol angka tiga.
WUUUUSSSHHHH!
"Senjata rahasia!!" teriak Zhang Lin panik. Dan refleks ia hampir saja menghancurkan kipas angin itu.
"Heh! Jangan dihancurkan! Itu kipas angin!" jerit Li Na, langsung pasang badan menghadang Zhang Lin.
"Kipas? Kipas mana yang bisa berputar sendiri seperti baling-baling maut tanpa digerakkan tangan manusia?"
"Ini namanya teknologi!" Li Na mengacak rambutnya frustrasi. Nasib buruknya hari ini benar-benar lengkap: tak sengaja menabrak orang gila, diancam rumah sakit, dan sekarang rumahnya terancam dihancurkan oleh seorang cosplayer yang amnesia.
"Duduk. Di. Sofa. Sekarang!" perintah Li Na.
Zhang Lin yang merasa jika Li Na tampak marah akan sesuatu—ia langsung bersihkan patuh begitu saja tanpa banyak berbicara dan langsung duduk di atas tempat duduk yang ada; walaupun pada akhirnya ia kembali terkejut dengan keempukan kursi tersebut. Benar-benar berbeda dengan kursi yang biasanya ia gunakan di Dinasti Yin!
Rasa kagum dan juga rasa aneh itu tidak bisa ia kendalikan. Dan Li Na pun juga demikian. Dia tidak bisa memaksa seseorang yang tidak normal untuk bersikap normal. Contohnya... Zhang Lin.
Dari kejauhan, Li Na hanya bisa memijat pelan pelipisnya. Terlihat sangat jelas sekali jika pada saat itu dia sangat stress; dan sumber dari stres itu tidak lain adalah Zhang Lin.
Walaupun merasa stress dengan adanya Zhang Lin... Li Na tetapi tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima takdir buruknya. Dan untuk mengurangi sedikit perasaan buruk yang terus bergelantungan di dalam dadanya, Li Na berencana untuk menonton film.
Setelah mengiris buah di dapur, Li Na duduk di samping Zhang Lin—kemudian ia mengambil remote televisi dan kemudian menghidupkan televisi tersebut.
Layar hitam besar itu tiba-tiba menyala, menampilkan gambar ledakan besar dengan suara menggelegar dari speaker-nya. Itu adalah film aksi yang sedang tayang di televisi.
“Tembak! Cepat tembak!” suara dari televisi menggema.
Wajah Zhang Lin seketika memucat ketika melihat pemandangan yang sangat asing bagi dirinya saat itu. Ia tidak tahu apa apa dan mengira bahwa semua yang terjadi di dalam kotak hitam itu adalah nyata— begitu juga dengan bahayanya. Iya yakin jika bahaya itu nyata!
"Gadis bodoh! Kenapa kau hanya diam saja?!" Dengan gerakan secepat kilat, Zhang Lin menarik lengan Li Na, menyembunyikan tubuh wanita itu di belakang punggung tegapnya. "Ada pasukan pemberontak yang terkurung di dalam kotak itu! Mereka menggunakan sihir api! Mundur, biar aku yang mengurus mereka!"
Zhang Lin bersiap melayangkan tinjunya ke layar televisi bernilai jutaan yang dibeli Li Na dengan cara mencicil itu.
"TIDAAAKKK! JANGAN DIHANCURKAN! ITU TELEVISI!" Li Na berteriak histeris, memeluk pinggang Zhang Lin dari belakang dengan sekuat tenaga demi menyelamatkan aset berharganya. "Mereka tidak nyata! Itu cuma gambar! Gambar bergerak!"
"Gambar?!" Zhang Lin menegang. "Bagaimana mungkin gambar bisa bersuara dan meledak?"
Li Na melepaskan pelukannya setelah yakin Zhang Lin tidak akan memukul TV-nya.
"Hey, tuan! Dengarkan, aku. Dan sekarang jawab pertanyaanku dengan serius tanpa bermain-main!" seru Li Na.
Sejujurnya, Li Na benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan sikap aneh Zhang Lin. Dia ingin segera mengusir Zhang Lin keluar dari rumahnya saat itu juga.
"Sebenarnya kamu ini apa?!" tanya Li Na.
"Aku?"
"Iya! Kamu!"
"Aku... Zhang Lin."
"Bukan itu yang aku maksud! Maksudku kamu ini manusia jenis apa? Kenapa kamu aneh dan juga asing dengan segala hal-hal biasa yang ada di rumah ini? Pertama nasi, kedua lampu, ketiga sofa dan bahkan televisi! Kenapa kamu begitu aneh?"
Zhang Lin langsung terdiam di tempat pada saat itu juga. Karena pada saat itu ada beberapa hal yang sama dirasakan oleh Zhang Lin terhadap Li Na.
"Bagiku... kamu juga begitu, Li Na," ucap Zhang Lin.
"Apanya?" tanya Li Na.
"Anehnya..."
"Apa?!" Mata Li Na melotot saat mendengar bahwa Zhang Lin pun juga berpikir bahwa Li Na aneh.
Li Na tertawa geli. "Barusan aku tidak salah dengar kan? Barusan kamu bilang kalau aku aneh? Kamu?! Bilang aku aneh?! Kamu..."
Dari sorot mata Li Na, Zhang Lin bisa langsung menyadari bahwa wanita itu sedang marah besar; dan dengan berbekal pengalaman... Zhang Lin tidak ingin tetap diam di tempat yang sama sampai pada akhirnya pukulan yang akan melayang menghampiri dirinya.
Sebelum hal itu benar-benar terjadi, Zhang Lin langsung bangun dari tempat duduknya dan kemudian berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci dirinya disana.
"Woy!" teriak Li Na sambil memegang pisau buah di tangannya. "Setidaknya biarkan aku memukulmu sekali!" teriaknya lagi.
...
Di dalam kamar yang sempit itu, Zhang Lin membuka jendela yang ada di kamar itu, lalu kemudian ia menatap ke arah bulan yang bersinar terang di malam itu.
Perlahan-lahan ia menyentuh dadanya yang sebelumnya jelas-jelas ditusuk oleh pedangnya sendiri oleh seorang algojo; tetapi kini bekas dari tusukan itu pun bahkan tidak terlihat di mana-mana.
"Algojo itu jelas-jelas sudah menusukku dengan pedang beberapa kali. Dan seharusnya jika hal itu benar-benar terjadi... maka harusnya ada bekas yang tertinggal di sini. Tetapi kenapa tidak ada? Dan dunia ini... disini benar-benar penuh dengan barang-barang aneh, serta orang-orang yang aneh juga!"
Zhang Lin menghela napas panjang.
"Apakah aku bisa bertahan di dunia yang aneh ini?"
...
-Bersambung-
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!