Indonesia
NovelToon NovelToon

Love Me Back

lmb 1

Mentari begitu menyengat meski waktu baru menunjukkan pukul sembilan. Tennis court di sebuah hotel bintang lima mendadak ramai, bukan oleh kaum elit yang sibuk bermain melainkan teriakan para stafnya.

"Hey kau, larimu lamban sekali." Teriak ibu paruh baya berbadan gemuk mengomentari seorang gadis.

"Haha dia pasti gugur di tahap fisik." Wanita disamping ikut mengejek.

Mereka sangat menikmati waktu luang itu, keluar dari ruangan panas berbau minyak juga penuh tekanan.

Prit....

Bunyi peluit akhirnya terdengar nyaring. Membuat peserta tadi berhenti seketika menghirup udara sebanyak mungkin.

"Istirahat tiga puluh menit, selanjutnya akan ada tes praktek." Ujar pak Lim selaku head chef, dia selalu memperhatikan siapa saja yang berpotensi menjadi crew mereka yang baru.

Ya, mereka adalah bagian dapur Le Star Hotel. Dikarenakan kekurangan personel mau tidak mau harus ada perekrutan secara ketat. Apa lagi menghadapi selera bos mereka. Harus ada yang bisa menyamai skill sang nenek selaku pendiri hotel.

Bugh...

"Maaf." Ucap Ryn, dia baru saja menabrak seseorang yang tinggi dengan dada bidang nan keras.

"Kau harus berhati-hati." Balas pria di hadapan Ryn, suaranya mengalun indah bagai symphony. Mereka bertabrakan di depan toilet dimana bilik laki-laki sebelah kanan sementara wanita sisi kiri.

"Tuan, anda sudah ditunggu." Kedatangan salah satu pesuruh membuat pria tadi bergegas meninggalkan Ryn.

Ryn terpana, terpesona tentunya oleh ketampanan pria yang berjalan menjauh dengan gagahnya.

"Ryn sedang apa kau? Ayo pergi, sebentar lagi tes dimulai." Ajak teman Ryn, lebih tepatnya teman baru karena mereka berkenalan di tahap pertama yaitu wawancara.

"Oh baiklah Glenn." Sahut Ryn pada Glenn. Ryn berlari kecil menyusul langkah Glenn menuju bagian dapur.

Zhao Ryn, gadis energik berusia dua puluh tahun merupakan fresh graduate di bidang culinary. Dirinya mengikuti program studi Chinese cuisine dan patisserie.

Mereka berlima kini sudah mengenakan chef jacket, kepala koki menjelaskan masakan apa saja yang harus di buat untuk di hidangkan. Pimpinan perusahaan sendiri akan mencicipi guna menentukan dua orang yang lolos menjadi trainee.

"Waku satu jam, silahkan dimulai." Perintah pak Lim. Kelima peserta kini sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Ryn menjadi salah satu peserta yang mencuri perhatian penonton. Dimana ia lebih memilih melakukan preparation semua menu masakan di saat keempat peserta lain menyelesaikan satu persatu tiap menunya.

Tes ini merupakan salah satu kunci penting agar mereka bisa di rekrut. Selain wawancara, latihan fisik dan terakhir try out secara langsung.

Glenn juga melakukannya dengan baik, tempatnya memasak begitu rapi dan bersih seolah sudah terbiasa.

"Lihat itu, plating Zhao Ryn mengagumkan." Bisik Aci ke dekat telinga nyonya Fei.

"Dia memang jagoanku." Gumam Fei tersenyum samar. Sejak awal Fei sudah menaruh harapan besar terhadap Ryn hanya dengan melihat karakternya saja.

"Tuan Lee segera hadir." Ungkap pak Lim memberitahu semua orang ketika waktu enam puluh menit telah usai.

Munculnya sosok pria tampan berkharisma diikuti sang asisten berhasil menarik pandangan mereka semua ke arah Sian Lee.

Sian Lee, pria berusia matang yaitu tiga puluh dua adalah generasi ketiga penerus Lee Group selanjutnya. Irit bicara, memiliki tatapan dingin dan aura mengintimidasi. Tidak ada yang bisa menjamahnya, Sian benar-benar tak tersentuh siapapun. Bahkan meimei adiknya saja di kirim ke luar negeri agar menjaganya dari pergaulan bebas kota Jasata.

"Tuan, anda bisa memilih dua hidangan terbaik. Lalu mereka akan di uji coba bekerja tiga hari di restoran Le Dinning." Asisten Jun, yang juga tampan namun masih di bawah Sian menerangkan peraturan.

Hanya anggukkan kepala sebagai jawaban Sian. Lalu pak Lim meminta peserta maju secara bergantian. Mereka memasak menu hidangan utama yang sama yaitu berupa sup, tumisan dan satu kreasi bebas.

"Ini... " Sian bersuara, Ryn gugup takut masakannya tidak sesuai dengan keinginan Sian.

"Aku memasak chicken kung pao khas Sichuan. Aku dengar anda mencari juru masak yang keahliannya serupa dengan nenek anda, jadi aku memilih ayam kung pao karena memiliki rasa yang identik dengan masakan orang tua zaman dulu." Jelas Ryn panjang lebar, tentu asisten Jun terkejut melihat ketenangan seorang Sian.

Biasanya Sian tidak suka orang yang berisik, banyak bicara, meskipun tengah menerangkan keuntungan perusahaan sekalipun.

Setelah mencicipi sedikit demi sedikit setiap hidangan, asisten Jun mengajak pak Lim berbicara berdua guna menyampaikan siapa yang lolos ke tahap selanjutnya. Sementara Sian, memilih menyendiri di luar untuk menghisap sebatang rokok.

Mata Sian menangkap pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Ryn sangat kepanasan hingga melepas jaketnya, menyisakan tanktop berwarna hitam di atas pusat. Jelas penampakan perut ratanya menodai Sian yang seumur hidupnya belum pernah melihat bagian dalam perempuan secantik itu.

Sian bukan pria kalem dan datar, dia sering melakukan pelepasan namun tanpa penyatuan hanya demi mendapat kepuasan. Memesan wanita penghibur atau memilih kalangan atas yang secara sukarela ingin merangkak dibawahnya.

"Halo... " Sayup-sayup Sian mendengar Ryn menyapa seseorang melalui telepon.

"Aku akan segera mendapat pekerjaan, jadi jangan ganggu aku lagi." Larang Ryn merasa kesal dibuatnya. Padahal suasana hati Ryn sedang bagus hari ini. Alasannya sederhana, dia bisa melihat pria setampan Sian.

Ryn bagai burung yang baru lepas dari sangkar. Melihat dunia luar memberinya kebahagiaan tersendiri. Dia ingin meninggalkan semua yang ada di belakangnya.

Enggan mendengar lebih banyak, Sianpun bergegas pergi tanpa Asisten Jun. Pria itu setidaknya harus menikmati waktu luang setelah jam kerjanya usai.

"Zhao Ryn, masuk! " Teriak Fei.

Ryn yang namanya dipanggil bergegas memakai kembali jaketnya sambil berjalan ke arah sumber suara.

"Tuan Lee telah memutuskan, Glenn dan Ryn yang berhasil lolos. Mulai besok selama tiga hari kalian akan di latih di restoran. Persiapkan diri kalian." Tutur Pak Lim menyudahi pertemuan mereka yang melelahkan.

"Pulang bersama? " Ajak Glenn pada Ryn agar mau dibonceng menggunakan motor listrik keluaran terbaru Chinland.

"Tidak terima kasih." Tolak Ryn, kemudian berlari mengejar bus tujuannya.

"Kau dingin sekali Ryn." Bisik Glenn tentu tak akan didengar oleh Ryn.

Selama lima belas menit perjalanan, Ryn memilih memejamkan matanya beristirahat sejenak. Hari yang melelahkan baginya setelah semalam melalui hal buruk.

"Ganti bajumu dengan yang aku berikan anak sialan." Teriakan melengking langsung menyambut kepulangan Ryn.

"Sudah aku katakan, aku berhenti bekerja. Aku juga akan pindah dari sini." Rin menatap wanita di hadapannya penuh penekanan.

"Kau anak tidak tahu di untung, apa semalam belum cukup hah? " Sebuah toyoran Ryn dapatkan dari sang ibu.

Madam Yuni, ibu asuh para wanita penghibur di klub malam. Sejak Zhao Ryn lahir keduanya tinggal di sebuah asrama di belakang klub. Pemilik klub cukup baik menampung mereka dengan beberapa persetujuan. Diantaranya Yuni harus menjadi madam dan mendidik gadis muda untuk menjamu hingga merayu para tamu elit. Ryn juga harus ikut bekerja sebagai pengantar minuman setelah dirinya lulus sekolah menengah akhir tanpa di bayar. Pemilik klub menganggap itu sebagai bayaran karena sudah menampung Ryn selama ini.

"Yuni, kau harus memberitahu anakmu tugas terakhirnya jika memang ingin keluar dari tempatku." Ujar Peni, pria berbadan gemulai tanpa rambut namun penampilannya persis seperti Yuni.

"Tidak! Aku akan membayar menggunakan gajiku di tempat baru. Aku tidak ada kaitannya dengan perjanjian kalian." Ryn menggeleng menatap Yuni intens.

"Ikuti peraturan disini Zhao Ryn. Atau kau akan terperangkap selamanya." Yuni menolak pengajuan anak kandungnya sendiri.

"Good. Persiapkan dia, malam ini tamu penting akan datang. Dia suka barang baru, Ryn sangat cocok." Sorot mata Peni membuat Ryn ingin muntah, Ryn tidak bodoh.

"Aku lebih baik mati dari pada harus memuaskan mereka." Ryn memberi ultimatum sebelum masuk ke dalam meninggalkan Yuni.

Salah satu alasan terbesar Ryn harus mendapatkan pekerjaan di Le Star adalah agar dia bisa bebas dari belenggu sang ibu. Pantas saja Yuni setuju dirinya melanjutkan sekolah dan mencari pekerjaan. Rupanya Ryn harus menerima persyaratan gila, ibunya sendiri menjual tubuh sang anak.

"Ini kesempatan terakhirku." Gumam Ryn menatap pantulannya di cermin.

Sadar hari ini akan tiba, Ryn jauh hari sudah melakukan persiapan. Mulai dari menyimpan uang tunai di brankas umum, mencari pekerjaan juga tempat tinggal baru. Pakaiannya bahkan sudah ia kemas dibawa ke flat sewaan.

lmb 2

Di salah satu unit apartemen mewah, Sian masih menikmati pemandangan matahari terbenam dibalik jendela kamarnya yang menjulang. Namun dering ponsel menghentikan lamunannya.

"Tuan, nanti malam jamuan di adakan di klub Paradise. Aku dan anak buah berada di jarak aman." Jelas asisten Jun memberi informasi, mereka harus berjaga dari segala kemungkinan terburuk.

"Aku tahu." Balas Sian singkat, padat dan dingin seperti biasa.

Ting, ponselnya kembali berbunyi sebuah tanda pesan masuk.

'Minggu depan pertemuan dengan keluarga Chen. Jangan permalukan aku!'

Begitu isi pesan dari sang ayah, membuat Sian berdecak kesal. Selalu saja melakukan perjodohan, dia sampai lupa sudah yang ke berapa kali ayahnya melakukan hal itu.

Mengendarai Bentley hitamnya Sian mulai membelah jalanan ibu kota. Dia keluar pada pukul setengah delapan malam setelah melakukan pengecekan pekerjaan di ruang baca.

Asisten Jun sengaja tidak mendampingi secara langsung mengingat acara di klub di luar pekerjaan. Namun tugas mengawasi merupakan bagian lembur untuk Jun.

"Hoho, akhirnya kau menerima undanganku, Sian Lee." Seorang teman lama menyambut hangat kedatangan Sian dan langsung menuntunnya ke lantai atas. Dimana ruang Eksklusif sudah di siapkan beserta kejutannya.

"Karena kau mantan mitra yang menguntungkan." Sian hanya menanggapi santai hubungan keduanya.

"Maka dari itu, aku sudah menyiapkan projek besar selanjutnya. Dan kesenanganmu tentunya." Pintu dibuka oleh salah satu staf, keduanyapun masuk.

Sudah ada seorang gadis mengenakan dress merah tanpa lengan menunggu di dalam. Beberapa botol minuman berjejer seolah berteriak ingin dinikmati.

"Nice." Teriak Vick antusias. Sementara Sian tertunduk menahan amarah di dadanya.

"Keluar! " Perintah Sian tiba-tiba.

"Tunggu, kau tidak menyukainya? Aku akan siapkan yang lebih bagus." Vick tetap berusaha menyenangkan hati Sian. Apapun ia lakukan demi sebuah kerjasama.

Keduanya tidak ada yang menurut semakin membuat Sian murka. Dia berjalan mendekati meja lalu mengambil botol anggur dan membantingnya ke lantai hingga pecah. Salah satu serpihan kaca tersebut terpental menggores kaki mulus gadis itu.

"Vick, pergilah." Akhirnya Sian kembali bersuara setelah diam beberapa saat.

"Ok. Kita bicara lagi nanti." Ucap Vick bingung tetapi patuh. Dia tidak mengerti siapa sebenarnya yang diminta Sian keluar.

"Apakah Sian sudah sangat tidak sabar?" Bisik Vick hati-hati takut kembali memancing singa lapar.

"Kau berharap bekerja di tempatku tapi masih sibuk menjual diri." Sian menghina Ryn tanpa rasa belas kasihan. Memandangnya begitu rendah.

"Aku, akan memberimu kepuasan." Kata Ryn berani, meski dalam hatinya mengutuk kalimat yang keluar dari mulut mungilnya. Ryn memiliki postur tubuh tidak tinggi namun pas. Wajah cantiknya terpahat sempurna meski tanpa riasan make-up sekalipun.

"Oh ya, lalu kau mau uangku? " Langkah kaki Sian berderap mulai mendekat.

'Kebebasanku.' Batin Ryn.

Sian masih menatapnya tajam menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Ryn. Terlintas dipikiran Sian bahwa semakin dilihat dari dekat dirinya mulai menyukai bibir itu, ingin mencicipi bagaimana rasanya.

"Aku tidak pernah memakai barang bekas." Tukas Sian menolak ajakan Ryn.

"Bantu aku, setidaknya kau jauh lebih baik dari pria bajingan lainnya." Kali ini Ryn memohon dengan sangat.

"Kau sangat mengejutkan." Sinis Sian tak percaya, dia sempat tertipu oleh wajah dan pembawaan Ryn yang lugu.

Ditengah suasana memanas tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan munculah asisten Jun. Dia ikut terkejut melihat Ryn seorang pelamar di perusahaan menjadi wanita penghibur. Namun memperhatikan raut wajah Sian bosnya malah lebih menegangkan. Entah apa yang membuatnya marah.

"Kita pergi." Putus Sian berlalu meninggalkan Ryn di ruangan VVIP.

Sementara Ryn memejamkan mata, dia gagal. Artinya tiket untuknya keluar dari tempat sial ini harus tertunda. Entah kapan waktunya Rynpun tak tahu.

Ryn ikut pergi, bukan menyusul Sian melainkan pulang ke mesnya. Seharusnya dia kembali melanjutkan pekerjaan sebagai pramusaji, tapi karena malam ini ia bertugas melayani tamu kehormatan tetapi malah di tolak.

"Anak sialan." Teriak Yuni datang dari arah belakang Ryn langsung mendorongnya kuat. Hampir saja Ryn mencium pintu kayu kamarnya.

"Dia tidak menyukai barang bekas bu. Lalu aku harus apa?" Desah Ryn frustasi membela diri.

"Selalu saja berakhir kerugian setiap menyuruhmu merayu." Maki Yuni tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Sudah aku bilang, pekerjaan itu tidak cocok untukku." Ryn berkilah kesekian kalinya.

"Kau masih muda sudah kehilangan mahkotamu, kau memang tak berguna. Cih... " Yuni bahkan sampai meludah kesamping saking kesal terhadap anaknya.

"Tolong jangan mengenai wajahku, cukup di punggung saja ok? " Pinta Ryn dengan wajah memelas.

Pada akhirnya Ryn kembali menerima hukuman cambuk. Padahal luka kemarin saja belum kering. Yuni marah besar karena di tegur pemilik klub akibat Ryn melukai pelanggan. Ryn beralasan hanya membela diri, merasa dilecehkan karena tugasnya sekedar mengantar minuman.

Di dalam sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari pintu masuk klub, Sian masih betah duduk dengan mata terpejam. Berharap bisa melihat seseorang dari kejauhan.

Tok tok...

"Tuan, apa perlu aku memanggilnya?" Tawar asisten Jun, dia mencoba memberi solusi dari pada Sian hanya berdiam diri.

Belum sempat Sian menanggapi tatapannya langsung teralih mendapati sosok itu. Ryn keluar dengan berjalan sempoyongan setelah menenggak beberapa gelas wine demi menghilangkan rasa sakitnya.

Asisten Jun baru pertama kali melihat Sian berinteraksi dengan seorang gadis. Selama sepuluh tahun bekerja di perusahaan Lee Group dan menjabat sebagai asisten lima tahun terakhir Jun tahu Sian selalu mengabaikan hubungan asmara atau sekedar sebuah perjodohan.

Ayahnya bahkan sangat frustasi sampai meragukan kemampuan seksual Sian, anak sulungnya. Tahu Sian selalu melampiaskan hasratnya tanpa penyatuan, membuat Jun cukup tenang. Setidaknya Sian tidak sembarangan menabur benih.

Sian keluar, perlahan berjalan mendekati Ryn yang sedang merasakan pusing hingga memegangi tiang listrik. Gadis itu tidak muntah hanya mencoba menormalkan pandangannya yang berputar.

Saat hampir menyapa Ryn Sian berubah pikiran lalu berbalik badan kembali ke mobil. Ada beberapa hal yang harus dikendalikan oleh Sian. Atau semuanya bisa berantakan.

"Haruskah aku mengawasinya?" Lagi, Jun berinisiatif menawarkan bantuan pada Sian mengenai Ryn.

"Tidak perlu." Jawab Sian dingin.

***

Ryn membuka matanya saat sinar matahari mengintip melalui celah-celah gorden. Berakhir terbangun di tempat baru yang ia sewa artinya Yuni membiarkan Ryn lolos kali ini. Biasanya penjaga klub akan menyeret Ryn pulang. Mungkinkah Yuni sudah lelah, menyerah menjadikan Ryn wanita penghibur.

"Akh... " Luka kaku di punggungnya membuat Ryn memekik ketika air shower membasahi.

Pagi ini Ryn tidak bisa absen, tiga hari kedepan dirinya wajib mengikuti masa percobaan atau Glenn yang akan lolos sebagai crew baru. Tubuhnya memang rentan terkena demam akibat infeksi luka cambukan dari Yuni sang ibu. Itulah alasan Ryn mendapat nilai buruk dalam tes fisik.

Usai mengenakan seragam rapi khas anak training Ryn bergegas pergi menuju halte terdekat. Tidak ada sarapan, uang tabungan Ryn mulai menipis setelah menyewa unit sederhana selama setahun penuh.

"Hey, kau terlihat buruk." Ucap Glenn memperhatikan wajah Ryn yang memang pucat. Mereka bertemu di depan restoran Lee dinning, selama tiga hari kedepan menjadi bagian dari restoran Tiongkok milik keluarga Lee.

"Aku hanya demam biasa." Jawab Ryn acuh, seakan enggan memperpanjang percakapan.

Glenn orang yang terlihat baik namun Ryn kurang menyukai cara pria itu mengakrabkan diri dengannya. Sejak remaja dan mulai mengerti batasan Ryn membentengi hatinya dari siapapun, termasuk Yuni ibu kandungnya. Jadi sejahat apapun Yuni Ryn menganggap itu hal biasa. Bukan sesuatu yang harus di tangisi atau meratap berlarut-larut. Namun ada kalanya Ryn merindukan kasih sayang seorang ibu, mungkin bahkan ayah. Ryn tidak tahu dimana ayahnya, Yuni sekalipun tidak pernah membahas.

"Aku harap kalian bekerja sungguh-sungguh." Kata kepala koki di restoran sebelum keduanya mulai bekerja.

"Kami siap." Jawab Glenn dan Ryn bersamaan.

"Kalau begitu lihatlah daftar menu hari ini, kalian bisa mulai menyiapkan bahan." Kemudian mereka mendekat ke arah papan menu, membaca apa saja yang harus di kerjakan.

Menjelang makan siang kepala koki memerintahkan Ryn memasak menu kotak makan hantaran. Isinya berupa chicken kungpao, beef Szechuan dan pakcoy garlic. Selain itu ada dessert es sarang burung walet.

"Kau bisa melakukannya? " Tanya kepala kembali memastikan, khawatir Ryn melakukan kesalahan.

"Ya chef, aku bisa." Balas Ryn yakin.

Berhubung bahan masakan sudah siap, Ryn hanya perlu waktu tiga puluh menit dalam mengeksekusinya.

"Sekalian kau antar ke kantor langsung. Nanti ada supir menjemput dan mengantar." Melihat Ryn berdiri menjaga kotak makan siang, kepala koki tanpa ragu memberi tugas tambahan.

"Baik." Meski dalam hati Ryn merasa sangsi ketika restoran mewah seperti Le Dinning kekurangan kurir pengantar makanan.

lmb3

Dan disinilah Ryn berdiri. Di dalam lift berkaca transparan bersama asisten Jun yang menatap lurus ke depan. Memegangi kotak makan dengan hati-hati setelah tahu itu milik siapa.

"Apa ini sengaja?" Tanya Ryn tiba-tiba penasaran. Pasalnya Jun maupun Sian tahu hari ini Ryn mulai training di Le Dinning.

"Tidak, setiap hari tuan Lee memang memesan makan siang di sana. Biasanya kepala koki langsung yang memasak." Jelas Jun panjang lebar. Sian juga pasti terkejut jika tahu Ryn yang memasak bahkan mengantarnya langsung.

"Kalau begitu, bisakah aku tidak menemuinya? Pak Jun saja yang berikan." Ryn menyodorkan kotak empat susun tersebut ke arah Jun.

"Sebaiknya jangan. Karena Kepala koki juga selalu menata langsung sekalian menunggu hal apa yang perlu dievaluasi." Tentu saja Jun menolak, selain peraturan dia juga berharap tuannya bisa melihat Ryn. Gadis yang berhasil mengganggu konsentrasi seorang Sian Lee dalam waktu singkat.

Jun membukakan pintu dan mempersilahkan Ryn masuk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sian tampak masih fokus membaca dokumen padahal sudah waktunya istirahat. Ryn mengenyahkan perasaan canggung sisa semalam, dia bersikap profesional karena Ryn sangat membutuhkan pekerjaan itu.

"Silahkan tuan." Baru setelah mendengar suara yang mulai ia kenali akibat terngiang-ngiang, Sian memutus perhatiannya dari pekerjaan. Melayangkan tatapan menghunus seakan berkata 'kenapa harus kau yang datang? '

"Kepala koki terlalu sibuk membuat menu VIP." Ryn menjelaskan asal.

"Jun, kau bisa beristirahat." Perintah Sian pada Jun yang langsung mengangguk mengerti. Pria jangkis itu keluar meninggalkan keduanya.

Sian bangkit dari kursi kebesarannya, berjalan dengan gagah menuju sofa dimana di atas meja sudah tertata begitu rapi makan siang miliknya. Ryn berdiri tak jauh dari Sian, menurutnya Ryn terlalu tenang bagi pemimpin perusahaan yang kini mulai mencicipi masakan Ryn.

"Apa aku harus memujimu di depan mereka?" Tanya Sian tanpa menoleh sekalipun.

"Tidak perlu jika memang masakanku buruk." Balas Ryn tak kalah dingin.

"Bukankah kau butuh pekerjaan ini... "

"Tuan, sebaiknya aku menunggu di luar saja." Potong Ryn cepat enggan berlama-lama berduaan bersama Sian. Atau dia akan semakin mengagumi pria itu.

Tak...

Suara sumpit diletakkan kasar oleh Sian membuat Ryn menoleh.

"Bersihkan mejanya." Entah apa yang membuat Sian marah Ryn tidak perduli. Dia hanya perlu melakukan pekerjaannya dengan baik. Untuk masakan Ryn yakin Sian pasti menyukainya. Ryn tahu Sian masih kesal padanya karena kejadian di klub.

Meski ragu Ryn tetap mengemas kembali sisa makan siang Sian, pria itu tetap betah duduk di tempat mengamati setiap gerak-gerik Ryn. Saat hendak pergi Sian mencekal lengan Ryn dan menariknya hingga mendarat di pangkuan pria itu.

"Kau bisa menjadi staf baru kitchen jika bisa memuaskanku di sini." Kata Sian memberi tantangan untuk Ryn. Dia memang tergoda oleh kecantikan gadis muda yang sedang menatapnya intens.

"Anda tidak menyukai barang bekas, kau akan kotor tuan Sian." Dalam hati Ryn begitu merasa terhina setiap mengingat perkataan Sian semalam. Ingin rasanya Ryn berteriak memaki Sian.

"Keluar! " Titah Sian kesal mendapat penolakan dari Ryn. Padahal dirinya sudah memberi kesempatan bagus.

***

Hari terakhir masa percobaan Ryn dan Glenn masih melakukan yang terbaik. Selama itu juga Ryn tidak pernah bertemu Sian lagi. Dari kabar yang beredar tuan muda sedang pergi ke negara Eropa hanya untuk kencan buta.

Ryn merasa tenang tidak ada Sian di sekeliling, dunia begitu tentram walau hatinya berbisik rindu melihat wajah maskulinnya. (Pret)

"Kau tersenyum, memikirkan apa?" Glenn tiba-tiba duduk di samping Ryn, mengejutkannya.

"Bukan hal penting." Sahut Ryn asal. Mereka tengah bersantai di jam istirahat di taman belakang dapur.

"Ryn, aku tidak masalah jika kau yang terpilih. Semoga kita masih bisa berteman kedepannya." Tiba-tiba Glenn membahas hal serius membuat Ryn menoleh kesamping.

"Kau juga membutuhkannya Glenn. Sepertinya mereka akan memilihmu." Pikir Ryn, pasalnya Sian menunjukkan sikap tak suka pada Ryn semenjak kejadian di klub.

"Haha aku harap kita berdua bisa bekerja bersama terus-menerus." Karena Glenn mulai menyukai Ryn, sikapnya yang cuek tak pernah mempermasalahkan omelan atasan mereka. Tetap bekerja dengan tenang juga masakannya memang terbukti enak.

"Semoga saja Glenn. Ayo masuk." Ajak Ryn menyudahi sesi ngobrol santai keduanya.

Di jam pulang kerja Ryn dan Glenn dipanggil ke ruang menejer untuk mendapatkan hasil masa uji coba. Tanpa mereka ketahui, sang penerus hotel Le Star generasi ketiga sudah tiba dan sedang menikmati teh di ruangan tersebut. Hanya saja terhalang partisi di belakang kursi kerja menejer sehingga Ryn tidak bisa melihatnya.

"Selamat Glenn, kau berhasil menjadi crew baru dapur Le Star Hotel." Akhirnya keputusan diumumkan sesuai perkiraan Ryn. Dirinya telah gagal. Entah kemana harus mencari pekerjaan lain sementara hanya di hotel itu yang memberi gaji tinggi.

"Tapi pak, bukankah masakan Ryn lebih enak daripada milikku?" Dengan polos Glenn menyeruakan isi pikirannya.

"Ya betul, tapi Ryn memiliki fisik yang lemah. Di dapur sudah ada dua wanita berpengalaman, dan itu cukup. Seharusnya kau senang Glenn." Heran menejer, menjelaskan apa yang menjadi pertimbangan.

"Terima kasih pak." Ucap Glenn hampir lupa.

"Kalau begitu permisi, juga terima kasih." Kemudian Ryn memilih pamit meninggalkan ruangan. Karena Glenn harus mengurus kontrak kerja jadi Ryn memutuskan pergi lebih dulu.

Setelah mendengar pintu tertutup Sian mematikan rokok di atas asbak lalu keluar dari persembunyian. Glenn cukup terkejut melihat kemunculan bosnya.

"Katakan padanya, jika memang membutuhkan pekerjaan masih ada lowongan dibagian lain." Ucap Sian memberitahu Glenn sekaligus memberikan sebuah kartu nama.

Belum sempat Glenn bertanya Sian langsung pergi meninggalkan ruangan. Glennpun mengambil kartu nama yang ternyata milik kepala personalia Lee Group. Setidaknya masih ada harapan bagi Glenn jika Sian tidak tertarik pada Ryn, melihat pria itu cukup dermawan memberi Ryn kesempatan lain.

Ryn langsung kembali ke unit apartemen menjelang matahari terbenam. Sudah ada Yuni dan satu pengawal menunggunya di depan pintu, menambah kesialan Ryn dalam sehari.

"Ikut aku atau kau lawan dia." Ryn hanya bisa menghela nafas pasrah, gila jika dia memilih babak belur ditangan pengawal klub.

Perginya Ryn bersama dua orang itu ternyata dilihat oleh Sian yang sengaja pergi sendiri demi mengikuti Ryn. Rupanya masih cukup penasaran bagaimana kehidupan Ryn. Sejauh mana gadis itu melakukan pekerjaannya di dunia malam.

'Bagaimana rasanya mencicipi Ryn, apakah dia bisa memuaskan Sian? '

Mungkin dua hal itu yang selalu berputar dibenak Sian sampai-sampai melarang Jun untuk menemaninya.

"Tuan, pemimpin kedua meminta anda menghadap." Ujar Jun memberitahu setelah sambungan telepon Sian angkat.

"Ya, tiga puluh menit lagi." Balas Sian singkat. Tak ingin membuang waktu sibuknya Sian segera tancap gas melupakan Ryn.

Sementara Ryn kembali dipaksa mengenakan dress ketat oleh Yuni untuk menghibur tamu kalangan atas. Bukan sebagai pengantar minuman melainkan pemandu lagu.

Tanpa ekspresi, Ryn menuangkan minuman kedalam gelas dua pria berstelan jas. Dia ingat, salah satunya adalah Vick rekan bisnis Sian.

"Kita bertemu lagi nona seksi." Sapa Vick tersenyum meremehkan. Ryn hanya menunduk singkat tanda menghormati tamu.

"Aku penasaran, pelayanan seperti apa yang kau berikan pada tuan muda Lee sampai dia menunda kerja sama kami." Vick berdiri melepaskan rangkulan ladies club lainnya. Ryn tidak bertugas sendiri melainkan bertiga disana.

Vick memandangi wajah datar Ryn, keduanya sama-sama saling mengamati lalu tiba-tiba,,,

Plak...

Sebuah tamparan melayang di pipi mulus Ryn hingga wajahnya menoleh ke sisi kiri saking kerasnya. Terdapat jejak merah bekas tangan Vick. Dua rekan Ryn terperangah mendapat tontonan langsung.

"Aku membayar mahal tempat ini demi membuatnya senang, tapi kau malah menghancurkan rencanaku." Lanjut Vick menyuarakan kekesalan, dia bahkan sengaja kembali ke Paradise club hanya untuk mencari Ryn.

"Anda bisa meminta madam di sini mengembalikan uang milik anda. Karena aku tidak pernah menerima sepeserpun darinya." Ujar Ryn penuh penekanan.

"Diam sialan!" Teriak Vick menuding wajah Ryn tak Terima gadis itu berani melawannya.

Kesialan Ryn mungkin akan bertambah di penghujung hari. Vick yang dibutakan emosi malah menarik tengkuk Ryn kemudian membenturkan keningnya ke dinding.

"Kau tidak berhak membela diri, kau hanya wanita penghibur." Hina Vick, Ryn merasa sesuatu membasahi keningnya dan ia tebak itu darah segar.

"Vick hentikan, kau bisa dilaporkan ke polisi." Teman Vick mencoba memperingati.

"Haha, siapa yang akan membela dia? Aku gagal untung karena pelayanan jeleknya untuk Sian." Setelah puas Vick mendorong kasar tubuh Ryn hingga tersungkur.

Kedua rekan Ryn hanya bisa mengiba dalam hati tanpa berani menolong, atau mereka juga akan terkena imbasnya.

"Kau mau membawanya kemana Vick?" Semua orang di sana mulai heran saat Ryn diseret keluar oleh Vick secara kasar.

"Aku sudah membelinya dari madam Yuni, kau bersenang-senang saja biar aku yang bayar." Hal yang paling Ryn harap sekaligus takutkan akhirnya terjadi. Seseorang bisa membebaskan Ryn dari tempat terkutuk itu tetapi dia juga harus menjadi budaknya.

'Jika ada kehidupan lainnya, aku lebih baik menjadi seekor burung liar yang terbang bebas.' gumam Ryn memejamkan mata menghindari tetesan darah yang mengalir.

Sian dan Jun baru saja turun dari mobil bertepatan dengan munculnya Vick bersama Ryn. Sesaat mereka saling bertatap penuh makna.

"Tolong aku." Ucap Ryn tanpa suara meminta bantuan Sian, penuh harap semoga pria itu mau membantunya kali ini saja.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!