Reno mematung di depan pilar beton berlumut Fakultas Kedokteran Hewan dengan kedua lutut yang bergetar sangat hebat.
Kedua tangannya memeluk erat sebuah boneka kelinci raksasa berwarna merah muda mencolok yang hampir menutupi separuh tubuhnya.
Ukurannya yang super besar membuat kepala pemuda berusia dua puluh satu tahun itu tenggelam sepenuhnya di balik telinga panjang boneka tersebut.
Ia sudah rela menabung selama tiga bulan penuh dari sisa uang sakunya hanya untuk membeli hadiah konyol yang dianggapnya paling romantis ini.
Mahasiswi berjas almamater hijau di hadapannya melipat tangan di dada dengan tatapan mata yang sangat tajam dan menghakimi.
Reno sudah menyusun ribuan kata puitis di dalam kepalanya sejak semalam suntuk saat berdiam diri di kamar kosnya yang sempit.
{Tarik napas panjang, kau pasti bisa menaklukkan hati gadis pencinta mamalia ini dengan pesonamu yang terpendam, Reno.}
Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang mulai menipis secara drastis seiring berjalannya waktu.
Namun, kenyataan di lapangan selalu saja memiliki cara yang sangat kejam untuk menghancurkan ekspektasinya yang terlalu tinggi melambung.
"Maaf, tapi kita sama sekali tidak bisa jadian."
"Kenapa? Apa aku kurang baik atau kurang perhatian buatmu selama ini?"
"Bukan begitu, tapi boneka kelinci jelek yang kamu bawa ini benar-benar mirip dengan wajah mantan pacarku yang sangat aku benci."
Gadis berambut sebahu itu membalikkan badan dengan gerakan cepat, lalu melangkah pergi menjauh tanpa sudi menoleh lagi sedikit pun meninggalkan Reno sendirian.
Reno masih berdiri kaku di tempatnya, mencoba setengah mati mencerna alasan penolakan paling tidak masuk akal yang baru saja mampir ke telinganya.
{Mirip mantan dari mananya, ini kan cuma boneka kelinci berhidung pesek hasil jahitan pabrik murah, wajar saja kalau bentuk moncongnya begitu.}
Kedua lengannya perlahan melemas kehilangan seluruh tenaga penahannya, membuat boneka raksasa itu merosot jatuh ke atas aspal pelataran kampus dengan bunyi gedebuk pelan.
Angka yang menyakitkan ini resmi menjadi rekor penolakan kesembilan puluh sembilan yang ia terima sepanjang sejarah kelam hidupnya sebagai seorang pria yang selalu mencari cinta di tempat yang salah.
Ia pernah ditolak mentah-mentah oleh adik tingkatnya di jurusan sastra karena alasan rasi bintang mereka yang katanya akan mendatangkan malapetaka finansial secara terus-menerus jika dipaksa bersatu dalam sebuah hubungan asmara.
Ia juga pernah ditolak dengan kejam oleh teman sekelasnya dengan alasan hitungan weton Jawa mereka kalau digabung bisa memicu gempa bumi tektonik yang akan meruntuhkan seluruh fasilitas di area kampus megah ini.
Tidak ada satu pun wanita waras di Universitas Megantara yang mau menerima cinta seorang mahasiswa abadi berpenampilan cupu dan selalu mengenakan kemeja kotak-kotak pudar sepertinya.
Reno menunduk dalam-dalam, meratapi nasib sial yang seolah sudah terukir permanen di dahi sebagai nama tengahnya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di dunia ini.
Ia menendang sebuah kerikil kecil di dekat ujung sepatunya, melampiaskan rasa frustrasi yang menumpuk menyesakkan di dalam dadanya akibat penolakan absurd barusan.
Kerikil itu melayang pelan menembus ruang pandangnya, lalu mendarat dengan sangat akurat tepat di atas hidung pesek boneka kelincinya sendiri.
Reno menghela napas panjang yang terdengar sangat putus asa, menyadari bahwa ia tidak bisa terus-terusan berdiri di sana dan menjadi tontonan gratis bagi para mahasiswa lain yang berlalu-lalang menuju kantin.
||||
Langkah gontai Reno menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai sepi pada Senin sore yang terasa sangat kelabu dan menyedihkan bagi suasana hatinya.
Tangan kanannya menyeret paksa sebelah telinga boneka kelinci merah muda yang kini sudah kotor terkena debu dan noda lumpur sisa genangan hujan di jalanan.
Kepalanya terus memutar ulang adegan memalukan di depan Fakultas Kedokteran Hewan tadi seperti sebuah kaset rusak yang diputar paksa dan tak bisa dihentikan tombolnya.
{Apa aku memang benar-benar ditakdirkan untuk melajang sampai hari kiamat tiba, atau minimal sampai bangunan kampus sialan ini runtuh dan rata dengan tanah?}
Beban pikirannya saat ini terasa jauh lebih berat daripada ransel butut berisi buku-buku pemrograman tebal yang menggantung miring di punggung kurusnya.
Reno tidak lagi memperhatikan langkahnya yang semakin lama semakin menyeret tanpa tenaga di atas susunan paving block trotoar yang permukaannya tidak terlalu rata.
Pikirannya melayang sangat jauh, memikirkan bagaimana caranya ia harus menjelaskan rentetan kegagalan memalukan ini kepada Radit nanti malam saat ia pulang ke kosan.
Sahabat karibnya yang berprofesi sebagai desainer grafis amatir itu pasti akan tertawa terbahak-bahak sambil menyemprotkan es teh manis dari mulutnya langsung ke wajah Reno.
Ujung sepatu kets Reno yang bagian depannya sudah mengelupas parah tiba-tiba menabrak sebuah benda keras tak terduga di jalur khusus pejalan kaki tersebut.
Tubuh kurusnya yang selalu kekurangan asupan gizi itu langsung kehilangan keseimbangan dalam hitungan detik yang entah mengapa terasa berputar begitu lambat.
Reno jatuh tersungkur dengan posisi yang sangat memalukan, mendarat tengkurap tepat di atas perut empuk boneka kelincinya sendiri sehingga wajahnya tidak langsung menghantam aspal.
{Aduh, sialan, sejak kapan pemerintah kota kurang kerjaan memasang polisi tidur yang tak terlihat di tengah trotoar pejalan kaki begini?}
Reno mengusap kedua lututnya yang berdenyut nyeri di balik kain celana jinsnya yang sudah pudar warnanya, lalu menoleh perlahan ke belakang untuk mencari tahu biang keladi jatuhnya barusan.
Benda yang menjadi sandungannya bukanlah batu bata atau patahan trotoar yang tidak rata, melainkan sebuah kotak hitam pekat berukuran kecil yang bentuknya sangat presisi di setiap sudutnya.
Kotak persegi panjang itu tergeletak begitu saja di atas paving block, seolah sengaja diletakkan di sana dengan perhitungan sudut yang matang khusus untuk membuat kakinya tersandung.
Reno mengernyitkan dahi, merasa penasaran dengan benda aneh yang sama sekali tidak memiliki label, tulisan, atau merek dagang apa pun di seluruh bagian permukaannya.
Ia merangkak mendekat dengan gerakan sangat hati-hati, lalu mengambil kotak misterius itu menggunakan tangan kanannya yang masih sedikit bergetar akibat efek jatuh tadi.
Bobot benda itu terasa cukup berat di telapak tangan, jauh lebih padat dan solid daripada sekadar kotak perhiasan kosong atau wadah plastik pada umumnya.
Permukaan luar kotak itu terasa sangat halus menyerupai logam berkualitas tinggi, namun juga memberikan sensasi dingin yang aneh saat bersentuhan langsung dengan kulit telapak tangannya yang berkeringat.
{Jangan-jangan ini barang selundupan berharga mahal milik mafia lokal, atau malah sebuah bom rakitan mini yang siap meledak menghancurkan wajahku kapan saja.}
Rasa penasaran khas mahasiswa abadi akhirnya mengalahkan semua ketakutan irasionalnya, membuat jari-jarinya perlahan mencari celah tersembunyi untuk sekadar membuka tutup kotak tebal tersebut.
Tutup kotak itu bergeser terbuka tanpa menimbulkan suara decitan sedikit pun, memperlihatkan sebuah ponsel pintar berwarna hitam metalik yang terbaring membisu di atas bantalan beludru merah.
Bentuk bodi ponsel itu sangat asing bagi Reno, sama sekali tidak memiliki tombol fisik di bagian depan, dan layarnya terlihat seperti kaca pekat yang menelan segala bentuk pantulan di sekitarnya.
Reno mengangkat ponsel misterius itu secara perlahan, membolak-baliknya beberapa kali untuk mencari tahu logo perusahaan perakit atau nama merek yang mungkin sengaja disembunyikan di baliknya.
Tidak ada satu pun huruf atau angka yang tertera di panel belakangnya yang mulus, hanya terdapat sebuah susunan lubang kamera yang desain modulnya terlihat sangat rumit dan terlalu futuristik untuk teknologi zaman sekarang.
{Siapa juga orang gila super kaya yang ceroboh menjatuhkan barang elektronik berkelas tinggi ini di pinggir jalanan berdebu tanpa memberikan penjagaan sedikit pun?}
Reno menoleh ke arah kanan dan ke kiri dengan gerakan cepat, memastikan tidak ada sosok mencurigakan yang sedang sibuk mencari barang hilangnya di sekitar radius pandang jalanan tersebut.
Trotoar sore itu benar-benar sepi dari aktivitas pejalan kaki lainnya, hanya ada rentetan kendaraan roda empat yang melintas cepat dengan suara bising di jalur aspal sebelah kanannya.
Ibu jarinya secara otomatis meraba bagian tepi bingkai ponsel yang terasa dingin, mencari keberadaan celah tombol daya untuk sekadar memastikan apakah benda super canggih ini masih memiliki daya baterai.
Ia menemukan sedikit tonjolan memanjang yang nyaris rata dengan bodi di sisi kanan bingkai, lalu menekannya kuat-kuat dengan perasaan campur aduk antara ragu, takut, dan penasaran tingkat tinggi.
Satu detik pertama berlalu dengan sangat lambat, tidak terjadi reaksi perubahan visual apa-apa dari layar gelap yang dipegangnya erat-erat itu.
Reno baru saja akan mendengus kecewa dan berniat memasukkan ponsel mati itu ke dalam saku celana jinsnya ketika layar di tangannya mendadak hidup secara tiba-tiba.
Layar canggih itu tidak menampilkan logo animasi sistem operasi standar seperti gambar buah apel yang tergigit atau maskot robot hijau yang sering ia lihat di pasaran komersial.
Sebuah pancaran visual holografis mendadak muncul tajam keluar dari permukaan kaca ponsel, langsung mengarah lurus ke atas dengan kecepatan konstan.
Grafis digital tersebut berkumpul memadat secara geometris di ruang kosong, dengan cepat merangkai sebuah proyeksi tiga dimensi yang melayang stabil tepat di depan ujung hidung Reno.
Hologram canggih itu perlahan bergerak memindai secara vertikal dari ujung kepala hingga dada, lalu memunculkan sebuah struktur wajah manusia yang sangat ia kenali setiap lekuk dan cacat pori-porinya.
Itu adalah pantulan tiga dimensi dari wajahnya sendiri, direkam secara langsung saat itu juga dan dipetakan sempurna dalam bentuk jaring-jaring garis digital yang terus berkedip mengikuti detak nadinya.
Reno tersentak kaget bukan main melihat tiruan kepalanya sendiri melayang di ruang hampa, secara refleks ia melompat mundur beberapa langkah hingga pantatnya kembali menabrak kepala keras dari boneka kelinci raksasanya.
Sebuah suara mekanik yang terdengar sangat jernih layaknya vokal manusia nyata namun memiliki nada yang luar biasa sarkastis tiba-tiba mengalun memecah keheningan dari lubang speaker tak kasat mata di dalam bodi ponsel tersebut.
Reno menelan ludah kasarnya yang terasa sepahit obat flu, kedua matanya membelalak lebar tanpa berani berkedip menatap rentetan tulisan peringatan tebal yang kini muncul menggantikan proyeksi wajahnya di layar ponsel canggih itu.
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari ritme normal saat otaknya berusaha keras mengeja deretan kalimat ancaman digital yang terus berkedip cepat di atas telapak tangannya yang mulai dingin.
Lutut Reno seketika kehilangan fungsi utamanya sebagai penopang tubuh saat membaca ancaman mengerikan di layar ponsel tersebut.
Ia jatuh terduduk di atas paving block yang keras, mengabaikan rasa nyeri yang menjalar dari tulang ekornya hingga ke punggung.
Matanya tak berkedip menatap rentetan huruf kapital yang terus muncul dengan konstan di atas permukaan kaca tanpa bingkai itu.
{Dua puluh empat jam, apa maksudnya otakku akan diledakkan dari jarak jauh menggunakan gelombang siber?}
Jari-jarinya gemetar hebat hingga ponsel hitam misterius itu hampir tergelincir jatuh dari genggaman tangannya yang basah oleh keringat.
Reno berusaha menekan rasa paniknya dengan meyakinkan diri sendiri bahwa benda ini hanyalah alat kejahilan tingkat tinggi.
Ia berpikir ini pasti ulah sekelompok mahasiswa teknik komputer dari kampusnya yang sering membuat proyek eksperimen aneh untuk media sosial.
"Ini pasti cuma jebakan kamera tersembunyi untuk acara orientasi mahasiswa baru, kan?"
Reno menoleh ke kanan dan ke kiri, menyapu seluruh area jalan dengan pandangannya demi mencari keberadaan lensa kamera yang merekamnya.
Jalanan sore itu masih sama sepinya, hanya dilewati oleh deretan kendaraan roda empat yang melaju konstan di jalur aspal sebelah kanannya.
Tidak ada seorang pun yang melompat keluar dari balik pohon sambil tertawa terbahak-bahak untuk membongkar jebakan konyol ini.
Rasa panik perlahan mulai mengambil alih kendali rasionalitas di dalam kepala pemuda berpenampilan serampangan tersebut.
Ia meremas ujung kemeja kotaknya, mencoba memikirkan siapa saja musuh yang mungkin menaruh benda berbahaya ini di jalan raya.
Reno merasa tidak memiliki rekam jejak kriminal apa pun selain kebiasaan meminjam uang jajan Radit pada pertengahan bulan.
Ia segera bangkit berdiri dengan gerakan serabutan, meninggalkan boneka kelincinya tergeletak begitu saja di atas jalanan yang berdebu.
Kakinya melangkah tergesa-gesa menuju sebuah tong sampah plastik berwarna hijau kusam yang berada di sudut persimpangan trotoar.
Tangannya yang masih bergetar langsung melemparkan ponsel canggih tersebut ke dalam tumpukan botol bekas dan bungkus makanan ringan.
Bunyi benturan benda padat terdengar teredam dari dasar tong sampah, menandakan bahwa ancaman digital itu sudah resmi dibuang jauh-jauh dari hidupnya.
Reno segera membalikkan badan, berjalan setengah berlari untuk memungut kembali sebelah telinga boneka kelinci raksasanya yang malang.
Ia menyeret boneka itu dengan langkah kaki yang dipercepat, berusaha menjauh dari lokasi penemuan barang pembawa sial itu secepat mungkin.
Pikirannya mulai menyusun ulang rencana malam ini, bertekad untuk menceritakan kisah penolakan cintanya saja kepada Radit tanpa perlu menyinggung insiden kotak hitam.
Jarak puluhan meter berhasil ia tempuh dalam waktu singkat, meninggalkan tong sampah tadi jauh di belakang persimpangan blok bangunan.
Jalanan trotoar di depannya kini terlihat seperti jalur pelarian paling aman menuju kamar kosnya yang sempit namun penuh kedamaian.
Sepatu kets bututnya melangkah mantap, menapaki susunan bata trotoar dengan ritme yang jauh lebih tenang.
Beban pikirannya perlahan bergeser dari ancaman kematian digital menuju tagihan uang kos bulan ini yang belum juga ia lunasi.
Langkah kakinya mulai melambat kembali menuju tempo normal, merasa sangat aman karena ancaman hitung mundur umur dua puluh empat jam itu sudah musnah.
||||
Perasaan lega Reno nyatanya hanya mampu bertahan selama beberapa tarikan napas pendek di tengah trotoar yang mulai lengang.
Sebuah getaran mekanik yang luar biasa kuat tiba-tiba terasa berdenyut ritmis dari dalam saku celana jins sebelah kanannya.
Getaran itu terasa sangat tidak wajar, memukul paha kanannya dengan kekuatan setara alat bor listrik portabel berkekuatan penuh.
Reno menghentikan langkah kakinya secara mendadak, menunduk menatap saku celananya yang mendadak terasa berat dan menonjol mencurigakan.
{Perasaan, aku sudah menggadaikan ponsel pintarku satu-satunya pada Radit minggu lalu demi membeli boneka kelinci jelek ini.}
Tangannya merogoh saku celana dengan gerakan yang sangat kaku, merasakan sebuah permukaan logam bersuhu sangat dingin kembali bersentuhan dengan ujung jarinya.
Napasnya seketika tercekat tertahan di tenggorokan saat ia menarik keluar benda tersebut dari dalam saku.
Kedua bola matanya hampir melompat keluar saat menatap wujud ponsel hitam metalik tanpa merek yang tadi sudah ia buang ke dalam tong sampah.
Benda itu kembali berada di telapak tangannya dalam keadaan bersih mengkilap tanpa noda kotoran sedikit pun.
Kejadian ini seolah membuktikan bahwa perangkat tersebut memiliki kemampuan teleportasi kuantum yang dengan berani menentang seluruh hukum fisika dasar.
Reno menjerit histeris layaknya orang ketakutan melihat hantu, secara refleks melempar ponsel itu sekuat tenaga ke arah tembok beton di pinggir jalan raya.
Ponsel itu tidak hancur berkeping-keping layaknya benda elektronik normal saat menghantam permukaan beton yang sangat keras.
Benda hitam itu justru memantul dengan lintasan kurva yang sangat presisi, menolak hukum gravitasi yang seharusnya menarik massanya jatuh ke tanah.
Perangkat elektronik canggih itu melayang di udara, memutar bodinya secara aerodinamis, lalu meluncur deras masuk kembali ke dalam saku kemeja Reno dengan gerakan sangat mulus.
Reno menampar dadanya sendiri karena terkejut setengah mati, merasakan beban padat ponsel yang kini bersarang nyaman di saku kemeja bagian dadanya.
Ia menarik keluar benda itu dengan kedua belah tangan yang gemetar hebat, menatap layar yang kini menampilkan gelombang suara berbentuk garis-garis biru.
Suara mekanik yang sangat jernih dan bernada luar biasa sinis kembali mengalun, langsung menyusup ke dalam gendang telinga Reno seolah menggunakan transmisi tulang tengkoraknya.
"Siapa kau, dan bagaimana caranya benda konyol ini bisa terbang kembali ke sakuku seperti bumerang otomatis?!"
Reno berteriak panik ke arah layar ponselnya, sama sekali tidak memedulikan pandangan aneh dari seorang pengemudi ojek daring yang kebetulan melintas pelan di dekatnya.
Garis-garis biru di layar bergerak seirama dengan setiap suku kata sarkastis yang dilontarkan oleh kecerdasan buatan tersebut.
"Aku tidak pernah mendaftar untuk menjadi pemilikmu, jadi tolong matikan sistem sinkronisasi gila ini sekarang juga!"
Reno membalas dengan nada memohon yang menyedihkan, ibu jarinya menekan layar sentuh secara membabi buta dalam upaya putus asa untuk mencari tombol pembatalan.
Jari-jarinya bahkan mencoba mencongkel pinggiran bodi logam ponsel tersebut untuk mencabut sumber dayanya, namun konstruksinya benar-benar menyatu tanpa ada satu pun garis perakitan.
Ponsel itu memberikan penjelasan dengan nada santai yang justru membuat lutut Reno kembali terasa lemas kehilangan tenaga tulang rawan.
{Sialan, mesin rongsokan ini tidak hanya mengancam nyawaku secara harfiah, tetapi juga terus-menerus menghina harga diriku yang sudah hancur lebur hari ini.}
Reno menelan ludah kasarnya, mencoba mencari posisi berdiri yang nyaman sambil menyeimbangkan tubuhnya yang masih merespons ketakutan dengan gemetar ringan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau tidak memanggang sel otakku besok sore?"
Ia akhirnya menyerah pada perdebatan logika komputasi, menyadari bahwa teknologi tak dikenal di tangannya ini tidak akan bisa dikalahkan hanya dengan argumen mahasiswa tingkat akhir sepertinya.
Siri-usly menyapa namanya dengan pengucapan intonasi yang sangat fasih, membuktikan bahwa ponsel ini telah meretas dan menyedot data identitas pribadinya hanya dari satu kali pemindaian wajah.
Layar ponsel kembali berubah secara dramatis, menampilkan sebuah grafik batang yang saat ini menunjukkan angka nol persen dengan warna merah sebagai peringatan fatal.
Reno mengusap wajahnya yang terasa sangat tegang, merasa bahwa hidupnya baru saja ditarik paksa dari genre komedi romantis yang tragis menjadi film fiksi ilmiah berisiko tinggi.
"Jadi kau mau aku menjadi budak suruhan sebuah telepon genggam cerewet mulai hari ini?"
Ia bertanya dengan nada sinis yang tertahan, mencoba mempertahankan sedikit sisa ego kelelakiannya di hadapan sebuah perangkat keras tak bernyawa.
Garis gelombang suara visual di layar berputar cepat membentuk pola senyum asimetris yang dirancang khusus untuk terlihat sangat merendahkan lawan bicaranya.
||||
Layar ponsel X-Phreak 9000 mendadak bergetar sejenak, mengubah antarmuka utamanya menjadi sebuah panel instrumen taktis yang dipenuhi baris kode berwarna hijau.
Reno menatap rentetan bahasa mesin yang mengalir turun seperti air terjun digital, menyadari bahwa ini adalah tingkat pemrograman yang tidak pernah ia sentuh di kelas termudah sekalipun.
"Tes sabotase apa lagi ini, aku bahkan belum menelan sebutir nasi pun setelah ditolak mentah-mentah dengan alasan mirip kelinci tadi sore!"
Ia memprotes keras sambil mengangkat boneka kelincinya sebagai barang bukti, kakinya bersiap melangkah mundur untuk berlari menjauhi trotoar tersebut.
Perintah Siri-usly terdengar sangat absolut dan mendominasi, memaksa saraf motorik Reno untuk menuruti instruksi tersebut tanpa perlawanan berarti.
Di ujung persimpangan jalan utama, sebuah tiang lampu lalu lintas berdiri tegak mengatur barisan panjang kendaraan yang mulai menumpuk padat akibat bubaran karyawan kantor.
Reno menatap deretan mobil yang tertahan oleh lampu penanda berhenti, otaknya gagal mencerna hubungan antara tiang besi pengatur jalan itu dengan misi hidup dan matinya.
Tangan Reno bergerak naik secara mekanis layaknya robot rusak, mengarahkan punggung ponsel hitam itu lurus ke depan seperti seorang agen rahasia yang sedang membidik target operasi.
Sebuah kotak penanda visual berwarna kuning muncul di layar sentuhnya, mengunci objek lampu lalu lintas dari jarak jauh dengan kalkulasi perhitungan matriks yang sangat rumit.
Reno mengerjap dengan kebingungan tingkat tinggi, mencoba memproses informasi absurd bahwa benda sekecil ini mampu meretas jaringan kabel lalu lintas tanpa koneksi perantara fisik sama sekali.
Belum sempat mulutnya terbuka untuk mengajukan pertanyaan konyol mengenai cara kerjanya, antarmuka layar ponsel di tangannya mendadak berubah menjadi warna merah pekat yang memicu adrenalin.
Visual gelombang suara Siri-usly menghilang sepenuhnya dari layar, digantikan oleh sebuah kotak teks peringatan darurat yang mengisi penuh seluruh ruang di kaca hitam tersebut.
Jantung Reno seakan berhenti memompa darah selama hitungan detik saat ia mengeja lambat-lambat instruksi bernada hukuman fisik yang terpampang jelas di hadapannya.
Angka sepuluh berukuran besar mendominasi antarmuka layar ponsel hitam tersebut, menghitung mundur secara otomatis tanpa memberikan jeda toleransi sedikit pun bagi kelangsungan hidup Reno.
Otaknya mendadak buntu total, gagal menemukan korelasi logis antara meretas fasilitas umum jalan raya dengan ancaman hukuman fisik pada area paling vital di tubuhnya.
{Ini pasti gila, mesin laknat ini benar-benar berniat menghancurkan sisa-sisa harga diriku sebelum aku sempat memperbaiki rekor percintaanku yang mengenaskan!}
Angka di layar terus menyusut cepat menjadi delapan, membuat lutut pemuda kurus itu saling beradu saking hebatnya getaran panik yang kini melanda sistem saraf motoriknya.
Jari telunjuk tangan kanannya mengambang kaku di atas permukaan kaca, ragu-ragu untuk menekan sebuah kotak eksekusi virtual yang baru saja muncul tanpa perintah.
Peringatan mekanis dari Siri-usly kembali menggema, menembus langsung ke dalam sistem pendengarannya dengan nada ancaman yang dirancang khusus untuk mengintimidasi mental target.
Reno memejamkan mata rapat-rapat, mengumpulkan seluruh sisa keberanian rapuhnya untuk sekadar menjatuhkan beban ujung jarinya ke atas layar sentuh yang terasa sangat dingin tersebut.
Ujung jarinya menekan ikon eksekusi itu secara sembarangan tepat saat angka hitung mundur di layar menyentuh titik kritis pada hitungan ketiga.
Detik berikutnya, bunyi derit panjang dari rem ban mobil yang bergesekan paksa dengan aspal terdengar saling bersahutan secara mengerikan dari arah persimpangan jalan raya.
Reno membuka kelopak matanya dengan sangat perlahan, mengintip ngeri ke arah tiang rambu penunjuk arah yang berdiri menjulang di tengah perempatan jalan besar tersebut.
Fasilitas pengatur jalan itu baru saja mengalami malfungsi sistem yang sangat fatal, menampilkan tanda jalan untuk terus melaju secara serentak dari empat arah yang saling bersilang.
Puluhan kendaraan dari berbagai sisi persimpangan melaju bersamaan menuju satu titik tengah, menyangka bahwa mereka semua memiliki hak jalan yang sah pada detik yang sama.
Klakson dari berbagai jenis kendaraan mulai berbunyi bersahut-sahutan, menciptakan gelombang polusi suara yang luar biasa memekakkan telinga para pejalan kaki di trotoar.
Reno mengusap dadanya sendiri menggunakan telapak tangan kiri yang masih bergetar, merasa sangat lega karena masa depan kelaki-lakiannya masih berhasil diselamatkan hari ini.
{Aku baru saja membuat seluruh pusat kota lumpuh total hanya demi menghindari setruman lokal dari sebuah telepon genggam tak bermerek.}
Perempatan itu benar-benar mengunci pergerakan lalu lintas secara sempurna, tidak ada satu pun kendaraan yang memiliki ruang gerak bebas walau hanya untuk bergeser beberapa sentimeter saja.
Reno berdiri mematung kaku di tepi trotoar, memandangi hasil karya sabotase digital dadakannya dengan mulut sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Suara Siri-usly kembali menyela isi kepala Reno, memecah keheningan batinnya dengan nada mekanis yang terdengar sangat merendahkan kapasitas intelektual manusia.
"Tutup corong suaramu, aku bisa dijebloskan ke penjara dengan keamanan maksimum kalau sampai ada petugas hukum yang tahu aku biang keladi di balik semua ini!"
Reno berbisik sangat pelan dan panik ke arah bawah, mendekatkan wajahnya ke layar ponsel sambil sesekali melirik curiga ke sekeliling trotoar yang mulai dipenuhi pejalan kaki.
Penjelasan bernada tinggi hati tersebut sedikit berhasil meredakan ketegangan otot di bahu Reno, meskipun rasa bersalah karena memicu kemacetan gila ini masih tersisa jelas di hatinya.
||||
Pandangan Reno menyapu bosan deretan mobil yang terjebak di jalur paling kanan, lalu terhenti secara mendadak pada satu titik spesifik yang sangat menarik minatnya.
Sebuah mobil sport keluaran Eropa dengan cat merah mencolok tampak terjepit tak berdaya di antara dua mobil minibus angkutan barang.
Reno sangat mengenali spesifikasi eksterior mobil sport tersebut, karena kendaraan mewah itu selalu terparkir dengan posisi memakan dua lahan parkir sekaligus di halaman depan Universitas Megantara.
Itu adalah kendaraan kebanggaan mutlak milik Dika, musuh bebuyutan alaminya sekaligus saingan terberatnya dalam memperebutkan satu-satunya bunga pujaan yang paling populer di kampus mereka.
Dika adalah definisi berjalan dari sebuah ketidakadilan nasib, seorang pemuda berwajah sangat tampan dengan saldo rekening tak terbatas yang tidak pernah memusingkan tunggakan uang kos bulanan.
Seorang gadis melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari dalam kabin berlapis kulit mewah tersebut melalui pintu hidrolik yang baru saja terbuka ke arah atas.
Reno mematung seketika, jantungnya yang baru saja berdetak pada kecepatan normal kini kembali memompa darah dengan ritme yang melompat jauh melampaui batas kewajaran medis.
Gadis berpenampilan rapi itu adalah Luna, mahasiswi berprestasi tingkat akhir yang selama ini diam-diam selalu berhasil memonopoli seluruh ruang imajinasi di dalam kepala Reno.
Luna mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang dipadukan secara pas dengan celana kulot berwarna krem, menampilkan kesan keanggunan alami yang sangat memikat mata siapa pun.
{Bidadari kebanggaan kampus kita sedang turun ke jalanan kotor ini, pantas saja lapisan aspal yang keras ini tidak langsung retak saat menahan beban kesempurnaan langkahnya.}
Reno menelan ludah kasarnya berkali-kali, seketika melupakan statusnya sebagai pria jomblo mengenaskan yang baru saja ditolak mentah-mentah untuk kesembilan puluh sembilan kalinya.
Gadis idaman jutaan umat itu berdiri tegak di samping pintu mobilnya, melipat kedua tangan di depan perut sambil menatap pasrah ke arah antrean kendaraan yang mengular panjang.
"Ini bisa memakan waktu berjam-jam lamanya, aku harus segera menyerahkan draf tugas akhir ini ke meja dosen pembimbing sebelum gedung fakultas utama dikunci rapat."
Suara Luna yang terdengar melengking pelan menembus keriuhan suara mesin jalanan, membawa nada kekesalan yang sangat mudah ditangkap oleh telinga siapa saja.
Seorang pemuda berpenampilan necis dengan gaya rambut yang disisir sangat rapi memunculkan kepalanya dari balik setir kemudi mobil sport merah tersebut.
"Masuklah dulu ke dalam kabin, debu jalanan ini pasti akan segera bersih begitu ada petugas lalu lintas yang datang menertibkan kekacauan ini."
Dika membalas ucapan Luna dengan nada membujuk yang sok manis, tangannya yang berhiaskan jam tangan logam edisi terbatas memukul bantalan setirnya dengan sedikit rasa frustrasi.
"Aku bisa berjalan kaki saja dari titik ini sampai ke halte depan untuk mencari ojek pangkalan terdekat, jaraknya juga tidak akan memakan waktu terlalu lama kok."
Luna membalikkan badannya dengan cepat, berniat untuk melangkah menyusuri celah-celah aspal sempit di antara mobil-mobil yang saling berdempetan tersebut.
"Jangan keras kepala begitu, sangat berbahaya bagi seorang wanita berjalan kaki di tengah jalan raya yang sedang kacau balau begini."
Dika terus berusaha menahan niat Luna agar tetap berada di dekat pintu mobilnya, menunjukkan sebuah sikap posesif tersembunyi yang sangat memuakkan bagi Reno dari kejauhan.
Reno yang sedari tadi terus mengamati interaksi sepihak tersebut dari atas batas trotoar mulai merasakan letupan rasa cemburu yang menggerogoti logika waras di kepalanya.
{Bisa-bisanya pria sombong tak berotak itu mencoba mengatur hidup Luna layaknya sebuah barang koleksi pajangan yang harus selalu dikurung di dalam mobil mewahnya.}
Tangannya yang sedari tadi terus memegang erat sisi bodi ponsel misterius itu tanpa sadar mulai memberikan tekanan ekstra, menyalurkan emosi negatifnya yang tidak bisa dilampiaskan.
||||
Reno sama sekali tidak menyadari bahwa antarmuka layar sentuh di dalam genggamannya belum kembali ke mode siaga sejak proses sabotase tiang rambu jalan tadi selesai.
Modul pemindai kamera belakang ponsel itu masih dalam status aktif memantau, dan kini posisinya secara tidak sengaja terarah lurus ke moncong mobil sport merah milik Dika.
Kotak penanda target berwarna kuning di layar ponselnya kembali berkedip merespons jarak, menangkap bentuk gril depan kendaraan mewah itu dengan kalkulasi yang sangat akurat.
Suara notifikasi bernada datar dari Siri-usly sama sekali tidak terdengar oleh Reno yang saat ini sedang sibuk mengagumi siluet tubuh Luna dari jarak pandang yang cukup jauh.
Fokus utama kedua matanya benar-benar tersita habis oleh gerakan bibir Luna yang sedang berdebat sengit untuk mempertahankan pendapatnya di tengah jalan raya tersebut.
Ujung jari telunjuk Reno yang menempel di layar tergelincir masuk memberikan tekanan yang tidak disengaja, mendarat tepat di atas deretan kode eksekusi yang langsung mengirimkan sinyal perintah akhir.
Reno tersentak kaget ke dunia nyata saat bodi ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar singkat, menyadarkannya dari lamunan panjang yang tidak berguna tentang mahasiswi di seberang sana.
Ia menunduk bingung menatap layarnya yang kini menampilkan gambar sketsa kasar kerangka mobil sport, lengkap dengan sebuah grafik volume audio yang tertahan di posisi batas maksimal.
Nada musik bernuansa sangat ceria namun luar biasa mengganggu tiba-tiba meledak keluar dari dalam kap depan mobil sport merah milik Dika tanpa peringatan awal.
Lagu elektronik anak-anak tentang keluarga ikan hiu mengalun sangat keras, menenggelamkan seluruh keriuhan jalan raya dengan lirik cerianya yang terus berulang tanpa ampun.
Bunyi klakson yang sudah diretas sepenuhnya oleh sistem operasi ponsel Reno itu memutar nada tersebut secara konstan tanpa memberikan jeda teknis sama sekali.
Luna langsung melompat mundur selangkah dengan raut wajah kebingungan, terkejut bukan main mendengar mobil mewah di sampingnya tiba-tiba menyanyikan lagu balita pengantar tidur dengan sangat nyaring.
Seluruh pengendara lain yang tadinya sibuk mengeluhkan nasib kemacetan mereka kini serentak menoleh ke arah mobil Dika, mencari sumber suara konyol yang sangat merusak suasana tegang itu.
Dika yang terkurung di balik kemudi terlihat memukul-mukul bantalan setirnya dengan panik tingkat dewa, mencoba setengah mati untuk mematikan konser tunggal klaksonnya yang sangat menjatuhkan wibawanya.
Wajah pemuda pewaris harta kekayaan itu memerah padam hingga ke telinga, menyadari sepenuhnya bahwa ia kini menjadi pusat perhatian dan bahan tertawaan gratis bagi ratusan orang di persimpangan.
Reno mematung membeku di atas trotoar dengan mulut terkunci rapat, menatap jari telunjuknya sendiri seolah anggota tubuhnya itu baru saja melakukan sebuah tindak pidana yang sangat serius.
Ia menatap layar ponsel pintarnya sekali lagi dengan mata membelalak, berharap dalam hati bahwa sistem konyol ini tidak memiliki tombol rahasia untuk meledakkan bodi mobil musuhnya di tengah jalan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!