...PEMBUKAAN...
Kereta lokal yang ditumpangi Keiko melaju pelan meninggalkan hiruk-pikuk Tokyo. Dari balik jendela, gedung-gedung tinggi yang saling berhimpitan perlahan berganti menjadi rumah-rumah pinggiran kota.
Semakin jauh perjalanan, pemandangan berubah menjadi hamparan sawah yang mulai menguning, aliran sungai kecil yang berkelok, dan pegunungan hijau yang seolah tak berujung.
Keiko menyandarkan kepala pada kaca jendela yang terasa dingin. Sudah hampir delapan tahun ia tidak kembali ke desa tempat ibunya dibesarkan.
Desa Tsukimori.
Sebuah desa kecil di kaki pegunungan Prefektur Nagano yang bahkan sulit ditemukan di peta jika tidak benar-benar mencarinya. Kereta hanya berhenti beberapa kali dalam sehari. Di musim dingin, salju dapat menutup hampir seluruh jalan desa, sementara saat musim semi bunga sakura memenuhi tepian sungai yang membelah pemukiman.
Tempat ini terkenal karena kuil-kuil kunonya, hutan cemara yang lebat, dan kepercayaan masyarakatnya terhadap Dewa Kucing. Bagi Keiko, semua itu tidak lebih dari cerita lama yang sengaja dipertahankan demi menarik wisatawan.
Ia menghela napas sambil memandangi pemandangan di balik jendela. "Kampung tetap saja kampung."
Dari balik jendela, Keiko melihat gerbang torii merah berdiri di tepi hutan. Tak jauh dari sana, sebuah patung kucing batu mengenakan kain merah di lehernya. Beberapa wisatawan berhenti untuk berfoto, sementara seorang pendeta tua menyapu halaman kuil.
Di kursi seberang, ibunya melirik tajam. "Jangan meremehkannya. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika."
Keiko hanya tersenyum tipis. Kalimat itu sudah terlalu sering didengarnya sejak kecil hingga tak lagi terdengar istimewa.
"Kamu masih membawa jimatnya, kan?"
Pertanyaan itu membuat Keiko mengerutkan dahi. "Ibu... serius?"
"Tentu serius."
Ibunya membuka tas tangan, lalu mengeluarkan sebuah kantong kain kecil berwarna merah
"Pakai."
Keiko menerima jimat itu sambil memutar-mutarnya di antara jari. Kain merah tua itu terasa hangat karena baru saja keluar dari genggaman ibunya.
Sulaman benang emas berbentuk kepala kucing tampak sudah mulai memudar dimakan usia.
"Masih disimpan juga?"Keiko menerimanya dengan wajah enggan. "Ibu masih percaya benda begini bisa mengusir roh?"
"Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak. Simpan saja."
"Aku sudah dua puluh enam tahun. Masa masih harus pakai jimat?"
"Kau mau membantah terus atau mendengarkan ibumu sekali saja?" Keiko mendesah pelan. Daripada memperpanjang perdebatan, ia memasukkan jimat itu ke dalam saku jaket.
"Nah, begitu." Ibunya tampak sedikit lega.
"Beberapa hari lagi Festival Dewa Kucing dimulai. Selama berada di Tsukimori, jangan pernah melepas jimat itu."
Keiko terkekeh. "Festival yang menceritakan Bakeneko itu?"
Ibunya mengangguk pelan.
"Keluarga kita punya hubungan dengan legenda itu."
Keiko menopang dagunya pada sisi jendela,mengalihkan pandangan ke arah luar tidak melirik ibu nya yang sedang mengoceh "Lagi-lagi cerita leluhur?"
"Ini bukan sekadar cerita, Nenekmu dulu selalu bilang, perempuan dari keluarga kita pernah membuat pilihan yang tidak pernah bisa diterima desa."
Keiko memutar bola mata. "Nah mulai lagi...! "
Sejak kecil ia sudah hafal kisah itu. Konon, berabad-abad yang lalu seorang perempuan dari garis keturunan keluarganya membuat perjanjian kepada makhluk legenda yang mampu berubah menjadi manusia. Tak seorang pun mengetahui akhir kisah mereka. Yang tersisa hanya pesan turun-temurun agar setiap keturunan perempuan keluarga mereka selalu memakai jimat pelindung saat mengunjungi Tsukimori.
Baginya, semua itu terdengar seperti dongeng pengantar tidur.
"Kalau memang ada Bakeneko," ujarnya sambil terkekeh, "aku malah penasaran seperti apa wajahnya. Siapa tahu tampan."
"Keiko." Suara ibu seketika sedikit meninggi
"Nah, kalau benar tampan..." Ia menahan tawa. "Aku juga tidak keberatan menikah dengannya."
Wajah ibunya langsung berubah pucat. "Jangan pernah mengucapkan hal seperti itu."
"Lho? Aku cuma bercanda." keiko menaikan kedua bahunya sambil terkekeh menggoda sang ibu
"Di Tsukimori, tidak semua candaan berhenti menjadi candaan." Nada suara ibunya begitu serius hingga Keiko akhirnya memilih bungkam hanya menyisakan Bunyi gesekan logam yang memekakkan telinga mereda sebelum akhirnya kereta berhenti dengan sentakan pelan.
Suara speaker tua yang berdengung nyaring memecah suasana kabin.
"Stasiun Tsukimori... Tsukimori. Mohon periksa barang bawaan Anda. Berhati-hatilah saat melangkah keluar, celah antara kereta dan peron cukup lebar."
Keiko bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk roknya yang sedikit kusut. "Akhirnya sampai juga," gumamnya.
Mereka berdua beranjak menuju pintu keluar. Begitu melangkah turun ke peron, udara pegunungan yang dingin langsung menyambut, membawa aroma kayu basah dan dedaunan yang pekat.
Di kejauhan, deretan lampion merah mulai digantung di sepanjang jalan utama desa. Anak-anak berlarian mengenakan topeng kucing, sementara para pedagang sibuk menata stan makanan.
Keiko memperhatikan suasana di luar dengan heran. "Wah... ramai sekali." Ia menoleh kepada ibunya yang berjalan di sampingnya. "Memangnya ada acara apa?"
Ibunya mengikuti arah pandang Keiko, lalu tersenyum tipis. "Kamu lupa?"
"Lupa apa?"
"Festival Dewa Kucing"
"Oh..." Keiko mengangguk pelan. "Pantas saja." Ia kembali menatap sekeliling. "Ramai sekali ya."
Ibunya terkekeh kecil. "Acaranya setahun sekali, beruntung kita datang saat festival, Justru sekarang lebih ramai. Banyak wisatawan yang datang setiap tahunnya."
"Wisatawan?" tanya Keiko heran.
Ibu terdiam sejenak sebelum menjawab, "Yah, tak semuanya wisatawan, sih."
Keiko hanya mengangguk pelan tanpa banyak bertanya lagi, meski ia merasakan ada sesuatu yang tersirat dari nada bicara ibunya.
Keiko tersenyum kecil. Setidaknya desa ini masih seindah yang ia ingat. Keiko berhenti di sebuah jembatan kecil, Di bawahnya sungai mengalir sangat jernih. Seekor capung merah hinggap di pagar kayu. "Coba lihat keiko, Disini Masih ada capung..." gumam ibunya.
Tanpa disadari, jimat merah di dalam saku jaketnya bergoyang pelan.
Ting.
Lonceng kecil yang terikat di ujungnya berbunyi lirih.
Udara pagi masih terasa menusuk. Kabut tipis belum sepenuhnya terangkat dari lereng bukit saat Keiko dan ibunya berjalan menuju pemakaman keluarga di balik kuil desa. Jalan setapak yang mereka lalui diapit oleh deretan pohon cedar tua yang rindang.
Keiko berjongkok di depan makam neneknya, mengganti bunga yang sudah layu dengan lili putih yang mereka bawa. Batu nisan itu tampak bersih, pertanda masih ada warga yang sesekali datang merawatnya. Lumut tipis tumbuh di bagian bawah, sementara vas bambu di samping makam masih terisi air jernih.
Keiko menepuk kedua tangannya pelan setelah selesai membersihkan dedaunan yang gugur. "Sudah lama sekali ya..."
Angin gunung berembus lembut, menggoyangkan ranting-ranting cedar di atas kepala mereka. Beberapa helai daun kering berputar perlahan sebelum jatuh di jalan setapak. Keiko menatap sekeliling pemakaman yang begitu tenang.
"Di sini tidak banyak berubah."
Ibunya berdiri di samping sambil merapikan dupa yang mulai padam. Setelah menundukkan kepala sejenak untuk berdoa, mereka pun beranjak meninggalkan area pemakaman.
Dalam perjalanan pulang, Keiko menyadari ada banyak kucing yang berkeliaran di desa. Ada yang tidur meringkuk di beranda rumah, ada yang duduk santai di depan toko, bahkan seekor kucing oranye tampak asyik bermain dengan anak-anak di dekat balai desa.
"Aneh," gumam Keiko sambil memperhatikan seekor kucing belang yang sedang makan di depan warung.
"Apa yang aneh?" tanya ibunya.
"Kucing di sini banyak sekali. Tapi aku belum melihat tikus satu pun."
Seekor anak kucing putih tiba-tiba menghampiri kaki Keiko. Dengan santai ia menggesekkan tubuh kecilnya ke betis Keiko sebelum kembali berlari mengejar kupu-kupu.
Keiko tertawa kecil. "Lucu juga."
Tak jauh dari sana, seorang nenek tua sedang menuangkan air ke dalam beberapa mangkuk kecil yang berjajar di depan rumahnya. Dua ekor kucing langsung menghampiri seolah sudah hafal jadwal makan mereka.
"Mereka benar-benar dimanja di sini."
Ibunya mengulas senyum samar. "Warga di sini sangat menyayangi kucing. Mereka dibiarkan hidup bebas, jadi tikus pun jarang terlihat."
"Nikmati saja. karena Belum tentu setelah festival besok masih sebanyak ini."
"emm...gitu" sahut Keiko mengangguk.
Menjelang siang, ibunya mulai membereskan barang-barang. Ia hanya bisa mengantar Keiko sampai desa sebelum kembali ke Tokyo untuk urusan pekerjaan. Keiko membantu memasukkan koper ke bagasi mobil yang akan mengantar ibunya ke stasiun.
"Sebenarnya Ibu masih khawatir meninggalkanmu sendirian," ujar ibunya sambil menatap rumah tua peninggalan nenek.
"Aku sudah dewasa, Bu. Lagi pula cuma beberapa hari."
Ibunya mengangguk pelan, namun raut wajahnya belum terlihat tenang. Ibunya membuka pintu mobil, tetapi belum juga masuk, Pandangannya kembali beralih kepada Keiko yang berdiri di halaman rumah. Seolah masih ada sesuatu yang ingin diucapkan
"Ada apa Bu?"
Ibunya tersenyum tipis lalu menggeleng. "Tidak apa-apa, Jangan lupa menelepon setiap malam."
"Dan..." Ia kembali melirik jimat merah di saku jaket putrinya. "Jangan sampai hilang."
Keiko mengangkat kedua tangannya menyerah. "Iya iya, Bu."
"Keiko..." ibu menahan sebentar ucapan nya "Ada dua hal yang harus kau ingat selama di Tsukimori."
Keiko menghela napas pendek. "Soal jimat lagi?"
Ibunya menarik jimat bersulam kepala kucing dari saku jaket Keiko, memastikan benda itu terpasang dengan baik. "Jangan pernah melepasnya."
"Iya, aku pakai kok."
"Bukan hanya dipakai. Jangan sampai hilang."
Keiko menanggapi dengan senyum yang tak mencapai matanya. "Ibu terlalu khawatir."
Ibunya menggenggam tangan Keiko erat. "Dan satu lagi... jaga ucapanmu."
"Maksud Ibu?"
"Kalau tidak perlu, jangan asal bicara. Terutama saat Festival Dewa Kucing nanti malam."
Keiko terkekeh. "Ibu masih percaya legenda itu?"
"Aku tidak memintamu percaya."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin kau berhati-hati."
Keiko menatap wajah ibunya cukup lama. Jarang sekali ia melihat ibunya seserius ini hanya karena sebuah festival. "Aku mengerti, Bu."
"Janji?"
"Janji."
Ibunya akhirnya menyunggingkan senyum lega. Mobil pun perlahan menjauh, Debu tipis beterbangan saat mobil perlahan meninggalkan halaman rumah. Keiko masih berdiri sambil melambaikan tangan, meski kendaraan itu sudah menghilang di balik tikungan.
Baru ketika suasana benar-benar kembali sunyi, ia menurunkan tangannya. Tak terdengar lagi suara mesin.
Hanya desir angin dan kicau burung dari arah hutan.
"Hmm..."
Ia mengembuskan napas panjang. "Sendirian lagi." gumamnya sambil melirik jam di tangan. "Masih banyak waktu sebelum festival, berjalan-jalan sebentar tidak masalah, kan?"
Sepanjang jalan utama, warga tampak sibuk mempersiapkan festival. Lampion merah sudah terpasang di depan rumah-rumah, sementara beberapa pemuda menggantung hiasan kepala kucing di sepanjang jalan.
Aroma kecap asin yang dipanggang bersama dango terbawa angin hingga ke tengah jalan. Seorang pedagang sedang membolak-balik ikan ayu di atas bara arang, sementara anak-anak berlarian membawa balon berbentuk kepala kucing.
Dari kejauhan terdengar suara tabuhan taiko yang sedang dicoba oleh para pemuda desa.
Festival bahkan belum dimulai, tetapi suasananya sudah terasa meriah.
Keiko kembali melangkah di tengah keramaian. Hampir setiap beberapa langkah, ia berpapasan dengan orang-orang yang mengenakan topeng kucing. Ada yang berwarna putih dengan garis merah, ada pula yang hitam legam dengan mata keemasan.
Awalnya ia mengira itu hanya bagian dari kostum festival. Namun, entah mengapa, beberapa orang bertopeng itu tidak terlihat menikmati suasana. Mereka hanya berdiri diam di pinggir jalan, menghadap ke arah keramaian seolah sedang mengamati sesuatu.
Keiko menoleh pada seorang pria bertopeng putih yang berdiri di bawah lampion. Sikapnya begitu tenang hingga sulit menebak usianya. Saat Keiko menoleh kembali beberapa detik kemudian, pria itu sudah hilang.
Keiko mengerutkan dahi. Jalan itu tidak terlalu ramai. Rasanya mustahil seseorang menghilang begitu saja hanya dalam hitungan detik. Ia sempat melirik ke gang kecil di samping toko, tetapi tak menemukan siapa pun.
"Cepat sekali..." Ia mengangkat bahu. "Mungkin masuk ke toko." gumamnya, mencoba mencari logika yang paling masuk akal.
Ia terus berjalan santai. Di depan sebuah toko manisan, beberapa perempuan tampak cantik mengenakan yukata bermotif bunga, dan aroma dango panggang memenuhi udara. Tak jauh dari sana, panggung kayu sedang dipersiapkan.
Keiko menghampiri warga yang tengah menata kursi. "Permisi, Pak. Nanti malam ada pertunjukan apa?"
Pria paruh baya itu berhenti sejenak. "Oh, nanti malam ada pertunjukan boneka, Nona."
"Wah, pasti seru. Cerita tentang apa?"
"Kisah legenda Bakeneko," ucap pria itu sambil merapikan barisan kursi.
Keiko membalas dengan senyum yang tertahan. "Lagi?"
Pria itu ikut tersenyum. "Memang itu yang selalu kami ceritakan setiap festival. Jangan sampai kau melewatkannya, ya."
"Tentu, Pak. Saya pasti datang!"
Keiko mengangguk sopan lalu pamit untuk melanjutkan jalan. "Sepertinya seluruh desa benar-benar terobsesi dengan legenda itu," gumamnya pelan
Perlahan-lahan senja di desa Tsukimori berubah menjadi jauh lebih hidup. Lampion merah yang sejak siang dipasang di sepanjang jalan mulai menyala satu per satu, menerangi deretan rumah rumah kayu di kaki pegunungan.
Suara tawa anak-anak bercampur tabuhan taiko menggema dari arah alun-alun desa, tempat Festival Dewa Kucing setiap tahun diadakan.
Keiko mengenakan yukata berwarna biru muda yang dulu pernah dibelikan neneknya. Meski motifnya sederhana, pakaian itu masih terlihat bagus. Ia merapikan rambutnya di depan cermin, lalu mengambil ponsel dan dompet sebelum keluar rumah.
"Festival sekali setahun. Tidak ada salahnya melihat-lihat," gumamnya.
Jalan utama sudah dipenuhi warga. Beberapa kios menjual takoyaki, yakitori, taiyaki, hingga dango yang baru selesai dipanggang. Aroma makanan bercampur udara pegunungan menciptakan suasana hangat yang sulit ditemukan di kota.
Keiko berjalan santai sambil sesekali berhenti untuk mengambil foto. Perhatiannya kembali tertuju pada kucing-kucing yang berkeliaran bebas di antara keramaian. Anehnya, tak seekor pun tampak takut pada manusia. Bahkan seekor kucing belang melompat ke pangkuan seorang anak kecil dan membiarkan kepalanya dielus begitu saja.
"Benar-benar dimanjakan," ucap Keiko pelan sambil tersenyum.
Tak jauh dari sana, suara seorang pria terdengar lantang mengundang para pengunjung.
"Pertunjukan legenda akan segera dimulai! Silakan berkumpul di depan panggung."
Karena penasaran, Keiko ikut mendekat. Di depan panggung kayu sederhana sudah berkumpul puluhan anak bersama orang tua mereka. Beberapa remaja juga terlihat duduk di barisan belakang.
Pertunjukan dimulai ketika lampu-lampu panggung diredupkan. Seorang narator membuka kisah dengan suara tenang, sementara boneka-boneka kayu mulai digerakkan oleh para dalang berpakaian hitam.
"Pada zaman dahulu," ujar sang narator, "ketika manusia masih hidup berdampingan dengan para dewa, hiduplah makhluk penjaga yang mampu berubah wujud menjadi manusia saat bulan purnama."
Boneka seekor kucing perlahan diganti dengan boneka seorang pria berkimono. Anak-anak yang menonton bersorak kecil.
"Makhluk itu disebut Bakeneko."
Narator melanjutkan ceritanya. Ia mengisahkan bagaimana para Bakeneko menjaga keseimbangan dunia manusia, namun dilarang menyerahkan hati kepada manusia.
Keiko mengembuskan napas pelan. "Masih saja cerita yang sama," gumamnya.
Baginya, kisah itu tidak lebih dari legenda yang terus diceritakan agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
Pertunjukan berakhir dengan tepuk tangan meriah. Anak-anak berhamburan mengejar orang tua mereka, sementara sebagian penonton mulai meninggalkan area panggung.
Keiko tetap duduk beberapa saat. Ia sedang memeriksa hasil foto di ponselnya ketika seseorang tiba-tiba duduk di bangku sebelah.
"Menurutmu bagaimana ceritanya?" Suara itu membuat Keiko menoleh. Seorang lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun tersenyum ramah kepadanya. Rambutnya memutih seluruhnya, sementara kimono abu-abu yang dikenakannya tampak sudah cukup usang.
"Cukup menarik," jawab Keiko sopan. "Meski menurut saya itu hanya cerita rakyat."
Lelaki tua itu mengangguk pelan. "Jadi kau tidak mempercayai Bakeneko?"
Sudut bibi Keiko terangkat tipis "Kalau mereka benar-benar ada, mungkin dunia sudah ramai sejak dulu."
"Bisa jadi."
Jawaban singkat itu justru membuat Keiko mengernyit. Ia mengira lelaki tua itu akan membantah pendapatnya.
"Lalu kenapa desa ini masih mempertahankan festival seperti ini?" tanyanya lagi
"Karena tidak semua legenda diciptakan untuk ditakuti nak."
"Emm.. Lalu untuk apa?" wajahnya menunjukkan kebingungan
"Untuk diingat." ucap Lelaki tua itu menatap panggung yang kini mulai kosong.
Keiko mengikuti arah pandangnya, tetapi tidak menemukan sesuatu yang menarik. Gadis ini kembali menoleh lelaki tua disampingnya
"Kalau memang Bakeneko benar-benar ada," katanya sambil terkekeh kecil, "Lalu kenapa mereka tidak pernah terlihat?"
Lelaki tua itu menatap keramaian festival yang dipenuhi orang-orang bertopeng. "Siapa bilang mereka tidak pernah terlihat?"
Keiko ikut memandang ke arah yang sama. "Apa ...Maksud anda paman?"
Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum samar. "Tidak semua yang kau lihat malam ini adalah manusia nak."
Keiko terkekeh kecil. "Aahh .. jangan begini.. Bapak sedang mencoba menakutiku ya?"
"Bukan." jawab nya cepat tanpa jeda "Aku hanya berharap... kalau suatu hari kau mengetahui kebenarannya, kau tidak menyesal pernah menganggap semuanya sebagai dongeng."
Lelaki tua itu terkekeh dengan suara yang renda terdengar tawa yang berwibawa. Setelah beberapa saat, ia berdiri sambil bertumpu pada tongkat kayunya.
"Kalau begitu, jangan naik ke Kuil Dewa Kucing malam ini."
pria tua ini sedikit menjeda ucapanya
"Karena hanya orang yang dipanggil yang akan sampai di sana."
Yukari mengangguk, ia memilih diam karena percuma berdebat dengan kepercayaan orang orang di desa
"Lagipula aku tidak berniat mendaki gunung malam-malam." batin Keiko
Lelaki tua itu melangkah pergi tanpa mengatakan apa-apa Keiko Keiko memandang punggungnya yang perlahan menghilang di balik kerumunan.
"Aneh sekali," gumamnya.
Gadis ini pun ikut berdiri dan memutuskan pulang. Festival masih berlangsung, tetapi suasana mulai semakin padat.
Baru beberapa langkah berjalan, tangannya tanpa sadar masuk ke dalam saku Yukata. Keiko langsung berhenti,
Ia meraba sekali lagi Lalu membuka saku yang lain. seketika Wajahnya perlahan berubah.
"Jimatku..."
Ia buru-buru memeriksa tas kecil yang dibawanya. Kosong. Jimat pemberian ibunya benar-benar menghilang.
Padahal ia yakin benda itu masih ada sebelum berangkat ke festival.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!