Malam itu datang begitu pelan. Langit di luar jendela tampak gelap tanpa bintang dan hanya diterangi cahaya rembulan yang sesekali menyelinap melalui celah gorden, memantulkan bayang-bayang samar di lantai kamar Aisyah. Perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu baru saja menyelesaikan salat Isya. Mukena putih yang masih melekat di tubuhnya belum sempat dilepas. Ia duduk bersimpuh di atas sajadah, jemarinya dengan khusyuk memindahkan butiran demi butiran tasbih kayu cendana yang selalu menemaninya selepas salat.
"Subhanallah..."
"Alhamdulillah..."
"Allahu Akbar..."
Suaranya lirih dan nyaris tak terdengar. Beberapa hari terakhir pikirannya dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan. Sejak kakaknya, Salsa, divonis mengalami kerusakan permanen pada rahimnya hingga membuatnya tidak bisa mengandung, suasana rumah berubah begitu sunyi. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi candaan. Yang tersisa hanyalah wajah-wajah murung dan helaan napas panjang setiap kali nama Salsa disebut.
Aisyah tahu, tak ada luka yang lebih menyakitkan bagi seorang perempuan selain mendengar dokter berkata bahwa dirinya tak akan pernah bisa mengandung. Ia ikut menangis ketika mendengar kabar itu. Bahkan malam-malamnya dipenuhi doa agar Allah menghadirkan keajaiban untuk sang kakak.
"Ya Allah, berikan mukjizat mu untuk bisa menyembuhkan penyakit kak Salsa. Kalau memang masih ada jalan, tunjukkanlah."
Aisyah mengusap wajahnya perlahan. Belum sempat ia melanjutkan dzikirnya, suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
"Aisyah."
Suara berat itu begitu dikenalnya, yang tak lain adalah ayahnya.
"Iya, Yah."
"Bisa keluar sebentar?"
"Sebentar, Ayah."
Aisyah meraih ujung mukenanya, lalu berdiri. Tasbih itu masih berada dalam genggamannya ketika ia membuka pintu kamar. Di luar, ayahnya telah berdiri dengan wajah yang tampak jauh lebih tua dibanding beberapa bulan lalu. Kerutan di dahinya terlihat semakin dalam sementara sorot matanya terlihat letih.
"Ayah belum tidur?"
"Belum, ayah lagi menunggumu. Kemari lah."
Tanpa banyak bicara, pria paruh baya itu berjalan lebih dulu menuju ruang keluarga yang membuat Aisyah mengikuti dari belakang. Ia mengernyit. Jam dinding di ruang keluarga sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Biasanya pada jam seperti ini ayahnya sudah beristirahat, namun malam ini ada sesuatu yang berbeda. Ruang keluarga tampak lengang, hanya lampu utama yang menyala redup. Di atas meja tersedia dua cangkir teh hangat yang sudah mulai kehilangan uapnya.
"Ayah sengaja membuat teh?" tanya Aisyah pelan dan membuat ayahnya mengangguk singkat.
"Duduklah."
Aisyah menurut. Ia duduk di sofa tunggal tepat berhadapan dengan sang ayah sementara tasbih masih berada di sela-sela jemarinya. Entah mengapa, dadanya mulai dipenuhi firasat yang tidak enak. Ayahnya hanya diam. Tatapannya kosong mengarah ke cangkir teh di atas meja. Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya Aisyah membuka suara lebih dulu.
"Apa ayah ingin membicarakan sesuatu sama Aisyah?"
Pria itu menghela napas panjang.
"Pernahkah kamu membayangkan kalau suatu saat keluarga kita harus mengorbankan satu orang demi menyelamatkan yang lain?"
Pertanyaan itu terdengar aneh dan membuat Aisyah mengernyit.
"Aisyah kurang mengerti."
Pak Umar mengangkat wajahnya. Tatapannya kini tepat mengunci kedua mata putrinya.
"Kamu sayang sama Kak Salsa?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, maukah kamu berkorban demi dia?"
Jantung Aisyah berdegup sedikit lebih cepat.
"Kalau memang itu bisa membantu Kak Salsa, selama Aisyah mampu, tentu Aisyah akan melakukannya."
Jawaban itu keluar tanpa berpikir panjang. Baginya, Salsa bukan sekadar kakak. Sejak kecil, perempuan itu selalu melindunginya. Saat Aisyah jatuh dari sepeda, Salsa yang menggendongnya pulang. Saat ia dibully di sekolah, Salsa yang membelanya. Bahkan ketika ibu mereka meninggal dunia beberapa tahun lalu, Salsa mengambil peran sebagai sosok ibu bagi dirinya. Tak ada alasan baginya untuk tidak berkorban, Namun ia sama sekali tidak menyangka bentuk pengorbanan yang dimaksud ayahnya. Pak Umar menarik napas dalam lalu dengan suara pelan namun begitu jelas, ia berkata,
"Kalau begitu, Menikahlah dengan Ammar."
Deg! Aisyah merasakan waktu seakan berhenti berputar. Mata Aisyah membulat, jari-jarinya yang sedari tadi menggenggam tasbih mendadak melemas.
Prak...
Butiran-butiran tasbih kayu itu terlepas dari genggamannya dan berhamburan memenuhi lantai. Suara benturannya menggema di ruang keluarga yang sunyi. Aisyah sama sekali tidak bergerak. Ia hanya menatap ayahnya dengan wajah pucat.
"A-Ayah?" Suaranya itu bahkan nyaris tak keluar. "Ayah... barusan bilang apa?"
Pak Umar menundukkan kepalanya sesaat seolah kalimat tadi juga terasa berat baginya.
"Ayah ingin kamu menikah dengan Ammar."
Suasana di ruang keluarga itu benar-benar hening. Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun. Aisyah bahkan merasa telinganya berdenging. Ia berharap, Tidak. Ia memohon dalam hati agar apa yang didengarnya barusan hanyalah salah dengar.
"Ayah," Suara Aisyah bergetar. "Itu... itu suami Kak Salsa. Ayah juga tahu kalau dia juga kakak ipar Aisyah."
"Ayah tahu."
"Lalu kenapa Ayah mengatakan hal seperti itu?" Nada suara Aisyah mulai meninggi tanpa disadari. Dadanya terasa sesak mendengarkan ayahnya mengatakan hal itu. "Ayah," Air mata Aisyah mulai menggenang. "Ini tidak masuk akal."
Pak Umar kembali menghela napas.
"Keluarga Adhitama menginginkan seorang pewaris." Kalimat itu menggantung di udara. "Mereka tidak mungkin membiarkan perusahaan keluarga sebesar itu tidak memiliki penerus."
"Ayah..."
"Kamu juga tahu kondisi Salsa. Dokter sudah memastikan bahwa rahimnya tidak bisa lagi mengandung."
Aisyah langsung menggeleng kuat-kuat.
"Tidak. Pasti ada jalan lain. Pasti ada." Pak Umar tidak menjawab. "Ayah, sekarang dunia kedokteran sudah maju. Banyak pasangan yang berhasil memiliki anak lewat program bayi tabung atau mungkin pengobatan di luar negeri. Kita bisa mencoba lagi. Dokter juga bisa saja salah. Kak Salsa masih punya harapan."
Semakin berbicara, suara Aisyah semakin dipenuhi harapan. Ia seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini belum berakhir, bahwa masih ada pilihan lain.
Namun ayahnya hanya memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya berkata pelan,
"Keluarga Adhitama tidak menginginkan cara itu."
Kalimat sederhana itu langsung mematahkan harapan Aisyah.
"Maksud Ayah?"
"Mereka menolak bayi tabung. Mereka juga tidak ingin menggunakan donor ataupun metode medis lain. Menurut keluarga mereka, Seorang pewaris harus lahir secara alami dari darah daging keluarga Adhitama."
Aisyah benar-benar tak habis pikir.
"Kenapa? Ayah... Kenapa harus seperti itu?Kalau tujuannya memiliki anak, bukankah bayi tabung juga anak mereka?"
Pak Umar menggeleng pelan.
"Kamu tahu sendiri bagaimana keluarga Adhitama. Mereka keluarga terpandang, memegang teguh prinsip turun-temurun. Nama baik dan garis keturunan adalah segalanya. Mereka tidak akan mengubah keyakinan mereka."
Air mata Aisyah akhirnya jatuh.
"Tapi... Itu bukan alasan untuk menikahkan aku dengan suami Kak Salsa."
Aisyah menggigit bibir bawahnya. Kalimat itu terasa begitu pahit saat diucapkan. Dadanya semakin sesak. Bayangan wajah Salsa memenuhi kepalanya. Bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin ia harus menjadi istri dari laki-laki yang selama ini dipanggilnya kakak ipar? Bagaimana ia bisa menatap mata kakaknya nanti? Bagaimana perasaan Salsa?
Dan bagaimana dengan Ammar? Apakah lelaki itu tahu rencana gila ini? Atau jangan-jangan semua ini memang berasal dari keluarga Adhitama? Aisyah menatap ayahnya dengan matanya yang mulai memerah.
"Apakah Kak Salsa tahu dengan rencana ini?"
Pak Umar terdiam. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban dan membuat tubuh Aisyah melemah. Air matanya semakin deras mengalir.
"Jadi... Kak Salsa juga menyetujuinya?"
Suara itu terdengar nyaris seperti bisikan karena perempuan yang paling ia sayangi, ternyata mengetahui semuanya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Aisyah merasa hidupnya sedang berdiri di sebuah persimpangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di satu sisi ada cinta dan baktinya kepada keluarga, di sisi lain ada harga diri serta perasaannya sendiri yang menolak menerima kenyataan itu. Ia menatap ayahnya dengan napas yang mulai memburu.
"Maafin Aisyah, Yah." Aisyah menggeleng pelan, lalu semakin kuat. "Aisyah tidak bisa. Seberat apa pun cobaan yang Kak Salsa hadapi, Aisyah tidak bisa menikahi suaminya. Karena jika Aisyah melakukannya," Ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aisyah sama saja menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kakak Aisyah sendiri."
Kalimat itu menggantung begitu lama di udara dan membuat suasana ruang keluarga kembali diliputi kesunyian. Tak ada lagi suara selain detak jarum jam yang terdengar begitu jelas di tengah malam.
Tik...
Tik...
Tik...
Pak Umar memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk kembali berbicara.
"Ayah tahu ini berat. Bukan hanya untukmu tapi juga untuk Ayah." Suara pria paruh baya itu terdengar lebih pelan dari sebelumnya. "Ayah tidak mungkin meminta hal seperti ini kalau masih ada jalan lain."
Aisyah menggeleng pelan.
"Tidak, Yah. Pasti masih ada. Pasti ada cara lain. Kalau Kak Salsa belum bisa punya anak sekarang, mereka bisa mengangkat anak terlebih dahulu atau menunggu. Banyak pasangan yang akhirnya dikaruniai anak setelah bertahun-tahun menikah. Ayah... kita tidak boleh menyerah hanya karena satu vonis dokter."
Air mata terus mengalir di pipi Aisyah. Ia benar-benar sedang mencari alasan, apa pun asalkan ia tidak perlu mendengar permintaan yang menurutnya begitu kejam. Namun ayahnya kembali menggeleng.
"Keluarga Adhitama tidak menginginkan anak angkat sebagai penerus. Mereka hanya mengakui darah keturunan mereka sendiri."
"Tapi—"
"Mereka juga tidak akan menunggu terlalu lama, nak."
Kalimat itu membuat Aisyah terdiam sementara dadanya kembali terasa sesak.
"Ayah tahu sendiri bagaimana keluarga itu. Mereka tidak pernah main-main soal pewaris. Kalau dalam waktu dekat Salsa tidak bisa memberikan keturunan," pak Umar berhenti sejenak. "Mereka akan meminta Ammar menceraikannya."
Deg, Aisyah merasakan seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya begitu keras.
"Cerai?"
Suara itu keluar nyaris tanpa tenaga dan membuat pak Umar mengangguk pelan.
"Itu keputusan yang disampaikan langsung oleh keluarga besar Adhitama. Mereka memang belum menentukan waktunya. Tapi ancaman itu nyata. Mereka tidak ingin garis keturunan keluarga berhenti pada Ammar."
Aisyah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya semakin deras. Dalam benaknya terbayang wajah Salsa, Perempuan yang selama ini selalu terlihat tegar, selalu tersenyum dan selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ternyata, di balik senyum itu, kakaknya sedang memikul ketakutan yang begitu besar. Kalau sampai Ammar benar-benar menceraikannya, Apa yang akan terjadi pada Salsa? Apakah kakaknya akan sanggup melewati semua itu?
Aisyah menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Tapi... Kalau solusi mereka adalah menikahkan Ammar denganku, Apa itu tidak sama dengan menyakiti Kak Salsa?Bagaimana perasaannya nanti?" Pak Umar menarik napas panjang.
"Justru ini keinginan Salsa."
Mata Aisyah membelalak.
"Apa?"
"Salsa sendiri yang mengusulkan kamu supaya menikah dengan Ammar, nak."
Seakan kehilangan keseimbangan, tubuh Aisyah terdorong bersandar ke sofa. Kepalanya mendadak terasa kosong. Tidak, tidak mungkin? Kakak yang selalu menjaganya sejak kecil? Perempuan yang bahkan rela mengalah demi kebahagiaannya? Tidak mungkin akan meminta hal seperti itu.
"Itu tidak mungkin." Aisyah berulang kali menggeleng. "Kak Salsa tidak mungkin mengatakan itu. Dia pasti dipaksa, Pasti. Ayah tidak sedang berbohong, kan?"
Tatapan pak Umar berubah sendu.
"Semalam Salsa datang menemui Ayah. Ia menangis dan untuk pertama kalinya Ayah melihat anak Ayah memohon sambil bersujud di kaki Ayah." Air mata yang sedari tadi ditahan pak Umar akhirnya jatuh. "Salsa bilang," Kalimat yang diucapkan oleh pak Umar terputus karena suaranya tercekat. "Kalau ia tidak mau kehilangan Ammar. Ia sangat mencintai suaminya dan kalau satu-satunya cara mempertahankan rumah tangga mereka adalah menghadirkan istri kedua dari keluarganya sendiri, Ia rela."
Aisyah mematung. Rasa sesak itu berubah menjadi nyeri. Nyeri yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya. Ia bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Salsa sampai mampu mengucapkan kalimat itu. Perempuan mana yang rela berbagi suami? Tidak ada, Tidak akan ada. Kalau pun ada pasti karena keadaan telah memaksanya. Aisyah menundukkan wajahnya sementara air matanya menetes tanpa suara.
"Kasihan Kak Salsa." lirih Aisyah. "Dia pasti sangat menderita."
Pak Umar mengangguk pelan.
"Itulah kenapa Ayah meminta bantuanmu, Aisyah."
"Bantuan?" Aisyah tersenyum hambar. "Ayah menyebut ini bantuan? Ayah meminta Aisyah menikahi laki-laki yang sudah menjadi suami kakak Aisyah. Ayah meminta Aisyah hidup serumah dengan mereka. Ayah meminta Aisyah melihat setiap hari suami kakak sendiri. Ayah..." Suara Aisyah mulai bergetar.
"Bagaimana mungkin Aisyah sanggup?" Tangisnya akhirnya pecah. "Aisyah akan merasa bersalah seumur hidup. Aisyah tidak mau menjadi penyebab luka Kak Salsa. Aisyah lebih baik tetap sendiri daripada harus merebut kebahagiaan kakak Aisyah sendiri. Aisyah tidak sanggup."
Suasana kembali hening. Pak Umar hanya menatap putri bungsunya yang kini menangis tanpa mampu ditahan lagi. Sebagai seorang ayah, hatinya ikut hancur. Namun keadaan benar-benar menempatkannya pada pilihan yang mustahil.
"Aisyah." Suara itu kembali terdengar. "Lihat Ayah." Perlahan Aisyah mengangkat wajahnya. "Ayah tidak sedang menyuruhmu merebut suami kakakmu."
"Lalu apa?"
Pak Umar menatapnya dalam.
"Ayah memintamu menyelamatkan rumah tangga mereka."
Kalimat itu membuat Aisyah kembali membeku.
"Maksud Ayah?"
"Dengan adanya kamu, Ammar tetap memiliki pewaris. Salsa tetap menjadi istri pertama. Rumah tangga mereka akan tetap utuh dan keluarga Adhitama tidak memiliki alasan untuk menceraikan Salsa." Aisyah menatap ayahnya dengan tak percaya. Dadanya bergemuruh hebat.
"Jadi, Setelah Aisyah menikah dengan mas Ammar, Aisyah harus hidup sebagai bayangan dan istri kedua? Ibu dari anak-anak yang nantinya tetap memanggil Kak Salsa sebagai ibu mereka juga?"
Pertanyaan demi pertanyaan keluar dengan napas memburu sementara pak Umar memilih diam. Diamnya itulah yang menjadi jawaban paling menyakitkan. Aisyah mengusap air matanya dengan kasar lalu perlahan berdiri dari duduknya.
"Maafkan Aisyah." Suaranya terdengar lirih. "Tapi... Aisyah tidak bisa. Walaupun yang meminta adalah Ayah, Walaupun demi Kak Salsa, Aisyah tetap tidak bisa." Aisyah menarik napas panjang. "Aisyah tidak ingin menjadi orang ketiga. Tidak ingin menjadi penyebab luka bagi kakak sendiri dan..." Ia memejamkan matanya sejenak. "Aisyah juga tidak ingin menjalani pernikahan tanpa cinta."
Pak Umar ikut berdiri. Raut wajahnya berubah semakin serius.
"Aisyah, Kalau kamu menolak, Ayah tidak tahu bagaimana nasib rumah tangga kakakmu."
Kalimat itu membuat langkah Aisyah terhenti. Tangannya mengepal namun ia tidak berbalik.
Suara pak Umar kembali terdengar, kali ini jauh lebih berat.
"Pikirkan baik-baik. Karena bisa jadi masa depan Salsa berada di tanganmu."
Aisyah memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya terasa semakin sesak. Malam itu, Ia merasa seolah seluruh beban dunia diletakkan di atas kedua bahunya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berharap ada seseorang yang datang dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk. Sayangnya, takdir baru saja mengetuk pintunya dan ia belum tahu apakah sanggup membukanya atau tidak.
Kalimat itu masih terngiang jelas di telinga Aisyah. Bahkan ketika kedua kakinya melangkah meninggalkan ruang keluarga, suara sang ayah seolah terus mengejarnya.
"Pikirkan baik-baik. Karena bisa jadi masa depan Salsa berada di tanganmu."
Aisyah menghentikan langkahnya sejenak. Matanya terpejam rapat, dadanya naik turun menahan sesak yang sejak tadi terasa semakin menyiksa. Tidak, Ia tidak sanggup mendengar kata-kata itu lagi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aisyah mempercepat langkahnya menuju kamar dan
Brak!
Pintu kamar ditutup sedikit lebih keras dari biasanya, Suara kunci diputar dari dalam dan membuat tubuh Aisyah langsung bersandar di balik pintu. Kedua lututnya mendadak lemas hingga perlahan ia melorot dan terduduk di lantai. Tangannya menutup wajah sementara tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah tanpa sisa.
"Ya Allah," Suara isaknya memenuhi kamar yang kini terasa begitu sunyi. "Kenapa harus Aisyah?"
Air mata terus mengalir membasahi cadar yang masih dikenakannya. Aisyah bahkan tidak sempat melepaskannya karena yang ada di kepalanya hanya satu pertanyaan. Kenapa?Kenapa Allah mengujinya dengan cara seperti ini? Ia rela berkorban untuk siapa pun. Ia rela mengalah. Ia rela kehilangan banyak hal, tetapi bukan dengan menikahi suami kakaknya sendiri. Bayangan wajah Salsa kembali memenuhi pikirannya. Kakak yang sejak kecil selalu melindunginya. Kakak yang selalu mengalah setiap kali mereka berebut sesuatu. Kakak yang rela bekerja lebih keras setelah ibu mereka meninggal agar Aisyah tetap bisa kuliah. Bagaimana mungkin sekarang justru ia yang harus mengambil hak perempuan itu?
"Tidak." Aisyah menggeleng kuat-kuat. "Aku tidak bisa." Tangisnya semakin menjadi.
Di luar kamar, Pak Umar berdiri mematung menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup rapat. Tangannya sempat terangkat hendak mengetuk namun kembali turun. Laki-laki itu menghela napas panjang.
"Aisyah," Panggilnya pelan. "Ayah tahu kamu sedang sedih, tapi jangan seperti ini, Nak."
Tak ada jawaban, hanya keheningan. Pak Umar mencoba mengetuk pintu.
"Ayah tidak akan memaksamu malam ini tapi tolong buka pintunya. Kita bisa bicara lagi baik-baik."
Tetap tidak ada jawaban. Pak Umar menundukkan kepalanya. Selama menjadi ayah, inilah pertama kalinya ia melihat putri bungsunya mengunci diri seperti ini. Biasanya Aisyah adalah anak yang paling lembut hatinya. Kalau marah, ia hanya memilih diam. Kalau sedih, ia akan menangis sebentar lalu kembali tersenyum. Namun malam ini berbeda. Pak Umar bisa merasakan hati putrinya benar-benar hancur. Di balik pintu, Aisyah masih terduduk memeluk kedua lututnya. Suara ayahnya terdengar begitu jelas namun ia tidak memiliki keberanian untuk menjawab. Kalau ia membuka mulut, ia yakin tangisnya akan semakin pecah.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki Pak Umar akhirnya menjauh dan meninggalkan lorong rumah yang kembali sunyi. Aisyah mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, bengkak sementara napasnya masih tersengal karena terlalu lama menangis. Pandangannya jatuh pada sajadah yang belum sempat ia lipat. Entah mengapa kakinya perlahan melangkah ke sana. Ia kembali mengenakan mukenanya, berdiri menghadap kiblat dan membaca Takbir.
Begitu kedua tangannya bersedekap, air matanya kembali jatuh. Setiap bacaan salat yang keluar dari bibirnya terdengar bergetar. Bahkan ketika ia bersujud, tangis itu kembali pecah sangat lama hingga sajadah di bawah wajahnya mulai terasa basah.
"Ya Allah," lirihnya di sela isak. "Kalau semua ini adalah ujian untukku, berikanlah hamba kekuatan." Ia kembali menangis sementara dadanya terasa semakin sesak. "Ya Allah, jangan jadikan aku sebagai perusak rumah tangga kakakku." Air matanya menetes semakin deras. "Aku tidak mau, demi apa pun aku tidak mau. Jangan jadikan aku duri di dalam rumah tangga Kak Salsa. Dia sudah terlalu banyak berkorban untukku. Jangan biarkan aku menjadi alasan dia menangis." Tubuh Aisyah bergetar hebat. Ia menggenggam ujung sajadah begitu erat. "Kalau memang harus ada yang terluka, biarlah itu aku asal bukan Kak Salsa. Jangan dia, Ya Allah."
Tangis itu kembali memenuhi kamar. Tak ada seorang pun yang mendengarnya. Tak ada seorang pun yang melihat bagaimana seorang perempuan sedang berusaha berdamai dengan takdir yang terasa begitu kejam. Malam terus berjalan, jam demi jam berlalu, namun mata Aisyah tak juga terpejam.
Sesekali ia duduk di tepi ranjang lalu kembali menangis. Sesekali ia memandang foto dirinya bersama Salsa yang terpajang di meja belajar. Foto itu diambil dua tahun lalu saat mereka berlibur bersama.
Di dalam foto itu, Salsa merangkul pundaknya sambil tersenyum lebar sedangkan dirinya tertawa tanpa beban. Aisyah meraih bingkai foto itu dan mengusap wajah kakaknya dengan ujung jemarinya.
"Kak...." Suara lirih itu nyaris tak terdengar. "Aisyah nggak bisa. Aisyah benar-benar nggak bisa. Maafin Aisyah."
Tangisnya kembali pecah. Malam yang seharusnya menjadi waktu beristirahat berubah menjadi malam paling panjang dalam hidupnya.
Keesokan harinya, sang Surya mulai menampakkan sinarnya dari balik jendela. Burung-burung berkicau menyambut pagi namun suasana di rumah Pak Umar justru terasa begitu muram. Sejak subuh tadi pintu kamar Aisyah masih tertutup rapat. Pak Umar sudah beberapa kali mengetuk namun tak ada jawaban dari Aisyah. Pak Umar mengembuskan napas berat. Tatapannya dipenuhi kecemasan. Ia tahu putrinya ada di dalam karena sejak tadi terdengar suara langkah pelan, Namun Aisyah sama sekali tidak mau membuka pintu.
Di dalam kamar, Perempuan itu bersandar di sisi ranjang. Matanya sembab, bengkak dan hampir semalaman ia tidak tidur. Cadar berwarna krem yang dikenakannya bahkan masih tampak lembap di bagian pipi akibat terus dibasahi air mata. Tatapannya kosong mengarah ke jendela. Ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melakukan apa pun.
Perutnya lapar, kepalanya pening namun rasa sakit di hatinya jauh lebih besar daripada semua itu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Aisyah." Suara ayahnya kembali terdengar. "Nak.... Tolong buka pintunya. Ayah cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja."
Aisyah menggigit bibirnya sementara air mata kembali menggenang. Bukan karena marah melainkan karena ia belum siap melihat wajah ayahnya. Kalau pintu itu terbuka, ia takut kembali mendengar permintaan yang sama dan Aisyah takut kalau dirinya mulai goyah karena jauh di lubuk hatinya, Ia juga tidak sanggup melihat Salsa diceraikan. Itulah yang paling menyiksanya, bukan soal dirinya, melainkan karena apa pun keputusan yang ia ambil, akan selalu ada seseorang yang terluka. Dan ia tidak tahu harus menyelamatkan siapa.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!