Bab 1: Kematian yang Terlambat
Hujan turun tanpa ampun di sebuah gang sempit di sudut Kota Ardhana.
Air bercampur darah mengalir mengikuti retakan aspal yang rusak. Lampu jalan yang berkedip-kedip memantulkan bayangan seorang pemuda yang tergeletak tak bergerak di antara tumpukan kardus basah dan tong sampah berkarat.
Tubuhnya penuh luka.
Wajahnya bengkak.
Tulang rusuknya patah.
Napasnya nyaris tak terdengar.
Pemuda itu bernama Ethan Mahendra.
Beberapa menit lalu, tiga pria suruhan seseorang telah meninggalkannya di sana setelah memastikan ia tidak mungkin bertahan hidup.
"Bos bilang cukup. Dia pasti mati."
"Itu yang terjadi kalau berani melawan Keluarga Wijaya."
Tawa mereka masih terngiang di udara sebelum akhirnya menghilang bersama suara mesin mobil.
Kini hanya tersisa hujan.
Dan kematian.
Setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.
Namun jauh di tempat lain...
Di dunia yang berbeda...
Di puncak Gunung Langit Abadi.
Ledakan dahsyat mengguncang langit.
Ribuan kilometer awan spiritual tercabik.
Petir merah menyambar tanpa henti.
Seorang pria berjubah hitam berdiri di tengah badai.
Tubuhnya dipenuhi luka mengerikan.
Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Namun tatapannya tetap dingin.
Di sekelilingnya berdiri sembilan tokoh terkuat dunia kultivasi.
Mereka adalah pemimpin sembilan sekte besar.
Mereka yang dahulu memanggilnya sahabat.
Mereka yang dahulu berlutut memohon bantuannya.
Dan mereka pula yang baru saja menusukkan pedang ke punggungnya.
"Kaisar Bayangan," kata salah satu dari mereka. "Serahkan warisanmu. Kami akan memberimu kematian yang cepat."
Pria berjubah hitam tertawa pelan.
Tawa itu membuat langit bergetar.
"Lima ratus tahun."
Suaranya bergema.
"Aku menghabiskan lima ratus tahun membangun jalan menuju puncak."
Tatapannya menyapu seluruh musuh.
"Dan kalian mengira aku akan menyerahkan semuanya begitu saja?"
Wajah para pemimpin sekte berubah.
Mereka merasakan sesuatu.
Sesuatu yang sangat buruk.
Terlambat.
Pria itu mengangkat kedua tangannya.
Energi spiritual di seluruh gunung mulai berputar liar.
Retakan muncul di tubuhnya.
Lalu semakin banyak.
Semakin besar.
"Kalian ingin hartaku?"
Senyumnya berubah menyeramkan.
"Datang dan ambillah di neraka."
BOOOOOOM!
Langit runtuh.
Gunung hancur.
Ledakan inti spiritual seorang kultivator Alam Kenaikan Abadi Bintang 9 melahap segalanya.
Jeritan memenuhi dunia.
Kemudian...
Gelap.
Total.
Sunyi.
Tak ada suara.
Tak ada rasa.
Tak ada waktu.
Hingga tiba-tiba...
Sakit.
Sakit yang luar biasa.
Mata Ethan terbuka.
Ia langsung batuk keras.
"Uhuk!"
Darah segar keluar dari mulutnya.
Paru-parunya terasa terbakar.
Setiap bagian tubuhnya menjerit kesakitan.
Namun bukan rasa sakit itu yang membuatnya terkejut.
Melainkan lingkungan di sekelilingnya.
Gang sempit.
Bangunan beton.
Lampu jalan.
Mobil yang melintas di kejauhan.
Ethan membeku.
Lalu perlahan duduk.
Hujan terus membasahi tubuhnya.
Matanya menyipit.
Ingatan yang telah lama terkubur mulai muncul.
Kota Ardhana.
Bumi.
Tahun 2026.
Tubuh ini...
Tubuh aslinya.
"Sungguh..." gumamnya pelan.
Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri.
Lima ratus tahun.
Ia menghabiskan lima ratus tahun di dunia kultivasi.
Bertarung.
Membunuh.
Bertahan hidup.
Menjadi legenda.
Menjadi Kaisar Bayangan yang ditakuti seluruh dunia.
Namun sekarang ia kembali.
Kembali ke awal segalanya.
Kembali ke tubuh yang seharusnya sudah mati.
Ethan menunduk.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut.
Melainkan karena marah.
Sangat marah.
Ingatan kehidupan pertamanya mulai menyatu dengan kesadaran saat ini.
Ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan misterius.
Formula medis revolusioner yang mereka ciptakan dicuri.
Dirinya difitnah.
Kekayaannya dirampas.
Kemudian dipukuli hingga tewas.
Dalangnya hanya satu.
Keluarga Wijaya.
Keluarga konglomerat terbesar di kota.
Ethan mengangkat kepala.
Tatapan matanya perlahan berubah.
Tidak ada lagi kelemahan.
Tidak ada lagi kepolosan.
Yang tersisa hanyalah ketenangan seorang monster yang telah melewati ratusan perang.
"Aku kembali."
Suaranya tenggelam dalam suara hujan.
"Tunggu aku."
Ia tidak menyebut nama siapa pun.
Tidak perlu.
Orang-orang itu akan tahu.
Cepat atau lambat.
Ethan berusaha berdiri.
Tubuhnya hampir jatuh.
Terlalu lemah.
Jauh terlalu lemah.
Dantian yang dahulu mampu menampung lautan energi kini kosong.
Meridiannya rapuh.
Bahkan kekuatan fisiknya tidak lebih baik dari manusia biasa.
Namun wajah Ethan tetap tenang.
Karena kekuatan bisa dicari kembali.
Pengetahuan tidak.
Dan ia memiliki pengetahuan lima ratus tahun.
Ia berjalan perlahan keluar dari gang.
Beberapa menit kemudian ia menemukan sebuah bangunan tua yang terbengkalai.
Tidak ada penghuni.
Tidak ada kamera.
Tempat yang sempurna.
Ethan masuk dan duduk bersila di lantai berdebu.
Matanya terpejam.
Kesadarannya menyebar.
Mencari.
Mengamati.
Merasakan.
Beberapa saat kemudian alisnya berkerut.
"Tipis sekali..."
Energi spiritual di Bumi jauh lebih sedikit dibanding dunia kultivasi.
Bahkan tidak sampai sepersepuluh ribu.
Namun masih ada.
Sangat tipis.
Hampir tak terlihat.
Tetapi cukup.
Ethan mulai menjalankan teknik kultivasi yang dahulu mengguncang dunia.
Teknik Surgawi Kaisar Bayangan.
Napasnya menjadi stabil.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Energi spiritual mulai berkumpul.
Seperti kabut tipis yang ditarik menuju tubuhnya.
Satu menit.
Sepuluh menit.
Satu jam.
Rasa sakit di tubuhnya mulai berkurang.
Luka-luka dalam perlahan membaik.
Namun tiba-tiba...
Ethan membuka mata.
Tatapannya berubah tajam.
Seseorang datang.
Tidak.
Tiga orang.
Langkah kaki mereka terdengar dari luar bangunan.
"Dia pasti sembunyi di sekitar sini."
"Bos bilang pastikan dia benar-benar mati."
"Kalau masih hidup, habisi."
Suara itu semakin dekat.
Ethan mengenali salah satunya.
Riko.
Orang yang tadi memukulnya.
Pria itu rupanya kembali untuk memastikan pekerjaannya selesai.
Pintu bangunan terbuka kasar.
Tiga pria masuk sambil membawa tongkat besi.
Ketika melihat Ethan duduk di tengah ruangan, mereka langsung membeku.
"Mustahil..."
Riko menatapnya dengan mata melebar.
"Kau masih hidup?"
Ethan berdiri perlahan.
Tubuhnya masih lemah.
Sangat lemah.
Namun cukup untuk menghadapi manusia biasa.
"Aku juga berpikir begitu."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sayangnya aku sulit mati."
Salah satu pria langsung maju.
Tongkat besi menghantam ke arah kepala Ethan.
Gerakannya cepat.
Bagi manusia biasa.
Namun di mata Ethan, serangan itu penuh celah.
Ia hanya memiringkan kepala sedikit.
Tongkat itu meleset.
Kemudian Ethan melangkah masuk ke area lawan.
Satu pukulan.
Buk!
Pria itu terpental ke belakang dan menghantam dinding.
Tidak mati.
Tetapi pingsan.
Riko langsung pucat.
"Apa..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Ethan sudah berada di depannya.
Kecepatan itu membuatnya tidak sempat bereaksi.
Tangan Ethan mencengkeram pergelangannya.
Krek!
Tulang patah.
Riko menjerit.
"Aaaaaa!"
Namun jeritannya berhenti ketika tatapan mereka bertemu.
Mata Ethan membuat darahnya membeku.
Itu bukan mata seorang mahasiswa.
Itu mata seseorang yang telah membunuh ribuan orang.
"K-Kau siapa sebenarnya?"
Ethan terdiam sesaat.
Lalu menjawab dengan tenang.
"Orang yang seharusnya sudah mati."
Tubuh Riko gemetar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya.
Ethan melepaskannya.
"Aku hanya ingin satu jawaban."
Riko buru-buru mengangguk.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
Pria itu menelan ludah.
"Ardi..."
Ethan menyipitkan mata.
"Ardi siapa?"
"Ardi Wijaya!"
Ruangan mendadak sunyi.
Nama itu akhirnya muncul.
Nama yang telah ia tunggu.
Ardi Wijaya.
Pewaris utama Keluarga Wijaya.
Orang yang menghancurkan kehidupan Ethan.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Namun senyum itu tidak mengandung sedikit pun kehangatan.
"Bagus."
Riko merasa lega.
Ia mengira akan dibiarkan hidup.
Namun detik berikutnya ekspresinya berubah.
Karena ia melihat sesuatu yang aneh.
Untuk sesaat.
Sangat singkat.
Bayangan hitam raksasa muncul di belakang Ethan.
Seolah seekor monster kuno sedang menatapnya.
Riko bahkan tidak sempat berteriak.
Pandangannya menjadi gelap.
Tubuhnya roboh ke lantai.
Ethan berdiri diam.
Napasnya sedikit berat.
Tubuh ini memang masih terlalu lemah.
Ia harus menjadi lebih kuat.
Jauh lebih kuat.
Namun saat hendak kembali berkultivasi, alisnya tiba-tiba berkerut.
Ia menoleh ke arah jendela yang pecah.
Jauh di luar sana.
Di atas gedung tinggi yang tertutup hujan.
Seseorang sedang mengamatinya.
Sosok itu mengenakan mantel hitam panjang.
Wajahnya tertutup bayangan.
Namun satu hal terlihat jelas.
Mata emasnya menyala samar di tengah kegelapan.
Dan sosok misterius itu baru saja menyaksikan seluruh kejadian sejak awal.
"Menarik..."
Suara perempuan terdengar pelan.
Kemudian sosok itu menghilang bersama hembusan angin malam.
Sementara Ethan masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya menatap ke arah gedung tersebut.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Bumi, ia merasakan sesuatu yang tak seharusnya ada.
Aura spiritual.
Dan itu berarti satu hal.
Bumi menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Bab 2: Jejak yang Belum Padam
Hujan turun semakin deras.
Air mengalir melewati gang sempit, membawa bercak-bercak darah menuju saluran pembuangan. Lampu jalan yang redup memantulkan bayangan seorang pemuda yang berjalan perlahan dengan langkah sedikit goyah.
Ethan Mahendra tidak menoleh ke belakang.
Tubuhnya memang berhasil memasuki Alam Pemurnian Tubuh Bintang 1, tetapi pertarungan barusan telah menghabiskan hampir seluruh Qi yang berhasil ia kumpulkan selama berjam-jam. Jika sekarang muncul sepuluh orang bersenjata api, peluangnya untuk bertahan hidup sangat kecil.
"Tubuh ini terlalu rapuh..." pikirnya.
Di dunia kultivasi, ia mampu menghancurkan gunung hanya dengan satu ayunan pedang.
Kini, sekadar mempertahankan kesadaran pun terasa berat.
Namun pengalaman lima abad membuatnya tidak panik.
Hal pertama yang harus dilakukan bukanlah balas dendam.
Melainkan bertahan hidup.
Beberapa blok dari gang itu, Ethan berhenti di depan sebuah minimarket yang masih buka dua puluh empat jam.
Ia masuk tanpa menarik perhatian.
Kasir hanya melirik sekilas pemuda berwajah pucat dengan pakaian lusuh itu sebelum kembali memainkan ponselnya.
Ethan mengambil air mineral, roti, alkohol medis, perban, jarum jahit, benang nilon, dan sebuah topi hitam murah.
Saat hendak membayar, ia merogoh saku.
Kosong.
Ingatan tubuh ini perlahan muncul.
Dompetnya telah dirampas ketika dipukuli.
Ethan menghela napas pelan.
Di kehidupan sebelumnya, emas spiritual bernilai miliaran batu roh memenuhi cincin penyimpanannya.
Sekarang, ia bahkan tidak memiliki uang untuk membeli sebotol air.
Ia mengembalikan semua barang ke rak.
Saat hendak keluar, pandangannya berhenti pada televisi yang tergantung di sudut toko.
"...polisi masih menyelidiki dugaan pembunuhan di kawasan Jalan Merdeka..."
Belum ada lokasi pasti yang disebutkan.
Berarti mayat-mayat itu belum ditemukan.
Masih ada waktu.
Setengah jam kemudian.
Ethan tiba di sebuah rumah kontrakan tua di pinggiran kota.
Cat dindingnya mengelupas.
Halamannya dipenuhi rumput liar.
Ia mengeluarkan kunci kecil dari balik batu dekat pot bunga yang pecah.
Untungnya...
Belum ada yang mengetahui tempat ini.
Begitu pintu terbuka, aroma debu langsung memenuhi ruangan.
Segalanya masih sama seperti lima ratus tahun yang lalu.
Meja kayu murah.
Rak buku.
Komputer tua.
Foto dirinya bersama kedua orang tuanya.
Langkah Ethan berhenti.
Tatapannya jatuh pada bingkai foto itu cukup lama.
Ayahnya tersenyum lebar.
Ibunya merangkul bahunya.
Ingatan yang selama ratusan tahun terkubur kembali muncul.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Bumi...
Tatapan Ethan sedikit melembut.
"Ayah... Ibu..."
Suaranya hampir tak terdengar.
"Aku terlambat..."
Namun hanya sesaat.
Ekspresinya kembali datar.
Kesedihan tidak akan mengubah apa pun.
Yang mati tetap mati.
Yang bisa dilakukan hanyalah memastikan orang-orang yang menyebabkan semua itu membayar harga yang pantas.
Ia segera menutup seluruh tirai rumah.
Kemudian memeriksa setiap sudut ruangan.
Pengalaman hidupnya membuatnya selalu menganggap tempat baru sebagai wilayah musuh.
Tidak ada kamera.
Tidak ada alat penyadap.
Tidak ada jejak penyusup.
Barulah ia mulai mencari sesuatu yang lebih penting.
Dokumen penelitian ayahnya.
Ia membuka laci.
Kosong.
Lemari.
Kosong.
Rak buku.
Kosong.
Namun di balik salah satu papan lantai, tangannya menemukan sebuah kotak logam kecil yang dipenuhi debu.
Kotak itu masih terkunci.
Ethan mengambil napas perlahan.
Ia mengenali pola ukiran di permukaannya.
Bukan teknologi modern.
Melainkan sandi mekanis yang pernah diajarkan ayahnya semasa kecil.
Setelah beberapa kali memutar pengunci...
Klik.
Kotak itu terbuka.
Di dalamnya hanya terdapat sebuah flashdisk tua.
Dan sebuah surat.
Tulisan tangan ayahnya.
Ethan,
Jika suatu hari kamu membaca surat ini, berarti sesuatu telah terjadi pada kami.
Jangan percaya kepada siapa pun yang mengaku ingin membantu.
Formula yang kita buat hanyalah permulaan.
Yang mereka incar sebenarnya bukan penelitian itu.
Mereka mencari sesuatu yang kusembunyikan selama lebih dari dua puluh tahun.
Jika kau masih hidup...
Pergilah ke Gunung Arjaya.
Carilah Batu Mata Air Ketujuh.
Di sanalah semua jawaban berada.
Surat itu berakhir begitu saja.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada tanda tangan.
Hanya sebuah simbol aneh di sudut kanan bawah.
Lingkaran hitam dengan sembilan garis perak.
Ethan mengernyit.
Simbol itu...
Sangat mirip lambang salah satu organisasi kuno di Dunia Kultivasi.
Mustahil.
Bagaimana simbol itu bisa muncul di Bumi?
Ia segera menyalakan komputer tua.
Butuh waktu hampir lima menit hingga perangkat itu hidup.
Flashdisk dimasukkan.
Layar menampilkan puluhan folder penelitian.
Mayoritas berisi data medis.
Namun ada satu folder yang terkunci.
Nama folder itu membuat Ethan membeku.
"Proyek Gerbang."
Bukan "Formula Medis."
Bukan "Penelitian Sel."
Melainkan...
Gerbang.
Saat hendak membuka folder itu...
Listrik tiba-tiba padam.
Seluruh rumah menjadi gelap.
Ethan tidak bergerak.
Instingnya berbunyi.
Seseorang...
Sedang berada di luar.
Perlahan ia mendekati jendela.
Melalui celah tirai, ia melihat dua mobil hitam berhenti tanpa suara.
Lampunya dimatikan.
Empat pria turun.
Mereka mengenakan jas hitam.
Tidak seperti preman jalanan.
Gerakan mereka rapi.
Terlatih.
Salah seorang mengangkat sebuah alat elektronik yang memancarkan cahaya biru.
"Target dipastikan berada di dalam."
Suara pria itu terdengar melalui alat komunikasi kecil di telinganya.
"Ekskusi sesuai prosedur."
Ethan memperhatikan dengan tenang.
"Mereka bukan polisi."
"Mereka juga bukan anak buah Ardi."
Lalu siapa?
Sementara itu...
Di dalam sedan hitam lain yang terparkir sekitar lima puluh meter dari rumah kontrakan itu...
Seorang wanita berambut panjang menatap layar tablet.
Namanya Alya Pramesti.
Usianya dua puluh tiga tahun.
CEO muda perusahaan investasi Pramesti Group.
Namun identitas itu hanyalah kedok.
Ia sebenarnya anggota muda Divisi Pengamatan milik sebuah organisasi kuno yang selama ratusan tahun mengawasi fenomena supranatural di Indonesia.
Di layar tablet muncul grafik energi.
"Tingkat spiritual..."
Alya mengerutkan kening.
"Tak mungkin."
"Sinyalnya hanya muncul beberapa detik..."
"Tapi kualitas energinya..."
Ia menatap titik merah yang berasal dari rumah Ethan.
"...lebih murni daripada seluruh artefak yang pernah kita temukan."
Seseorang di kursi depan bertanya,
"Nona Alya, apakah kita perlu ikut campur?"
Alya menggeleng.
"Tunggu."
"Ada pihak lain yang bergerak lebih dulu."
Di depan rumah...
Empat pria berbaju hitam telah mengepung bangunan itu.
Pemimpin mereka mengangkat tangan.
"Dua orang masuk."
"Dua orang berjaga."
Mereka bergerak nyaris tanpa suara.
Jauh lebih profesional dibanding para preman sebelumnya.
Namun...
Begitu salah satu pria menyentuh gagang pintu...
Ia berhenti.
"Ketua..."
"Apa?"
"Pintu ini..."
Belum selesai kalimatnya.
Klik.
Sebuah suara kecil terdengar dari bawah kakinya.
Mata pria itu membelalak.
"Perangkap!"
BOOM!
Ledakan kecil menghancurkan beranda depan.
Bukan ledakan mematikan.
Tetapi cukup untuk membuat seluruh tim mundur.
"Asap!"
"Dia kabur!"
Pemimpin mereka langsung berlari menuju belakang rumah.
Namun halaman belakang...
Kosong.
Pagar masih utuh.
Tidak ada jejak.
Tidak ada suara.
Seolah target menghilang begitu saja.
Padahal...
Sekitar tiga puluh meter dari sana.
Ethan berjalan tenang melewati lorong gelap.
Perangkap sederhana tadi bukan menggunakan Qi.
Melainkan tabung gas bekas, baterai, dan kabel yang ia rakit hanya dalam beberapa menit menggunakan barang-barang di rumah.
Pengalaman bertahan hidup selama lima abad mengajarinya bahwa kemenangan tidak selalu diperoleh dengan kekuatan.
Terkadang...
Sedikit kecerdikan lebih mematikan daripada ribuan jurus.
Namun wajah Ethan tidak menunjukkan sedikit pun rasa lega.
Karena ia sadar akan satu hal.
Rumah itu sudah tidak aman.
Dan yang lebih penting...
Kini ada pihak lain selain Keluarga Wijaya yang mengincarnya.
Seseorang mengetahui keberadaan "Proyek Gerbang."
Seseorang juga mampu melacak jejak Qi miliknya.
Ini jauh lebih berbahaya daripada yang ia perkirakan.
Di atap gedung seberang jalan...
Alya menurunkan teropong malamnya.
Ia melihat langsung bagaimana Ethan menghilang sebelum pengepungan selesai.
"Bukan kebetulan."
Pria tua di sampingnya bertanya pelan.
"Nona mengenalnya?"
Alya menggeleng.
"Tidak."
"Tapi dia tidak bergerak seperti manusia biasa."
Ia kembali melihat data energi di tablet.
Grafiknya sudah menghilang.
Seolah pemiliknya sengaja menyembunyikan keberadaannya.
Sudut bibir Alya perlahan terangkat.
"Menarik..."
"Sangat menarik."
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana.
Di lantai paling atas Gedung Wijaya Group.
Ardi Wijaya baru saja menerima telepon.
"Apa maksudmu Riko mati?"
Wajahnya langsung berubah.
"Mustahil."
"Dia membawa tiga orang."
Suara dari seberang terdengar gemetar.
"Pak... mereka semua tewas."
"Dan..."
"Ada sesuatu yang aneh."
"Apa lagi?"
"Tidak ada luka tembak."
"Tidak ada senjata."
"Salah satu korban meninggal karena tenggorokannya remuk hanya dengan satu tangan."
Ardi perlahan berdiri.
Tangannya mengepal.
Lalu ia berjalan menuju jendela kaca yang menghadap seluruh kota.
"Ethan..."
"Kau ternyata belum mati."
Ia tersenyum tipis.
Namun senyum itu perlahan memudar ketika sekretarisnya masuk dengan wajah pucat.
"Tuan Ardi..."
"Ada tamu."
"Siapa?"
"Orang-orang dari..."
Sekretaris itu menelan ludah.
"...Divisi Khusus Pemerintah."
Belum sempat Ardi bertanya lebih lanjut, pintu ruangannya terbuka perlahan.
Tiga orang berpakaian hitam masuk tanpa menunggu izin.
Lencana berbentuk naga perak terpasang di dada mereka.
Pemimpin rombongan meletakkan sebuah foto di atas meja.
Foto itu memperlihatkan wajah Ethan Mahendra.
"Kami sedang mencari orang ini."
"Dan kami mendapat informasi..."
"...bahwa keluarga Anda mungkin telah membuat kesalahan besar."
Di saat yang sama, jauh di tengah keramaian kota, Ethan menghentikan langkahnya.
Di balik kerumunan manusia yang berlalu-lalang, ia merasakan sesuatu yang sudah lima ratus tahun tidak pernah ia rasakan.
Seutas benang tipis Qi yang sangat murni.
Berasal dari arah sebuah bukit di pinggir kota.
Mata Ethan sedikit menyipit.
"Itu..."
"Bukan Qi biasa."
Bab 3: Benang Qi di Bukit Sunyi
Malam semakin larut.
Rintik hujan mulai berubah menjadi gerimis tipis yang membasahi jalanan kota. Lampu-lampu gedung pencakar langit masih menyala terang, tetapi bagi Ethan Mahendra, keramaian itu hanyalah latar belakang yang tidak berarti.
Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada satu hal.
Benang Qi yang samar.
Sangat tipis.
Hampir mustahil dirasakan oleh manusia biasa.
Namun bagi seseorang yang pernah berdiri di puncak Alam Kenaikan Abadi Bintang 9, jejak energi sekecil apa pun tidak mungkin luput dari indranya.
Ia menghentikan langkah di sebuah persimpangan.
Memejamkan mata.
Menenangkan napas.
Benang Qi itu muncul sesaat, lalu menghilang lagi seperti embusan angin.
"Disembunyikan oleh formasi..." gumamnya pelan.
Tatapan Ethan berubah lebih serius.
Di Bumi modern seharusnya tidak ada orang yang mampu memasang formasi penyembunyi energi sehalus itu.
Kalau memang ada...
Berarti dugaan yang sejak tadi memenuhi pikirannya benar.
Bumi bukan dunia tanpa kultivator.
Sementara itu...
Di markas sementara Divisi Pengamatan.
Alya Pramesti berdiri di depan layar holografik yang dipenuhi peta kota.
Beberapa titik merah berkedip perlahan.
Seorang pria paruh baya berkacamata berdiri di belakangnya.
"Masih mengejar target itu?"
Alya tidak mengalihkan pandangannya.
"Ya."
"Menurutmu dia berbahaya?"
"Belum tahu."
Pria itu menyilangkan tangan.
"Divisi Khusus Pemerintah juga mulai bergerak."
"Aku tahu."
"Mereka tidak akan tinggal diam kalau ada pengguna energi spiritual muncul di kota."
Alya menghela napas pelan.
"Itulah yang membuatku khawatir."
"Kalau mereka menemukan pemuda itu lebih dulu..."
"...kemungkinan besar dia tidak akan pernah terlihat lagi."
Ruangan menjadi sunyi.
Beberapa detik kemudian, seorang operator berlari tergesa-gesa.
"Nona Alya!"
"Sumber energi muncul lagi!"
"Lokasi?"
"Bukit Arjaya."
Mata Alya langsung menyipit.
"Itu kawasan terlarang..."
Di sisi lain kota.
Ethan akhirnya tiba di kaki Bukit Arjaya.
Tempat itu sangat berbeda dibanding kawasan metropolitan yang dipenuhi gedung tinggi.
Pepohonan pinus tumbuh rapat.
Udara terasa lebih dingin.
Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon.
Semakin jauh ia melangkah, suara kendaraan mulai menghilang.
Yang tersisa hanyalah desir angin.
Dan suara serangga malam.
Ethan berjongkok.
Tangannya menyentuh tanah.
Masih ada sisa Qi.
Sangat lemah.
Namun murni.
Ia mengambil segenggam tanah, lalu meremasnya perlahan.
"Qi keluar dari bawah tanah..."
Bukan dari langit.
Bukan dari tumbuhan.
Melainkan...
Dari kedalaman bukit.
Ini bukan fenomena alami.
Perjalanan berlanjut hampir satu jam.
Jalur setapak mulai menghilang.
Semak belukar semakin lebat.
Namun Ethan tidak tersesat.
Benang Qi itu menjadi penunjuk arah yang jauh lebih akurat daripada kompas.
Hingga akhirnya...
Ia berhenti.
Di depannya berdiri sebuah batu besar setinggi tiga meter.
Permukaannya dipenuhi lumut.
Sekilas tampak seperti batu biasa.
Namun mata Ethan langsung menangkap sesuatu.
Tujuh cekungan kecil membentuk lingkaran.
Persis seperti isi surat ayahnya.
Batu Mata Air Ketujuh.
Ia mengangkat tangan.
Membersihkan lumut perlahan.
Di balik lumut itu muncul ukiran kuno.
Bukan bahasa Indonesia.
Bukan Sanskerta.
Bukan Mandarin.
Melainkan aksara kuno yang pernah digunakan di Dunia Kultivasi.
Alis Ethan sedikit terangkat.
"Bagaimana mungkin..."
Ia membaca perlahan.
"Segel... Mata Air Roh..."
"Jangan dibuka oleh..."
Kalimat terakhir sudah rusak dimakan usia.
Namun satu hal menjadi jelas.
Ayahnya tidak sedang berbicara tentang penelitian medis.
Ia mengetahui keberadaan tempat ini.
Ethan mulai mengamati batu itu lebih teliti.
Setelah beberapa saat, ia menemukan sebuah lubang kecil sebesar ibu jari.
Bukan lubang alami.
Melainkan mekanisme.
Ia mengambil flashdisk dari saku.
Memutarnya pelan.
Tidak cocok.
Kemudian surat itu.
Tidak ada.
Tatapannya berhenti pada simbol lingkaran hitam bergaris sembilan.
Ia menggambar simbol itu perlahan menggunakan ujung jarinya pada permukaan batu.
Tidak terjadi apa-apa.
Ethan tidak kecewa.
Sebaliknya.
Ia justru tersenyum tipis.
"Begitu..."
"Formasinya masih aktif."
Artinya...
Masih ada sumber energi yang menopangnya.
Dan itu berarti tempat ini belum pernah benar-benar ditemukan.
Tiba-tiba...
Daun-daun di belakangnya bergoyang.
Ethan segera memutar tubuh.
Seorang pria tua berdiri sekitar lima belas meter darinya.
Pakaiannya sederhana.
Membawa keranjang rotan berisi tanaman obat.
Rambutnya memutih seluruhnya.
"Anak muda."
Suara pria itu tenang.
"Malam-malam begini tidak baik berjalan sendirian."
Ethan tidak menjawab.
Tatapannya mengamati lelaki tua itu dari ujung kepala sampai kaki.
Napas stabil.
Langkah ringan.
Tidak ada Qi yang terpancar.
Terlalu sempurna.
Justru karena terlalu biasa, Ethan menjadi waspada.
Orang seperti ini biasanya jauh lebih berbahaya daripada mereka yang sengaja memamerkan kekuatan.
"Kakek tinggal di sini?" tanya Ethan akhirnya.
Pria tua itu tersenyum.
"Sudah lama."
"Sendirian?"
"Kadang sendiri."
"Kadang tidak."
Jawaban yang menggantung.
Ethan tidak melanjutkan pertanyaan.
Sebaliknya, pria tua itu yang bertanya.
"Kau mencari sesuatu?"
"Sedikit."
"Apa?"
"Jawaban."
Pria tua itu tertawa pelan.
"Kalau begitu, kau datang ke tempat yang salah."
"Tempat ini hanya dipenuhi orang-orang yang kehilangan jawaban."
Ucapan itu membuat Ethan sedikit terdiam.
Kalimat sederhana.
Namun memiliki makna yang dalam.
Belum sempat percakapan berlanjut...
Pria tua itu mendadak menoleh ke arah timur.
Wajahnya berubah serius.
"Ada tamu."
Ethan juga merasakannya.
Beberapa langkah kaki.
Cepat.
Teratur.
Bukan satu orang.
Melainkan enam.
Beberapa detik kemudian, enam sosok berpakaian hitam muncul dari balik pepohonan.
Mereka mengenakan seragam tempur.
Di dada kiri terdapat lambang naga perak.
Sama seperti lencana yang dibawa orang-orang yang menemui Ardi Wijaya.
Pemimpinnya melangkah maju.
"Area ini ditutup."
"Tinggalkan lokasi."
Nada suaranya datar.
Namun penuh tekanan.
Pria tua hanya tersenyum kecil.
"Sejak kapan gunung menjadi milik pemerintah?"
"Ini bukan urusan warga sipil."
Pemimpin itu menatap Ethan.
"Kau."
"Ikut kami."
Ethan menggeleng pelan.
"Aku tidak mengenal kalian."
"Kami juga tidak meminta pendapatmu."
Dua orang segera bergerak mendekat.
Bukan untuk menyerang.
Melainkan hendak memborgolnya.
Ethan tidak bergerak.
Ia sedang menghitung.
Jarak.
Sudut.
Kemungkinan melarikan diri.
Tubuhnya belum pulih.
Melawan enam orang terlatih bukan pilihan yang bijak.
Namun menyerah juga bukan sifatnya.
Tiba-tiba...
Pria tua yang sejak tadi diam melangkah satu langkah ke depan.
"Anak muda ini tamuku."
Kalimat itu sederhana.
Namun membuat keenam orang berseragam hitam berhenti.
Pemimpin mereka menatap pria tua itu beberapa saat.
"Lansia."
"Jangan ikut campur."
Pria tua menghela napas pelan.
"Kalian anak-anak zaman sekarang..."
"...tidak lagi menghormati orang tua."
Detik berikutnya...
Tanah di sekitar mereka bergetar sangat halus.
Hanya sesaat.
Namun cukup membuat seluruh burung di hutan beterbangan.
Mata Ethan langsung menyipit.
Bukan karena getaran itu kuat.
Melainkan karena...
Ia sama sekali tidak merasakan aliran Qi.
Artinya lelaki tua itu baru saja melakukan sesuatu menggunakan metode yang bahkan tidak dikenalnya.
Pemimpin pasukan naga perak juga tampak berubah ekspresi.
"Anda..."
Belum selesai ia berbicara.
Alat komunikasi di telinganya berbunyi.
Ia mendengarkan beberapa detik.
Wajahnya langsung menegang.
"Semua mundur."
"Target prioritas berubah."
Kelima bawahannya tampak bingung.
"Tapi, Kapten..."
"Perintah langsung."
"Sekarang."
Tanpa membuang waktu, keenam orang itu segera menghilang ke dalam hutan.
Suasana kembali sunyi.
Ethan menoleh kepada pria tua itu.
"Kakek mengenal mereka?"
"Tidak."
"Mereka mengenalku?"
Pria tua tersenyum samar.
"Mungkin."
"Mungkin juga tidak."
Jawabannya tetap sama sulit ditebak.
Beberapa saat kemudian, pria tua itu memungut satu tanaman liar di dekat batu besar.
"Lain kali kalau datang ke sini..."
"...jangan membawa terlalu banyak masalah."
Ia berbalik.
Berjalan perlahan menyusuri hutan.
Tidak lama kemudian sosoknya menghilang ditelan kabut.
Ethan tidak mengejar.
Ia tahu.
Kalau pria itu tidak ingin ditemukan...
Bahkan ketika dirinya berada di puncak kekuatan dahulu, belum tentu ia mampu melacaknya.
Tatapannya kembali menuju Batu Mata Air Ketujuh.
Namun sebelum sempat mendekat...
Permukaan batu itu tiba-tiba memancarkan cahaya biru redup.
Ukiran kuno yang semula mati mulai menyala satu demi satu.
Retakan halus muncul di bagian tengah batu.
Dari celah sempit itu...
Mengalir seutas Qi yang jauh lebih murni daripada sebelumnya.
Bersamaan dengan itu, suara tua yang seolah datang dari kedalaman bumi bergema pelan.
"Pewaris... akhirnya kembali..."
Tubuh Ethan membeku.
Suara itu...
Bukan berasal dari manusia.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!