Indonesia
NovelToon NovelToon

MANTAN ISTRI CEO

Bab. 01. Aku Tinggalkan Istana.

Tidak pernah membayangkan hari itu akan menjadi hari terakhir aku memakai gaun sutra. Hari terakhir duduk di meja makan Lazy Susan bersama Ayah dan Ibu.

Di ruang makan sepanjang dua belas meter itu, kristal chandelier menggantung seperti bintang yang terlalu dekat. Meja makan dari kaca dikombinasi kayu mahoni, selalu penuh berisi hidangan dan kini makanan itu belum sempat disentuh.

Ayah duduk di ujung, dengan wibawa sakral seorang pria yang membangun Wijaya Group dari nol. Ibu di sebelahnya, kalung berliannya berkilau setiap kali ia menghela nafas.

Dan di hadapanku, duduk Arka Mahendra. Anak konglomerat. Dia calon yang mereka pilih. Ganteng, tinggi, garis wajahnya tegas dengan sorot mata tajam. Jasnya rapi dan terlihar mahal. Senyumnya terlatih, dan raut wajahnya terlihat kecewa.

“Keputusan sudah final, Miracle,” kata Ayah dengan suara datar.

"Tidak perlu ada penolakan. Pernikahanmu dengan Arka akan dilangsungkan tiga bulan lagi. Ini merger terbaik untuk keluarga kita.” lanjut Ayah lagi.

"Kamu anak yang pintar dan bisa memilih masa depan. Kalian memang belum saling kenal, setelah menikah harus menyesuaikan satu sama lain." ibu ikut nimbrung.

"Apa ucapku kurang jelas atau Ayah sengaja membuat ku marah?" suara ku terdengar dingin.

Aku menatap piringku, Steak wagyu A5 yang langsung di import dari Jepang membuatku mual. Anggur dan segala hal yang bisa dibeli dengan uang yang tersedia di meja makan semakin memuakan.

Wajah Ayah, Ibu dan Arka memerah, aku yakin Ayah menahan marah mendengar ucapan ku.

Menurut ku yang tidak bisa dibeli adalah cara Morgan menatapku lima jam yang lalu, di dapur kecil kontrakan 3x4 meter di Bogor.

Tangannya penuh tepung. Kemejanya lusuh. Di belakangnya ada kompor satu tungku dan mimpi setinggi langit. Aku terpesona dengan senyumnya dan mendukung mimpinya.

Aku berbisik dalam hati Inilah cinta sejati ku, cinta pertama seluas samudra. Aku tidak perlu ragu melangkah untuk melanjutkan mimpi kami berdua.

“Sayank...kalau kamu capek sama semua ini, bilang. Aku nggak akan memaksa mu untuk tetap mendukung ku. Aku tahu diri tidak level denganmu. Kamu dari keluarga konglomerat sedangkan aku orang tidak berada.” ucapnya lirih seraya menatap ku. Aku tertawa ngakak dan berusaha bersikap tenang.

“Aku nggak capek. Aku baru mulai hidup, asal bersama mu aku punya semangat untuk maju. Walaupun langit runtuh aku akan tetap memilih mu." sahut ku membuat Morgan senang, ia lalu memeluk ku dengan mesra.

Morgan bukan siapa-siapa lima tahun lalu. Anak tukang sayur. Kuliah sambil kerja dan jadi koki Restoran kecil. Kami bertemu di saat orang tuaku menyumbang perabotan pastry untuk tata boga di tempat Morgan kuliah.

Aku jurusan Management Bisnis dan tidak tertarik dengan tata boga atau masak memasak, karena aku dipersiapkan untuk memimpin perusahan.

Aku terpaksa suka memasak saat Morgan mengajariku membedakan thyme dan rosemary. Walaupun terasa berat dan capek tapi aku jalani tanpa mengeluh.

Aku juga mengajari Morgan bahwa hidup tidak selalu dihitung dengan keuntungan. Di keluarga ku semua dinilai dengan uang dan status sosial. Mereka memandang Morgan sebelah mata, juga menganggap hubungan ku dan Morgan hanya lelucon.

“Anak itu tidak punya masa depan, Miracle, kau akan sengsara bersamanya." ucap Ibu berusaha berubah cara pandang ku.

Mungkin benar. Saat itu dia tidak punya apa-apa. Tapi dia punya satu hal yang Arka Mahendra tidak punya, dia melihatku. Bukan sebagai putri Wijaya yang kaya raya. Bukan sebagai aset. Tapi sebagai Miracle Wijaya, gadis yang tangannya kapalan karena sibuk belajar menguleni adonan sampai jam dua pagi.

“Aku tidak akan menikah dengan Arka,” ucapku pelan dengan tatapan penuh benci kepada Arka. Ruangan hening. Sendok di tangan Ibu berhenti di udara.

“Apa katamu?” tanya Ayah menatapku tajam.

“Aku tidak akan menikah dengan Arka. Atau siapapun yang kalian pilih.”

Aku menegakkan punggung. Gaun sutra ini tiba-tiba terasa menyesakkan.

“Aku akan menikah dengan Morgan.” sambung ku.

Ibu menjatuhkan gelasnya. Suaranya pecah di lantai marmer. Sama seperti ekspresi wajah mereka saat ini.

“Dasar anak durhaka!” bentak Ayah berdiri. Ibu ikut berdiri seraya memegang tangan Ayah.

"Paa..sabar, kamu tidak boleh marah dan emosi. Bicarakan baik-baik, beri pengertian yang bijak." Ibu menenangkan Ayah.

“Kau buang nama baik keluarga hanya untuk laki-laki miskin itu? apa kau sudah gila.."

“Miskin hari ini bukan berarti miskin untuk selamanya, Yah,” jawabku tenang. Karena untuk pertama kali dalam 25 tahun hidupku, aku tidak takut.

“Dan aku lebih memilih miskin bersamanya, daripada kaya sendirian.” lanjut ku.

Aku berdiri meninggalkan steak yang masih panas mengepul. Meninggalkan warisan yang sudah disiapkan untukku. Meninggal kan nama Wijaya yang selama ini menjadi tamengku.

Di pintu, aku menoleh sekali.

“Terima kasih sudah membesarkanku. Tapi mulai malam ini, aku ingin membesarkan diriku sendiri.” ucapku tegas

Langkahku mantap keluar dari istana itu. Aku sangat percaya diri, uang di rekening ku cukup untuk membuka sebuah Restoran. Ibu berlari menghadang Langkahku.

"Miracle, kau sudah gila...berhenti!" teriak Ibu menarik tangan ku.

"Aku sudah memilih!" sahut ku tegas seraya melepaskan pegangan tangan Ibu.

Di luar, hujan turun. Mobil jemputan Morgan sudah menunggu. Bukan Mercy. Bukan juga Alphard. Hanya motor butut dengan dua helm tergantung di stang yang di tutupi jas hujan.

Dia tersenyum canggung saat melihatku dengan gaun sutra basah kuyup.

“Sayank, jadi ini... serius?”

Aku mengangguk mantap lalu melepaskan anting berlian terakhirku dan menaruhnya di jok motor.

“Serius. Aku tinggalkan semuanya.”

Morgan mengulurkan tangannya, aku menyambutnya dengan senang. Dia kaget dan meringis, ternyata ada luka kecil di jarinya karena pisau dapur.

Ayah, Ibu dan Arka memandang kepergianku dengan tatapan penuh arti. Mungkin mereka tidak menyangka akan tindakan ku.

Nge-kost di Bogor.

Aku buru-buru masuk kamar mengambil kotak obat.

"Sayang, aku sudah ambilkan obat, sini aku obatin."

"Tidak usah khawatir hanya luka kecil." sahut Morgan santai.

Aku genggam tangannya penuh haru. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa kaya.

Karena istana bisa dibangun dengan uang. Tapi rumah ... hanya bisa dibangun dengan orang yang tepat. Dan pada malam itu, aku memilih membangun rumah.

Morgan mengulurkan tangannya penuh haru, ia memeluk ku erat seolah takut kalau aku lepas.

"Sayank...besok kita akan menikah dan pergi ke catatan sipil. Kau istirahat di kasur dan aku di lantai.

"Kita akan sama-sama di kasur malam ini, aku yakin kamu tidak macam-macam."

"Makasih sayank, kau telah membawaku ke titik tertinggi dalam angan ku, semoga keputusan yang kau perbuat menjadi dasar yang kokoh sebagai tonggak rumah tangga yang kita bangun."

"Kita pasti bisa!" jawab ku percaya diri.

*****

Bab.02. Berkhianat.

Miracle Wijaya adalah putri tunggal Rendra Wijaya, konglomerat terkaya nomer tiga se-Asia. Hidupnya sudah ditentukan dari kecil oleh keluarga besar Wijaya. Bersekolah terbaik, menikah bisnis dengan CEO Arka Mahendra dan meneruskan Wijaya Group. Itu tidak boleh di tawar.

Tapi di usia 23 tahun, Miracle memilih kabur dengan Morgan. Meninggalkan kemewahan dan perjodohan. Ayahnya sampai serangan jantung dan Ibu nya juga sangat sedih. Arka menjadi trauma mendengar perjodohan dan sampai sekarang tidak mau menikah.

Setelah menikah mereka hidup sederhana di Bogor. Mereka merintis "Morgan's Kitchen" dari nol sampai menjadi besar. Diam-diam Morgan menerima bantuan dari Wijaya Group sehingga bisa Go public. Mereka juga dapat bantuan rumah besar dari ibunya Miracle.

Perlahan tapi pasti, Morgan sukses menjadi CEO. Punya Restoran 5 cabang di Indonesia. Miracle mengatur keuangan, resep, strategi bisnis. Morgan yang jadi wajah di depan.

Akhirnya Morgan membuka Restoran di Jakarta, pertama lancar tapi belakangan Restoran kurang beruntung, oleh sebab itu Morgan membicarakan masalah ini dengan Miracle.

"Sayank, sebaiknya kamu pindah ke Restoran kita yang di Alam Sutra Jakarta, disana tidak ada yang mengurus, nanti aku bolak balik Jakarta Bogor setiap hari."

"Adik mu sudah disana, aku tidak enak, lagian aku tidak mau jauh dari mu."

"Di Jakarta baru merintis kalau diserahkan begitu saja mungkin akan ada masalah besar, Rayan belum bisa dipercaya."

"Jangan aku dibuang, aku masih mencintaimu.." canda Miracle tersenyum.

"Tidak akan terjadi sayank, kau adalah matahari ku, aku sangat mencintaimu. Kalau kamu di Jakarta bisa istirahat untuk program anak, dekat rumah sakit."

Morgan tahu Miracle sangat bucin padanya, dia rela mengorbankan segalanya demi menyenangkannya.

"Oke kalau begitu, ingat jangan sel*ngkuh di sini. Aku akan meninggalkan mu jika kamu berbuat hina dan menodai pernikahan kita."

Baru saja merasakan kebahagiaan utuh dan menikmati rumah baru, kini Miracle harus pindah ke Jakarta.

Morgan biasanya bolak balik Jakarta-Bogor setiap hari. Lama-lama dia mengeluh capek, akhirnya seminggu sekali dan terakhir sebulan sekali.

Biasanya setiap saat vidio call dan sleep call, dan terakhir sangat jarang, alasan sibuk.

"Sayank...kamu tidak kangen pada ku, setiap di chat balasannya lama sekali, aku bete." ucap Miracle saat Morgan pulang ke Jakarta.

"Suami mu ini sangat sibuk, kadang makan saja tidak sempat, apalagi sekarang sudah Go public banyak pejabat datang kesana, dan kebetulan menu Restoran Morgan's Kitchen, beda dengan yang lain.

Morgan's Kitchen sudah Go public, Initial Public Offering. Melalui proses ini, status perusahaan berubah dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka (Tbk) dan sahamnya dapat diperjualbelikan di pasar modal seperti Bursa Efek.

Saat seharian berada di dekat Miracle sikap Morgan terlihat gelisah dan sering melamun, dan hapenya terus saja berdering. Setiap menerima telepon Morgan selalu menjauh.

"Sayank...kau bermalam disini, besok baru pulang, aku masih kangen pada mu."

"Oke..aku juga kangen dan akan menemani mu sampai besok, kita akan melakukan sampai gempor..."

"Idiihh...mesum." ucap Miracle memeluk Morgan. Tiba-tiba hape Morgan berdering, mata Miracle melirik ke layar ponsel, dadanya tiba-tiba berdesir karena nama kontaknya "My Love" Morgan cepat mengambil hapenya dan keluar dari kamar.

"Ada apa Sayank, mari kita ke kamar lagi." ucap Miracle pura-pura tidak tahu.

"Ohh..ini ada pejabat yang datang aspri ku kewalahan menerima orderan. Mungkin aku harus balik." sahut Morgan cepat menutup hapenya.

"Kau punya asisten pribadi sayank, kenapa kamu tidak bilang?"

"Ahh..cuma asisten kecil, itu tidak penting lagipula masih ponakan ibu dari kampung tidak ada istimewanya."

"Begitu, tapi apa bisa mengurus Restoran?"

"Jangan menganggap remeh, Arini sudah sarjana, karena dialah Restoran jadi maju seperti ini, dia pintar melobi..." suara itu datang dari mertua, ibunya Morgan.

Ibu dan adiknya sekarang tinggal disini, jadi mereka selalu ikut campur setiap ada masalah, itu yang membuat Miracle kadang kesal, apalagi adik-adik Morgan tidak mengerti menangani Restoran sehingga hampir bangkrut.

"Sayank...selama ini Arini yang sibuk mengurus Restoran."

"Berarti Arini pintar. kalau begitu dia suruh menangani Restoran disini, aku kembali ke Bogor."

"Sayank... Arini cocoknya di Jakarta!" ucap Morgan hampir teriak. Hati Miracle mulai sakit.

"Miracle...lihat dirimu yang lusuh mana cocok di Bogor, yang datang ke Restoran kita di Bogor babyakan pejabat." ucap Ibunya Morgan memandang sebelah mata padanya.

"Ibuu...jangan kelewatan."

"Morgan, kau jangan menutupi. Kalau dia tidak memaksamu nikah, sekarang kamu sudah menjadi suami Arini."

Deeggg!!

Morgan terlihat pucat saat ibunya membuka rahasia itu. Pantas ia disuruh ke Jakarta, rupanya Arini akan di ajak di Bogor.

"Aku tidak menyangka ada rahasia dibalik pernikahan kita. Ternyata kamu banyak rahasia dan suka bertindak diam-diam." ucap Miracle datar. Ia berusaha menahan emosi, padahal hatinya terasa ditusuk sembilu.

"Sayank, tidak ada rahasia dan aku bertindak spontan, tidak ada maksud tertentu."

"Suami ku, kamu tenang saja aku bukanlah wanita yang posesif. Aku sekarang dan aku yang dulu tetap sama, karena aku bertindak atas nama kesetiaan."

"Untung kamu mengerti, maaf aku harus cepat balik ke Bogor karena Arini tidak bisa menangani sendiri."

"Tapi kita belum sempat tidur.." bisik Miracle berharap.

"Sayank mengertilah..." ucap Morgan melepaskan pegangan tangan Miracle.

"Jangan menahannya Arini lebih membutuhkannya." sambar ibu Morgan tanpa peduli.

"Kau akan pergi?" tanya Miracle putus asa.

Hape Morgan kembali berdering, Morgan tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia memakai sepatunya seraya menghampiri Miracle.

"Maafkan aku sayank, aku janji menginap minggu depan."

Miracle menatap suaminya dengan seksama, ia baru sadar suaminya sudah berubah, ia merasa asing.

"Pergilah jika Arini lebih membutuhkanmu." ucap Miracle dengan mata berkabut.

Morgan keluar dengan tergesa-gesa, ia merasa lega bisa lepas dari istrinya.

Malam ini Miracle menumpahkan seluruh air matanya, hatinya sedih, sangat sakit. Tidak menyangka Morgan sangat cepat berubah setelah banyak melewati cobaan.

Lima tahun bukanlah waktu yang sedikit untuk saling menghormati komitmen yang pernah mereka buat.

"Kriinggg...Kriinggg..Kriinggg"

Miracle menghapus air matanya dan membuka hapenya. Nomer tidak di kenal. pikir Miracle.

[Hallo siapa ya...]

[Hallo Mbak Miracle, aku Arini asisten pribadinya mas Morgan. Salam kenal mbak]

Tangan Miracle seketika gemetar, lama ia terdiam, tidak menyangka Arini menelpon.

[Ada apa menelepon ku? kalau tidak penting aku akan menutupnya]

[Sabar mbak, aku hanya ingin membuat mbak mengerti, dalam hatinya Morgan hanya ada aku, menjauhlah sebelum aku mengusir mu]

[Kau begitu cepat bergerak, mungkin terbiasa kerja di LC..]

"Sayank, siapa yang menelepon." tiba-tiba suara Morgan terdengar jelas. Miracle seolah ingin berteriak, mengamuk. Teganya.

"Tidak siapa-siapa sayank, mungkin orang gila yang haus validasi..."

Kemudian terdengar suara gelak tawa di selingi suara mesum dari keduanya.

*****

Bab.03. Air Mata Miracle.

Miracle mematikan ponselnya, dadanya sesak. Air mata tumpah membasahi pipi. Dengan tangan gemetar ia menghubungi Jhony.

[Jhon...aku mau mengurus surat cerai]

[Ada apa, jangan mendengar gosip, suami mu tidak mungkin selingkuh]

[Aku akan mencari bukti]

[Oke...aku tunggu]

Pengorbanannya selama ini menguap tanpa sisa dirampas oleh perempuan masa lalunya Morgan.

"Kau yang membuat Morgan terpaksa memilih mu, dasar perempuan mur*han tak tahu diri."

"Morgan adalah jodoh yang dipersiapkan untuk ku, kau merampasnya selama lima tahun. Kalau kau punya hati, ceraikan Morgan biarkan dia bebas menemukan cintanya."

"Kau tahu kenapa kau tidak hamil karena Morgan tidak mencintaimu, dia tidak mau punya keturunan dari perempuan yang tidak dicintainya."

"Aku sudah hamil anaknya Morgan, anak ini akan mewariskan seluruh harta Morgan, aku minta kau Pergilah, perempuan tidak punya rasa malu seperti mu, sering aku temui di karaoke menjajakan tubuh yang sudah tua dan keriput."

Begitu isi chat Arini, hampir setiap saat dia kirim. Miracle ingin supaya Morgan datang bicara padanya, jika Morgan merampas harta mereka berdua ia rela.

Selama ini Miracle telat menyadari kalau Morgan hanya memanfaatkan Wijaya Group. Orang tuanya juga asal membantu, tidak mau menyelidiki identitas Morgan.

Memikirkan semua itu Miracle menjadi tak bergairah untuk melanjutkan pernikahannya. Ia akan meluluskan ke inginan Morgan dan pergi dari Morgan's Kitchen.

Hari-hari berikutnya Miracle tidak lagi chat dan menelepon Morgan. Tidak ada gunanya lagi menghubunginya. Anggap Morgan sudah m*ti.

Sedangkan Arini kini merasa di atas angin, menjadi wanita sosialita, begitu juga ibu dan adiknya Morgan, mereka kompak menindas Miracle.

Arini rajin membuat status kedekatannya dengan Morgan. Secara berkala mengirimi video mesum tentang percintaannya dengan Morgan.

Semua barang mewah yang di kasi oleh Morgan di photo satu-satu dan diperlihatkan dengan caption.

"Morgan sangat mencintaiku, untuk menebus kesalahannya selama lima tahun, karena menikah denganmu, dia memberi ku banyak hadiah mahal, apakah kamu pernah diberi hadiah? hahaha..."

Morgan memang tidak memberi apapun karena Miracle tidak mau. Waktu bersama Morgan ia hanya ingin Restoran maju dan hidup mereka berdua bahagia.

Mungkin ia terlalu memanjakan Morgan sehingga menjadi ngelunjak, tanpa punya perasaan bersalah.

Aku harus memergokinya sebagai bukti perselingkuhannya. pikir Miracle. Haruskah ia datang ke Bogor demi mencari bukti?

Ke suksesan mengubah Morgan menjadi sombong. Dengan alasan sibuk dia membuat rumah tangganya menjadi hancur.

Morgan mencari melampiasan lewat Arini, asisten pribadinya yang hadir pada saat rasa letih dan sepi menguras emosinya. Arini cantik, ambisius, dan selalu "ada" saat Morgan membutuhkannya.

Perselingkuhan pun terjadi, pertama hanya main-main dan merahasiakan. Lama-lama Arini ingin di akui, ingin memiliki, ingin tampil dan orang tua Morgan menyetujui. Akhirnya Arini masuk dengan cerita jodoh Morgan masa kecil.

Hari ini Miracle akan pergi ke Bogor, surat perjanjian cerai sudah berada di kopernya. Dia tidak membawa apapun selain beberapa stel pakaian.

Saat dia keluar dari kamar menggeret koper, ibu mertua memergokinya. Mata orang tua itu melotot.

"Kamu mau kemana, sudah sadar kalau rumah ini menolak mu. Semoga kamu tidak merepotkan Morgan, ingat kalau cerai jangan membawa harta, karena semua sudah di ibah kepada Arini."

"Harta milik kami berdua, tidak boleh Morgan memberi hartaku kepada orang luar, jika Morgan ingin cerai aku akan kabulkan."

"Syukurlah kau sadar, Morgan sudah jijik denganmu. Sudah tak pantas."

"Aku yang jijik dengannya, manusia miskin yang mengemis kepada keluarga ku."

"Plaakkk..."

Ibunya Morgan menampar pipi Miracle sambil mencari maki.

"Morgan susah payah merintis supaya bisa sukses dan Arini menemaninya melobi sama pejabat dan menyelesaikan semua masalah. Kau jangan seenaknya minta harta gono gini."

"Kau menamparku karena merasa kalah? supaya kau tahu Morgan itu ketemu aku hanya membawa dua stel pakaian dan motor butut. Jadi jangan berlagak kalau selama ini dia orang berguna di mataku, dia tidak ubahnya setitik debu yang menempel di sepatu ku, sekali tiup debu itu melayang..." ucap Miracle dengan sinis. Ia tidak perlu lagi pura-pura baik kalau di tindas.

"Drama mu sungguh mengesankan, rupanya selama ini kau jago acting supaya kakak ku mau menikahi mu. Apa kau tak sadar semua yang ada ditubuh mu dari uang kakak ku, dia begitu baik kepada mu, sampai kami di desa di lupakan, untung ada Arini yang susah payah membujuk Morgan supaya dia mau menerima ibunya.."

"Arini penyelamat kami dan kau tidak ada tempat di hati Morgan dan juga di hati kami. Sebaiknya kau mundur dari Morgan."

"Tenang saja keinginan kalian aku akan wujud kan." sahut Miracle."

Miracle memilih pergi dengan kepala tegak, tidak ada air mata lagi. Hatinya sudah membatu, tinggal tanda tangan surat cerai, Morgan bebas dan ia pun juga bebas.

Sampai di Bogor ia mampir ke rumah teman baiknya yaitu Komariah. Karena sudah di hubungi terlebih dahulu, jadi Komariah sudah siap kudapan traditional.

Ketika taksi berhenti di depan rumahnya Komariah cepat menyambutnya mengajak masuk.

"Mira, kenapa kamu kurus dan pucat, apa kamu berantem dengan Morgan," tanya Komariah hati-hati.

"Aku kesini karena ada masalah, aku tidak bisa tanggung sendiri. Aku baru tahu kalau Morgan mengkhianati ku."

"Ceritalah siapa tahu aku bisa bantu, paling gak kamu lega bisa mencurahkan isi hatimu."

Miracle dengan susah payah menahan tangis tapi akhirnya jebol juga, ia sesenggukan dan mulai bercerita tentang pernikahannya, sifat Morgan yang berubah ketika Restorannya Go public.

"Yang paling menyakitkan dia bers*lingkuh dengan LC dan tinggal bareng di Bogor. Malah Morgan mengajak Arini tidur di kamar pengantin kita."

"Ya ampun sampai segitunya...Morgan ini tidak tahu di untung. Aku ingat sekali, gimana Morgan mengemis cinta mu dan kamu suka rela menerimanya menjadi pacarmu. Padahal banyak cowok yang mengejar mu."

"Ibu dan adiknya sekarang ikut mengurus Restoran, mereka menindasku dan malah menyuruh aku cerai."

"Kurang ajar, kamu cerai saja dan minta bagian harta gono gini. Sebenarnya itu semua milik mu, kalau tidak ada suntikan dana dari Wijaya Group mana mungkin bisa Go public dan kamu punya lima Restoran."

"Sebenarnya aku tidak tahu ada suntikan dana dari Wijaya Group, tahunya saat memeriksa pembukuan. Aku menanyakan masalah ini tapi Morgan tidak mengaku menerima, aku tidak permasalahkan lagi karena sudah terlanjur uang dipakai."

"Jangan-Jangan dia menjual nama mu demi dapat bantuan. Sekarang aku yakin kamu dimanfaatkannya." ucap Komariah kesal. Ia ingin sekali melabraƙ selingkuhannya Morgan.

"Bagaimana kalau malam ini kita datang ke Restorannya Morgan, kita menyamar sebagai pembeli."

"Aku setuju, kita pakai masker dan topic." sahut Miracle.

*****

Miracle

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!