Indonesia
NovelToon NovelToon

Terlempar Ke Dunia Kecil

Takdir yang Tertukar

   "Yao Yao, kakak tak akan merebut apapun darimu. Percayalah kepadaku. Aku sama sepertimu, kita sama-sama korban!"

   Kesadaran Xue Yao akhirnya terbangun dari kekacauan yang samar. Saat membuka mata, ia mendapati dirinya berada ditepi sebuah danau.

   Air danau yang biru jernih membentang dihadapannya, hanya berjarak satu langkah dari tempat ia berdiri. Keadaan disekeliling begitu sunyi. Hanya ada dirinya, dan seorang gadis dihadapannya yang menatapnya dengan wajah penuh iba.

   Gadis itu tampak berusia sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun. Parasnya lembut dan rapuh, kini matanya merah sembab karena menangis. Seolah-olah baru saja menanggung penderitaan yang amat besar.

   "Aku tahu, selama delapan belas tahun aku telah menempati identitasmu. Aku minta maaf kepadamu. Namun Yao Yao, perasaanku pada ayah, ibu, dan kakak A Mo semuanya nyata! Bisakah kau memaafkanku? Aku hanya ingin tetap tinggal dikeluarga Xue dan menemani mereka. Selain itu, aku tidak menginginkan apapun! Aku tidak akan mempengaruhimu!"

   Gadis itu menarik tangan Xue Yao. Sepasang matanya seolah menatap Xue Yao. Namun sebenarnya pandangan menembus bahu Xue Yao, mengarah kedua sosok yang semakin mendekat dari belakang.

   Inilah saatnya.

   "Xue Yao, kau sudah tamat."

   Gadis itu tiba-tiba merendahkan suaranya dan berbisik. Seluruh ekspresi kasihan diwajahnya lenyap seketika, digantikan oleh kilatan puas dimatanya. Kemudian ia melepaskan tangan Xue Yao dan dengan sengaja menjatuhkan diri kebelakang.

   Dari sudut pandang orang-orang yang datang dari arah belakang Xue Yao, pemandangan itu tampak seolah-olah Xue Yao telah mendorong gadis tersebut kedalam danau.

   Namun dalam sekejap, rasa puas diwajah gadis itu berubah menjadi keterkejutan. Tubuhnya terhenti diudara dalam posisi yang canggung. Karena ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari genggaman Xue Yao.

   Tangan itu mencengkramnya bagaikan penjepit besi dan ditelapak tangan Xue Yao, seolah ada satu jari yang telah menggoreskan sesuatu.

   'Bagaimana ini? Kakak A Mo dan yang lainnya akan segera tiba!'

   Kepanikan melintas diwajahnya.

   'Baiklah, mari kita lihat. Siapa sebenarnya yang tamat.'

   Xue Yao tersenyum tipis, ekspresinya mengandung ejekan. Ia menarik gadis itu bersamanya, lalu dengan keras menjatuhkan diri kearah danau.

   Byurr!!

   Disertai suara keras, keduanya jatuh bersamaan kedalam danau.

   "Su Chen, cepat selamatkan A Ling!"

   Dua pria yang baru tiba dilokasi menyaksikan dengan jelas adegan jatuhnya kedua orang itu kedalam air. Pria yang bertubuh sedikit lebih pendek tampak sangat cemas. Ia segera melepaskan jasnya dan sambil memanggil nama A Ling, bersiap melompat kedanau.

   A Ling adalah nama gadis lemah lembut itu.

   Namun, pria disampingnya yang mengenakan kaos hitam sederhana yang dipanggil Su Chen, segera menahannya dan menunjuk kearah danau.

   "Menurutmu Xue Ling perlu diselamatkan?"

   Dipermukaan danau, Xue Ling tampak panik meronta-ronta sambil berteriak meminta tolong. Namun tubuhnya terus mengapung dengan canggung diatas air, tanpa tanda-tanda tenggelam sedikitpun.

   Rambutnya yang basah terurai menutupi wajah. Kini, Xue Ling tidak lagi memiliki kesan rapuh yang mengundang iba. Dengan gerakan minta tolong yang berlebihan, ia tampak seperti seeor bebek air yang menggelepar tanpa arah.

   Konyol dan menggelikan.

   Barulah Su Chen merasa, jika diberi beberapa menit lagi, Xue Ling mungkin akan mengayuh sendiri menuju tepi danau.

   Yang benar-benar dalam bahaya adalah orang lain.

   Pandangan Su Chen beralih kedalam danau. Melalui air yang sangat jernih, ia dapat melihat tubuh Xue Yao yang perlahan-lahan meluncur kedasar danau.

   Ia melirik dingin kearah Xue Mo disampingnya dan mendapati seluruh perhatian pria itu tertuju pada Xue Ling. Tanpa membuang kata-kata lagi, Su chen segera menyelam kedalam danau.

   "Su Chen!"

   Barulah Xue Mo tersadar. Ia menoleh kembali kearah Xue Ling yang masih menggelepar. Perasaannya bercampur aduk, namun akhirnya ia tetap turun kedanau dan dengan paksa menyeret Xue Ling ke tepi.

   Hampir bersamaan dengan mereka naik kedarat, Su Chen juga muncul dari dalam danau sambil menggendong seseorang.

    Su Chen meletakkannya ditempat yang agak rata ditepi danau, lalu segera melakukan pertolongan pertama bagi korban tenggelam. Sambil itu, ia menoleh tajam kearah Xue Mo yang duduk tertegun.

    "Panggil dokter! Dia ini adikmu atau adikku? Mengapa kau malah melamun?"

    "Dia bukan..." adikku.

    Xue Mo hampir saja secara refleks mengucapkan kalimat itu, namun segera menyadari ada yang tidak beres. Ia pun menundukkan kepala dan meraih ponsel dari saku jas yang dilempar kesamping.

    Sementara itu, Xue Ling duduk terpaku ditanah, menatap semua yang terjadi dihadapannya.

    Bagaimana bisa begini?

    Mengapa tadi ia justru mengapung dipermukaan air? Mengapa sekeras apapun ia berusaha, ia tidak bisa tenggelam.

    Ketidakmampuannya untuk tenggelam membuat seluruh rencana yang telah ia susun berubah menjadi bahan tertawaan.

    Dan Xue Yao? Mengapa dia tiba-tiba berubah seolah menjadi orang lain, bahkan menyeretnya jatuh bersama kedalam danau?

    Beberapa detik sebelumnya, Xue Yao telah memahami sepenuhnya siasat gadis dihadapannya. Tidak lebih dari jebakan murahan berupa tuduhan mendorong orang jatuh keair.

    Kasar, namun efektif. Sangat mudah membuat seseorang tak mampu membela diri.

    Meskipun saat ini ia masih kehilangan sebagian ingatan dan belum memahami sepenuhnya situasi yang ia hadapi, namun niat jahat gadis itu terhadapnya sudah hampir meluap.

    Jika demikian, tentu ia tidak akan menelan kerugian ini dalam diam.

    Maka ketika tangan mereka saling menggenggam, Xue Yao segera mengerahkan seluruh kekuatan kesadaran spiritual yang dapat ia himpun saat ini. Dengan jari sebagai pengganti cinnabar, ia langsung menggambar sebuah jimat unsur air.

    Itu adalah teknik dasar bagi sekte kultivator jimat. Sesuai namanya, jimat ini memungkinkan seseorang mengapung diair, seolah berjalan didaratan.

    Kau ingin berpura-pura jatuh keair untuk menarik simpati? Maka aku akan membuatmu bahkan tidak bisa tenggelam walau kau menginginkannya.

    Dengan puas melihat Xue Ling menggelepar dipermukaan danau tanpa mampu tenggelam, Xue Yao akhirnya melepaskan kekuatan disekujur tubuhnya, membiarkan dirinya sendiri tenggelam kedasar danau.

    Setelah itu, ia merasakan sebuah sosok menariknya kedalam pelukan dan membawanya berenang menuju tepi.

    "Kakek..."

    Saat muncul kepermukaan, Xue Yao merasakan serpihan ingatan yang mengalir masuk kedalam kesadarannya. Ia mengerutkan kening dan bergumam pelan, lalu membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan.

    Su Chen mendengar panggilan itu dengan sangat jelas.

    Setelah melakukan pertolongan hingga Xue Yao memuntahkan air dalam perutnya, Su Chen melihatnya dibawa kedalam ambulans.

    Didalam ambulans, hanya ada seorang kepala pelayan dari keluarga Xue yang ikut menemani.

    Sementara itu, kakak kandung Xue Yao, Xue Mo masih berada disana menunduk dan dengan lembut menenangkan adik angkatnya, Xue Ling.

    Padahal, selain kelelahan karena terlalu lama menggelepar diair, gadis itu tampak lebih sehat dibanding siapapun ditempat kejadian.

    Xue Mo tampaknya juga telah menelepon orang tua mereka untuk menjelaskan situasi. Kini Xue Ling memegang telepon itu, berbicara pelan sambil melaporkan keadaannya.

    Sesekali wajahnya menunjukkan ekspresi manja, sepenuhnya menampilkan sikap seorang anak perempuan yang disayangi.

    Dan Xue Mo, dengan sikap protektif memeluknya erat seolah menjadi perisai pelindung.

    Sungguh keluarga yang harmonis.

    Seakan semua orang lupa, bahwa didalam ambulans itu juga ada seseorang yang bermarga Xue.

    Dialah putri keluarga Xue yang sah dan diakui, adik kandung Xue Mo yang sesungguhnya.

    Su Chen menyunggingkan senyum sinis.

    Pantas saja ketika keluar dari air dalam keadaan setengah sadar, yang ia panggil bukanlah ayah dan ibu, melainkan kakek.

    Keluarga Xue benar-benar sudah busuk sampai ke akarnya.

    Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Xue Yao akhirnya membiarkan kesadarannya dipenuhi oleh ingatan yang datang bertubi-tubi.

    Jati diri asli Xue Yao berasal dari dunia kultivasi. Dari sekte jimat dan formasi terbesar, Sekte Yiyuan. Ia adalah murid pertama ketua sekte, dengan masa depan yang semula amat gemilang.

    Namun suatu hari, sekte itu tiba-tiba diserang oleh Raja Iblis beserta pasukannya. Ribuan murid sekte dibantai tanpa ampun.

    Hanya dirinya yang selamat, karena saat itu ia sedang berlatih tertutup disebuah alam rahasia, dan lolos berkat ketua sekte yang mengerahkan seluruh kultivasinya untuk mengaktifkan formasi teleportasi.

    Ia melarikan diri sambil membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, berharap suatu hari dapat membalas dendam bagi sektenya.

    Untuk menghindari pengejaran Dunia Iblis, ia hanya berani mencari peluang dialam-alam rahasia yang penuh bahaya.

    Namun, ia tetap ditemukan. Para kultivator iblis bahkan menjebaknya dalam kepungan mematikan.

    Demi secercah harapan hidup, Xue Yao akhirnya memilih untuk menghancurkan kultivasinya sendiri, memecah kesadaran spiritualnya secara paksa. Ia berharap, diantara serpihan itu, ada satu yang cukup beruntung untuk bertahan, menyerap energi langit dan bumi lalu kembali berkultivasi.

    Namun tak disangka, pada saat kesadarannya hancur, seluruh serpihan tersebut justru diserap kedalam Cincin Zhutian.

    Akibat ledakan diri itu, kesadaran Xue Yao tertidur hampir seratus tahun.

    Ketika ia terbangun, ia mendapati bahwa serpihan kesadarannya telah tersebar keberbagai dunia melalui Cincin Zhutian. Karena kesadaran yang tidak utuh dan terluka, sifat tiap serpihan menjadi murni dan mudah mempercayai orang lain, sehingga kehidupan mereka pun tampak penuh penderitaan.

    Keterikatan batin mudah melahirkan iblis hati. Untuk menghapus keterikatan tersebut, yang harus dilakukan Xue Yao adalah memanfaatkan Cincin Zhutian, kembali ketitik waktu yang tepat ditiap dunia. Menyelesaikan keterikatan masing-masing serpihan, lalu mengumpulkannya kembali untuk membentuk ulang kesadarannya.

    Kini, inilah dunia tempat serpihan pertama berada.

    Dan ingatan yang baru saja diterimanya, bahkan membuat Xue Yao yang biasanya tenang dan dingin pun bergejolak emosinya.

    Ternyata, serpihan kesadarannya hidup sedemikian menyedihkan?!

    Mereka benar-benar memperlakukannya seperti itu?!

    Seiring gelombang kesadaran Xue Yao bergejolak hebat, alat-alat didalam ambulans pun mulai berbunyi nyaring.

    "Tidak baik! Detak jantung pasien menurun!"

    Berbagai tindakan penyelamatan segera dilakukan.

    Bukan hanya para dokter yang panik, kepala pelayan yang duduk disamping pun ikut gelisah.

    'Apakah... Apakah ini akan merenggut nyawa?'

    Setelah ragu cukup lama, ia akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor.

Takdir yang Tertukar²

    Ketika Xue Yao kembali membuka mata, ruangan itu kosong tanpa seorangpun. Di sekelilingnya terdapat berbagai peralatan aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tampaknya, inilah yang disebut rumah sakit dalam ingatan dunia ini.

    Benar-benar berbeda jauh dari dunia kultivasi.

    Ia menyentuh jari tangan kanannya, tempat Cincin Zhutian berada. Cincin yang hanya dapat ia lihat sendiri, lalu mulai menata dengan saksama ingatan kehidupan ini.

    Dalam kehidupan ini, serpihan kesadaran Xue Yao benar-benar menjalani hidup yang menyedihkan.

    Seharusnya ia adalah putri sah keluarga Xue, sebuah keluarga raksasa didunia bisnis. Namun, karena sebuah kesalahan tak terduga, terjadilah kekeliruan antara putri asli dan putri palsu.

    Saat itu, Nyonya Xue mengalami kelahiran prematur ketika sedang menghadiri kegiatan amal didaerah pedesaan. Kondisinya sangat darurat, sehingga ia hanya sempat dibawa kerumah sakit kecil didaerah tersebut untuk melahirkan.

    Disanalah ia melahirkan seorang bayi perempuan, yaitu Xue Yao.

    Namun, tanpa diketahui siapapun, karena kelalaian seorang perawat, Xue Yao tertukar dengan bayi perempuan lain.

    Sejak saat itu, dua bayi yang belum mengetahui apapun menapaki jalan hidup yang sama sekali berbeda.

    Bayi perempuan yang keliru dibawa pulang ke keluarga Xue adalah Xue Ling.

    Ia menempati seluruh kehidupan yang seharusnya menjadi milik Xue Yao—menjadi putri kesayangan keluarga Xue, disayangi kedua orang tua, seta dilindungi dan dimanjakan oleh seorang kakak laki-laki yang lima tahun lebih tua darinya.

    Sebaliknya, kehidupan Xue Yao justru berbanding terbalik.

    'Orang Tua' yang membesarkannya memiliki temperamen buruk dan sangat memandang rendah anak perempuan. Sedikit saja kesalahan, ia dipukuli dengan kejam hanya karena ia terlahir sebagai perempuan.

    Kemudian, 'Ayah' yang disebut-sebut itu berselingkuh dan meninggalkan mereka berdua.

    Sang 'Ibu' yang tersisa mengalami tekanan batin berat, menjadi pecandu alkohol, dan kekerasan terhadap Xue Yao pun semakin sering terjadi.

    Pada saat-saat terburuk, Xue Yao pernah terbaring selama lebih dari seminggu tanpa mampu bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya penuh luka tanpa satupun bagian yang utuh.

    Dengan cara seperti itulah Xue Yao bertahan hidup hingga dewasa.

    Hingga suatu hari saat ia bekerja mengantar pesanan makanan, ia tidak sengaja terlihat oleh seorang sahabat dari kakek Xue.

    Orang itu awalnya hanya merasa heran, karena gadis muda tersebut sangat mirip dengan mendiang istri kakek Xue.

    Ia pun mengambil foto secara spontan, lalu menjadikannya bahan obrolan disebuah jamuan untuk diceritakan kepada kakek Xue.

    Tak disangka setelah melihat foto tersebut, kakek Xue yang jarang tertarik pada hal remeh justru merasa penasaran. Lalu memerintahkan orang untuk menyelidiki identitas Xue Yao.

    Hasil penyelidikan itu mengejutkan.

    Tanggal lahir yang sama, rumah sakit yang sama, dan kemiripan luar biasa dengan istrinya.

    Tanpa ragu, kakek Xue segera memerintahkan ayah Xue membawa Xue Ling untuk melakukan tes DNA.

    Hasilnya menunjukkan bahwa Xue Ling, yang telah dipelihara keluarga Xue selama delapan belas tahun, bukanlah anak kandung mereka.

    Gadis pengantar makanan yang malang itulah cucu kandung sejati keluarga Xue.

    Seandainya saat itu semuanya dikembalikan ketempat semula, mungkin kehidupan Xue Yao akan mulai berubah kearah yang lebih baik.

    Namun Xue Ling hanya bertahan dua hari dikeluarga asalnya, sebelum kembali dengan wajah penuh luka dan tangisan pilu.

    "Ayah, ibu, aku mohon... Biarkan aku kembali. Aku hampir dipukuli sampai mati. Dia sama sekali tidak mengakuiku sebagai anaknya. Kakak, tolong selamatkan aku!"

    Bagaimana mungkin ayah dan ibu Xue tidak memiliki perasaan terhadap anak yang telah mereka besarkan dan cintai selama belasan tahun?

    Melihat Xue Ling diperlakukan sedemikian rupa, hati merekapun melunak seketika.

    Xue Mo bahkan lebih menganggapnya sebagai harta berharga. Tanpa ragu, ia langsung menyetujuinya. Membiarkan Xue Ling kembali dan tetap menjadi nona keluarga Xue.

    Sejak awal hingga akhir, tidak ada seorangpun yang menanyakan pendapat Xue Yao.

    Hanya Xue Ling yang menoleh kepadanya sambil menangis tersedu-sedu. "Adik, aku tidak akan merebut apapun darimu. Aku hanya ingin hidup. Aku mohon, bolehkah?"

    Xue Yao tidak mampu menolak.

    Tatapan penuh harap kedua orang tuanya, sikap memohon yang jarang diperlihatkan kakaknya. Semuanya memberitahukan betapa mereka menginginkan Xue Ling kembali.

    Jika ia menolak, apa yang akan mereka pikirkan tentang dirinya?

    "Baik."

    Akhirnya, Xue Yao mengangguk.

    Dan sejak saat itu, mimpi buruk pun dimulai.

    Xue Ling tidak ingin kehilangan kehidupan yang sekarang ia miliki. Ia sama sekali tidak ingin kembali menjadi orang biasa, yang bekerja keras setahun penuh hanya untuk menghasilkan uang yang bahkan tidak cukup untuk satu kali jamuan makan mewah.

    Jika sejak awal sudah salah, mengapa tidak dibiarkan salah sampai akhir?

    Ia juga sangat memahami bahwa dirinya kini bukan lagi putri sah keluarga Xue. Jika ingin mempertahankan kehidupannya, ia harus menggunakan cara-cara tertentu.

    Targetnya pun jatuh pada Xue Mo, pewaris keluarga Xue sekaligus kakak yang pernah memanjakannya.

    Xue Mo memang telah lama memiliki perasaan yang sulit dijelaskan terhadap Xue Ling. Ditambah berbagai siasat yang ia gunakan, Xue Mo pun benar-benar jatuh kedalan jerat cinta.

    Seorang pemuda yang tengah dimabuk asmara hanya memikirkan Xue Ling seorang. Dibawah hasutan Xue Ling, ia semakin memendam prasangka terhadap adiknya sendiri, Xue Yao.

    Bahkan ayah dan ibu Xue, dibawah pengaruh ganda Xue Mo dan Xue Ling, perlahan-lahan sepenuhnya berpihak kepada Xue Ling.

    Dibandingkan dengan 'mutiara' yang diasuh dengan penuh perhatian selama delapan belas tahun, Xue Yao yang penakut dan tidak memahami etiket maupun pergaulan jelas tampak jauh tertinggal.

    Meski darah lebih kental daripada air, bagi keluarga semacam itu gengsi tetap menjadi pertimbangan utama.

    Dimata mereka, Xue Yao yang tumbuh diluar lingkungan keluarga bangsawan benar-benar tidak pantas ditampilkan kepublik.

    Makan makanan barat dengan bunyi peralatan yang berisik, tidak tahu cara memegang gelas sampanye, bahkan tidak mengerti cara menikmati kaviar. Berbagai 'kekurangan' semacam ini membuat ayah dan ibu Xue sulit merasa dekat dengan putri kandung mereka sendiri.

    Dan sebelum insiden jatuh kedanau ini, Xue Ling sudah dua kali merancang jebakan. Satu kecelakaan jatuh dari tangga dan satu insiden keracunan makanan.

    Dalang dibalik semua itu, tentu saja diarahkan kepada Xue Yao.

    Hampir semua orang menganggap Xue Yao berkepribadian gelap dan iri terhadap keberadaan Xue Ling. Sehingga terus menerus menyerangnya, bahkan ingin mencelakai Xue Ling.

    Kini, Xue Yao hidup dikeluarga Xue layaknya manusia tak kasat mata.

    Ayah dan ibu Xue bahkan telah mencarikan dokter kejiwaan untuknya dan menjadwalkan terapi rutin. Seandainya mereka tidak takut gosip akan merusak reputasi keluarga Xue, mungkin Xue Yao sudah lama dikirim kerumah sakit jiwa.

    Apa yang mereka sebut sebagai 'belas kasihan' saat ini hanyalah penantian, menunggu saat yang tepat untuk menjodohkannya melalui pernikahan demi kepentingan bisnis. Agar putri keluarga Xue ini masih bisa memberikan nilai terakhir.

    Sementara itu, keinginan terdalam serpihan kesadaran ini sangat sederhana. Ia ingin menjadi penguasa sejati keluarga Xue. Ia ingin membuat mereka menyesal dan membayar mahal atas kepercayaan buta serta keberpihakan mereka.

    Adapun Xue Ling, karena sejak awal mereka menjalani kehidupan yang tertukar, sudah seharusnya ia kembali kejalur yang semestinya.

    Ditengah perenungan itu, pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka.

    Yang masuk adalah seorang lelaki lanjut usia yang duduk dikursi roda.

    "Kakek!"

    Mata Xue Yao langsung berkaca-kaca. Hampir tanpa sadar ia hendak mencabut jarum infus dan bangkit dari tempat tidur.

    "Ah!"

    Sang kakek memberi isyarat kepada orang dibelakangnya untuk mendorong kursi roda lebih dekat, sekaligus menghentikan gerakan Xue Yao.

    "Xue Yao, kau telah menderita."

    Hanya beberapa kata itu yang diucapkan lelaki tua tersebut, namun air mata Xue Yao langsung mengalir deras.

    Dialah kakek kandung Xue Yao, orang yang pertama kali membawanya ke keluarga Xu. Sekaligus satu-satunya dikeluarga itu yang benar-benar menyayanginya.

    Namun kondisi kesehatannya sudah lama memburuk. Ia tinggal menetap didaerah kebun teh dipinggiran kota untuk pemulihan. Setelah beberapa kali bertemu saat Xue Yao baru kembali ke keluarga, mereka hampir tidak pernah bertemu lagi.

    Xue Yao sangat memahami bahwa jika ia ingin menyelesaikan tugasnya didunia ini, sang kakek adalah terobosan yang harus ia genggam erat.

    Bagaimanapun, meski ayah Xue telah mengelola grup Xue dan Xue Mo yang telah ditetapkan sebagai pewaris, tiga puluh persen saham terbesar perusahaan masih berada ditangan sang kakek.

    Dan itulah yang menjadi target Xue Yao.

    "Kakek, apakah aku telah melakukan sesuatu yang salah? Jika hari ini bukan karena kak Su Chen, jika bukan karena dia.."

    Sebagian kalimat sengaja tidak ia ucapkan hingga tuntas. Tangisannya terdengar seperti curahan keluh kesah, namun inti ucapannya dengan jelas menyinggung Su Chen.

    Xue Yao tahu, meskipun wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang istri kakek membuat lelaki tua itu bersikap lunak kepadanya. Xue Ling tetaplah anak yang dibesarkan keluarga Xue selama delapan belas tahun. Mustahil sang kakek tidak memiliki perasaan sedikitpun terhadapnya.

    Ikatan darah adalah satu hal, namun kasih sayang yang tumbuh selama bertahun-tahun bukanlah sesuatu yang dapat dihapus begitu saja.

    Lagipula saat Xue Ling dibawa kembali, apakah sang kakek benar-benar tidak mengetahuinya?

    Hanya saja, kali ini masalahnya telah sampai kemata orang luar. Ditambah lagi, rencana Xue Ling gagal total. Malah menjadi tontonan memalukan, sebuah adegan menggelepar didanau.

    Bagi keluarga Xue, ini jelas mencoreng nama baik.

    Su Chen adalah putra bungsu keluarga Su, sahabat lama keluarga Xue. Namun, hubungan lama bukan berarti insiden semacam ini pantas dipertontonkan dihadapan mereka.

    Terlebih lagi, jika hari ini Xue Ling berani merencanakan pembunuhan terhadap nona sah keluarga Xue, siapa lagi yang akan ia incar dimasa depan?

    Seperti dugaan, raut wajah kakek Xue menggelap.

    Setelah lama terdiam, ia berkata dengan suara rendah, "Kali ini, dia memang sudah keterlaluan. Tenanglah. Dikeluarga Xue, putri yang sah hanya ada satu yaitu dirimu. Sekarang dan seterusnya, hal itu tidak akan berubah."

    Ucapan itu berarti satu hal, ia tidak berniat lagi membiarkan Xue Ling tetap tinggal dikeluarga Xue.

Takdir yang Tertukar³

    "Apa? Bagaimana mungkin ini bisa dilakukan? Bagaimana bisa A Ling disuruh pergi? Memang benar ia jatuh ke air, tetapi bukankah Xue Yao juga jatuh? Bagaimana bisa semuanya disalahkan kepada A Ling?"

    Xue Mo menatap ayahnya dengan wajah penuh ketidakpercayaan.

    Apa maksudnya mengusir Xue Ling? Apa maksudnya melarangnya muncul lagi dikeluarga Xue?

    Ia adalah nona keluarga Xue. Meskipun sekarang secara administratif ia sudah tidak tercatat sebagai anggota keluarga Xue, kelak ia tetap akan menikah dengannya. Bukankah itu berarti ia tetap bagian dari keluarga Xue?

    Ayah Xue mengusap pelipisnya dengan ekspresi pusing.

    "Masalah ini diberitahukan langsung oleh kakek. Ini pemberitahuan, bukan untuk didiskusikan."

    Setelah berkata demikian, ia menoleh kearah Xue Ling yang duduk disofa sambil tersedu-sedu. Dan untuk pertama kalinya muncul sedikit ketidak puasan diwajahnya.

    "Kau juga sama saja. Mengapa harus menarik Xue Yao dan melompat kedanau? Dan bahkan sampai dilihat oleh Su Chen! Kalau ini hanya urusan dalam keluarga, mungkin masih bisa ditutup-tutupi. Tetapi kau justru membuatnya terjadi didepan orang luar!"

    Mata Xue Ling memerah karena menangis, kepalanya digelengkan dengan keras.

    "Bukan begitu, Ayah. Xue Yao yang mendorongku. Dalam kepanikan aku yang menariknya, sehingga kami berdua jatuh kedanau. Aku akan menjelaskan kepada kakek, aku juga akan menjelaskan kepada kak Su Chen, ya?"

    Xue Ling sama sekali tidak menyangka bahwa satu insiden jatuh ke air, justru membuat kakek yang jarang terlihat itu turun tangan secara langsung.

    Bahkan, beliau langsung mengeluarkan ultimatum agar dirinya angkat kaki dari vila keluarga Xue.

    Disampingnya, ibu Xue menggenggam tangan Xue Ling dengan wajah penuh rasa iba. "Benar, seharusnya kita menjelaskan kepada ayah. A Ling ini cucu yang telah ia sayangi selama delapan belas tahun. Bagaimana bisa ia begitu kejam?"

    "Diam!"

    Ayah Xue langsung membentak.

    "Kalian masih belum mengerti juga? Apapun penyebabnya, A Ling sama sekali tidak terluka. Sedangkan Xue Yao hampir kehilangan nyawanya. Itu saja sudah cukup untuk membuat ayah murka! Bahkan aku sendiri dimarahi habis-habisan olehnya. Bagaimana mungkin beliau mau mendengarkan penjelasan kalian!?"

    Mengingat kata-kata kakek ditelepon saja sudah membuatnya merasa malu.

    Kakek berkata bahwa Su Chen meneleponnya dan menjelaskan seluruh kejadian. Bahkan sempat bercanda bahwa Xue Ling bisa dikirim belajar mendayung perahu naga karena tampaknya kekuatan lengannya cukup baik dan berbakat.

    Benar-benar mempermalukan keluarga sampai ke akar-akarnya.

    Setelah menghela napas panjang, ayah Xue menatap ibu dan anak yang menangis disofa.

    "Bukankah kita masih punya satu unit apartemen besar dikawasan Guomao, dekat dengan kantor pusat Grup? Biarkan A Ling tinggal disana untuk sementara. Setelah situasi mereda, aku akan coba melihat apakah masih bisa memohon kepada ayah. Sekarang beliau sedang sangat marah, siapapun yang memohon hanya akan bernasib buruk."

    Pada akhirnya, karena masih menyayangi 'putri' yang telah dibesarkan selama delapan belas tahun, ia memawarkan solusi yang dianggap paling aman.

    Ibu Xue mengangguk ragu.

    Saat ini, memang hanya itu satu-satunya jalan.

    Namun, Xue Ling yang bersandar dipelukan ibu Xue justru mendadak berubah ekspresinya menjadi dingin.

    Ia tidak boleh meninggalkan keluarga Xue.

    Terakhir kali ia pergi, ia harus bersusah payah dan akhirnya menggunakan siasat menyakiti diri sendiri agar bisa kembali.

    Kali ini dikatakan hanya menunggu sementara, tetapi berapa lama sebenarnya? Jika kakek tidak pernah meredakan amarahnya, apakah berarti ia tidak akan pernah bisa kembali?

    Ia tidak bisa bergantung pada ayah dan ibu Xue. Namun, ia masih memiliki Xue Mo.

    Keesokan harinya.

    "Xue Yao dirawat disini, kakek menyuruh paman Zhang menjaga dia. Nanti aku akan mengalihkan perhatian paman Zhang, kau masuk sendiri. Hati-hati jangan sampai Xue Yao menyakitimu."

    Xue Mo menggenggam tangan Xue Ling sambil berpesan dengan penuh kehati-hatian.

    Tadi malam, Xue Ling mendatanginya dan mengatakan bahwa ia tidak ingin meninggalkan keluarga Xue, tidak ingin berpisah darinya. Karena itu, ia memutuskan untuk menemui Xue Yao dan meminta maaf, berharap mendapat pengampunan darinya. Jika Xue Yao memaafkannya, kakek tentu akan membiarkannya tetap tinggal.

    Meskipun sebenarnya Xue Yao yang mendorongnya kedalam air, demi masa depan mereka berdua, ia rela menelan hinaan dan merendahkan diri.

    Xue Mo sangat tersentuh, ia merasa Xue Ling benar-benar berkorban demi masa depan mereka. Karena itulah, hari ini ia membawa Xue Ling kerumah sakit.

    Xue Ling mengangguk, "Kak A Mo, tenang saja. Aku akan melindungi diriku. Aku pasti akan mendapatkan pengampunan Xue Yao, percayalah."

    Ia telah membawa alat perekam suara ditubuhnya. Nanti, ia hanya perlu menggiring pembicaraan agar Xue Yao mengatakan hal-hal yang menguntungkannya. Sehingga Xue Yao sendiri yang akan menanggung tanggung jawab atas insiden jatuh ke air. Dengan begitu, ia dapat menukar semua itu dengan kesempatan untuk tetap tinggal.

    Ia tidak takut Xue Yao tidak mau berbicara.

    Bagaimanapun, Xue Yao selalu berkepribadian lemah dan tidak pandai berbicara. Jika tidak, tidak mungkin dengan status sebagai putri kandung bisa jatuh ke keadaan seperti sekarang.

    Memang reaksi Xue Yao saat insiden jatuh keair cukup mengejutkannya. Tetapi watak seseorang mana mungkin berubah drastis dalam sekejap?

    Adapun soal dirinya mengapung diair, Xue Ling diam-diam telah mencobanya lagi dikolam renang setelah itu dan kejadian aneh itu tidak pernah terulang.

    Ia pun menyimpulkan bahwa semua itu hanya karena pakaian yang dikenakannya hari itu.

    Hanya sial saja, sehingga Xue Yao bisa lolos kali itu.

    Namun, hari ini tidak akan sama. Dengan senyum penuh keyakinan, Xue Ling mendorong pintu ruang rawat Xue Yao.

    Didalam, wajah Xue Yao tampak pucat. Ia berbaring diranjang sambil membaca buku.

    Begitu melihat Xue Ling masuk, tubuhnya tampak gemetar seketika.

    "Adik, aku datang menjengukmu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Xue Ling dengan nada lembut penuh kepedulian. Namun, diwajahnya justru tersirat ejekan dan kekejaman yang kentara.

    "Mengapa kau datang? Dimana paman Zhang?"

    Xue Yao menatap gadis didepannya yang berusaha mempertahankan ekspresi jahat yang kikuk itu. Dalam hati ia sama sekali tidak terkejut, tetapi diwajahnya ia tetap memasang ekspresi ketakutan.

    "Adik, apa sekarang kau bahkan tidak ingin bertemu denganku? Tenang saja, meskipun soal jatuh keair itu adalah kesalahanmu... Aku tidak akan mengatakan apapun kepada siapapun. Apapun yang kau lakukan, aku akan memaafkanmu."

    Sambil mengucapkan kata-kata yang membolak-balikkan hitam dan putih, Xue Ling perlahan duduk ditepi ranjang Xue Yao, menggenggam tangannya dengan sikap seolah penuh kasih sayang sebagai saudari.

    "Bukan, jelas-jelas itu-"

    "Aku tahu, kau cemburu karena ayah, ibu, dan kakak lebih memperhatikanku. Sehingga kau melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Tetapi adik, kau adalah putri kandung mereka. Mana mungkin aku bisa dibandingkan denganmu?"

    Memotong ucapan Xue Yao, Xue Ling tanpa ragu menimpakan tuduhan iri hati kepadanya.

    Sedikit lagi, hanya perlu beberapa kalimat tambahan. Rekaman ini akan sepenuhnya menetapkan kesalahan Xue Yao.

    Bahkan jika kali ini ia tetap dipaksa pergi oleh kakek, ia akan memastikan Xue Yao dikirim kerumah sakit jiwa.

    Seorang anak perempuan yang karena iri hati berkali-kali berusaha membunuh orang lain. Keluarga Xue pasti tidak akan berani menerimanya lagi.

    Jadi, masih cara-cara ini juga?

    Diluar tampak polos dan tak bersalah, tetapi dibaliknya penuh kelicikan. Mengandalkan citra bunga putih yang rapuh serta kesan yang telah ia bangun selama delapan belas tahun di hati keluarga Xue, untuk menghancurkan mental Xue Yao yang rapuh.

    "Xue Ling, ada beberapa trik yang jika terlalu sering digunakan, pada akhirnya akan kehilangan efeknya." Xue Yao berbisik sangat pelan didekat telinganya.

    Kemudian, dibawah tatapan terkejut Xue Ling, Xue Yao tiba-tiba mengerahkan kesadaran spiritualnya.

    Gelombang kesadaran itu membuat alat-alat medis yang terhubung dengannya mendadak mengeluarkan bunyi nyaring yang menusuk telinga.

    Saat berada diambulans, Xue Yao sudah menyadari bahwa gejolak kesadaran spiritualnya dapat memicu perubahan drastis pada data pemantauan alat medis.

    Dimata orang awam, kondisinya tampak seperti berada diambang kematian.

    Karena sudah mengetahuinya, tentu ia akan memanfaatkan hal ini sepenuhnya.

    Bukankah kau suka menangis?

    Bukankah kau suka berpura-pura sebagai bunga putih yang lemah?

    Xue Yao ingin melihat, apakah air mata tanpa bukti itu lebih berguna, ataukah kondisi tragis yang nyata ini yang lebih meyakinkan.

    Terlebih lagi, setelah kakek ikut campur dalam urusan ini.

    Xue Ling tertegun mengangkat kepala, menatap alat-alat yang meraung tajam, menatap para tenaga medis yang bergegas masuk, menatap senyum sinis Xue Yao yang diarahkan kepadanya—lalu Xue Yao memejamkan mata dan kembali pingsan.

    "Nona Xue Ling, mengapa anda berada disini?" suara seorang pria paruh baya terdengar dari belakang.

    Xue Ling juga segera disingkirkan kesamping oleh tenaga medis yang sibuk melakukan penyelamatan, karena dianggap menghalangi.

    Alat perekam suara yang disembunyikan disakunya, jatuh kelantai dengan suara keras.

    Dalam suasana penyelamatan yang tegang, Xue Ling menoleh dengan pandangan kosong kearah pintu.

    Yang berdiri disana adalah Zhang Xu, kepala pelayan kepercayaan kakek.

    Saat ini, ia menatap Xue Ling dan alat perekam dilantai dengan ekspresi serius.

    Disisi lain, Xue Mo berdiri dengan wajah kebingungan. Menatap semua yang terjadi diruang rawat.

    A Ling, sebenarnya apa yang telah kau lakukan?

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!