Indonesia
NovelToon NovelToon

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Bab 1. Batasan di Balik Pintu Kamar

Suara engsel pintu jati yang bergeser pelan terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinga Nayara.

Gaun pengantin putih berbahan brokat mewah yang melekat di tubuhnya mendadak terasa seberat timah. Kamar utama kediaman Dewangga begitu luas, megah, dan wangi aromaterapi melati yang menenangkan. Namun bagi Naya, ruangan ini tidak lebih dari sebuah sangkar emas yang pengap.

Di depan cermin besar, Arkananta berdiri. Pria itu baru saja melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya sudah dibuka. Tidak ada binar bahagia di wajah tampan berahang tegas itu. Hanya ada gurat lelah dan tatapan sekeras batu es.

Naya masih berdiri mematung di dekat ranjang berukuran king size yang bertabur kelopak mawar merah. Jemarinya saling bertautan, meremas kain gaunnya sendiri untuk meredam gemetar.

"Duduk, Nayara."

Suara Arka bariton, datar, tanpa riak emosi sedikit pun. Ia berbalik, memegang sebuah map kulit berwarna hitam di tangan kanannya.

Naya menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan. Ia melangkah pelan, lalu duduk di tepi sofa beludru. Arka menyusul, mengambil posisi di sofa tunggal yang berseberangan dengan Naya. Jarak mereka hanya terpisah oleh sebuah meja kaca kecil, namun rasanya seperti membentang ribuan kilometer.

Plak.

Map hitam itu diletakkan di atas meja kaca dengan tekanan yang sengaja diperkuat.

"Buka dan baca," perintah Arka dingin.

Naya menatap map itu, lalu beralih ke mata elang Arka. "Apa ini, Mas Arka?"

Arka mendengus sinis, menyandarkan punggungnya ke sofa sambil bersedekap. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu jika kita sedang berdua. Terlalu menggelikan untuk didengar."

Naya tertegun. Detak jantungnya kian berpacu liar. "Lalu ... saya harus memanggil apa?"

"Tuan Arka, atau Arka saja. Terserah kamu," sahutnya acuh tak acuh. "Sekarang buka map itu. Itu adalah alasan kenapa kamu bisa berdiri di rumah ini dan memakai gaun mahal itu malam ini."

Dengan tangan yang masih gemetar, Naya membuka simpul tali map tersebut. Lembar demi lembar kertas putih bersih di dalamnya memuat barisan tulisan formal. Di bagian atas halaman pertama, tercetak tebal sebuah judul: Surat Perjanjian Kesepakatan Rumah Tangga.

Naya membaca lembar pertama dengan cepat, dan seketika wajahnya pias. "Kontrak ... Pernikahan?"

"Ya. Pernikahan kontrak. Lebih tepatnya, sebuah transaksi bisnis yang saling menguntungkan," ucap Arka, nadanya santai seolah sedang membicarakan cuaca. "Pernikahan yang tadi siang disaksikan ratusan orang itu murni di atas kertas. Hanya untuk publik, dan terutama untuk keluarga besarku."

Naya mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata pria yang kini sah menjadi suaminya secara hukum dan agama. "Jadi, semua kemesraan yang kamu tunjukkan di pelaminan tadi ...?"

"Sandiwara," potong Arka cepat. "Dan aku harap kamu adalah aktris yang baik, karena mulai besok, kamu harus memerankan posisi 'Nyonya Dewangga' dengan sempurna di depan media dan ibuku."

Naya mencengkeram pinggiran map. "Kenapa harus dengan cara seperti ini? Kalau kamu hanya butuh istri pajangan, ada banyak wanita dari kalanganmu yang antre untuk posisi ini, Arka. Kenapa harus saya?"

Arka memajukan tubuhnya, menumpukan kedua siku di lutut. Tatapannya menajam, mengunci pergerakan Naya. "Karena kamu yang paling aman, Nayara. Kamu butuh uang dalam jumlah besar untuk melunasi utang mendiang ayahmu dan membiayai pengobatan ibumu yang sakit sakitan, bukan? Dan aku, butuh seorang ibu yang tulus untuk Kenzie, tapi tidak punya hak atau ambisi untuk menguasai harta Dewangga."

Kata-kata itu menghantam hulu hati Naya. Menyakitkan, tapi kenyataan itu tak bisa ia bantah. Ibunya membutuhkan operasi besar bulan depan, dan tanpa dana dari Arka, Naya tidak tahu harus mengemis ke mana lagi.

"Aku memilihmu karena kamu tidak punya kekuatan untuk melawanku jika suatu saat kamu berniat macam-macam," lanjut Arka tanpa belas kasihan. "Sekarang, perhatikan poin-poin penting di halaman kedua."

Naya membalik halaman dengan jari yang mendingin. Ia membaca poin demi poin yang tertulis di sana secara lantang dengan suara yang agak bergetar.

"Poin pertama," ucap Naya, menjeda sejenak. "Pernikahan ini berlangsung selama dua tahun. Setelah dua tahun, kedua belah pihak sepakat untuk berpisah secara baik-baik dengan alasan ketidakcocokan."

"Betul. Dua tahun sudah lebih dari cukup untuk menstabilkan kondisi psikologis Kenzie dan mengamankan hak asuhnya dari tuntutan luar," timpal Arka. "Lanjut."

"Poin kedua ... Tidak ada hubungan fisik atau hubungan selayaknya suami istri dalam arti yang sesungguhnya." Naya menghentikan bacaannya, menatap Arka dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega, namun juga ada rasa terhina yang samar.

Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip seringai meremehkan. "Kamu tidak perlu takut aku akan menyentuhmu. Kamu bukan tipeku, Nayara. Kamar kita akan terpisah. Kamarmu ada di sebelah kamar Kenzie, lewat pintu penghubung di dalam. Kamar ini adalah teritoriku. Kamu hanya boleh masuk ke kamar ini jika ada ibuku atau situasi darurat yang mengharuskan kita terlihat tidur bersama."

Naya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang terasa mulai diinjak-injak. "Baik. Saya mengerti. Lalu bagaimana dengan urusan rumah tangga?"

"Itu ada di poin ketiga," jawab Arka tegas. "Tugas utamamu adalah mengurus Kenzie. Pastikan dia tidak kekurangan kasih sayang seorang ibu. Untuk urusan dapur dan kebersihan rumah, sudah ada pelayan. Kamu tidak perlu repot-repot bertingkah seperti istri yang berbakti dengan menyiapkan bajuku atau memasak untukku, kecuali di depan ibuku. Paham?"

"Dan poin keempat ini ...." Naya membaca baris terakhir yang dicetak dengan huruf miring. "Kedua belah pihak dilarang keras melibatkan perasaan pribadi atau jatuh cinta."

"Itu poin paling krusial," sela Arka, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat dan penuh penekanan. "Jangan pernah melintasi batas itu, Nayara. Jangan pernah berharap sepeser pun bahwa pernikahan kontrak ini akan berubah menjadi pernikahan sungguhan karena cinta. Hubungan kita adalah profesional. Aku adalah bosmu, dan kamu adalah pekerjaku yang dibayar mahal untuk merawat anakku."

Keheningan malam langsung menyergap kamar itu setelah Arka menyelesaikan kalimatnya. Udara terasa makin dingin, menusuk hingga ke tulang. Naya memejamkan mata sesaat. Bayangan wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit terlintas di benaknya. Demi ibunya, ia harus kuat. Demi masa depan adiknya, ia harus bertahan.

Naya membuka matanya kembali. Sorot matanya yang semula cemas dan penuh ketakutan, kini berubah menjadi tegas dan dingin. Ia menegakkan punggungnya, menatap Arka tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Jika ini adalah sebuah transaksi bisnis, maka saya juga punya hak untuk mengajukan syarat, bukan ... Tuan Arka?" tanya Naya dengan penekanan pada nama pria itu.

Arka sedikit menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut dengan perubahan sikap Naya yang mendadak berani. "Syarat? Silakan. Apa yang kamu mau? Uang tambahan?"

Naya tersenyum tipis, sebuah senyuman tenang yang sarat akan harga diri yang terluka namun menolak untuk menyerah. "Tidak semua hal di dunia ini bisa dinilai dengan uangmu, Tuan Arka."

"Lalu?"

"Pertama, di dalam rumah ini, di depan para pelayan, kita harus tetap menjaga sopan santun. Saya tidak ingin mereka melihat saya sebagai wanita murahan yang bisa kamu bentak atau perlakukan semena-mena hanya karena kamu membayar saya," ucap Naya dengan suara yang tenang namun menusuk.

Arka mengangguk pelan. "Adil. Aku tidak akan merendahkanmu di depan publik atau pelayan. Itu juga demi menjaga nama baik keluarga Dewangga. Ada lagi?"

Bersambung...

Assalamu'alaikum, met pagi Kakak semuanya. Hari ini mau cek ombak nih dengan karya terbaru. Temani ya, kalau ramai ceritanya lanjut dan semoga retensinya bagus. Aamiin.

Seperti biasa tinggalkan like dan komentarnya ya. Makasih banyak

Bab 2. Senyum Palsu Untuk Dunia

"Kedua," lanjut Naya, matanya menatap tajam dokumen di atas meja. "Meskipun ini pernikahan kontrak, selama dua tahun ini saya adalah ibu dari Kenzie. Saya minta kebebasan penuh untuk mendidik dan merawat Kenzie tanpa ada intervensi atau kekangan dari kamu atau asisten rumah tangga lain yang merasa lebih berkuasa. Jika Kenzie berada di bawah pengawasan saya, maka sayalah yang memegang kendali atas dirinya."

Arka terdiam beberapa saat, menimbang-nimbang permintaan wanita di hadapannya. Ia tidak menyangka wanita sederhana yang awalnya terlihat lugu ini bisa bersikap sekeras dan setegas ini ketika berbicara tentang prinsip.

"Baik," sahut Arka akhirnya. "Selama keputusanmu tidak membahayakan Kenzie, aku tidak akan ikut campur."

"Dan yang terakhir," Naya mengambil pulpen yang tergeletak di dalam map. "Jangan pernah membawa wanita lain ke dalam rumah ini selama status saya masih menjadi istri sahmu secara hukum. Saya punya keluarga yang harus saya jaga nama baiknya. Saya tidak ingin ibu saya mendengar desas-desus buruk tentang menantunya."

Arka terkekeh pelan, sebuah kekehan sinis yang terdengar dingin. "Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Aku terlalu sibuk dengan urusan perusahaan untuk memikirkan wanita lain. Lagipula, privasiku jauh lebih mahal daripada apa yang kamu bayangkan."

Arka menggeser dokumen itu lebih dekat ke arah Naya. "Jika semua sudah jelas, tanda tangani sekarang."

Naya memandang ujung pulpennya. Tangannya sempat ragu selama satu detik, sebelum akhirnya ia menorehkan tanda tangan di atas meterai yang telah disediakan. Dua tahun. Ia hanya perlu bertahan selama dua tahun dalam sandiwara dingin ini.

Setelah Naya selesai, Arka menarik dokumen itu kembali dan membubuhkan tanda tangannya sendiri dengan gerakan cepat dan tegas.

Sret. Sret.

"Selesai," ucap Arka sambil menutup map tersebut. Ia berdiri, membawa map itu menuju brankas pribadinya di sudut kamar.

Naya ikut berdiri, merapikan gaun pengantinnya yang terasa makin mencekik. "Kalau begitu, saya permisi ke kamar saya."

Arka tidak berbalik, ia sibuk menekan digit kode brankasnya. "Kamar tidurmu ada di balik pintu putih di sebelah sana. Kamar Kenzie ada di balik pintu penghubungnya. Dia sudah tidur sejak jam sembilan tadi karena kelelahan."

Naya melangkah menuju pintu yang ditunjuk Arka. Namun sebelum ia memutar knop pintu, suara dingin Arka kembali terdengar, menghentikan langkahnya.

"Ingat batasanmu mulai malam ini, Nayara. Jangan pernah berharap aku akan luluh hanya karena kamu bersikap baik pada anakku. Di rumah ini, kamu adalah pekerja, dan aku adalah tuanmu."

Naya tidak berbalik. Ia hanya memejamkan mata rapat-rapat, menguatkan hatinya yang terasa remuk di malam pertamanya.

"Saya tidak pernah lupa, Tuan Arka," jawab Naya lirih namun penuh penekanan, sebelum akhirnya membuka pintu dan menghilang di balik kegelapan kamar barunya.

***

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra di kamar baru Nayara. Naya sudah terbangun sejak jam lima subuh. Jiwa mandirinya tidak mengizinkan ia bermalas-malas, meskipun kini ia tinggal di rumah yang luasnya berkali-kali lipat dari rumah kontrakannya dulu. Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun pengantinnya dengan setelan blus tunik pastel yang rapi, Naya melangkah ke kamar sebelah melalui pintu penghubung.

Di atas ranjang kecil berbentuk mobil balap, Kenzie masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Bocah berusia empat tahun itu terlihat begitu polos dan menggemaskan. Naya tersenyum tulus—satu-satunya senyuman nyata yang ia miliki sejak menginjakkan kaki di rumah ini. Dengan gerakan lembut, ia mengusap rambut halus Kenzie.

"Kenzie ... Sayang, bangun yuk. Sudah pagi," bisik Naya lembut.

Kenzie melenguh pelan, mengucek matanya yang bulat. Ketika melihat wajah Naya, mata bocah itu langsung berbinar. "Mama ...?"

Kata itu membuat dada Naya berdesir aneh. Ada rasa hangat sekaligus tanggung jawab besar yang tiba-tiba mengalir di nadinya. "Iya, ini Mama. Kita mandi dan sarapan yuk?"

Kenzie langsung bangkit dan memeluk leher Naya erat. "Mama wangi. Kenzie suka Mama."

Naya terkekeh pelan, menggendong tubuh mungil itu dengan mantap menuju kamar mandi. Sifat tenang dan keibuan Naya membuat Kenzie yang biasanya rewel dengan pengasuh baru, pagi ini justru sangat penurut.

Satu jam kemudian, Naya menuntun Kenzie yang sudah rapi dengan pakaian bermainnya turun ke lantai bawah. Di meja makan marmer yang panjang, Arka sudah duduk dengan kemeja kerja abu-abu yang terpasang rapi tanpa cela. Pria itu sedang fokus membaca tablet di tangannya, sementara secangkir kopi hitam mengepul di dekatnya.

Mendengar suara langkah kaki, Arka mendongak. Tatapannya yang sedingin es langsung mengunci Naya, seolah sedang menilai apakah wanita itu melakukan tugasnya dengan benar.

"Papa!" Kenzie langsung berlari dan memeluk kaki Arka.

Ekspresi kaku di wajah Arka seketika melunak saat menatap putranya. Ia mengangkat Kenzie ke pangkuannya. "Pagi, Jagoan. Sudah mandi?"

"Sudah dong, dimandiin Mama!" sahut Kenzie riang sambil menunjuk Naya.

Arka melirik Naya sekejap, lalu kembali menatap anaknya. "Bagus. Duduk di kursimu, kita sarapan."

Naya melangkah dengan tenang, mengambil posisi duduk di sebelah Kenzie untuk membantu bocah itu mengambil makanan. Suasana di meja makan begitu sunyi, hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Arka memperlakukan Naya layaknya angin lalu, dan Naya pun tidak berniat membuka suara. Baginya, ketenangan ini jauh lebih baik daripada perdebatan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

*Tok! Tok! Tok!*

Suara ketukan pintu utama yang tergesa-gesa disusul oleh langkah kaki anggun yang terdengar nyaring di atas lantai marmer. Seorang wanita paruh baya dengan setelan blazer mahal dan tas Hermes di lengannya masuk ke ruang makan dengan tergesa-gesa.

"Arka! Naya!"

Arka langsung meletakkan garpunya, wajahnya menegang. "Mama? Kenapa mendadak sekali?"

Ibu Ambar Dewangga berdiri di ujung meja makan, menatap menantu barunya dengan pandangan menyelidik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Naya segera bangkit dari duduknya, menampilkan senyum paling ramah dan tenang yang ia miliki. Ia melangkah mendekat, lalu mencium punggung tangan Ibu Ambar dengan takzim.

"Pagi, Mama. Mari silakan duduk, kita sarapan bersama," ucap Naya, suaranya terdengar sangat tenang, lembut, dan penuh hormat. Tidak ada kepanikan sama sekali di wajahnya.

Ibu Ambar menghela napas, menyerahkan tasnya pada pelayan yang mendekat. "Mama sengaja datang pagi-pagi. Mama mau lihat, apa istri pilihanmu ini benar-benar bisa mengurus rumah dan anak dengan becus, Arka. Mama masih tidak habis pikir kenapa kamu terburu-buru menikah dengan wanita yang ... ya, kamu tahu sendiri latar belakangnya."

Bersambung...

Bab 3. Akting Nayara

Kalimat sindiran itu meluncur begitu saja di depan wajah Naya. Arka melirik Naya, bersiap melihat wanita itu menangis atau ketakutan seperti kebanyakan orang yang menghadapi ibunya. Namun, Arka salah.

Naya tetap berdiri tegak dengan senyuman tipis yang menawan. Matanya menatap Ibu Ambar tanpa rasa minder sedikit pun.

"Terima kasih atas perhatiannya, Mama," sahut Naya dengan nada bicara yang sangat teratur. "Saya tahu saya masih banyak kekurangan, karena itu kehadiran Mama pagi ini sangat saya harapkan untuk membimbing saya menjadi istri yang diinginkan keluarga Dewangga."

Ibu Ambar agak tertegun mendengar jawaban Naya yang begitu dewasa dan tidak defensif. Sementara Arka diam-diam memajukan tubuhnya, sedikit terpukau dengan cara Naya mengendalikan situasi.

"Ehem," Arka berdeham, langsung memasang topeng sandiwaranya. Ia bangkit, melangkah mendekati Naya, lalu dengan sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Naya. Sentuhan mendadak itu membuat tubuh Naya sempat menegang semata wayang, namun ia berhasil menguasai diri dalam hitungan detik.

"Mama jangan khawatir," ucap Arka, suaranya berubah menjadi begitu hangat dan penuh kasih sayang yang dibuat-buat. Ia menatap Naya dengan pandangan mata yang seolah-olah penuh cinta. "Naya ini luar biasa. Semalam saja, dia menemani Kenzie sampai tertidur, lalu pagi-pagi sudah menyiapkan semuanya untukku. Aku sangat bahagia memilih dia, Ma."

Naya menoleh ke arah Arka, membalas tatapan pria itu dengan senyuman yang tak kalah manis. Ia bahkan dengan berani mengangkat tangannya untuk merapikan kerah kemeja Arka yang sebenarnya sudah rapi.

"Mas Arka ini terlalu memuji, Mama. Sudah kewajiban saya sebagai istri," sahut Naya, suaranya terdengar begitu manja namun tetap elegan di telinga Ibu Ambar. Di dalam hati, Naya ingin sekali mencakar wajah pria di sebelahnya yang berbohong tanpa berkedip.

"Oma!" Kenzie menyela, melompat dari kursinya dan memeluk Ibu Ambar. "Mama Naya baik sekali. Kenzie disuapin, dimandiin, dipeluk juga!"

Melihat cucu kesayangannya begitu lengket dengan Naya, pertahanan Ibu Ambar sedikit goyah. Ia duduk di kursi yang ditarik oleh pelayan. "Ya sudah, kalau Kenzie memang nyaman. Tapi tetap saja, Naya, kamu harus belajar banyak protokol keluarga kita. Siang ini ada arisan keluarga besar, dan Mama mau kamu ikut."

Arka langsung menimpali, "Tentu saja, Ma. Naya pasti datang." Arka mengecup pelipis Naya sekilas—sebuah tindakan spontan yang membuat jantung Naya mencelos, bukan karena baper, melainkan karena terkejut dengan totalitas sandiwara pria ini. "Jaga dirimu baik-baik nanti siang ya, Sayang," bisik Arka di telinga Naya, menyisakan sensasi menggelitik yang dingin.

"Pasti, Mas. Aku tidak akan mengecewakanmu," balas Naya dengan senyum manis yang mengunci pandangan Arka.

Ibu Ambar yang melihat interaksi kemesraan itu akhirnya mengangguk-angguk puas, mengira putranya benar-benar telah menemukan tambatan hati.

Beberapa saat kemudian, setelah Ibu Ambar sibuk mengobrol dengan Kenzie di ruang tengah, Arka menarik Naya sedikit menjauh ke sudut lorong dekat tangga, memastikan ibunya tidak mendengar.

Seketika, wajah hangat dan penuh cinta di wajah Arka lenyap, berganti dengan topeng datarnya yang semula. Ia melepaskan cengkeramannya di pinggang Naya dengan kasar.

"Akting yang bagus, Nayara," desis Arka rendah. "Kamu tahu persis bagaimana cara menjinakkan ibuku."

Naya menghapus senyum palsunya, menyisakan wajahnya yang dingin dan tenang menghanyutkan. Ia merapikan blusnya yang agak kusut akibat pelukan Arka tadi.

"Saya hanya melakukan bagian dari pekerjaan saya, Tuan Arka," jawab Naya, suaranya kembali formal dan datar. "Bukankah Anda membayar saya mahal untuk menjadi aktris yang baik?"

Arka menyipitkan matanya, merasa tertantang oleh ketenangan wanita di hadapannya yang sama sekali tidak goyah oleh gertakan atau perubahan sikapnya yang drastis.

"Nanti siang di rumah keluarga besar, konfliknya tidak akan semudah ini. Clarissa dan Tante Sandra pasti ada di sana. Mereka tidak akan seramah ibuku," ancam Arka, mencoba menguji mental Naya.

Naya menatap lurus ke dalam manik mata Arka, memberikan senyuman tipis yang sarat akan keteguhan hati.

"Anda tidak perlu khawatir tentang mental saya, Tuan Arka. Khawatirkan saja bagaimana Anda menjaga rahasia kontrak kita, karena dari apa yang saya lihat tadi ... Anda jauh lebih pandai berbohong daripada saya."

Setelah mengatakan itu dengan nada tenang tanpa intonasi tinggi, Naya berbalik dengan anggun, meninggalkan Arka yang terpaku di tempatnya dengan perasaan campur aduk—antara kesal karena disindir, dan takjub karena menyadari bahwa wanita kontraknya ini ternyata memiliki cakar yang tersembunyi di balik kelembutannya.

***

Deru mesin mobil Mercedes-Benz milik Ibu Ambar perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang kembali mencekik di dalam kediaman mewah Arkananta. Sandiwara pagi itu resmi berakhir begitu gerbang besi setinggi tiga meter itu tertutup rapat.

Naya mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Bahunya yang tegap sedikit mengendur, melepas ketegangan yang menguras energinya. Ia berbalik, bermaksud menemani Kenzie kembali ke ruang bermain. Namun, sebuah suara dingin memotong langkahnya tepat di undakan tangga pertama.

"Ke ruang kerjaku sekarang, Nayara."

Arka berdiri di ambang pintu ruang kerjanya yang bernuansa gelap dan maskulin. Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik dan masuk terlebih dahulu.

Naya menatap punggung tegap itu sesaat. Wajahnya kembali berubah menjadi topeng yang tenang, datar, dan menghanyutkan. Ia tidak takut. Dengan langkah anggun yang teratur, ia mengikuti perintah sang tuan rumah.

Begitu pintu ruang kerja ditutup, atmosfer ruangan terasa begitu pekat. Arka sudah duduk di balik meja kerja mahoni besarnya, memegang selembar kertas hvs putih yang baru saja dicetak. Ia melemparkan kertas itu ke tengah meja.

"Itu daftar aturan harian yang harus kamu patuhi selama di rumah ini," ujar Arka, suaranya datar, sedingin dinding es yang memisahkan kamar mereka.

Naya melangkah mendekat, namun ia tidak langsung mengambil kertas tersebut. Ia memilih berdiri tegak, menatap Arka dengan pandangan mata yang jernih namun tajam. "Aturan baru lagi? Bukankah semalam kita sudah menandatangani kontrak utama?"

"Ini berbeda. Ini detail teknis sehari-hari agar keberadaanmu tidak mengacaukan ritme hidupku," sahut Arka, menyandarkan punggungnya sambil mengetukkan jemarinya di atas meja. "Baca."

Naya mengambil kertas itu, matanya menyapu barisan poin yang tertulis rapi.

"Poin pertama," Naya membaca dengan suara yang tenang, tanpa intonasi tinggi yang menunjukkan kekesalan. "Dilarang menyentuh, merapikan, atau memasuki ruang kerja dan kamar tidur Arkananta tanpa izin tertulis atau lisan."

"Aku tidak suka barang-barangku dipindahkan. Pelayan pribadi yang sudah bekerja denganku selama lima tahun tahu persis letak setiap berkasku. Kamu tidak perlu sok rajin membersihkan ruanganku," sela Arka angkuh.

Naya mengangguk pelan, wajahnya tak berekspresi. "Baik. Lagipula, saya tidak punya waktu luang untuk mengagumi ruangan Anda. Lanjut, poin kedua ... segala bentuk keperluan makanan, pakaian, dan jadwal harian Arkananta adalah tanggung jawab kepala pelayan. Nayara dilarang keras ikut campur."

"Betul. Seperti yang kukatakan semalam, jangan bertingkah seperti istri tradisional yang menyambut suaminya dengan membawakan tas atau membuatkan kopi, kecuali jika ibuku ada di rumah. Di luar itu, kita adalah orang asing yang kebetulan berbagi atap."

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!