Malam itu, hujan turun deras, Azalea duduk di sofa sembari mengelus kedua tangannya yang terasa dingin. Ia lirik jam di ujung dinding atas tv, sudah menunjukan pukul 23:45, namun suaminya, Ramdan, belum juga ada tanda-tanda pulang.
"Apa Mas Ramdan lembur lagi?" lirih Azalea memanyun.
Ia lirik masakan yang sudah ia siapkan di meja makan ujung sana. Aneka lauk dan sayuran sudah tertata rapi, bahkan nasi untuk suaminya, Ramdan. Ia sudah menyiapkannya lebih dulu.
Azalea memanyun sedih, cuaca sedingin ini, nasi yang ia siapkan dari jam 7 malam pasti sudah dingin, atau mungkin mengeras hingga tidak bisa dimakan lagi.
Azalea pun berdiri, berjalan mendekat ke arah meja makan, ia cicipi satu butir masih yang sudah sangat dingin dan mengeras itu, meringis ngilu saat tak sengaja giginya yang sakit menggigitnya. Ia buru-buru berlari ke arah wastafel dapur untuk kumur.
"Awss....sakit sekali. Apa sebaiknya besok aku periksa saja ke rumah sakit?"
Ia menoleh kembali ke belakang, menatap muram nasi yang sudah tidak bisa dimakan itu, "Kalo di tempat nenek di kampung dulu, pasti sudah buat ayam."
CKLEK!
Aza terperanjat saat mendengar pintu ruang tamunya terbuka, netranya langsung melebar, senyum indah merekah dari kedua sisi bibirnya.
Wanita itu lantas berlari cepat menuju ruang tamu, dan benar saja, suaminya pulang. Ia langsung berlari dengan kecepatan penuh, lalu memeluk tubuh suaminya, Ramdan. Begitu erat.
"Mas, aku pikir kamu tidak akan pulang!" rengek wanita itu, terisak kecil.
Namun respon Ramdan lain dari biasanya, ia yang selalu tersenyum setiap istri menyambutnya, kini tak ada lagi senyuman itu.
"Aku cape, Aza. Minggir lah."
Ia dorong pelan kepala Aza yang menempel di dadanya hingga pelukan itu terlepas, lalu berjalan masuk ke dalam tanpa menoleh sedikitpun ke arah istrinya.
Aza tertegun, terdiam di tempat dengan tatapan kosong ke arah suaminya yang bahkan tak melirik sedikitpun ke arah meja makan yang sudah ia siapkan.
"Mas Ramdan kenapa?"
Entah mengapa, sikap cuek Ramdan membuat hatinya ngilu, baru kali ini suaminya tetiba cuek tanpa bertanya itu. Namun saat menyadari jam berapa Ramdan pulang, Aza pun menepis kesedihan. Memaksakan senyumnya yang tidak seharusnya dilakukan.
"Pasti Mas Ramdan cape banget, jadi ngga ada selera." lirihnya, "Yaudah deh, aku amanin makanan dulu."
Wanita bertubuh mungil itu segera berjalan menuju meja makan, menyimpan kembali sayur-sayur untuk setidaknya ia panaskan besok.
Sementara Ramdan langsung menjatuhkan tubuhnya tetiba di kamar. Keadaan hari ini benar-benar membuatnya cape. Ia selipkan kedua tangannya di bawah kepala, menatap langit-langit kamarnya dalam.
*
"Dan, sampai kapan kamu pertahanin Azalea? Ini udah dua tahun, tapi dia belum juga hamil, Ramdan. Adikmu saja sudah punya anak dua." rengek sang ibu.
Malam itu, sepulang kerja aku tidak langsung pulang ke rumah istriku. Aku mampir ke rumah ibu untuk menyerahkan 1 1/2 gaji bulananku untuk ibu kelola.
Semenjak insiden uang hilang di kamar, aku menjadi ragu pada wanita itu untuk mengelola uang sepenuhnya. Meski, Aza selalu mengelak bahwa bukan dirinya pelakunya.
Aku awalnya percaya, namun Aza selalu bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Dan selalu manja setiap masalah belum terselesaikan.
"Sabar yah, Bu. Aku akan periksakan Aza lagi ke rumah sakit." dalihku malas.
Sebenarnya aku tidak terlalu memperdulikan tentang anak. Tapi ibuku selalu merengek. Hal yang tidak kupedulikan juga bisa menjadi beban untukku.
"Sampai kapan, Dan? Sampai ibu mati? Azalea itu pasti mandul, ibu percaya sama omongan adikmu, Rara, Ramdan....." keluh sang ibu lagi, semakin kesal karena respon Ramdan terlalu condong pada Azalea.
"Dari awal ibu sudah tidak setuju kamu menikah dengan wanita itu, Ramdan. Tapi kamu selalu ngeyel! Cinta, cinta, cinta kalo gabisa ngasih cucu buat apa?"
"Azalea juga sudah berusaha Bu....tolong bersabarlah sedikit..."
"Ahhh kamu ini Ramdan! Selalu bela istrimu! Ini yang bikin ibu kesal. Kamu terlalu memanjakan istrimu itu. Sekali-kali kamu cuekin saja dia biar dia mikir kelakuannya! Udah hilangin uang kamu 5 juta, udah gitu gaada rasa bersalah lagi!"
Aku mengusak rambutku frustasi, bangkit dari sofa itu dengan perasaan kesal, memilih mendudukkan diriku di kursi tunggal agak jauh dari ibuku.
"Mungkin saja bukan Aza pelakunya, Bu!" kilah ku, memalingkan pandangan ke arah lain.
"Kamu masih bela istrimu lagi, Dan?! Kamu marah jika ibu minta semua gajimu buat ibu kelola?! Lagian uang sebanyak ini juga buat apa sama Aza?! Paling cuma buat foya-foya alih-alih hilang uangnya!"
Mendengar semua keluh kesah ibu, aku yang selalu membela Azalea pun jadi mikir dua kali. Apa benar uang itu hilang kebetulan? Ditambah setelah aku tak membahas uang itu lagi, Aza bersikap manja seolah-olah uang yang hilang itu tidak pernah terjadi.
"Bu...ayolah....Aku pulang kesini buat nenangin diri. Di kantor orang-orang memojokkanku dengan wanita staf bawahanku, aku malas Bu! Kepalaku pusing!"
Mendengar ada wanita yang satu kantor mendekati Ramdan. Bu Ratna sontak mendekatkan dirinya hingga pojok sofa, di samping putranya.
"Iyakah? Siapa itu? Cantik ngga? Subur, kaya? Kalo iya yaudah terima saja. Toh Aza juga gabakal tau kan?"
Ku tatap sinis ibuku dengan kesal itu, memutar bola mata malas, "Ibu ini, bikin aku bete saja. Tambah kesal aku jadinya."
"Ayolah Ramdan....menyimpang sedikit juga tidak apa-apa. Kamu tau kan ayahmu dulu juga memanfaatkan wanita lain demi kecukupan keluarga kita. Kalo kamu bisa ya gapapa."
"Itukan bapak, Bang Ramdan pasti gamau lah. Tapi kalo cocok sih, gas aja bang."
Suara Rara dari ujung tangga mengejutkan keduanya. Rara segera berjalan mendekati mereka, duduk di samping ibunya.
"Yang penting mah bisa ngasi keturunan, bang. Kalo Mba Aza gabisa, ya cari aja yang lain. Makan cinta doang ngga bikin anak muncul bang. Mau ngew* 5 kali sehari kalo dasarnya mandul ya mandul!"
Aku menghela nafas jengah, lagi-lagi ibu dan adek mengomporiku. Kan aku jadi ragu. Mana yang di ucapkan bener semua lagi. Mau aku ngelakuin rutin dengan Aza kalo dasarnya mandul? Ya....susah.
*
"Mas...."
Panggilan Aza dari ujung pintu mengejutkan Ramdan, pria itu langsung memejamkan matanya cepat, bersikap seolah-olah ia sudah tidur.
Aza yang melihatnya tersenyum tipis, menghela nafas pelan. Lantas berjalan mendekat untuk melepas sepatu dan kaos kaki suaminya itu. Tak lupa juga menarik tubuh Ramdan ke posisi yang tepat untuk kenyamanannya.
"Mass ini, kalo mas tidur kaya gini nanti sakit." bisik Aza tersenyum manis disela ia menyelimuti Ramdan.
Dalam hati Ramdan sangat menyukai sikap lembut Aza, dan juga perhatian wanita itu. Namun ia juga merasa, rumah ini terlalu sepi jika hanya di huni oleh mereka berdua.
Ramdan langsung bangkit saat Aza hendak berbalik. Menarik tubuh mungil istrinya ke atas pangkuannya. Membuat Aza terkejut bukan main.
"Sayang, bagaimana jika kita mengadopsi anak?"
Mendengar ucapan tiba-tiba suaminya, Aza langsung terdiam, tatapannya berubah kosong. Merunduk dengan kedua tangan gemetar di atas pangkuan.
"Aku gamau, mas." lirih Azalea, merunduk dalam.
Mendengar penolakan istrinya, Ramdan langsung kesal. Pria itu lantas menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur.
"Kamu ini, Za. Mas bilangin gini demi kebaikanmu tau." ucapnya disela memalingkan muka.
Sementara Aza. Wanita itu langsung terdiam. Matanya yang semula penuh binar langsung berkaca-kaca. Bagi Ramdan, ucapan itu mungkin terdengar sederhana. Tapi tidak bagi Aza yang sudah berusaha mati-matian untuk memberikan suaminya keturunan.
Dari minum jamu tradisional, sampe cek kandungan 3 kali seminggu, minum obat kesuburan sampai ia muntah darah karena kelebihan dosis. Apa Ramdan tau? Tentu tidak. Aza tidak mungkin mau terlihat menyedihkan di depan suaminya. Semua sikap lembut dan manjanya hanya topeng untuk menutupi kesedihannya selama ini.
"Aku pasti bisa memberikan mu anak, mas." lirih Azalea dengan bibir gemetar.
Ramdan lirik malas Aza, kembali memalingkan pandangannya ke arah lain, "Padahal mas ga maksa kamu ngasi keturunan lho, mas cuma pengen rumah ini ada isinya. Tapi reaksimu bikin mas kesel."
Mendengar itu Aza sontak berdiri. Menatap nanar suaminya yang begitu enteng mengucapkan kata itu tanpa melihat pengorbanannya selama ini.
"Mass....! Aku bukannya tidak mau mengadopsi anak! Tapi kata dokter rahimku subur! Aku aman! Haid ku juga rutin! Tapi aku gatau kenapa aku gabisa hamil, mas! Mungkin saja punyamu yang—"
Azalea melotot setelah tak sengaja mengucapkan kata-kata itu. Ramdan yang tau arah potongan kalimat itu kemana lantas menoleh. Menatap istrinya dengan kening mengerut liar. Pria itu segera bangkit, duduk menghadap istrinya yang terdiam sambil menutup mulutnya syok.
"Apa kamu bilang, Za?" lirih Ramdan, suaranya memang rendah, tapi tidak dengan reaksi wajahnya yang tampak sangat marah.
Aza sontak menggeleng, air matanya jatuh, buru-buru mendekat ke arah Ramdan, memeluknya erat, "Ma-maafkan aku, mas. Aku tidak bermaksud—"
"Kau kira aku yang mandul? Begitu maksudmu?"
Azalea menggeleng di dekapan Ramdan. Sementara pria itu kini sedang meradang. Selama 3 tahun pacaran dan 2 tahun menikah, baru kali ini ia mendengar kata-kata menyebalkan dari Aza. Dan itu semakin mengusik ketenangannya.
Ramdan lantas mendorong tubuh Aza dari pelukannya hingga wanita itu tersentak, menjatuhkan tubuh Azalea ke samping. Lalu bangkit dari ranjang.
Ramdan lantas menoleh ke bawah tepat di manik mata istrinya dengan tatapan sengit.
"Aku tidak menyangka kamu berani mengucapkan kata-kata buruk itu kepadaku, Za. Selama ini aku selalu membelamu, menyayangimu, dan memenuhi semua keinginanmu, tapi kamu?! Berani menuduhku?! Meng-cap aku mandul padahal di garis keturunan keluargaku tidak ada yang mandul?"
Azalea menggeleng kuat, terisak dengan tubuh kecilnya yang gemetar. Ia sontak turun dari ranjang, merangkak ke hadapan Ramdan, memeluk erat kaki pria itu sembari meminta maaf atas kesalahannya.
"Maafkan aku, mas! Aku mohon maafkan aku! Aku tau aku salah! Tapi apa salahnya kita cek ke rumah sakit, mas. Bukan hanya aku, tapi kamu juga. Biar semuanya jelas." mohon Aza, semakin membuat kepala Ramdan meradang.
Udah tadi di rumah ibunya ia di pojokan, sekarang di rumah juga di pojokan. Belum lagi di tempat kerja tuntutan sana sini, kepalanya bisa meledak jika tidak ia tahan.
"Lepaskan aku, Aza." lirih Ramdan masih dengan suara lembut. Namun tidak dengan wajahnya yang sudah memerah, bahkan tangannya mengepal di samping tubuh.
Aza menggeleng dibawah kaki Ramdan, menangis sejadi-jadinya dan menyesali ucapannya yang terlampau keterlaluan itu.
"Maafkan aku, mas! Aku mohon jangan emosi, kamu bikin aku takut, mas. Kamu tau aku dulu suka disiksa ayah dan juga ibu. Cuma kamu sandaranku satu-satunya mas, aku mohon mas." isak Aza gemetar.
Ramdan merasakan dengan jelas bagaimana gemetar tubuh Aza di kakinya. Namun maaf dari istrinya tak mampu menghapus kekesalan yang meradang di dalam hati.
"Kubilang lepaskan!"
Ramdan tarik kakinya paksa dari hadapan Aza, hingga tubuh ringkih sang istri terjerembab ke depan. Berjalan menuju pintu keluar demi tidak melampiaskan emosinya pada istrinya itu.
"Mas! Aku mohon maafkan aku mas!" seru Aza meringkuk di samping ranjang, menatap punggung suaminya yang menjauh itu dengan tangis yang menyayat.
BRAKK!!
Pintu kamar Ramdan banting sedemikian rupa hingga tubuh Aza mengejang hebat, terduduk lemah di atas lantai yang dingin. Setiap mendengar hentakan benda yang keras, dada Aza langsung sesak. Kilas balik ingatan masa lalu dimana ayahnya juga melakukan hal sama pada ibunya membuat seluruh tubuh Aza gemetar.
Wanita itu langsung meringkuk, memeluk lututnya bersandar pada ranjang, menutup telinganya kuat-kuat.
*
BRAKKK!!
"Dasar wanita bodoh! Mencuci bajuku saja tidak becus!"
"Halahh! Kau minta aku mencuci dengan becus! Memangnya kau kasi aku apa?! Kerjaan judi dan main wanita. Kau fikir aku bodoh!"
"Melawan kamu?!"
"IYA! Kenapa memangnya!? Lelaki bajingan seperti kamu memang—"
BUGHHH!!
Hantaman kuat melesat di pipi Bu Nana, membuat Aza kecil itu gemetar hebat dibalik pintu yang terbuka sedikit. Dimana hanya bola mata Aza yang terlihat dari dalam.
Disana, ia melihat bagaimana ayahnya menghajar ibunya membabi buta. Boneka kelinci di pelukannya langsung luruh. Ia terduduk dengan nafas tersengal. Dadanya gemetar hebat, air matanya luruh dengan mata bulatnya yang terus melotot. Menyaksikan adegan tragis kekerasan di depannya.
Semenjak kejadian itu. Aza yang baru berusia 7 tahun kerap mengalami sesak nafas setiap mendengar gebrakan meja atau pintu. Bahkan lentingan karet yang menjepret tubuh teman yang dibully masa SMP, langsung membuat bahunya terjingkit.
*
"Tidak, aku mohon....Jangan lakukan ini padaku, mas." rintih Aza gemetar, menangis bisu, menutup telinganya kuat-kuat.
Ia tak mengira, Ramdan yang tidak pernah memperlakukannya kasar, sekarang berani menggebrak pintu. Namun Aza yang dasarnya cinta buta, menganggap itu pelampiasan Ramdan agar tidak menyakiti dirinya.
"Iya, Mas Ramdan pasti gabisa ngelampiasin emosi ke aku, makannya dia lampiasin ke pintu." rintihnya gemetar.
Setelah sekian lama meringkuk menenangkan diri. Aza mulai bangkit dengan sisa-sisa getaran tubuh yang menggila. Ia berjalan sedikit oyong menuju pintu, melongok ke luar untuk mengecek dimana suaminya.
Namun ternyata kosong, ia tertegun. Lantas berjalan cepat menuruni tangga ke bawah, mengecek ruangan di dalam rumah satu persatu.
"Mass..." panggilnya.
Namun nihil, ia sama sekali tak menemukan keberadaan Ramdan di dalam rumah. Tubuh Aza langsung ambruk, terduduk di atas lantai yang dingin menusuk, menangisi dirinya sekaligus apa yang terjadi di dalam rumah tangganya.
"Mas aku mohon maafkan aku."
Sementara Ramdan yang emosi pada Aza langsung keluar dari rumah. Ia bawa mobilnya menyusuri jalan, berniat ke suatu bar tempat rekomendasi teman kantornya 1 bulan lalu.
*
"Bro, ayolah.... nongkrong-nongkrong. Kamu terlalu lurus jadi laki-laki." bisik teman baik Ramdan, Gian.
Ramdan yang fokus mengetik di depan komputer itu tak menggubris.
"Istriku gasuka aku ke bar." singkat pria itu.
Gian berdecak kecil. Lantas menyandarkan punggungnya pada kursi sembari menatap ke arah Ramdan yang begitu fokus dan berdedikasi pada kerjaannya.
"Meski disana ada Mia?"
Malam itu, Azalea tak bisa tidur, rasa sakit yang kerap di idap di perut bawahnya semakin menggila, membuat Aza bangun jam 3 malam.
Ia lirik ke samping, Ramdan tidak ada disana. Aza merunduk lesu, tanpa bisa di tahan air matanya kembali luruh. Ia peluk lututnya yang gemetar.
Kini semakin jelas sikap Ramdan yang berubah padanya. Awal-awal masih perhatian, hanya pulangnya sering telat. Sampai puncaknya insiden kehilangan uang. Aza sudah mengaku dengan jujur bahwa dia tidak tau kenapa uang itu bisa hilang. Padahal ia ingat betul ia selalu menyimpannya di kotak yang sama.
Semenjak hari itu, Ramdan mulai sering pulang larut. Setiap ditanya pria itu lebih sering mengelak. Sampai akhirnya satu Minggu semenjak insiden kehilangan uang itu. Kini, Ramdan terang-terangan mengabaikan dirinya.
Azalea benar-benar tak mengerti, sebenarnya apa yang salah dengannya. Hanya karena dia berucap lewat sekali, reaksi Ramdan langsung defensif. Membuat Aza semakin takut menanyai ini itu padanya.
Ia turunkan kedua kakinya dari ranjang, hendak berdiri, namun tiba-tiba nyeri hebat bak pukulan telak di perut bagian bawahnya. Membuat Aza refleks memeganginya, mengaduh kesakitan.
"Awss, sakit sekali."
Tidak biasanya ia mengalami sakit perut sehebat ini. Sebelum-sebelumnya ia hanya nyeri biasa, akan sembuh setelah meminum obat. Namun kali ini rasa sakitnya lain. Ia berjalan tertatih keluar kamar, menahan rasa sakit yang menggila.
Sesampainya di dapur, Aza langsung menuangkan air ke dalam gelas. Lalu menenggaknya hingga tandas.
"Mas Ramdan kemana yah, apa dia pulang ke rumah ibu?"
Aza ingin menelefon, tapi rasanya tak enak menelfon keluarga Ramdan di jam-jam segini. Alhasil ia hanya menunggu di sofa ruang tamu, berharap Ramdan melihat kepeduliannya.
Sekitar pukul 5 pagi, Aza terbangun saat mendengar suara ceklekan pintu. Dan saat melihat ke arah pintu. Benar saja, Ramdan pulang. Hanya saja, kondisinya berbeda dari biasanya.
"Mas...kamu kenapa? Kamu abis darimana?"
Aza langsung meraih tubuh Ramdan yang oyong. Dan saat meraih tubuhnya, bau parfum wanita serta alkohol yang kuat menyeruak menembus hidungnya, membuat Aza nyaris mual.
"Mas...kamu mabuk?!"
Namun Ramdan tak merespon, pria itu kerap merancau dan oyong. Membuat Aza memilih urung dengan pertanyaannya. Merebahkan Ramdan lebih dulu di sofa.
Ia tatap miris suaminya yang mulai berani melakukan hal-hal tak benar itu. Dulu Ramdan sudah berjanji tidak akan mabuk-mabukan, tapi sekarang seolah janji pernikahan mereka hanyalah semu. Bahkan tubuh Ramdan dipenuhi bau parfum wanita.
"Mass bangun!" kesal Aza, menepuk lengan Ramdan kesal.
Rasa curiga dan overthinking mulai menyeruak di dalam dadanya. Mabuk, bau parfum perempuan. Wanita yang polos pun bisa menebak dengan apa yang mereka lihat dari kondisi Ramdan sekarang.
"Mass....kamu abis darimana?! Kenapa bajumu bau parfum perempuan?!" pekik Aza panik.
Wanita itu lantas menarik tangan Ramdan, lalu menghirup telapak tangannya. Dan disitulah, tubuh Aza mematung. Tatapannya langsung berubah kosong, tangan Ramdan yang ia pegang luruh dari genggamannya.
"Bau—cairan sperma."
Tubuh Aza langsung ambruk disitu juga, ia terduduk di depan sofa dengan tatapan tak percaya. Air mata mengalir dari sorot mata kosong itu.
"Ga mungkin..." lirih Azalea, langsung menutup telinganya, menjerit kuat.
Ramdan yang terlelap itu, mendengar raungan dan jeritan Aza tentu terusik. Dengan tega ia mendorong bahu Aza yang terduduk di bawahnya dengan kaki. Hingga tubuh Aza terguling ke samping.
"Brisik!" teriaknya emosi, setengah teler karena mabuk. Tanpa ia sadari, ia sedang memarahi wanita yang paling ia sayang dan tak tega ia kasari.
Aza gemetar ketakutan. Ia tatap Ramdan di depan sana yang seperti bukan Ramdan. Pria yang ia kenal di depannya dulu paling anti menyakiti tubuhnya, apalagi berlaku fisik sepelan apapun. Namun sekarang, pria itu berani menendang tubuhnya. Namun bodohnya Aza, ia mengira Ramdan melakukannya karena mabuk. Dan memilih menyingkir dari hadapan pria itu.
Aza lantas bangkit, berlari masuk ke dalam kamar. Sementara Ramdan dibiarkan tidur di sofa ruang tamu sambil merancau lirih, sesekali terkekeh dengan mata terpejam.
"Sial, tubuh Mia enak sekali."
Azalea berlari ke pojokan kamar, meringkuk di sana sembari menutupi mulutnya, menahan tangis yang semakin menyiksa tenggorokan.
Ia tidak menyangka, suaminya akan melakukan hal tidak benar. Mabuk, main wanita, meski ia tak punya bukti, bau parfum di tubuh Ramdan, serta tangannya yang agak lengket dan bau sperma bercampur cairan vagina. Sialnya, logika Aza berjalan sekarang.
"Kenapa mas tega ngelakuin ini padaku, hiks!"
Aza semakin merasa bodoh. Ia bodoh karena membiarkan Ramdan keluar malam ini, jika ia menahannya sekali saja, dan memohon lebih dibawah kaki pria itu. Mungkin Ramdan tidak akan pergi dan mabuk-mabukan. Namun sekarang semua sudah menjadi bubur. Mau menyesal pun, Ramdan sudah menyentuh tubuh wanita lain.
Sekitar jam 10 pagi, Ramdan terbangun dari tidurnya. Ia meringis ngilu saat sakit pinggangnya kembali menyiksa.
"Aws, sial. Apa sebenarnya yang terjadi?"
Ia bangkit perlahan, dan saat melihat sekeliling, ia sudah berada di dalam rumahnya. Keningnya mengerut, "kapan aku pulang?"
Ia spontan melotot, sadar akan kejahatan yang sudah ia lakukan. Pria itu lantas bangkit, mencari-cari keberadaan Aza di kamar serta ruangan yang lain. Namun nihil, Aza tidak ada lagi di rumah.
Ramdan menepuk kepalanya kuat, membodohi dirinya sendiri yang dengan tololnya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.
"Bagaimana ini, jangan-jangan Aza tau aku mabuk?" lirih pria itu, langsung panik.
"Aza! Kamu dimana?!" seru Ramdan, kelabakan mencari keberadaan Aza kesana kemari, namun tak kunjung menemukan keberadaan istrinya itu.
"Sial! Gara-gara Gian bangsat itu. Aku jadi mabuk kaya gini. Aza pasti tidak akan memaafkan ku sekarang." desisnya kesal. Lantas berjalan keluar dari rumah, mencoba mencari keberadaan istrinya.
Sementara Aza, wanita itu kini sedang berada di rumah sakit. Ia sedang mengkonsultasikan rasa sakit di perutnya yang semakin tak wajar.
"Jadi gimana dok? Apa badan saya ada penyakit serius?"
Dasarnya Aza. Wanita itu kerap parno dengan apapun. Sakit sedikit di area vital saja, ia langsung menghubungkannya ke hal yang tidak-tidak.
Sang dokter tersenyum menggeleng, "Anda tidak mengidap sakit kronis, mba. Tadi sudah saya cek, semua aman. Mungkin masalahnya di cara konsumsi obat anda yang salah."
Kening Aza mengerut, "Maksudnya dok?"
"Anda terlalu over meminum obat penyubur."
Aza tertegun. Ia tidak mengira dokter di depannya bisa tahu, padahal tidak ada tindak USG di pemeriksaan kali ini.
"Ko dokter bisa tau?"
Dokter Edward tersenyum tipis, "Saya sudah sering menemukan pasien seperti anda. Ibu rumah tangga yang ingin memiliki momongan pasti akan melakukan apapun demi hal tersebut. Hanya saja, terlalu banyak mengkonsumsi pil kesuburan justru akan memperlemah rahim. Ovarium yang dipaksa untuk membuat sel telur terus menerus justru akan berbahaya, bisa menimbulkan penyakit serius seperti kista ovarium."
Aza merunduk, melotot menatap perut bawahnya. Ia tak mengira, tindakan yang berniat baik justru bisa pelan-pelan menggerogoti tubuhnya sendiri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!