Indonesia
NovelToon NovelToon

Ibu Pengganti Untuk Anak Kembar Sang CEO

Dua Pelukan Kecil

Malam semakin larut, namun lorong rumah sakit swasta itu masih terasa mencekam bagi Alya. Ia menggenggam jemarinya yang gemetar, menatap pintu ruang ICU tempat ibunya terbaring lemah. Biaya operasi dan perawatan totalnya mencapai dua ratus juta rupiah—angka yang mustahil bisa ia dapatkan dalam waktu semalam.

"Nona Alya?"

Sebuah suara berat memecah keheningan. Alya mendongak dan mendapati seorang pria paruh baya berjas rapi berdiri di hadapannya.

"Ya, saya sendiri. Anda... siapa?" tanya Alya lirih.

Pria itu membungkuk sopan. "Saya Malik, asisten pribadi Tuan Adrian Vasillo. Saya datang membawa penawaran yang bisa menyelamatkan ibu Anda."

Alya mengernyit, air matanya tertahan di sudut mata. "Penawaran? Apa maksud Anda?"

Malik tidak langsung menjawab. Ia menyodorkan sebuah map dokumen tebal berwarna hitam. "Tuan saya membutuhkan seorang ibu pengganti untuk kedua putra kembarnya. Jika Anda setuju, seluruh biaya rumah sakit ibu Anda akan dilunasi malam ini juga. Plus, Anda akan menerima imbalan bulanan yang sangat besar."

Alya tertegun. Jantungnya berdegup kencang membaca tulisan di lembar pertama: Kontrak Pernikahan dan Ibu Pengganti.

"Ibu... pengganti?" bisik Alya, suaranya tercekat. "Kenapa harus saya?"

"Karena Anda memenuhi semua kriteria yang dicari," jawab Malik tenang. "Bagaimana, Nona Alya? Waktu ibu Anda tidak banyak."

Alya menatap pintu ICU, lalu beralih ke pen bulpen yang disodorkan Malik. Mengabaikan seluruh keraguannya, ia meraih pen itu.

"Saya terima."

Keesokan paginya, sebuah mobil mewah hitam sudah menjemput Alya dan membawanya ke sebuah griya tawang (penthouse) super mewah di pusat kota. Begitu pintu lift terbuka langsung ke dalam ruangan, Alya terpaku. Tempat itu sangat luas, didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Dingin dan tanpa sentuhan kehangatan sama sekali.

"Masuklah," perintah Malik yang berjalan di depannya.

Alya melangkah ragu, meremas ujung blus krem sederhananya. Di tengah ruang keluarga yang megah, seorang pria tegap berjas hitam sedang berdiri membelakangi mereka, menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca besar.

"Tuan, Nona Alya sudah tiba," lapor Malik.

Pria itu berbalik. Sepasang mata elang yang tajam langsung menusuk netra Alya. Wajahnya luar biasa tampan, namun rahangnya yang kokoh mengeras, memancarkan aura intimidasi yang kuat. Dialah Adrian Vasillo.

"Jadi, ini wanita yang kamu pilih, Malik?" suara Adrian terdengar berat dan dingin, sanggup membuat bulu kuduk Alya meremang.

"Benar, Tuan. Nona Alya memiliki latar belakang yang bersih," sahut Malik.

Adrian berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar tegas di atas lantai marmer. Ia berhenti tepat di depan Alya, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang merendahkan.

"Dengar, Alya," ucap Adrian dingin. "Aku tidak butuh istri. Aku hanya butuh seseorang yang bisa mengurus anak kembar-ku dan berpura-pura menjadi ibu mereka di hadapan publik. Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan lebih dari kontrak yang sudah kamu tanda tangani."

Alya menelan ludah, mencoba menegakkan bahunya. "Saya tahu diri, Tuan Vasillo. Saya di sini hanya bekerja demi pengobatan ibu saya."

Adrian mendengus remeh. "Bagus kalau kamu paham. Tugas pertamamu adalah menghadapi mereka. Jika dalam tiga hari mereka menolakmu seperti puluhan pengasuh sebelumnya, kontrak ini batal dan ibumu akan dikeluarkan dari rumah sakit."

"Tuan, itu tidak adil—"

"Di duniaku, tidak ada yang gratis," potong Adrian tajam. "Malik, bawa dia ke kamar anak-anak."

Malik mengantar Alya ke sebuah pintu besar di ujung lorong lantai dua. Sebelum membuka pintu, Malik berbisik, "Berhati-hatilah, Nona. Tuan Muda Leon dan Tuan Muda Lulu sangat cerdas, tapi mereka membenci wanita asing."

Alya mengangguk pelan. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ketika pintu terbuka, ia melihat sebuah kamar bermain yang sangat luas dan penuh dengan mainan mahal. Di sudut ruangan, dekat jendela besar, dua anak laki-laki kecil berusia sekitar empat tahun sedang duduk di atas karpet bulu. Wajah mereka sangat mirip, bagai pinang dibelah dua, dengan mata bulat yang cerdas.

"Leon, Lulu, ini Bibi Alya. Dia yang akan menemani kalian mulai hari ini," ujar Malik lembut.

Kedua anak itu menoleh serempak. Begitu mata mereka bertemu dengan Alya, suasana mendadak hening. Alya melempar senyum paling tulus yang ia miliki, lalu berlutut di lantai agar tingginya sejajar dengan mereka.

"Halo, Leon. Halo, Lulu. Nama saya Alya," sapa Alya lembut.

Leon, yang tampaknya sedikit lebih tua, menatap Alya dengan pandangan menyelidik yang sangat mirip dengan Adrian. Sementara Lulu, adiknya, memiringkan kepalanya, menatap Alya tanpa kedip.

Malik bersiap menarik Alya mundur, mengira kedua tuan muda itu akan mulai berteriak atau melempar mainan seperti biasanya. Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat Malik terperangah.

Lulu tiba-tiba bangkit berdiri. Kaki kecilnya melangkah cepat mendekati Alya.

"Lulu, jangan—" Malik hendak mencegah, namun terlambat.

Lulu tidak melempar mainan. Anak kecil itu justru langsung menghambur ke pelukan Alya, memeluk leher wanita itu dengan sangat erat.

"Mama..." bisik Lulu lirih, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alya.

Alya tersentak. Tubuhnya kaku seketika. Sentuhan mungil itu terasa begitu hangat, mengalirkan getaran aneh yang langsung menyentuh lubuk hatinya. Tanpa sadar, tangan Alya bergerak membalas pelukan erat anak itu, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.

"Lulu?" panggil Leon dengan suara cemprengnya. Ia ikut bangkit, berjalan mendekat dengan dahi berkerut. "Kamu panggil dia apa?"

Lulu melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Leon, ini Mama! Wanginya sama seperti di mimpi Lulu! Ini Mama kita!"

Leon menatap Alya dengan ragu. Ia mendekat, mengendus pelan pakaian Alya, lalu matanya yang besar tiba-tiba melebar. Keraguan di wajah kecilnya sirna, digantikan oleh binar kerinduan yang mendalam. Tanpa aba-aba, Leon ikut menerjang masuk ke dalam pelukan Alya, menangis sesenggukan.

"Mama! Mama kenapa lama sekali menjemput kami?" tangis Leon pecah, memeluk pinggang Alya dengan erat.

"Hei... anak-anak pintar, kenapa menangis?" Alya merasa matanya sendiri mulai memanas. Ia mendekap kedua anak kembar itu ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala mereka satu per satu dengan naluri kebuanan yang tiba-tiba bangkit begitu kuat. "Maafkan Bibi... maaf ya..."

"Bukan Bibi! Mama!" protes Lulu sambil merengut, air mata masih menggenang di pipi gembilnya.

"Iya, Mama jangan pergi lagi, ya? Berjanji pada Leon?" pinta Leon sambil mengacungkan jari kelingking kecilnya yang gemetar.

Alya menatap kelingking itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ini hanya kontrak, ia tahu dia bukan ibu kandung mereka. Namun melihat binar harapan di mata kedua anak suci ini, Alya tidak tega menghancurkannya. Ia menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Leon.

"Iya, Mama berjanji tidak akan pergi," bisik Alya lembut, menyeka air mata di pipi kedua bocah itu.

Di ambang pintu, Adrian Vasillo berdiri mematung. Pria itu menyaksikan seluruh kejadian tersebut dengan rahang yang mengeras dan kepalan tangan yang mengencang di sisi tubuhnya.

Mata elangnya menatap tajam ke arah Alya yang sedang tertawa kecil sambil mengusap air mata kedua putranya—dua putra yang selama empat tahun ini tidak pernah mau disentuh oleh wanita mana pun, bahkan oleh nenek mereka sendiri.

"Bagaimana bisa..." gumam Adrian, suaranya sangat rendah, nyaris seperti bisikan angin yang berbahaya.

Alya yang menyadari kehadiran Adrian langsung mendongak. Pandangan mereka bertemu. Di antara pelukan hangat dua anak kembar yang menggemaskan, tatapan dingin dan penuh selubung misteri dari sang CEO seolah memberi peringatan bahwa kehidupan baru Alya di rumah ini tidak akan pernah berjalan dengan mudah.

Mama

Adrian melangkah memasuki kamar bermain dengan rahang yang mengeras. Setiap ketukan langkah sepatunya di atas lantai kayu seolah membawa atmosfer dingin yang mencekik. Malik, yang masih berdiri terpaku di dekat pintu, segera membungkuk hormat dan mundur selangkah, memberikan jalan bagi tuannya.

"Leon, Lulu. Lepaskan dia," perintah Adrian. Suaranya tidak membentak, namun nada bicaranya yang rendah dan mutlak langsung membuat suasana kamar yang tadinya hangat berubah menjadi tegang.

Kedua anak kembar itu tersentak. Bukannya patuh, Lulu justru semakin erat memeluk leher Alya, sementara Leon berdiri di depan Alya dengan merentangkan kedua tangan kecilnya—berusaha melindungi "ibu baru" mereka dari tatapan mengintimidasi sang ayah.

"Tidak mau, Papa! Ini Mama!" protes Leon berani, meskipun tubuh kecilnya sedikit gemetar menghadapi aura tegas Adrian. "Papa tidak boleh mengusir Mama lagi!"

Adrian memicingkan matanya. Sorot matanya beralih dari Leon ke arah Alya yang masih berlutut di lantai. Tatapan pria itu begitu tajam, seolah sedang menguliti dan mencari tahu trik apa yang digunakan wanita asing di hadapannya ini hingga bisa menjinakkan kedua putranya dalam hitungan detik.

"Nona Alya," panggil Adrian, menekankan setiap suku kata namanya dengan nada mengancam. "Apa yang kamu lakukan pada putra-putraku?"

Alya menelan ludah, mencoba mengendalikan rasa gugup yang mendadak menyerang dadanya. Ia perlahan melonggarkan pelukan Lulu dan berdiri, meskipun kedua anak itu tetap memegangi ujung blusnya dengan erat.

"Saya tidak melakukan apa-apa, Tuan Vasillo," jawab Alya berusaha setenang mungkin, menatap langsung ke dalam manik mata elang Adrian. "Saya baru saja masuk, dan mereka... mereka langsung memeluk saya."

"Papa bohong! Papa bilang Mama sedang pergi jauh untuk bekerja, sekarang Mama sudah pulang!" sela Lulu dengan suara cemprengnya yang mulai serak karena habis menangis. Ia mendongak, menatap Alya dengan mata bulatnya yang berair. "Mama tidak akan pergi lagi, kan?"

Jantung Alya mencelos. Ia memandang Lulu yang begitu penuh harap, lalu melirik Adrian yang wajahnya semakin menggelap. Alya tahu benar posisinya di sini hanya sebatas pekerja kontrak, namun melihat binar keputusasaan di mata anak-anak tanpa ibu ini, nuraninya bergejolak.

"Lulu, Leon, dengarkan Papa," Adrian berlutut di hadapan kedua putranya, membuat jaraknya dengan Alya mengikis hingga wanita itu bisa menghirup aroma parfum maskulin yang mahal dan mengintimidasi dari tubuh sang CEO. Adrian memegang pundak kedua anaknya. "Dia bukan—"

"Tuan Vasillo," potong Alya cepat, memotong ucapan Adrian sebelum pria itu sempat menghancurkan hati si kembar.

Adrian mendongak tajam, tidak suka ucapannya dipotong. Namun Alya memberikan isyarat lewat matanya, memohon agar Adrian tidak melanjutkan kalimatnya di depan anak-anak yang masih emosional ini.

Alya kemudian berlutut kembali, menyejajarkan posisinya dengan mereka semua. Ia tersenyum lembut, mengusap air mata yang tersisa di pipi gembil Lulu. "Lulu, Leon, sekarang sudah siang. Bagaimana kalau kalian mandi dan bersiap untuk makan? Mama... Mama akan menunggu kalian di ruang makan. Bagaimana?"

Mendengar kata 'Mama' keluar dari mulut Alya, mata Leon dan Lulu langsung berbinar cerah. Rasa takut mereka terhadap kedatangan Adrian menguap begitu saja.

"Benar ya, Mama menunggu di sana? Janji tidak akan hilang?" tanya Leon memastikan.

"Iya, Mama janji," sahut Alya lembut, menautkan jari kelingkingnya lagi pada Leon, lalu pada Lulu.

"Horeee! Ayo Leon, kita mandi!" seru Lulu kegirangan.

Kedua bocah itu langsung berlari riang menuju kamar mandi yang terhubung dengan kamar bermain mereka, diikuti oleh pengasuh pribadi mereka yang lain yang sejak tadi hanya berani menonton dari kejauhan.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, keheningan yang mencekam kembali melingkupi ruangan. Alya bangkit berdiri, merapikan roknya yang sedikit kusut. Saat ia berbalik, Adrian sudah berdiri tegak, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Ikut aku ke ruang kerja," ujar Adrian dingin tanpa bantahan. Pria itu berbalik dan melangkah pergi begitu saja.

Alya mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di dadanya. Ia menatap Malik yang memberikan senyuman tipis penuh simpati, lalu segera melangkah membuntuti punggung tegap sang CEO menuju lantai bawah.

Ruang kerja Adrian berada di sudut lantai satu, di balik sebuah pintu kayu jati ganda yang besar. Di dalamnya, ribuan buku berjejer rapi di rak yang menjulang hingga ke langit-langit. Adrian berjalan ke balik meja kerja mahoninya yang besar, lalu duduk di kursi kulitnya yang megah. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan, memperhatikan Alya yang berdiri canggung di tengah ruangan.

"Duduk," perintah Adrian pendek.

Alya melangkah maju dan duduk di kursi beludru di hadapan meja Adrian. Atmosfer di ruangan ini terasa jauh lebih menekan daripada di kamar bermain tadi.

"Aku tidak tahu sihir apa yang kamu gunakan, Alya," Adrian memulai pembicaraan, suaranya terdengar seperti vonis hakim yang dingin. "Selama empat tahun ini, puluhan pengasuh—bahkan psikolog anak terbaik—telah kusewa. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa mendekati si kembar tanpa memicu tantrum yang parah. Tapi kamu... mereka bahkan langsung menyebutmu 'Mama'."

Alya meremas tas tangannya di pangkuan. "Saya bersumpah, Tuan, saya tidak menggunakan trik apa pun. Saya sendiri terkejut. Mungkin... ini hanya kebetulan. Mereka merindukan sosok ibu, dan kebetulan saya datang di saat yang tepat."

Adrian mendengus dingin, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Di duniaku, tidak ada yang namanya kebetulan. Semuanya adalah kalkulasi." Pria itu mengambil map hitam yang tadi dibawa Malik dan melemparkannya ke atas meja, tepat di depan Alya. "Kontrakmu resmi dimulai hari ini. Karena si kembar sudah menerimamu, kamu tidak perlu melewati masa percobaan tiga hari."

Alya melihat map itu, ada rasa lega sekaligus cemas yang bergolak di dadanya. "Lalu, bagaimana dengan ibu saya?"

"Malik sudah mengurus semuanya. Seluruh biaya operasi dan perawatan ibumu di ICU sudah ditransfer ke pihak rumah sakit sepuluh menit yang lalu," jawab Adrian datar, seolah uang ratusan juta itu hanyalah remah-remah kertas baginya.

Mata Alya berkaca-kaca. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan isak tangis. "Terima kasih, Tuan Vasillo. Terima kasih banyak. Saya berjanji akan merawat Leon dan Lulu dengan sebaik-baiknya."

"Jangan senang dulu, Nona Alya," sela Adrian, nadanya merendah, penuh peringatan. Ia condong ke depan, menatap Alya dengan intensitas yang membuat Alya menahan napas. "Pernikahan kontrak kita akan didaftarkan secara hukum dalam beberapa hari ke depan secara tertutup. Di hadapan publik dan anak-anak, kamu adalah istriku dan ibu mereka. Tapi di dalam rumah ini, ketika anak-anak tidak ada, kamu bukan siapa-siapa. Jangan pernah melewati batas."

"Saya mengerti, Tuan. Saya tahu batasan saya," jawab Alya tegas, mencoba menunjukkan bahwa ia memiliki harga diri yang tidak bisa diinjak-injak begitu saja meski ia membutuhkan uang pria itu.

"Satu hal lagi," tambah Adrian, mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Alya. "Si kembar memanggilmu 'Mama' karena mereka mengira kamu adalah wanita di dalam mimpi mereka. Tapi ingat ini baik-baik... jangan pernah mencoba menggantikan posisi ibu kandung mereka yang sebenarnya di hatiku. Kamu hanya pemeran pengganti, Alya. Jangan lupakan itu."

Kata-kata Adrian barusan terasa seperti tamparan dingin yang menyadarkan Alya dari fantasi sesaatnya di kamar bermain tadi. Ada misteri besar di balik ketidakhadiran ibu kandung si kembar, dan ada luka mendalam yang disembunyikan sang CEO di balik topeng esnya.

Alya menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. "Saya tidak akan pernah melupakannya, Tuan Vasillo. Tugas saya di sini hanya untuk anak-anak."

"Bagus. Sekarang keluar dan temui mereka di ruang makan. Jangan biarkan putra-putraku menunggu terlalu lama," usir Adrian tanpa perasaan, langsung mengalihkan pandangannya pada berkas-berkas di mejanya, mengabaikan keberadaan Alya sepenuhnya.

Alya bangkit dari kursi, membungkuk pelan, lalu melangkah keluar dari ruangan yang mencekam itu. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Langkah pertamanya masuk ke dalam lingkar kehidupan Keluarga Vasillo telah dimulai, dan Alya tahu, jalan di depannya tidak akan pernah mudah.

Menjadi Keluarga

Alya berjalan menyusuri lorong menuju ruang makan dengan langkah yang masih terasa sedikit goyah. Ucapan Adrian di ruang kerja tadi terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak. “Kamu hanya pemeran pengganti, Alya. Jangan lupakan itu.”

Ia mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. "Fokus, Alya. Kamu di sini untuk ibumu, dan untuk dua anak kecil yang membutuhkanmu. Jangan pikirkan hal lain," bisiknya pada diri sendiri, menguatkan hati.

Begitu melangkah masuk ke ruang makan yang megah, pemandangan hangat langsung menyambutnya. Leon dan Lulu sudah duduk manis di kursi balita yang tinggi. Mereka sudah rapi, mengenakan pakaian kembar berupa kaus bergaris biru-putih, dan rambut mereka yang agak basah tampak disisir rapi.

"Mama!" seru Lulu begitu melihat siluet Alya di ambang pintu. Bocah itu hampir saja melompat dari kursinya jika seorang pelayan wanita paruh baya tidak menahannya dengan panik.

"Lulu, hati-hati, Sayang," ujar Alya refleks. Ia bergegas mendekat dan mengambil posisi duduk di kursi kosong yang berada tepat di antara kedua anak kembar itu.

"Mama lama sekali. Leon kira Papa memarahi Mama," celetuk Leon sambil mengerucutkan bibirnya. Tangan kecilnya langsung meraih jemari Alya dan menggenggamnya erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Alya akan lenyap.

Alya tersenyum lembut, membalas genggaman hangat tangan kecil Leon. "Tidak, Papa tidak memarahi Mama. Papa hanya... membicarakan pekerjaan dengan Mama. Maaf ya membuat kalian menunggu."

Pelayan paruh baya yang tadi menjaga mereka, yang belakangan Alya ketahui bernama Bik Sum, tampak menatap Alya dengan mata berkaca-kaca. Ia mendekat sambil membawa mangkuk berisi bubur ayam dengan potongan sayur yang tertata rapi.

"Nona Alya... demi Tuhan, saya belum pernah melihat Tuan Muda Leon dan Tuan Muda Lulu sejinak ini dengan orang baru," bisik Bik Sum dengan suara bergetar penuh haru. "Biasanya, jam-jam makan seperti ini adalah waktu yang paling membuat frustrasi seluruh pelayan di rumah ini. Mereka pasti melempar sendok atau menangis."

Alya merasa tersanjuh sekaligus iba. "Benarkah, Bik?"

"Benar, Nona. Mereka merindukan ibunya... setiap hari mereka selalu bertanya kapan Mama mereka pulang," sahut Bik Sum lirih, buru-buru menyeka sudut matanya yang basah sebelum anak-anak menyadarinya. "Ini, Nona, mohon bantuannya untuk menyuapi mereka."

Alya menerima mangkuk bubur tersebut. Ia menoleh ke arah Lulu yang sudah membuka mulutnya lebar-lebar seperti anak burung yang kelaparan.

"Aaa..." Lulu bersuara, meminta suapan.

Alya tertawa kecil, rasa tegangnya perlahan mencair. Ia meniup sesendok bubur perlahan sebelum mengarahkannya ke mulut Lulu. "Nyam! Enak?"

"Enak banget! Masakan Mama paling enak!" seru Lulu riang, padahal ia tahu betul itu adalah masakan koki rumah.

"Leon juga mau, Mama!" Leon tidak mau kalah, ia menarik-narik ujung lengan baju Alya dengan wajah cemburu yang menggemaskan.

"Iya, Leon juga dapat. Bergantian, ya?" Alya menyuapi Leon dengan penuh kesabaran.

Suasana di ruang makan itu mendadak penuh dengan tawa renyah anak-anak. Alya dengan telaten menyuapi mereka bergantian, menyeka sisa bubur di sudut bibir mereka dengan tisu, dan mendengarkan cerita-cerita acak tentang mainan robot mereka dengan antusias. Untuk sesaat, Alya benar-benar merasa seperti seorang ibu. Rasa lelah dan beban berat di pundaknya akibat memikirkan penyakit ibunya seolah terangkat begitu saja berkat tawa kedua bocah ini.

Namun, kehangatan itu mendadak surut ketika sebuah bayangan tinggi besar muncul di pintu ruang makan.

Adrian Vasillo berdiri di sana. Jas hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan lengan bawahnya yang kokoh dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Tatapannya masih sedingin es, namun ada sedikit kilat keterkejutan di matanya saat melihat mangkuk bubur di tangan Alya sudah hampir kosong.

Suasana ruang makan mendadak hening. Bik Sum segera menunduk hormat dan mundur ke belakang.

"Papa!" panggil Leon, nadanya jauh lebih datar dibandingkan saat ia memanggil Alya. Anak itu tampak langsung menegakkan punggungnya, meniru sikap formal ayahnya.

Adrian berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di kepala meja yang berada tak jauh dari posisi Alya. Ia menatap kedua putranya, lalu beralih ke Alya.

"Mereka menghabiskan makanannya?" tanya Adrian dingin, tertuju pada Alya.

"Iya, Tuan Vasillo. Leon dan Lulu makan dengan sangat lahap," jawab Alya formal, mencoba menjaga jarak profesional seperti yang diminta Adrian sebelumnya.

Lulu yang menyadari perubahan nada bicara di antara kedua orang dewasa itu mendongak, menatap Adrian dengan polos. "Papa, kenapa panggil Mama dengan nama 'Nona Alya'? Nama Mama kan Mama!"

Pertanyaan polos Lulu sukses membuat Alya membeku. Ia melirik Adrian dengan panik, tidak tahu harus menjawab apa.

Adrian sendiri tampak tidak terganggu. Ia meraih cangkir kopi hitam yang baru saja diletakkan oleh pelayan lain di hadapannya, menyesapnya perlahan sebelum menjawab, "Itu hanya panggilan sayang Papa untuk Mamamu, Lulu."

Uhuk!

Alya hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar jawaban lancar yang keluar dari bibir pria dingin itu. 'Panggilan sayang'? Yang benar saja! Pria itu bahkan menatapnya seolah ingin melemparnya keluar dari jendela griya tawang ini beberapa menit yang lalu.

Adrian melirik Alya sekilas dari balik cangkir kopinya, seulas senyum tipis yang tampak lebih seperti seringai mengejek terukir di sudut bibirnya yang seksi. "Benar kan, Sayang?"

Alya mengepalkan tangannya di bawah meja, wajahnya memanas bukan karena baper, melainkan karena menahan kekesalan akibat akting luar biasa sang CEO. Namun, demi anak-anak, ia terpaksa memasang senyum termanisnya.

"I-iya, Lulu... Papa hanya sedang bercanda," jawab Alya terbata-bata, menatap Adrian dengan pandangan yang seolah berkata, 'Tolong hentikan akting gila ini.'

Leon yang tampak lebih kritis memperhatikan interaksi keduanya, lalu mengangguk-angguk kecil. "Kalau begitu, Mama juga harus punya panggilan sayang untuk Papa! Seperti di film-film yang ditonton Bik Sum, panggilnya 'Hubby' atau 'Mas'!"

Mendengar ucapan Leon, giliran Adrian yang hampir tersedak kopinya. Pria itu meletakkan cangkirnya dengan sedikit sentakan ke atas meja, membuat bunyi berdenting yang cukup keras. Mata elangnya menatap Leon dengan tajam, namun sang putra sulung justru membalasnya dengan tatapan polos tanpa dosa.

Alya menahan senyum kemenangannya melihat sang CEO akhirnya terkena batunya sendiri akibat ulah putranya yang kelewat cerdas.

"Leon, Papa dan Mama..." Alya mencoba mencari alasan, namun Lulu buru-buru memotong.

"Ayo Mama panggil Papa! Lulu mau dengar!" desak Lulu sambil bertepuk tangan gembira.

Alya melirik Adrian yang kini sedang menatapnya dengan pandangan memperingatkan—sebuah ancaman tersirat agar Alya tidak berani macam-macam. Namun, adrenalin di dalam diri Alya mendadak melonjak. Pria ini sudah mengintimidasi dan merendahkannya sejak awal pertemuan mereka. Sedikit pembalasan lewat permainan anak-anak rasanya tidak akan membuat kontrak mereka batal, bukan?

Alya mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Adrian, tersenyum manis dengan binar jenaka di matanya yang sengaja ia tunjukkan hanya pada pria itu.

"Tentu saja, Lulu. Kalau di rumah, Mama biasanya panggil Papa dengan sebutan... Mas Adrian," ucap Alya dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan, bahkan terdengar sedikit manja.

Rahang Adrian mengeras seketika. Gelas kopi di tangannya seolah siap pecah akibat cengkeramannya yang mengencang. Sorot mata pria itu menggelap, memancarkan aura berbahaya yang siap menerkam Alya kapan saja.

"Mas Adrian?" ulang Leon, mencoba mengeja panggilan tersebut. "Kedengarannya bagus!"

"Iya! Mas Papa!" sahut Lulu asal-asalan yang langsung memicu tawa kecil dari Alya.

Di tengah tawa riang si kembar, Adrian condong ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah Alya hingga wanita itu bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di pipinya.

"Kau berani bermain-main denganku, Nona Alya?" bisik Adrian, suaranya begitu rendah dan tajam, hanya bisa didengar oleh Alya seorang.

Alya tidak mundur. Ia membalas tatapan itu dengan keberanian yang entah datang dari mana. "Saya hanya mengikuti alur permainan yang Tuan mulai," bisiknya balik dengan senyuman yang tetap terkembang di bibirnya.

Adrian menatap bibir ranum Alya yang tersenyum menantang, lalu beralih kembali ke mata wanita itu. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ada seorang wanita yang berani menatapnya tanpa rasa takut, bahkan berani membalas intriknya.

"Kita lihat seberapa lama kamu bisa mempertahankan keberanianmu ini di rumahku, Istriku," bisik Adrian penuh penekanan yang sarat akan ancaman, sebelum akhirnya ia kembali menegakkan tubuhnya dan mengalihkan perhatian pada anak-anaknya.

Alya merasakan debaran aneh di dadanya. Itu bukan debaran cinta, melainkan debaran waspada. Ia tahu, dengan membalas Adrian, ia baru saja membangunkan seekor singa yang sedang tidur. Dan mulai detik ini, hidupnya di dalam griya tawang Keluarga Vasillo tidak akan pernah sama lagi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!