Indonesia
NovelToon NovelToon

Aku Rela Bangkit Dari Kematian Demi Cintaku Dengan Musuhku

Hari Pertama, Musuh Lama

Pagi itu, langit di atas SMA Mahardika High School bersih tanpa awan, seolah menyambut ratusan siswa baru dengan keceriaan yang dipaksakan. Gerbang besi hitam menjulang tinggi, dikerumuni oleh barisan remaja berseragam putih-biru yang tampak asing dan canggung, mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru mereka di hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Di seberang jalan, sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti di tepi trotoar. Di dalam mobil, suasana justru terasa sangat hangat, jauh dari ketegangan yang merayap di luar sana.

"Sini dulu, Ray. Dasinya masih miring itu," panggil Anindya Mahendra, sang ibu, seraya mencondongkan tubuhnya ke kursi belakang. Jemari lembutnya yang terbiasa memegang peralatan medis kini dengan telaten merapikan dasi abu-abu putra sulungnya.

Rayyan Steven Mahendra hanya bisa mendesah pasrah, membiarkan ibunya melakukan tugasnya. "Ma, udah rapi kok. Nanti malah telat akunya."

"Telat apa telat? Bilang aja malu dilihatin temen baru," celetuk Reina, adik perempuan Rayyan yang baru berusia dua belas tahun, dari kursi sebelah ibunya. Gadis kecil itu menjulurkan lidahnya jahil. "Liat tuh, mukanya tegang banget kayak mau disuntik mati."

"Reina, mulutnya," tegur Steven Mahendra, sang ayah, dari balik kemudi. Meski menegur, matanya yang tegas tampak berkilat jenaka lewat kaca spion tengah. Ia menepuk bahu Rayyan pelan. "Belajar yang bener, Ray. Jangan bikin rusuh di sekolah baru."

"Yang sering bikin rusuh kan bukan Rayyan, Pa, tapi tetangga sebelah," gerutu Rayyan pelan, yang langsung disambut tawa kecil dari ayahnya.

Sebelum turun, Rayyan dengan sengaja mengacak-acak rambut Reina hingga adiknya itu berteriak kesal. "Diem lo, bocil! Jagain tuh boneka lu di rumah biar gak ilang!"

"Ih, Kak Rayyan menyebalkan!" jerit Reina, merapikan rambutnya dengan cemberut.

Anindya tersenyum lembut, mengelus pipi Rayyan sekilas. "Hati-hati di jalan ya, Sayang. Pulang sekolah langsung kabari Mama."

"Siap, Ma. Pa, Rayyan berangkat dulu."

Rayyan menutup pintu mobil dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya. Kehangatan keluarganya selalu menjadi pelindung terbaiknya dari kerasnya dunia luar. Ia tidak pernah tahu bahwa momen kecil, tawa remeh, dan usapan lembut ibunya pagi itu adalah kepingan memori terakhir yang akan ia bawa sebelum takdir merenggut semuanya.

...****************...

Begitu menginjakkan kaki di halaman Mahardika High School, Rayyan langsung disambut oleh seruan familier dari arah koridor dekat aula.

"Woy, si paling pinter akhirnya dateng juga!"

Zidan Pramudya melambaikan tangannya tinggi-tinggi, disusul oleh Nathael Wijaya, Jovian Kusuma, dan Elvano Mahastara yang sedang bersandar di pilar koridor. Mereka berlima sudah bersahabat sejak SMP, dan untungnya, semuanya berhasil lolos masuk ke sekolah elit ini.

"Gila, rapi bener lu, Ray. Gak cocok ama muka lu yang biasanya kucel habis begadang main game," ledek Nathael, langsung merangkul pundak Rayyan begitu cowok itu mendekat.

"Dianter nyokap-bokap ya tadi? Manja bener si anak kesayangan," sahut Elvano sambil terkekeh, menyodorkan sekotak susu cokelat yang langsung direbut Rayyan tanpa permisi.

"Bawel lu pada," balas Rayyan setelah meneguk susu tersebut. "Masih untung gua dateng tepat waktu. Daripada lu, El, muka lu masih sisa bantal gitu. Belum mandi ya lu?"

"Sialan, mandi gua! Pake parfum mahal malah!" bela Elvano, pura-pura tersinggung.

Di sela tawa dan ejekan ringan khas remaja putra, Jovian mendadak mendekatkan wajahnya, menurunkan nada suaranya menjadi lebih serius. "Eh, tapi serius deh. Lu pada udah liat daftar pembagian kelas sementara belum?"

"Belum. Emang kenapa?" tanya Zidan.

Jovian menghela napas panjang, menatap Rayyan dengan pandangan prihatin yang dibuat-buat. "Lu harus siap-siap mental, Ray. Si raja iblis... masuk sini juga."

Seketika, tawa di antara mereka mereda. Rayyan menghentikan gerakannya yang hendak membuang kotak susu kosong ke tempat sampah. Satu nama langsung terlintas di kepalanya, memicu rasa asam di lambungnya yang mendadak bergejolak.

"Revan?" bisik Nathael, memastikan.

"Siapa lagi kalau bukan anak konglomerat Sanjaya itu?" Jovian mengedikkan bahu. "Gua denger dia satu kelas lagi sama kita. Takdir lu emang seburuk itu ya, Ray."

Rayyan mendengus dingin, berusaha mengabaikan debaran tidak nyaman di dadanya. "Bodo amat. Selama dia nggak nyari ribut duluan, gua males ngelayanin anak manja kayak dia."

...****************...

Vroom! Vroooooom!

Suara raungan mesin motor sport berkapasitas besar mendadak membelah kebisingan halaman sekolah. Suara knalpot yang bising dan sengaja digeber itu seketika menarik perhatian seluruh siswa baru, bahkan beberapa panitia OSIS yang sedang berjaga di dekat gerbang langsung menoleh dengan dahi berkerut.

Sebuah motor sport hitam legam meluncur masuk ke area parkir dengan kecepatan yang tidak semestinya di lingkungan sekolah. Di belakangnya, menyusul empat motor sport lain yang tak kalah bising.

Penunggang motor hitam itu melepas helm full-face-nya, membiarkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan jatuh menghalangi dahinya. Revan Devano Sanjaya. Cowok itu turun dari motor dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Seragam putih abu-abunya sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya di bagian atas, memperlihatkan kaus hitam di dalamnya. Di buku-buku jarinya, masih terlihat bekas luka goresan merah yang belum sepenuhnya kering bukti nyata dari perkelahian jalanan yang baru ia lalui kemarin malam.

Di belakangnya, menyusul geng setianya: Kevin Mahardika, Axel Danendra, Darren Wicaksana, dan Leon Pradipta. Mereka berlima berjalan melewati kerumunan siswa baru seperti sekelompok predator yang menguasai wilayah baru.

"Baru hari pertama, lagaknya udah kayak yang punya sekolah," bisik Zidan sinis, yang langsung disenggol oleh Jovian agar diam.

Revan berjalan dengan langkah santai, kedua tangannya tenggelam di saku celana abu-abunya. Namun, langkahnya mendadak melambat saat matanya menangkap sosok ramping yang berdiri di dekat koridor aula.

Mata gelap Revan mengunci pandangan Rayyan.

Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Angin pagi yang berembus terasa mendingin dalam sekejap. Siswa-siswa lain yang menyadari sejarah permusuhan berdarah-darah antara dua cowok ini sejak SD perlahan-lahan mundur, memberikan ruang kosong di antara keduanya seolah takut terkena percikan api.

Revan menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di depan Rayyan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang sangat menyebalkan.

"Masih hidup aja, ya," ucap Revan datar, namun sarat akan provokasi.

Rayyan tidak mundur satu sentimeter pun. Ia membalas tatapan tajam Revan dengan mata yang menyipit dingin. "Kecewa?"

"Lumayan," sahut Revan, memiringkan kepalanya sedikit. "Gua pikir lu bakal hanyut di parit waktu badai kemarin."

"Sayang banget," Rayyan mendengus pelan, melipat kedua tangannya di depan dada. "Gua juga masih berharap lu pindah sekolah, atau minimal masuk jurang biar dunia lebih tenang."

Rahang Revan mengeras mendengar jawaban telak itu. Ia maju satu langkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga Rayyan bisa mencium aroma samar rokok dan parfum maskulin yang tajam dari tubuh cowok itu.

"Mulut lu masih seberisik dulu, Ray," bisik Revan rendah, matanya berkilat berbahaya.

"Dan lu masih sebodoh dulu, Rev," balas Rayyan tanpa rasa takut sedikit pun.

Melihat situasi yang mulai memanas, Kevin Mahardika segera menepuk bahu Revan kasar. "Rev, hari pertama. Tahan dulu ego lu. Jangan bikin bokap lu dipanggil ke sekolah lagi sebelum upacara dimulai."

Di pihak lain, Zidan juga langsung menarik lengan Rayyan mundur. "Ray, santai. Jangan kepancing. Ada banyak guru di belakang lu."

Ketegangan itu akhirnya pecah saat suara dehaman keras terdengar dari arah belakang mereka.

"Heh! Kalian berdua yang di sana! Mau jadi tontonan?!"

Pak Arip, wali kelas sekaligus guru BK yang terkenal dengan ketegasannya, berjalan mendekat dengan penggaris kayu panjang di tangannya. Matanya menatap tajam ke arah Revan dan Rayyan bergantian.

"Hari pertama MPLS sudah mau bikin geng-gengan? Bubar semua! Masuk ke aula sekarang! Siapa yang saya lihat membuat keributan lagi, langsung saya jemur di tengah lapangan sampai sore!" ancam Pak Arip dengan suara menggelegar.

Siswa-siswa di sekitar langsung berhamburan pergi menuju aula demi menghindari amukan sang guru BK.

Revan menatap Pak Arip sekilas dengan pandangan malas, lalu kembali menatap Rayyan. Sebelum melangkah pergi, Revan sengaja berjalan sangat dekat di samping Rayyan dan...

Brak.

Bahu lebar Revan menyenggol bahu Rayyan dengan keras hingga cowok itu sedikit terhuyung. Namun, Rayyan dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya, berbalik, dan membalas menyenggol bahu Revan dari belakang dengan tenaga yang tak kalah kuat.

Revan sempat menghentikan langkahnya, menoleh sedikit ke belakang dengan kilatan amarah di matanya, sebelum akhirnya tertawa hambar dan melanjutkan jalannya bersama gengnya.

Rayyan mengepalkan tangannya di dalam saku celana, menatap punggung tegap Revan yang perlahan menjauh. Hari pertama baru saja dimulai, tetapi satu hal yang pasti: SMA Mahardika tidak akan pernah menjadi tempat yang tenang bagi mereka berdua. Permusuhan masa kecil mereka kini telah bersemi kembali di tanah yang baru, lebih tajam, lebih berbahaya, dan siap meledak kapan saja.

Bangku Sebelah Musuh

Kertas pembagian kelas sementara yang tertempel di papan pengumuman mading depan kelas X-1 terasa seperti surat vonis mati bagi Rayyan. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, berharap nama yang tertulis di urutan nomor lima belas dan enam belas itu hanyalah salah cetak. Namun, dunia nyata tidak pernah sebahtiar itu padanya.

Rayyan Steven Mahendra.

Revan Devano Sanjaya.

Mereka berada di kelas yang sama. Lagi.

"Gua rasa panitia MPLS-nya punya dendam pribadi sama lu, Ray," bisik Zidan, menepuk pundak Rayyan dengan wajah penuh simpati yang dibuat-buat.

Rayyan hanya bisa menghela napas kasar, meraup wajahnya gusar. "Gua mau pindah sekolah aja rasanya."

"Telat, bego. Lu udah bayar uang pangkal," sahut Nathael dari belakang, langsung mendorong Rayyan masuk ke dalam ruang kelas yang sudah mulai ramai.

Begitu melangkah melewati pintu, hal pertama yang ditangkap oleh indra penglihatannya adalah Revan. Cowok itu sudah duduk santai di barisan ketiga dekat jendela posisi strategis untuk bolos atau tidur saat pelajaran berlangsung. Kaki panjangnya sengaja diselonjorkan ke lorong meja, sementara tangannya sibuk memutar-mutar sebuah pulpen hitam mahal dengan gerakan lincah.

Tatapan mereka sempat beradu selama dua detik, dingin dan sarat permusuhan, sebelum Rayyan memutuskan untuk memalingkan wajah dan berjalan menuju barisan bangku di seberang ruangan, sejauh mungkin dari Revan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Pintu kelas bergeser terbuka, menampilkan sosok Pak Arip yang membawa map tebal dan spidol hitam. Guru BK sekaligus wali kelas mereka itu melangkah dengan wibawa yang membuat seisi kelas langsung senyap.

"Selamat pagi semuanya," sapa Pak Arip, matanya menyapu seisi kelas sebelum menghela napas melihat beberapa kursi kosong. "Karena hari ini masih hari pertama dan ada sekitar lima siswa yang belum hadir karena kendala administrasi di aula, bapak akan mengatur tempat duduk kalian untuk sementara waktu."

Rayyan mulai merasakan firasat buruk. Jemarinya mencengkeram pinggiran meja kayu di depannya.

Pak Arip mulai menunjuk satu per satu siswa, memindahkan mereka agar barisan depan dan tengah terisi penuh tanpa ada bangku kosong yang tersisa di antara mereka. Sialnya, bangku kosong yang tersisa hanya ada di barisan ketiga dekat jendela.

Tepat di sebelah Revan.

Pak Arip menatap dokumen di tangannya, lalu menatap Rayyan. "Rayyan, kamu pindah ke bangku kosong di sebelah Revan. Biar barisan tengah ini rapi."

Seketika, atmosfer di dalam kelas X-1 mendadak berubah riuh oleh bisikan-bisikan tertahan.

"Pak, serius?" Chelsea Aurelia, salah satu teman sekelas mereka yang duduk di barisan depan, langsung berbalik arah dan berbisik heboh pada teman sebangkunya.

Naomi Pradipta buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan, berusaha keras menahan tawa yang hampir menyembur. "Mampus, bakal ada perang dunia ketiga di kelas kita."

Di sudut lain, Kevin Mahardika hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, menatap Revan dengan pandangan tolong-jangan-bikin-ulah-lagi. Sementara Zidan, sahabat dekat Rayyan, langsung memukul pelan dahinya sendiri dengan telapak tangan. "Habis sudah..." gumamnya frustrasi.

Rayyan langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "Pak... jangan gua, deh. Saya duduk di belakang aja gak apa-apa, atau di lantai juga boleh."

Di seberang ruangan, Revan ikut mengangkat tangannya dengan malas. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak sangat tidak bersahabat. "Gua juga nolak, Pak. Ogah gua sebangku sama orang yang hobi ngadu."

"Saya tidak menerima penolakan," potong Pak Arip tegas, mengetukkan penggaris kayunya ke meja guru hingga menimbulkan suara keras yang membuat seisi kelas bungkam. "Kalian berdua ini sudah SMA, sudah cukup dewasa untuk duduk berdampingan tanpa membuat masalah. Lagipula ini hanya untuk sementara sampai MPLS selesai. Rayyan, cepat pindah."

Dengan langkah kaki yang terasa seberat timbal, Rayyan menyeret tas ranselnya. Setiap langkahnya menuju meja Revan terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Ia menarik kursi kayu di sebelah Revan dengan sentakan kasar, menimbulkan suara derit yang sengaja ia buat senyaring mungkin.

Revan sama sekali tidak menoleh, namun sudut bibirnya berkedut sinis.

...****************...

Lima menit pertama pelajaran berlangsung dengan ketenangan yang menipu. Pak Arip sibuk menuliskan struktur organisasi kelas di papan tulis, dan seluruh siswa tampak menyalinnya dengan tenang. Rayyan memfokuskan pandangannya sepenuhnya ke depan, mengabaikan eksistensi makhluk di sebelahnya.

Namun, memasuki menit keenam, badai kecil mulai datang.

Rayyan merasakan sebuah benturan keras di tulang keringnya di bawah meja.

Dug.

Rayyan menggeretakkan giginya. Ia melirik Revan lewat sudut matanya. Cowok itu masih santai menatap papan tulis dengan pulpen di mulutnya, seolah-olah kakinya tidak baru saja menendang kaki Rayyan dengan sengaja.

Tanpa suara, Rayyan menggeser posisi duduknya sedikit, lalu melayangkan tendangan balasan yang tak kalah kuat ke arah tulang kering Revan.

Brak.

Revan sedikit tersentak. Alis tebalnya bertaut. Di bawah meja, duel kaki itu pun dimulai. Mereka saling menendang, menyelengget, dan menekan sepatu satu sama lain dengan kekuatan penuh, sementara wajah mereka di atas meja tetap tertekuk datar seolah tidak terjadi apa-apa.

Menit ketujuh, situasi bergeser ke atas meja.

Meja ganda yang mereka tempati sebenarnya cukup luas, namun Revan dengan sengaja melebarkan kedua siku tangannya hingga memakan tiga perempat area meja. Siku tegap Revan menyenggol lengan Rayyan yang sedang menulis.

Sret!

Garis pulpen di buku Rayyan tercoret panjang dan berantakan.

Rayyan mengembuskan napas panjang lewat hidung, mencoba menahan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun. Ia membalas dengan menyikut lengan Revan menggunakan seluruh tenaganya hingga pulpen di tangan Revan terlepas dan menggelinding.

Buk!

"Lu apa-apaan sih?" desis Revan rendah, suaranya sarat ancaman.

"Lu yang apa-apaan, bangsat. Meja segede gini masih kurang buat badan lu yang kayak raksasa itu?" balas Rayyan tak kalah tajam, suaranya tertahan agar tidak terdengar sampai ke depan.

Menit kedelapan, provokasi Revan semakin menjadi-jadi.

Dengan gerakan jari yang sangat kasual, Revan menyentil ujung buku catatan Rayyan yang sedikit melewati batas tengah meja. Sentilan itu cukup kuat untuk membuat buku tebal milik Rayyan meluncur bebas dan jatuh ke lantai kelas yang berdebu.

Plak.

"Sori, kesenggol," ucap Revan datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun di suaranya.

Rayyan tersenyum sinis. Ia tidak berniat mengambil bukunya terlebih dahulu. Sebaliknya, mata indahnya melirik ke arah tempat pensil kulit milik Revan yang diletakkan di dekat pembatas meja. Tanpa ragu, Rayyan melayangkan satu dorongan kuat menggunakan telapak tangannya, mengirim tempat pensil mewah itu terbang dan mendarat dengan suara nyaring di lantai lorong kelas.

Klonthang!

Beberapa pulpen dan penggaris besi di dalamnya berhamburan keluar.

Seketika seisi kelas menoleh ke arah sumber suara. Zidan menepuk jidatnya lagi, sementara Kevin hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah kedua musuh bebuyutan itu yang benar-benar tidak mencerminkan anak SMA berumur enam belas tahun.

"Bocah SD banget, sumpah," bisik Alvaro Prasetyo dari barisan belakang, disambut anggukan setuju dari teman-teman di sekitarnya.

Revan menatap tempat pensilnya yang berserakan di lantai, lalu perlahan memutar kepalanya untuk menatap Rayyan. Matanya berkilat marah, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya tercetak jelas.

"Lu nantang gua?" desis Revan. Tangannya bergerak cepat mencengkeram bagian depan kerah seragam Rayyan di bawah meja, menarik tubuh ramping itu mendekat hingga jarak wajah mereka terkikis habis.

Rayyan tidak tinggal diam. Tangan kanannya mengepal kuat, siap dilayangkan ke arah rahang Revan yang kokoh. "Emang kenapa kalau gua nantang lu? Hah?!"

"Rayyan! Revan!"

Suara bentakan Pak Arip membelah ketegangan di antara mereka. Guru BK itu sudah berdiri di depan meja mereka dengan penggaris kayu yang siap diayunkan.

"Kalian berdua berdiri di depan sekarang juga!" perintah Pak Arip, matanya membelalak marah. "Baru hari pertama kalian sudah mau baku hantam di kelas saya?! Cepat berdiri!"

Dengan napas yang masih memburu dan mata yang saling mengunci penuh kebencian, kedua cowok itu akhirnya melepaskan cengkeraman masing-masing dan berdiri tegak di samping meja mereka. Selama sisa jam pelajaran, mereka harus menanggung malu dihukum berdiri di depan kelas dengan tangan menjewer telinga masing-masing sebuah pemandangan konyol yang justru semakin memupuk api permusuhan di antara mereka.

Begitu bel tanda istirahat berbunyi dan Pak Arip keluar dari kelas, Revan langsung menyambar tasnya kasar. Ia menatap Rayyan yang sedang merapikan bukunya yang kotor terkena debu lantai.

"Urusan kita belum selesai," bisik Revan tepat di sebelah telinga Rayyan sebelum melangkah pergi meninggalkan kelas bersama gengnya.

Rayyan menatap punggung tegap itu dengan kepalan tangan yang mengeras. "Gua juga gak bakal lepasin lu gitu aja, bajingan."

Luka Lama Belum Sembuh

Aroma kuah bakso dan es jeruk di kantin SMA Mahardika yang ramai tidak mampu mencairkan ketegangan yang dibawa Rayyan ke mejanya. Di sudut kantin, Rayyan duduk bersama Zidan dan Nathael. Bahunya masih terasa pegal setelah dihukum menjewer kuping sendiri di depan kelas selama hampir satu jam bersama Revan.

"Nih, kompres gih. Merah bener itu kuping lu," ujar Nathael, menyodorkan sekaleng tebu dingin ke pipi Rayyan, membuat cowok itu sedikit tersentak karena rasa dingin yang mendadak.

"Gara-gara si bajingan itu," gerutu Rayyan, menerima kaleng tersebut dan menempelkannya ke daun telinganya yang panas. "Sengaja banget dia mancing gua. Kalau bukan di hari pertama sekolah, udah gua patahin tuh kaki panjangnya."

"Tapi heran gua," Zidan menopang dagunya, menatap Rayyan dengan selidik. "Kalian berdua tuh musuhannya awet bener, ya. Dari kelas satu SD sampai sekarang udah seragam abu-abu, tensinya gak pernah turun. Rekor, sih."

"Gak usah dibahas," potong Rayyan cepat, matanya menatap mangkuk baksonya dengan pandangan kosong.

Sebelum Zidan sempat membalas, suara bisikan-bisikan dari meja sebelah yang ditempati oleh Chelsea, Naomi, dan Bianca terdengar sayup-sayup namun cukup jelas di telinga mereka. Tiga siswi itu tampaknya sedang asyik membahas topik hangat hari ini: drama hukuman berdiri di kelas X-1.

"Eh, seriusan deh, lu tahu gak sih kenapa Revan sama Rayyan tuh benci-bencian parah?" tanya Naomi, mencondongkan tubuhnya ke tengah meja dengan mata berbinar penasaran.

"Bukannya karena rebutan wilayah pas SMP?" sahut Bianca asal tebak.

"Bukan, bego! Ini mah dari SD," Chelsea memotong dengan nada sok tahu. "Gue denger dari sepupu gue yang sesama alumni SD mereka, dulu tuh si Revan pernah hampir ngebunuh Rayyan. Katanya Revan sengaja ngedorong Rayyan dari atap gedung sekolah pas mereka berantem, makanya Rayyan trauma setengah mati."

Rayyan yang mendengar itu hampir saja tersedak udara. Ia meremas kaleng dingin di tangannya hingga berbunyi penyok. Didorong dari atap? Rumor murahan macam apa itu?

"Hah? Masa sih?" Naomi tampak tidak percaya. "Tapi cowok gue yang temennya Kevin bilang kebalikannya tahu. Katanya, dulu Rayyan yang berkhianat. Dia ngelaporin rahasia keluarga Sanjaya ke bokapnya Revan, terus Revan dihajar abis-abisan sama bokapnya sendiri sampai masuk rumah sakit. Makanya Revan benci banget sama Rayyan karena ngerasa ditusuk dari belakang."

"Dih, masa? Tapi kok mukanya Rayyan kayak yang tertindas gitu ya..."

Zidan yang menyadari rahang Rayyan semakin mengeras langsung berdeham keras, sengaja menyindir meja sebelah. "Ehem! Gosipnya kenceng bener ya, neng. Gak takut keselek mangkok?"

Mendengar sindiran itu, Chelsea dan kawan-kawannya langsung bungkam, buru-buru memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk dengan ponsel mereka.

Rayyan menghela napas panjang, meletakkan kaleng tebu dingin itu ke meja. Ingatannya mendadak berputar ke masa lalu, menyeretnya ke sebuah memori usang yang sudah lama ia coba kubur dalam-dalam.

Dulu... semuanya tidak seperti ini.

Ada satu masa di mana halaman rumah mereka di Maheswara Residence dipenuhi oleh tawa dua anak kecil yang selalu berbagi mainan yang sama. Ada masa di mana Revan kecil akan berdiri di depan Rayyan yang menangis karena terjatuh, lalu berkata, "Gak usah nangis, Ray. Selagi ada gua, gak ada yang boleh bikin lu nangis."

Namun, ingatan hangat itu langsung hancur berkeping-keping, digantikan oleh bayangan pecahan kaca yang berserakan, suara teriakan histeris di malam yang hujan, aroma darah yang anyir, dan tatapan mata Revan kecil yang berubah menjadi begitu dingin, asing, dan penuh kebencian yang mendalam.

Hari itu... semua kehangatan itu mati.

...****************...

Di saat yang sama, di rooftop sekolah yang berangin, Revan berdiri bersandar di pembatas kawat. Di tangannya ada sebatang rokok yang belum dinyalakan. Matanya menatap hamparan lapangan basket di bawah sana dengan pandangan datar.

Kevin datang membawa dua botol minuman soda, melemparkan salah satunya yang langsung ditangkap Revan dengan satu tangan tanpa menoleh.

"Masih mikirin si Rayyan?" tanya Kevin kasual, membuka tutup botolnya sendiri.

"Gak penting," jawab Revan dingin, memasukkan rokok yang belum dinyalakan itu kembali ke dalam sakunya.

"Rev, gua temen lu dari SD. Gua tahu lu berdua kayak gimana dulu," Kevin menatap sahabatnya itu dengan serius. "Kalian berdua tuh nempel mulu kayak perangko. Lu yang selalu belain dia kalau ada anak komplek lain yang usil. Kenapa setelah... insiden itu, lu malah jadi yang paling pengen ngehancurin dia?"

Revan tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, memperlihatkan gurat kemarahan yang tertahan. Tangannya mencengkeram botol soda di tangannya hingga plastiknya berderit keras.

"Dia yang mulai, Kev," bisik Revan, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Dia yang ngehancurin semua kepercayaan gua. Dia yang bikin gua sadar kalau di dunia ini... gak ada yang namanya sahabat."

"Tapi apa lu yakin kejadian waktu itu murni salah dia?" selidik Kevin lagi. "Maksud gua, kita masih bocah pas itu. Bisa aja ada yang salah paham—"

"Gua liat dengan mata kepala gua sendiri!" sentak Revan, memotong ucapan Kevin dengan nada tinggi. Napasnya memburu cepat, matanya berkilat penuh luka lama yang kembali terbuka lebar. "Gua gak mau bahas ini lagi. Sekali lagi lu sebut nama dia di depan gua, gua gak bakal ragu buat hajar lu juga, Kev."

Kevin mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Oke, oke. Sori. Gua cuma gak mau lu nyesel aja nanti."

Revan memalingkan wajahnya kembali ke arah lapangan, mengabaikan ucapan Kevin. Menyesal? Baginya, kata itu sudah tidak ada gunanya lagi. Luka yang digoreskan Rayyan terlalu dalam, dan satu-satunya cara untuk meredakan rasa sakit itu adalah dengan memastikan Rayyan merasakan penderitaan yang sama setiap kali melihat dirinya.

...****************...

"Rayyan Steven Mahendra. Revan Devano Sanjaya."

Suara berat dan berwibawa milik Pak Diman, guru BK senior SMA Mahardika, memecah kesunyian di dalam ruang bimbingan konseling yang ber-AC dingin. Di depan mejanya, Rayyan dan Revan duduk di dua kursi kayu yang bersebelahan namun dengan jarak yang sengaja dibuat sejauh mungkin.

Pak Diman menatap lembar rekam jejak kedua siswa baru itu lewat kacamata tebalnya.

"Kalian berdua baru hari pertama sekolah, tapi sudah mengantongi laporan pelanggaran dari Pak Arip," Pak Diman meletakkan berkas tersebut ke meja dengan ketukan pelan yang terasa mengintimidasi. "Dan bapak sudah membaca riwayat kalian dari sekolah menengah pertama. Kasus perkelahian di luar sekolah, tawuran geng... dan nama kalian berdua selalu tertulis di lembar yang sama."

Baik Rayyan maupun Revan memilih bungkam, menatap lurus ke arah dinding di belakang meja Pak Diman.

"Bapak tahu kalian tetangga dekat di Maheswara Residence. Orang tua kalian pun saling mengenal dengan baik," lanjut Pak Diman, nadanya melunak namun tetap tegas. "Bapak tidak peduli apa yang terjadi di antara kalian di masa lalu. Entah itu masalah keluarga, persaingan, atau apa pun yang membuat kalian saling membenci. Tapi ingat ini baik-baik..."

Pak Diman memajukan tubuhnya, menatap kedua remaja itu dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Di ruangan ini, bapak bisa merasakan ketegangan yang sangat tidak wajar. Setiap kali kalian berada di ruangan yang sama, hawanya selalu seperti bom waktu yang siap meledak."

"Jika bapak sampai mendengar atau melihat kalian berdua membuat keributan lagi sekecil apa pun itu bapak tidak akan segan-segan merekomendasikan skorsing langsung kepada kepala sekolah. Paham?"

"Paham, Pak," jawab Rayyan dengan nada datar yang patuh.

Revan hanya bergumam malas sebagai jawaban.

"Bagus. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas."

Begitu melangkah keluar dari ruang BK yang dingin, atmosfer hangat koridor sekolah langsung terasa mencekik kembali. Revan berjalan mendahului Rayyan, namun begitu sampai di persimpangan koridor yang sepi, ia mendadak menghentikan langkahnya.

Rayyan ikut berhenti, tiga langkah di belakang Revan.

Revan berbalik perlahan, menatap Rayyan dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara benci, muak, dan setitik rasa sakit yang coba ia sembunyikan rapat-rapat.

"Inget kata guru BK tadi," desis Revan dingin. "Jangan cari mati di depan gua, Ray. Karena kali ini... gua gak bakal tanggung jawab kalau lu beneran hancur."

Rayyan menatap musuh lamanya itu dengan mata yang tak kalah tajam, meski di dalam dadanya, ada denyut nyeri yang samar dari luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

"Gua gak pernah butuh tanggung jawab dari lu, Rev," balas Rayyan dingin, sebelum melangkah melewati Revan tanpa menoleh lagi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!