Kehidupan Arumi dulu sangat membosankan, seperti garis lurus yang tidak punya ujung. Setiap hari alarm ponselnya yang sudah retak akan berbunyi tepat jam enam pagi. Dia akan bangun, mandi dengan terburu-buru, menyeruput kopi sachet yang rasa manisnya terlalu menyengat, lalu berangkat kerja dengan kereta komuter yang sesak. Arumi bukanlah orang yang punya rencana besar. Dia tidak punya ambisi untuk sukses dengan cepat. Satu-satunya hal yang dia tahu pasti adalah dia benci dapur. Baginya, kegiatan memasak hanyalah membuang waktu. Dapur baginya adalah tempat yang penuh dengan ancaman, bawang putih yang membuat tangan bau, minyak panas yang bisa menciprat kapan saja, dan cucian piring yang menumpuk. Jika lapar, dia lebih memilih untuk membeli makanan di luar atau sekadar menyeduh mi instan. Hidupnya simpel, pas-pasan, dan monoton.
Sore itu, rencananya cuma mau beli sate ayam langganan di depan stasiun. Suasana stasiun sedang ramai sekali, penuh dengan orang-orang yang ingin pulang ke rumah. Bau asap knalpot bercampur dengan aroma minyak goreng dari pedagang kaki lima di pinggir jalan. Arumi berjalan santai di trotoar, pikirannya melayang pada rencana makan malam yang sangat simpel mungkin mi instan dengan telur rebus saja. Saat sedang menunggu giliran, suasana mendadak pecah. Suara ban truk pengangkut material berdecit keras di aspal, disusul jeritan histeris orang-orang di sekitar. Arumi menoleh ke sumber suara dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di depan sana, ada anak kecil berdiri bengong di tengah jalan karena truk itu oleng kehilangan kendali. Tanpa pikir panjang, kaki Arumi bergerak sendiri. Dia lari, melompat, dan mendorong anak itu ke pinggir jalan. Tapi, nasib memang sedang tidak berpihak. Tubuh Arumi tersambar bodi truk yang melaju kencang sebelum ia sempat menghindar. Semuanya gelap.
Arumi membuka mata. Napasnya terasa sangat panjang dan dalam. Aku masih hidup?
Pemandangannya bukan lagi langit-langit kamar kosnya yang penuh retakan, melainkan sebuah ruangan luas dengan belasan ranjang besi tingkat yang ditumpuk rapi. Bau apek keringat, aroma semir sepatu yang tajam, dan debu yang menempel di tembok cat krem yang mulai mengelupas menyeruak masuk ke indra penciumannya. Dia mencoba bangkit, tapi kepalanya terasa berdenyut hebat, seolah ada palu yang memukul-mukul bagian dalam tempurung kepalanya. Dia merasakan kasur yang tipis dan keras di bawahnya, jauh berbeda dengan kasur busa empuk miliknya.
"Woi, Bagas! Bengong saja kamu! Cepat pakai bajumu, apel pagi lima menit lagi!"
Sebuah tamparan keras mendarat di bahunya. Arumi terlonjak kaget. Pria bertubuh tegap berseragam militer dengan wajah kaku menatapnya tajam. Arumi menoleh, mencoba mencerna keadaan. Siapa orang ini? Kenapa dia memukul bahuku?
"Hah? Apa? Siapa Bagas?" tanya Arumi. Suaranya terdengar berat, dalam, dan serak, bukan suara cemprengnya yang biasa.
Pria itu tertawa sambil menepuk pundak Arumi dengan sangat keras. "Masih mengigau rupanya! Kebanyakan makan micin kamu Bagas. Cepat sana, Pelatih sudah di lapangan!"
Arumi turun dari ranjang. Langkahnya terasa mantap, tapi tubuhnya terasa jauh lebih berat dari biasanya. Dia lari ke cermin gantung di sudut barak. Wajah yang menatapnya bukanlah wajahnya. Wajah ini tirus dengan alis tebal yang tegas, hidungnya mancung, dan ada bekas luka kecil di dekat alisnya. Kulitnya kecokelatan bekas terpapar sinar matahari. Ini gila. Aku pasti bermimpi batin Arumi. Dia meraba wajah, leher, dan dadanya. Ini bukan tubuhnya yang biasa. Ini tubuh pria yang terbiasa latihan fisik.
Tiba-tiba, suara dentingan logam nyaring berdering di kepalanya.
Ting!
[Sistem Koki telah terikat dengan Tuan Rumah.]
Arumi memegang kepalanya yang berdenyut. "Siapa itu?! Siapa yang bicara?!" teriaknya. Teman-teman di barak menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh. "Bagas, kamu kenapa lagi sih? Masih pagi jangan teriak-teriak." tegur salah satu rekan baraknya yang sedang mengikat tali sepatu.
Arumi mengabaikannya. Dia merasa suaranya tadi seperti menggema tepat di dalam tempurung kepalanya sendiri.
[Selamat datang Tuan Rumah. Sedang memproses data... Koneksi stabil.]
"Hah? Koneksi apa? Aku tidak pakai earphone!" bisik Arumi panik. Dia meraba telinganya, memastikan tidak ada alat aneh yang terpasang di sana.
[Peringatan: Tuan Rumah mengalami disorientasi pasca-migrasi. Harap tetap tenang. Segala bentuk kecemasan berlebihan hanya akan menurunkan efisiensi tubuh.]
"Migrasi? Migrasi apa? Aku mau pulang!" Arumi memejamkan mata erat-erat, berharap saat dia membukanya nanti, dia sudah kembali ke kamarnya. Tapi saat dia membuka mata, dia masih di barak yang sama.
[Analisis lingkungan: Barak Militer. Status: Kritis. Saran: Segera mengikuti rutinitas pagi untuk menghindari deteksi ketidaknormalan.]
Arumi menatap layar transparan berwarna biru neon yang tiba-tiba muncul di udara. Layar itu melayang tepat di depan matanya. Dia mencoba menepisnya dengan tangan, tapi tangannya hanya menembus cahaya biru tersebut. "Gila. Aku benar-benar sudah gila." gumamnya lemas.
Dia tidak mengerti kenapa benda aneh ini ada di kepalanya. Yang dia tahu, dia hanya ingin bangun dari mimpi buruk ini, tapi sistem ini malah terus-menerus mengeluarkan suara dengungan yang mengganggu, seperti lalat yang tidak bisa diusir.
Ting!
[Catatan: Suasana hati Tuan Rumah tidak stabil. Disarankan untuk segera beraktivitas agar sistem dapat mengkalibrasi diri dengan tubuh baru Anda.]
"Diamlah! Jangan bicara di kepalaku!" desis Arumi.
Dia berusaha mengabaikan suara itu dan fokus pada sepatu botnya. Meskipun bingung setengah mati, dia sadar satu hal, kalau dia diam saja seperti orang gila di tengah barak, dia pasti akan jadi pusat perhatian. Dia meraih seragam yang tergantung di loker besi. Bahan kain seragam itu terasa kasar dan kaku di tangannya. Dia mulai mengancingkan baju, tapi kancingnya terasa sulit dipasang karena jarinya yang besar dan kaku. Dia merutuk setiap kancing yang harus dia pasang. Kenapa kancing baju Militer sekaku ini? Lalu tali sepatu botnya, dia hampir frustrasi karena talinya terus tersangkut dan kusut. Dia menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memastikan sepatu itu terikat kencang. Dia menatap cermin lagi, mencoba memperbaiki kerah bajunya agar terlihat seperti tentara sungguhan. Dia memperhatikan setiap detail seragamnya, mulai dari bet nama hingga emblem yang menempel di lengannya. Semuanya terasa asing.
Dia harus bertahan dulu. Hidup di tubuh tentara ini sepertinya bakal jauh lebih menyebalkan daripada hidupnya yang dulu. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi satu hal yang pasti, dia harus keluar dari barak ini sebelum pria yang menampar bahunya tadi kembali lagi dan menaruh curiga. Dengan langkah yang masih ragu, Arumi melangkah keluar dari lorong barak. Dia melewati deretan loker dan ranjang yang tampak seragam. Suara langkah kaki tentara lain yang bersiap-siap terdengar begitu sinkron, membuat jantungnya semakin berdebar tidak keruan. Dia berjalan ke arah pintu keluar. Di luar, cahaya matahari pagi sudah mulai menyengat kulitnya. Tuhan, tolong aku, aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal menjadi tentara!
Saat dia sampai di lapangan, dia melihat barisan tentara yang sudah berdiri rapi. Dia terdiam. Dia benar-benar harus melakukan ini. Dia tidak punya pilihan lain. Dia harus berakting, dia harus beradaptasi, dan dia harus mencari tahu apa sebenarnya sistem koki ini. Hidupnya yang dulu sebagai karyawan kantoran yang malas sekarang telah resmi berakhir, dan sebagai gantinya, dia terjebak di tubuh seorang Bagas yang harus bangun pagi setiap hari.
Hayyy selamat datang di karya recehku yang baru semoga kalian semua sukaa yaa...❤️
Lapangan apel itu adalah neraka yang tidak berujung. Terik matahari jam delapan pagi sudah membakar kulit, membuat seragam hijau loreng yang dikenakan Bagas terasa seperti baju besi yang menyesakkan. Di sekelilingnya, puluhan tentara berdiri dengan posisi sempurna. Bagas? Dia berdiri dengan kaki yang gemetar, berusaha meniru posisi siap yang sangat tidak alami bagi tubuhnya yang terbiasa duduk di kursi kantor. Otot-otot tubuh Bagas terasa kaku. Setiap kali pelatih berteriak, Bagas merasa seperti sedang menonton film aksi yang ia sendiri adalah pemeran utamanya, namun dia tidak tahu naskahnya. Dia merasa seperti orang asing di planet lain.
"Bagas! Dada dibusungkan! Tatapan mata lurus ke depan! Kamu ini tentara atau orang yang baru bangun tidur?!" teriak Pelatih dengan suara yang bisa meruntuhkan tembok barak.
Bagas tersentak, refleks membusungkan dadanya sekuat tenaga sampai dia merasa sesak. "Siap Pelatih!" jawabnya lantang, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
"Bagas, kamu kenapa dari tadi pagi seperti orang linglung?" bisik rekan di sebelahnya, seorang pria bernama Denish, tanpa menggerakkan bibir sedikit pun. "Biasanya kamu yang paling semangat kalau disuruh latihan. Sekarang? Kancing baju saja miring. Kamu sakit atau habis kerasukan setan penunggu barak?"
Bagas melirik ke arah Denish dengan tatapan lelah. "Aku cuma kurang tidur Den. Semalam bermimpi buruk. Rasanya tubuhku bukan milikku sendiri. Seperti ada yang salah dengan ingatanku." bisiknya balik, berusaha mencari alasan yang masuk akal.
"Mimpi buruk sampai lupa cara mengancingkan baju?" Denish tertawa kecil. "Awas saja kalau nanti latihan fisik kamu tumbang. Pelatih tidak akan peduli kamu mimpi apa. Dia cuma peduli pada keringatmu."
Satu jam di lapangan itu terasa seperti satu abad penuh penderitaan. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, melewati tulang rahang yang tegas, hingga akhirnya meresap ke dalam kerah seragamnya yang kasar dan berbau apek. Setiap tetesnya terasa seperti siksaan. Saat sesi latihan fisik selesai, Bagas benar-benar merasa kakinya sudah berubah menjadi jelly. Begitu aba-aba bubar diberikan, dia tidak membuang waktu. Dia langsung mencari sudut yang teduh di bawah pohon beringin besar di pinggir lapangan, menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah yang ditumbuhi rumput kering. Rasa lelah yang luar biasa menghantamnya seketika. Matanya terasa sangat berat, seolah ditarik oleh beban yang tak terlihat. Dalam hitungan detik, dunia di sekitarnya memudar menjadi gelap.
Saat dia membuka mata, dia tidak lagi berada di lapangan yang panas. Semuanya berubah total. Langit di atasnya berwarna keemasan yang menenangkan, seolah dia sedang berdiri di tengah-tengah istana di atas awan. Bunga-bunga yang memancarkan cahaya lembut tumbuh di sekelilingnya, mengeluarkan aroma manis yang sangat mewah, kontras sekali dengan bau barak yang tadi dia tinggalkan. Dan di depannya, berdiri seorang pria dengan wajah yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Kulitnya bercahaya, pakaiannya putih bersih seperti sutra terbaik, dan senyumnya... senyum itu terlihat sangat percaya diri, membuat Arumi ingin meninju wajahnya saat itu juga.
"Siapa kau?" tanya Arumi, suaranya menggema di tempat asing itu.
Pria itu menyilangkan tangan di depan dada dengan gerakan yang sangat anggun. "Aku? Aku adalah Dewa yang tampan rupawan dan baik hati. Dan kau, Arumi, seharusnya berterima kasih padaku karena telah memberimu kesempatan hidup kedua."
Arumi membelalak. "Berterima kasih? Kau yang membuatku mati tertabrak truk! Aku sedang antre sate, tiba-tiba truk oleng, dan—"
Dewa itu memotong dengan lambaian tangan yang malas. "Oh, itu bukan salahku. Itu pekerjaan yang harusnya selesai dengan mencabut nyawa orang lain. Kau saja yang sok pahlawan dan menghalangi pekerjaanku. Harusnya kalau kau diam saja, kau tidak akan mati. Tapi, karena aku ini Dewa yang baik hati dan sangat tampan, aku memberimu kehidupan kedua."
"Kau gila! Kau Dewa, harusnya kau bisa menghentikan truk itu tanpa harus membunuh orang! Kenapa harus aku yang jadi korbannya?!" teriak Arumi dengan nada tinggi yang memecah keheningan tempat itu.
Dewa itu menghela napas panjang seolah-olah dia sedang berbicara dengan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. "Tutup mulutmu. Karena saat ini hanya tubuh pria bernama Bagas ini yang tersedia, maka nikmatilah. Sebagai kompensasi, aku memberimu Sistem Koki. Dia akan menuntunmu menjadi koki hebat. Jangan kecewakan aku, karena menjadi koki hebat adalah jalan takdirmu sekarang."
"Aku benci memasak! Aku benci dapur! Kau pikir dengan sistem itu aku akan jadi koki? Aku ini karyawan kantoran Dewa sialan! Aku mau hidup normal, bukan jadi tukang masak di barak tentara!" Arumi mencak-mencak, mencoba melangkah maju untuk mendekati pria itu, namun kakinya terasa seperti terikat.
"Menjadi koki hebat adalah jalan takdirmu." jawab Dewa itu dengan nada datar sebelum dia mulai memudar dalam cahaya silau yang menyakitkan.
Tiiit! Tiiit! Tiiit!
Arumi terbangun dengan napas memburu dan keringat dingin. Suara alarm di lapangan barak sudah berbunyi nyaring. Dia bangkit dengan perasaan dongkol yang luar biasa.
"Dewa narsis itu benar-benar gila! Dia yang salah, dia yang marah, dia pula yang memaksaku jadi koki. Dasar dewa sialan, wajah saja ganteng tapi hatinya busuk!" umpatnya sambil berjalan kembali ke arah lapangan dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan ke tanah.
Ting!
[Peringatan: Tuan Rumah terdeteksi dalam kondisi mental tidak stabil. Disarankan untuk segera berhenti memaki Sang Dewa.]
Arumi berhenti berjalan di tengah lorong barak. Dia menatap udara kosong dengan mata yang hampir keluar dari soketnya. "Apa? Kau membela dia? Sistem sialan, kau ini di pihak siapa?!"
[Sistem wajib meluruskan pemahaman Tuan Rumah. Sang Dewa yang tampan rupawan dan sangat baik hati tidak pernah melakukan kesalahan. Setiap tindakan beliau adalah anugerah bagi semesta. Tuan Rumah harus lebih banyak bersyukur karena telah diberi kesempatan hidup di tubuh ini.]
Arumi merasa kepalanya ingin pecah. "Kau bercanda, kan? Dia itu egois, narsis, dan tidak bertanggung jawab! Dia hampir membunuhku dua kali, dan sekarang dia mengurungku di tubuh tentara yang tiap hari disuruh lari keliling lapangan! Apa kau tidak punya sedikit pun empati padaku?!"
[Komentar Tuan Rumah tidak valid. Sekali lagi, Sang Dewa adalah sosok yang paling sempurna. Sangat disayangkan Tuan Rumah memiliki persepsi yang sangat keliru. Mari fokus pada tugas: Segera berkumpul, atau hukuman fisik menanti.]
"Hukuman lagi? Hukuman lagi?" Arumi tertawa getir, suaranya pecah karena frustrasi. "Sistem, kau ini alat atau asisten pribadinya? Kenapa kau tidak punya logika sendiri?"
[Sistem adalah perpanjangan tangan dari kebaikan Sang Dewa. Logika Sistem adalah kepatuhan. Harap Tuan Rumah segera menuju barisan sebelum Pelatih menghampiri Anda. Sisa waktu: tiga puluh detik.]
"Argh! Menyebalkan!" Arumi meremas rambutnya sendiri sampai berantakan. Dia benar-benar terjebak dalam situasi yang sangat tidak masuk akal. Bukan hanya harus berpura-pura menjadi Bagas, si tentara tangguh, tapi dia juga harus berurusan dengan sistem yang tidak punya logika ini. Dia melirik sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihatnya sedang berdebat dengan suara di dalam kepalanya sendiri. Dengan perasaan dongkol yang memenuhi dadanya, Arumi terus melangkah menuju lapangan dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Hidupnya yang dulu sebagai karyawan kantoran yang malas sekarang telah resmi berakhir, dan sebagai gantinya, dia terjebak di tubuh seorang Bagas yang harus bangun pagi setiap hari untuk menghadapi hari-hari penuh keringat dan sistem yang memuja dewa gila. Aku harus menemukan cara untuk meretas sistem ini, pikirnya, aku tidak akan membiarkan dewa narsis itu menang.
Oke mulai sekarang kita sebut arumi sebagai bagas oke..
Maaci sudah mau mampir ke karyaku yang ini semoga kalian semua suka yaa..❤️❤️
Malam itu, dunia seakan berkonspirasi untuk menghancurkan Bagas. Tubuhnya benar-benar berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, seolah setiap inci otot di tubuhnya telah mengalami perobekan yang menyakitkan. Tidak ada satu pun bagian dari tubuhnya yang tidak terasa sakit, sendi-sendinya seolah-olah dipaksa untuk terus bergesekan tanpa pelumas, otot-ototnya kaku dan tegang seperti besi tua yang dibiarkan berkarat di tengah hujan, dan setiap kali ia mencoba mengambil napas panjang, dadanya terasa sesak seolah ada beban ribuan ton yang menindih paru-parunya. Begitu ia merebahkan tubuh di atas ranjang besi yang keras ia merasa jiwanya benar-benar ingin keluar dari raga ini dan pergi sejauh mungkin.
"Sistem." panggil Bagas lirih. Suaranya terdengar begitu parau, hampir menyerupai bisikan yang tertelan oleh kesunyian barak yang hanya diisi oleh suara dengkur halus dari rekan-rekannya yang telah terlelap dalam mimpi indah. "Aku rasa aku benar-benar akan mati kali ini. Jika besok pagi aku tidak bisa bangun, pastikan kau mencari Tuan Rumah baru yang jauh lebih tahan banting daripada aku. Aku sudah tidak sanggup lagi."
Ting!
Suara dentingan itu terdengar sangat nyaring dan dingin di telinganya, seolah sengaja mengejek kondisinya yang lemah.
[Deteksi kondisi Tuan Rumah: Kelelahan kronis, peradangan otot level tinggi, dan kadar glukosa dalam darah yang berada jauh di bawah batas normal. Kondisi fisik saat ini mencapai tingkat bahaya. Saran: Tuan Rumah sangat disarankan untuk membeli 'Obat Kuat Pemulihan' di Toko Sistem untuk memperbaiki kondisi fisik dan meningkatkan stamina secara instan.]
Mendengar kata Obat Kuat, mata Bagas yang tadinya sudah hampir tertutup rapat, kini terbuka lebar dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Harapan kecil tiba-tiba muncul di tengah rasa sakit yang mendera. "Obat kuat? Maksudmu seperti ramuan stamina yang bisa menyembuhkan segalanya? Kenapa kau tidak bilang dari tadi?! Cepat, buka tokonya! Aku butuh itu sekarang! Berikan aku sepuluh botol jika perlu, aku akan membayarnya dengan harga berapapun yang kau mau!" serunya dengan semangat yang sangat dipaksakan.
[Toko Sistem dibuka. Item: Obat Kuat Pemulihan (Efek: Memulihkan 100% energi dan meningkatkan stamina secara permanen). Harga: 100 Poin.]
Bagas menatap layar transparan yang melayang di depan matanya dengan antusiasme yang meledak-ledak. Namun, tepat di bawah tulisan harga itu, angka yang tertera di saldo poinnya membuat senyumnya membeku. 0 Poin.
Nol. Angka yang sama sekali tidak berarti.
"Nol? Kau bercanda kan?" Bagas nyaris berteriak, kalau saja dia tidak ingat dia sedang berada di barak yang penuh dengan tentara lain yang sedang tidur. "Kau menawarkanku penyelamat hidup, tapi kau memberiku poin nol? Sistem, kau ini sebenarnya alat atau penipu ulung? Bagaimana mungkin kau mengharapkan aku membeli itu kalau poinnya saja tidak ada? Apa kau sedang mengerjaiku? Apakah ini semacam tes kesabaran?"
[Sistem tidak melakukan penipuan. Poin diperoleh dengan menyelesaikan Misi Harian. Misi saat ini adalah Misi Makan Malam.]
"Makan malam? Aku bahkan tidak punya tenaga untuk sekadar mengangkat tangan ke arah langit, dan kau menyuruhku memasak?" Bagas memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Rasanya kepalanya akan meledak menjadi serpihan kecil. "Sudah, cepat beri tahu aku apa misinya sebelum aku benar-benar mati konyol karena kelelahan di tempat tidur ini."
[Misi: Memasak menu makan malam. Pilihan menu tersedia di bawah ini:]
[a. Ayam cabe garam & nasi daun jeruk (100 Poin)]
[b. Ikan bumbu kuning & papeda (150 Poin)]
[c. Udang sambal mangga dengan nasi merah putih (200 Poin)]
Bagas membaca daftar menu itu dengan wajah pucat pasi. "Ini bukan misi, ini hukuman mati! Kau menyuruhku memasak menu selevel restoran di dapur barak yang berantakan ini? Aku ini Arumi! Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak tahu cara memegang pisau yang benar, apalagi memasak makanan yang butuh teknik tingkat tinggi seperti ini! Kau gila!"
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Pilih menu yang paling simpel saja." gumamnya pada diri sendiri, meskipun di matanya, ketiga pilihan itu sama-sama tampak seperti sebuah musibah besar.
"Tunggu dulu." Bagas memicingkan mata ke arah layar dengan penuh curiga. "Kalau aku harus memasak, bahan-bahannya dari mana? Jangan bilang aku harus keluar barak jam segini untuk cari bahan. Dapur barak itu isinya cuma panci karatan dan sisa mie instan. Aku tidak punya uang, dan aku yakin dapur itu sudah digembok oleh penjaga!"
[Karena ini adalah Sistem Koki, maka seluruh bahan baku yang diperlukan untuk menu pilihan akan disediakan secara gratis oleh sistem tepat di meja dapur barak. Tuan Rumah hanya perlu menjalankan proses memasak dengan bantuan panduan Sistem.]
Bagas terdiam sejenak. Otaknya bekerja keras, mempertimbangkan antara rasa malasnya yang akut dan rasa sakit di tubuhnya yang sudah tak tertahankan. Akhirnya, dia menghela napas panjang. "Baiklah, baiklah, kau menang." desis Bagas dengan nada yang kalah. "Aku pilih menu yang pertama saja: Ayam cabe garam dan nasi daun jeruk. Sepertinya itu yang paling cepat dan tidak perlu banyak teknik aneh-aneh. Cepat, selesaikan ini, aku sangat lelah dan ingin segera tidur."
[Menu dipilih: Ayam cabe garam & nasi daun jeruk. Bahan baku telah dikirimkan ke dapur. Tuan Rumah memiliki waktu satu jam untuk menyelesaikan hidangan. Silakan segera menuju dapur.]
Bagas kembali mengeluh, kali ini suaranya lebih keras dan penuh dengan keputusasaan. Dia terpaksa memaksa tubuhnya turun dari ranjang. Kakinya gemetar hebat saat menyentuh lantai dingin barak. "Sistem, kau benar-benar penyiksaan berjalan. Lihat saja, kalau aku tidak bisa masak dan malah membakar dapur ini, itu sepenuhnya salahmu! Dan kalau aku ketahuan pelatih sedang berada di dapur jam segini, aku akan menuntutmu ke akhirat!"
Sambil terus mengomel, Bagas berjalan menyeret kakinya yang berat melewati lorong barak yang sunyi dan remang-remang. Suasana barak malam itu sangat mencekam. Dia benar-benar tidak percaya bahwa dia harus terjebak dalam misi memasak demi mendapatkan sebotol obat kuat. Ini gila, pikirnya. Seumur hidupku aku tidak pernah memasak apa pun selain mie instan, dan sekarang aku harus memasak menu yang seharusnya ada di buku resep koki profesional.
Dia sampai di depan pintu dapur. Dengan tangan yang masih gemetar karena rasa sakit, dia mendorong pintu dapur tersebut. Dia berharap bantuan sistem benar-benar ada, karena dia ingin sekali tidur selama seminggu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!