Dua Bulan Sebelumnya
"Aku nggak akan melakukannya, Ayah! Jangan paksa aku menikah dengan laki-laki itu. Aku sudah punya seseorang yang aku pilih sendiri."
Suara Jelita Arumi Atmojo pecah memenuhi ruang kerja yang mendadak terasa sesak. Wajahnya memerah menahan amarah dan kekecewaan. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh, sementara tatapannya tak sedikit pun lepas dari sosok pria paruh baya yang berdiri di balik meja kerjanya.
Di hadapannya, Danendra Atmojo, Direktur Utama D'Endra Group sekaligus ayah kandungnya, hanya mampu mengembuskan napas panjang. Garis-garis kelelahan di wajahnya terlihat semakin jelas. Ia telah berkali-kali memikirkan cara lain, tetapi hasilnya tetap sama. Semua jalan seolah berakhir di satu keputusan yang paling menyakitkan.
"Ayah tahu ini berat, Jeli," katanya pelan. "Tapi kerja sama dengan keluarga Bagaskara hanya akan terwujud kalau kamu bersedia menikah dengan Atharazka."
Kalimat itu membuat dada Jelita kembali bergemuruh. Ia menggeleng berulang kali.
"Aku nggak cinta sama dia, Yah."
Nada suaranya jauh lebih lirih, namun justru terdengar lebih menyakitkan.
"Orang yang aku cintai itu Dani. Selama bertahun-tahun aku mempertahankan hubungan kami. Aku sudah membangun masa depan bersama dia. Bagaimana mungkin sekarang Papa meminta aku menghapus semuanya begitu saja?"
Bayangan Dani Ardianto memenuhi pikirannya. 5 tahun bersama bukanlah waktu yang singkat. Mereka saling mengenal keluarga masing-masing, saling mendukung saat jatuh, dan saling menguatkan ketika keadaan tidak berpihak. Bahkan belum lama ini Dani sempat membicarakan rencana untuk membawa keluarganya datang melamar secara resmi.
Semua mimpi itu kini seperti hendak direnggut dalam hitungan hari.
Danendra menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap putrinya.
"Ayah percaya Atharazka bisa menjadi suami yang baik."
Jelita tertawa kecil, tetapi tawanya sama sekali tidak mengandung kebahagiaan.
"Baik?"
Ia mengulang kata itu dengan nada sinis.
"Semua orang tahu seperti apa Atharazka Bagaskara. Berita tentang dia selalu dipenuhi perempuan yang berbeda-beda. Hari ini dengan satu wanita, besok muncul lagi dengan wanita lain. Apa itu yang Papa sebut laki-laki baik?"
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Danendra tidak bisa menyangkalnya. Reputasi Wakil Direktur Askara Group itu memang bukan rahasia lagi. Wajah tampan, jabatan tinggi, dan kekayaan membuat Atharazka kerap menjadi pusat perhatian. Bersama itu pula, berbagai gosip mengenai kehidupan asmaranya terus bermunculan.
Namun di balik semua itu, kondisi D'Endra Group jauh lebih mengkhawatirkan.
Perusahaan yang telah ia bangun selama puluhan tahun sedang mengalami tekanan besar. Beberapa proyek gagal berjalan, investor mulai menarik diri, sementara kepercayaan mitra bisnis perlahan menurun. Kerja sama dengan keluarga Bagaskara menjadi kesempatan terakhir untuk menyelamatkan perusahaan beserta ribuan karyawan yang menggantungkan hidup di sana.
"Ayah benar-benar tidak punya pilihan lain."
Suara Danendra terdengar semakin berat.
"Kalau kerja sama ini batal, dampaknya bukan cuma untuk keluarga kita."
Jelita memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai menggenang.
"Kenapa harus aku yang dikorbankan?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
"Masih ada Amora."
Ia menoleh kembali.
"Amora belum memiliki pasangan. Bukankah lebih baik Ayah meminta dia saja?"
Nama itu membuat Danendra kembali menghela napas.
"Ayah sudah memikirkan semuanya."
Ia berhenti beberapa detik sebelum melanjutkan.
"Permintaan dari keluarga Bagaskara sejak awal memang ditujukan untukmu."
"Tapi kenapa?"
"Karena kamu adalah putri kandung Ayah."
Jawaban itu membuat Jelita membeku.
Sedetik kemudian Danendra kembali berbicara dengan nada yang jauh lebih lembut.
"Bukan berarti Ayah membedakan kalian. Ayah menyayangi kamu dan Amora dengan cara yang sama. Tapi mereka mengetahui bahwa Amora adalah anak yang Ayah besarkan sejak kecil, bukan anak kandung keluarga Atmojo."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Jelita menatap ayahnya tanpa sanggup berkata-kata. Ia tahu Danendra tidak pernah memperlakukan Amora Dania Respati secara berbeda. Sejak kecil mereka dibesarkan dengan kasih sayang yang sama, mendapatkan pendidikan yang sama, bahkan selalu dianggap sebagai dua putri kesayangannya.
Namun kenyataan di hadapan keluarga Bagaskara berbeda. Status darah dan garis keturunan tetap menjadi pertimbangan utama. Danendra meremas jemarinya sendiri, menahan rasa bersalah yang terus menghantui.
Seandainya masih ada jalan lain, ia tidak akan pernah menyeret putrinya ke dalam pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya.
.
Bunyi pintu yang menutup perlahan memecah kesunyian kamar.
Amora Dania Atmojo menyandarkan punggungnya pada daun pintu. Ia mengembuskan napas panjang sambil memejamkan mata. Rasanya kepalanya dipenuhi berbagai pikiran setelah tanpa sengaja mendengar pembicaraan yang seharusnya bukan untuknya.
Beberapa menit yang lalu ia hanya berniat mengambil pengering rambut milik sang kakak. Namun langkahnya terhenti ketika suara perdebatan dari ruang kerja Danendra Atmojo terdengar hingga ke lorong rumah. Tanpa sengaja, setiap kalimat yang keluar dari mulut ayah dan kakaknya masuk begitu saja ke dalam pendengarannya.
Kini, setelah kembali ke kamar, percakapan itu terus berputar di benaknya.
Amora tersenyum tipis, tetapi senyum itu terasa pahit.
Sejak kecil ia sadar bahwa dirinya tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Respati. Meskipun Danendra Atmojo dan Fina Atmojo selalu memperlakukannya layaknya anak kandung, kenyataan tentang asal-usulnya tetap tidak bisa diubah.
Di rumah ini ia memang seorang putri. Namun di mata orang lain, ia hanyalah anak yang dibesarkan karena belas kasih keluarga Atmojo.
Bertahun-tahun Amora belajar menerima kenyataan itu. Ia tidak lagi mempermasalahkan bisik-bisik orang yang mempertanyakan keberadaannya. Selama Ayah, Mama, dan Jelita menerimanya dengan tulus, ia merasa sudah memiliki keluarga yang utuh.
Tetapi malam ini perasaan itu mendadak berubah. Ucapan yang didengarnya barusan membuatnya sadar bahwa ada keadaan tertentu di mana statusnya memang menjadi pembatas.
Ia menundukkan kepala.
"Kasihan Kak Jelita...."
Suara itu keluar lirih.
"Aku benar-benar nggak bisa melakukan apa pun."
Amora menggigit bibir bawahnya. Hatinya ikut terasa sesak membayangkan beban yang sedang dipikul sang kakak.
Ia tidak pernah menyangka D'Endra Group berada dalam kondisi yang begitu sulit hingga pernikahan harus dijadikan bagian dari sebuah kesepakatan bisnis.
Yang lebih menyakitkan lagi, orang yang diminta menikah bukanlah seseorang yang menginginkannya.
Amora berjalan beberapa langkah menuju tempat tidur sebelum menjatuhkan tubuhnya di tepi kasur. Tatapannya kosong menyorot langit-langit kamar.
Dalam benaknya terus terbayang wajah Jelita yang pasti sedang berusaha menahan tangis di hadapan ayah mereka.
"Apa sesulit itu mencari jalan lain?"
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.
Ia mengenal kakaknya dengan baik. Jelita adalah perempuan yang selalu memperjuangkan apa yang diyakininya. Apalagi jika menyangkut seseorang yang dicintainya.
Melepaskan Dani Ardianto demi menikah dengan laki-laki lain jelas bukan keputusan yang akan mudah diterima.
Terlebih lagi, laki-laki yang dimaksud adalah Atharazka Bagaskara, sosok yang selama ini dikenal memiliki kehidupan asmara yang rumit dan kerap berganti pasangan.
Amora menghela napas panjang.
"Andai saja semuanya bisa kembali seperti biasa...."
Ia merapatkan kedua lutut ke dada lalu memeluknya erat. Keheningan kamar terasa semakin pekat, hanya diiringi suara jarum jam yang terus berdetak tanpa peduli pada kegelisahan siapa pun.
Dalam diam, Amora memanjatkan doa.
Ia berharap keadaan D'Endra Group segera membaik, sehingga keluarganya tidak perlu mempertaruhkan kebahagiaan Jelita demi mempertahankan perusahaan.
Karena menurutnya, tidak ada seorang pun yang pantas mengawali pernikahan dengan keterpaksaan, apalagi ketika hatinya telah lebih dulu memilih orang lain.
"Saya terima nikah dan kawinnya Amora Dania Atmojo binti Fulan dengan maskawin tersebut, dibayar tunai."
Lafaz akad itu mengalun mantap dari bibir Atharazka Bagaskara. Tidak ada jeda, tidak ada keraguan sedikit pun. Begitu kalimat terakhir selesai diucapkan, para saksi langsung menyatakan akad tersebut sah.
Suasana yang semula dipenuhi ketegangan berubah menjadi haru. Beberapa tamu mengembuskan napas lega, sementara ucapan syukur mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Amora hanya mampu menundukkan kepala. Jemarinya yang sejak tadi saling menggenggam perlahan mengendur, tetapi debaran di dadanya justru semakin tak terkendali.
Dalam hitungan detik, kehidupannya berubah sepenuhnya. Kini ia resmi menyandang status sebagai istri Atharazka Bagaskara.
Seandainya waktu bisa diputar kembali, Amora sendiri tidak pernah membayangkan akan berada di posisi itu.
Semua berawal beberapa jam sebelum akad berlangsung.
Calon pengantin yang seharusnya duduk di tempatnya bukanlah dirinya, melainkan Jelita Arumi Atmojo, kakak yang selama ini dipersiapkan untuk menikah dengan keluarga Bagaskara sebagai bagian dari kesepakatan kedua keluarga.
Namun tak seorang pun berhasil menemukan Jelita.
Teleponnya tidak aktif, keberadaannya pun tidak diketahui. Ia menghilang begitu saja menjelang hari pernikahan.
Kejadian itu membuat seluruh keluarga Atmojo dilanda kepanikan. Di saat yang sama, para tamu undangan telah berdatangan, keluarga Bagaskara juga sudah hadir, sementara pembatalan akad hanya akan memperburuk keadaan D'Endra Group yang sedang berada di ujung tanduk.
Dalam situasi yang nyaris tanpa jalan keluar itulah Danendra Atmojo mengetuk pintu kamar Amora.
Saat melihat wajah ayah angkatnya, Amora langsung mengetahui ada sesuatu yang tidak beres.
Sorot mata pria itu dipenuhi kecemasan, jauh berbeda dari biasanya. Dengan suara yang bergetar, Danendra menjelaskan semuanya.
Ia tidak memerintah, ia juga tidak memaksa. Sebaliknya, ia memohon.
"Ayah nggak punya siapa-siapa lagi yang bisa dimintai tolong, Amora."
Kalimat itu masih terngiang jelas di telinga Amora hingga sekarang.
Permintaan tersebut terasa begitu berat.
Menggantikan kakaknya menjadi pengantin bukanlah sesuatu yang pernah terlintas dalam benaknya. Terlebih lagi, laki-laki yang akan dinikahinya adalah Atharazka Bagaskara, Wakil Direktur Askara Group yang selama ini dikenal memiliki reputasi buruk dalam urusan percintaan.
Namun ketika melihat Danendra dan Fina Atmojo yang hampir kehilangan harapan, hati Amora perlahan luluh.
Keluarga itulah yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang sejak kecil. Mereka tidak pernah membuatnya merasa berbeda meski dirinya bukan anak kandung. Sudah berkali-kali mereka menjadi tempatnya bersandar.
Maka untuk pertama kalinya, Amora ingin menjadi orang yang menguatkan mereka.
"Aku akan melakukannya, Yah."
Jawaban itu keluar dengan suara pelan, tetapi penuh keyakinan.
"Kalau ini bisa menjaga keluarga kita dan menyelamatkan D'Endra Group, aku bersedia menggantikan Kak Jelita."
Keputusan itu akhirnya membawanya hingga ke kursi akad.
Dan kini, setelah ijab kabul dinyatakan sah, Amora menyadari bahwa tidak ada lagi jalan untuk kembali. Takdir yang semula diperuntukkan bagi orang lain, kini sepenuhnya menjadi miliknya.
.
Malam Sebelum Akad
Jam digital di lorong rumah menunjukkan pukul 23.25.
Di tangan Amora terdapat sebuah baki berisi semangkuk spaghetti bolognese yang masih mengepulkan uap hangat serta segelas matcha latte favorit sang kakak. Sejak sore tadi, Jelita sama sekali tidak menyentuh makanan, sehingga Amora memutuskan memasak sendiri dengan harapan bisa sedikit memperbaiki suasana hati kakaknya.
Ia berhenti tepat di depan pintu kamar.
Tok... tok... tok...
"Kak Jeli, ini aku."
Amora mengetuk sekali lagi sambil tersenyum tipis, meski kecemasan jelas tergambar di wajahnya.
"Aku bawain makanan kesukaan Kakak. Tolong buka pintunya sebentar."
Tidak ada jawaban. Amora menunggu beberapa detik, berharap suara langkah kaki segera terdengar dari dalam. Namun yang menyambutnya hanyalah kesunyian.
Ia mencoba mengetuk lebih pelan.
"Kak... jangan diabaikan, ya. Walaupun Kakak nggak lapar, minum matcha-nya aja dulu."
Tetap tidak ada sahutan.
Amora mulai mengernyit.
Seharian ini Jelita memang mengurung diri setelah kembali berselisih pendapat dengan Danendra Atmojo. Pembicaraan mereka mengenai rencana pernikahan dengan Atharazka Bagaskara kembali berakhir tanpa titik temu.
Sebagai adik, Amora memahami kedua belah pihak.
Ia mengerti alasan ayah mereka yang berusaha menyelamatkan D'Endra Group, tetapi ia juga memahami luka yang dirasakan Jelita karena dipaksa meninggalkan laki-laki yang dicintainya, Dani Ardianto.
Karena itulah Amora terus mencoba menemani kakaknya, walaupun hanya dari balik pintu kamar.
Biasanya, setiap kali dipanggil, Jelita akan menjawab singkat, meski hanya mengatakan ingin sendiri.
Namun malam ini berbeda.
Tidak ada suara dan tidak ada tanda-tanda sebuah gerakan. Tidak ada juga anda bahwa kamar itu berpenghuni.
Perasaan Amora mulai tidak tenang.
Ia mendekatkan wajahnya ke daun pintu.
"Kak Jeli...?"
Masih sunyi.
Tangannya perlahan memutar gagang pintu.
Klik.
Terkunci.
Jantung Amora berdetak lebih cepat. Ia kembali mengetuk, kali ini sedikit lebih keras.
"Kak! Tolong jawab aku. Jangan bikin aku khawatir."
Tetap nihil.
Rasa gelisah yang semula hanya berupa firasat kini berubah menjadi kepanikan. Berbagai kemungkinan buruk mulai memenuhi pikirannya.
Tanpa membuang waktu, Amora meletakkan baki berisi makanan di atas meja kecil yang berada di samping lorong. Spaghetti yang dimasaknya dengan penuh perhatian kini dibiarkan begitu saja karena ada hal yang jauh lebih penting.
Ia segera berlari menuju kamar orang tuanya.
"Ayah! Mama!"
Suara Amora terdengar terburu-buru. Ia bahkan lupa mengetuk pintu karena pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan.
Bagaimana jika Jelita melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya?
Malam yang seharusnya menjadi malam terakhir sebelum akad justru dipenuhi kecemasan. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa beberapa jam kemudian, hilangnya Jelita akan mengubah seluruh rencana pernikahan yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan.
Suara ketukan tergesa-gesa memecah keheningan di depan kamar utama.
"Ayah.. Mama..."
Napas Amora terdengar memburu. Jemarinya kembali mengetuk daun pintu, kali ini lebih keras dibanding sebelumnya. Perasaan gelisah yang sejak tadi mengusiknya kini berubah menjadi kepanikan yang sulit disembunyikan.
Di dalam kamar, Danendra Atmojo dan Fina Atmojo ternyata masih terjaga.
Keduanya belum berniat beristirahat meski waktu telah mendekati tengah malam. Sejak selesai makan malam, mereka terus membicarakan kondisi D'Endra Group dan pernikahan Jelita yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.
Tidak ada satu pun pembicaraan yang menghasilkan jalan keluar.
Semua persiapan telah selesai. Gedung telah dihias, tamu undangan sudah berdatangan, bahkan keluarga Bagaskara telah menginap di hotel sejak sore. Membatalkan akad bukan lagi pilihan yang mudah.
Saat mendengar panggilan Amora, Fina segera membuka pintu.
"Amora?"
Raut wajahnya langsung berubah melihat putri angkatnya berdiri dengan wajah pucat.
"Kamu kenapa? Kok kelihatan panik begitu?"
Amora menelan ludah sebelum menjawab.
"Aku habis ke kamar Kak Jelita, Ma. Aku ketuk-ketuk tapi sampai sekarang Kakak belum juga membuka pintu."
Fina masih berusaha berpikir tenang.
"Mungkin dia sedang tidur."
Amora langsung menggeleng.
"Nggak mungkin."
"Sore tadi aku masih sempat ngobrol sama Kakak. Dia bilang sama sekali nggak bisa tidur karena terus memikirkan besok."
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Biasanya kalau aku ketuk pintu, Kakak pasti menjawab meski cuma satu atau dua kata. Tapi sekarang benar-benar nggak ada respons."
Mendengar penjelasan itu, Danendra yang sejak tadi berdiri di belakang istrinya mulai memasang wajah serius.
"Sudah kamu coba buka pintunya?"
"Sudah, Yah."
"Tapi terkunci dari dalam."
Kalimat itu membuat suasana mendadak berubah.
Fina saling berpandangan dengan suaminya. Entah mengapa, firasat buruk mulai menghampiri keduanya.
"Ayah punya kunci cadangan kamar Kak Jelita, kan?"
Amora menatap Danendra penuh harap.
"Tolong kita cek sekarang. Aku takut terjadi sesuatu."
Nada suaranya mulai bergetar.
Ia tidak berani mengucapkan kemungkinan terburuk yang terus menghantui pikirannya, tetapi kegelisahan di wajahnya sudah cukup menggambarkan semuanya.
Danendra berusaha tetap tenang meski dadanya mulai dipenuhi rasa cemas.
"Mungkin Jelita hanya ingin sendiri."
Namun ucapan itu terdengar lebih seperti usaha meyakinkan dirinya sendiri daripada orang lain.
Fina mengusap pelan punggung tangan suaminya.
"Nggak ada salahnya kita memastikan."
"Aku juga mulai khawatir."
Danendra akhirnya mengangguk pelan. Ia berjalan menuju lemari kecil di sudut kamar, lalu membuka salah satu laci tempat seluruh kunci cadangan rumah disimpan.
Beberapa gantungan kunci ia keluarkan satu per satu hingga akhirnya menemukan anak kunci dengan label nama kamar Jelita.
Ia menggenggamnya erat.
"Ayo."
Tanpa membuang waktu, mereka bertiga segera menuju lantai atas.
Sepanjang koridor rumah hanya terdengar langkah kaki mereka yang terburu-buru. Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Amora berjalan paling depan sambil terus berharap kekhawatirannya tidak terbukti.
Sementara Danendra dan Fina mulai menyiapkan diri menghadapi apa pun yang mungkin mereka temukan di balik pintu kamar putri sulung mereka.
Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa malam itu akan menjadi awal dari kekacauan yang mengubah seluruh rencana pernikahan keesokan harinya.
.
Daun pintu perlahan terdorong setelah Danendra Atmojo memutar kunci cadangan.
Semua mata langsung menyapu isi kamar.
Sunyi.
Ruangan itu tampak bersih dan rapi, tetapi sosok yang mereka cari sama sekali tidak terlihat.
"Jelita...?"
Fina memanggil pelan sambil melangkah masuk lebih dulu. Pandangannya menyisir setiap sudut kamar, mulai dari kamar mandi hingga balkon kecil yang terhubung dengan jendela.
Tidak ada jawaban.
Amora ikut memasuki kamar dengan langkah tergesa. Perasaan tidak nyaman yang sejak tadi mengganggunya berubah menjadi ketakutan.
"Kak?"
Ia membuka pintu kamar mandi.
Kosong. Tidak ada siapa pun di sana.
Danendra mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sekilas semuanya tampak normal, hingga matanya berhenti pada lemari pakaian yang pintunya terbuka.
Beberapa gantungan tampak kosong. Pakaiannya tidak lagi lengkap seperti biasanya.
Sementara di atas meja rias juga terlihat beberapa perlengkapan pribadi milik Jelita sudah tidak berada di tempatnya.
Tatapan Amora kemudian beralih ke koper berukuran sedang yang biasanya disimpan di sudut kamar. Koper itu juga telah menghilang.
Dadanya langsung terasa sesak.
"Ayah..."
Suara Amora terdengar lirih.
"Sepertinya Kak Jelita memang pergi."
Fina spontan menutup mulutnya sendiri. Ia berjalan cepat menuju lemari kecil tempat putrinya biasa menyimpan barang-barang berharga.
Begitu laci itu dibuka, wajahnya semakin pucat. Kotak penyimpanan yang biasanya berisi tabungan pribadi Jelita sudah kosong.
"Uangnya juga dibawa..."
ucapnya hampir berbisik.
Danendra memejamkan mata beberapa saat. Tidak perlu berpikir lama, ia sudah memahami apa yang sebenarnya terjadi. Jelita benar-benar meninggalkan rumah.
Bukan sekadar keluar untuk menenangkan diri, melainkan pergi dengan persiapan yang sudah dipikirkan sebelumnya.
Fina segera mengambil telepon genggamnya. Tangannya gemetar saat menekan nama putri sulungnya.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba lagi.
Dan lagi.
Namun hasilnya tetap sama.
"Jeli... tolong angkat telepon Mama...."
Suara Fina mulai bergetar.
Amora pun ikut menghubungi nomor sang kakak menggunakan ponselnya sendiri.
Beberapa detik kemudian terdengar suara operator yang membuat suasana semakin mencekam.
Nomor yang dihubungi sudah tidak dapat dihubungi.
Amora menurunkan ponselnya perlahan.
"Nomornya dimatikan..."
Kalimat itu membuat keheningan memenuhi kamar.
Danendra berjalan menuju sisi tempat tidur lalu duduk perlahan di ujung kasur. Kedua tangannya menopang wajah yang kini dipenuhi keputusasaan.
Sejak awal ia sudah mengetahui bahwa Jelita menolak pernikahan dengan Atharazka Bagaskara.
Namun ia tidak pernah menyangka putrinya akan memilih meninggalkan rumah tepat beberapa jam sebelum akad dilaksanakan.
Sebagai seorang ayah, ia tidak mampu menyalahkan Jelita sepenuhnya. Ia tahu putrinya hanya ingin mempertahankan cintanya kepada Dani Ardianto.
Tetapi sebagai pemimpin D'Endra Group, keadaan ini bisa menghancurkan semua yang selama ini ia perjuangkan.
Keluarga Bagaskara telah memenuhi komitmen mereka dengan membantu menyelamatkan kondisi perusahaan melalui kerja sama yang nilainya tidak sedikit.
Sebagai balasannya, Danendra telah berjanji akan menikahkan Jelita dengan putra sulung mereka.
Kini, janji itu berada di ambang kegagalan. Danendra mengusap wajahnya kasar sebelum mengembuskan napas panjang.
"Apa yang harus aku katakan kepada keluarga Bagaskara besok pagi?"
Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab pertanyaan itu.
Fina hanya berdiri mematung dengan mata yang mulai dipenuhi air mata, sementara Amora memandangi kamar kakaknya yang kini terasa begitu asing.
Tidak ada yang menyangka, kepergian satu orang telah mengubah malam itu menjadi awal dari persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar batalnya sebuah pernikahan. Dan pada akhirnya akan ada yang menjadi korban yang menanggung semua ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!