Keysa adalah gadis kecil berusia tiga tahun dengan mata yang tajam dan penuh keberanian meski hatinya sering terluka oleh ejekan teman-temannya. Sejak kecil, Keysa hidup tanpa sosok ibu, sebuah kenyataan yang sering menjadi bahan olok-olokan di sekolahnya. Namun, ia tidak pernah membiarkan kata-kata itu melemahkan semangatnya.
Dengan suara tegas dan wajah yang berani, Keysa selalu membela dirinya, "Memang macalah kalau Key nda punya mama? Olang Key macih punya oma kok."
Meski demikian, di balik ketegaran itu, tersimpan kerinduan yang dalam akan sosok seorang ibu. Keysa tumbuh besar di bawah asuhan neneknya yang penuh kasih, sosok yang selalu berusaha mengisi kekosongan hatinya.
Namun, ejekan teman-temannya, terkadang membuatnya sedih. "Macalah, coalnya becok adanya hali ibu bukan hali oma," ucap Nita.
"Gampang lah nanti di ganti cama papa Key, jadi hali oma" jawabnya santai.
Keysa tidak mudah menyerah, ia memilih untuk memperkuat dirinya dengan keberanian dan kebanggaan atas keluarganya yang unik, berharap suatu hari nanti bisa menunjukkan bahwa kasih sayang tidak harus selalu datang dari seorang ibu.
"Mana bica begitu" seru Nita tidak terima.
"Bica lah, celagi punya uang banya mah bica cemua. Citu yang kele diam aja nda ucah ejek-ejek Key" balas Keysa dan memilih pergi meninggalkan teman-temannya yang mengejeknya.
Tak lama waktu belajar pun selesai. Keysa tidak menunggu sopir yang menjemputnya, dia berdiri di pinggir jalan, napasnya masih terengah-usai belajar seharian.
Tanpa menunggu lama, ia mengangkat tangan dengan penuh semangat dan memanggil sopir taksi yang melintas.
"CTOP, Bang! CTOP!" Suaranya lantang, memecah keramaian.
Taksi berwarna kuning itu segera melambat dan berhenti tepat di depannya. Sopir membuka kaca mobil dengan raut wajah sedikit jengkel, matanya yang lelah menatap Keysa.
"Ada apa, dek? Saya lagi kerja, nggak ada waktu buat bercanda," katanya dengan nada agak kasar.
Keysa tersenyum kecil, matanya yang berbinar tetap penuh harap. Ia mengeluarkan uang lima ribuan dari genggam tangannya dan mengacungkannya. "Key nda cedang belcanda, Bang Copil. Key mau ke kantol papa. Pak Copil antal Key mau nda?" ucapnya dengan logat manja, berharap sopir itu mengerti maksudnya.
Sopir itu mengerutkan dahi, matanya menyipit saat melihat uang yang diberikan Keysa.
"Nanti kalau kulang Kay bayal lagi di kantol papa, ya" ucapnya dengan tatapan memohon.
Pak sopir menghela nafas panjang, dia perpikir sejenak hingga mengizinkan anak itu masuk kedalam taksi. "Masuklah. Nanti beritahu aja alamatnya" ucapnya. Dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk gadis kecil itu.
Keysa mengangguk, dan masuk kedalam taksi. "Makacih pak copil" ucapnya setelah duduk di bangku penumpang.
Bugh....
Sopir menutup pintu mobil, setelah itu dia memutari mobil dan masuk kedalam. Dia duduk di bangku kemudi. Perlahan taksi mulai melaju meninggalkan sekolah.
"Dimana alamat kantornya?" Tanya sopir.
"Pelucahaan Mahaldika" jawabnya dengan suara cadel.
Sopir mengangguk paham. Hampir semua orang yang tinggal di ibu kota mengetahui perusahaan Mahardika.
Sepanjang perjalanan Keysa menempelkan wajahnya ke kaca mobil. Dia menatap ke arah luar jendela.
"Nanti minta mama balu cama papa. Bial nda di ejek-ejek lagi diliku ini cama meleka" gumamnya lirih.
******
Arya Mahardika, CEO tampan yang kaya raya, dikenal sebagai pria dingin yang nyaris tak tersentuh. Namun, kehadiran Keysa, putri kecilnya, telah mewarnai hidupnya yang selama ini kaku dan sunyi.
Tawa riang yang lepas dari bibir Keysa selalu mampu mengusik keseriusan Arya, membuatnya sekaligus gemas dan terpesona oleh tingkah laku polos sang anak.
Kini Arya duduk tegak di balik meja kerjanya, matanya menusuk layar laptop penuh angka dan tulisan panjang yang mengaburkan pikirannya. Dunia bisnis yang keras baginya adalah medan perang tanpa ampun, namun hatinya sejenak terbelah saat teringat senyum Keysa.
Ceklek....
Tiba-tiba pintu kantor terbuka mendadak, tanpa ketukan, dan Tony, asistennya, masuk dengan langkah tergesa-gesa. "Tuan, ini darurat!" suara Tony bergetar penuh kecemasan.
Arya menoleh, alisnya bertaut erat, tatapannya berubah menjadi tajam menyerupai pedang dingin yang siap memotong kabar buruk. Wajahnya tetap terjaga rapi, tak berubah sedikit pun dari wibawa seorang pria sukses, tapi aura serius dan beban berat terpancar jelas dari segenap tubuhnya.
Meja kerja yang rapi dan teratur jadi saksi bisu perjuangan seorang lelaki yang tengah menghadapi badai kehidupan. Namun, suara nafas Tony yang terburu-buru dan wajahnya yang terlihat cemas membuat suasana mendadak berubah.
Tony melangkah cepat, napasnya tercekat dan tubuhnya gemetar tanpa bisa ia tahan. “Tuan... ini tentang Nona Keysa,” suaranya pecah, berat seperti memanggul beban yang tak terlihat.
Arya seketika duduk tegak, matanya melebar seperti menatap jurang yang menganga. “Apa yang terjadi dengan Keysa?” suaranya terdengar dalam, tertahan tapi penuh ketegangan, getar takutnya hampir menembus dinding.
Tony menghela napas panjang, berjuang menenangkan jiwanya yang gelisah. “Sopirnya... baru saja bilang Nona Keysa sudah tidak ada di sekolahnya”
“Bagaimana bisa?!” suara Arya berubah jadi kepanikan yang menusuk, jantungnya berdetak seperti mendengar tanda bahaya.
“Saya tidak tahu, Tuan...” Tony jawab, suara yang kalah melawan kepedihan di dalam dada.
Arya langsung berdiri, tatapannya membara penuh tekad. “Siapkan mobil. Kita cari dia. Sekarang juga!” Dunia seakan runtuh di depan matanya, waktu berjalan pelan tapi berat di setiap detik yang hilang tanpa Keysa di sisinya.
"Baik tuan" jawab Tony dan pergi meninggalkan ruangan Arya.
Arya meraih jasnya dan menggenggamnya erat, napasnya tercekat saat menyalip Tony yang sudah menjauh dari ruangan.
Dengan langkah tergesa, dia menekan tombol lift yang membawanya turun ke lantai bawah.
Ting.
Pintu lift terbuka perlahan, dan pandangannya langsung terkunci pada sosok Tony yang menunggu di dalam mobil.
Baru saja Arya melangkah keluar, tiba-tiba dentuman klakson taksi menggema, menusuk telinganya bak petir di malam gelap.
Tin
Tin
Tin!
Ia berhenti seketika, mata menyipit tajam, memburu asal suara gaduh itu. “Siapa dia? Berani sekali mengganggu ketenangan perusahaanku!” suaranya penuh kemarahan, getar di setiap katanya tidak bisa disembunyikan.
Di dalam taksi, Keysa memerah muka sambil menekan tombol klakson tanpa henti, wajahnya penuh tekad.
“Itu Papa, cepat campelin dia, pak copil!” suaranya tergesa, seperti memaksa agar dunia berputar sesuai kehendaknya.
Siang itu di perusahaan Mahardika mendadak berubah menjadi panggung drama penuh ketegangan yang siap meledak kapan saja.
Taksi berhenti tepat di depan Arya.
"Cebental jangan pelgi dulu pak copil. Key minta uang dulu cebental ya" ucapnya sebelum akhirnya keluar dari taksi.
"Papa, bayal takcinya. Key belum bayal taksi, macih bayal lima libu doang" ucapnya sambil berkacak pinggang menatap papanya.
Arya terpaku di tempatnya, hatinya bergemuruh mencoba memahami keanehan yang baru saja terjadi. Baru tadi dia diberitahu putrinya hilang, tapi kini Keysa tiba-tiba muncul di depan matanya, turun dari taksi seperti mimpi buruk yang terbalik menjadi kenyataan.
“Kamu diculik sopir taksi?” tanya Arya sambil memicingkan matanya.
Keysa membalas dengan tatapan tajam, suaranya menusuk, “Bayal dulu, Pa! Kacihan pak copilnya!”
Arya menghembuskan napas kasar, kesal dengan ulah sang putri. Perlahan dia mengangkat putrinya dan membawanya kedalam gendongannya.
Lalu matanya beralih ke arah Tony yang berdiri membeku di sana. “Ton, bayar,” perintahnya singkat, suaranya bergetar namun tegas.
Tanpa menoleh sedikit pun, Arya melangkah tegas memasuki gedung perusahaannya, tubuh Keysa yang kecil tergenggam erat dalam gendongannya.
Di belakang, Tony hanya bisa berdiri terpaku, matanya membuntuti punggung Arya yang semakin menjauh. Dia juga masih bingung dengan kejadian barusan
Lift yang membawa Arya perlahan meluncur naik ke lantai atas.
Ting
Saat pintu lift terbuka, udara ruangannya yang dingin langsung menyambut. Arya melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya.
Ceklek....
Arya masuk kedalam ruangannya. Dengan penuh ketegasan, Arya menaruh Keysa di atas meja kerja, tatapannya membara menyelidik ke dalam mata putrinya.
“Sekarang, jelaskan! Kenapa kamu nekat naik taksi sendiri? Kenapa tidak tunggu Pak Giman seperti biasanya?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.
Keysa menjawab dengan polos, tapi cepat, seolah berusaha meyakinkan, “Pak Giman lama, Pa. Nda benal dia jadi copil, nda pelnah mau antal Key ke kantol papa. Mending abang copil takci itu, dia celalu mengelti pelacaan Key” Jelas Keysa dengan suara terengah-engah.
“Itu berbahaya, Keysa. Kamu bisa saja diculik, tubuhmu dipotong-potong, dijual... Kamu mau hal itu terjadi padamu?” tanya Arya kesal.
Dengan gaya bicara polosnya, Keysa menjawab singkat tapi menohok, “Nda lah. Badan Key nda laku. Kalau campai kelacunan, bica lemas, jadi nda ada yang mau beli.”
Keheningan menyergap ruangan, getirnya kenyataan terselip dalam ucapan polos sang anak. Arya terdiam, tenggelam dalam amukan batin yang tak mampu ia ungkapkan.
Arya menurunkan putrinya dari atas meja. "Duduk di sana jangan banyak tingkah" titah Arya sambil menunjuk ke arah sofa.
Keysa mengangguk, dia berlari menuju ke sofa. Bocah kecil itu seolah-olah lupa dengan tujuannya.
Arya menggelengkan kepalanya sambil mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Dia mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda gara-gara putrinya.
Tony masuk kedalam ruangan setelah mengurus pembayaran sopir taksi.
"Tuan, sebentar lagi ada rapat dengan bagian keuangan," ucap Tony dengan nada resmi seperti robot yang baru di-charge.
Arya hanya mengangguk sambil masih sibuk dengan layar laptopnya. "Siapkan berkasnya," titahnya tanpa mengangkat kepala, seperti raja yang lagi males ngomong panjang.
Tony langsung menyodorkan sebuah map berwarna merah mencolok. "Ini berkasnya sudah saya siapkan, Tuan. Rapi, lengkap dengan semua laporan keuangan bulan ini."
"Terima kasih," balas Arya sambil tersenyum tipis.
Saat Tony hendak berbalik dan ingin keluar dari ruangan itu, tiba-tiba terdengar suara keysa yang menghentikannya.
"Om Tony... Di cini ada kalyawan yang cantik nda? Key lagi nyali calon mama balu buat Key," tanya Keysa polos, mata bulatnya berkelap-kelip penuh harap.
Uhukkk—!
Arya langsung tersedak air liurnya sendiri. Matanya melotot, tangannya memukul-mukul dada seperti orang kena serangan jantung mendadak. Wajahnya memerah antara kaget, panik, dan ingin tertawa sekaligus.
"Keysa!" sergah Arya dengan suara parau, masih berusaha mengembalikan napasnya.
"Kenapa? Calah Key dimana? Papa nda punya ictli, telus Key caliin ictli balu buat papa. Benel kan Key?" Tanyanya dengan wajah polos.
Arya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Benar sih, tapi juga salah" gumamnya lirih.
Tony cuma bisa berdiri mematung di tempat, antara ingin kabur dan ingin merekam momen legendaris ini.
Ruangan yang tadinya tegang karena ingin rapat keuangan, mendadak berubah jadi panggung komedi dadakan.
Keysa mengedikkan bahunya dengan gaya dramatis ala anak kecil yang lagi ngambek, lalu menatap Tony dengan mata menyipit penuh selidik.
"Om Tony kenapa diam aja? Ada nda yang cantiknya?" desaknya tanpa ampun.
Tony melirik bosnya sekilas, seperti minta izin untuk tidak mati hari ini. Baru kemudian menjawab dengan hati-hati, "Ada Non, tapi tidak tahu masih ada yang jomblo atau tidak..."
Keysa langsung menggelengkan kepala dengan percaya diri berlebihan. "Macih ada pacti, nda mungkin cemua olang laku. Papa Key yang kaya laya aja nda laku-laku," ucapnya polos, tapi pedas.
Seketika itu juga, Arya yang masih berusaha pulih dari tersedak tadi, merasa ada anak panah yang tepat mengenai dadanya.
Gadis kecil itu kemudian turun dari sofa dengan gaya anggun, meski agak sempoyongan, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Mau kemana kamu, Keysa?" tanya Arya dengan suara agak meninggi, mulai panik.
"Mau cali angin. Cetles kali Key di cini, cepelti telpelangkap dalam keacingan," jawab Keysa sambil berjalan tanpa menoleh, pengucapan anak kecil yang semakin kacau.
Arya dan Tony langsung melongo bersamaan. Mereka saling pandang dengan ekspresi yang sama, bingung campur ngeri.
"Apa katanya, Ton?" tanya Arya sambil mengerutkan kening.
Tony menggaruk tengkuknya, wajahnya polos seperti anak SD yang baru dites Matematika. "Saya tidak mengerti, Tuan... Kayaknya bahasa alien campur bahasa nona Keysa."
Ruangan yang tadinya mau rapat keuangan, sekarang terasa seperti lagi syuting sinetron komedi keluarga. Arya hanya bisa menghela napas panjang, bertanya-tanya dalam hati, Kenapa anak kecil satu ini bisa bikin meeting penting terancam gagal total?.
Waktu berlalu cepat, meeting pun segera di mulai. Arya dan Tony masuk kedalam ruang meeting.
Sementara itu Keysa, di luar sedang melihat-lihat ke tempat karyawan yang sedang bekerja. Gadis kecil itu mengecek satu persatu wajah karyawan papanya seperti sedang audisi.
"Kulang cemua. Pantas aja papa jomblo telus huh" dumal Keysa, dia tidak menemukan wanita yang cocok untuk sang ayah. Menurutnya wajahnya tidak sesuai dengan tipe yang papa.
"Cali lagi deh, ciapa tahu macih ada" ucapnya. Dia berjalan dengan riang, sesekali melompat-lompat sambil tertawa cekikikan.
Namun Keysa yang tidak hati-hati, tidak sengaja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari dalam lift. Wanita itu juga sedang terburu-buru karena harus ke ruang meeting.
Bugh.....
"Aww...." pekik Keysa.
"Eh, maaf, aunty tidak sengaja"
Wanita itu berjongkok, dan membantu Keysa yang sedang terduduk sambil mengaduh kesakitan.
"Adik manis, apanya yang sakit?" tanya nya lembut.
Keysa perlahan mendongak, menatap wanita itu. Dia terdiam terpesona melihat kecantikannya.
"Cantik cekali, cocok jadi ictli balunya papa ini" gumamnya lirih.
"Hah"
"Kalau sudah tidak sakit, aunty tinggal dulu ya dek. Aunty harus meeting dulu. Bos aunty galak, nanti dia marah-marah kalau aunty telat" ucap Alya dan berlalu begitu saja meninggalkan Keysa.
Keysa menatap punggung Alya yang menjauh dengan langkah cepat, lalu mengernyit bingung sambil menepuk-nepuk pelipisnya. "Key lupa tanya nama aunty nya, ya ampun, udah pikun lupanya Key" gumamnya lirih, suara kecilnya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk kantor.
Tubuhnya yang semula terduduk langsung berdiri, matanya berkilat antara penasaran dan sedikit kecewa. Ia menoleh ke sekeliling ruangan, berharap bisa menemukan petunjuk tentang siapa wanita yang baru saja membantunya. Namun, hanya deretan meja dan komputer yang kosong menyambutnya.
Keysa menghela napas panjang, merasakan kekosongan yang aneh, seperti kehilangan seseorang yang baru saja dikenalnya tapi sudah menghilang begitu saja. "Nanti tanya om Tony deh" bisiknya penuh harap, sebelum akhirnya melangkah pelan kembali ke ruangan papanya.
*
*
Ceklek....
Di ruang meeting yang hening, tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. Semua mata langsung teralihkan, membeku sejenak menanti siapa yang datang.
Alya melangkah masuk dengan langkah gemetar, suaranya pecah saat berkata, "Maaf, saya terlambat"
Tatapan Arya menusuk tajam, seperti sengaja membakar ruang itu dengan api amarah yang membara di matanya.
"Duduk!" perintahnya singkat, penuh tekanan yang membuat udara seketika jadi tegang.
Alya menunduk cepat, membalas dengan suara kecil, "Terima kasih, tuan," sebelum bergegas menempati kursi yang kosong.
Hatinya masih berdetak kencang, tapi setidaknya dia lega, Arya tidak melontarkan kemarahan yang dia takutkan. Namun, di balik kelegaan itu, aura ketegangan masih menggantung berat di udara, seolah pertarungan belum benar-benar usai.
Tak lama kemudian, meeting pun resmi dimulai.
Bagian keuangan masuk dengan wajah serius, membawa laptop, proyektor, dan tumpukan map tebal yang seolah-olah beratnya setara dengan utang perusahaan. Febri, kepala keuangan yang sudah botak separuh karena stres, membersihkan tenggorokannya sebelum memulai presentasi.
"Baik, Tuan Arya. Kita mulai dengan laporan keuangan tiga bulan terakhir," ujarnya dengan nada formal yang kaku.
Slide pertama muncul di layar grafik batang berwarna merah dan biru. Febri mulai memaparkan satu per satu pengeluaran dan pendapatan perusahaan dengan detail yang mengerikan.
"Pada bulan lalu, pendapatan naik dua belas persen berkat proyek baru, tapi pengeluaran operasional membengkak delapan belas persen karena biaya maintenance server dan ada catatan tambahan untuk biaya tak terduga lainnya."
Arya mengangguk pelan, berusaha fokus. Tapi pikirannya masih setengah melayang ke anaknya yang sedang mencari angin entah di mana. Tony yang duduk di sampingnya sesekali melirik pintu, khawatir Keysa tiba-tiba muncul lagi dengan pertanyaan yang lebih mematikan.
Febri melanjutkan, "Kita juga melihat adanya peningkatan signifikan di pos keperluan kantor. Termasuk kopi, cemilan, dan pengeluaran tak terduga sebesar dua setengah juta untuk permen dan es krim anak kecil?"
Semua mata langsung tertuju ke Arya.
Arya batuk kecil, pura-pura batuk biasa. "Itu... keperluan penting," gumamnya diplomatis.
Tony di sebelahnya berusaha menahan senyum sampai pipinya kram. Dalam hati ia berpikir, Ini baru babak pertama, Tuan. Kalau Keysa balik dan mulai wawancara karyawan perempuan di depan tim keuangan, meeting ini bisa berubah jadi acara speed dating keluarga.
Febri melanjutkan presentasinya dengan gagah berani, meski sesekali suaranya agak goyah. Ia menjelaskan cash flow, budget overrun, hingga proyeksi tiga bulan ke depan. Ruangan hening, hanya terdengar suara klik mouse dan sesekali helaan napas berat dari peserta meeting.
Tiba-tiba, dari arah koridor terdengar suara langkah kecil mendekat.
Arya langsung menegang. Tony menelan ludah. Febri yang sedang menjelaskan angka-angka penting pun melirik ke pintu dengan curiga.
"Apa itu...?" bisik salah satu staf keuangan.
Belum sempat ada yang menjawab, pintu meeting room sedikit terbuka.
Ceklek....
Keysa mengintip dari celah pintu dengan ekspresi polos yang berbahaya, rambutnya agak acak-acakan karena kegiatannya tadi.
"Papa, udah celecai belum meetingnya? Key bocan. Mau tanya kalyawan yang cantik tadi..."
Seluruh ruangan langsung hening total. Febri jari telunjuknya masih menggantung di udara, slide berikutnya terlupakan. Beberapa karyawan wanita di ruangan saling pandang sambil tersenyum geli.
Arya menutup muka dengan tangan, setengah mati menahan malu.
Tony hanya bisa berbisik pelan, "Tuan... sepertinya rapat keuangan hari ini akan sangat berkesan."
Meeting yang seharusnya serius dan penuh data kini terancam berubah menjadi forum diskusi cari calon ibu tiri oleh seorang gadis kecil berusia tiga tahun.
Arya hanya bisa menghela napas panjang sambil dalam hati berdoa semoga putrinya tidak membuat ulah. Bisa turun reputasinya sebagai bos killer.
"Masuk sayang, meetingnya belum selesai," ucap Arya dengan suara lembut yang hampir tak dikenali. Nada suaranya manis seperti madu, jauh dari nada tegas dan dingin yang biasa ia pakai saat memarahi karyawan yang telat submit laporan.
Semua karyawan di ruangan langsung melongo. Febri yang masih berdiri di depan layar sampai melupakan pointer di tangannya. Beberapa staf wanita saling pandang dengan mata membulat, seolah baru menyaksikan alien menyamar jadi bos mereka.
"Ini beneran Pak Arya?" bisik salah satu karyawan ke temannya.
"Iya, suaranya kok melting gitu," balas yang lain sambil menahan senyum.
Dengan langkah kecil yang ragu-ragu, Keysa akhirnya masuk ke dalam ruangan. Matanya melirik ke segala arah, tapi begitu melihat banyak orang asing yang menatapnya, ia langsung mempercepat langkah menuju papanya.
Arya tak membuang waktu. Dengan gerakan cepat tapi penuh kasih sayang, ia mengangkat putrinya dan mendudukkannya di pangkuannya.
Keysa langsung menyembunyikan wajahnya ke dada Arya, malu berat. Tubuh kecilnya meringkuk seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan. Hanya rambutnya yang acak-acakan dan dua tangan kecilnya yang memeluk erat jas papanya.
Ruangan yang tadinya tegang karena angka-angka keuangan, mendadak berubah suasananya jadi hangat, dan sangat awkward.
"Lanjutkan presentasenya," titah Arya setelah memastikan Keysa sudah diam di pangkuannya. Suaranya kembali sedikit tegas, tapi masih ada sisa kelembutan yang membuat beberapa karyawan saling sikut.
Kini giliran Alya, salah satu analis keuangan wanita yang paling rajin di tim. Wanita berpenampilan rapi dengan kacamata tipis itu melangkah maju ke depan dengan sedikit gugup. Ia menatap Keysa sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ke layar proyektor.
"Baik, Tuan. Saya akan mempresentasikan analisis tren pendapatan dan pengeluaran divisi marketing selama empat bulan terakhir," ujar Alya sambil menekan remote.
Slide baru muncul grafik garis warna-warni yang naik turun seperti roller coaster. Alya mulai menjelaskan dengan suara profesional, tapi sesekali matanya melirik ke arah Arya dan Keysa.
"Terlihat di sini, ada peningkatan signifikan di bulan kedua karena kampanye besar. Namun di bulan ketiga, terjadi penurunan karena..."
Alya terdiam sejenak. Keysa yang tadinya menyembunyikan wajahnya, sedikit mengintip dari balik dada papanya. Matanya yang bulat polos menatap Alya dengan rasa ingin tahu yang besar.
Alya tersenyum kecil, agak grogi. Dia baru tahu kalau anak kecil yang tidak sengaja dia tabrak tadi ternyata anak bosnya. "Karena biaya iklan yang membengkak. Tapi secara keseluruhan, kita masih di jalur positif."
Tiba-tiba Keysa mengangkat kepalanya sedikit dan berbisik keras ke telinga Arya, "Papa, itu aunty nya cantik nda? Cocok jadi mama Key?"
"Uhukk....."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!