Kegiatan himpunan di pertengahan semester 3 ini sudah banyak menguras habis tenaga dan pikiran Gea. Separuh energinya tersedot untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang datang bertubi-tubi tanpa putus. Separuhnya lagi habis untuk rentetan kegiatan himpunan, mulai dari pelatihan organisasi di awal semester, kelas grafis komputer setiap hari Jumat untuk mempelajari autocad hingga sketchup, rhino secara bertahap, persiapan untuk orientasi himpunan, sampai pelatihan fotografi yang sudah mulai berjalan di bulan Oktober, dan kegiatan himpunan lainnya.
Di tengah-tengah jadwalnya yang padat itu, Gea menyadari kehadiran seorang pria seangkatannya yang mulai intens mendekat. Belum pernah berpacaran bukan berarti Gea buta arah atau tidak peka saat ada lawan jenis yang memberikan perhatian lebih. Kedekatan mereka
bertumbuh secara tidak sengaja karena selalu "terjebak" di wadah yang sama. Mulai dari samasama menjadi anggota bidang kesejahteraan mahasiswa di biro non-akademik, berlanjut ke divisi humas untuk pelatihan organisasi di awal semester 3 ini, dan kini, mereka kembali dipertemukan sebagai anggota divisi acara untuk orientasi himpunan mendatang.
Zayyan Putra : Sebelum rapat mau makan dulu gak? Tadi kamu belom makan siang loh
Gea membaca pesan dari Zayyan Putra begitu kelasnya selesai siang itu. Sebenarnya dia sedang tidak nafsu makan karena datang bulan. Sejak tadi pagi perut, pinggang hingga kakinya
terasa kram dan sakit. Dia hanya ingin pulang dan merebahkan tubuhnya. Namun sayang, rapat
follow-up di himpunan mengharuskannya menetap di kampus.
“Makan dulu, yuk,” ajak Jay-nama panggilan Zayyan. Sejak kelas selesai, pria itu memang
memperhatikan Gea yang hanya duduk lemas di bangkunya.
“Lagi gak napsu, Jay,” jawab Gea lirih. Wajah dan bibirnya terlihat pucat.
Tiba-tiba, langkah tergesa terdengar memasuki ruang kelas.
“Ge! Pas banget nih, di depan tadi pas gue makan ada ibu jamu,” seru Nindy yang baru datang,
“lo minum dulu. Siapa tau enakan. Mumpung masih anget.”
Dengan heboh, Nindy menghampiri Gea yang posisinya masih sama saat dia meninggalkannya di kelas, kepalanya ditaruh di atas tas yang dijadikan bantal, ditemani jaket untuk membuat tubuhnya lebih hangat.
Gea menerima tumbler berisikan jamu kunyit asem itu dan berkata, “Thank you ya, Nin.”
“Ibu jamunya tau aja ada yang butuh asupan jamu di kampus,” katanya, “lo gak mau balik aja?
Muka lo udah pucet gitu,” ucap Nindy.
Gea menggelengkan kepalanya.
“Aku anter pulang, ya?” tambah Jay. Dia benar-benar tidak tega melihat kondisi Gea yang sudah lemas.
“Tapi nanti kan pembahasan divisi acara…,” gumam Gea ragu.
“Kan ada aku sama temen-temen acara yang bisa jabarin follow-up kita, Ge,” bujuk Jay.
“Gue masih kuat kok, Jay. Santai-santai,” Gea tersenyum tipis.
“Geee!” suara Karin memecah suasana. Dia datang bersama Risa dengan kantong plastik berisikan wadah styrofoam.
“Bubur nih. Makan dulu yuk,” ucap Risa membantu membuka wadah bubur ayam tersebut.
Karin yang baru sadar langsung menatap bingung ke arah pria yang duduk di depan Gea.
“Ngapain Jay?”
“Ngecek kondisi ayang lah,” celetuk Nindy asal sambil tertawa.
Yang diledek hanya senyum-senyum salah tingkah.
“Lo tumben sampe sakit gini pas dapet,” kata Karin membantu menuangkan kuah bubur. “Dimakan, Ge. Sesuap dua suap gak apa-apa. Yang penting keisi perut lo.”
Karin menatap cemas karena Gea tidak kunjung mengangkat sendoknya.
“Iya nih. Apa gegara lagi jarang olahraga ya belakangan,” ucap Gea pasrah, lalu berusaha menyuap bubur ayam yang masih hangat itu.
“Hari Minggu besok kita cfd-an lah kalo gitu!” ajak Risa semangat.
“Yuk, ih! Kita kebanyakan rapat udah kayak anggota dewan sampe gak sempet olahraga,” sahut Nindy, memicu gelak tawa di antara mereka. Gea yang tadinya lemas pun akhirnya ikut tertawa dibuatnya.
Begitu sampai di rumah setelah rapat himpunan yang melelahkan, Gea langsung
merebahkan diri di kasur. Rasa kram di perutnya syukurlah sudah sedikit berkurang. Dia mengambil ponsel dari tas, lalu segera membalas pesan dari pria yang belakangan ini gencar
mendekatinya.
Zayyan Putra : Keadaan kamu gimana?
Gea : Udah enakan kok. Makasih ya tadi udah dianterin
Zayyan Putra : Ya udah kamu istirahat sana. Besok pagi aku jemput ya.
Gea : Besok pagi gue bareng Abang, Jay. Tadi dia ngomel dikit tau gue begini tapi gak ngabarin dia, hehehe. Jadi besok bakal dianter jemput Abang
Zayyan Putra : Oooh abang kamu besok gak kerja emangnya?
Gea : Abang lagi off besok. Eh hari ini juga
sih. Makanya ada di rumah. Gue tidur dulu ya, Jay. Lo juga istirahat ya.
... ...
...****************...
“Aster! *Tumbler*-nya ketinggalan!” teriak suara pria dari dalam mobil.
Gea yang merasa dipanggil segera berbalik, berlari ke arah mobil yang masih terparkir di depan lobi gedung Fakultas Teknik sambil tersenyum lebar.
“Thank you, Abangku,” katanya sambil berdiri di samping pintu kemudi dan menerima botol
tumbler berisikan jus cold-pressed campuran bit, apel, lemon, jahe dan kunyit buatan ibunya.
“Kebiasaan,” ucap si kakak, “nanti balik jam berapa?”
“Sore deh kayaknya, Bang. Mau ngumpul sama anak-anak acara.”
“Ya udah, nanti kabarin, ya.”
“Iya, Abang. Udah sana pergi, aku bentar lagi kelas,” ucap Gea, dibalas decakan gemas dari sang kakak yang tak lupa mencubit pipinya sebelum melajukan mobil keluar dari area kampus.
“Hai, Jay,” sapa Gea saat melihat Jay yang baru saja tiba.
“Hai. Tadi itu Abang kamu?” tanya Jay yang sempat melihat Gea berbincang saat dia memarkirkan motor.
Gea menganggukkan seraya mereka berjalan beriringan menuju kelas.
“Gimana keadaan kamu? Udah enakan?”
“Udah,” jawab Gea menyengir lebar. “Lo udah bikin presentasi buat nanti?”
“Udah, dong. Ngebut semalem,” jawab Jay sambil tertawa.
“Kebiasaan lo. Pasti gak tidur lagi ya semalem?”
“Tidur bentar, tadi abis subuh.”
“Jangan dibiasain, ah.”
“Iyaaa,” Jay mengusak gemas rambut Gea.
Tindakan sederhana itu sukses memberikan rasa menggelitik yang manis di perut Gea.
Sesampainya di kelas yang ada di lantai empat, Gea langsung bergabung bersama Nindy
dan Risa yang sudah sampai lebih dulu, sedangkan Jay memilih duduk bersama teman-temannya.
“Karin mana?” tanya Gea sambil mengeluarkan laptop dari tas ranselnya.
“Baru sampe depan kampus katanya,” jawab Risa santai.
“Buset, tumben si ibu kesiangan. Naah, panjang umur yang diomongin!” celetuk Gea saat Karin
muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah.
“Ngomongin gue apaan kalian?” tanyanya santai sambil berusaha mengatur napas.
“Lo tumben siangan, Rin,” kata Gea.
“Ada job baru kah?” tanya Risa penasaran.
“Tadi ke pagi gue mesti ke kantor agensi dulu. Kebetulan dapet proyek iklan buat brand lokal baru. Makanya tadi pagi-pagi banget mesti fitting baju dulu di kantor agensi,” jawab Karin sambil
mengeluarkan laptopnya.
“Keren banget si Ibu Model sibuk kita ini,” puji Nindy sambil menyenggol lengan Karin
dengan bahunya. “Tapi lo gak bakal bolos rapat himpunan sore nanti, kan? Bisa diamuk ketua pelaksana kita kalau kekurangan orang.”
“Enggaklah, aman. Jadwal gue sengaja dikosongin demi rapat entar,” sahut Karin santai. “Lagian, masa gue tega ngebiarin Gea pingsan sendirian di kampus?” sahut Karin santai, lalu melirik ke arah barisan meja pria. “Bisa diamuk sama pawangnya nanti gue kalau gak ikut jagain lo, Ge.”
“Pawang apaan sih, Rin!” potong Gea dengan pipi yang mendadak terasa hangat.
...****************...
“Udah jadian belom, sih?” tanya seorang perempuan bernama Ria.
Yang ditanya hanya tenang menyantap ketoprak sebagai makan siangnya.
“Lama deh lo, Jay,” cibir Putri.
“Keburu nyantol ama yang laen itu si Gea,” kali ini Adam ikut bersuara.
“Lo gak tau, kan, anak HI juga ada yang deket sama gebetan lo?” timpal Dion.
Alis Jay langsung berkerut, antara bingung dan tidak tahu soal berita itu. “Sotoy lo,” ucapnya
santai, berusaha menutupi rasa penasarannya.
“Yeh, dikasih tau juga. Kasih tau, Put,” kata Adam.
“Gue juga liatnya pas awal semesteran kemaren di kantin.”
“Paling temennya si Karin. Semua anak kampus juga kenal sama dia,” balas Jay, masih mencoba berpikiran positif.
“Yeh, gebetan lo juga banyak yang kenal dan demen tau,” tambah Ria, sukses membuat Jay
menatap lekat. “Dari awal semester juga banyak yang deketin dia, sampe ada yang nembak. Tapi
emang gak ditanggepin aja sama Gea,” lanjutnya.
“Kok lo tau?” tanya Jay menyelidik.
“Tembok kampus berbicara, Bro,” ucap Ria santai diikuti gelak tawa yang lain.
Jay sebenarnya sadar, tak sedikit pria di kampusnya yang membicarakan Gea. Dengan
paras cantik nan manis, kepribadiannya yang supple dan easy going memang menjadi magnet tersendiri bagi kaum adam. Berbeda dengan Karin yang terlihat untouchable dengan parasnya yang cantik yang tegas hingga membuat pria segan, atau Nindy dengan resting bitch face-nya yang membuat orang asing sungkan untuk menyapa atau Risa yang manis tapi sudah memiliki kekasih.
“Nah, si Gea ini pernah kelihatan makan berdua sama cowok HI yang *famous* itu. Siapa
namanya, Dam?” tanya Putri mencoba mengingat.
“Leon… Lion gitu deh namanya. Lupa gue juga.”
“Lyon,” ralat Ria. “Apa mesti gua tanyain nih ke Gea, sebenernya dia naksir apa enggak sama elo, Jay?” pancing Ria jahil.
Jay terdiam, mencoba mengingat-ingat pria yang namanya terdengar familier itu. “Yang mana, sih,
anaknya?”
“Ck, *jealous*,” goda Dion, memicu tawa meledek dari teman-temannya saat melihat muka Jay yang mendadak kusut.
Tanpa babibu, Ria langsung membuka akun media sosialnya dan mencari sebuah nama, lalu
menyodorkan ponselnya ke hadapan Jay. “Ini, si Lyon.”
“Ini cowoknya?” tanya Jay mengambil alih ponsel Ria, lalu mulai men-scrolling akun bernomor
pengikut ribuan tersebut.
Di antara deretan foto di feed, tatapan Jay terkunci pada dua atau tiga foto yang menampilkan sosok Gea yang sedang tersenyum bersama pria itu.
“Makanya, buruan deh lo gerak,” kompor Adam lagi, “saingan lo Lyon soalnya. Berat yang ini,
Bro” tambahnya santai, membuat isi kepala Jay makin penuh.
...****************...
Di sela-sela waktu senggang sebelum rapat mulai, Ria dan Putri mengajak Gea untuk
mengantarkan formulir lomba yang diadakan BEM universitas dalam rangka pekan olahraga
kampus.
“Lo gimana sama Jay, Ge?” tanya Ria di sepanjang koridor.
“Gimana apanya?” tanya Gea santai sembari membalas pesan di ponselnya kemudian
mengantonginya di saku belakang celana jins.
“Ya itu, kalian keliatan deket banget belakangan, kan. Udah jadian belom, sih? Gemes banget gue
tuh kalo liat kalian,” kata Ria diikuti kekehan.
Gea ikut terkekeh, “yaa gitu, Ri.”
“Tapi lo suka, kan, sama Jay?” tembak Putri langsung tanpa basa-basi.
Gea tertawa kecil, lalu membalas, “temen lo tuh yang gak nembak-nembak,” ucapnya seraya
memberikan kode kepada kedua perempuan yang juga teman dekat Jay itu.
Tepat setelat itu, mereka sampai di depan sekretariat BEM kampus dan mendapati sosok
yang tidak asing di sana.
“Iyon,” sapa Gea.
“Gea Aster!” cowok bernama Lyon itu langsung berbalik dan merangkul pundak Gea dengan
sangat akrab. “Ngapain lo ke sini?”
“Nganter formulir lomba. Lo?”
“Sama, nih.”
“Tumben lu ikut-ikut ginian,” ledek Gea, “ikut lomba apa lo?”
“Lari sama basket,” jawab Lyon santai.
Sembari menunggu Putri dan Ria yang masih mengisi data formulir pengembalian di meja panitia dan membahas *technical meeting*, keduanya berdiri di sisi lain.
“Dukung gue dong nanti pas tanding,” kata Lyon.
“Kalo gak ngelawan arsitek, gue dukung lo deh.”
“Parah,” sahut Lyon sambil tertawa. “Eh, lo bawa motor gak hari ini?”
“Enggak, tadi dianter Abang Kian. Kenapa?”
“Ya udah, entar bareng gue aja baliknya. Ibun nyuruh gue ke rumah lo.”
“Dih, ngapain Ibun nyuruh lo ke rumah?” tanyanya dengan alis terangkat, heran.
“Ibun masak rendang katanya. Gue disuruh ke rumah buat makan, sekalian dititipin buat
nyokap gue juga.”
“Ooh, oke deh. Jemput depan gedung teknik, ya,” ujar Gea memberikan senyuman lebar.
“Siap. Balik jam berapa lo?” Lyon melirik jam tangannya.
“Entaran, abis maghrib kali ya. Masih mau rapat dulu di himpunan.”
“Oh ya udah, gue tunggu lo di café depan deh kalo gitu. Gue udah gak ada kelas lagi.”
“Ya udah. Nanti gue kabarin kalo udah kelar. Eh, udah belom Put, Ri?”
“Udah, yuk!”
“Gue duluan ya, Iyon.”
“Oke.”
Sambil jalan kembali ke himpunan arsitektur, Gea tak lupa mengabari kakaknya untuk tidak
usah menjemput karena dirinya akan pulang bareng Lyon. Pesan itu pun langsung disetujui oleh sang kakak.
Setelah mereka kembali ke himpunan, obrolan Gea dengan Lyon siang tadi ternyata
langsung sampai ke telinga Jay dari cerita Ria dan Putri. Kabar mengenai kedekatan tak biasa
antara Gea dan Lyon sukses membuat hati Jay memanas sepanjang rapat, meskipun ia berusaha keras untuk terlihat setenang mungkin.
Rapat pun selesai. Tak sedikit penghuni himpunan berbaur keluar, ada yang ingin pulang
atau nongkrong di depan himpunan. Gea, Nindy, Risa, dan Karin memilih untuk pulang.
“Aster!” panggil Lyon yang sudah berdiri di lobi gedung fakultas teknik dengan leather jacketnya. “Yuk.”
Dari kejauhan, ada sepasang mata yang memperhatikan Gea yang kini berjalan menjauh dengan pria tinggi dan wajah tampan itu, pria yang wajahnya sering mondar mandir di akun base kampus karena kepopulerannya.
“Kaaan, apa gue bilang,” kata Ria yang berjalan di sebelah Jay. “Udah akrab banget mereka. Lo
cepet gerak, Jay.”
“Tadi lo pada gak jadi nanyain soal hubungan nih kunyuk sama Gea?” tanya Adam pada Putri dan
Ria.
“Udah, Dam. Kata Gea, dianya tuh yang gak nembak-nembak,” kata Putri menceritakan ulang
percakapan sore tadi dengan penuh semangat sambil menunjuk ke arah Jay.
“Udah gas aja, Jay. Udah di kode itu. Positif dah diterima pasti,” Dion menyenggol bahu
Jay yang sedari tadi hanya diam memandangi punggung Gea hingga dia menghilang dari
pandangannya.
“Tapi mereka kedengerannya akrab banget tau,” tambah Putri lagi, “kayaknya si Lyon juga kenal
sama orang tuanya Gea. Manggilnya Ibun, terus tadi di suruh ke rumah sama nyokapnya Gea,”
kata Putri menceritakan yang tadi dia dengar.
“Kalo udah gitu, udah pasti kenal sama keluarga sih,” sahut Adam santai, lalu menyalakan mesin
motornya. “Gak usah dianggap pusing, Sob. Si Gea udah kasih kode ke elo, tinggal lo tembak aja.
Gak usah diambil pusing soal si Lyon-Lyon ini.”
...****************...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!