*****
Asap kemenyan membubung kelabu, menari-nari di sela-sela tiang soko guru pendopo yang megah. Bau harumnya yang pekat berbaur dengan aroma minyak melati dari ronce yang menggantung berat di sanggul Larasati. Kepalanya terasa pening. Sudah berjam-jam dia dipaksa duduk bersila, menjadi tontonan ratusan pasang mata dalam upacara pernikahan adat kuno yang seolah tak memiliki akhir.
Jarik beludru hitam yang membungkus tubuh mungilnya terasa mencekik, sementara wiru kain batiknya dilipat begitu ketat, menahan setiap tarikan napasnya yang gemetar. Di usianya yang baru menginjak sembilan belas tahun, Larasati merasa malam ini bukanlah malam pernikahan, melainkan sebuah upacara penyerahan diri.
Di sebelahnya, duduk sesosok pria yang kini resmi menjadi suaminya. Raden Mas Baskoro. Pria gagah berusia tiga puluh lima tahun itu duduk dengan tegap tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya yang kaku berhias kumis tipis terawat, memancarkan aura wibawa yang dingin. Sepanjang ritual kacar-kucur tadi, ketika tangan besar Baskoro menuangkan beras kuning dan uang logam kuno ke bentangan kain di pangkuannya, Larasati bahkan tidak berani bernapas. Gemerincing koin-koin itu terdengar seperti suara rantai yang mengikat kebebasannya.
Malam semakin larut ketika seluruh rangkaian resepsi di pelataran luar akhirnya selesai. Gamelan yang bertalu-talu sejak siang mulai mereda, menyisakan tabuhan saron yang lamat-lamat dan sayup. Suasana pedesaan zaman lampau itu seketika disergap oleh kegelapan yang pekat. Di luar kompleks rumah juragan, desa itu gulita. Hanya ada nyala obor bambu yang dipasang setiap sepuluh langkah dan temaram lampu teplok yang bergoyang ditiup angin pegunungan.
"Mari, Nduk. Langkahnya ditata. Jangan sampai kainmu tersingkap," sebuah suara parau berbisik di dekat telinga Larasati.
Nyai ganal, seorang wanita paruh baya yang dituakan di keluarga besar Baskoro, memegang pundak Larasati. Wanita itu menyelimuti punggung Larasati dan Baskoro dengan kain sinduran—sehelai kain merah putih panjang—lalu menuntun keduanya berjalan perlahan menuju rumah joglo utama yang berdiri angkuh di atas bukit kecil.
Langkah kaki Larasati terasa teramat berat. Setiap kali kakinya melangkah di atas tanah berbatu, cincin di jarinya terasa dingin. Di sepanjang jalan setapak menuju rumah joglo, puluhan abdi dalem dan penduduk desa berdiri berderet. Begitu Baskoro melintas, mereka serentak menundukkan kepala dalam-dalam, sebagian bahkan berlutut di tanah kering. Penghormatan feodal yang begitu mutlak ini justru membuat bulu kuduk Larasati meremang.
Di atas bukit, rumah joglo milik Sang Juragan berdiri kokoh, dikelilingi oleh pohon beringin tua yang daun-daun lebatnya bergerak lambat diterpa angin malam. Suara burung hantu di kejauhan bersahutan dengan derik jangkrik yang tajam, mempertegas kesan bahwa Larasati kini benar-benar terperangkap di sebuah dunia asing yang menyeramkan.
"Hati-hati dengan undakannya, Nduk," bisik Nyai ganal lagi saat mereka mulai menaiki tangga selasar jati.
Larasati hanya mengangguk samar. Matanya menatap bayangan tubuhnya sendiri yang memanjang di dinding kayu akibat pantulan cahaya obor. Di depannya, punggung tegap Baskoro bergerak tanpa keraguan, seolah pria itu adalah raja kecil di wilayah ini.
Begitu melintasi pintu kayu jati yang tebal, mereka tiba di ruang dalam—sebuah ruangan luas yang sunyi, hanya diterangi oleh lampu minyak gantung berukuran besar. Suasana di dalam sini begitu hening, kontras dengan keramaian di pelataran luar tadi.
Baskoro menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Ia membalikkan badan perlahan, menghadap Nyai ganal dan para abdi dalem yang mengekor di belakang mereka.
"Tinggalkan kami sendiri," perintah Baskoro. Suaranya bariton, rendah, namun memiliki penekanan yang berat dan tidak membantah.
Nyai ganal langsung mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, membungkuk takzim. "Inggih, Raden Mas. Segala keperluan di kamar pengantin sudah hamba siapkan."
Setelah itu, pemandangan yang membuat Larasati bergidik terjadi. Nyai ganal dan tiga abdi dalem perempuan lainnya mundur perlahan menuju pintu keluar dengan cara berjalan jongkok—laku dodok. Lutut mereka menyentuh lantai lantai tegel yang dingin, bergerak mundur tanpa sekali pun berani mengangkat wajah menatap Baskoro. Setelah pintu jati ditutup rapat dari luar, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan.
Larasati membeku. Ia berdiri di sudut ruangan dekat sebuah pilar kayu besar, meremas ujung jariknya dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dingin. Jiwa remajanya menjerit, ingin sekali ia berlari keluar, pulang ke rumah gubuk orang tuanya yang hangat, lalu bermain di sungai bersama teman-teman sebayanya besok pagi. Namun realita menghantamnya keras; ia adalah istri seorang juragan sekarang.
Baskoro membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah istri kecilnya yang tampak seperti kijang tersudut. Pria itu menghela napas panjang, membuat dada bidangnya naik-turun. Ia melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai jati.
"Sampai kapan kamu mau berdiri di sana seperti patung, Larasati?" tanya Baskoro datar. Tidak ada nada amarah, namun dinginnya suara itu sanggup membuat Larasati berjengit.
"I-inggih, Gusti Juragan..." Larasati menjawab dengan suara mencicit, nyaris tak terdengar. Ia langsung menundukkan kepala, enggan menatap mata tajam suaminya.
Baskoro berjalan menuju meja marmer di tengah ruangan. Dengan gerakan takzim namun efisien, ia melepas keris pusaka yang terselip di pinggang belakangnya. Bunyi logam keris yang diletakkan di atas kotak kayu jati terdengar berdentang, klontang, menggema di ruangan yang sepi itu.
"Jangan memanggilku Juragan di dalam rumah ini. Aku suamimu," kata Baskoro sembari melepas kuluk—topi pengantin Jawa—dari kepalanya, menyisakan rambutnya yang tertata rapi.
"Nyuwun sewu, Raden Mas..." Larasati meralat ucapannya dengan tubuh yang semakin gemetar.
Baskoro menatap gadis itu lekat-lekat. Ia melangkah mendekati Larasati, berhenti tepat tiga langkah di depannya. Dari jarak ini, Baskoro bisa melihat dengan jelas bagaimana bahu tipis istrinya naik-turun karena ketakutan. Ada rasa bersalah yang berdenyut samar di dada pria matang itu. Ia tahu pernikahan politik ini merampas paksa masa muda gadis di depannya demi sebuah trah dan garis keturunan. Namun, gengsi dan kewibawaan seorang juragan membuatnya tetap memasang wajah kaku.
"Masuklah ke kamar. Bersihkan riasan wajahmu yang tebal itu. Bau melatinya membuatku pening," perintah Baskoro lagi, lalu berbalik memunggungi Larasati untuk melepas beskap hitamnya.
Larasati tidak menjawab. Dengan gerakan secepat yang bisa dilakukan oleh kain jarik yang melilit ketat kakinya, ia berjalan setengah menyeret langkah menuju kamar utama yang pintunya sedikit terbuka.
Begitu melangkah masuk, aroma dupa ratus yang dibakar di atas anglo kecil langsung menyergap indra penciumannya. Kamar itu sangat luas. Di tengahnya terdapat sebuah ranjang jati raksasa berkaki empat dengan kelambu sutra putih yang menggantung. Di atas ranjang, bertabur kelopak bunga mawar merah dan melati. Bukannya terlihat romantis, di mata Larasati yang polos, kamar itu tampak seperti sangkar emas yang menakutkan.
Larasati berjalan mendekati cermin besar berbingkai ukiran kayu kuno. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya yang biasa polos tanpa riasan kini tertutup bedak tebal dengan paes hitam di dahi. Ia terlihat asing bagi dirinya sendiri. Setetes air mata perlahan meluncur, merusak bedak di pipinya.
Krieeek...
Pintu kamar ditutup. Larasati terkejut dan langsung membalikkan badan. Baskoro sudah berada di dalam kamar, kini hanya mengenakan kemeja putih longgar berbahan katun tipis dan kain sarung tenun hitam. Sosoknya terlihat semakin besar di bawah temaram lampu minyak kamar.
"Kenapa menangis? Apa ada ritual yang membuatmu sakit?" tanya Baskoro, suaranya terdengar sedikit lebih berat saat ia duduk di tepi ranjang jati.
Larasati buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan. "M-mboten, Raden Mas. Kulo... kulo hanya lelah."
Baskoro terdiam sesaat. Matanya tertuju pada jari-jari kecil Larasati yang terus meremas kain. "Jika lelah, kenapa masih berdiri di sana? Kemari. Lepas sanggulmu. Apa lehermu tidak patah menyangga konde seberat itu?"
Mendengar perintah itu, ketakutan Larasati memuncak. Dalam cerita-cerita yang didengarnya dari para wanita di desa, malam pertama adalah saat di mana seorang suami akan menagih haknya dengan mutlak, tanpa peduli sang istri siap atau tidak. Bayangan harus melayani pria yang jauh lebih dewasa darinya itu membuat Larasati gemetar hebat. Ia melangkah maju dengan sangat lambat, lututnya terasa lemas seperti lolos dari persendian.
"Raden Mas..." bisik Larasati saat sudah berdiri di dekat ranjang, matanya menatap lantai tegel. "Kulo... kulo nyuwun pangapunten... kulo dereng siap..." (Saya mohon maaf, saya belum siap).
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara retakan kecil dari sumbu lampu minyak yang terbakar.
Baskoro menatap Larasati yang menunduk dengan tubuh gemetar. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan melalui hidung. Sebagai seorang juragan kaya yang terbiasa dihormati dan dituruti kata-katanya, penolakan tersirat seperti ini seharusnya memicu amarahnya. Namun, melihat kepolosan dan ketakutan yang begitu nyata di wajah istri kecilnya, ego Baskoro melunak.
Baskoro berdiri, membuat Larasati refleks mundur selangkah karena panik. Pria itu tidak menyentuh Larasati. Ia justru berjalan menuju lemari kayu besar, mengambil sebuah kain jarik tebal bermotif sidomukti yang harum karena disimpan bersama akar wangi.
Baskoro kembali ke ranjang, lalu meletakkan guling besar tepat di tengah-tengah kasur kapuk yang luas itu, membagi ranjang menjadi dua bagian yang sama besar.
"Tidurlah di sebelah sana," kata Baskoro dingin sambil menunjuk sisi ranjang yang paling jauh dari pintu. "Aku tidak akan menyentuhmu malam ini. Ataupun malam-malam berikutnya, sampai kamu sendiri yang siap dan memintanya."
Larasati mendongak, matanya yang basah melebar karena terkejut. "Raden Mas... mboten bendu?" (Raden Mas tidak marah?)
Baskoro tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia melemparkan kain jarik tebal ke arah Larasati, yang dengan cekatan ditangkap oleh gadis itu. "Ganti pakaianmu di balik kelambu. Angin malam pegunungan di sini sangat dingin. Aku tidak mau punya istri yang sakit-sakitan di hari pertama pernikahan."
Setelah mengatakan itu, Baskoro langsung berbaring di sisinya, membelakangi guling pembatas dan memejamkan mata. Sikapnya kembali kaku dan sedingin es, seolah-olah percakapan manis baru saja tidak pernah terjadi.
Larasati terpaku memandangi punggung suaminya yang lebar. Ada rasa lega yang luar biasa besar menyeruak di dadanya, namun di saat yang sama, rasa asing dan canggung yang tebal mulai membangun dinding di antara mereka. Dengan hati-hati, Larasati merangkak naik ke atas ranjang di sisi yang lain, meringkuk di bawah selimut jarik tebal, menatap bayang-bayang lampu minyak yang bergoyang gelisah di langit-langit kamar joglo yang sunyi.
Bersambung
****
Kokok ayam jantan bersahutan memecah kabut tipis yang menyelimuti perbukitan. Di atas ranjang jati yang luas, mata Larasati seketika terbuka. Jantungnya berdegup kencang diburu rasa panik yang mendadak. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, lalu menoleh ke samping. Sisi ranjang di balik guling pembatas sudah kosong dan rapi, hanya menyisakan semburat aroma kayu cendana yang samar.
Larasati tersentak. Sebagai anak perempuan desa, bangun setelah matahari terbit adalah pantangan besar, terlebih kini ia berada di rumah seorang juragan terpandang.
Dengan tergesa-gesa, Larasati menyingkirkan kain jarik tebal yang menyelimutinya. Rasa nyeri dan pegal di leher akibat sanggul berat semalam masih tersisa, namun ketakutan akan dicap sebagai istri yang malas jauh lebih besar. Ia bergegas mengganti pakaian pengantinnya yang berantakan dengan kain jarik harian dan kebaya katun lurik sederhana yang ia bawa dari rumah. Tanpa sempat menyisir rambut panjangnya dengan rapi, ia segera membuka pintu kamar perlahan, membiarkan tubuhnya menyelinap keluar ke arah dapur.
Suasana bagian belakang rumah joglo itu sudah sangat sibuk. Asap mengepul dari celah genting dapur ladang, membawa aroma gurih parutan kelapa dan nasi yang baru matang. Larasati melangkah ragu-ragu melewati selasar, mencoba menekan suara langkah kakinya.
Begitu ia menginjakkan kaki di ambang pintu dapur yang beralas tanah liat keras, tiga orang wanita paruh baya yang sedang menumbuk bumbu seketika menghentikan kegiatan mereka. Seorang wanita tua dengan rambut disanggul rapi—Mbok Sum—langsung menjatuhkan ulekan batunya.
"Gusti Nyai!" seru Mbok Sum dengan wajah panik. Ia buru-buru menjatuhkan diri, berlutut dengan posisi laku dodok di atas tanah, diikuti oleh dua pelayan muda di belakangnya. "Nyuwun pangapunten, Gusti. Kenapa Gusti Nyai sudah bangun dan repot-repot ke dapur? Apakah pelayanan kami semalam ada yang kurang merendahkan hati?"
Larasati tertegun, tubuhnya menegang melihat wanita yang usianya jauh di atas ibunya itu bersujud di kakinya. Jiwa muda sembilan belas tahunnya memberontak melihat pemandangan ini. Ia merasa sangat canggung dan bersalah.
"Mbok, jangan begitu. Berdirilah, tolong," ucap Larasati panik, tangannya terulur ingin membantu Mbok Sum berdiri, namun wanita tua itu justru semakin menunduk, takut menyentuh tangan sang majikan baru.
"Tidak berani, Gusti Nyai. Sudah tugas hamba dan yang lain untuk menyiapkan segala keperluan. Jika Raden Mas Baskoro melihat Gusti Nyai berada di dapur kotor ini, habislah nasib kami," bisik Mbok Sum dengan suara gemetar.
Larasati menarik kembali tangannya, merasa ada sekat tebal tak kasat mata yang tiba-tiba mengurungnya dari dunia luar. "Aku... aku hanya ingin membantu, Mbok. Di rumah, aku terbiasa menanak nasi dan menyapu pelataran sebelum fajar."
Mbok Sum perlahan mengangkat wajahnya, menatap Larasati dengan pandangan iba namun penuh hormat. "Sekarang tidak lagi, Gusti. Anda adalah permaisuri di rumah joglo ini. Tugas Anda adalah melayani Raden Mas Baskoro di meja makan, bukan berkutat dengan asap dapur. Mari, biar hamba antarkan air hangat untuk membasuh muka, setelah itu wedang dan sarapan Raden Mas sudah siap di meja depan."
Larasati hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Kepolosan mudanya dipaksa tunduk pada aturan kaku sebuah kasta.
Matahari mulai meninggi ketika Larasati berdiri di samping meja makan panjang berbahan kayu jati utuh. Di atas meja, telah tersaji nasi putih mengepul, sayur lodeh, sambal terasi, dan sepotong ayam goreng beraroma rempah. Di hadapannya, duduk Raden Mas Baskoro. Pria itu sudah rapi mengenakan kemeja lurik berkancing tinggi dengan kain jarik cokelat gelap, penampilannya begitu gagah dan berwibawa.
"Nasi, Larasati," ucap Baskoro singkat tanpa menoleh, matanya masih membaca selembar kertas pembukuan tanah desa.
Tangan Larasati mulai bergetar. Ia meraih centong kayu, mencoba mengambil nasi dari bakul. Namun, ketakutannya membuat sendok itu beradu dengan pinggiran bakul, menimbulkan suara klotak yang cukup keras di keheningan ruang makan. Larasati berjengit, buru-buru menyendokkan nasi ke piring Baskoro.
"Nyuwun sewu, Mas..." bisik Larasati, suaranya parau.
Baskoro meletakkan kertasnya perlahan. Ia beralih menatap tangan Larasati yang masih memegang centong dengan gemetar hebat. Sorot mata pria tiga puluh lima tahun itu tampak tajam, mengintimidasi siapa saja yang belum mengenalnya.
"Tuangkan wedang jahenya," perintah Baskoro lagi, suaranya rendah dan dalam.
Larasati meletakkan centong, lalu meraih teko kuningan yang berisi air jahe hangat. Saat moncong teko berada di atas cangkir, tangannya semakin tak terkendali. Air jahe itu bergoyang, dan beberapa tetes air panas terpercik mengenai ibu jari Baskoro yang berada di dekat cangkir.
"Ah!" Larasati memekik kecil karena terkejut. Ia langsung meletakkan teko dengan terburu-buru hingga airnya sedikit mendesis di atas meja. Dengan refleks seorang gadis desa, ia berlutut di lantai, memegang jemari Baskoro dan mencoba menyekanya dengan ujung kebayanya sendiri. "Nyuwun pangapunten, Mas! Kulo mboten sengaja... kulo serakah dan teledor. Tolong jangan hukum Mbok Sum atau yang lain..."
Baskoro tertegun. Ia menatap kepala Larasati yang menunduk di dekat lututnya, jemari kecil gadis itu terasa dingin dan basah di atas kulitnya. Baskoro menarik napas panjang. Ego kelakiannya terusik melihat ketakutan yang begitu besar dari istri mudanya. Ia tidak suka dianggap sebagai monster yang kejam oleh wanita yang seharusnya ia lindungi.
Baskoro menarik tangannya perlahan dari genggaman Larasati, lalu memegang bahu gadis itu, memaksanya untuk berdiri dan kembali duduk di kursi di sebelahnya.
"Duduklah," kata Baskoro, nadanya melembut meski wajahnya tetap kaku tanpa senyum. "Siapa yang bilang aku akan menghukummu atau orang dapur? Aku hanya meminta wedang, bukan meminta nyawamu."
Larasati duduk dengan canggung di tepi kursi, meremas jariknya sendiri, tidak berani membalas tatapan Baskoro.
"Apakah ranjang semalam kurang nyaman?" tanya Baskoro tiba-tiba, memecah kecanggungan.
"M-mboten, Raden Mas. Ranjangnya sangat empuk," jawab Larasati gugup.
"Lalu kenapa tanganmu gemetar seperti orang kelaparan? Makanlah. Setelah ini aku harus pergi ke balai desa sampai sore. Jaga dirimu di rumah," ucap Baskoro seraya menyendok nasinya sendiri, seolah kejadian tumpahnya wedang tadi tidak pernah terjadi.
Larasati hanya mengangguk pelan, menyadari bahwa di balik sikap dingin dan kaku suaminya, ada sebuah pengertian yang aneh yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.
Selepas siang, suasana rumah joglo terasa begitu sepi dan mencekam bagi Larasati. Baskoro telah pergi bersama beberapa pengawalnya, sementara para abdi dalem sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing di bagian belakang. Larasati yang tidak diperbolehkan menyentuh pekerjaan dapur atau sapu, merasa seperti burung yang dikurung di dalam sangkar emas yang megah namun mati.
Ia berjalan ke arah selasar samping, membuka jendela kayu jati yang besar. Angin bukit berembus segar, menerpa wajahnya. Dari titik tinggi rumah joglo itu, pandangan Larasati langsung tertuju pada jalan setapak di bawah bukit yang menuju ke arah sungai desa.
Di sana, samar-samar terdengar suara tawa melengking yang sangat ia kenali. Sri dan kawan-kawan sebayanya sedang berjalan beriringan. Mereka membawa bakul bambu berisi cucian di atas pinggang, berjalan tanpa alas kaki sambil bercanda ria, sesekali saling mencipratkan air dari kendi yang mereka bawa.
Jantung Larasati berdesir hebat. Jiwa mudanya berontak. Itu duniaku, batinnya perih. Baru dua hari lalu ia berada di sana, tertawa lepas tanpa beban, merendam kaki di air sungai yang dingin. Keinginan untuk merasakan kebebasan itu begitu kuat menenggelamkan semua nasihat ibunya tentang arti menjadi seorang istri juragan.
Tanpa pikir panjang, Larasati berbalik. Ia mengintip ke selasar, memastikan Mbok Sum tidak melihatnya. Dengan langkah seribu, ia menyelinap keluar melalui pintu belakang, berlari menuruni bukit berbatu dengan kain jarik yang ia angkat sedikit tinggi agar tidak membuatnya tersandung.
"Sri! Mirah!" panggil Larasati dengan napas terengah-engah saat ia berhasil menyusul kerumunan gadis-gadis itu di dekat pohon talok pinggir sungai.
Mendengar suara itu, gelak tawa kelompok gadis desa itu seketika terhenti. Sri dan Mirah berbalik. Namun, alih-alih menyambut Larasati dengan pelukan atau candaan seperti biasa, wajah mereka langsung memucat.
Sri buru-buru menjatuhkan bakul cuciannya ke tanah, lalu bersama gadis-gadis lainnya, mereka serentak membungkuk dalam-dalam dengan tangan tertangkup di depan dada.
"S-sembah nuwun, Gusti Nyai Baskoro..." ucap Sri dengan suara terbata-bata, matanya menatap tanah, tidak berani menatap langsung wajah Larasati.
Larasati menghentikan langkahnya, senyum di wajahnya memudar seketika. "Sri, ini aku, Laras. Kenapa kamu memanggilku begitu? Panggil saja Laras seperti biasa. Ayo, aku mau ikut mencuci di sungai."
Mirah menyenggol lengan Sri, tampak ketakutan. "Nyuwun sewu, Gusti Nyai. Kami tidak berani. Status Anda sekarang sudah berbeda. Anda adalah istri dari Raden Mas Baskoro, junjungan kami semua di desa ini. Sungguh tidak pantas bagi seorang Nyai Juragan berada di sungai kotor ini bersama kami."
"Tapi aku tidak peduli dengan status itu, Mirah! Aku masih Laras yang kemarin!" seru Larasati, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa asing yang teramat sangat dari sahabat-sahabatnya sendiri.
"Gusti Nyai mungkin tidak peduli, tapi Raden Mas Baskoro pasti peduli," potong Sri dengan suara pelan namun tegas. "Jika ada mata-mata juragan yang melihat kami memperlakukan istri beliau dengan sembarangan, keluarga kami bisa diusir dari tanah garapan. Tolong, Gusti Nyai... kembalilah ke joglo demi keselamatan kami."
Kata-kata Sri menghantam dada Larasati dengan telak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh. Ia menatap tangannya sendiri yang kini berhias cincin emas pemberian Baskoro—cincin yang ternyata menjadi pembatas abadi antara dirinya dan masa lalunya. Dunia lamanya telah menutup pintu rapat-rapat bagi dirinya. Dengan hati yang hancur dan langkah yang gontai, Larasati berbalik, berjalan lunglai kembali menaiki bukit menuju rumah joglo yang kini terasa seperti penjara bawah tanah.
Begitu kaki Larasati melangkah masuk ke halaman depan pendopo joglo, langkahnya mendadak terkunci.
Di atas pendopo, berdiri sesosok pria dengan tubuh tegap yang memancarkan aura kegelapan yang pekat. Baskoro sudah kembali. Pria itu berdiri diam dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya yang kaku kini dipenuhi oleh gurat kemarahan yang amat nyata, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Larasati yang datang dengan pakaian sedikit kotor dan wajah sembap habis menangis. Di samping pendopo, Mbok Sum dan beberapa pengawal tampak bersujud ketakutan dengan tubuh gemetar.
Baskoro melangkah turun dari undakan pendopo, setiap langkah kakinya seperti detak lonceng kematian bagi Larasati. Ia berhenti tepat di depan istri mudanya.
"Dari mana kamu, Larasati?" tanya Baskoro. Suaranya tidak keras, namun begitu dingin dan menusuk hingga membuat hawa sekitar terasa membeku.
Larasati menunduk, air matanya menetes ke atas tanah kering. "K-kulo... kulo dari sungai, Raden Mas..."
"Siapa yang mengizinkanmu keluar dari rumah ini tanpa pengawalan? Terlebih ke sungai desa?!" suara Baskoro meninggi satu nada, membuat Mbok Sum di kejauhan semakin merapatkan tubuhnya ke lantai.
"Kulo hanya ingin bertemu teman-teman, Raden Mas... kulo kesepian di dalam rumah ini," jawab Larasati jujur dengan isak tangis yang mulai pecah.
Baskoro mencengkeram rahang bawah Larasati perlahan namun tegas, memaksa wajah gadis sembilan belas tahun itu mendongak untuk menatap matanya yang membara oleh amarah dan harga diri yang terusik.
"Dengarkan aku baik-baik, Larasati," ucap Baskoro dengan penekanan di setiap kata. "Kamu bukan lagi gadis desa yang bebas berkeliaran dan bermain air di sungai. Kamu adalah istriku, Nyai di rumah joglo ini! Setiap langkahmu membawa nama baik trah keluargaku. Jika kamu keluar tanpa pengawal dan bertingkah seperti anak kecil, kamu bukan hanya merendahkan dirimu sendiri, tapi kamu sedang menginjak-injak kehormatanku sebagai suamimu!"
Larasati menatap mata Baskoro yang sedingin es, namun di balik kemarahan besar itu, ia bisa melihat secercah kekhawatiran yang tersembunyi. Baskoro melepas cengkeramannya, lalu berbalik memunggungi Larasati.
"Masuk ke kamar. Jangan keluar sebelum kamu bisa bersikap layaknya seorang istri juragan," perintah Baskoro dingin, meninggalkan Larasati yang terpaku di tengah halaman pendopo yang mulai diguyur keheningan malam.
Bersambung
****
Langkah kaki Larasati terseret limbung melewati ambang pintu kamar. Begitu daun pintu jati yang tebal itu berdentum menutup, seluruh kekuatannya seolah luruh ke lantai tegel yang dingin. Ditahannya isak tangis agar tidak terdengar sampai ke selasar luar tempat Mbok Sum dan para abdi dalem masih berjaga dengan ketakutan.
Di dalam kamar yang temaram, Larasati berjalan mendekati sebuah peti kayu kecil, satu-satunya barang yang diizinkan ia bawa dari rumah orang tuanya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh bagian paling dasar di balik tumpukan kebaya lamanya yang mulai luntur. Jemari kecilnya menarik sehelai selendang katun tipis berwarna hijau pudar.
Selendang itu bukan barang mewah. Sudut-sudutnya sudah mulai berserabut, namun benda itu membawa aroma tanah basah dan kebebasan yang tertinggal di desanya—sebuah pemberian sederhana dari Bagus, pemuda pembuat gerabah di ujung desa yang dulu kerap menunggunya di bawah pohon talok sebelum badai perjodohan ini merenggut segalanya.
Larasati mendekap selendang itu ke dadanya, membiarkan air matanya tumpah tanpa suara. “Kang Bagus…” bisik jiwanya yang terluka.
Menjadi istri seorang Raden Mas Baskoro yang bergelimang harta dan dihormati seluruh kecamatan ternyata tidak membuahkan seulas pun kebahagiaan. Singgasana joglo ini terasa gersang. Menikah dengan pria kaku berusia tiga puluh lima tahun yang menganggap senyuman sebagai kelemahan adalah neraka yang dibungkus sutra. Larasati tahu, ia tak pernah menginginkan semua kemewahan ini. Ia di sini hanya karena takdirnya telah digadaikan.
Dua hari berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Baskoro benar-benar menerapkan perintahnya; Larasati dilarang keras melangkah keluar dari area dalam joglo. Pria itu sendiri pergi sejak fajar menuju distrik seberang untuk mengurus sengketa perkebunan, meninggalkan rumah besar itu dalam cengkeraman sepi.
Rasa frustrasi dan bosan yang membakar dada membuat Larasati tidak bisa diam. Ia menolak hanya duduk di pinggir ranjang menanti malam. Dengan langkah ragu, ia menyusuri selasar tengah hingga kakinya berhenti di depan ruang kerja pribadi Baskoro—ruangan yang selama ini tabu untuk dimasuki siapa pun termasuk Mbok Sum.
Krieeek…
Pintu itu bergoyang saat Larasati mendorongnya pelan. Bau rokok klembak menyan dan minyak kayu jati kuno langsung menyengat. Ruangan itu tampak rapi namun berdebu di sudut-sudutnya. Didorong oleh keinginan untuk mencari kesibukan sekaligus rasa penasaran yang terlarang, Larasati mengambil kain perca dan mulai menyeka meja marmer hitam di sudut ruangan.
Pandangannya kemudian jatuh pada meja jati raksasa tempat Baskoro biasa memeriksa pembukuan tanah. Di sana terdapat sebuah laci besar dengan ukiran kepala naga. Larasati menyentuh gagang kuningan laci tersebut, dan di luar dugaannya, laci itu tidak terkunci. Celahnya sedikit terbuka, menampakkan gulungan-gulungan kertas tebal bercap segel lilin merah.
Entah keberanian dari mana yang merasuki jiwanya, Larasati menarik laci itu lebih lebar. Matanya tertuju pada selembar kertas merang berwarna kecokelatan yang tampak lebih kusam dari yang lain. Di bagian atas kertas tersebut, tertulis nama ayahnya: Sastro Wignyo.
Dengan jantung yang bertalu-talu bagai dideru lesung, Larasati membuka lipatan kertas tersebut. Matanya menyusuri tulisan tangan dengan aksara Jawa dan Melayu pasar yang tegas. Setiap kalimat yang ia baca perlahan mengubah aliran darahnya menjadi es.
"...Bahwa pihak pertama, Sastro Wignyo, menyatakan tidak sanggup melunasi utang pajak bumi dan sewa tanah garapan sebesar seratus ringgit kepada pihak kedua, Raden Mas Baskoro.
Maka dengan ini disepakati, seluruh utang dan tuntutan hukum dianggap lunas mutlak, dengan syarat pihak pertama menyerahkan anak perempuannya yang bernama Larasati untuk dinikahkan kepada pihak kedua tepat saat usia anak tersebut genap sembilan belas tahun, guna meneruskan garis keturunan trah..."
Tangan Larasati lemas. Kertas di genggamannya bergetar hebat hingga menimbulkan suara kresek yang lirih. Air matanya menetes, tepat mengenai cap jempol darah ayahnya di sudut kertas.
"Ternyata... hanya ini?" suara Larasati tercekat di tenggorokan. Air matanya mengalir semakin deras, menyapu pipinya yang pucat. "Aku bukan dinikahkan karena kehormatan... aku hanya barang tebusan. Dijual demi sejumput tanah..."
Jiwa mudanya hancur berkeping-keping. Segala rasa hormat dan canggung yang mulai tumbuh untuk Baskoro menguap, berganti dengan rasa jijik dan amarah yang membakar. Ia merasa dinistakan di bawah atap joglo megah ini.
Malam kembali turun, membawa hawa dingin dari puncak pegunungan. Angin berembus kencang, memukul-mukul jendela kayu hingga berderit gelisah. Larasati duduk tegak di pinggir ranjang jati, matanya menatap nanar ke arah pintu kamar. Kertas perjanjian terkutuk itu berada di genggaman tangan kanannya yang meremas hingga buku-buku jarinya memutih, sedangkan tangan kirinya memeluk erat selendang hijau pemberian Bagus.
Krieeek...
Daun pintu terbuka. Baskoro melangkah masuk dengan tubuh yang tampak lelah setelah perjalanan jauh. Ia baru saja melepas beskapnya di ruang depan, kini hanya mengenakan kemeja putih longgar. Namun, begitu melihat siluet istrinya yang duduk kaku dengan aura permusuhan yang pekat, langkah kaki Baskoro terhenti.
"Kenapa belum tidur, Larasati? Ini sudah lewat tengah malam," tanya Baskoro, suaranya terdengar berat dan lelah, namun tetap membawa ketegasan yang biasa.
Larasati tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri perlahan dari ranjang. Dengan tatapan mata yang berani—sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya—ia melangkah mendekati Baskoro.
Sret!
Larasati melemparkan kertas merang kecokelatan itu tepat di depan ujung kaki Baskoro yang beralaskan selop. Kertas itu mendarat dengan tidak terhormat di lantai jati.
Baskoro menurunkan pandangannya, menatap kertas yang sangat ia kenali itu, lalu kembali menatap wajah Larasati yang kini basah oleh air mata amarah. Alis tebal pria tiga puluh lima tahun itu bertaut.
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh barang-barang di ruang kerjaku?" suara Baskoro mendalam, ada nada ancaman yang tertahan di sana. Harga dirinya sebagai penguasa rumah terusik karena privasinya dilanggar.
"Siapa yang mengizinkan? Apakah seorang barang pajangan memerlukan izin untuk melihat harga belinya sendiri, Raden Mas?!" pekik Larasati. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian malam di dalam joglo.
Baskoro tertegun mendengarnya, namun wajahnya dengan cepat kembali mengeras seperti batu karang. "Jaga bicaramu, Larasati. Jangan berteriak di depanku."
"Kenapa?! Takut para abdi dalem mendengar bahwa Juragan besar yang mereka agungkan ternyata membeli seorang gadis desa untuk dijadikan mesin pembuat anak?!" Larasati melangkah maju satu langkah, menunjuk kertas di lantai dengan telunjuknya yang gemetar. "Ayahku bodoh! Dia mengira menyerahkanku ke sini adalah jalan menuju kemuliaan. Tapi ternyata dia hanya menjual anaknya demi melunasi utang seratus ringgit! Anda licik, Raden Mas! Anda memanfaatkan kemiskinan keluarga kami!"
Baskoro menatap Larasati dengan mata yang berkilat tajam. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Ia maju selangkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga auranya yang tinggi besar mengurung tubuh mungil Larasati.
"Cukup, Larasati!" bentak Baskoro. Suara baritonnya menggema berwibawa, sanggup membuat nyali siapa pun menciut. Namun Larasati kali ini tidak mundur. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang beban yang dipikul ayahmu saat itu! Jika aku tidak mengambil perjanjian itu, ayahmu sudah mendekam di penjara kolonial dan seluruh keluargamu akan menjadi gelandangan di jalanan!"
"Lebih baik aku menjadi gelandangan! Lebih baik aku kelaparan bersama keluargaku daripada harus hidup di rumah terkutuk ini bersama pria yang tidak aku cintai!" balas Larasati dengan dada kembang kempis. Ditunjuknya dada Baskoro dengan berani. "Aku tidak bahagia di sini! Aku membenci tempat ini, aku membenci tradisi kaku ini, dan aku membenci pernikahan ini!"
Mendengar kalimat 'aku membenci pernikahan ini', ada sesuatu yang berdenyut nyeri di balik dada Baskoro. Pria itu terdiam sesaat, matanya menatap luka yang mendalam di bola mata istrinya yang masih berusia sembilan belas tahun. Ego kelakiannya yang keras merasa ditampar. Namun, pandangan Baskoro kemudian beralih pada benda yang sejak tadi didekap Larasati di tangan kirinya—sehelai selendang hijau pudar.
Baskoro menyipitkan mata. Ia mengenali selendang itu. Itu bukan buatan rumah ini, bukan pula barang yang dibeli dari pasar kota dengan uangnya.
"Apa itu?" tanya Baskoro dingin, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah dan berbahaya.
Larasati refleks menyembunyikan selendang itu di balik punggungnya. "Bukan urusanmu!"
"Setiap jengkal tubuhmu dan apa yang kamu bawa adalah urusanku!" Baskoro merangsek maju. Dengan satu gerakan tangan yang cepat dan kuat, ia mencengkeram pergelangan tangan kiri Larasati, menariknya paksa ke depan hingga selendang hijau itu terebut ke tangannya.
"Lepaskan! Jangan sentuh benda itu! Kembalikan!" jerit Larasati, ia mencoba memukul dada Baskoro dengan tangan kanannya, namun kekuatannya sama sekali tidak berarti di hadapan kekuatan fisik pria dewasa itu.
Baskoro memandangi selendang tipis di tangannya dengan rahang yang kian mengatup rapat. "Selendang katun murahan... ini milik pemuda pembuat gerabah di ujung desa itu, bukan?"
Larasati terengah-engah, menatap Baskoro dengan tatapan menantang penuh kebencian. "Iya! Itu milik Kang Bagus! Pria yang jauh lebih punya hati daripada Anda! Tubuhku mungkin bisa Anda miliki karena surat utang sialan itu, Raden Mas... tapi hatiku? Sampai mati pun, hatiku tetap tertinggal di sungai desa bersama Kang Bagus! Anda tidak akan pernah bisa memilikinya!"
Kalimat jujur yang keluar dari bibir Larasati meletupkan amarah terbesar dalam hidup Raden Mas Baskoro. Sebagai juragan yang ditakuti dan dihormati, disembah oleh ratusan kepala, malam ini harga dirinya diinjak-injak oleh istri mudanya sendiri demi seorang pemuda miskin.
Baskoro menatap Larasati dengan pandangan sedingin es yang mematikan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah menuju meja sudut tempat lampu minyak gantung berada. Diangkatnya selendang hijau itu di atas api yang menyala dari sumbu lampu teplok.
"TIDAK! RADEN MAS, JANGAN!" jerit Larasati histeris. Ia berlari mencoba meraih selendang itu.
Wusss...
Api dengan cepat melahap kain katun tipis yang kering tersebut. Hanya dalam hitungan detik, selendang hijau yang menjadi simbol kebebasan dan cinta masa lalu Larasati berubah menjadi abu kelabu yang berjatuhan ke lantai jati, berbaur dengan kertas perjanjian utang yang tercabik.
Larasati jatuh bersimpuh di lantai, menatap sisa abu yang masih membara dengan tatapan kosong. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh kehampaan yang teramat sangat. Jiwa mudanya malam itu ikut terbakar habis bersama selendang tersebut.
Baskoro berdiri di atasnya, menatap lurus ke arah Larasati dengan wajah kaku tanpa ampun.
"Ingat posisimu sekarang, Nyai Larasati," ucap Baskoro, suaranya pelan namun bergetar oleh sisa amarah yang tertahan. "Kamu adalah istri sah dari Raden Mas Baskoro. Mulai malam ini, hapus nama pemuda itu dari otakmu. Karena di rumah joglo ini, suamimu adalah hukummu."
Baskoro berbalik, melangkah keluar dari kamar dan membanting pintu jati dengan keras, meninggalkan Larasati yang membeku dalam kegelapan malam yang kian pekat dan mencekam.
Bersambung
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!