Indonesia
NovelToon NovelToon

Cerpen Misteri Dan Horor

Bab 1_Sosok menyerupai ibuku part1

"Bu... akhirnya Ibu pulang juga?" bisik Nisa lirih sambil berlari menuju pintu depan. Wajahnya berbinar, tetapi kedua matanya dipenuhi rasa lega setelah menunggu sejak sore.

Perempuan yang berdiri di ambang pintu hanya tersenyum tipis.

"Iya... Ibu pulang." Suaranya terdengar pelan, datar, dan serak. Bibirnya nyaris tidak bergerak ketika berbicara, sementara senyumnya terasa begitu kaku.

Nisa memeluk tubuh ibunya erat.

"Ibu dingin sekali..." gumamnya pelan. Keningnya berkerut karena tubuh sang ibu terasa sedingin es.

"Di luar hujan." jawab wanita itu singkat. Tatapannya kosong menembus ruangan.

Nisa mengangguk pelan.

"Ibu pasti capek. Aku sudah masak mi goreng buat Ibu." katanya sambil tersenyum bangga. Matanya berbinar berharap mendapat pujian.

Wanita itu hanya menoleh perlahan.

"Ibu... tidak lapar." jawabnya datar.

Jawaban itu membuat senyum Nisa memudar. Biasanya, ibunya selalu memuji masakannya, walaupun hanya mi instan.

"Aku buat pakai telur kesukaan Ibu..." ucap Nisa lirih. Bibirnya bergetar menahan kecewa.

Wanita itu tetap diam.

Tatapannya justru tertuju ke lorong rumah yang gelap, seolah sedang memperhatikan seseorang yang tidak terlihat.

Buluk...

Buluk...

Buluk...

Terdengar suara tetesan air dari ujung rambut wanita itu.

Aneh.

Padahal hujan sudah berhenti hampir satu jam yang lalu.

"Ibu... rambut Ibu masih basah." kata Nisa pelan sambil hendak mengambil handuk.

"Jangan sentuh Ibu!" bentak wanita itu tiba-tiba. Matanya membelalak lebar, sementara wajahnya berubah pucat mengerikan.

Nisa tersentak. Tubuh kecilnya langsung gemetar.

"I-iya, Bu..." jawabnya ketakutan. Air matanya mulai menggenang.

Beberapa detik kemudian... Wanita itu kembali tersenyum.

"Maaf... Ibu hanya lelah." katanya dengan rasa bersalah.

Senyumnya masih terlihat aneh. Seolah wajah itu sedang dipaksa tersenyum oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Malam semakin larut.

Nisa masuk ke kamarnya. Namun sebelum tidur... Ia mendengar suara langkah kaki di atas plafon.

Tok...

Tok...

Tok...

Nisa menutup telinganya menggunakan bantal.

"Mungkin tikus..." bisiknya mencoba menenangkan diri. Napasnya masih memburu.

Namun suara itu semakin keras.

Duk...

Duk...

Duk...

Seolah seseorang sedang berjalan perlahan tepat di atas kepalanya.

"Ibu?" panggil Nisa sedikit keras. Wajahnya pucat.

Tidak ada jawaban.

Beberapa menit kemudian... Suara itu berhenti. Nisa menghela napas lega.

Tetapi...

Krek...

Pintu kamarnya terbuka sendiri.

"Ibu?" panggilnya lagi. Suaranya mulai bergetar.

Di balik pintu...

Terlihat ibunya berdiri. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah.

"Ibu... belum tidur?" tanya Nisa sambil memaksakan senyum.

Wanita itu mengangguk pelan.

"Nisa..." panggil pelan ibunya.

"Iya, Bu?" jawab Nisa. Tatapannya dipenuhi kebingungan.

"Jangan pernah keluar kamar... kalau nanti mendengar suara Ibu memanggil dari luar." lanjutnya

Jantung Nisa seakan berhenti berdetak.

"Maksud Ibu?" tanyanya pelan. Napasnya tercekat.

Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya menutup pintu perlahan.

Kreeeek...

Malam kembali sunyi.

Sekitar pukul dua dini hari...

"Nisa..."

Suara ibunya terdengar dari luar kamar.

"Nisa... buka pintunya..."

Mata Nisa langsung terbuka.

"Ibu?" gumamnya pelan.

Ia baru saja melihat ibunya masuk ke kamar sebelah beberapa menit yang lalu.

Lalu...

Siapa yang sekarang memanggil dari luar?

"Nisa... cepat buka..."

Suara itu kini berubah menjadi tangisan.

"Ibu takut..." bisik lirih Nisa ketakutan.

Air mata Nisa menetes.

Ia hampir membuka pintu.

Namun tiba-tiba...

Dari dalam lemari pakaiannya, terdengar suara lain.

"Jangan dibuka..." cegah suara itu mencoba menahannya.

Suara itu... Suara ibunya.

Nisa membeku.

Ia menoleh perlahan ke arah lemari. Pintu lemari bergerak sendiri.

Kreeek...

Di dalamnya...

Ibunya sedang meringkuk sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Wajahnya penuh air mata.

"Jangan buka pintunya..." bisik sang ibu dengan tubuh gemetar hebat. Tatapannya dipenuhi ketakutan yang belum pernah Nisa lihat sebelumnya.

Nisa merasakan seluruh darah di tubuhnya membeku.

Kalau ibunya berada di dalam lemari...

Lalu.... Siapa yang sejak tadi berdiri di luar kamar?

Tok...

Tok...

Tok...

Ketukan di pintu berubah semakin keras.

"Nisa..." suara itu kini terdengar berat, serak, dan tidak lagi terdengar seperti manusia.

"Aku tahu... ibumu ada di dalam..."

Bab 2_Sosok menyerupai ibuku part2

Tok...

Tok...

Tok...

Ketukan di pintu semakin keras. Suara itu menggema ke seluruh kamar, membuat dinding tua bergetar pelan.

"Nisa..." panggil suara dari luar. Kali ini terdengar lembut, sama persis seperti suara ibunya. "Sayang... buka pintunya. Ibu kedinginan."

Tubuh Nisa membeku. Air matanya terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Tangannya gemetar hebat, sementara napasnya memburu.

Di dalam lemari...

Ibunya masih meringkuk sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Seluruh tubuh wanita itu bergetar hebat.

"Jangan dibuka..." bisiknya lirih. Wajahnya pucat pasi, matanya dipenuhi ketakutan yang begitu dalam. "Apa pun yang terjadi... jangan pernah buka pintunya."

"Ibu..." isak Nisa. Bibirnya bergetar hebat. "Sebenarnya... siapa yang di luar itu?"

Sang ibu memejamkan mata. Air mata menetes satu per satu di pipinya.

"Itu bukan manusia..." ucapnya lirih. Suaranya tercekat oleh rasa takut yang selama ini ia pendam. "Dia sudah mengikutiku... sejak aku masih seusiamu."

Nisa menatap ibunya dengan mata membelalak.

"Mengikuti Ibu?" tanyanya pelan. Dadanya terasa sesak.

Sang ibu mengangguk perlahan.

"Dulu... Ibu pernah tersesat di sebuah hutan saat pulang dari rumah nenekmu." Napasnya memburu. "Saat itu hari sudah malam. Aku mendengar seseorang memanggil namaku... memakai suara nenekmu."

"Ibu percaya?" tanya Nisa.

"Aku percaya..." jawab sang ibu sambil menangis. Bahunya bergetar hebat. "Aku mengikuti suara itu... sampai akhirnya aku melihat seseorang yang wajahnya persis seperti nenekmu."

Nisa menelan ludah.

"Lalu?" tanya Nisa makin penasaran.

"Waktu itu... nenekmu yang asli datang sambil berteriak memanggilku dari arah belakang." lanjutnya.

Suara ketukan di pintu kembali terdengar.

DUK!

DUK!

DUK!

"Nisa..." panggil sosok itu lagi. Nada suaranya mulai berubah serak. "Kenapa kau lama sekali? Bukakan pintunya..."

Sang ibu menutup telinga.

"Dia suka meniru suara orang yang kita cintai..." bisiknya sambil menangis. "Kalau kita percaya... dia akan mengikuti kita seumur hidup."

"Kenapa dia mengikuti Ibu?" tanya Nisa. Wajahnya dipenuhi ketakutan.

"Aku sempat menjawab panggilannya..." jawab sang ibu lirih. "Sejak malam itu... dia tidak pernah benar-benar pergi."

Tiba-tiba...

Brakkk!

Seluruh rumah berguncang. Lampu kamar berkedip-kedip. Cahaya kuning redup menyala lalu padam berkali-kali.

Di luar terdengar suara tawa.

"Hehehehehe..."

Tawanya lirih.

Namun perlahan berubah menjadi suara yang berat dan mengerikan.

"Hahahahaha...!"

Nisa spontan memeluk ibunya.

"Aku takut, Bu..." ucapnya sambil menangis tersedu-sedu. Tubuhnya gemetar hebat.

Sang ibu memeluk putrinya erat.

"Maafkan Ibu..." bisiknya. Air mata mengalir tanpa henti. "Seharusnya Ibu tidak pernah membawamu tinggal di rumah ini."

Tiba-tiba...

Suara dari luar kembali terdengar.

"Nisa..." panggil suara itu lagi.

Kali ini bukan hanya suara ibunya. Suara itu berubah menjadi suara mendiang ayahnya.

"Nak..." panggilnya lembut. "Ayah pulang..."

Nisa membeku. Air matanya mengalir semakin deras.

"Itu... suara Ayah..." bisiknya lirih.

Sang ibu langsung menggenggam tangan Nisa erat.

"Jangan dengarkan!" bentaknya dengan wajah panik. Matanya memerah dipenuhi ketakutan. "Dia bisa menjadi siapa saja!"

Di luar...

Suara itu kembali berubah. Kini terdengar seperti suara sahabat Nisa. Lalu berubah lagi menjadi suara guru sekolahnya.

Kemudian menjadi suara anak kecil yang menangis memilukan. Semua bercampur menjadi satu.

"Nisa..."

"Bukakan..."

"Tolong..."

"Kami kedinginan..."

Suara-suara itu menggema dari segala arah.

Nisa menutup kedua telinganya sambil menangis histeris.

"Tolong berhenti!" teriaknya. Wajahnya basah oleh air mata.

Mendadak...

Seluruh suara itu menghilang. Rumah menjadi sangat sunyi. Tapi kesunyian yang justru terasa lebih menyeramkan.

Beberapa detik kemudian...

Terdengar suara langkah kaki dari atas plafon.

Duk...

Duk...

Duk...

Langkah itu berhenti tepat di atas kamar mereka.

Lalu...

Terdengar suara cakaran panjang.

Kreeeet...

Kreeeet...

Seolah kuku yang sangat panjang sedang menggores kayu langit-langit.

Sang ibu mendongak perlahan. Wajahnya langsung kehilangan warna.

"Dia..." bisiknya dengan bibir bergetar. "Dia sudah masuk ke loteng."

Belum sempat mereka bergerak...

Terdengar suara benda berat merangkak di atas kepala mereka.

Bruk...

Bruk...

Bruk...

Debu-debu halus berjatuhan dari plafon.

Kemudian...

Muncul retakan panjang.

Krak...

Krak...

Krak...

Nisa memeluk ibunya semakin erat.

"Ibu..." tangisnya pecah. "Apa yang harus kita lakukan?"

Sang ibu menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.

"Hanya ada satu cara..." ucapnya lirih. Senyumnya tipis, tetapi dipenuhi kepasrahan.

"Cara apa?" tanya Nisa dengan napas memburu.

"Aku harus menghadapinya..." jawab sang ibu. Tatapannya berubah tegas meski air mata masih mengalir.

"Tidak!" teriak Nisa sambil menggeleng keras. "Aku tidak akan membiarkan Ibu pergi!"

Sang ibu mengusap pipi putrinya dengan tangan yang dingin.

"Dengarkan Ibu..." katanya lembut. Senyum penuh kasih tersungging di wajahnya. "Kalau nanti apa pun yang terjadi... jangan pernah melihat wajah makhluk itu."

Air mata Nisa mengalir semakin deras.

"Ibu..."

Belum sempat kalimatnya selesai...

BRAAAKK!!

Plafon kamar jebol. Serpihan kayu berjatuhan ke lantai.

Di tengah debu yang mengepul...

Sesuatu merangkak turun dengan gerakan patah-patah. Rambutnya panjang menutupi wajah.

Namun tubuhnya... Persis seperti tubuh ibunya.

Lalu perlahan... Makhluk itu mengangkat kepalanya.

Di balik helaian rambutnya...

Terlihat sepasang mata putih tanpa bola mata... Dan sebuah senyuman yang robek hingga ke kedua telinga.

"Akhirnya..." bisiknya dengan suara yang sama persis seperti suara sang ibu.

"Aku menemukan kalian..."

Bab 3_Sosok menyerupai ibuku part akhir.

"Jangan lihat wajahnya!" teriak sang ibu dengan wajah panik. Matanya membelalak, sementara tubuhnya langsung berdiri di depan Nisa, melindungi putrinya dengan kedua tangan yang terbentang.

Makhluk itu memiringkan kepalanya perlahan.

Senyumnya semakin lebar.

"Hehehe..." tawanya lirih. Bahunya bergerak naik turun, seolah menikmati ketakutan mereka.

"Nisa..." panggilnya lagi dengan suara lembut yang sangat mirip suara sang ibu. "Kemarilah... Ibu merindukanmu."

Nisa memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya terus mengalir. Jemarinya mencengkeram baju ibunya hingga memutih.

"Aku tidak akan mendengarkanmu!" teriak Nisa dengan suara bergetar. Wajahnya dipenuhi ketakutan, tetapi ada keberanian yang mulai tumbuh di dalam dirinya.

Makhluk itu berhenti tertawa.

Perlahan ia menoleh ke arah sang ibu.

"Kau..." desisnya. Suaranya berubah berat dan menggeram. "Selama puluhan tahun kau terus melarikan diri dariku."

Sang ibu menarik napas panjang.

"Iya," jawabnya lirih. Wajahnya tetap pucat, tetapi tatapannya mulai tegas. "Karena aku tahu siapa dirimu."

Makhluk itu merangkak semakin dekat.

Tubuhnya bergerak patah-patah. Setiap persendiannya berbunyi retak.

"Krak..."

"Krek..."

"Krek..."

"Aku hanya ingin masuk..." katanya sambil tersenyum mengerikan. "Seseorang harus mengizinkanku."

Sang ibu menggeleng pelan.

"Tidak akan pernah."

Makhluk itu menggeram keras hingga seluruh rumah bergetar.

"Lalu biarkan anakmu menggantikanmu!"

"Tidak!" bentak sang ibu. Wajahnya memerah dipenuhi keberanian.

Ia meraih sebuah kalung kecil yang sedari tadi tersembunyi di balik bajunya.

Kalung itu berbentuk salib kayu tua yang sudah kusam.

Nisa baru pertama kali melihat benda itu.

"Ibu..."

"Dulu nenekmu memberikan ini," ucap sang ibu sambil menggenggam kalung itu erat. Air matanya kembali menetes. "Beliau bilang... makhluk itu tidak bisa menyentuh orang yang hatinya tidak menyerah pada rasa takut."

Makhluk itu mendesis marah.

"Itu tidak akan menghentikanku!"

Sang ibu mengangkat kalung tersebut.

Dengan suara bergetar, ia mulai berdoa.

Doanya sederhana.

Namun semakin lama semakin lantang.

Rumah kembali berguncang.

Angin dingin berembus sangat kencang.

Makhluk itu menjerit.

"Aaaaaargh!"

Tubuhnya mengeluarkan asap hitam pekat.

Kulitnya mulai retak seperti tanah yang mengering.

"Tidak!" jeritnya sambil menutup wajahnya.

Sang ibu terus berdoa tanpa berhenti.

Nisa ikut menggenggam tangan ibunya.

Meski masih menangis, ia mulai mengucapkan doa yang sama.

Tangis berubah menjadi keberanian.

Ketakutan berubah menjadi keyakinan.

Semakin lama...

Suara jeritan makhluk itu semakin melemah.

Wajah yang menyerupai sang ibu mulai meleleh, berubah menjadi sosok hitam tanpa bentuk.

Satu per satu suara yang selama ini ditirunya keluar bersamaan.

Suara nenek.

Suara ayah.

Suara sahabat.

Suara anak kecil.

Semua bergema memenuhi rumah sebelum akhirnya menghilang.

Makhluk itu mengangkat kepalanya untuk terakhir kali.

Tatapannya kosong.

"Aku... belum... selesai..."

Tubuhnya perlahan hancur menjadi abu hitam yang diterbangkan angin malam.

Seketika...

Rumah kembali sunyi.

Lampu yang sejak tadi berkedip kini menyala normal.

Udara dingin perlahan menghangat.

Tidak ada lagi suara ketukan.

Tidak ada lagi suara tawa.

Hanya isak tangis Nisa dan ibunya yang memenuhi kamar.

Nisa langsung memeluk ibunya erat.

"Ibu..." tangisnya pecah. Wajahnya basah oleh air mata. "Kita selamat..."

Sang ibu membalas pelukan itu sambil menangis.

"Iya, Nak..." bisiknya. Senyumnya tipis, penuh rasa syukur. "Akhirnya... semua sudah berakhir."

Keesokan paginya, matahari bersinar hangat untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun rumah itu terasa suram.

Sang ibu mengajak Nisa meninggalkan rumah tua tersebut.

Sebelum pergi, mereka menoleh untuk terakhir kalinya.

Rumah itu tampak kosong.

Tak lagi menyeramkan.

Tak lagi terasa dipenuhi hawa yang menyesakkan.

Beberapa hari kemudian, rumah itu dijual dan akhirnya diratakan. Di atas tanah bekas rumah tersebut dibangun sebuah taman kecil yang selalu ramai oleh anak-anak bermain.

Sejak malam itu, sang ibu tidak pernah lagi mendengar suara yang memanggil namanya.

Tidak ada lagi ketukan di tengah malam.

Tidak ada lagi bayangan yang mengikuti.

Teror yang menghantuinya selama puluhan tahun benar-benar telah berakhir.

Namun, sebelum meninggalkan tempat itu untuk selamanya, sang ibu berpesan kepada Nisa dengan wajah tenang.

"Ingat satu hal, Nak," ucapnya lembut sambil menggenggam tangan putrinya. "Jika suatu malam nanti kau mendengar seseorang memanggilmu dari balik pintu dengan suara orang yang paling kau cintai... padahal kau tahu mereka tidak mungkin berada di sana..."

Nisa mengangguk pelan.

"Jangan pernah menjawab."

Angin sore berembus pelan, membawa dedaunan kering berputar di halaman bekas rumah itu.

Di kejauhan, terdengar suara tawa anak-anak yang riang.

Dan sejak hari itu, Nisa memahami bahwa tidak semua suara yang terdengar akrab berasal dari manusia. Ada kalanya, yang paling berbahaya bukanlah sosok yang menyeramkan, melainkan sesuatu yang datang dengan wajah dan suara orang yang paling kita percaya.

TAMAT

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!