Indonesia
NovelToon NovelToon

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Chapter 1

‎Hujan mengguyur kota tanpa henti sejak matahari terbenam. Petir menyambar beruntun, memecah kegelapan dan membuat lampu ruang tamu berkedip-kedip samar, seolah mengikuti irama jantung yang berdebar kencang.

‎‎Di tengah ruangan itu, Haris duduk kaku di atas sofa beludru yang terasa dingin. Jas biru gelapnya sudah dilepas, dasi kupu-kupu yang tadinya rapi kini diremas kuat di genggamannya. Di hadapannya, secangkir teh yang disajikan tadi sudah dingin, sama seperti telapak tangannya yang berkeringat dingin dan terus gemetar.

‎‎"Tenang saja, Nak Haris," sapa Bu Laras lembut sambil tersenyum berusaha menenangkan. "Kania cuma pergi sebentar untuk membeli kado ulang tahun untuk adiknya. Pasti sebentar lagi pulang."

‎‎Haris hanya mengangguk pelan, tapi matanya tak lepas dari jarum jam di dinding. Setiap detik terasa berjalan lambat seperti menahan napas.

‎‎Jedarrr!!!

‎‎Sambaran petir terdengar di atas atap rumah, diikuti suara angin yang berhembus kencang. Disaat bersamaan, pintu depan terbuka lebar dengan hentakan keras.

‎‎Kania.

‎‎Wanita itu berdiri di ambang pintu. Air hujan menetes dari ujung rambutnya yang basah kuyup, mengalir turun membasahi lantai. Gaun putih anggun yang ia kenakan kini terlihat kusam, kotor, dan robek di beberapa bagian.

‎‎Bibirnya pucat, matanya kosong tanpa cahaya, seolah jiwanya sudah pergi entah ke mana. Namun meski tubuhnya gemetar hebat, ia tetap memaksakan langkahnya melangkah masuk.

‎‎Seketika itu ruangan menjadi sunyi. Hanya terdengar suara rintik hujan yang menghantam atap dan napas Haris yang tercekat di tenggorokan. Detak jam dinding yang tadinya tak terasa, kini berbunyi keras dan berat.

‎‎Bu Laras segera berlari mendekat, menarik tubuh Kania yang dingin itu ke dalam pelukan erat.

‎‎"Non... Siapa yang berani berbuat ini?!" tanya Bu Laras, suaranya bergetar bercampur tangis panik. "Ceritakan pada Ibu, apa yang terjadi?! Jangan diam saja seperti ini, Non,"

‎‎Namun Kania tidak menangis. Ia tidak meronta, tidak juga membalas pelukan Bu Laras. Tubuhnya terasa kaku dan dingin seperti patung es. Matanya menatap ke depan, menatap Haris dan cincin berlian yang terlihat menyala terang di jari pria itu, yang kini terasa begitu menyilaukan sekaligus menyakitkan.

‎‎Pelukan Bu Laras semakin erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatan yang dimiliki agar bisa mencairkan kedinginan yang merayapi tubuh perempuan yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. Namun Kania masih diam membisu, matanya menatap kosong menembus ruangan.

Haris langsung berdiri tergopoh-gopoh, kakinya terasa tertancap di lantai.

‎"Kania… Apa yang terjadi?" ‎‎tanya Haris, suaranya keluar parau, hampir tak terdengar di antara gemuruh hujan. ‎"Kenapa kamu terlihat seperti ini?"

‎‎Baru saat itu kelopak mata Kania bergetar perlahan. Air mata yang tak bisa keluar sejak tadi akhirnya turun, bercampur dengan sisa air hujan di pipinya. Bibirnya bergerak berulang kali sebelum suara lirih dan pecah itu terdengar.

‎‎"Aku… aku… Haris… aku takut…"

‎‎"Takut apa? Katakan, apa yang sebenarnya sudah terjadi padamu?!" bentak Haris sedikit meninggi, tapi nada bicaranya justru terdengar lebih gelisah ketimbang marah. Ia melangkah maju hendak menyentuh lengan Kania, tapi gadis itu tiba-tiba menarik diri mundur seolah tersengat listrik.

‎‎"Jangan sentuh aku!" seru Kania, suaranya melengking sebelum kembali melemah. "Aku sudah kotor... Aku... Aku tidak pantas!"

‎‎Bu Laras memeluk pundak Kania kembali, tubuhnya kini ikut gemetar hebat. Ia menoleh ke arah Haris dengan tatapan cemas memohon pengertian.

‎"Nak Haris, tolong sabar. Non Kania sedang terguncang. Biar Ibu bawa dia ke kamar dulu untuk ganti pakaian basah ini sebelum Non Kania masuk angin—"

‎‎Belum selesai kalimat itu terucap, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Tuan Aryan turun dengan wajah kusut, mengenakan jas santai yang belum sempat dilepas. Dibelakangnya berjalan Nyonya Melani dan putrinya, Luna. Begitu matanya menangkap keadaan putri sulungnya, keningnya langsung mengerut tajam.

‎‎"Ada apa ini ribut-ribut? Mengapa lantainya basah? Dan kenapa penampilanmu seperti orang tersesat, Kania?"

‎‎Tuan Aryan melangkah mendekat, lalu menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki putrinya. Tatapan itu bukan tatapan khawatir, melainkan tatapan menyelidik yang perlahan berubah menjadi curiga.

‎‎"Kamu bilang hanya pergi sebentar membeli kado. Kenapa butuh waktu berjam-jam? Dan lihat pakaianmu ini... robek, kotor, rambut berantakan… Apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar sana?"

‎‎"Ayah…" Kania menoleh, air matanya kembali mengalir deras. "Aku diserang… seseorang menahan paksa aku di jalan yang sepi… Aku tidak bisa melawan, Ayah… Aku mencoba berteriak tapi hujan terlalu kencang, tak ada yang mendengarku… Aku... Aku sudah ternoda."

‎‎Seketika itu juga, wajah Tuan Aryan memerah. Bukan karena iba, tapi karena rasa malu yang langsung membara di dadanya.

‎‎"Ternoda? Maksudmu apa? Jangan bicarakan hal yang tak jelas!" bentak Tuan Aryan keras, suaranya memantul di dinding ruangan. "Ini rumah keluarga Aryan Wijaya. Nama baik kita tidak boleh ternoda oleh cerita sembarangan! Apakah kamu sadar apa yang kamu katakan itu?"

‎‎Haris yang masih berdiri terpaku di tempat itu mengerjap-ngerjap, lalu perlahan tangannya yang memegang dasi itu mengepal semakin kuat. Tatapannya berubah, dari rasa khawatir menjadi keraguan, lalu berganti rasa jijik yang samar mulai terlihat di sudut matanya.

‎‎"Om Aryan benar…" ucapnya pelan namun cukup didengar semua orang. "Kejadian semacam ini… tidak bisa dianggap enteng. Jika apa yang dikatakan Kania benar, maka artinya…"

‎‎"Artinya apa, Haris?" potong Kania, matanya memandang penuh harap yang mulai goyah. "Kamu akan tetap berdiri di sampingku, kan? Kamu selalu bilang akan selalu mencintaiku apapun yang terjadi,"

‎‎Haris mengangkat wajah, lalu menatap cincin di jarinya sendiri sebelum menjawab dengan nada dingin yang menusuk, "Cinta saja tak cukup untuk menghapus apa yang sudah terjadi. Kehormatan seorang wanita adalah hal paling berharga. Sekarang… apa lagi yang tersisa untuk kamu berikan padaku?"

‎‎Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat di ulu hati. Kania mundur selangkah, seolah kehilangan tumpuan.

‎"Jadi… maksudmu, aku sudah tak berharga lagi di matamu? Padahal akulah korban di sini!"

‎‎"Korban atau bukan, kenyataannya tetap sama," sahut Haris tanpa ragu. "Aku tidak bisa menikahi wanita yang sudah kehilangan kehormatannya. Aku tak akan sanggup menghadapi pandangan orang nanti. Pertunangan ini… lebih baik kita akhiri saja mulai malam ini."

‎‎Setelah mengatakan itu, Haris melepas cincin berlian di jarinya dan melemparkannya ke lantai di depan Kania. Air hujan langsung membasahi wajahnya saat dia berjalan menuju mobil, bercampur dengan air matanya yang menetes begitu saja.

‎‎Kania terhuyung mundur hingga lututnya tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dengan suara tertahan dan napas terengah, ia terduduk lemas di lantai basah yang masih dingin oleh air hujan. Kedua tangannya mencengkeram lantai, bahunya terguncang hebat. Air matanya mengalir tak terkendali, tapi ia tak lagi mampu mengeluarkan suara teriakan, hanya isak yang tertelan di tenggorokan.

‎‎"Bu Laras! Bawa dia ke kamarnya sekarang! Ganti pakaiannya yang kotor itu, bersihkan tubuhnya, lalu kunci pintunya dari luar. Jangan biarkan dia keluar atau berbicara dengan siapa pun sampai aku memberi perintah lain!" perintah Tuan Aryan tegas, memandang Kania dengan tatapan dingin dan muak.

‎‎Bu Laras terkejut, lalu segera berlutut dan memeluk bahu Kania yang terguncang. "Ayo, Non Kania… ikut Ibu ke kamar, ya. Kita bersihkan badan Non dulu…" Bisiknya lembut, berusaha memberi kekuatan meski hatinya sendiri hancur melihat penderitaan gadis itu. Dengan susah payah, ia menopang tubuh ringkih Kania dan membawanya berjalan tertatih-tatih menuju tangga.

‎‎Begitu keduanya menghilang dari pandangan, Nyonya Melani melangkah mendekat dan berdiri tepat di sisi suaminya. Wajahnya tampak prihatin, namun sorot matanya menyembunyikan maksud lain. Sementara Luna yang sedari tadi berdiri diam segera berbalik dan menyusul Kania dan Bu Laras ke kamar.

‎‎"Suamiku…"

-

-

-

Bersambung...

Chapter 2

‎"Suamiku…" panggil Nyonya Melani dengan nada lembut dan penuh perhatian, lalu meletakkan tangan lembutnya di lengan Tuan Aryan. "Aku mengerti bagaimana perasaanmu, Mas. Nama baik keluarga Aryan Wijaya sudah dibangun dengan susah payah selama puluhan tahun, tidak boleh sampai hancur hanya karena satu kejadian ini."

‎‎Tuan Aryan mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya masih berat menahan amarah dan rasa malu. "Lalu apa yang harus kulakukan? Dia anak kandungku. Jika cerita ini menyebar ke luar, semua rekan bisnis, kolega, bahkan tetangga akan membicarakan kita! Reputasi keluarga dan perusahaan bisa jatuh dalam semalam!"

‎‎"Itulah yang ingin aku bicarakan," jawab Nyonya Melani pelan namun tegas, memastikan hanya didengar suaminya saja. "Kita harus bertindak cepat sebelum berita ini sampai menyebar keluar. Lebih baik mengasingkan Kania ke tempat yang jauh dan terpencil, jika perlu di daerah pedalaman yang jarang diketahui orang. Berikan dia cukup biaya untuk hidup sederhana, tapi pastikan dia tak bisa kembali ke sini atau berhubungan dengan siapa pun lagi di sini termasuk Bu Laras."

‎‎Tuan Aryan menoleh cepat, "Mengasingkan dia begitu saja? Bukankah itu terlalu kejam?"

‎‎"Pilih kejam atau menyelamatkan nama baik keluarga?" bantah Nyonya Melani dengan nada yang terdengar masuk akal. "Ingat, Sayang. Kania bukan lagi gadis yang sama seperti dulu. Dia kini membawa aib yang bisa menyeret kita semua. Jika berita ini tersebar, posisi kita terancam, dan masa depan Luna pun bisa rusak. Siapa yang mau menerima lamaran putri dari keluarga yang punya aib semacam ini?"

‎‎Nyonya Melani melanjutkan, nada bicaranya semakin meyakinkan dan memanfaatkan ketakutan suaminya. "Anggap saja ini cara terbaik untuk melindungi sekaligus menghukumnya. Biarkan dia hidup tenang di tempat lain tanpa mengganggu ketenangan keluarga ini. Seiring waktu, orang akan lupa, dan nama baik kita bisa pulih kembali. Kalau Mas membiarkannya tetap tinggal di sini, cepat atau lambat semua orang akan tahu dan akan membicarakan aib keluarga kita, apa kamu mau itu terjadi, Mas?"

‎‎Kata-kata itu menusuk tepat ke keraguan Tuan Aryan. Rasa sayang yang masih tersisa mulai tertutup oleh rasa takut kehilangan harta dan nama baik. Ia terdiam lama, lalu mengepalkan tangannya erat-erat.

‎‎"Baiklah…" akhirnya ia menjawab dengan suara berat dan tertekan. "Akan kulakukan seperti yang kamu katakan."

‎‎Nyonya Melani tersenyum puas, senyum yang tersembunyi di balik tatapan khawatirnya. "Tenang saja, Suamiku. Aku yang akan mengurus semuanya dengan rapi. Malam ini juga aku akan menyuruh orang untuk membawanya pergi sejauh mungkin,"

‎‎Tuan Aryan memutar tubuhnya dengan gerakan kaku, langkah kakinya terasa berat namun penuh amarah yang tertahan. Tanpa mengucap sepatah kata lagi, ia berjalan cepat menaiki tangga, menginjak setiap anak tangga seolah sedang menginjak harga dirinya sendiri yang terasa terinjak-injak.

‎‎Sesampainya di depan pintu kamar Kania, ia mendorongnya terbuka dengan hentakan keras hingga dinding bergetar. Di dalam ruangan itu, terlihat Kania yang duduk membeku di tepi tempat tidur, sementara Bu Laras berdiri di sampingnya mengelus punggung gadis itu dengan penuh iba. Di sisi lain, Luna berdiri di sisi lain ranjang, menatap Kania dengan ekspresi prihatin.

‎‎Tuan Aryan melangkah mendekat, meraih lengan Kania dengan genggaman yang sangat kuat dan kasar.

‎‎"Ayah! Apa yang Ayah lakukan? Sakit!" teriak Kania terkejut, berusaha menarik tangannya kembali.

‎"Diam dan ikut Ayah!" bentak Tuan Aryan tanpa melirik, lalu menyeret tubuh Kania yang lemah itu keluar dari kamar. Kakinya terseret di lantai, meninggalkan suara gesekan yang kasar.

‎‎"Ayah, lepaskan aku! Ini rumahku! Aku tidak mau pergi!" Kania memberontak sekuat tenaga, memutar badannya, mencoba melepaskan genggaman tangan Ayahnya. Tangannya memukul dan mencakar lengan ayahnya, air matanya kembali meluap deras. "Aku tidak bersalah! Mengapa Ayah memperlakukanku seperti penjahat?!"

‎‎"Tuan Aryan! Jangan begini, Tuan bisa melukainya!" Bu Laras berteriak panik dan segera berlari mendekat mencoba menahan, namun tangannya hanya bisa menggapai udara, didorong kasar oleh lengan Tuan Aryan hingga terhuyung mundur. "Tolong lepaskan Nona Kania, Tuan!"

‎‎Luna ikut berlari mengejar dari belakang, memohon dan berusaha menghalangi. "Ayah, tolong tenangkan diri, Ayah! Kak Kania tidak bersalah… Kita bisa bicarakan ini baik-baik."

‎‎Namun suara mereka tak didengar sama sekali. Tuan Aryan terus menyeret Kania turun menuruni tangga, tubuh gadis itu terhuyung-huyung, lututnya terbentur anak tangga hingga tergores dan berdarah, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan luka di hatinya.

‎‎Begitu tiba di lantai bawah ruang tamu, Kania terjatuh terguling ke lantai dengan keras. Di sana sudah berdiri Nyonya Melani dengan wajah datar, diapit oleh dua orang pria berperawakan kekar yang berpakaian serba hitam, tangan mereka tergenggam siap melaksanakan perintah.

‎‎"Bawa dia pergi jauh sekarang juga!" perintah Tuan Aryan.

‎‎Kedua pria itu segera melangkah mendekat, meraih kedua lengan Kania yang masih berusaha merangkak menjauh.

‎‎"Tidak! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi sendiri!" Kania berteriak sekuat tenaga, tubuhnya melengkung berusaha melepaskan diri, kakinya menendang ke sana kemari. "Ayah kejam! Wanita iblis ini pasti sudah meracuni pikiran Ayah!"

‎‎"Jangan bicara omong kosong!" sergah Nyonya Melani dengan nada meninggi, lalu menoleh ke pengawal itu. "Bungkam mulutnya dan cepat bawa dia ke mobil. Jangan biarkan dia membuat keributan di depan rumah ini!"

‎Bu Laras yang baru sampai dengan napas terengah-engah langsung berlutut di depan Tuan Aryan, memegang ujung celananya sambil menangis tersedu-sedu. "Tuan Aryan, kasihanilah dia! Dia masih anak kandung Tuan! Jangan buang dia seperti ini, atau Tuan akan menyesal suatu hari nanti!"

‎Namun Tuan Aryan memalingkan wajahnya, tak mau menatap lagi. "Dia bukan anakku lagi mulai detik ini. Jangan sebut namanya lagi di depanku!"

‎‎Kedua pria itu mengangkat tubuh Kania yang terus meronta dan berteriak, Nyonya Melani segera menahan lengan Luna saat putrinya itu hendak mengejar.

‎‎"Biarkan saja dia pergi! Wanita ternoda tidak pantas tinggal di rumah ini!"

‎‎Bu Laras yang masih berlutut segera bangun dan berdiri. Ia berlari secepat kakinya bisa membawa, napasnya terengah-engah, air matanya terus mengalir membasahi pipi keriputnya.

‎‎"Nona Kania! Tunggu! Ibu di sini!" teriaknya parau, suaranya memecah keheningan malam yang basah.

‎‎Karena terkejut mendengar suara itu, satu dari dua pengawal itu lengah sejenak. Peluang kecil itu cukup bagi Kania, ia mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memutar badannya dengan kuat, lalu mendorong bahu pengawal di sebelah kanannya hingga terhuyung mundur. Dalam sekejap, ia terlepas dari cengkeraman mereka.

‎‎Tanpa berpikir dua kali, Kania berlari dan langsung memeluk erat tubuh Bu Laras yang baru saja tiba. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya yang basah oleh air hujan dan air mata menempel di bahu wanita yang selama ini mengasuhnya seperti anak sendiri.

‎‎"Ibu… Ibu… jangan biarkan mereka membawaku pergi…" isak Kania terputus-putus, tangannya mencengkeram kuat punggung Bu Laras. "Aku takut sekali, Ibu… aku tidak bersalah, kenapa semua ini terjadi padaku?"

‎‎Bu Laras membalas pelukan itu, membelai kepala Kania dengan tangan gemetar, suaranya tercekik oleh tangis. "Ibu tahu, Nak… Ibu tahu kamu tidak bersalah. Ibu percaya padamu… Maafkan Ibu yang tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungimu…"

‎‎Namun momen kehangatan itu hanya berlangsung sesingkat kilatan petir. Kedua pengawal itu kembali melangkah mendekat dengan langkah cepat. Satu tangan kasar menarik bahu Kania, tangan lainnya mendorong Bu Laras hingga wanita tua itu terjatuh berlutut kembali di atas lantai yang basah.

‎‎"Lepaskan dia! Jangan sentuh Bu Laras!" teriak Kania, meronta sekuat tenaga, tangannya berusaha meraih kembali jari-jari Bu Laras yang terulur ke arahnya.

‎‎"Cukup! Jangan buang waktu!" bentak Nyonya Melani dari ambang pintu, suaranya dingin dan penuh perintah.

‎‎Tangan-tangan besi itu kembali mengangkat tubuh Kania yang terus berteriak dan menangis memanggil nama Bu Laras. Namun suara itu perlahan memudar saat ia dibawa masuk paksa ke dalam mobil dan pintunya ditutup dengan keras.

‎‎Mobil itu melaju kencang menerobos guyuran hujan, meninggalkan Bu Laras yang tergeletak di lantai teras, menangis tersedu-sedu menatap lampu belakang kendaraan yang makin menjauh hingga lenyap ditelan kegelapan malam.

-

-

-

Bersambung...

Chapter 3

‎Ruangan kerja Tuan Aryan diselimuti kegelapan, hanya diterangi samar oleh cahaya lampu jalan dan kilatan petir sesekali yang masuk lewat celah jendela. Suara hujan yang masih mengguyur deras terdengar berirama, menambah kesunyian yang terasa mencekam.

‎‎Tuan Aryan duduk membungkuk di belakang meja besar, bahunya terkulai lemas. Perlahan, tangannya terulur dan meraih sebuah bingkai foto berukuran sedang yang ada di sudut meja, itu adalah foto mendiang istrinya, ibu kandung Kania, dengan senyum lembut yang masih terlihat hidup. Jari-jarinya mengusap kaca pelindung foto itu dengan gerakan lambat dan gemetar, seolah menyentuh wajah yang sudah lama tiada.

‎‎"Kalau kau masih ada… apa yang akan kau katakan padaku?" gumamnya lirih, suaranya tercekik. "Kania… darah daging kita berdua… tapi aku harus membuangnya…"

‎‎Belum sempat ia melanjutkan, pintu ruangan terbuka perlahan. Nyonya Melani masuk tanpa suara, menyalakan lampu meja dengan cahaya redup agar tidak terlalu menyilaukan. Ia melangkah mendekat dengan tenang, lalu berdiri di sisi meja dan menatap suaminya dengan pandangan yang terlihat memahami.

‎‎"Mas masih belum tidur dan memikirkan anak itu?" tanyanya lembut, lalu meletakkan tangan di atas bahu Tuan Aryan. "Sudah larut malam, sebaiknya Mas istirahat saja."

‎‎Tuan Aryan tidak menoleh, matanya masih terpaku pada foto di tangannya. "Aku hanya teringat janji pada mendiang Kirana… jika aku akan menjaga dan melindungi Kania sampai ia tumbuh dewasa. Tapi hari ini… aku gagal menepatinya."

‎‎Nyonya Melani mendengus pelan, lalu menegaskan ucapannya dengan nada yang meyakinkan namun tetap halus. "Mas tidak gagal. Justru keputusan yang Mas ambil ini adalah hal paling tepat untuk dilakukan. Jika Mas membiarkannya tetap tinggal, apa yang terjadi? Nama baik yang dibangun puluhan tahun akan hancur dalam semalam, usaha kita akan dipandang rendah, bahkan masa depan Luna dan keluarga ini akan terbenam bersama aib itu."

‎‎Ia melangkah lebih dekat, berbicara lebih lirih seolah membisikkan kebenaran mutlak.

‎"Membawanya pergi bukan berarti membuang tanpa alasan. Itu cara terbaik untuk melindunginya juga, agar Kania tidak terus menjadi bahan pembicaraan orang, agar ia bisa hidup tenang di tempat lain tanpa beban pandangan buruk. Kalau Kirana masih ada, ia pun akan mengerti bahwa demi keselamatan dan keutuhan keluarga, pengorbanan kecil itu harus diambil. Ini bukan kejam, Mas, ini adalah kewajiban kepala keluarga."

‎‎Tuan Aryan mengepalkan tangan yang memegang bingkai foto itu. Kata-kata itu kembali menyerbu pikirannya, menutupi suara hati yang masih meronta. Rasa bersalah perlahan tergantikan kembali oleh rasa yakin yang dipaksakan.

‎‎"Kamu benar… memang sudah tidak ada jalan lain," jawabnya akhirnya dengan suara berat, lalu meletakkan foto itu kembali ke tempat semula seolah menyingkirkan beban yang tak sanggup ia pikul. "Biarkan saja dia pergi. Mulai hari ini, dia bukan lagi bagian dari keluarga ini. Dan jangan pernah sebut namanya lagi di rumah ini."

‎‎Nyonya Melani tersenyum puas, lalu menepuk bahu suaminya lembut. "Istirahatlah, Mas. Tidak perlu memikirkan masalah ini terlalu dalam, setelah Kania merenung dia juga akan paham jika yang kamu lakukan ini sudah benar."

‎‎Saat ia berbalik hendak keluar, matanya melirik sekilas ke arah foto mendiang Kirana, di balik tatapan tenangnya tersembunyi pandangan dingin dan penuh kemenangan.

‎‎"Kamu lihat sendiri kan, Kirana... rintangan terbesarku sudah tersingkir dengan sempurna."

-

-

-

‎‎Di dalam mobil yang sempit dan bergerak terguncang menerobos hujan, Kania duduk terjepit rapat di antara kedua pria berperawakan kekar itu. Setiap sisi tubuhnya tertekan, napasnya terasa sesak, namun ia tidak berhenti berusaha melepaskan diri.

‎‎"Lepaskan aku! Aku tidak akan pergi! Aku korban! Aku tidak bersalah!" teriaknya parau. Kedua tangannya mencoba mendorong lengan pria di kanan dan kirinya, kakinya menendang ke depan dan ke samping, namun genggaman mereka terasa seperti besi yang tak bisa digoyahkan.

‎‎"Diam! Teriakanmu tidak ada gunanya disini!" bentak salah satu pria itu dengan nada kasar, lalu menekan bahu Kania lebih kuat. "Sebaiknya kamu menurut, kami disini hanya menjalankan tugas."

‎‎"Aku tidak akan diam sebelum kalian menghentikan mobil dan membiarkan aku turun!" seru Kania kembali, memutar kepalanya mencoba menggigit atau mencakar apa saja yang terjangkau. Rambutnya yang basah kuyup berantakan menutupi wajahnya yang pucat, air mata bercampur air hujan terus mengalir turun membasahi leher dan bajunya.

‎‎Sopir yang duduk di depan hanya melirik sekilas dari kaca spion, lalu segera memusatkan pandangan kembali ke jalan yang licin dan gelap. Ia tidak berani berbicara atau ikut campur.

‎‎Mobil terus melaju membelah jalan yang makin sempit dan berkelok tajam, hujan turun semakin lebat sehingga pandangan terbatas hanya beberapa meter ke depan. Saat tiba di tikungan menanjak yang curam, jalan menjadi sangat licin. Sopir terpaksa menginjak rem secara perlahan dan mengurangi kecepatan secara drastis agar kendaraan tidak tergelincir.

‎‎Inilah celah yang ditunggu Kania. ‎‎Tepat saat mobil melambat dan tubuh mereka terguncang ke samping karena tikungan, Kania yang pura-pura lemas seketika mengerahkan sisa tenaga terakhirnya. Ia mendorong bahu pria di sebelah kanannya sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung ke arah temannya, menyebabkan kedua pengawal itu terjatuh berdesakan satu sama lain dan kehilangan cengkeraman sejenak.

‎‎Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kania meraih gagang pintu yang tidak terkunci rapat, menariknya dengan gerakan cepat, lalu melompat keluar. Tubuhnya terguling beberapa kali di atas aspal basah dan berlumpur, tergores batu serta semak belukar, namun ia langsung mencoba berdiri meski terhuyung, lalu berlari secepat kakinya bisa membawanya masuk ke kegelapan pinggir jalan.

‎‎"Hei! Berhenti! Jangan lari!" teriak kedua pria itu terkejut, segera melompat turun dan mengejarnya dengan langkah besar.

‎‎Suara deru air yang jatuh ke tanah menyamarkan langkah kaki Kania, dan kabut tebal menutupi pandangan para pengejar. Ia terus berlari tanpa peduli rasa perih di lutut dan telapak tangan, tanpa menoleh ke belakang.

‎‎Kania terus berlari tanpa menoleh, napasnya memburu, dadanya terasa sesak, air hujan membasahi seluruh tubuhnya hingga tulangnya terasa beku. Kakinya terbentur batu dan tergores semak belukar, namun rasa sakit itu tak ia hiraukan, yang ada hanya keinginan untuk tidak tertangkap kembali.

‎‎Namun tenaganya semakin habis. Setelah berlari jauh, kakinya tergelincir di atas lumpur licin, dan tubuhnya terjatuh tersungkur dengan keras di pinggir jalan. Ia mencoba merangkak, tapi lutut dan telapak tangannya terasa lemas tak bertenaga. Suara langkah kaki dibelakang sudah terdengar semakin dekat.

‎‎Disaat bersamaan, cahaya lampu sorot terang menyapu jalanan, diikuti suara deru mesin mobil yang mendekat dengan cepat. Kendaraan itu melaju perlahan lalu berhenti tepat di samping tubuh Kania yang terbaring lemas.

‎‎Pintu belakang terbuka lebar. Di dalam kabin yang hangat dan kering itu, duduk seorang pria bertubuh tinggi dengan penampilan rapi, mengenakan jas gelap yang terlihat mahal. Wajahnya tegas, tatapannya tajam namun tanpa ekspresi, terlihat dingin dan berwibawa seolah tak ada yang bisa menggoyahkan ketenangannya.

‎‎"Masuk."

-

-

-

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!