Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Memasuki tahun kedua, ia mulai konsisten mengunggah hasil riasannya di Instagram. Bukan sekadar riasan cantik biasa, Yeza memiliki kemampuan magis dalam menonjolkan karakter alami wajah seseorang, sekaligus menciptakan riasan teatrikal yang memukau. Perlahan tapi pasti, algoritma berpihak padanya. Pengikutnya melonjak dari ratusan menjadi puluhan ribu. Pujian mulai mengalir, dan beberapa lini kosmetik lokal mulai meliriknya.
Namun, sore itu, sebuah notifikasi dari akun tanpa foto profil mengubah seluruh garis hidupnya.
@Z_X99: Halo. Saya suka karakter riasan mata yang kamu buat di unggahan kemarin. Sangat detail dan bersih.
Yeza yang baru saja membersihkan kuas-kuasnya mengernyit. Akun bodong, batinnya. Di era digital seperti ini, pesan dari akun tanpa wajah seperti ini biasanya berakhir dengan tawaran investasi palsu atau sekadar orang iseng. Yeza hanya membacanya lewat bilah notifikasi tanpa berniat membalas.
Dua hari berlalu, akun yang sama kembali mengirimkan pesan.
@Z_X99: Saya serius. Saya sedang mencari penata rias pribadi yang bisa menjaga privasi dan memiliki visi seni yang segar. Apakah kamu bersedia menerima tawaran kerja?
Yeza tertawa kecil di kamarnya. "Kerja? Dengan akun hantu seperti ini?" gumamnya menggelengkan kepala. Ia memutuskan untuk mengetik balasan singkat demi menghentikan keisengan tersebut.
@yeza.makeup: Maaf, saya hanya menerima pesanan melalui tautan resmi di bio. Dan saya tidak bekerja dengan klien yang tidak bersedia menunjukkan identitas aslinya.
Ia mengira pembicaraan akan selesai di sana. Namun, ponselnya tiba-tiba bergetar hebat tiga menit kemudian. Sebuah pesan suara masuk, disusul oleh sebuah berkas video pendek berdurasi lima detik.
Dengan ragu, Yeza menekan tombol putar pada pesan suara.
"Awalnya saya memang ingin menggunakan perantara manajer saya, tapi saya rasa akan lebih baik jika saya menghubungi kamu langsung. Ini saya, Max."
Suara berat, bariton, dan sangat familier itu membuat jantung Yeza berdegup kencang. Ia segera membuka video yang dikirimkan. Di layar ponselnya yang retak di bagian ujung, muncul wajah seorang pria berambut hitam legam dengan rahang tegas dan mata elang yang sangat memikat. Pria itu menurunkan kacamata hitamnya sedikit, tersenyum tipis ke arah kamera, lalu melambaikan tangan.
Itu Max. Maxemilian. Aktor papan atas berusia 27 tahun yang wajahnya memenuhi seluruh papan reklame di pusat kota dan film terbarunya sedang memecahkan rekor box office.
Yeza membekap mulutnya sendiri. Napasnya tertahan. "Tidak mungkin..." bisiknya lirih, menatap layar ponselnya tak percaya.
Tangan Yeza gemetar hebat. Jantungnya berdentum kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia menatap layar ponselnya lekat-lekat, menyeka matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi akibat terlalu lama menghirup aroma cairan pembersih kuas.
"Ini pasti deepfake," gumam Yeza, mencoba meyakinkan logika yang mulai goyah. "Ya, teknologi AI sekarang kan gila. Siapa saja bisa bikin video mirip Maxemilian."
Menolak untuk langsung percaya, Yeza menarik napas dalam-dalam dan dengan cepat mengetik balasan dengan jari-jari yang masih sedikit gemetar.
@yeza.makeup: Teknologi video rekayasa wajah (deepfake) sekarang sudah sangat canggih. Jika Anda benar-benar Maxemilian, buktikan dengan sesuatu yang tidak bisa dimanipulasi dengan mudah oleh aplikasi.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai status di bagian atas obrolan berubah menjadi 'typing...'.
Ponsel Yeza bergetar lagi. Kali ini, sebuah berkas video baru masuk. Yeza menekan tombol putar dengan perasaan campur aduk antara skeptis dan penasaran setengah mati.
Video berdurasi sepuluh detik itu dimulai dengan kamera depan yang berguncang sedikit. Max tampak berada di dalam sebuah ruang ganti yang mewah—terlihat dari jajaran jas mahal yang menggantung di latar belakang. Ia menatap langsung ke arah kamera dengan binar jenaka di matanya yang tajam.
"Hai, Yeza," suara bariton itu kembali terdengar, kali ini menyebut namanya dengan sangat jelas dan fasih.
Max kemudian mengambil selembar kertas putih dari meja di dekatnya dan sebuah spidol hitam. Sambil tetap menatap kamera, ia menuliskan sesuatu dengan cepat di kertas tersebut, lalu mengangkatnya tepat di depan dadanya.
Di atas kertas itu tertulis coretan tangan yang agak berantakan namun tegas:
"Untuk Yeza. Hari ini hari Selasa, jam 3 sore. Ini asli, bukan AI. Percaya sekarang?"
Max menurunkan kertas itu, lalu mendekatkan wajahnya ke kamera. Ia mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum miring—senyuman khas yang biasa membuat jutaan penggemarnya histeris di bioskop.
"Saya butuh penata rias yang tidak cuma bisa mendandani, tapi juga mengerti karakter wajah saya tanpa harus saya dikte. Dan yang paling penting... seseorang yang tidak akan menjual rahasia saya ke media. Saya tunggu jawabanmu, Yeza."
Video berakhir. Layar ponsel Yeza kembali menggelap, menyisakan pantulan wajah Yeza sendiri yang melongo dengan mata membelalak lebar.
Tidak ada celah untuk meragukan video itu lagi. Itu benar-benar Maxemilian. Aktor paling bersinar tahun ini baru saja menyebut namanya, menulis pesan khusus untuknya, dan menawarinya pekerjaan secara langsung.
Yeza terduduk lemas di kursi riasnya, menatap tumpukan palet warna-warninya dengan pandangan yang benar-benar baru. Kamar sempitnya yang biasa sunyi kini mendadak terasa seperti gerbang menuju dunia yang sama sekali berbeda.
Yeza menatap baris kalimat yang baru saja ia ketik. Jarinya menggantung di atas tombol kirim, ragu-jaru antara ingin segera menekan atau menghapusnya sama sekali. Kalimat itu terasa sangat jujur, terlalu menelanjangi rasa tidak percaya dirinya.
Namun, ia tahu ia tidak bisa berpura-pura tenang. Dengan sekali sentuh, pesan itu akhirnya terkirim.
@yeza.makeup: Beri aku waktu mencerna ini semua, aku kira tadi bukan akun asli, maafkan aku. Tapi... apakah benar seorang artis terkenal membutuhkan makeup artis seperti saya? Riasan saya tidak terlalu baik, apalagi untuk standar aktor besar seperti Anda.
Setelah menekan tombol send, Yeza langsung melempar ponselnya ke atas kasur. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, meremas jemarinya yang dingin. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Kenapa dia? Dari sekian banyak MUA profesional di Jakarta yang punya sertifikat internasional dan langganan para selebriti, kenapa Maxemilian repot-repot mencari gadis yang belajar dandan dari YouTube di dalam kamar sempit?
Ponselnya di kasur bergetar pendek. Yeza praktis melompat untuk menyambarnya.
Sebuah pesan teks masuk dari @Z_X99.
@Z_X99: Tidak perlu minta maaf. Wajar kalau kamu skeptis.
@Z_X99: Dan untuk pertanyaanmu... MUA terkenal di luar sana memang banyak, Yeza. Tapi mayoritas dari mereka mendandani aktor agar terlihat seperti "orang lain" di depan kamera, atau cuma mengikuti tren yang seragam.
Detik berikutnya, status berganti menjadi 'typing...' lagi. Yeza menahan napas, membaca kelanjutan pesan dari sang aktor papan atas.
@Z_X99: Aku sudah lihat portofoliomu dari setahun lalu. Kamu punya sesuatu yang jarang dimiliki orang lain: kamu tahu cara bercerita lewat mata. Riasan teatrikalmu punya jiwa, dan riasan alamimu tetap mempertahankan karakter asli wajah orang itu. Itu yang aku butuhkan untuk proyek film thriller-psikologis terbaruku bulan depan. Karakterku rumit, dan aku butuh MUA yang paham seni visual, bukan cuma sekadar bedak tebal.
@Z_X99: Jadi, jangan sebut karyamu "tidak terlalu baik". Seni yang jujur itu jauh lebih mahal daripada selembar sertifikat kursus mentereng.
Yeza membaca pesan panjang itu berulang kali sampai matanya terasa panas. Kalimat terakhir Max rasanya seperti hantaman telak yang meruntuhkan semua dinding cemoohan tetangga dan keraguan dirinya selama lima tahun terakhir. Seseorang di puncak industri hiburan baru saja memvalidasi kerja kerasnya di kamar sunyi ini.
Sebelum Yeza sempat membalas, satu pesan terakhir masuk dari Max.
@Z_X99: Besok jam 10 pagi, manajerku akan menjemputmu di alamat yang tertera di bio-mu untuk pembicaraan kontrak dan test-makeup pertama. Ambil kuas terbaikmu, Yeza. Sampai bertemu besok.
Malam itu, kamar Yeza terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Detik jarum jam dinding terdengar seperti suara hitung mundur yang memekakkan telinga. Berkali-kali ia membalikkan tubuh ke kiri dan ke kanan, menatap langit-langit kamar, lalu mengecek ponselnya hanya untuk memastikan bahwa pesan dari Maxemilian tidak hilang begitu saja. Yeza tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Max dan tulisan tangan di kertas putih itu langsung menari-nari di benaknya.
Antara rasa cemas, tidak percaya diri, dan letupan kegembiraan yang aneh, Yeza baru benar-benar bisa terpejam saat azan subuh mulai berkumandang.
"Yeza! Bangun, Nduk! Ada tamu di bawah nyariin kamu!"
Suara ketukan pintu kamar yang disusul teriakan ibunya seketika membuat Yeza terduduk tegak di kasur. Jantungnya langsung berpacu kencang. Ia melirik jam beker di meja riasnya. Pukul 09.30 pagi.
"Tamu, Bu?" tanya Yeza setengah berteriak sambil buru-buru menyibak selimut.
"Iya, laki-laki pakai kemeja rapi banget, bawa mobil hitam besar di depan rumah. Tetangga pada ngeliatin! Katanya mau jemput kamu kerja!" seru ibunya dari balik pintu dengan nada suara yang penuh rasa penasaran bercampur heran.
Yeza mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Untungnya, meski hanya tidur beberapa jam, instingnya semalam sudah bekerja dengan baik. Sebelum memejamkan mata subuh tadi, Yeza sudah mandi, merias wajahnya dengan gaya clean look yang segar untuk menyembunyikan lingkaran hitam di matanya, dan memilih pakaian terbaiknya—sebuah kemeja kasual berwarna bumi yang rapi namun tetap nyaman.
Koper kosmetik hitam kesayangannya—yang berisi kuas-kuas yang sudah dicuci bersih dan palet-palet andalannya—juga sudah berdiri tegak di dekat pintu, siap tempur.
"Ya, Bu! Yeza segera turun!"
Yeza meraih tas selempangnya, menjinjing koper kosmetiknya, dan menatap pantulan dirinya di cermin untuk terakhir kali. 'Ini nyata, Yeza. Jangan gemetar,' bisiknya pada diri sendiri.
Saat melangkah turun ke ruang tamu rumahnya yang sederhana, Yeza langsung menangkap sosok seorang pria berkacamata dengan setelan semi-formal sedang duduk tegak di sofa kayu. Di luar pagar, sebuah mobil MPV mewah berwarna hitam dengan kaca super gelap terparkir anggun, kontras dengan jalanan gang rumahnya yang sempit.
Pria itu langsung berdiri begitu melihat Yeza turun. Ia tersenyum profesional namun ramah.
"Halo, Yeza. Saya Bram, manajer pribadi Maxemilian," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan. "Max sudah menceritakan banyak hal tentangmu. Apakah kamu sudah siap?"
Yeza menjabat tangan hangat itu, mencoba menutupi telapak tangannya yang sedikit dingin. "Sudah, Pak Bram. Saya siap."
Dengan langkah mantap namun hati yang berdegup kencang, Yeza berjalan keluar rumah. Bram dengan sigap membantu membawakan koper kosmetik hitamnya dan membukakan pintu penumpang mobil MPV mewah tersebut. Sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang harum dan dingin, Yeza berbalik arah.
Ia memeluk ibunya erat-erat.
Ibunya, seorang guru TK yang sehari-hari akrab dengan tawa anak-anak dan kesederhanaan, menatap Yeza dengan binar mata yang campur aduk antara cemas, bangga, dan tidak percaya. Sejak ayah Yeza meninggal dunia saat Yeza baru saja lulus SMP, mereka hanya hidup berdua. Sebagai anak tunggal, Yeza adalah seluruh dunia bagi ibunya, begitu pula sebaliknya. Sang ibu adalah saksi bisu bagaimana Yeza bertahan di dalam kamar sempitnya, melewati malam-malam panjang dengan wajah penuh coretan warna-warni demi mengejar mimpi yang sempat dianggap remeh orang lain.
"Hati-hati ya, Nduk. Jaga diri baik-baik," bisik ibunya lembut sambil mengusap lengan Yeza. "Jangan lupa berdoa."
"Iya, Bu. Yeza berangkat dulu. Ibu tidak usah khawatir, Yeza akan langsung kabari begitu sampai," jawab Yeza meyakinkan, meski sebenarnya ia sendiri masih merasa seperti sedang berjalan di atas awan.
Yeza mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. Setelah melambaikan tangan untuk terakhir kali, ia akhirnya masuk ke dalam mobil. Pintu mobil tertutup dengan suara debuman halus yang kedap, seketika memotong kebisingan gang rumahnya.
Bram memutari mobil, masuk ke kursi kemudi, dan mulai melajukan kendaraan besar itu membelah jalanan. Di dalam mobil yang melaju tenang, Yeza menatap keluar jendela kaca yang gelap. Ia melihat sosok ibunya yang berdiri di depan pagar rumah, perlahan mengecil dan menghilang di tikungan jalan.
Lembaran baru hidupnya resmi dimulai hari ini, dan tidak ada jalan untuk kembali lagi.
Melihat Yeza yang duduk tegang dengan punggung kaku, Bram terkekeh pelan. Ia melirik dari spion tengah, mencoba mencairkan suasana dingin di dalam mobil mewah tersebut.
"Santai saja, Yeza. Saya tidak sedang membawa tawanan kok," seloroh Bram ramah.
Pria itu kemudian merogoh kursi sebelah kemudi dan menyodorkan sebuah kantong kertas berlogo toko roti premium, lengkap dengan sebotol air mineral dingin.
"Ini, makan dulu. Max yang pesan khusus tadi sebelum saya berangkat. Katanya, dia tahu kamu pasti tidak sempat sarapan karena terlalu tegang semalam. Dia benar, kan?" tanya Bram sambil mengedipkan mata dari spion.
Yeza tersenyum canggung, pipinya mendadak bersemu merah. Tebakan Max seratus persen akurat. Perutnya memang terasa keroncongan karena ia melewatkan sarapan akibat rasa cemas yang menggebu-gebu.
"Terima kasih, Pak Bram... dan terima kasih untuk Max," ucap Yeza pelan sambil menerima kantong kertas itu. Aroma mentega dan cokelat hangat langsung menguar begitu ia membukanya, sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Sembari Yeza menikmati rotinya, Bram menyodorkan sebuah map kulit berwarna hitam yang tampak elegan.
"Sambil makan, kamu bisa pelajari ini. Ini adalah berkas jadwal Max untuk satu bulan ke depan," ujar Bram. "Ada jadwal syuting film barunya, beberapa sesi pemotretan majalah, hingga konferensi pers besar dua minggu lagi. Di situ juga ada draf kontrak kerja sama kita."
Yeza menerima map itu dengan satu tangan yang bebas. Ketika membukanya, matanya langsung tertuju pada deretan jadwal yang sangat padat. Hampir tidak ada hari libur untuk seorang Maxemilian. Namun, yang membuat jantung Yeza kembali berdegup kencang adalah tulisan tebal di bagian atas lembar kontrak kerja: "Penata Rias Eksklusif Maxemilian - Proyek Film 'The Shadow Behind'."
"Tugas pertamamu hari ini adalah test-makeup untuk karakter Max di film thriller tersebut. Sutradara dan produser akan ikut menilai," jelas Bram, nadanya kini terdengar lebih serius namun tetap suportif. "Max yang mengajukan namamu langsung ke mereka. Jadi, tunjukkan sihir yang biasa kamu pamerkan di Instagram itu, ya?"
Yeza menelan potongan roti terakhirnya dengan susah payah. Tantangan ini nyata, dan taruhannya sangat besar. Ia menutup map kulit tersebut, mendekapnya di dada, dan menatap lurus ke jalanan di depan. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh kobaran tekad yang kuat. Ia tidak boleh mengecewakan ibunya, dirinya sendiri, dan terutama... Max yang telah memercayainya.
Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam itu akhirnya berakhir ketika mobil MPV hitam yang dikemudikan Bram berbelok memasuki area sebuah studio foto besar di kawasan Jakarta Selatan. Studio itu tampak sangat sibuk. Beberapa truk boks besar terparkir di halaman, dan orang-orang dengan handy-talky di pundak tampak berlarian ke sana kemari membawa pakaian, kabel-kabel tebal, dan perlengkapan lampu studio.
Ini adalah dunia yang selama ini hanya bisa Yeza lihat dari balik layar ponselnya. Kini, ia berada tepat di tengah-tengahnya.
"Ayo, Yeza. Bawa kopermu," ajak Bram setelah memarkirkan mobil di area khusus.
Yeza mengangguk cepat, mengeratkan pegangannya pada gagang koper kosmetiknya yang terasa lebih berat dari biasanya karena rasa gugup. Begitu keluar dari mobil, hawa panas Jakarta langsung menyergap, namun segera berganti dengan hawa dingin AC yang menusuk begitu mereka melangkah masuk melewati pintu kaca besar studio.
Bram membimbing Yeza melewati lorong-lorong studio yang ramai. Beberapa orang yang berpapasan sempat melirik Yeza dengan tatapan bertanya-tanya, mungkin heran melihat gadis asing yang berjalan di sebelah manajer pribadi seorang Maxemilian. Yeza hanya bisa menunduk, mencoba menyelaraskan langkah kakinya dengan Bram.
Mereka melewati beberapa studio foto berukuran besar di mana kilatan lampu flash sesekali menyala terang. Namun, Bram tidak membawa Yeza ke sana. Ia terus berjalan menuju lorong bagian belakang yang jauh lebih tenang dan privat.
"Sebelum pemotretan dimulai, saya antar kamu ke ruangan Max dulu. Hari ini dia punya ruang tunggu khusus yang tidak bisa dimasuki sembarang orang," jelas Bram sambil menunjuk sebuah pintu kayu berwarna putih di ujung lorong. Di pintu itu, tertempel kertas bertuliskan nama: MAXEMILIAN (VIP 1).
Jantung Yeza rasanya ingin melompat keluar saat langkah kaki mereka berhenti tepat di depan pintu tersebut.
Bram mengetuk pintu itu dua kali, lalu membukanya perlahan. "Max, penata rias barumu sudah datang."
Begitu pintu terbuka sempurna, pemandangan di dalam ruangan langsung menyita seluruh perhatian Yeza.
Di sudut ruangan, di depan sebuah cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu pijar benderang, Maxemilian sedang duduk santai. Ia hanya mengenakan kaos oblong polos berwarna putih dan celana jin hitam—pakaian yang sangat sederhana, namun entah bagaimana tetap terlihat seperti pakaian peraga busana saat melekat di tubuh atletisnya. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan, memberi kesan kasual yang jauh berbeda dari tampilannya di papan reklame pusat kota.
Mendengar pintu terbuka, Max mengalihkan pandangannya dari ponsel, lalu menatap langsung ke arah pintu. Begitu matanya menangkap sosok Yeza, sebuah senyuman tipis namun hangat terbit di wajahnya yang tegas.
"Ah, kamu sudah sampai," suara bariton itu terdengar jauh lebih nyata dan magnetis dibanding lewat pesan suara semalam.
Yeza mendadak kaku di tempatnya berdiri, tangannya mencengkeram erat gagang koper kosmetiknya. Aura seorang bintang besar dari pria di depannya ini benar-benar mengintimidasi, membuat ruangan VIP yang luas itu mendadak terasa menyempit.
Bram melangkah maju sedikit, menepuk bahu Yeza pelan untuk membuyarkan lamunan gadis itu. "Max, saya tinggal dulu ke depan untuk cek kesiapan tim fotografer dan baju-baju yang mau diiklankan nanti. Kalian bisa mulai mengobrol atau bersiap-siap."
Max mengangguk. "Ya, Thanks, Bram."
Bram kemudian berbalik menatap Yeza seraya tersenyum menyemangati. "Saya keluar dulu ya, Yeza. Semoga sukses," pamitnya sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan rapat.
Klik.
Suara pintu yang mengunci otomatis itu terdengar begitu jelas di telinga Yeza. Kini, di dalam ruangan VIP yang kedap suara itu, hanya ada mereka berdua: Yeza dengan koper kosmetik murahnya, dan Maxemilian, sang aktor papan atas yang sedang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.
Max berdiri dari kursi riasnya, memecah keheningan yang sempat menggantung. Dengan gerakan yang ramah namun berwibawa, ia mengisyaratkan sebuah kursi kosong di sebelahnya.
"Silakan duduk, Yeza. Jangan tegang begitu," ucap Max, suaranya terdengar lembut, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasa terlihat dingin di film-filmnya.
Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatinya, Max awalnya tidak memasang ekspektasi tinggi tentang bagaimana rupa dan penampilan penata rias barunya ini. Di akun Instagram @yeza.makeup, Yeza hampir tidak pernah memajang foto wajah aslinya. Umpan media sosialnya hanya dipenuhi oleh foto-foto close-up hasil riasan tangannya—mulai dari guratan teatrikal yang penuh warna, efek luka buatan yang tampak nyata, hingga transformasi wajah model yang tertutup kosmetik tebal. Max mengira ia akan bertemu dengan seorang gadis yang eksentrik atau menor.
Namun, begitu melihat sosok yang kini melangkah ragu ke arahnya, pikiran Max mendadak teralihkan total.
Aktor papan atas yang terbiasa dikelilingi model-model internasional itu terpukau. Yeza ternyata memiliki fisik yang mungil, tingginya mungkin hanya berkisar sekitar 150\text{ cm}. Rambut hitamnya dipotong sebahu, membingkai wajah alaminya dengan sangat pas. Riasan clean look yang dipakainya hari ini justru menonjolkan kulitnya yang bersih dan sehat. Dan ketika Yeza memberikan anggukan hormat sembari mengulas senyuman manis yang canggung karena gugup, Max merasakan ada sesuatu yang hangat dan tulus dari pesona gadis itu. Sebuah kecantikan yang sangat nyata, tanpa topeng kosmetik tebal.
Untuk beberapa detik, Max hanya terpaku, memperhatikan bagaimana gadis mungil itu meletakkan kopernya dengan hati-hati.
"Terima kasih, Pak Max," kata Yeza lirih, akhirnya mendudukkan diri di kursi yang ditunjuk.
Max tersenyum miring, mencoba menguasai kembali fokusnya yang sempat buyar karena pesona sang penata rias. "Panggil Max saja kalau kita sedang berdua seperti ini. Jadi... bisa kita mulai lihat 'sihir' apa yang kamu bawa di dalam koper hitam itu?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!