Langit malam seolah mengantungkan jutaan bintang hanya untuk menjadi saksi.
Di balik pintu kamar yang baru saja tertutup, aroma melati masih memenuhi udara. Kelopak-kelopak mawar merah berserakan di atas ranjang putih, seakan telah dipersiapkan untuk menyambut kisah cinta yang katanya akan dikenang seumur hidup.
Niken duduk di tepi ranjang dengan jantung yang berdegup begitu cepat. Bukan karena takut kepada lelaki yang kini sah menjadi suaminya, melainkan karena gugup memasuki kehidupan baru yang selama ini hanya ia bayangkan dalam doa.
Ia tersenyum tipis ketika Danendra Pradipta melangkah mendekat.
Pria itu lalu mengusap pelan pipinya. "Kamu cantik sekali malam ini," bisik Danendra.
Ia menunduk malu-malu, menahan pipi yang terasa menghangat. "Terima kasih, Mas."
Malam berjalan begitu lembut. Tidak ada paksaan atau pun kata-kata kasar. Danendra memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian, yang membuat Niken semakin yakin bahwa ia telah menyerahkan hidupnya kepada laki-laki yang tepat.
Sayangnya, keyakinan itu hanya bertahan beberapa saat. Sesudah semuanya usai, Danendra tidak lagi menatap wajah istrinya. Tatapannya justru terpaku pada seprai putih yang masih bersih.
Kosong....
Tidak ada setitik merah yang selama ini dipercaya banyak orang sebagai lambang kesucian seorang perempuan.
Wajahnya perlahan mengeras, lalu mengeluarkan suara yang tiba-tiba berubah dingin.
"Niken..."
"Iya, Mas?"
"Kamu yakin belum pernah berhubungan dengan laki-laki lain?"
Niken mengangkat kepala dengan mata membulat, karena pertanyaan itu menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan dari apa pun.
"Apa?"
"Aku cuma bertanya."
"Mas sedang bercanda?"
"Aku serius."
Ruangan yang tadi dipenuhi kehangatan, kini mendadak terasa membeku.
"Mas, aku belum pernah menyentuh atau disentuh oleh laki-laki mana pun sebelum menikah denganmu."
"Lalu kenapa tidak ada darah?"
Kalimat sederhana itu berhasil meruntuhkan seluruh kebahagiaan yang baru saja ia rasakan.
Cairan bening mulai mengenang di pelupuk mata. "Mas, nggak semua perempuan mengeluarkan darah."
Danendra tertawa pahit. Sebuah tawa yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan, "itu alasan yang sering dipakai."
Niken menggeleng cepat. "Bukan alasan, tapi itu fakta."
"Fakta menurut siapa?"
"Menurut ilmu kedokteran." Kata Niken yang langsung dipangkas oleh Danendra.
"Atau menurut laki-laki yang pernah menyentuhmu?"
Niken merasa seakan dihujam ribuan pecahan kaca sekaligus. Ia tidak menyangka, belum genap satu malam menjadi istri, tetapi dirinya sudah berubah menjadi terdakwa tanpa saksi, tanpa bukti, dan tanpa kesempatan untuk dipercaya.
Butiran kristal jatuh satu per satu. "Mas..." suaranya bergetar. "Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan sebagai tersangka."
Danendra tidak menjawab, ia justru berdiri sambil mengenakan kembali kemejanya, lalu berjalan menuju balkon—meninggalkan Niken yang masih terduduk di atas ranjang.
Malam pertama yang katanya paling indah... kini berubah menjadi malam pertama yang paling sunyi.
Di luar sana, hujan mulai turun perlahan. Entah mengapa, Niken merasa bahwa langit sedang menangis bersamanya. Dan dalam lirih doanya, ia hanya mampu berbisik.
"Ya Allah... jika cinta benar ada, bukakan lah mata suamiku. Biarkan waktu yang menjadi saksi bahwa kesucian seorang perempuan tidak selalu ditentukan oleh setetes darah."
Karena Niken tahu...
Tidak semua bunga gugur saat mekar, dan tidak semua perempuan yang suci akan berdarah.
...****************...
Terima kasih sudah memilih cerita ini. Semoga kisah Niken dapat menemani perjalanan membaca kalian. Cerita ini mengangkat luka yang terkadang dialami perempuan—ketika kehormatan diukur oleh mitos, bukan oleh kebenaran.
Selamat membaca, semoga setiap bab yang aku tulis mampu menghadirkan emosi, pelajaran, dan harapan.
Jangan lupa tinggalkan komentar, karena setiap dukungan dari kalian adalah semangat terbesar bagi penulis.
Sebelum lanjut ke ceritanya, aku mau kenalin novelku yang sudah tamat. Jadi buat yang lebih suka membaca cerita sampai selesai tanpa harus menunggu update, boleh mampir, dan semoga suka.
• Langit Wonosobo — Janji yang berakhir pengkhianatan.
• Masih Tentang Kamu — Cinta yang menemukan jalannya.
• Lamaran Ketujuh.
Selamat membaca. 🌷
Salam hangat,
Restu Langit 2
Embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika cahaya matahari perlahan menyelinap masuk melalui celah gorden kamar.
Niken terbangun dengan mata yang sembab. Sesaat, ia menoleh ke sisi ranjang yang kosong. Bantal di sisi Danendra bahkan masih terlihat rapi, seolah lelaki itu tak pernah tidur di sana semalam. Ia lalu menghela napas pelan, dadanya kembali terasa sesak ketika mengingat semua yang terjadi beberapa jam yang lalu.
Kakinya terayun ke bawah dari tempat tidur, kemudian beranjak ke kamar mandi, lalu membasuh wajah yang masih dipenuhi jejak air mata. Hari itu seharusnya menjadi pagi pertama sebagai seorang istri yang dipenuhi kebahagiaan, namun kenyataannya jauh berbeda.
Saat keluar dari kamar, aroma kopi memenuhi rumah utama keluarga Pradipta. Di meja makan yang panjang, Danendra sudah duduk bersama kedua orang tuanya.
Pradipta Wiratama terlihat sedang membaca koran pagi, Sementara Ratih Maheswari tersenyum tipis melihat putra semata wayangnya.
"Niken, sini duduk." Ujar Ratih.
Niken mengangguk sopan. "Selamat pagi, Ayah...Ibu."
"Pagi," jawab Pradipta ramah.
Ratih memperhatikan wajah menantunya sekilas. "Semalam tidurnya nyenyak?" tanyanya.
Petanyaan itu membuat Niken yang hendak mengambil gelas sedikit gemetar. "Iya, Bu."
Ratih mengalihkan pandangan kepada Danendra. "Kamu kenapa diam saja dari tadi?"
Danendra hanya mengangkat cangkir kopinya. "Capek," jawabnya singkat.
Suasana di meja makan mendadak berubah canggung, lalu Pradipta mencoba mencairkan suasana dengan bertanya pada Danendra.
"Hari ini kamu ke Lereng Mahitala?"
"Iya, Yah. Ada rapat dengan investor."
Pradipta hanya mengangguk, kemudian beralih ke arah Niken. "Lalu Niken?"
Niken tersenyum kecil, "hari ini saya mau masuk mengajar lagi di TK Tunas Arunika."
"Wah, anak-anak pasti sudah menunggu, ya?" kata Pradipta.
"Iya, Yah."
Baru kali itu sejak duduk di meja makan, Niken benar-benar tersenyum. Ia memang selalu merasa tenang ketika membicarakan murid-muridnya. Sayangnya, senyum itu tidak bertahan lama, ketika ibu mertuanya kembali bersuara.
"Nanti sore, pulanglah lebih awal. Ada beberapa kerabat yang ingin bertemu dengan kalian sebagai pengantin baru."
"Baik, Bu." Jawab Niken yang membuat Danendra langsung bangkit lebih dulu.
"Aku berangkat."
Danendra mengucapkan kalimat itu tanpa menatap Niken, bahkan tanpa senyuman, apalagi berpamitan kepadanya. Niken hanya mampu menatap punggung suaminya yang semakin menjauh sebelum akhirnya pintu tertutup pelan.
* *
Perjalanan menuju TK Tunas Arunika selalu menjadi bagian favorit dalam hidup Niken. Hamparan kebun sayur membentang di kanan kiri jalan. Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan Wonosobo. Biasanya pemandangan itu mampu membuat hatinya terasa damai, namun tidak untuk hari ini.
Sesampainya di sekolah, suara riang anak-anak langsung menyambutnya.
"Bu Niken...!" teriak seorang anak perempuan kecil sambil berlari memeluk pinggangnya. "Bu Niken, aku kangen."
Niken membalas pelukan itu sambil tersenyum hangat. "Iya, Bu Guru juga kangen sekali."
Satu persatu murid datang menghampirinya. Ada yang menunjukan gambar baru, ada yang bercerita tentang liburan, ada juga yang langsung mengandeng tangannya menuju kelas.
Di hadapan anak-anak itu, Niken kembali menjadi dirinya sendiri. Perempuan yang sabar serta penuh kasih. Hingga tak seorang pun tahu bahwa semalaman ia menangis sampai hampir kehabisan air matanya.
Di tempat lain...
Danendra berdiri di balkon kantor utama Agrowisata Lereng Mahitala. Hamparan kebun stoberi dan sayuran organik terbentang luas di hadapannya, tetapi pikirannya tidak berada di sana. Bayangan wajah Niken yang menangis semalam terus muncul.
Ia menggenggam cangkir kopinya semakin erat. "Apa benar, tidak semua perempuan akan berdarah?"
Pertanyaan itu muncul untuk pertama kalinya, namun sayangnya rasa penasaran itu masih kalah oleh gengsi yang memenuhi hatinya.
* *
Jam menunjukkan pukul sebelas siang ketika bel istirahat berbunyi. Suara tawa anak-anak memenuhi halaman TK Tunas Arunika. Sebagian berlarian mengejar gelembung sabun yang ditiup salah satu guru, sebagian lagi menikmati bekal yang dibawakan orang tua mereka.
Niken tersenyum melihat tingkah lucu murid-muridnya. "Pelan-pelan makannya, ya. Jangan sambil berlari," ucapnya lembut.
"Iya, Bu Niken!" jawab mereka serempak.
Niken tersenyum, namun di senyumnya masih tersimpan luka yang belum sempat mengering.
"Bu Niken."
Suara itu membuatnya menoleh. Seorang guru menghampiri sambil membawa dua gelas teh hangat.
"Baru menikah kok malah kelihatan capek? Bukannya biasanya pengantin baru paling bahagia?" goda Maya, rekan guru yang paling dekat dengannya
Niken terkekeh kecil, berusaha menyembunyikan perasaannya. "Mungkin masih menyesuaikan diri."
"Suami baik, kan?"
Pertanyaan itu membuat senyum Niken memudar sesaat. "Iya...baik."
Niken berbohong. Bukan karena ingin menutupi kenyataan, tetapi karena tidak ingin rumah tangganya menjadi bahan pembicaraan.
Di waktu yang sama, Danendra baru saja menyelesaikan rapat di ruang utama Agrowisata Lereng Mahitala.
"Pak Danen, ini proposal kerja sama dari Jakarta." Ucap sekertarisnya sambil meletakan sebuah map biru di atas meja.
Danendra mengangguk singkat. "Taruh saja."
Belum sempat ia membuka map itu, pintu ruangannya kembali diketuk.
"Silahkan masuk."
Seorang perempuan berambut panjang melangkah masuk dengan senyum yang begitu ia kenal.
"Sudah lama tidak bertemu, Danen."
Danendra membeku sesaat sebelum akhirnya berkata. "Alana?"
Wanita itu tertawa kecil. "Kukira kamu sudah lupa."
Danendra berdiri dari kursinya. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku kembali ke Wonosobo."
"Sendiri?"
"Iya." Jawabnya lalu menghela napas panjang, "rumah tanggaku sudah berakhir." Katanya.
Ruangan mendadak sunyi, Danendra tidak tahu harus berkata apa. Dulu, perempuan yang kini di hadapannya adalah orang yang pernah mengisi hampir seluruh hidupnya, sebelum akhirnya memilih menikah dengan pria lain.
"Aku dengar sekarang kamu mengelola Agrowisata Lereng Mahitala. Hebat sekali." Pujinya.
"Terima kasih."
Alana menunduk sesaat, "dan... aku juga dengar kamu baru menikah."
"Iya."
"Selamat," ucapnya terdengar tulus.
Namun di balik senyumnya, mata Alana diam-diam mengamati cincin di jari Danendra. Ia merasa terlambat, karena lelaki itu sudah menjadi milik wanita lain. Tetapi, Alana bukan tipe wanita yang mudah menyerah.
"Kalau suatu hari kita sempat, bagaimana kalau minum kopi bersama? Sekedar mengenang teman lama."
Danendra terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Kalau memang ada waktu."
"Baik." Kata Alana sambi tersenyum puas.
Ia lalu pamit meninggalkan ruangan, dan begitu pintu tertutup, senyumnya perlahan berubah.
"Guru TK." Gumamnya pelan setelah mengingat informasi yang baru saja ia dengar dari salah satu karyawan. "Jadi, perempuan itu yang berhasil mendapatkanmu?"
* *
Sore harinya, Niken tiba di rumah tepat sebelum pukul empat. Beberapa mobil telah terparkir di halaman rumah, rupanya kerabat keluarga Pradipta sudah datang.
Ratih menyambutnya dengan senyum yang sulit ditebak artinya. "Syukurlah kamu tidak terlambat."
"Maaf kalau buat ibu menunggu."
"Cepat ganti baju, semua sudah berkumpul."
Niken mengangguk patuh. Namun saat hendak menaiki tangga, ia mendengar salah seorang bibi Darendra berbisik pelan kepada ibu mertuanya.
"Itu menantu baru?"
"Iya."
"Cantik juga."
Ratih tersenyum tipis, "mudah-mudahan saja cantiknya sejalan dengan kehormatannya." Bisiknya lirih namun cukup sampai ke telinga Niken.
Langkanya berhenti, dadanya kembali terasa sesak. Ia sadar, luka yang ditinggalkan saat malam pertama itu baru saja mulai menyebar ke seluruh keluarga.
...****************...
Ruang makan rumah keluarga Pradipta malam itu dipenuhi suara percakapan.
Beberapa kerabat yang baru datang tampak menikmati hidangan khas Wonosobo yang tersaji di atas meja panjang. Aroma sop buntut, tempe kemul, dan teh hangat memenuhi ruangan.
Niken keluar dari kamarnya dengan gaun sederhana berwarna krem. Rambutnya yang digelung rapi, semakin menambah keanggunan dalam penampilannya tanpa berlebihan.
"Masya Allah, menantunya Pradipta cantik sekali," puji salah seorang tante.
"Dan kelihatan sopan," timpal yang lainnya.
Niken menundukkan kepala. "Terima kasih, tante."
Ratih yang duduk di ujung meja hanya tersenyum tipis. "Silahkan duduk," ucapnya.
Beberapa saat kemudian, Danendra pun pulang. Ia baru selesai menemui klien di Agrowisata Lereng Mahitala. Manik hitamnya sempat bertemu pandang dengan mata Niken, namun hanya sesaat, bahkan tanpa senyum, tanpa sapaan. Ia langsung duduk di kursi sebelah ayahnya.
"Maaf terlambat," ucap Danendra singkat.
"Tak apa," jawab Pradipta.
Kemudian makan malam pun dimulai. Awalnya percakapan mereka berlangsung ringan. Mereka membahas perkembangan Lereng Mahitala, jumlah wisatawan yang meningkat saat musim liburan, hingga rencana membuat glamping baru.
Namun suasana berubah ketika salah seorang bibi Danendra tersenyum jahil. "Danen...."
"Iya, Bi?"
"Sudah siap kasih cucu, kan?"
Semua orang tertawa kecil, sementara Niken hanya tersenyum malu.
Danendra mengangguk singkat. "Doakan saja."
"Nah, biasanya pengantin baru itu paling mesra." Bibi itu kembali menggoda, "semalam pasti tidak tidur, ya?"
Gelak tawa kembali pecah di meja panjang itu, hanya Niken yang merasa tubuhnya menegang, sementara Danendra terdiam.
Kemudian Ratih meletakan sendoknya pelan. "Kalau memang berjodoh, cucu pasti datang."
Nada suaranya terdengar biasa, namun tatapannya mengarah lurus ke arah Niken.
"Tapi perempuan juga harus membawa kehormatan untuk keluarga suaminya." Lanjutnya.
Susana mendadak hening.
Pradipta menoleh ke arah istrinya. "Ratih...."
"Aku hanya mengingatkan." Balas Ratih cepat.
Di bawah meja, Niken meremas ujung gaunnya. Ia tahu, kalimat itu bukan sekedar nasihat, tetapi sebuah sindiran, dan hanya Danendra yang mengerti maksud sebenarnya. Namun sayangnya, lelaki itu lebih memilih diam.
Malam semakin larut.
Setelah semua tamu pulang, Niken membereskan cangkir-cangkir di ruang makan.
Lalu Ratih menghampirinya. "Apa kamu capek?" tanyanya.
"Tidak, Bu."
"Besok tidak usah mengajar." Kata Ratih yang membuat Niken menoleh bingung.
"Kenapa, Bu?"
"Ikut Ibu ke rumah Bu Rini."
"Untuk apa?"
"Ada kenalan dokter kandungan di sana."
Jantung Niken seolah berhenti berdetak. Sementara Ratih melanjutkan ucapannya tanpa sedikit pun merasa bersalah."
"Ibu ingin memastikan sesuatu."
Wajah Niken mulai memucat. "Maksud Ibu?"
"Kamu mengerti maksud Ibu."
Air mata yang mengenang hampir tumpah. "Tapi, Bu... saya sehat."
"Kalau memang sehat kenapa takut diperiksa?"
Suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tamu, Danendra baru saja masuk yang membuat Ratih langsung menoleh.
"Danen."
"Iya, Bu."
"Besok temani istrimu ke dokter."
Danendra mengeryit. "Dokter?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Ratih.
"Ibu ingin memastikan, apakah yang dikatakan Niken benar."
Ruangan kembali terasa sunyi. Niken menatap suaminya penuh harap, ia berharap Danendra akan membelanya.
"Mas..." ucapnya dengan suara lirih, "Aku tidak mau."
Danendra memandang Niken, lalu menghela napas kecil, "kalau memang itu bisa menyelesaikan semuanya, ikut saja."
Kalimat itu tak kalah menyakitkan dari tuduhan semalam. Niken merasa, Danendra masih belum pecaya kepadanya.
Ia menundukan kepala, menjatuhkan air matanya tanpa suara. Saat itu juga Niken menyadari satu hal, yang paling sulit bukanlah membuktikan dirinya suci, tetapi membuat percaya seseorang yang sejak awal sudah dipenuhi prasangka.
* *
Malam kembali menyelimuti Wonosobo. Udara dingin merambat masuk melalui celah jendela kamar, membuat Niken menarik selimut hingga ke dada.
Sejak makan malam usai, tak ada satu pun percakapan diantara dirinya dan Danendra. Suaminya entah masih sibuk apa di ruang kerja, sementara Niken memilih menenangkan diri dengan membaca buku di kamar.
Jarum jam menunjukkan pukul setengah dua belas ketika pintu kamar terbuka. Danendra masuk dengan wajah lelah, ia lalu mengenakan pakaian tebal tanpa menoleh sedikit pun ke arah Niken.
"Mas..." sapa Niken sambil menutup bukunya perlahan.
Danendra hanya berdehem kecil sebagai jawaban.
"Aku buatkan teh hangat—" tawar Niken yang langsung dipotong oleh suaminya.
"Tidak usah."
Jawaban singkat itu terasa menusuk hatinya, lalu Danendra mengambil bantal dari atas ranjang, dan selimut yang tersimpan dilemari.
Melihat itu Niken langsung turun dari tempat tidurnya. "Mas, mau kemana?"
"Aku tidur di sofa."
"Tapi kenapa?"
Danendra berhenti melangkah namun tidak berbalik. "Aku butuh waktu untuk berpikir."
Niken menatap punggung pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Kalau memang aku melakukan kesalahan, katakan padaku," katanya lembut.
"Kamu tahu betul apa yang aku pikirkan."
"Tapi aku sudah menjelaskan."
"Tapi aku belum bisa menerimanya." Kata Danendra dengan suara sedikit meninggi sambil berbalik arah.
Niken mengusap pelan air matanya yang mulai menggenang. "Mas..." suaranya mulai bergetar. "Kalau aku benar-benar perempuan yang tidak menjaga diri, apakah aku masih sanggup menatap mata Mas seperti sekarang?"
Danendra menatapnya dalam, hatinya sempat goyah melihat mata istrinya yang dipenuhi luka, tetapi bayangan tentang malam pertama kembali memenuhi pikirannya.
Ia menghembuskan napas panjang. "Aku tidak ingin membahasnya lagi malam ini."
Danendra berjalan menuju sofa di dekat jendela, ia membaringkan tubuhnya di sana. Sementara Niken masih berdiri di sisi ranjang dengan dada yang terasa sesak. Sofa itu memang tidak terlalu jauh, tetapi jarak di antara mereka terasa semakin sulit dijangkau.
Niken lalu mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang menyala redup. Di tengah keheningan itu, terdengar suara isak yang berusaha ia tahan.
Matanya terpejam, namun Danendra masih bisa mendengarnya. Bahkan setiap tangisan itu terdengar jelas di telinganya yang membuat dadanya terasa berat.
Sejujurnya, Danendra ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, ingin meminta Niken berhenti menangis, namun gengsi menahan setiap kata yang hendak keluar.
Di atas ranjang, Niken menatap langit-langit kamar dengan mata basah.
Dalam hati ia berdoa, "Ya Allah... jika ujian rumah tanggaku dimulai dengan air mata, jangan biarkan aku kehilangan kesabaran. Lembutkan hati suamiku, dan kuatkan hatiku untuk tetap menghormatinya."
Di balik sofa, Danendra kembali membuka mata. Tanpa disadari, doa lirih istrinya sampai di telinganya. Ia pejamkan matanya kembali, malam kedua itu berlalu tanpa pelukan atau pun sekedar ucapan selamat malam.
Namun, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di dalam hati Danendra. "Bagaimana jika Niken memang berkata jujur?"
...****************...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!