*`TOXIC AND CONTROL`*
*`BAB 1: DUA SISI KINARA`*
Bagi Kinara Jose, jam istirahat adalah waktu yang paling dihindarinya di SMA Garuda Nusantara.
Di saat murid-murid lain berbondong-bondong ke kantin untuk pamer barang bermerek, Kinara memilih tetap diam di sudut kelas. Dia menunduk, membiarkan rambut hitamnya yang sengaja diikat asal-asalan menutupi sebagian wajahnya. Di atas hidungnya, bertengger sebuah kacamata dengan lensa super tebal.
Sebenarnya, mata Kinara normal. Dia tidak minus ataupun silinder. Kacamata tebal itu hanyalah topeng besi yang dia pakai sengaja agar matanya terlihat kecil, aneh, dan membuat wajah cantiknya tersembunyi sempurna.
Menjadi tidak terlihat adalah cara terbaik untuk bertahan hidup di sekolah elit ini. Dia di sini hanya untuk belajar, mempertahankan beasiswanya, lalu pulang. Tidak kurang, tidak lebih.
"Kinara?"
Sebuah suara bariton yang ramah memecah keheningan kelas dua yang mulai sepi. Kinara mendongak.
Di depannya berdiri Randy, kakak kelas tingkat tiga sekaligus kapten tim basket. Wajahnya tampan, murah senyum, dan selalu memancarkan aura hangat.
Randy meletakkan sekotak susu cokelat hangat dan sebungkus roti isi daging di atas meja Kinara. "Buat kamu. Tadi aku lihat kamu enggak ke kantin. Kamu pasti belum makan siang, kan?"
"Kak Randy, ini—"
"Dimakan, ya. Aku duluan," potong Randy cepat sambil mengedipkan sebelah mata, lalu pergi sebelum Kinara sempat mengembalikan makanan itu.
Kinara menghela napas berat. Dia sama sekali tidak tertarik dengan romansa sekolah. Kepalanya sudah terlalu penuh memikirkan biaya rumah sakit ibunya yang menumpuk.
Baru saja dia hendak memasukkan susu itu ke dalam tas, sebuah bayangan besar tiba-tiba menggelapkan mejanya.
Jena, siswi paling vokal di kelasnya, sudah berdiri di sana. Wajahnya merah padam menahan dongkol karena melihat interaksi Randy dan Kinara tadi.
Tanpa peringatan, Jena menyambar kotak susu dari meja Kinara, meremasnya dengan kasar, lalu...
Plak!
Cairan cokelat pekat itu disiramkan tepat ke atas rok abu-abu Kinara. Noda basah yang lengket langsung menyebar luas, mengotori kain bersih tersebut. Seisi kelas yang tersisa langsung menoleh, beberapa di antaranya mulai berbisik sambil menertawakan Kinara.
"Dasar cewek jelek! Berani-beraninya kamu goda Kak Randy!" makian Jena menggema, telunjuknya hampir menyentuh hidung Kinara.
"Kaca diri dulu dong! Murid miskin bermuka cupu kayak kamu enggak pantes deket-deket sama cowok populer!"
Kinara menatap roknya yang kini basah kuyup dan lengket. Alih-alih menangis atau membalas dengan teriakan, dia justru menarik napas dalam-dalam.
Dengan gerakan tenang, dia berdiri, membetulkan letak kacamata tebalnya, lalu menatap Jena datar tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku tahu aku jelek," ucap Kinara, suaranya terdengar sangat tenang namun dingin. "Jadi, harusnya kamu tidak perlu merasa terancam. Kamu tidak perlu takut aku akan merebut Kak Randy-mu itu."
Sebelum Jena sempat membalas karena merasa diremehkan, Kinara sudah melangkah pergi. Dia memegang roknya yang basah, berjalan cepat menuju toilet perempuan di ujung koridor untuk membersihkan diri.
Di dalam toilet yang sepi, Kinara menyalakan keran wastafel. Dia menggosok noda cokelat di roknya dengan sapu tangan, mencoba menghilangkan bekas lengketnya.
Rasa kesal menyergap dadanya, bukan karena makian Jena, melainkan karena rok ini adalah satu-satunya seragam yang dia miliki minggu ini. Ibunya sedang sekarat di rumah sakit, ayahnya kabur entah ke mana dengan selingkuhannya, dan dia harus menumpang di rumah Bibi Sinta yang selalu mengungkit-ungkit biaya makan.
Hidup terlalu keras untuk menangisi segelas susu cokelat.
Ah... k-kak, jangan di sini... nanti ada yang lihat...
Kinara seketika menghentikan gerakan tangannya. Suara bisikan yang berat, disusul kekehan rendah seorang laki-laki terdengar dari arah bilik ujung toilet.
Kinara mengernyit tajam. Ini toilet perempuan. Siapa yang berani berbuat mesum di sekolah saat jam pelajaran?
Didorong rasa ingin tahu yang besar, Kinara melangkah pelan tanpa suara. Dia mengintip ke celah lorong yang agak remang menuju bilik paling belakang. Pandangannya terasa buram dan pusing karena lensa kacamata palsunya yang tebal membuat matanya yang sehat sulit fokus di tempat temaram.
Demi memperjelas penglihatan dan memastikan siapa pelakunya, Kinara menurunkan kacamata tebal itu hingga ke ujung hidung. Dia berkedip beberapa kali, membiarkan mata jernihnya menangkap cahaya dengan normal.
Bam!
Di sudut remang itu, seorang cowok jangkung sedang menyudutkan seorang siswi ke dinding, saling bertukar ciuman panas.
Namun, saat kacamata Kinara turun, cowok itu tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Kepalanya berputar cepat ke arah luar bilik.
Detik itu juga, sepasang mata jernih, besar, dan luar biasa indah milik Kinara beradu tatap langsung dengan mata elang milik cowok itu.
Jantung Kinara mencelos sampai ke perut. Seolah seluruh pasokan oksigen di toilet itu mendadak menguap.
Cowok itu adalah Rian Pradifta.
Anak dari pemilik yayasan konglomerat, idola nomor satu di sekolah, sekaligus monster berwajah malaikat yang terkenal toxic, kasar, dan gila kendali. Siapa pun yang berurusan dengan Rian tidak akan pernah berakhir baik.
Bukannya panik karena tertangkap basah, Rian justru melepaskan dekapannya dari siswi itu. Seulas senyum miring yang meremehkan sekaligus penasaran terbit di bibirnya yang basah.
Tatapannya terkunci rapat pada wajah asli Kinara yang luar biasa cantik tanpa penghalang kacamata tebal. Rian seperti baru saja melihat sebuah permata berharga tersembunyi di balik tumpukan lumpur.
Kinara syok setengah mati. Tubuhnya gemetar hebat hingga cengkeramannya melonggar.
Prak!
Kacamata tebalnya lolos dari jari dan jatuh menghantam lantai ubin dengan bunyi nyaring.
Kesadaran Kinara tersentak. Sadar bahwa bahaya besar sedang mengancam eksistensinya, Kinara langsung berbalik, mundur dua langkah, lalu berlari sekencang mungkin meninggalkan toilet tanpa menoleh lagi.
"Kak Rian, kok berhenti? Kenapa dilepas?" tanya siswi di dalam bilik dengan nada manja yang dibuat-buat, merasa tidak puas karena kemesraan mereka terganggu.
Rian tidak menyahut. Matanya masih menatap tajam ke arah pintu toilet yang kosong, tempat gadis misterius tadi baru saja menghilang.
Langkah kakinya yang panjang bergerak perlahan, mendekati benda yang tergelosor di lantai. Rian berjongkok, memungut kacamata dengan lensa tebal yang tertinggal di sana.
"Kamu kenal cewek cantik yang barusan lari?" tanya Rian, suaranya berat, dalam, dan penuh selidik.
Siswi di sampingnya ikut keluar dari bilik, merapikan bajunya yang berantakan sambil mengernyit bingung. "Cewek cantik yang mana, Kak? Perasaan dari tadi enggak ada siapa-siapa. Oh... tapi setahuku, yang pakai kacamata tebal kayak gini cuma anak beasiswa kelas dua, namanya Kinara Jose. Tapi dia cupu, Kak, jelek banget. Enggak ada cantik-cantiknya sama sekali."
Rian memutar-mutar gagang kacamata di tangannya. Senyum misterius yang sarat akan obsesi kembali muncul di wajah tampannya.
`Jelek?` batin Rian menolak keras.
Mata jernih yang menatapnya tadi adalah mata paling indah dan menghipnotis yang pernah dia lihat seumur hidupnya. Rian tahu, gadis itu sengaja memakai benda bodoh ini untuk menipu seluruh sekolah. Dan sekarang, kacamata itu ada di tangannya.
Sementara itu di dalam ruang kelas, Kinara duduk bertumpu pada kedua lututnya yang masih lemas dan gemetar. Jantungnya berpacu gila-gilaan seperti habis dikejar setan. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Dengan panik, tangan yang gemetar itu merogoh bagian paling dalam dari tas sekolahnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi kacamata cadangan dengan model yang persis sama. Setelah memakainya, dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya kembali.
"Wah... tadi itu serem banget," bisik Kinara pada dirinya sendiri, meraba dadanya yang masih bergemuruh.
Kinara mengira dia berhasil lolos. Dia sama sekali tidak tahu bahwa siang itu, seekor predator paling berbahaya di sekolah baru saja mencium bau buruannya, dan Rian Pradifta tidak akan pernah melepaskan apa pun yang sudah menarik perhatiannya.
*`TOXIC AND CONTROL`*
*`BAB 2: JEBAKAN SANG PREDATOR`*
Suasana kelas dua Sains siang itu terasa begitu menjemukan.
Suara Pak Joko, guru matematika paruh baya yang sedang menerangkan rumus kalkulus di depan papan tulis, terdengar seperti senandung pengantar tidur. Sebagian besar murid mulai terkantuk-kantuk, sementara Kinara Jose tetap fokus menyalin angka demi angka ke dalam buku catatannya.
Setidaknya, Kinara mencoba untuk fokus. Separuh pikirannya masih tertinggal di toilet perempuan beberapa jam yang lalu. Bayangan mata elang Rian Pradifta yang menatapnya tajam masih membuat bulu kuduknya meremang.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu yang santai namun tegas seketika memotong penjelasan Pak Joko. Pintu kelas terayun terbuka.
Kinara mendongak refleks, dan detik itu juga, seluruh darah di tubuhnya rasanya membeku. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Di ambang pintu, berdiri sosok pria mesum yang tadi dia lihat di toilet. Rian Pradifta.
Untuk sepersekian detik, mata tajam Rian menyapu seisi kelas sebelum akhirnya berhenti dan mengunci pandangannya tepat pada Kinara. Sudut bibir cowok itu terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat berbahaya.
Panik melanda Kinara. Dengan gerakan kilat, dia langsung menarik buku paket matematika tebal miliknya, menegakkannya di depan wajah untuk bersembunyi. Dia berpura-pura sangat fokus membaca, berdoa dalam hati agar cowok itu tidak mendekat.
Tanpa menunggu izin dari Pak Joko, Rian nyelonong masuk begitu saja. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa menggema di lantai kelas yang mendadak senyap.
Dia memberikan senyuman santai—yang lebih mirip seringai meremehkan—kepada Pak Joko. Anehnya, guru yang biasanya terkenal killer itu hanya terdiam, tidak berani menegur kelancangan sang anak pemilik yayasan.
Langkah kaki Rian berhenti tepat di depan meja Kinara.
Kinara bisa merasakan kehadiran cowok itu. Aroma parfum maskulin yang mahal dan kuat menguar, memenuhi indra penciumannya. Kinara semakin mengeratkan pegangannya pada buku paket, menyembunyikan wajahnya rapat-rapat.
Puk.
Sebuah benda diletakkan di atas permukaan meja kayu milik Kinara. Melalui celah bawah buku, Kinara bisa melihat sebuah kacamata dengan lensa super tebal yang sangat dia kenali. Itu kacamata utamanya yang jatuh di toilet tadi.
Sebelum Kinara sempat mencerna situasi, sebuah tangan kekar dengan jemari lentik bergerak maju. Tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang kini menatap mereka dengan bingung dan penasaran, Rian menurunkan buku paket yang dipegang Kinara dengan paksa namun perlahan.
"Kamu menjatuhkannya tadi," ucap Rian, suaranya berat, rendah, dan terdengar sangat intimidatif.
Mau tidak mau, mata mereka kembali bertemu. Namun kali ini, Kinara sudah memakai kacamata cadangannya. Tatapan mata jernihnya tersembunyi di balik lensa tebal, membuat penampilannya kembali terlihat cupu dan tidak menarik.
Kinara menelan ludah, mencoba mengontrol suaranya agar tidak bergetar. "Makasih, Kak."
Dengan gerakan cepat, Kinara mengulurkan tangan untuk mengambil kacamata di atas meja. Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh benda itu, tangan Rian bergerak lebih cepat. Cowok itu menyambar kembali kacamata tersebut, menjauhkannya dari jangkauan Kinara.
Rian menimang-nimang kacamata itu di tangannya, lalu menunduk sedikit, menatap lekat-lekat kedua mata Kinara dari balik lensa cadangannya.
"Kamu enggak cocok pakai kacamata ini," bisik Rian dengan nada mengejek yang disengaja. "Mata kamu yang indah jadi tersembunyi."
Bisikan itu sukses membuat Kinara merinding sekaligus waswas. Apakah Rian tahu kalau matanya normal? Apakah Rian tahu kalau dia berpura-pura jelek?
"Kak, tolong balikin kacamata saya," pinta Kinara setengah berbisik, matanya menatap Rian penuh permohonan sekaligus kekesalan yang dipendam.
Keributan kecil di sudut kelas itu mulai memancing kasak-kusuk murid lain. Jena yang duduk di barisan depan menatap Kinara dengan pandangan membunuh, tidak terima cewek cupu itu didekati oleh Rian.
Melihat situasi kelas yang mulai tidak kondusif, Pak Joko berdeham keras. Namun, dasar pengecut, guru itu sama sekali tidak berani menegur atau menyalahkan Rian yang jelas-jelas menjadi otak keributan. Sebaliknya, telunjuk Pak Joko justru mengarah lurus pada Kinara.
"Kinara! Silakan bicara di luar! Jangan mengganggu teman-temanmu yang sedang fokus belajar!" tegur Pak Joko dengan suara lantang.
Kinara langsung terdiam. Ketidakadilan ini meremas dadanya, namun dia tidak punya kekuatan untuk melawan. Di sekolah ini, uang dan kekuasaan adalah hukum tertinggi, dan dia tidak memiliki keduanya.
Rian terkekeh pelan melihat Kinara yang terpojok. Alih-alih menjauh, Rian justru sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas habis jarak di antara mereka hingga Kinara bisa merasakan embusan napas hangat cowok itu di kulitnya.
Rian mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Kinara, lalu berbisik dengan nada teramat dingin dan penuh kepemilikan, "Kalau mau kacamata mu balik... temui aku di basecamp pulang sekolah."
Setelah membisikkan kalimat yang terdengar seperti perintah mutlak itu, Rian menegakkan tubuhnya kembali. Dia memasukkan kacamata tebal Kinara ke dalam saku seragamnya, berbalik dengan santai, dan melangkah keluar kelas tanpa pamit pada guru.
Kinara terpaku di tempat duduknya. Tangannya mengepal kuat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Pergi ke toilet tadi siang adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, dan sekarang, dia masuk ke dalam perangkap seekor predator yang tidak akan melepaskannya begitu saja.
*`TOXIC AND CONTROL`*
*`BAB 3: TAMPARAN UNTUK SANG TUAN MUDA`*
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, namun atmosfer di kepala Kinara Jose sama sekali tidak terasa lega.
Langkah kakinya terasa berat saat menyusuri koridor lantai tiga gedung sekolah yang mulai sepi. Pikirannya berkecamuk antara rasa takut, kesal, dan kewajiban untuk segera pergi ke toko es krim tempatnya bekerja paruh waktu.
Namun, dia tidak punya pilihan. Kacamata utamanya ada di tangan Rian Pradifta. Benda itu terlalu berbahaya jika dibiarkan di tangan cowok manipulatif seperti dia.
"Kinara?"
Kinara menghentikan langkahnya pelan. Di depannya, Randy berdiri sambil menyandang tas basket di bahunya. Kakak kelasnya itu menatap Kinara dengan raut wajah heran, lalu melirik ke ujung koridor—arah menuju area belakang sekolah yang terisolasi.
"Kamu mau ke mana? Arah sana kan cuma menuju gedung tua," tanya Randy lembut, namun ada nada khawatir dalam suaranya.
"Ada... urusan sebentar, Kak," jawab Kinara bohong, mencoba menghindari tatapan Randy.
Wajah Randy seketika berubah tegang saat menyadari sesuatu. "Jangan bilang kamu mau ke basecamp anak-anak tingkat tiga? Kinara, dengar aku. Jangan pernah ke sana. Apalagi kalau urusanmu itu berkaitan dengan Rian Pradifta."
Randy melangkah mendekat, mencoba memperingatkan gadis di depannya dengan sungguh-sungguh. Di matanya, Kinara hanyalah siswi beasiswa yang polos dan tidak berdaya.
"Rian itu bukan orang yang mudah dihadapi. Dia bisa melakukan apa saja di sekolah ini tanpa tersentuh hukum. Jangan pernah berurusan sama dia, Kinara."
Di dalam hatinya, Kinara meringis. `Aku juga tahu dia berbahaya, Kak. Jangankan berurusan, melihat mukanya saja aku tidak sudi,` batin Kinara.
Namun, dia tidak bisa menceritakan rahasianya kepada Randy.
"Terima kasih peringatannya, Kak. Tapi aku harus pergi," ucap Kinara final. Dia membungkuk pelan lalu berjalan melewati Randy yang hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan cemas.
Langkah kaki Kinara akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kayu ek tebal di ujung lorong gedung tua.
Bahkan dari luar, bau pekat asap rokok sudah tercium menyengat, menusuk hidung Kinara hingga membuatnya terbatuk kecil. Sayup-sayup, suara tawa riang beberapa siswi dan obrolan berisik khas anak-anak nakal terdengar dari dalam.
Kinara meremas tali tasnya. Rasa ragu dan takut mendadak menyergap dadanya. Dia berbalik badan, berniat mengurungkan niatnya dan merelakan kacamata itu. Bagaimanapun, dia masih punya kacamata cadangan.
Cklek.
Belum sempat Kinara melangkah menjauh, pintu kayu itu mendadak terbuka dari dalam. Seorang cowok jangkung berambut sedikit berantakan melangkah keluar. Kinara mengenalnya—Rama, anak kelas tiga sekaligus sahabat dekat Rian.
Rama menghentikan langkahnya, menunduk untuk menilai penampilan Kinara dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya dipenuhi kilat meremehkan saat melihat kacamata tebal yang bertengger di hidung Kinara.
"Kamu... cari siapa?" tanya Rama, nadanya terdengar malas dan angkuh.
"Kak Rian," jawab Kinara tegas, mencoba menutupi kegugupannya.
Rama menaikkan sebelah alisnya. Sejak kapan seorang Rian Pradifta yang seleranya setingkat model papan atas, mendadak dikunjungi oleh cewek cupu bin jelek modelan anak beasiswa ini?
"Biarkan dia masuk."
Sebuah suara bariton yang berat terdengar memotong dari dalam ruangan, bahkan sebelum Rama sempat menanyakan maksud kedatangan Kinara. Rian rupanya sudah tahu siapa yang datang sejak awal.
Rama mendengus, lalu menggeser tubuhnya, memberikan jalan. Kinara menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, lalu mendorong pintu itu dan melangkah masuk ke dalam sarang serigala.
Pemandangan di dalam ruangan itu membuat Kinara mengernyit jijik. Asap rokok mengepul tebal di udara. Di atas meja kaca panjang, beberapa botol minuman keras yang sudah kosong tergeletak berantakan bersama puntung rokok.
Kinara benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa pihak sekolah diam saja dan tidak mendisiplinkan anak-anak orang kaya ini. Mereka bertindak seolah sekolah ini adalah wilayah kekuasaan pribadi mereka.
"Sudah puas lihat-lihatnya?"
Suara Rian memecah lamunan Kinara. Cowok itu duduk santai di sofa kulit besar di tengah ruangan, dikelilingi oleh beberapa temannya dan dua orang siswi yang berpakaian ketat. Tatapan mata elang Rian langsung mengunci sosok Kinara.
"Aku mau ambil kacamata," ucap Kinara tanpa basa-basi. Dia tidak ingin berlama-lama di tempat kotor ini.
Rian diam saja. Dia tidak langsung menjawab, melainkan hanya menyunggingkan senyum miring yang penuh arti.
Mata jernih Kinara di balik lensa cadangannya langsung bergerak cepat menyapu ruangan, hingga akhirnya menangkap keberadaan kacamata utamanya yang tergeletak di atas meja kaca, tepat di depan Rian.
Tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang di ruangan itu, Kinara berjalan cepat mendekati meja, mengulurkan tangannya hendak mengambil kacamata itu. Dia ingin segera pergi.
Namun, seperti yang sudah-sudah, gerakan Rian selalu satu langkah lebih cepat. Sebelum jemari Kinara menyentuh benda itu, tangan kekar Rian sudah menyambarnya terlebih dahulu, mengamankannya kembali ke dalam genggaman.
"Kenapa buru-buru? Kita bisa mengobrol sebentar, kan?" ujar Rian santai, menyandarkan punggungnya ke sofa sambil memutar-mutar gagang kacamata tebal itu.
Teman-teman Rian yang ada di sofa saling berpandangan dengan wajah melongo. Mereka bingung setengah mati. Untuk apa seorang Rian Pradifta repot-repot menggoda dan mengerjai cewek cupu yang tidak ada menarik-menariknya sama sekali?
"Tolong balikin kacamata aku sekarang," tekan Kinara, suaranya naik satu oktav karena emosi yang mulai tersulut.
Rian perlahan berdiri dari duduknya, membuat tubuh jangkungnya menjulang tinggi di depan Kinara, mengintimidasi ruang gerak gadis itu. Rian mengangkat kacamata itu ke udara, memainkannya di depan wajah Kinara.
"Aku kan sudah bilang..." Rian melangkah maju satu kali, mengikis jarak hingga Kinara bisa mencium aroma tembakau dan parfum mahalnya.
"...kamu itu enggak cocok pakai kacamata bodoh ini. Kamu jauh lebih cantik kalau tidak pakai kacamata."
Sembari mengucapkan kalimat itu dengan suara rendah, jemari panjang Rian bergerak maju, menyentuh dagu Kinara. Kulitnya terasa dingin, namun gerakannya begitu dominan.
Rian tertegun sejenak. Gadis di depannya ini memiliki tatapan mata yang sangat angkuh dan berani menatap langsung ke dalam matanya, tidak seperti gadis-gadis lain yang selalu tunduk ketakutan padanya.
Plak!
Kinara menepis tangan Rian dengan kasar. "Jangan lancang!" desis Kinara tajam.
Didorong oleh rasa kesal yang sudah mencapai ubun-ubun, Kinara melompat maju, mencoba merebut kacamata dari genggaman Rian. Namun, Rian yang menyadari pergerakan itu langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara.
Kinara tidak mau menyerah. Dia terpaksa berjinjit, meraba-raba ke atas mencoba meraih benda itu. Tubuh Rian terlalu tinggi, membuat Kinara harus memajukan tubuhnya hingga hampir menempel pada dada bidang cowok itu.
"Balikin—"
Ktang!
Kaki Kinara yang sedang berjinjit tidak sengaja menyenggol sebuah kaleng bir kosong yang tergeletak di lantai ubin. Bunyi nyaring itu disusul dengan hilangnya keseimbangan tubuh Kinara. Tubuhnya limbung ke depan.
Dalam hitungan detik yang krusial, insting Kinara berteriak agar dia tidak jatuh menimpa tubuh Rian. Dia mencoba menggeser tumpuan badannya ke arah samping, lebih memilih untuk jatuh menghantam lantai yang keras daripada harus bersentuhan dengan cowok gila kontrol ini.
Namun, Rian tidak membiarkannya. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, tangan kekar Rian terjulur, mencengkeram pergelangan tangan Kinara dan menariknya dengan kuat agar tidak terjatuh ke lantai.
Tarikan yang terlalu kuat itu justru membawa dampak yang tidak terduga. Tubuh Kinara tertarik masuk ke dalam dekapan Rian, membuat mereka berdua kehilangan keseimbangan dan...
Bruk!
Pendaratan yang sembrono itu terjadi. Tubuh Kinara menindih tubuh Rian di atas sofa kulit. Namun yang membuat seluruh pasokan udara di dalam ruangan itu mendadak menguap adalah... bibir mereka berdua saling bertabrakan dengan keras.
Detik itu juga, ruangan basecamp mendadak sunyi senyap seolah waktu telah dihentikan. Teman-teman Rian menahan napas dengan mata melotot sempurna.
Sentuhan selembut beludru di bibirnya membuat mata Rian melebar karena syok. Jantungnya berdentum gila-gilaan karena sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dari gadis mana pun.
Sementara Kinara, otaknya mendadak kosong.
Detik berikutnya, kesadaran Kinara kembali. Rasa syok dan murka bergolak menjadi satu di dalam dadanya. Dengan sekuat tenaga, Kinara mendorong dada Rian, menegakkan tubuhnya, dan...
PLAKKK!!!
Satu tamparan keras dan luar biasa nyaring mendarat tepat di pipi mulus Rian Pradifta, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di wajah tampannya. Kepala Rian sampai terlempar ke samping akibat kuatnya hantaman tangan Kinara.
"Dasar pria mesum!" desis Kinara tajam dengan napas yang memburu karena amarah.
Sret!
Semua orang di dalam ruangan itu spontan berdiri dari duduk mereka dengan wajah pucat pasi. Suasana yang tadinya senyap mendadak berubah menjadi kepanikan massal.
Tidak ada satu orang pun di sekolah ini, bahkan kepala sekolah sekalipun, yang berani menyentuh seujung kuku Rian Pradifta. Dan hari ini, seorang anak beasiswa baru saja menampar wajah sang tuan muda dengan sangat keras.
"Rian! Kamu enggak apa-apa?" Rama langsung melangkah maju dengan panik, menatap ngeri ke arah bekas tamparan di pipi sahabatnya.
"Dasar cewek gila! Berani banget dia nampar kamu! Mau mati apa ya?!" seru salah satu teman Rian yang lain, bersiap untuk mengejar Kinara.
Namun, Kinara tidak memedulikan hawa membunuh dan kegaduhan yang mulai menguar di ruangan itu. Dengan tangan yang gemetar, dia menyambar kacamata utamanya yang sempat terlepas dari tangan Rian dan jatuh di sofa.
Tanpa menoleh lagi, Kinara berbalik dan berlari keluar dari basecamp secepat yang dia bisa.
Sementara itu, Rian masih terpaku di sofa. Dia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipinya yang terasa panas dan berdenyut
Bukannya mengamuk, Rian justru menunduk dan terkekeh rendah—sebuah kekehan dingin yang membuat teman-temannya merinding.
Tatapan matanya perlahan menggelap, dipenuhi dengan kilat obsesi yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
--
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!