Indonesia
NovelToon NovelToon

Sang Dewa Cangkul Sakti

Bab 1: Kehidupan Kedua di Era Baru

Napasnya terputus-putus. Yang Chan tersentak bangun, membuat kasur tipisnya berderit akibat gerakan mendadak itu. Dadanya naik-turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi kaus yang ia kenakan pagi itu.

Kusamnya langit-langit kamar dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa sudut menyambut tatapan matanya yang masih buram.

Bayangan ruangan rumah sakit yang sepi, aroma obat-obatan kimia yang menyengat paru-parunya, hingga bunyi nyaring dari monitor jantung yang melambat di detik-detik terakhir kehidupan sebelumnya masih terasa begitu nyata melekat di dalam ingatan.

Penyakit kronis sialan itu benar-benar telah merenggut paksa masa mudanya dan mengakhiri nyawanya dengan menyedihkan di masa lalu.

Tangan kanannya bergerak perlahan menggapai dada kiri. Ia menekan telapak tangannya di sana, merasakan detak jantung di balik tulang rusuknya yang kini berdegup dengan normal. Detak itu terasa kuat, teratur, dan sangat sehat.

Embusan napas panjang dilepaskannya dengan lega, membiarkan sisa kepanikan dari memori buruk itu menguap bersama udara fajar. Ada rasa syukur yang luar biasa hangat mengalir di dalam dadanya. Ia benar-benar telah diberikan kesempatan kedua untuk hidup kembali di tubuh yang baru ini.

Dalam balutan selimut lusuh yang sedikit kasar, bisikan pelan terdengar di sudut kamar yang sepi itu. "Aku hidup. Sungguh-sungguh hidup kembali."

Di tengah kesunyian pagi yang tenang itu, ia menetapkan satu tujuan utama secara absolut di dalam kepalanya. Kali ini, ia hanya ingin hidup panjang umur, sehat, dan damai. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjauhi segala bentuk gaya hidup gila yang penuh pertarungan berdarah, atau perebutan harta pusaka leluhur yang kerap mempertaruhkan nyawa pelakunya.

'Persetan dengan pertarungan gila,' pikirnya sambil tersenyum tipis. 'Menghindar adalah jalan terbaik untuk tetap selamat dan menikmati hidup.'

Menyingkirkan selimut hangatnya, ia segera beranjak dari tempat tidur tanpa alas kaki. Langkah kakinya yang ringan membawa tubuh ringkih itu menuju ke sudut ruangan, tepat di depan sebuah cermin gantung sederhana yang berbingkai kayu tipis.

Sosok seorang remaja laki-laki yang baru menginjak usia empat belas tahun terpantul jelas di hadapannya. Wajahnya tampak agak pucat dengan sepasang mata yang sayu serta rambut hitam pendek yang berantakan ke segala arah.

Yang Chan mencoba mengepalkan kedua tangan kurusnya erat-erat, lalu memejamkan mata dalam upaya sementaranya untuk merasakan sesuatu di dalam aliran darahnya.

Entah itu aliran energi spiritual yang hangat, ataupun gejolak kekuatan Qi yang biasa dibicarakan orang-orang di luar sana.

Namun, kenyataannya nihil. Tidak ada kehangatan atau getaran energi apa pun di dalam tubuhnya.

Remaja seusianya di luar sana rata-rata sudah mulai mengalami lonjakan energi spiritual yang membuat mereka mampu berlari kencang atau melompat tinggi, tetapi Yang Chan sadar bahwa tubuhnya sama sekali belum membangkitkan bakat spiritual apa pun.

Ia kembali membuka mata, lalu memandangi telapak tangannya di depan cermin.

"Benar-benar kosong, seperti tong kosong," bisiknya, lalu terkekeh pelan tanpa beban.

Tidak ada rasa kecewa atau amarah kepada takdir yang tidak adil di dalam hatinya.

Alih-alih merasa frustrasi atau mengutuk keadaan seperti kebanyakan tokoh utama dalam cerita kepahlawanan, Yang Chan justru merasa sangat tenang dan gembira.

Statusnya sebagai pemuda biasa tanpa bakat ini justru sangat sejalan dengan keinginannya sejak awal untuk hidup biasa-biasa saja.

Tanpa adanya bakat spiritual, ia tidak perlu memikul tanggung jawab besar untuk dikirim ke garis depan pertempuran. Ia tidak harus dipaksa masuk ke akademi khusus kultivator.

Menjadi manusia biasa yang tidak menonjol adalah berkah terbesar untuk melancarkan rencana pensiun dininya.

Dengan langkah yang santai, ia berjalan mendekati jendela kayu kamarnya yang sedikit berderit karena engsel yang berkarat. Tangannya mendorong kedua daun jendela itu lebar-lebar ke arah luar.

Seketika, embusan angin pagi yang dingin menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah dan sisa embun semalam yang segar.

Yang Chan menghirup oksigen itu dalam-dalam, membiarkan paru-parunya yang sehat bekerja dengan maksimal.

Dari jendela lantai dua ini, ia bebas memandang ke arah jalanan di bawah yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Inilah Era Pasca-Kebangkitan, dunia baru tempat ia berada sekarang.

Sejarah dunia mencatat bahwa sekitar dua ratus tahun yang lalu, sebuah peristiwa besar yang dinamakan Gelombang Spiritual Pertama melanda seluruh penjuru bumi secara tiba-tiba.

Kejadian dahsyat tersebut seketika merombak total hukum fisika yang selama ini dipercaya oleh manusia, memadatkan energi Qi murni secara masif di atmosfer, serta memicu mutasi yang sangat brutal pada ekosistem bumi hingga hampir memusnahkan peradaban manusia karena serangan monster-monster liar yang bermutasi karena gelombang Qi.

Namun, untungnya umat manusia berhasil beradaptasi dan selamat dari jurang kepunahan massal itu.

Kini, di era yang baru, kultivasi bukan lagi dipandang sebagai mitos kuno para pertapa misterius yang berdiam diri di atas puncak gunung sunyi, melainkan telah bergeser menjadi fondasi utama peradaban modern yang menggerakkan sektor ekonomi global, sistem pertahanan militer, hingga kurikulum wajib di institusi pendidikan.

Yang Chan mengamat-amati seorang tetangga paruh baya di seberang jalan yang sedang menyapu halaman toko dengan bantuan mantra angin. Pemandangan aneh yang terasa sangat kocak bagi seseorang yang pernah hidup di dunia sains modern yang kaku.

Ia hanya tersenyum tipis melihat kehebohan era modern-spiritual itu dari jendelanya.

Di matanya, semua kompetisi kekuatan dan ambisi kultivasi itu terasa sangat melelahkan untuk diikuti. Biarkan saja orang lain yang sibuk bertarung menyelamatkan dunia atau berebut tempat sebagai kultivator terkuat di bawah langit.

Ia perlahan menarik kembali daun jendela itu, menutupnya dengan rapat agar suara bising dari luar tidak mengganggu ketenangannya lagi.

Pandangannya kini tertuju pada pintu kamar kayu yang tertutup rapat di depannya.

Di balik celah pintu, ia bisa mendengar sayup-sayup suara ibunya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur, lengkap dengan denting wajan yang beradu pelan.

Aroma masakan yang sederhana namun menggugah selera mulai merayap masuk ke dalam hidungnya.

Yang Chan merapikan kaus rumahnya sebentar, menepis beberapa helai debu imajiner yang menempel di pundaknya. Ia melangkah mantap mendekati pintu, menautkan langkah pertamanya hari ini pada rutinitas damai keluarganya yang hangat.

Tangannya meraih gagang pintu kayu yang dingin, lalu memutarnya perlahan hingga terdengar bunyi klik pelan.

"Hari baru, di kehidupan baru," bisiknya pada diri sendiri.

Bab 2: Lahan Keras Desa Perbatasan

Langkah kakinya membawa Yang Chan melewati ruang tengah yang mungil. Ibunya, wanita paruh baya dengan senyum hangat, menyodorkan sepiring nasi goreng sederhana sebelum menyuruhnya segera menyusul sang ayah ke luar. Mengunyah cepat-cepat, ia langsung melangkah menuju pintu belakang.

Udara dingin langsung menusuk pori-porinya begitu pintu dapur terbuka. Langit pagi itu tampak sangat suram, tertutup awan abu-abu tebal yang menggantung rendah seolah siap menumpahkan badai kapan saja. Angin kencang sesekali bertiup, membawa debu kering yang membuat mata perih.

Di depannya terbentang ladang pertanian keluarga Yang yang tidak seberapa luas. Wilayah perbatasan ini memang terkenal tidak ramah. Tanah di sini berwarna keabu-abuan, keras, dan pecah-pecah akibat sisa kontaminasi energi monster liar dari hutan seberang beberapa tahun lalu.

Sangat sulit untuk ditanami apa pun. Kebanyakan penduduk desa bahkan sudah menyerah dan memilih mencari peruntungan di pusat kota yang lebih aman. Cuaca buruk yang melanda akhir-akhir ini pun seolah sengaja ingin menghabisi sisa-sisa harapan para petani lokal yang bertahan.

Namun, pemandangan berbeda terlihat di tengah petak tanah yang gersang itu.

Seorang pria paruh baya mengenakan caping anyaman lusuh tengah mengayunkan cangkulnya dengan ritme yang sangat teratur. Ia adalah Yang Wei, ayah Yang Chan. Tubuhnya yang kurus bergoyang mengikuti setiap hantaman mata besi cangkul ke tanah liat yang membatu.

Tidak ada kilatan energi spiritual di tubuh pria itu. Tidak ada aura magis yang membungkus cangkulnya seperti para kultivator hebat yang sering muncul di berita televisi. Ia murni hanya seorang manusia biasa yang menggunakan ototnya untuk bertahan hidup.

Anehnya, wajah Yang Wei sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran. Di tengah ancaman badai dan kondisi tanah yang rusak parah, wajahnya justru terlihat sangat damai. Ia mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu tersenyum saat melihat kedatangan anak laki-lakinya.

"Chan, kau sudah bangun?" sapa Yang Wei, suaranya terdengar renyah di sela deru angin pagi.

"Sudah, Ayah," jawab Yang Chan, berjalan mendekat sambil berusaha tidak tersandung gundukan tanah keras. "Tanahnya keras sekali hari ini. Apa tidak sebaiknya kita berteduh dulu? Langitnya terlihat sangat mengerikan."

Yang Wei tertawa pelan. Ia menancapkan cangkulnya ke tanah, lalu menyandarkan kedua tangannya di ujung gagang kayu yang halus karena sering digunakan.

"Badai memang akan datang, Chan. Tapi tanah ini tidak akan melunak kalau kita hanya mendiamkannya di dalam rumah," tutur ayahnya dengan nada santai.

Pria paruh baya itu kemudian menunjuk ke arah kandang bebek kayu di pojok ladang. Beberapa ekor bebek tampak berkumpul tenang, tidak terganggu oleh angin yang bertiup kencang.

"Lihat hewan-hewan itu. Mereka tahu badai akan datang, tapi mereka tidak panik. Mereka hanya bersiap," lanjut Yang Wei. Ia berjongkok, mengambil segenggam tanah kering yang keras, lalu meremasnya perlahan hingga hancur menjadi butiran debu di sela jarinya.

Yang Chan memperhatikan gerakan ayahnya dengan saksama. 'Tenang sekali,' pikirnya heran. Sikap ayahnya seolah-olah menganggap cuaca ekstrem ini hanyalah sapaan ramah dari alam.

"Bertani itu bukan tentang memaksa tanah menghasilkan buah dengan cepat, Chan," kata Yang Wei lagi, matanya menatap lurus ke arah ladang yang kosong. "Ini tentang kesabaran. Kita merawat, kita menunggu, dan kita menyelaraskan diri dengan apa yang alam berikan. Bahkan tanah yang tercemar ini pun punya hak untuk bernapas."

Ia menepuk pundak Yang Chan dengan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan. Sentuhan itu terasa hangat, mengalirkan rasa tenang yang aneh ke dalam dada remaja itu.

"Jika kau bertarung melawan alam, kau akan kalah. Tapi jika kau berjalan bersamanya, bahkan tanah gersang ini pun suatu hari akan tunduk dan memberi kita makan. Ingat itu."

Kata-kata sederhana itu mengalir masuk ke dalam benak Yang Chan. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya, bukan energi spiritual, melainkan sebuah pemahaman baru yang mendalam tentang kehidupan di sekitarnya.

Ia memandangi tanah abu-abu di bawah kakinya. Kali ini, ia tidak lagi melihatnya sebagai tanah jelek yang rusak. Ia melihatnya sebagai makhluk hidup yang sedang terluka dan membutuhkan waktu untuk pulih.

'Menyelaraskan diri dengan alam,' gumam Yang Chan dalam hati. Ia tersenyum tipis. Konsep ini terasa sangat cocok dengan keinginannya untuk hidup tenang tanpa konflik.

Ia mengambil cangkul cadangan yang bersandar di dekat pagar kayu. Merasakan beratnya gagang kayu di tangannya, ia mulai mengayunkannya ke tanah gersang itu, mencoba meniru ritme santai yang ditunjukkan oleh ayahnya.

Satu hantaman. Dua hantaman.

Setiap kali mata cangkul membentur tanah, Yang Chan mencoba melepaskan semua beban pikirannya. Ia membiarkan napasnya mengalir selaras dengan embusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Perasaan damai yang luar biasa mulai menyelimuti dirinya, seolah ia bisa mendengar denyut nadi bumi yang tersembunyi jauh di bawah sana.

Tanpa disadarinya, sebuah benih pemahaman spiritual yang sangat murni mulai tertanam di dalam jiwanya. Sebuah fondasi dari apa yang kelak akan dikenal sebagai niat pertanian sejati dalam dunia kultivasi modern.

Tiba-tiba, petir menyambar di kejauhan, membelah langit abu-abu dengan kilatan cahaya biru yang terang. Suara guruh yang menggelegar langsung menyusul, membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan.

Yang Wei mendongak ke langit, lalu beralih menatap anaknya dengan cengiran lebar.

"Nah, sepertinya alam sudah mulai tidak sabar. Mari kita selesaikan petak ini dengan cepat sebelum kita benar-benar basah kuyup!"

Yang Chan ikut tertawa, mengangguk penuh semangat sembari mengayunkan cangkulnya kembali ke atas tanah yang keras.

Bab 3: Rahasia Pagi Hari Sang Ibu

Sisa-sisa tanah basah akibat badai malam sebelumnya menyisakan hawa dingin yang menusuk pada rumah tangga itu. Awan menutupi matahari yang seharusnya menemani hari, halaman samping rumah keluarga Yang sudah dipenuhi deru napas terengah-engah.

Tangan Yang Chan gemetar hebat. Remaja itu berada dalam posisi kuda-kuda rendah yang menyiksa, dengan kedua telapak kaki mencengkeram tanah liat yang dingin.

Di depannya, Bing Chan berdiri tegak memegang sebilah ranting pohon tipis. Wajah ibunya terlihat sangat datar, tanpa belas kasihan sedikit pun.

"Turunkan lagi pinggulmu, Chan. Kau sedang berlatih bela diri, bukan mengantre pembagian sembako gratis," tegur Bing Chan dengan nada tenang namun dingin.

Yang Chan menggigit bibirnya erat-erat, menahan rasa panas menjalar di otot pahanya. Umurnya sudah empat belas tahun, usia di mana remaja kota mulai membangkitkan bakat spiritual.

Namun ia berbeda. Tubuhnya tidak menunjukkan tanda bakat spiritual sama sekali. Ia hanya seorang remaja biasa yang tidak berbakat, harus berjuang keras melatih fisiknya setiap pagi.

'Satu detik di posisi ini terasa seperti setahun penuh siksaan,' gerutu Yang Chan dalam hati, sementara keringat bercampur embun pagi menetes dari ujung dagunya.

Lututnya akhirnya menyerah. Yang Chan jatuh terduduk di atas tanah basah, dadanya naik turun meraup oksigen sebanyak mungkin.

Bing Chan tidak memarahinya. Ia hanya menghela napas pendek, lalu melangkah mendekati anak laki-lakinya itu.

Langkah kaki wanita itu hampir tidak mengeluarkan suara di atas tanah berlumpur. Ia menggunakan ujung ranting kayunya untuk mengetuk ringan punggung Yang Chan yang membungkuk.

"Punggungmu harus tetap lurus, seperti tiang rumah yang menyangga beban atap," tutur Bing Chan sambil mengoreksi posisi tulang belakang anaknya.

Sentuhan ranting itu terasa sangat presisi. Hanya dengan sedikit dorongan beberapa sentimeter, beban berat di paha Yang Chan mendadak terasa jauh lebih seimbang.

Yang Chan mendongak, menatap ibunya dengan saksama. Gerakan berputar dan ayunan tangan Bing Chan terlihat sangat elegan dan efisien, seolah udara membelah diri memberi jalan baginya.

Itu bukanlah gerakan istri petani miskin biasa. Ada sisa-sisa kebiasaan dari seorang praktisi bela diri hebat yang tersamar di balik kesederhanaan gerakannya.

"Kekuatan tidak selalu lahir dari bakat spiritual yang dianugerahkan langit," kata Bing Chan, pandangannya menatap kegelapan hutan liar di seberang batas desa.

"Kadang, keteguhan hati yang keras kepala bisa memaksa dunia untuk tunduk padamu," lanjut ibunya dengan nada yang terdengar begitu dalam.

Yang Chan terdiam. Ada kehangatan yang mengalir masuk ke dadanya, mengikis rasa lelahnya. Dedikasi ibunya membuat tekad remaja itu perlahan mulai terbentuk kembali.

Setelah latihan fisik selesai, Bing Chan menyuruh anaknya membersihkan diri sebelum melangkah masuk ke dapur yang masih gelap.

Di ruangan mungil itu, Bing Chan berdiri di depan cermin kaca buram dekat tempat cuci piring. Keadaan di sekitarnya sangat sunyi.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan matanya. Sesaat kemudian, gelombang energi spiritual yang tipis namun luar biasa padat mulai berputar menyelimuti tubuhnya.

Garis wajahnya yang cantik jelita, kulitnya yang seputih pualam, serta aura anggun praktisi tingkat atas perlahan mulai memudar, tergulung oleh energi tak terlihat.

Dalam hitungan detik, penampilannya berubah total. Kulit wajahnya tampak kusam, dipenuhi bintik-bintik gelap tipis dan kerutan halus. Pakaian tidurnya yang rapi tertutup celemek lusuh penuh noda minyak.

Ia membuka mata kembali, menatap bayangan seorang ibu rumah tangga biasa yang kusam di cermin buram tersebut.

'Ini jauh lebih aman untuk kami,' gumam Bing Chan dalam hati, merapikan rambutnya yang diikat acak-acakan. Menyembunyikan identitas asli adalah harga mutlak demi kedamaian keluarga kecil mereka.

Aroma harum nasi goreng bawang segera memenuhi dapur begitu ia menyalakan tungku api. Tidak lama berselang, Yang Wei masuk dari pintu belakang, menaruh cangkulnya dengan helaan napas lelah.

Pria paruh baya itu tampak basah oleh embun pagi, dengan sisa-sisa tanah keabu-abuan menempel di celananya.

Mereka bertiga berkumpul di meja makan kayu yang bergoyang setiap kali disenggol. Sepiring besar nasi goreng sederhana diletakkan di tengah meja untuk sarapan mereka hari ini.

"Tanah di petak barat sudah mulai membatu lagi," ujar Yang Wei membuka obrolan, tangannya yang kapalan menyuap nasi perlahan. Pandangannya mengarah ke jendela.

Di luar sana, langit pagi masih diselimuti awan abu-abu tebal yang menggantung rendah, seolah menolak memberikan ruang bagi sinar matahari untuk masuk.

"Badai dingin ini sepertinya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Tanaman yang baru kita sebar kemarin bisa membusuk di dalam tanah sebelum sempat tumbuh," lanjut ayahnya dengan cemas.

Kehangatan di meja makan mendadak menguap, digantikan keheningan yang menekan. Yang Chan menatap ayahnya, lalu beralih ke ibunya yang sedang mengunyah makanan dengan tenang tanpa ekspresi.

"Kita masih memiliki sedikit sisa tabungan untuk bertahan selama beberapa minggu," sahut Bing Chan, suaranya kembali terdengar seperti istri petani yang sedang menghitung anggaran dapur.

"Namun, jika cuaca buruk ini terus berlanjut hingga bulan depan, kita benar-benar harus mencari jalan lain," tambahnya, meletakkan sendoknya di atas meja.

'Sial. Cuaca ekstrem ini benar-benar tidak memberi kami napas,' batin Yang Chan, rasa cemas mulai merayapi pikirannya. Pemahaman tentang kedamaian alam yang ia pelajari kemarin mendadak terasa jauh ketika dihadapkan pada kenyataan perut yang harus diisi.

Yang Wei hanya terdiam, pandangannya tertuju pada hamparan ladang gersang di luar jendela yang kini mulai perlahan diselimuti oleh kabut dingin yang pekat, menyembunyikan sisa-sisa harapan mereka di bawah bayang-bayang badai yang mengancam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!