Indonesia
NovelToon NovelToon

Kuli Bangunan Terpaksa Kaya

Episode 1

Matahari di atas kawasan Dago, Bandung, siang itu rasanya seolah-olah sengaja turun beberapa kilometer lebih rendah dari tempatnya yang biasa.

Terik jalang menyengat tanpa ampun, sanggup membuat aspal jalanan kota terasa empuk dan meleleh di bawah sol sepatu.

Namun, bagi seorang Riyan Sadewa, urusan cuaca yang mirip simulasi neraka bocor ini menempati urutan paling buncit dalam daftar masalah hidupnya yang sudah menumpuk setinggi gunung.

Dengan sebilah sekop bergagang kayu lapuk yang permukaannya sudah kasar tertutup semen kering, pemuda berusia dua puluh empat tahun itu terus mengayunkan kedua lengannya yang kekar.

Dia memindahkan tumpukan pasir hitam dari bak truk ke dalam mesin molen semen yang berputar bising tanpa henti.

Kaus oblong abu-abu yang dikenakan Riyan sudah tidak berbentuk lagi warna aslinya. Keringat yang bercampur dengan debu semen kering menempel erat di kain tersebut, menciptakan pola-pola abstrak berwarna keputihan yang berbau matahari menyengat. Kulit lengan dan lehernya yang sawo matang tampak berkilat tajam diterpa cahaya siang. Bagi Riyan, hidup sebagai kuli bangunan di kota besar nan dingin seperti Bandung ini ternyata tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk sekadar mengeluh atau bermalas-malasan.

Selama kedua tangannya masih bisa digerakkan dan otot punggungnya belum memberikan sinyal protes keras, dia akan terus menyekop pasir demi lembaran rupiah yang besok pagi akan langsung habis tanpa sisa untuk membayar sewa kontrakan petak dan sebungkus nasi rames karet dua.

"Woi, Riyan! Jangan melamun terus lo! Itu mesin molennya keburu penuh sama semen, nanti macet mesinnya malah dipotong gaji kita!" teriak Jaka, sesama rekan kuli seproyek yang sedang bersandar santai di tiang perancah bambu sambil mengelap jidatnya menggunakan selembar handuk kecil yang sudah berubah warna jadi dekil.

Riyan mendengus pelan, menyeka butiran keringat di pelipisnya dengan punggung tangan kirinya yang kapalan.

"Siapa juga yang melamun, Jak? Gua ini lagi mikir keras sambil ngitung."

"Ini kalau proyek pembangunan apartemen mewah ini beres bulan depan, kira-kira bon warung kopi si Teteh di depan gang bisa lunas total kagak ya? Gua udah diguntingin kertas bon tiga lembar penuh, tahu!"

Jaka langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polos temannya itu. Suara tawanya yang nyaring bersaing ketat dengan deru bising dari mesin molen di dekat mereka.

"Halah, gaya lu sok-sokan mikirin bon warung segala! Pikirin tuh malam minggu besok, lu mau ngajak jalan-jalan cewek mana? Oh, gua baru ingat, lu kan jomlo abadi dari zaman purba! Mana ada cewek cantik yang mau diajak kencan pakai motor bebek mogok lu itu!"

"Sialan lo, Jak. Mulut lo gak pernah disekolahin apa ya," umpat Riyan sambil melempar segumpal tanah kecil ke arah Jaka, meski dia sendiri akhirnya ikut tersenyum kecut meratapi nasib diri.

Memikirkan urusan pacaran atau mendekati lawan jenis di saat dompetnya lebih tipis daripada selembar tisu basah murahan adalah sebuah kemewahan yang sama sekali tidak masuk akal sehat bagi Riyan. Dia tahu diri, di zaman sekarang, modal cinta saja tidak cukup untuk membayar semangkuk bakso cuanki di pinggir jalan.

Tiba-tiba, dari arah atas lantai tiga struktur proyek bangunan yang tiang-tiang betonnya belum jadi itu, terdengar sebuah teriakan nyaring yang memutus obrolan santai penuh ledekan di antara kedua kuli tersebut.

"Riyan! Jaka! Tolong naikin ember semen yang ini ke lantai atas! Katrolnya udah gua siapin dari tadi!" Itu suara lantang dari Kang Asep, kepala mandor proyek mereka yang terkenal bertampang galak seperti algojo tapi aslinya berhati sangat baik dan sering membelikan rokok eceran.

"Siap, Kang! Meluncur sekarang!" sahut Riyan tidak kalah lantang.

Dia segera meletakkan sekop kayunya di gundukan pasir, lalu melangkah lebar menuju area katrol manual yang terpasang di dekat tiang penyangga bambu utama.

Riyan membungkuk sedikit, meraih tali tambang besar yang terhubung langsung dengan sebuah ember besi berukuran jumbo di atasnya. Ember tersebut sudah terisi penuh oleh adonan semen basah yang tebal, padat, dan sangat berat.

Riyan mulai menarik tali tambang tersebut dengan sekuat tenaga, mengerahkan seluruh sisa energi yang ada di kedua lengan dan bahunya. Urat-urat di lehernya tampak menegang kemerahan seiring dengan terangkatnya ember besi itu perlahan-lahan ke udara, merayap menuju lantai atas.

Namun, baru saja ember besi bermuatan penuh itu mencapai ketinggian sekitar lima atau enam meter dari permukaan tanah, sebuah suara derit besi tajam dan patahan kayu yang sangat keras tiba-tiba terdengar bergaung dari arah langit-langit lantai tiga.

KRAAAKK! PINGGG!

"Riyan! Awas! Melompat, Riyan! Minggir lo dari situ!" teriak Jaka dengan wajah yang mendadak berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Jaka memposisikan dirinya meloncat ke belakang bak sampah.

Riyan mendongak ke atas secara refleks karena terkejut mendengarkan kepanikan temannya. Di detik itulah, seluruh dunianya seolah-olah berjalan dalam mode lambat atau slow motion.

Tepat di atas kepalanya, bukan hanya ember besi berisi semen cair yang terlepas dari cantelan katrol besi yang patah, melainkan sebuah balok kayu penyangga utama berukuran dua meter beserta satu karung semen utuh seberat 50 kilogram yang belum sempat dibuka, meluncur bebas ke bawah tanpa ada halangan.

Jarak jatuhnya terlalu dekat dan terlalu cepat. Tubuh Riyan yang sudah terlanjur kelelahan akibat bekerja keras sejak jam tujuh pagi tadi tidak sempat memberikan reaksi motorik untuk melompat menghindar ke samping. Otaknya menyuruh bergerak, tapi kakinya terasa seperti terpaku di atas tanah berdebu.

BRAKKKK!

Suara hantaman keras dan pekak itu terdengar begitu memilukan di telinga siapa saja yang berada di lokasi proyek. Benturan ujung balok kayu keras itu tepat mengenai ubun-ubun kepala Riyan dengan telak, disusul oleh jatuhnya beban karung semen ratusan kilogram yang langsung merubuhkan bodi kurus Riyan ke atas tanah berdebu yang kering. Debu semen langsung mengepul hebat, menghalangi pandangan.

Kesadaran Riyan langsung limbung. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat sempat menjalar di seluruh syaraf tubuhnya selama satu detik penuh, membuat pandangannya memutih, sebelum akhirnya kegelapan total yang sunyi menelan seluruh kesadarannya secara utuh tanpa sisa.

Samar-samar, hal terakhir yang bisa ditangkap oleh indra pendengarannya hanyalah teriakan histeris dari Jaka, bentakan panik Kang Asep dari atas, dan derap langkah kaki panik puluhan orang seproyek yang berlarian mendekat ke arah tubuhnya yang terkapar, sebelum semuanya benar-benar berubah menjadi sunyi senyap.

Saat Riyan pertama kali membuka kelopak matanya kembali dengan sangat perlahan, hal pertama yang singgah dan mengganggu indra penciumannya adalah bau menyengat dari zat kimiawi, karbol, dan obat-obatan medis yang sangat khas.

Dia mengerjapkan matanya beberapa kali secara berurutan, mencoba menyesuaikan penglihatannya yang masih agak kabur dengan intensitas cahaya lampu neon putih yang bersinar terang tepat di atas kepalanya.

Langit-langit di atasnya terbuat dari papan gipsum putih bersih tanpa noda, sangat berbeda jauh dengan pemandangan langit-langit tripleks bocor penuh bekas air hujan yang ada di kamar kontrakannya.

Episode 2

Di sebelah kiri ranjangnya, terdengar suara bip... bip... bip... yang bernada konstan dan teratur dari sebuah mesin monitor detak jantung. Riyan menolehkan kepalanya secara perlahan ke arah kiri.

Dia menyadari diri sedang berbaring di sebuah ruangan bangsal rumah sakit. Namun, ada satu hal aneh yang membuat dahinya mengernyit.

Saat dia mencoba menggerakkan kedua lengan, jari-jari kaki, dan memutar lehernya, Riyan sama sekali tidak merasakan rasa sakit atau linu sedikit pun.

Padahal, seingat memori terakhirnya sebelum pingsan, kepalanya baru saja dihantam oleh balok kayu proyek dan dijatuhi sekarung semen berbobot puluhan kilogram.

Logikanya, dia harusnya sudah mengalami patah tulang tengkorak, gegar otak stadium berat, atau minimal sedang terbaring koma dengan seluruh tubuh dibalut perban putih selama berbulan-bulan.

Riyan baru saja hendak mendudukkan tubuhnya di atas kasur rumah sakit yang empuk itu ketika sebuah suara mekanis yang bernada dingin, datar, tanpa emosi, namun terdengar sangat jelas di dalam pusat tempurung kepalanya tiba-tiba menggema dengan keras.

[Proses Sinkronisasi Data Selesai...]

[Sistem Konsumsi Absurd Berhasil Terikat Secara Permanen dengan Jiwa Inang: Riyan Sadewa.]

[Status Fisik Inang: Hidup dan Bugar. Seluruh cedera fisik akibat hantaman benda tumpul telah dipulihkan 100% oleh sistem sebagai bonus selamat datang untuk pengguna baru.]

Riyan langsung tersentak kaget sampai badannya menegang. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan pandangan liar, mengira ada orang jahil atau kru televisi yang sedang memasang pelantang telinga tersembunyi di dekat bantal atau di bawah ranjangnya untuk acara komedi.

Namun, ruangan kelas tiga tempat dia dirawat saat itu kosong melompong tanpa ada penunggu. Tidak ada dokter, tidak ada perawat, dan tidak ada Jaka ataupun Kang Asep. Hanya ada dirinya sendiri yang kebingungan.

[Tugas Pertama untuk Inang: Habiskan seluruh saldo uang awal yang diberikan oleh sistem dalam jangka waktu maksimal 24 jam ke depan sejak notifikasi ini muncul.]

[Syarat Mutlak Misi: Anda harus membuang atau menghabiskan uang ini tanpa mendapatkan keuntungan material, investasi jangka panjang, saham, properti produktif, atau bentuk cashback satu rupiah pun. Uang harus habis untuk hal-hal yang tidak bernilai ekonomi.]

[Peringatan Keras: Jika Inang terdeteksi mendapatkan keuntungan dari uang yang dikeluarkan, nominal uang yang wajib dihabiskan pada misi berikutnya akan dilipatgandakan sebanyak sepuluh kali lipat sebagai bentuk penalti kegagalan aturan.]

[Denda Mutlak Kegagalan Misi: Seluruh fungsi organ dalam tubuh Inang termasuk jantung, hati, ginjal, dan paru-paru akan mengalami mogok kerja massal alias kematian mendadak tanpa gejala.]

"Siapa... siapa tuh yang ngomong di dalam kepala gua?! Keluar lo! Jangan bercanda ya! Gua ini cuma kuli bangunan miskin, gak punya duit buat bayar tebusan kalau ini acara prank penculikan atau semacamnya!"

kata Riyan setengah berteriak ke arah ruangan yang kosong. Suaranya terdengar agak serak karena tenggorokannya terasa sangat kering seperti padang pasir.

Tidak ada jawaban suara manusia yang membalas teriakan Riyan. Namun, perhatian pemuda itu langsung teralih sepenuhnya pada sebuah ponsel pintar berspesifikasi rendah dengan merek lokal lama yang layarnya sudah retak seribu di bagian sudut atas.

Ponsel itu tergeletak pasrah di atas meja kayu kecil di samping ranjang rawatnya. Itu adalah ponsel milik Riyan sendiri yang biasanya dia gunakan untuk membuka grup WhatsApp kuli.

Layar ponsel yang retak itu tiba-tiba saja menyala terang, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari aplikasi Mobile Banking resmi miliknya.

Riyan mengernyitkan dahi dengan sisa rasa bingung yang mendalam. Dia mengulurkan tangan kanan, mengambil ponsel jadul itu dengan jari-jari yang sedikit gemetar karena gugup.

Biasanya, isi rekening bank miliknya paling banyak hanya berkisar di angka seratus lima puluh ribu rupiah saja itu pun kalau belum dipotong biaya administrasi bulanan yang sering membuat saldonya tersisa beberapa perak.

Namun, apa yang tertera di layar ponselnya saat ini membuat seluruh pasokan oksigen di paru-paru Riyan mendadak tercekat di tenggorokan.

Ada sebuah angka satu berukuran tebal yang diikuti oleh deretan angka nol yang sangat panjang di kolom informasi saldo tabungan utama. Riyan mendekatkan layar ponsel yang retak itu ke depan matanya, menghitung jumlah angka nol tersebut satu demi satu dengan sangat teliti menggunakan ujung jari telunjuknya agar tidak salah hitung.

Satu, dua, tiga... sembilan, sepuluh, sebelas angka nol di belakang nominal utama.

"Seratus... seratus miliar rupiah?!" pekik Riyan tertahan dengan suara yang mendadak melengking tinggi.

Matanya melotot lebar hampir keluar dari kelopak matanya yang menghitam. Jantung di dalam dadanya langsung berdegup kencang bak dentuman musik bass di kelab malam kelas atas.

Bagi orang waras atau manusia normal di luar sana, melihat angka fantastis bin ajaib seperti itu masuk secara tiba-tiba ke dalam rekening pribadi pasti akan membuat mereka langsung bersujud syukur di atas lantai, menangis histeris karena terlalu bahagia, atau minimal langsung pingsan kegirangan karena tahu nasib miskinnya sudah berakhir.

Tapi bagi seorang Riyan Sadewa, setelah mendengar ancaman hukuman mengerikan dari suara aneh di dalam otaknya tadi, saldo seratus miliar ini tidak ada bedanya dengan sebuah bom waktu aktif berkekuatan tinggi yang siap meledakkan organ tubuhnya kapan saja dia lalai.

Habis tanpa untung? Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?! Yang benar saja! Orang lain di luar sana bekerja memeras keringat, membanting tulang setengah mati dari pagi sampai malam hanya untuk mencari uang demi menyambung hidup, sementara dia yang status sosialnya cuma kuli bangunan berpenghasilan pas-pasan, malah dipaksa berpikir keras bagaimana cara membuang uang sebanyak itu tanpa boleh menghasilkan keuntungan kembali.

Jika dia membeli rumah mewah di kawasan Dago Atas, itu akan langsung dihitung sebagai kepemilikan aset dan investasi properti oleh sistem.

Jika dia pergi ke toko mas dan membeli puluhan kilogram emas batangan, nilainya di pasar global bisa naik kapan saja dan itu berarti dia mendapatkan keuntungan finansial.

Jika dia gagal menghabiskan uang itu dengan cara yang benar-benar rugi total, taruhannya bukan lagi denda uang, melainkan nyawa mudanya sendiri yang akan melayang.

"Sialan! Ini mah sistem kurang ajar namanya! Ini bukan rezeki nomplok dari langit, ini mah pembunuhan berencana berkedok kekayaan!" umpat Riyan penuh frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya yang masih berdebu semen.

Tanpa memedulikan jarum infus yang masih menempel erat di punggung tangan kirinya, Riyan menarik jarum tersebut secara paksa hingga darah segar berwarna merah tua sedikit menetes di atas seprai kasur.

Dia melompat turun dari ranjang rumah sakit, memakai kembali sepasang sandal jepitnya yang sudah tipis dan tipis sebelah akibat keseringan dipakai berjalan di area proyek, lalu langsung berjalan setengah berlari keluar dari kamar rawat inapnya.

Hal pertama yang ada di pikirannya adalah dia harus segera melunasi biaya administrasi rumah sakit ini agar uangnya berkurang.

Namun, saat dia tiba di depan loket pembayaran dan menyerahkan kartu pasiennya, petugas loket mengatakan total biaya pengobatan dan perawatan kepalanya yang bocor tadi hanya habis sekitar satu juta dua ratus ribu rupiah saja.

Angka segitu benar-benar hanya seperti setetes air tawar di tengah luasnya samudra Pasifik jika dibandingkan dengan saldo seratus miliarnya yang utuh.

Waktu terus berjalan mundur dengan kejam di sudut kanan pandangan matanya yang kini memunculkan sebuah angka jam digital transparan berwarna merah bertuliskan: [22 Jam : 45 Menit : 12 Detik].

Riyan tahu betul, dia tidak bisa hanya diam termenung di koridor rumah sakit ini menunggu keajaiban. Dia harus segera keluar ke jalanan kota Bandung yang padat, mencari cara paling bodoh, paling konyol, dan paling merugikan di atas muka bumi ini untuk menghabiskan uang sialan tersebut sebelum organ jantungnya memutuskan untuk berhenti berdetak untuk selamanya.

Episode 3

Setelah berhasil kabur dari area kompleks rumah sakit tanpa memedulikan teriakan panggilan dari para perawat yang heran melihat pasien cedera kepala berlari kencang, Riyan berjalan dengan langkah kaki cepat menyusuri trotoar jalanan wilayah Dago yang ramai oleh lalu lalang kendaraan.

Pikirannya saat ini berputar sangat keras seperti baling-baling helikopter tempur. Dia harus segera mencari objek atau barang yang bisa membuatnya rugi, dan kerugian itu harus terjadi dalam jumlah yang masif, instan, serta tidak meninggalkan jejak aset produktif.

Langkah kaki Riyan mendadak terhenti total di dekat sebuah area pangkalan angkutan umum yang terletak tak jauh dari lampu merah terminal.

Mata tajamnya langsung tertuju pada sebuah mobil angkot berwarna hijau tua jalur tembusan kota yang kondisinya benar-benar sudah berada di ambang batas akhir kelayakan hidup sebuah kendaraan bermotor.

Knalpot di bagian belakang mobil itu terus-menerus mengepulkan asap hitam pekat bercampur abu yang membuat batuk siapa saja orang yang kebetulan lewat di belakangnya.

Bodi samping mobil itu penuh dengan guratan karat cokelat yang mengelupas, bemper depannya yang hampir lepas diikat menggunakan untaian tali rafia warna-warni, dan pintu penumpang di bagian tengah bahkan harus ditahan memakai potongan karet ban dalam bekas sepeda motor agar tidak terlepas terpelanting saat mobil berjalan melewati polisi tidur.

Di samping ban mobil bagian depan yang kondisinya sudah sangat gundul licin tanpa ada kembangan lagi, seorang pria paruh baya yang mengenakan topi lusuh robek sedang duduk termenung di atas beton pembatas jalan sambil menghisap sebatang rokok kreteknya dengan wajah yang tampak sangat muram, lesu, dan penuh beban pikiran keluarga.

Riyan seketika tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat jelas. Matanya berbinar penuh harap. Ini dia! Ini adalah kesempatan emas yang sejak tadi dia cari-cari di sepanjang jalan!

Riyan dengan langkah tergesa-gesa segera berjalan mendekati pria paruh baya tersebut sebelum si sopir pergi menarik penumpang.

"Mang! Punten, ini mobil angkotnya punya Mamang sendiri atau punya juragan angkot di terminal?" tanya Riyan langsung tanpa basa-basi basi basi yang tidak penting.

Mang Sopir itu menolehkan kepalanya secara perlahan ke arah Riyan, memandang pemuda di depannya itu dari ujung rambut yang acak-acakan sampai ujung sandal jepitnya dengan tatapan penuh selidik dan rasa curiga yang mendalam.

Maklum saja, penampilan fisik Riyan saat ini memang masih hancur-hancuran dengan baju kaus kuli proyek yang kotor penuh noda semen dan celana jins belel yang robek besar di bagian lutut kirinya.

"Iya, Dek. Ini angkot punya mamang pribadi, bukan punya juragan. Kenapa emangnya? Ade mau carter angkot buat rombongan? Tapi aduh maaf pisan, ini mobilnya lagi agak mogok bagian akinya, gak bakal kuat kalau diajak jalan jauh atau naik tanjakan Lembang mah."

"Saya gak mau carter angkot buat liburan, Mang. Saya datang ke sini mau beli ini mobil. Angkot butut ini dijual gak ke saya?" tanya Riyan tegas.

Mang Sopir itu seketika terkekeh geli, mengira anak muda dengan baju kotor di depannya ini sedang kurang hiburan siang hari atau sedang mengalami stres berat akibat cuaca Bandung yang panas menyengat.

"Kagak dijual, Dek. Lagian mana ada orang waras yang mau beli mobil rongsok penyakitan kayak begini? Ditawar sepuluh juta rupiah aja sama tukang loak besi tua kemarin di terminal, mamang udah mikir-mikir keras mau lepas apa kagak."

"Ini mah kalau dijual ke orang lain paling cuma laku buat dipotong-potong jadi lembaran besi kiloan."

"Saya bayar angkot butut ini seharga lima ratus juta rupiah. Tunai. Ditransfer sekarang juga ke rekening Mamang."

"Gak pakai nunda, gak pakai nego, dan gak pakai surat-surat ribet," kata Riyan dengan nada suara yang sengaja dibuat seangkuh dan semutlak mungkin mirip karakter bos muda di dalam novel-novel fantasi.

Batang rokok kretek yang baru saja mau dihisap oleh Mang Sopir itu langsung terlepas dari sela-sela jarinya, jatuh begitu saja ke atas tanah yang berdebu kering di dekat kakinya. Kedua matanya terbelalak lebar dengan sempurna, mulutnya menganga lebar membentuk huruf O besar tanpa bisa berkata-kata selama beberapa detik.

"Hah?! Kamu... kamu jangan main-main ya, Dek! Mamang ini udah tua, punya penyakit kurap sama darah tinggi, jangan diajak bercanda yang aneh-aneh kayak gini, bisa jantungan mamang di sini!" seru pria tua itu dengan suara bergetar.

"Saya gak ada waktu buat bercanda sama orang tua, Mang. Nih, mana nomor rekening bank Mamang? Cepetan ketik di dalam aplikasi HP saya ini, waktu saya berjalan terus dan gak bisa nunggu!" desak Riyan dengan wajah serius sambil menyodorkan ponsel pintarnya yang layarnya retak seribu itu ke depan wajah si sopir.

Dengan tangan yang gemetar hebat karena kombinasi rasa antara setengah tidak percaya dan setengah ketakutan kalau ini adalah modus penipuan baru, Mang Sopir itu akhirnya menyebutkan deretan nomor rekening bank lokal miliknya dengan terbata-bata.

Riyan dengan gerakan kilat langsung membuka aplikasi Mobile Banking di ponselnya, mengetik nominal angka lima ratus juta rupiah tanpa ada keraguan atau penyesalan sedikit pun di wajahnya, lalu dengan mantap menekan tombol kirim konfirmasi.

Tring!

Hanya butuh waktu kurang dari lima detik sampai ponsel pintar jadul milik Mang Sopir di dalam kantong kemejanya yang robek berbunyi nyaring, menampilkan sebuah notifikasi pesan SMS banking resmi yang menyatakan bahwa ada dana segar masuk ke dalam saldo tabungannya sebesar setengah miliar rupiah secara utuh.

Pria tua itu seketika langsung terduduk lemas di atas paving blok trotoar jalan, wajahnya berubah menjadi pucat karena syok berat. Dia menatap layar HP-nya yang retak dan menatap wajah Riyan secara bergantian seperti sedang melihat sesosok malaikat kekayaan yang sedang menyamar jadi kuli bangunan.

"Ini... ini beneran uang asli, Dek? Uangnya udah masuk... Gusti Nu Agung, lima ratus juta rupiah kontan!" ratap Mang Sopir itu dengan mata berkaca-kaca sambil hampir bersujud di atas kaki Riyan yang memakai sandal jepit swallow.

Riyan dengan cepat segera menahan pundak pria tua itu agar tidak bertindak berlebihan di pinggir jalan. Dia mengambil kunci kontak angkot yang menggantung longgar di bawah setir mobil, lalu tersenyum sangat puas di dalam hatinya.

Mampus lo sekarang, Sistem sialan! Mobil rongsok yang harga pasarannya kagak nyampe sepuluh juta rupiah kalau dijual ke tukang rongsokan, sengaja gua bayar mahal seharga lima ratus juta rupiah! Ini namanya kerugian mutlak tingkat tinggi yang gak bisa dibantah lagi oleh hukum ekonomi mana pun. Gua pasti bakal bebas dari kutukan ini sekarang juga!

Namun, sayangnya kegembiraan dan rasa kemenangan Riyan hanya mampu bertahan selama kurang dari tiga detik saja. Sebuah suara mekanis yang sudah sangat dia hafal nadanya kembali berdering nyaring langsung di dalam pusat kepalanya, kali ini diiringi dengan nada suara peringatan warna merah yang jauh lebih intens dan mendesak daripada sebelumnya.

[Deteksi Tindakan Ekonomi dari Inang: Pembelian aset moda transportasi massal perkotaan dengan harga 5000% di atas rata-rata harga pasar normal secara tidak wajar.]

[Analisis Algoritma Sistem: Tindakan absurd yang dilakukan Inang secara tidak sengaja memicu spekulasi liar di pasar otomotif lokal.

Media berita online daerah Dago mendeteksi adanya pergerakan dari perwakilan kolektor barang antik internasional yang sengaja mengumpulkan mobil angkutan umum klasik Indonesia untuk keperluan syuting pameran film retro Hollywood tahun depan.

Nilai jual kembali mobil angkot karatan ini diperkirakan akan langsung melonjak tajam menjadi delapan ratus juta rupiah dalam waktu dua hari.]

[Kesimpulan Analisis: Inang dinilai berhasil dan terdeteksi berpotensi mendapatkan keuntungan investasi modal bersih sebesar tiga ratus juta rupiah.

Atas pelanggaran ini, saldo penalti hukuman sebesar tiga triliun rupiah sedang secara otomatis ditambahkan ke dalam rekening tabungan utama Inang karena melanggar aturan larangan mendapatkan keuntungan!]

"Hah?! Kok bisa jadi barang antik sih?! Mobil rongsok bau asap knalpot begini dibilang klasik retro Hollywood?! Woi, Sistem sarap! Otak kalkulator lo ditaruh di mana, hah?!"

Riyan berteriak histeris berang di dalam hatinya, hampir saja dia membenturkan kepalanya sendiri ke arah kaca depan angkot yang sudah retak-retak itu karena saking frustrasinya.

Bukannya berkurang drastis menuju angka nol, uang di dalam rekening banknya justru malah terancam bertambah semakin menggila akibat sistem hukuman penalti yang menganggap semua tindakan bodohnya sebagai sebuah strategi investasi jenius tingkat dewa.

Riyan benar-benar merasa ingin menangis sejadi-jadinya di bawah terik matahari Dago siang itu, meratapi nasib sialnya yang terpaksa harus menjadi orang kaya baru.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!