Di sebuah acara pesta bisnis yang dihadiri ratusan orang, Arasya menemani Daddy-nya menghadiri acara itu karena Mommy sedang ada urusan di luar kota.
"Ara!" panggil Melly dengan sangat senang, berlari sambil menghampiri Ara, sahabat karibnya.
"Pelan-pelan, Melly, kalau Daddy kamu jatuh langsung stroke itu," tawa jahat Daddy Ara melihat sahabatnya yang sudah berumur ditarik sambil berlari oleh anak gadisnya.
"Kalau itu terjadi, aku juga akan menyuruh Ara melakukan hal yang sama padamu agar aku ada teman di rumah sakit," ucap Daddy Melly menepuk lengan sahabatnya itu.
Mereka tertawa bersama.
"Daddy, kami jalan-jalan berdua, ya," kata Ara berdiri memeluk sebelah lengan sahabatnya dengan senang.
"Ehhhhh, Daddy membawa kalian untuk menemani kami, malah mau jalan berdua," geleng kepala Daddy menatap mereka berdua.
"Ayolah, Daddy, kalian kan bisa jalan berdua juga," tawa Melly melihat tatapan geli kedua pria paruh baya itu.
"Cocok, sama-sama terlihat seperti bujang lapuk," tawa jahat Ara mengolok-olok kedua pria paruh baya yang kini bernasib sama.
Sama-sama ditinggal istri keluar kota!
"Kalian ini," mereka berdua langsung lari begitu Daddy akan mencubit bibir mereka.
Mereka berdua berjalan santai menikmati suasana di tengah banyaknya tamu di acara bisnis.
"Mel, duduk di sini dulu, yuk, acara intinya masih setengah jam lagi," kata Ara mengajak Melly duduk di sofa yang tersedia.
"Halah, bilang aja mau cuci mata lihat yang bening-bening," tatapan sebelah mata Melly, namun tetap ikut duduk di sebelah Ara.
"Hehehehe, ayolah, best," kata Ara duduk merangkul pundak Melly, dan seperti dugaan Melly, mata centil Ara tidak berhenti bergerak menatap satu per satu pria yang hadir di acara bisnis ini.
Dari ratusan tamu yang sedari tadi Ara pandangi, ada satu pria yang mencuri perhatian Ara bahkan sejak pertama kali melihatnya, Ara tidak pernah bisa berpaling darinya.
"Ara, sadarlah," ucap Melly sampai menggoyang tubuh Ara yang sedari tadi melek seperti lupa kalau dia masih di atas dunia.
"Hehehe," kekeh Ara, namun matanya masih menatap pria itu hingga Melly mencubit paha Ara saat mengikuti pandangannya.
"Ara, jangan gila, kamu, dia pria dewasa," ucap Melly meraih wajah sahabatnya yang sangat nekat kalau sudah suka itu agar menatapnya.
"Itu pria dewasa, kemungkinan sudah punya istri," ucap Melly menasihati sahabatnya.
Ara ketika suka seseorang, dia akan mengejar layaknya cegil!
"Belum, tidak ada cincin di jarinya," senyum lebar Ara ketika mendapati seseorang yang tipe dia banget.
"Ara, tapi—" belum selesai ucapan Melly sudah langsung disambung Ara.
"Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku," ucap Ara menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa masih dengan stelan jas kerjanya.
"Ara, jangan gila, ya," Melly langsung memegang sebelah tangan Ara yang akan langsung berjalan menghampiri pria itu.
"Haaaaa, lepaskan, Mel, Ara ingin berkenalan dengannya," rengek Ara yang sudah kembali duduk setelah ditarik Melly.
"Ara, ini di acara bisnis, bukan kampus, dan ingat, kita datang ke sini menemani Daddy, jangan melakukan hal-hal yang akan merugikan Daddy," nasihat Melly menyadarkan Ara.
"Ehhhh, iya, untung kamu ingatkan," ucap Ara langsung stay cool mendengar ucapan Melly.
Hilang sudah jiwa cegil Ara yang tadinya meronta-ronta!
.......
Ketika acara inti berlangsung, Ara dan Melly duduk bersama Daddy mereka menyaksikan acara yang sangat meriah itu.
"Ooooh, namanya Sean, dia tampan sekali," bisik Ara meronta-ronta meremas tangan Melly ketika melihat pria pujaannya naik ke atas panggung.
"Ara," Melly mempelototi Ara yang malah meronta-ronta di saat semua tamu diam sampai beberapa orang menoleh ke arah mereka.
"Hehehe, maaf, maaf, Mell, ampun," kata Ara langsung bersembunyi di balik punggung Melly ketika sahabatnya itu sudah marah beneran dalam mode serius.
"Maafin Ara, Mell," rengek Ara ketika Melly hanya diam saja.
"Sudah, aku bilang, tenang," ucap Melly yang selain sahabat sudah menganggap Ara seperti adiknya yang sangat dia sayangi.
Melly tidak ingin Ara malu nantinya hanya karena hal spontanitas yang dilakukan.
"Mell, Ara, Daddy naik ke atas panggung sebentar, kalian jangan ke mana-mana," pesan kedua Daddy mereka.
"Baik, Daddy," jawab mereka serempak.
Keesokan harinya.
Sepulang dari kampus, Ara mengendarai mobilnya dengan perasaan kesal bercampur sedih padahal mereka sudah janji bakalan pergi ke mal siang ini, tapi Melly tiba-tiba malah dibawa keluar negeri oleh Daddy-nya.
"Mana baliknya minggu depan, Ara jadi sendirian, mau main sama siapa lagi, Ara," ucap Ara terus merungut kesal di sepanjang jalan menuju mal.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ara berjalan lambat memasuki mal dengan perasaan kurang bahagia karena tidak ada sahabat karibnya.
Ting.
"Wahhhhh, I LOVE YOU, Daddy," kata Ara langsung melonjak senang dan mengecupi ponselnya ketika notifikasi TF-an Daddy-nya masuk.
"Ara benar-benar mencintaimu, Daddy sayang," kata Ara berjalan sambil bergoyang ceria ke dalam mal setelah dikirimkan 200 juta oleh Daddy-nya.
Hilang sudah kesedihan Ara.
Brakkkk.
"Aduhhhh," ringis Ara yang jatuh terduduk di lantai setelah menabrak seorang wanita tinggi bak model internasional, bahkan jika Ara berdiri mungkin hanya sebahunya.
"Siapa yang menaruh tiang listrik di sini," ucap Ara tanpa dosa berdiri sambil membersihkan bajunya setelah ucapannya membuat beberapa orang tertawa.
"Kalau jalan lihat orang di sekitarmu dan perhatikan arah," ucap wanita itu dengan kesal dikatai tiang listrik oleh gadis itu, padahal jelas-jelas gadis itu yang menabraknya, untung dia tidak ikutan jatuh ke lantai karena masih bisa berdiri seimbang.
"Halo, kakak ganteng," sapa Ara melambaikan tangan ketika pria pujaannya lewat bersama beberapa staf ke dekat mereka.
"Hehhhh, dasar genit, aku belum selesai bicara malah merayu pria lain," wanita itu bertambah kesal.
"Ada apa?" suara berat Sean berhenti berjalan, begitu pun 5 orang di belakangnya.
"Mau kenalan," kata Ara langsung mengulurkan tangannya dan menatap Sean sampai pupil matanya membesar.
"Aku bertanya pada dia, bukan padamu," ucap Sean yang sama sekali tidak mengenali gadis itu.
"Tuan Muda, gadis ini menabrakku dan tidak cukup sampai di situ, dia malah mengatai aku tiang listrik, bukannya minta maaf," ucap Rose yang merupakan sekretaris Sean.
Beberapa pria di belakang Sean mengulum senyum yang nyaris menjadi tawa jika tidak menutup mulut.
"Maaf, Tuan Muda," ucap mereka serempak ketika Sean menoleh menatap mereka.
"Gadis, minta maaf padanya," ucap Sean menatap gadis yang berdiri di hadapannya masih mengulurkan tangan dengan tatapan yang tidak pernah beralih dari Sean.
"Baik, maafkan Ara, Tante," kata Ara dengan patuh langsung minta maaf.
"Tante?" ucap Rose mendelik dengan perasaan tidak terima dipanggil Tante.
"Minta maaf padanya sekali lagi karena sudah memanggil tante," ucap Sean yang mengerti betapa ilfilnya dipanggil dengan panggilan seperti itu di usia matang.
Rasanya tidak terima saja, apalagi belum menikah.
"Ara akan minta maaf lagi asal Kak Sean mau kenalan sama Ara?" ucap Ara, namun tatapannya benar-benar tidak beralih dari Sean sedetik pun.
Gadis itu benar-benar jatuh cinta!
"Kenalan?" ulang Sean sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Dasar gadis modus, bilang aja mau deketin tuan muda, nggak mempan," senyum kecut Rose memandang gadis itu.
"Nggak mau deketin, kok," kata Ara menoleh menatap tante itu.
"Lalu, apa maumu?" pertanyaan Sean.
"Mau kecup," kata Ara dengan secepat kilat berjinjit dan mencuri satu kecupan di pipi Sean tanpa bisa dicegah oleh siapa pun, bahkan Sean sendiri tidak sempat untuk sekadar menghindar.
"Daaaa, calon pacar," kata Ara dengan tampang tanpa dosanya berlari dan menghilang di tengah keramaian, meninggalkan mereka yang masih membeku setelah apa yang Ara lakukan.
.....
"Maaf, Tuan Muda, kami benar-benar tidak memprediksi kalau gadis itu akan melakukannya," ucap seorang bodyguard yang berdiri di belakang Sean.
"Bahkan aku tidak expect gadis itu berani mengecup Tuan Muda," ucap Rose yang masih shock menyaksikannya.
Sementara Sean masih terdiam menyentuh pipi yang dikecup gadis tak dikenal itu tanpa terprediksi oleh siapa pun.
"Apa yang dia ucapkan terakhir kali?" pertanyaan Sean begitu kesadarannya kembali sepenuhnya setelah terdiam ketika dikecup tiba-tiba.
"Calon pacar," ucap mereka serempak.
"Selidiki gadis itu, takutnya dia ada motif yang lain," ucap Sean dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di hatinya.
"Tapi, Tuan Muda, gadis itu harus dihukum karena telah mengecup pipi itu, pelecehan namanya," ucap Rose sebagai wanita yang sejak lama menyukai Sean merasa tidak terima ketika mendapati ada gadis senekat itu.
Terang-terangan sekali dia menyatakan cinta!
"Suatu saat aku akan menghukumnya, tapi untuk saat ini kita terkejar meeting," ucap Sean berjalan lebih cepat.
"Tuan, jangan baper, lain kali aku akan lebih waspada," ucap Rose yang selama ini seperti tameng yang melindungi Sean dari wanita-wanita yang selalu mencoba mendekati Sean dengan berbagai tujuan.
"Tapi kali ini kamu lengah, Rose, bahkan gadis itu telah melecehkanku," senyum kecut Sean yang tidak menyangka kalau gadis kecil itulah wanita pertama yang mengecup pipinya.
"Aku rasa gadis itu gila, bagaimana bisa ada seorang wanita yang dengan begitu berani mengecup pipi seorang pria yang baru dikenalnya bahkan mengatakan calon pacar, pede sekali dia," ucap Rose yang benar-benar tidak expect.
Malam harinya.
Sean dibuat uring-uringan bahkan tidak bisa tidur membayangkan gadis yang mengecup pipinya siang tadi.
"Apa kau tidak bisa bekerja lebih cepat," ucap Sean menelepon bodyguard dengan perasaan kesal karena belum juga mengirimkan data-data yang Sean minta.
"Datanya sudah siap, Tuan Muda, tapi karena sudah malam, saya pikir Tuan Muda sudah beristirahat," ucap bodyguard itu.
"Kirimkan sekarang," tegas Sean.
Ting.
Perlahan Sean membaca dan mempelajari semua data tentang Ara sampai wajahnya menjadi datar.
"Aku pikir dia jalang atau wanita bayaran," ucap Sean yang sempat berpikir begitu karena punya beberapa musuh.
Setelah membaca detail, Sean menyimpulkan kalau Ara berasal dari latar belakang keluarga yang jelas.
"Untuk apa putri konglomerat sepertinya mendekatiku?" pertanyaan Sean yang baru kali ini melihat gadis yang begitu nekat langsung kecup, bukan tebar-tebar pesona seperti kebanyakan wanita yang mendekatinya.
"Tapi sepertinya si centil itu memang suka mempermainkan perasaan orang lain," senyum kecut Sean membentengi dirinya agar tidak mudah terbuai dalam permainan gadis itu yang sudah membuat beberapa putra mahkota dari keluarga terkenal patah hati.
Beberapa hari kemudian.
Siang ini Sean bersama bodyguard dan beberapa stafnya menghadiri pertemuan luar perusahaan untuk meeting pergerakan saham di salah satu perusahaan terbesar di ibu kota.
Langkah kaki Sean terhenti ketika gadis pengganggu itu kini berdiri tepat di hadapannya.
"Minggir, jangan menghalangi jalanku," ucap Sean menatap Ara yang berdiri menghalangi jalannya.
"Kak Sean, kenapa memblokir akun Ara?" pertanyaan Ara komplain dengan ekspresi wajah kesalnya memangku kedua tangan.
"Kamu masih bertanya kenapa?" ucap Sean memandang Ara sebelah mata.
Bagaimana Sean tidak memblokir, Ara mengikuti akun medsosnya lalu menyukai semua foto sampai yang lima tahun lalu, memberikan komentar bahkan spam chat puluhan kali sampai Sean risih hingga berakhir memblokir Ara.
"Mmmm, baiklah, Ara bakalan blokir juga semua saham Kak Sean di perusahaan Daddy Ara," ketus Ara dengan bad mood.
"Ja, jadi ini perusahaan keluarga kamu?" gelagapan Sean.
"Lihat, logo AF di perusahaan ini artinya Arasya Ferdinand," ucap Ara menunjuk logo perusahaan Daddy-nya.
"Kak Sean jahat blokir Ara, Ara bakal blokir saham Kak Sean juga," kata Ara.
"Gadis, di dalam bisnis kamu tidak bisa bertindak seenaknya sekalipun kamu putri pemilik perusahaan, kesepakatan kedua belah pihak adalah keputusan mutlak," jelas Sean yang merasa tidak mempan dengan ancaman Ara.
"Karena itulah Daddy juga punya hak berartikan," kata Ara yang sebenarnya hanya ingin Sean kembali membuka blokir akunnya.
Ara ingin terus memandangi postingan dan aktivitas Sean di akun pribadinya.
"Baiklah, jika kamu tidak mau aku berinvestasi di perusahaan ini, aku bisa berinvestasi di perusahaan lain," ucap Sean yang tidak mempan diancam gadis itu.
"Perusahaan lain tidak menjanjikan keuntungan sebesar perusahaan Daddy, jadi, Kak Sean mau buka blokir akun Ara atau berhenti berinvestasi?" pertanyaan Ara.
Sean menarik napas berat, sebenarnya dia bisa saja menarik investasinya di perusahaan ini, tapi yang Ara katakan memang benar kalau perusahaan ini memberikan keuntungan yang cukup besar dibandingkan perusahaan lain.
Sean mengambil ponsel di saku dalam jasnya lalu membuka blokir gadis itu untuk mempermudah urusannya.
"Puas kamu?" pertanyaan Sean memperlihatkan kepada Ara akun yang sudah kembali dia pulihkan dari blokir.
"Tekan ini," kata Ara tersenyum tanpa dosa setelah menekan tombol ikuti balik sehingga menjadikan dia satu-satunya akun yang Sean ikuti karena sebelumnya dia tidak mengikuti siapa pun.
"Awas aja diblokir lagi, Ara akan meminta bodyguard menculik Kak Sean," kata Ara dengan lebih di luar galaksi.
"Permisi, Non, bapak cariin," kata seorang bodyguard menemui Ara.
"Katakan kalau dia sedang mengganggu para tamu," ucap Sean dengan sengaja pada bodyguard Ara.
Ara berjalan mendekat kepada Sean lalu berbisik, "Kak Sean mau Ara kecup lagi beraninya mendatangkan masalah, Daddy bisa marah sama Ara nanti kalau bodyguard itu mengadu," ucap Ara ke dekat telinga Sean.
"Gadis sialan, kau telah mencuri kecupan pertama di pipiku," ucap Sean yang jadi hilang ketenangan ketika teringat tempo hari Ara mengecup pipinya.
"Wahhhhh, ternyata Ara yang pertama," kata Ara malah meronta-ronta kesenangan bukannya merasa bersalah.
"Hehhhh, dengar, Gadis, aku akan menuntutmu karena melakukan pelecehan padaku," ancam Sean memperlihatkan rekaman CCTV di mana Ara mengecup pipinya.
"Tuntutlah. Ara bakalan tanggungjawab dan menikahi Kak Sean. Awwww, kau milikku, ganteng," ucap Ara dengan begitu berani menyentuh dagu Sean untuk beberapa saat lalu berlari kesenangan meninggalkan Sean yang lagi dan lagi terdiam mematung.
"Dasar gadis gila," umpat Sean yang jadi terheran-heran melihat Ara yang tidak ada takutnya.
"Tuan, sebelumnya saya atas nama Nona Ara minta maaf jika dia mengganggu Tuan," ucap bodyguard itu sebelum pergi meminta maaf atas perlakuan majikannya yang memang kadang terlalu berlebihan.
"Apa dia memang senang menggoda orang lain?" pertanyaan Sean yang langsung diangguki bodyguard itu.
Sean menarik napas berat lalu berbicara pada bodyguard yang masih berdiri di belakangnya.
"Jelang Bimo pulang, aku ingin kalian memperketat pengawasan di sekitar aku. Jangan biarkan orang yang tidak terlalu penting mendekat. Kapan perlu, batasi interaksi," ucap Sean yang diangguki bodyguard-nya.
Seminggu kemudian.
Malam ini Sean menghadiri pesta ulang tahun salah satu kolega bisnisnya ditemani Bimo, sang asisten, dengan setelan jas senada.
"Tuan Muda, aku dengar-dengar seorang wanita mengganggumu akhir-akhir ini?" pertanyaan Bimo sambil terus berjalan memasuki ruangan pesta.
"Mmmmh, aku tidak tahu apa motifnya mendekatiku," ucap Sean masih dengan wajah cool-nya terus berjalan.
"Kenapa tidak disingkirkan saja?" tanya Bimo yang mendengar dari rekan yang lain kalau wanita itu sampai berani mengecup pipi Sean.
"Masalahnya, dia bukan wanita yang punya niat jahat atau terselubung, Bim, seperti yang sudah-sudah. Gadis itu sepertinya hanya terobsesi terhadapku," kesimpulan Sean setelah hampir 15 hari ini merasakan sikap berlebihan Ara.
"Gadis?" ulang Bimo langsung mengangkat sebelah alisnya.
"Umurnya 19 tahun," jawab Sean singkat.
"Aku pikir dia seumuran Tuan Muda," ucap Bimo dengan ekspresi terkejutnya.
"Tidak," jawab Sean singkat.
....
Setelah menghampiri kolega bisnisnya, Sean mengajak Bimo duduk di salah satu sofa yang disediakan pihak penyelenggara pesta di pojok ruangan.
"Kak Sean," sapa Ara dengan excited begitu melihat Sean langsung berlari menghampirinya.
"Ohhhh, Tuhan, si pengganggu itu datang lagi." Sean langsung memijit pelipisnya melihat Ara yang sudah berlari ke arahnya.
"Kalau jodoh emang nggak ke mana, Tuhan selalu mempertemukan kita," senang Ara duduk tepat di sebelah Sean.
"Hai, Nona," sapa Bimo tersenyum lebar menatap Ara yang sangat manis dan ceria.
"Hallo, ganteng," kata Ara melambaikan tangannya lengkap dengan kedipan mata centilnya.
"Kalian semua berdiri menjauh," perintah Sean pada bodyguard-nya sekaligus Bimo dengan nada tegas.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Sean dengan wajah dinginnya menatap Ara yang duduk membuka tas genggamnya.
"Menghadiri pesta kolega bisnis Daddy," jawab Ara sambil menambah lipstik di bibirnya.
"Bersama Daddymu?" pertanyaan Sean menatap ke sekitar karena Ara hanya sendirian.
"Daddy sedang di luar kota jadi, meminta Ara untuk menggantikannya menghadiri pesta ini," jawab Ara menambah lagi lipstik di bibirnya.
"Sangat centil," ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi.
"Kenapa? Apa Ara terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatap ketika memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstiknya yang dijatuhkan Sean.
"Cantik?" ulang Sean dengan tatapan gelinya pada gadis kepedean itu.
"Ayolah, Kak, jadi pacar Ara aja. Ara suka sama Kak Sean, ganteng!" gemas Ara dengan tampang cegilnya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
"Hehhhh, gadis, jaga sikap kamu," ucap Sean melepaskan pelukan Ara di lengannya dan duduk sedikit menjauh.
"Mmmmh, Ara suka Kak Sean, ayolah jadi pacar Ara," kata Ara menatap Sean dengan tatapan klepek-klepeknya.
"Kamu sadar dengan apa yang barusan kamu ucapkan? Tidak malu?" pertanyaan beruntun Sean mengingatkan kodrat wanita yang tidak seharusnya menyatakan perasaan lebih dulu.
"Kenapa harus malu? Ara kan cuma bilang apa yang ada di hati Ara," ucap Ara dengan polos.
"Sejak kapan kamu menyukaiku?" pertanyaan Sean yang selama ini merasa tidak pernah bertemu dengan Ara, baru-baru ini dia melihat Ara.
"Sejak pandang pertama. Kak Sean tampan sekali, Ara suka. Ayolah, Kak, jadi pacar Ara," kata Ara to the point sampai Sean terperanjat mendengarnya.
"Ara, apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba teman Ara menariknya sampai berdiri.
"Mell, tu,"
"Pulang," kata Melly langsung menarik tangan Ara agar segera pergi dari sana secepatnya.
"Tapi, Mell,"
"Jalan sendiri atau aku seret," pilihan Melly dengan wajah galaknya yang membuat Ara takut juga.
"Daaa, Kak Sean, Ara pulang dulu, nanti," bahkan belum sempat Ara menyelesaikan ucapannya, Melly sudah menariknya agar segera pergi.
"Tuan Muda, gadis itu sangat nekat dan bar-bar," tawa Bimo duduk dekat Sean sambil menutup mulutnya.
Bisa-bisanya dia langsung menembak Sean secara to the point.
"Tapi dia sangat manis dan tulus. Sepertinya dia memang murni suka pada Tuan Muda," komentar Bimo yang langsung berubah pandangan setelah bertemu dengan Ara.
"Terimalah, Tuan Muda, punya pacar kecil sepertinya akan membuat hari-hari lebih berwarna," goda Bimo membayangkan Sean punya pacar kecil yang sangat cerewet sementara Sean sendiri suka ketenangan.
"Diam kamu, Bim."
.....
"Melly, lepasin," rengek Ara yang terus berjalan mengikuti Melly yang menyeret tangannya.
"Ara, dengar ya, harga diri itu letaknya jauh di atas cinta. Jangan sampai rasa suka kamu itu membuat kamu dipandang rendah, apalagi murahan," nasihat Melly pada Ara sebagai sahabatnya.
Mereka memang hampir seumuran, namun untuk tingkat kedewasaan Melly jauh di atas Ara yang masih sangat labil dan selalu menuruti nalurinya.
"Ara suka Kak Sean," kata Ara yang entah kenapa tidak bisa menahan perasaannya yang begitu menggebu-gebu setiap kali bertemu Sean.
"Iya, kamu suka dia, tapi bukan berarti kamu harus mendekati dia sampai lupa harga diri dengan menyatakan perasaan langsung," ucap Melly mencubit paha Ara saking geramnya.
"Haaaa, terus Ara harus gimana, Mell?" rengek Ara mengelus-elus pahanya yang dicubit Melly.
"Dapatkan dengan elegan," ucap Melly merujuk pada cara berkelas seorang wanita yang menarik pria dengan pesonanya.
"Tidak, aku akan mencintai Kak Sean secara ugal-ugalan," pernyataan Ara sampai Melly menjitak kepalanya.
"Pokoknya dia harus jadi pacar Ara," ucap Ara yang kalau sudah suka bakalan ngotot sampai hilang akal sehat.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!