Indonesia
NovelToon NovelToon

Gairah Cinta Terlarang

Bab.1 -Batas yang Sunyi

Pagi itu, aroma tumisan bawang putih dan wangi roti panggang memenuhi udara dapur keluarga Narendra. Alyssa bergerak cekatan menata sarapan di meja. Sesekali ia mengusap peluh di kening, meski kipas angin di sudut dapur berputar lambat. Baginya, rutinitas pagi sudah seperti hafalan doa: bangun lebih awal, membantu Bi Sri di dapur, lalu menyiapkan meja makan untuk keluarga besar suaminya.

“Non, hati-hati, airnya sudah mendidih,” suara Bi Sri memecah lamunannya.

Alyssa tersentak, buru-buru menurunkan panci kecil berisi air rebusan telur. “Astaga, iya Bi. Maaf, aku malah bengong.”

Bi Sri meliriknya lembut, seolah memahami isi kepalanya. “Jangan suka melamun, Non. Rezeki orang sudah diatur Gusti Allah. Jangan dipikir terlalu keras.”

Alyssa hanya tersenyum tipis. Kata-kata itu bukan hal baru, tapi hatinya tetap terasa berat. Sudah setahun ia menjadi istri Adrian Sakti Narendra. Sudah hampir satu tahun pula ia menunggu kabar baik yang tak kunjung datang: kehamilan. Sesuatu yang paling diinginkan dalam pernikahan, tetapi tak kunjung hadir dalam rumah tangganya.

Mertua perempuannya, Maya Ayu Anindya, tidak pernah menekan. Wanita itu justru sering menenangkan, mengatakan bahwa semua akan indah pada waktunya. Namun, berbeda dengan keluarga besar dari pihak ayah mertua. Ada satu sosok yang paling membuat dada Alyssa sesak: Indah Sofia, tante Adrian. Mulutnya tajam seperti pisau, selalu berhasil membuat Alyssa merasa rendah.

Alyssa menata mangkuk sup, piring roti, dan potongan buah ke meja makan besar yang dipenuhi kursi berukir. Belum sempat ia duduk, suara langkah kaki terdengar berderap dari arah ruang tamu.

“Wah, wangi sekali pagi ini,” ucap Tante Indah sambil menarik kursi. Senyum lebarnya tidak sampai ke mata. “Alyssa yang masak? Atau cuma bantu-bantu Bi Sri?”

Alyssa menunduk sopan. “Saya hanya membantu, Tante.”

Indah mengangguk-angguk, pura-pura kagum. “Ya, baguslah. Setidaknya kalau belum bisa kasih cucu, masih bisa masak untuk keluarga.”

Suasana meja langsung menegang. Maya melirik Alyssa sekilas, kemudian berkata, “Indah, jangan bicara sembarangan pagi-pagi begini.”

“Aku cuma ngomong apa adanya, Mbak Maya.” Indah menyendok sup dengan suara sendok beradu keras di mangkuk. “Sudah setahun, lho. Biasanya pasangan muda itu baru sebentar menikah saja sudah ada kabar gembira. Apa jangan-jangan …” ia melirik tajam ke arah Alyssa, “ada yang bermasalah?”

Alyssa menggenggam ujung taplak meja erat-erat. Senyum sopan masih ia paksakan di bibir, tapi hatinya bergetar hebat. Kata-kata itu seperti racun yang menelusup ke seluruh tubuh. Mereka tidak tahu saja, dalam setahun ini, intensitas Adrian menyentuhnya bahkan bisa dihitung dengan jari.

“Indah!” suara berat Bagaskara Narendra, ayah Adrian, membuat semua orang terdiam. Pria itu menatap adiknya dengan ketus. “Kau bicara seenaknya saja. Jangan campuri urusan rumah tangga anakku.”

Indah mendengus. “Aku hanya peduli, Mas. Kita ini keluarga besar. Orang luar saja bisa bertanya-tanya, masa kita diam saja? Nanti kalau kabar tak sedap sampai ke luar, yang malu siapa?”

Alyssa menunduk semakin dalam, merasa seluruh tubuhnya memanas karena menahan malu. Saat itulah Adrian muncul dari tangga. Kemeja putihnya sudah rapi, rambutnya masih sedikit basah karena baru selesai mandi.

“Ada apa ini?” tanyanya singkat. Tatapannya berpindah dari wajah ibunya, lalu ke tantenya, sebelum akhirnya berhenti pada istrinya yang masih menunduk.

“Tidak apa-apa, Mas,” Alyssa buru-buru menjawab dengan suara lirih.

Namun, Indah tak menyia-nyiakan kesempatan. “Aku cuma bilang, sudah setahun menikah kok belum ada tanda-tanda. Wajar, kan, kalau aku bertanya? Jangan sampai orang mengira…”

“Cukup, Tante.” Suara Adrian terdengar dingin, tapi tegas. “Ini urusan saya dan Alyssa. Tidak perlu dibicarakan di meja makan.”

Hening. Sesaat Alyssa menatap suaminya. Ada sedikit rasa hangat yang menyelusup karena Adrian membelanya. Namun, kehangatan itu cepat meredup saat melihat raut wajah Adrian yang tetap kaku dan datar. Seolah pria itu membela hanya karena terpaksa menjaga wibawa di depan keluarga, bukan karena benar-benar peduli pada perasaannya.

Sarapan pagi itu terasa hambar bagi Alyssa. Ia hanya menyuap beberapa sendok nasi, kemudian lebih banyak menunduk.

Usai sarapan, Alyssa kembali ke kamar yang terletak di lantai dua. Ia menutup pintu perlahan, lalu menyandarkan tubuh pada daun pintu. Napasnya terasa begitu berat. Di luar sana, hiruk-pikuk rumah masih terdengar samar. Namun di dalam kamar ini, hanya ada dirinya dan kesepian yang tak pernah pergi.

Ia duduk di tepi ranjang, jemarinya menyentuh perut rata yang masih kosong. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh juga.

“Kenapa harus aku yang jadi bahan omongan?” bisiknya lirih.

Pernikahan ini sudah cukup berat untuknya. Ia tahu sejak awal Adrian menikahinya bukan karena cinta, melainkan demi memenuhi keinginan orang tua. Namun, Alyssa mencoba bertahan, berharap waktu dan pengabdiannya bisa mengubah segalanya. Setidaknya, jika ia bisa memberi Adrian seorang anak, mungkin cinta itu akan tumbuh perlahan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Bulan berganti bulan, dan rahimnya masih sepi. Setiap kali tamu bulannya datang, hatinya kembali remuk.

Ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak. “Alyssa?” suara Maya terdengar lembut. “Boleh Ibu masuk?”

Alyssa buru-buru menyeka air matanya, lalu membuka pintu. Maya masuk dengan senyum menenangkan, lalu menggenggam tangan menantunya erat. “Jangan dengarkan ucapan Tante Indah. Dia memang mulutnya tajam, tapi hatinya tidak sejahat itu. Ibu tahu kamu sudah berusaha, Nak.”

Alyssa mengangguk, meski hatinya tahu luka itu terlalu dalam untuk sekadar dianggap angin lalu.

Saat Maya meninggalkan kamar, Alyssa kembali terduduk di depan meja rias. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sedikit bengkak.

“Apa aku memang tidak cukup untukmu, Adrian?” bisiknya lirih pada kesunyian.

Sementara itu, setelah keluar dari kamar menantunya, Maya berjalan menuju taman belakang rumah. Di sana, ia mendapati Indah sedang duduk santai dengan segelas teh hangat dan ponsel di tangan.

"Mbak, sini duduk. Aku baru lihat barang bagus," ujar Indah bersemangat, memperlihatkan katalog perhiasan di ponselnya. Berlian berkilau terpampang jelas di layar. "Bagus, kan?" tanyanya sambil tersenyum puas.

Maya hanya menanggapi dengan senyum tipis. Pandangannya jatuh lurus pada wajah adik iparnya itu. "Kapan kamu akan kembali ke Jogja, Dah?" tanyanya dengan nada teramat tenang.

Indah sontak melotot. "Mbak ngusir aku? Ini rumah Mas Bagas, lho! Aku adiknya, jadi aku juga berhak ada di sini."

"Bukan begitu maksudku." Maya menarik napas dalam, suaranya tetap terjaga meski ada ketegasan yang menusuk di baliknya. "Tapi kamu terlalu sering mencampuri urusan rumah tangga anakku. Lebih baik urus saja suami dan anakmu sendiri di sana, sebelum ada wanita lain yang menggantikan posisimu untuk mengurus mereka," ucap Maya tajam.

Sudah hampir sebulan Indah betah menumpang di Jakarta tanpa alasan yang jelas. Awalnya ia memang ikut suaminya, Anton, yang sedang dinas. Namun, setelah urusan dinas selesai, bukannya pulang, Indah malah terus menetap di kediaman Bagas.

"Mbak, kok bicaranya ketus begitu, sih!" protes Indah, wajahnya merengut kesal.

Belum sempat Indah melanjutkan protesnya, ponsel di genggaman Maya bergetar. Nama yang muncul di layar seketika membuat sudut bibir Maya terangkat tinggi. Maya langsung berbalik pergi, menghiraukan gerutuan Indah yang tertinggal di belakang.

Ia menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari putra bungsunya.

"Halo, Arden..."

Senyum Maya merekah sempurna. Entah kenapa, setiap kali menyebut nama putra bungsunya itu, ada binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan. Kehadiran Arden selalu membawa kehangatan yang berbeda di rumah ini. Dan sebentar lagi, kehangatan itu akan kembali menetap.

Bersambung ....

Selamat datang di lembaran baru kisah 'Gairah Cinta Terlarang'. Bersiaplah masuk ke dalam labirin pernikahan dingin Alyssa yang penuh air mata, dan bagaimana takdir membawanya menyeberangi batas etika bersama Arden. Terima kasih sudah mampir, jangan lupa support-nya dengan kasih like dan komen ya! Happy reading! ✨

Jangan di skippp!!!

Bab.2 -Rasa yang Salah

Maya menerima panggilan telepon itu bersamaan dengan Alyssa yang baru saja turun dari lantai dua. Hari ini, Alyssa berencana membuat kue cokelat kesukaan Adrian sekaligus menyiapkan makan siang untuk dikirimkan ke kantor suaminya. Kebiasaan itu sudah dia lakukan sejak dua bulan yang lalu.

Walau pernikahannya dengan Adrian masih dingin tanpa cinta, Alyssa terus berusaha. Ia berharap, sekecil apa pun perhatiannya mampu meluluhkan hati sang suami.

"Ya sudah, Mama tunggu kedatanganmu. Iya, hati-hati di jalan, sayang," ucap Maya lembut sebelum menutup telepon.

Begitu menyadari keberadaan menantunya, Maya tersenyum. "Alyssa, sini nak," panggilnya.

Alyssa mendekat lalu duduk. "Iya, Ma. Ada apa?" tanyanya pelan.

"Sebentar lagi, Arden akan pulang. Katanya dia minta dimasakin rendang," kata Maya dengan raut wajah sumringah.

Deg!

Nama itu—Arden.

Alyssa hampir tak bisa menyembunyikan debaran di dadanya. "Arden?" bisiknya nyaris tak terdengar.

"Iya. Dia sudah selesai dengan tugasnya dan mau pulang. Mama kangen banget sama dia," ujar Maya penuh semangat.

Senyum tipis terbit di bibir Alyssa, tetapi pikirannya langsung melayang jauh. Ingatannya berputar kembali pada acara pesta anniversary pernikahan mertuanya setahun lalu. Saat itu, ia dan Arden sempat terjebak di dalam lift yang rusak selama hampir empat puluh menit.

Gelap yang pekat membuat Alyssa panik—fobia lamanya muncul tanpa bisa dikendalikan. Namun, Arden ada di sana. Dengan tenang, ia menenangkan Alyssa, membuatnya merasa aman meski dunia seakan runtuh.

Hari itu, pesta pernikahan Maya dan Bagas digelar mewah. Musik mengalun, tamu-tamu bergaun indah berbaur, dan Alyssa—yang kala itu masih baru mengenal keluarga besar suaminya—merasa canggung. Ia ingin mencari udara segar, namun langkahnya malah membawanya ke dalam lift.

Tak disangka, Arden ikut masuk.

Lift berhenti mendadak di tengah perjalanan. Lampu padam, menyisakan kegelapan pekat. Alyssa gemetar, tubuhnya kaku karena rasa takut yang menyergap.

"A—aku nggak bisa… gelap…," suaranya tercekat, napasnya tersengal.

Saat itu, Arden menenangkan dengan suara rendah yang tegas. "Hei, tenang. Aku di sini. Pegang tanganku."

Alyssa meraba dan menemukan jemarinya, hangat dan kokoh. Perlahan, kepanikan yang mengecap dadanya mereda. Suara Arden yang terus berbicara menuntunnya untuk bertahan, seakan cahaya kecil di tengah kegelapan.

Sejak kejadian itu, bayangan Arden sulit dihapus dari benak Alyssa. Meski ia sudah resmi menjadi istri Adrian, ada ruang di hatinya yang diam-diam bergetar setiap kali mendengar nama lelaki itu. Alyssa menarik napas dalam, mencoba menutupi perasaannya di depan Maya.

"Nanti Alyssa bantu masakin, Ma," ucapnya lirih, seolah menawarkan diri padahal hatinya bergetar.

Maya mengangguk senang. "Wah, pasti Arden makin betah di rumah. Dia paling suka masakan rumah, apalagi kalau ada rendang. Terima kasih ya, Nak."

Alyssa hanya tersenyum, lalu berpamitan untuk masuk ke dapur. Ia berusaha sibuk dengan bahan-bahan masakan, tapi pikirannya terus saja kembali ke masa lalu.

"Alyssa, kamu baik-baik saja?" tanya Maya.

"Aku baik-baik saja, Ma," balas Alyssa tersenyum.

"Nanti jangan lupa istirahat, ya. Mama nggak mau kamu sakit," ujar Maya lembut.

Alyssa mengangguk. "Iya, Ma."

Namun di dalam hatinya, ia tahu dirinya sedang berperang. Cinta yang seharusnya ia berikan sepenuhnya pada Adrian, perlahan digoyahkan oleh sosok lain yang bahkan tak seharusnya ia pikirkan.

Tepat pukul sebelas siang, dapur kediaman keluarga Narendra sudah dipenuhi aroma harum masakan. Alyssa berdiri di depan meja makan, menata beberapa lauk sederhana hasil tangannya sendiri. Ia juga menambahkan sepotong kue cokelat kesukaan Adrian, berharap setidaknya itu bisa meluluhkan sedikit dinginnya hati sang suami.

Baginya, harapan tidak pernah muluk. Ia tidak menunggu ucapan manis ataupun hadiah mewah. Ia hanya ingin Adrian sekadar melihat, mengakui, dan menghargai usahanya. Namun, setiap kali Alyssa mencoba mendekat, yang ia temukan hanyalah dinding dingin yang mustahil ditembus.

“Huh…” Alyssa menghela napas pelan. Tangannya gemetar saat menutup kotak bekal itu dengan hati-hati. Ia menambahkan es kopi—kopi yang selalu disukai Adrian sejak dulu setelah makan siang.

Setelah semuanya siap, ia menyerahkan bekal itu kepada Pak Budi, sopir keluarga. "Pak, tolong antarkan ini ke kantor Adrian, ya."

“Baik, Nona.” Pak Budi menerima dengan hormat.

Alyssa hanya bisa menatap mobil yang perlahan keluar dari halaman rumah. Dalam hati ia berdoa, semoga Adrian menyukai masakannya.

Sekitar setengah jam kemudian, mobil Pak Budi sudah sampai di perusahaan milik keluarga Narendra. Ia menyerahkan kotak bekal itu kepada Gema, asisten pribadi Adrian yang sudah menunggu di lobi.

“Titipan dari Nyonya,” ujar Pak Budi singkat.

“Baik, Pak. Terima kasih.” Gema menerima kotak itu dengan sopan.

Ia pun segera menuju lantai atas dan mengetuk pintu ruangan bosnya. Setelah mendapat izin, ia masuk dengan langkah ragu. Adrian sedang duduk bersama seorang wanita yang tidak asing baginya. Hanum—nama yang sering disebut-sebut belakangan ini dan menjadi perbincangan hangat para karyawan, wanita yang katanya dulu adalah cinta pertama Adrian.

“Titipan dari istri Anda, Tuan,” kata Gema hati-hati sambil menyerahkan kotak bekal.

Adrian bahkan tidak menoleh. “Taruh saja di meja.”

Gema menuruti, lalu segera undur diri. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekilas. Hanum tengah duduk manis dengan senyum yang hanya ditujukan kepada Adrian, seolah ruangan itu milik mereka berdua.

“Istrimu rajin sekali, Ad,” ucap Hanum dengan nada setengah mengejek begitu pintu tertutup.

Adrian terkekeh dingin, menatap kotak bekal yang sama sekali tidak menarik perhatiannya. Dengan enteng, ia menekan bel kecil di mejanya. Seorang OB segera datang, dan tanpa pikir panjang Adrian menyerahkan kotak itu kepadanya.

“Bawa ini, untukmu saja,” katanya datar.

Hanum mengangkat alis. “Kenapa diberikan pada orang lain? Itu kan masakan spesial dari istrimu.”

“Kenapa? Kamu cemburu?” Adrian menoleh dengan tatapan menantang.

“Bukan cemburu,” jawab Hanum santai, meski ada kilatan kepuasan di matanya. “Aku hanya tidak suka ada yang terlalu perhatian padamu. Lagipula, apa masakanku kurang enak dibandingkan masakannya?”

Adrian tersenyum tipis. “Tidak. Masakanmu selalu jadi yang terbaik. Aku menyukainya.”

Hanum tersenyum puas, lalu menyodorkan bekal yang ia buat sendiri. Hari ini ia memang sengaja mengambil cuti dari rumah sakit tempatnya bekerja, hanya untuk bisa makan siang bersama Adrian. Dan pria itu menyambutnya dengan tangan terbuka, seolah ialah satu-satunya wanita yang berhak di sisinya.

Di luar ruangan, Zulfi—salah satu OB perusahaan—berjalan sambil menenteng kotak bekal yang barusan diberikan Adrian. Di koridor, ia berpapasan dengan Gema.

“Zul, kok kamu yang bawa bekalnya Bos?” tanya Gema heran.

“Iya, Mas Gem. Bos yang ngasih. Katanya buat aku aja. Hampir setiap hari aku dapat,” jawab Zulfi jujur.

“Serius?” Gema menatapnya tak percaya.

“Iya.” Zulfi tersenyum kecil, meski ada rasa tidak enak di hatinya. “Ya sudah, saya permisi dulu. Mari, Mas.”

“Iya.” Gema hanya bisa mengangguk, lalu melanjutkan langkah dengan wajah muram. Dalam hatinya, ia merasa iba pada Nyonya Alyssa. Setiap hari wanita itu berusaha, tapi usahanya selalu berakhir di tangan orang lain.

Sementara itu, di rumah besar keluarga Narendra, Alyssa duduk di ruang tamu sambil menatap ponsel. Ia menunggu pesan singkat dari Adrian, atau mungkin sekadar tanda terima kasih. Namun, layar tetap hening.

“Belum juga ada kabar?” gumamnya lirih.

Ia mencoba menghibur diri dan berpikir positif, meyakinkan hatinya bahwa mungkin Adrian terlalu busy untuk sekadar menulis pesan singkat. Tetapi, jauh di dasar hatinya, ia tahu: Adrian tidak peduli.

"Apa yang kamu harapkan, Alyssa." Lirihnya, menyeka sudut matanya yang basah.

Sementara orang yang sedang diharapkan sedang tertawa bahagia, di saat seorang istri duduk sendiri dengan hati yang retak, menunggu cinta yang mungkin tak akan pernah datang. Dan tanpa pernah ia sadari, cinta yang ia rawat dengan setia, justru sedang perlahan terkubur. Karena cinta Adrian telah tumbuh di tempat yang paling terlarang.

Bersambung ...

Bab.3 -Kepulangan dan Rahasia Lama

Keesokan paginya, dapur kediaman Narendra sudah sibuk sejak subuh. Maya dan Alyssa bekerja sama menyiapkan masakan spesial untuk menyambut Arden. Kata Maya, putra bungsunya itu mengambil penerbangan malam dari Korea dan sedang dalam perjalanan dari bandara.

Saat Adrian turun dari lantai dua, Alyssa langsung menyadari kehadiran suaminya. Dengan cekatan, ia menyodorkan secangkir kopi hangat. "Kopinya, Mas."

Tanpa sepatah kata pun, bahkan tanpa memandang wajah istrinya, Adrian melewati Alyssa begitu saja. Pria itu melangkah ketus menuju meja makan tempat ayah dan tantenya sudah duduk menunggu. Alyssa terdiam di tempatnya, menelan sudut kecewa yang kian membukit, lalu kembali membantu sang mertua.

Di meja makan, Adrian mengabaikan hidangan mewah yang telah dimasak dengan susah payah oleh Alyssa. Ia justru meraih sepotong roti tawar kering.

“Adrian,” sapa Indah yang baru menyadari kehadiran keponakannya. Adrian hanya menanggapi dengan senyuman singkat. Sementara itu, Bagas hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada koran paginya.

“Kamu tahu, Adrian? Adikmu pulang hari ini. Ibu dan istrimu effort banget masak semua ini,” celetuk Indah memecah keheningan.

“Alyssa?” sahut Adrian datar.

“Ya, memangnya siapa lagi? Apa kamu punya istri yang lain? Kalau iya, bawa ke sini,” canda Indah dengan tawa renyah yang dibuat-buat.

Prang!

Gelas di tangan Alyssa mendadak tergelincir dan hancur berantakan di lantai dapur.

“Maaf… maaf, semuanya,” ucap Alyssa gugup, buru-buru berlutut untuk memunguti pecahan kaca dengan tangan gemetar. Kalimat Tante Indah barusan terasa menghantam ulu hatinya. Mereka tidak ada yang tahu bahwa di luar sana, Adrian memang memiliki wanita lain.

“Indah, jaga bicaramu!” tegur Bagas tegas. Tatapannya menajam pada adik perempuannya itu. “Jangan sembarangan bicara. Keluarga Narendra dilarang keras memiliki lebih dari satu istri.”

“Ya, aku tahu, Mas. Kan, aku hanya bercanda,” balas Indah acuh tak acuh sambil mengedikkan bahu.

“Tapi itu tidak lucu, Indah. Kamu sama sekali tidak menjaga perasaan Alyssa,” potong Bagas menusuk.

Tepat saat atmosfer di meja makan kian menegang, suara bel rumah berbunyi nyaring. Maya yang baru keluar dari dapur langsung tersenyum lebar, sama sekali tidak menyadari ketegangan yang sempat terjadi.

“Arden!” seru Maya penuh sukacita. Wanita paruh baya itu langsung berlari ke pintu depan, memeluk putra bungsunya dengan sangat erat. “Ya Tuhan, Nak. Mama kangen sekali sama kamu.”

Arden terkekeh hangat, membalas pelukan ibunya tak kalah erat. “Sudah, Ma. Papa juga mau peluk, tuh,” sahut Bagas yang mendadak muncul di belakang Maya, lalu menepuk bahu putranya bangga.

“Mas, kamu tidak kangen denganku?” tanya Arden, menjabat tangan kakaknya yang masih asyik mengunyah roti di meja makan.

“Tidak,” balas Adrian dingin, tanpa beban.

“Masih saja sama,” gumam Arden menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Ia kemudian beralih memeluk Tante Indah yang menyambutnya heboh.

Setelah semua kembali duduk, Maya dengan telaten menyajikan teh hangat untuk Arden. Di sela-sela obrolan keluarga, sepasang mata Arden diam-diam bergerak gelisah, menatap ke sekeliling ruangan. Ia berharap sosok yang selama ini dirindukannya muncul. Namun, wanita itu tak kunjung terlihat.

“Kamu sedang mencari siapa, Ar?” selidik Indah yang menyadari gelagat keponakannya. Adrian ikut melirik sekilas sebelum kembali abai.

“Tidak ada, Tante. Hanya memperhatikan sekeliling. Aku pergi beberapa tahun, ternyata rumah ini tidak banyak berubah, ya,” dalih Arden mencoba tertawa kecil.

Usai sarapan dan melepas rindu, Arden memutuskan untuk membersihkan diri ke kamarnya. Sementara Bagas dan Adrian langsung berangkat menuju kantor perusahaan.

Setelah merebahkan diri di ranjangnya yang empuk, rasa kantuk yang Arden harapkan tak kunjung datang. Pikirannya telanjur terjaga. Akhirnya, ia memilih turun ke lantai bawah untuk mencari minuman segar.

Begitu melewati area dapur, aroma manis cokelat yang dipanggang langsung menusuk indra penciumannya. Arden tahu persis siapa yang sedang membuat kue itu. Alyssa. Kakak iparnya.

Namun, jauh di lubuk hati Arden, Alyssa tidak pernah sekadar menjadi seorang kakak ipar.

Flashback

Dua tahun lalu, tepat sebelum Arden berangkat menempuh pendidikan ke Korea Selatan untuk mengejar impiannya membangun agensi musik sendiri. Langkah riangnya terhenti tepat di depan ruang kerja sang ayah saat mendengar perdebatan sengit.

“Aku tidak mau, Pa! Aku sudah punya kekasih!” tolak Adrian dengan nada lantang dan penuh amarah.

“Kalau kamu menolak, silakan keluar dari rumah ini! Dan jangan harap Papa akan memberikan sepeser pun aset Narendra untukmu!” balas Bagas tak kalah menggelegar.

Di tengah kekacauan itu, Maya hanya bisa terdiam pasrah di sudut ruangan. Namun, perhatian Arden justru tersita sepenuhnya pada sosok gadis yang berdiri di hadapan kedua orang tuanya. Gadis dengan rambut terurai sederhana, mengenakan dress selutut berwarna lembut yang membuatnya tampak sangat anggun.

Alyssa. Nama yang baru hari itu Arden dengar dari bibir ayahnya.

“Ini Alyssa, anak sahabat Papa. Dia yang akan menjadi pendamping hidupmu, Adrian.”

Saat Adrian terus memprotes dengan emosi meluap-luap, Alyssa hanya bisa menunduk dalam, meremas jemarinya sendiri dengan gugup. Namun, di detik ketika mata mereka sempat beradu sejenak, Arden merasakan sebuah getaran hebat yang belum pernah ia rasakan seumur hidup.

Adrian mungkin menolak mati-matian pernikahan itu, tetapi di tempatnya berdiri, Arden justru menyadari satu kenyataan pahit: hatinya telah memilih Alyssa, sejak detik pertama wanita itu menginjakkan kaki di rumah ini.

******

Arden tersentak dari lamunannya saat Bi Sri tiba-tiba menegurnya. “Mas Arden, perlu sesuatu?”

Arden menoleh sekilas, matanya sempat menangkap sosok Alyssa yang tengah sibuk memotong kue brownies di meja konter dapur. “Tolong buatkan es jeruk ya, Bi. Antar ke gazebo belakang,” ucap Arden menenangkan debar jantungnya, lalu melangkah pergi.

Di dapur, Alyssa akhirnya bisa mengembuskan napas lega setelah punggung Arden menghilang. Tatapan adik iparnya itu selalu terasa terlalu intens dan berbeda.

“Non Alyssa,” panggil Bi Sri sambil memegangi perutnya yang tampak meringis kesakitan. “Bisa tolong antarkan es jeruk ini ke Mas Arden di gazebo? Duh… perut saya mulas sekali, sudah tidak kuat menahan.”

Alyssa tercekat. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. “Tapi, Bi…”

“Tolong ya, Non. Saya benar-benar ke belakang dulu!” pamit Bi Sri panik, langsung berlari kencang meninggalkan dapur.

Alyssa berdiri kaku. Mau tidak mau, ia merapikan beberapa potong kue hangat ke atas piring kecil untuk menemani es jeruk tersebut. “Tenang, Alyssa. Cuma mengantar minuman,” bisiknya menyemangati diri sendiri, meski tangannya sedikit gemetar saat mengangkat nampan.

Ia melangkah membelah taman samping menuju gazebo. Namun, belum sempat kakinya menginjak anak tangga gazebo, sebuah bayangan menghadangnya. Tante Indah sudah berdiri di sana dengan senyum sinis yang menusuk.

“Awas ya, jangan sampai kamu menggoda keponakanku,” bisik Indah tajam, tepat di hadapan wajah Alyssa.

Alyssa tersentak hebat, hampir saja menumpahkan jus di nampannya.

“Tante, aku tidak berniat begitu,” belanya dengan suara bergetar, mencoba tetap sopan.

“Cih, tidak berniat bagaimana?” Indah menyilangkan dada, menatapnya penuh selidik. “Sejak Arden datang tadi, matamu jelas sekali tidak bisa lepas dari dia.”

Pipi Alyssa seketika memanas karena malu dan tertekan. Namun, sebelum ia sempat menyanggah tuduhan kejam itu, dari arah gazebo, Arden rupanya telah berbalik. Sepasang mata tajam pria itu kini mengunci posisi Alyssa yang berdiri kikuk di bawah intimidasi Tante Indah.

Bersambung ...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!