Hari ini adalah hari di mana semesta memutuskan untuk tidak berpihak padaku.
Aku baru saja keluar dari toko buku dengan perasaan campur aduk setelah melihat tagihan semester dua yang angkanya sanggup membuat jantungku berhenti berdetak. Dengan sepeda listrik butut yang remnya mulai menunjukkan tanda-tanda "pensiun dini", aku melaju terburu-buru. Aku harus sampai di panti asuhan sebelum jam makan malam, atau anak-anak akan kelaparan karena uang belanja bulan ini sudah habis kupakai untuk biaya daftar ulang.
"Awas! Minggir!" teriakku panik saat rem sepeda listrikku benar-benar tidak berfungsi di sebuah persimpangan elit.
BRUK!
Suara itu terdengar sangat mahal—seperti suara tabrakan antara kemiskinanku dan kemewahan yang tidak seharusnya aku sentuh. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak seperti seharga biaya kuliahku setahun, terjatuh di trotoar.
Jantungku rasanya melompat keluar. Aku segera melompat turun, kaki gemetar hebat saat menghampirinya. "Ya ampun, Ibu! Maafkan saya! Saya benar-benar minta maaf, rem saya blong!
Jantungku rasanya melompat keluar. Aku segera melompat turun, kaki gemetar hebat saat menghampirinya. "Ya ampun, Ibu! Maafkan saya! Saya benar-benar minta maaf, rem saya blong!"
Wanita itu perlahan mendongak. Meski bajunya sedikit kotor, wajahnya tetap terlihat elegan. Namun, begitu matanya menangkap sosokku, tatapannya berubah. Dia tidak marah. Justru, tangannya yang terawat dengan kuku-kuku yang tertata rapi langsung menggenggam kedua tanganku dengan erat—terlalu erat untuk ukuran seseorang yang baru saja tertabrak.
Matanya menyusuri wajahku, turun ke bahuku, lalu kembali menatap mataku dengan binar yang sulit kuartikan. Ada kepuasan aneh yang terpancar di sana, seolah ia baru saja menemukan barang antik yang sudah lama ia cari di tumpukan rongsokan.
"Siapa namamu, Sayang?" tanyanya dengan nada yang lembut, sangat kontras dengan situasi kacau tadi.
Aku mengerjapkan mata, masih dalam posisi setengah berlutut di aspal. "Aratala, Bu. Aratala Arasunya Grita."
🌴🌴🌴
Wanita itu tersenyum, lalu mengelus punggung tanganku. "Nama yang cantik. Sangat cantik."
"Ibu, Anda tidak terluka? Saya benar-benar minta maaf. Saya akan tanggung jawab, tapi—" suaraku tercekat. Tanggung jawab apa? Uang di dompetku saja bahkan tidak cukup untuk membeli satu set rem baru, apalagi membayar biaya berobat orang seperti dia.
Lalu dia melirik ke arah mobil sedan hitam yang berhenti mendadak di samping kami. Seorang pria turun dengan setelan jas yang membuat auranya terasa sepuluh derajat lebih dingin dari cuaca hari ini. Itu Elio Lerian Raymond.
"Ibu? Apa yang terjadi?" Suara pria itu berat, datar, dan tajam seperti pisau. Dia melirikku sekilas—hanya sekilas—seperti sedang melihat sampah di jalanan.
Wanita itu berdiri dengan bantuan Elio, namun tangannya tak pernah lepas dari lenganku. "aratala kenalkan. Ini anak ibu satu-satunya, Elio Lerian Raymond. Ganteng, kan?"
Aku mengerjapkan mata, menatap Elio dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria itu memang punya garis rahang tajam dan setelan jas yang sempurna, tapi tatapannya saat ini seolah ingin menelanku hidup-hidup. Aku hanya bisa meringis canggung. "Eh... iya, Bu. Sangat... tampan."
"Dia punya usaha sendiri, tinggi 185 cm, berat 70 kg. Benar-benar tipe idaman cewek-cewek, kan?" lanjutnya antusias, seperti penjual barang dagangan.
Aku terbelalak. Apa-apaan ini? Aku merasa seperti sedang berada di pameran barang dagangan. Ibu ini mendeskripsikan anaknya seperti sedang menjual spesifikasi barang elektronik terbaru, tanpa tahu bahwa aku bahkan tidak punya uang untuk mengganti rem sepeda listrikku yang hancur.
"Sayangnya," wanita itu mendesah dramatis sambil menatap anaknya, "dia belum punya pacar. Tidak pernah sekalipun membawa wanita ke rumah. Hidupnya membosankan, hanya kerja dan kerja."
Elio, yang sejak tadi hanya diam dengan wajah datar, akhirnya menyela dengan suara yang sangat dingin. "Ibu, cukup. Kita tidak sedang di pasar loak. Dia hanya orang asing yang menabrak Ibu."
Wanita itu tidak mengindahkan protes anaknya ia mendekat ke telingaku, lalu berbisik pelan, "Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi istrinya? Saya akan membayarmu tiga miliar untuk kontrak dua tahun."
sebenarnya itu bukan bisikan karna suara wanita paruh baya itu lumayan keras, sehingga masih bisa di dengar oleh Elio, atau mungkin sengaja.
Tiga miliar. Angka itu menghantam kepalaku lebih keras daripada sepeda listrikku tadi. Kehidupan panti asuhan, biaya kuliah, makan anak-anak... semuanya bisa teratasi.
Aku menatap Elio yang masih tampak kesal, lalu menatap Ibu itu dengan senyum paling manis yang bisa kubuat. "Mau, Bu! Kapan kita tanda tangan?"
Elio membeku. Dia menatapku—tatapan yang kini tidak lagi datar, melainkan penuh tanda tanya dan amarah. "Apa yang barusan kau katakan?"
Aku membusungkan dada, membiarkan sifat nekatku mengambil alih. lalu wanita paruh baya itu berbisik pelan kembali', " panggil aku mama Karina aja"
"Saya bilang saya mau, Pak. Lagipula, tiga miliar itu angka yang sangat masuk akal untuk menanggung beban hidup saya."
Balasku menatap Elio yang masih terlihat Shok.
🌴🌴🌴
Hai semua jangan lupa like koment yaa😅😉
Pernikahan ini tidak lebih ramai dari rapat mingguan divisi pemasaran di kantor Elio. Tidak ada dekorasi bunga yang melimpah, tidak ada alunan orkestra, dan yang pasti—tidak ada cinta.
Hanya ada sebuah kapel pribadi di pinggiran kota yang sunyi, dengan beberapa kursi yang dibiarkan kosong. Keluarga besar Raymond tidak ada di sini, tentu saja. Ibu Elio—yang kini menjadi satu-satunya pendukungku dalam skenario gila ini—sengaja menjaga semuanya tetap privat. Sementara dari pihakku? Hanya ada Bi Nisa, pengasuh panti asuhan yang sudah kuanggap ibu sendiri. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, masih tak percaya bahwa "anak nakal" kesayangannya ini akan menikah dengan pria yang bahkan tidak bisa ia eja namanya dengan benar.
Aku menatap cermin. Gaun putih ini terlalu mahal, terlalu indah, dan terasa seperti borgol yang sangat mewah.
"Sudah siap?" suara dingin itu membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh. Elio berdiri di sana, di ambang pintu ruang tunggu. Dia tampak sempurna dengan setelan tuksedo hitamnya, tapi tatapannya... dia menatapku seolah aku adalah kesalahan teknis dalam hidupnya yang sudah terencana rapi.
"Kalau saya bilang tidak siap, apakah Bapak mau mengembalikan kontraknya dan memberikan uang itu secara cuma-cuma?" tanyaku ceplas-ceplos, mencoba menutupi rasa gugup yang mulai merayap di dadaku.
Elio berjalan mendekat, langkahnya mantap dan mengintimidasi. Dia berhenti tepat di depanku, membuat aroma parfum maskulin yang mahal menyerang indra penciumanku. "Simpan omong kosongmu untuk nanti. Kita hanya butuh dua puluh menit untuk menyelesaikan ini, lalu kau bisa kembali ke duniamu yang berisik itu."
"Wow, dingin sekali," aku terkekeh, meski tanganku gemetar hebat di balik gaun. "Pak, kita akan berbagi satu atap selama dua tahun. Bisa tidak kalau kita pura-pura sedikit lebih ramah?"
Elio mencondongkan tubuh, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Matanya yang tajam mengunci pandanganku. "Ramah adalah untuk orang yang saling peduli, Aratala. Sedangkan kita? Kita hanya dua orang asing yang terjebak dalam dokumen hukum yang membosankan."
Dia menarik tangannya, memberi isyarat pada
"Ingat satu hal," bisiknya tepat di telingaku sebelum kami melangkah keluar menuju altar. "Jangan pernah berharap lebih dari kontrak ini. Karena di rumahku, tidak ada tempat untuk gadis seperti kau."
Aku hanya tersenyum tipis—senyum yang penuh dengan sifat 'cegil' yang mulai muncul. Oh, tenang saja, Pak CEO. Kita lihat saja nanti siapa yang akan duluan melanggar aturan kontrak yang membosankan ini.
Elio berjalan dengan langkah lebar dan dingin meninggal kan ku sendiri menuju arah yang lebih mirip lorong kantor daripada jalan menuju altar pernikahan. Aku tahu dia sedang berusaha menunjukkan padaku bahwa pernikahan ini tidak ada artinya baginya—tidak ada kemegahan, tidak ada sakralitas.
Tiba-tiba, sebuah ide konyol muncul di kepalaku. Aku tidak akan membiarkan pernikahan ini terasa seperti upacara pemakaman.
Tanpa aba-aba, aku menggenggam tangan kekarnya. Tangannya besar, kokoh, dan terasa hangat, kontras dengan sikapnya yang sedingin es. Sebelum dia sempat bereaksi, aku menariknya, memaksanya untuk mempercepat langkah.
"Eh—apa yang kau lakukan?" seru Elio, suaranya naik satu oktaf karena terkejut. Langkah angkuhnya yang teratur kini berantakan karena aku menariknya agak berlari kecil menuju depan.
"Ayo cepat, Pak CEO!" seruku sambil tertawa. Rambutku sedikit berantakan, dan aku tidak peduli. "Kalau kita cuma jalan pelan seperti mau ke ruang interogasi, kapan acaranya selesai? Saya sudah lapar, saya ingin cepat-cepat sampai ke bagian sesi makan-makannya!"
Elio mencoba menghentikan langkahnya, menatapku dengan mata yang membola, tak percaya ada orang yang berani menarik tangannya seperti menarik anak kecil di taman bermain. "Aratala, berhenti! Lepaskan tanganku! Ini tidak sopan!"
"Sopan itu buat orang asing, pa Elio. Kita kan sudah mau jadi suami istri—bahkan dalam kontrak!" balasku enteng sambil terus menariknya. "Lagipula, kalau kita lari, kita jadi terlihat seperti pengantin yang sedang kabur. Bukannya itu lebih seru daripada cuma berdiri kaku?"
Aku bisa merasakan otot lengannya yang menegang di bawah genggamanku, tapi anehnya, dia tidak menghempaskan tanganku. Dia justru sedikit tersandung karena kebingungan, wajahnya yang tadi dingin kini tampak frustrasi sekaligus—mungkin—sedikit terhibur dengan kelakuan gila istri kontraknya ini.
Di kejauhan, aku melihat ibu Elio tersenyum lebar melihat kami. Dia sepertinya menikmati setiap detik kebingungan anaknya.
🌴🌴🌴
Kami sampai di depan altar—atau lebih tepatnya, meja kayu minimalis tempat saksi pernikahan berdiri. Nafas Elio sedikit memburu karena tarikan mendadakku tadi. Dia menatapku dengan tatapan "ingin membunuh", tapi aku hanya membalasnya dengan cengiran lebar paling manis yang kupunya.
"Kau benar-benar tidak punya urat malu, ya?" desis Elio tepat di telingaku, suaranya rendah dan tajam.
Aku mengangkat bahu dengan santai, merapikan rambutku yang sedikit berantakan. "Hidup itu cuma sekali, Pak CEO. Kalau cuma bisa jalan anggun, nanti keburu tua keburu mati. Mending lari, biar jantungnya sehat."
Elio membuang muka, tapi aku melihat sudut bibirnya sedikit berkedut. Apakah dia menahan tawa? Atau menahan amarah? Entahlah.
Di hadapan kami, seorang petugas catatan sipil menatap kami dengan bingung, mungkin karena dia baru kali ini melihat pasangan yang datang ke altar dengan cara 'berlari kecil' seperti sedang dikejar penagih utang.
"Silakan, Tuan Elio dan Nona Aratala," ucap petugas itu canggung.
Elio segera menguasai diri. Dia kembali ke mode mode-dingin-nya. Dia tidak menatapku sama sekali saat mengucapkan janji nikah yang terdengar sangat formal dan hambar. Itu bukan janji, itu seperti sedang membacakan kontrak kerja sama perusahaan.
Giliran aku yang bicara. Aku menatap Elio, lalu menatap Bi Nisa yang berdiri di pojok ruangan dengan wajah haru. Biar bagaimana pun, ini adalah pernikahan, meskipun palsu.
"Saya, Aratala Arasunya Grita," ucapku dengan suara yang sengaja dibuat lantang, membuat Elio menoleh tajam ke arahku. "Menerima Elio Lerian Raymond sebagai suami saya... untuk dua tahun ke depan. Semoga kita tidak saling membunuh satu sama lain selama masa kontrak ini."
Suasana mendadak hening. Bi Nisa tampak kaget, sementara Ibu Elio justru tertawa kecil di kursi penonton. Elio sendiri? Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—antara tidak percaya dengan kenekatanku atau benar-benar mulai menyesali keputusan membiarkan ibunya memilihkan istri untuknya.
Petugas itu berdeham. "Silakan... pasangkan cincinnya."
Elio mengeluarkan kotak kecil dari saku tuksedonya. Cincinnya sangat indah, bertahtakan berlian yang mungkin harganya bisa membangun sepuluh panti asuhan baru. Saat dia meraih tanganku untuk memasangkan cincin itu, jemarinya terasa dingin. Dia melakukannya dengan cepat, kasar, dan tanpa perasaan.
Selesai. Secara hukum, sekarang aku adalah istri dari pria yang paling tidak menginginkanku di dunia ini.
Aku menimang-nimang cincin yang kini melingkar manis di jari manisku. Berliannya berkilau indah di bawah lampu kapel, sangat mewah sampai-sampai membuat mataku silau. Sambil berpura-pura mengagumi desainnya, otakku mulai berhitung cepat.
Kalau dijual di toko emas langganan, kira-kira laku berapa ya? Seratus juta? Dua ratus juta? Kalau harganya segitu, kayaknya cukup deh buat aku beli mobil bekas yang masih layak jalan.
"Berhenti menatap cincin itu seolah kau sedang menghitung keuntungan dagangan di pasar," suara dingin Elio memecah lamunanku. Dia berdiri tepat di sampingku, tangannya terlipat di depan dada.
Aku menoleh, memberikan senyum paling polos yang kubisa. "Eh, Bapak perhatikan ya? Saya cuma kagum, desainnya bagus. Kira-kira, kalau saya lepas cincin ini, harganya jatuh banget nggak ya di pasaran?"
Elio membeku. Matanya melebar sesaat—bukan karena marah, tapi karena syok mendengar betapa tidak tahu malunya wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya ini.
"Kau... kau baru saja menikah, dan hal pertama yang kau pikirkan adalah menjual cincin pernikahanmu untuk beli mobil?"
"Ya habisnya, Bapak kan sudah punya mobil banyak. Masa saya sebagai istri cuma naik sepeda listrik terus? Nanti Bapa malu dong setiap kali mau ke kampus," jawabku dengan nada logis yang dibuat-buat.
Elio memijat pelipisnya. Dia terlihat benar-benar lelah, padahal acara baru saja dimulai. "Aku tidak membelikanmu cincin itu untuk kau jual. Pakai. Jangan pernah lepaskan, atau kontrak tiga miliar itu akan kupotong lima puluh persen."
Aku langsung menarik tanganku, menyembunyikannya di balik punggung gaun pengantinku. "Iya, iya! Galak amat sih. Cuma bercanda, Pak. Lagian, saya juga sayang kalau harus menjual berlian seindah ini. Mungkin nanti saya jual kalau kita sudah cerai saja."
Elio tidak menjawab. Dia hanya membuang napas kasar, lalu berjalan menjauh dengan langkah lebar, meninggalkan aku yang masih asyik membayangkan betapa kerennya kalau aku bisa punya mobil sendiri.
"Hei! Tunggu! Kita belum foto keluarga!" teriakku sambil berlari kecil menyusulnya, membiarkan ekor gaun pengantinku menyeret lantai kapel dengan cara yang sangat tidak elegan.
🌴🌴🌴
Perjalanan menuju kediaman Raymond terasa seperti sedang berada di dalam kulkas berjalan. Elio duduk di kursi pengemudi, memandang lurus ke depan dengan wajah yang seolah-olah dipahat dari es batu, sementara aku duduk di sampingnya sambil menatap keluar jendela, sesekali mencuri pandang ke arah jam mahal di pergelangan tangannya.
"Rumahnya jauh ya?" tanyaku memecah keheningan. "Apa ada kolam renangnya? Saya sudah lama sekali tidak berenang."
Elio tidak menoleh. "Kita tidak tinggal di sana untuk bersenang-senang, Aratala. Kau di sana untuk memenuhi kontrak. Jangan menyentuh barang-barang pribadiku, jangan membawa orang asing, dan yang paling penting—jangan buat keributan."
"Wah, Bapak ini kaku sekali. Seperti kerupuk yang sudah melempem," cibirku pelan, tapi cukup keras untuk didengar.
Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah mansion yang ukurannya bahkan lebih besar dari seluruh kompleks panti asuhan tempatku tinggal. Aku turun dari mobil dengan mulut yang sedikit menganga. Ini rumah atau lapangan bola?
Saat aku melangkah masuk ke ruang tamu yang luasnya membuatku merasa seperti semut, Elio berhenti tiba-tiba, membuatku menabrak punggungnya.
"Satu lagi," ucapnya dingin sambil berbalik menatapku. "Jangan pernah berpikir untuk mendekatiku saat aku sedang bekerja. Ruangan kerjaku adalah zona terlarang."
Aku menyeringai, menatapnya dari bawah ke atas. "Zona terlarang, ya? Menarik."
"Aratala," suaranya mulai meninggi, menahan kesabaran yang sudah di ujung tanduk.
"Iya, iya, Tuan Raymond yang terhormat," kataku sambil melambaikan tangan, lalu melangkah santai menuju arah yang menurutku adalah dapur. "Daripada Bapak pusing memikirkan aturan, mending Bapak tunjukkan di mana dapur. Saya lapar sekali sejak tadi, dan jujur saja, perut saya lebih penting daripada kontrak konyol ini sekarang."
Elio hanya bisa berdiri mematung di tengah ruang tamu yang megah itu, melihat istri kontraknya yang baru saja menikah, bukannya masuk ke kamar pengantin, malah asyik mencari cemilan di dapur rumahnya.
Aku mendengar desahan napas panjangnya di kejauhan. Welcome to your new life, Elio, pikirku sambil terkikik geli. Hari pertama saja dia sudah tampak pusing, apalagi dua tahun ke depan.
🌴🌴🌴
Tunggu episode selanjutnya yaaa, heheh😅
Pagi hari di rumah Elio—atau yang lebih tepatnya kusebut 'Istana Es'—terasa sangat sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada suara anak-anak panti asuhan yang berebut sarapan, tidak ada suara kran air yang bocor, hanya ada suara detak jam dinding yang membuatku ingin mengantuk.
Sudah tiga hari sejak pernikahan "konyol" itu, dan Elio benar-benar menjalankan perannya sebagai pria dingin yang hampir tidak pernah terlihat. Dia selalu berangkat kerja sebelum matahari bangun dan pulang saat aku sudah hampir terlelap.
Aku bosan. Benar-benar bosan.
Langkahku terhenti di depan pintu kayu besar berwarna gelap di lantai dua. Ini adalah ruang kerja Elio—'Zona Terlarang' yang dia bicarakan waktu itu.
Ceklek.
Tidak dikunci.
"Wah, Bapak CEO ini ceroboh juga," gumamku sambil mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ruangan itu sangat maskulin, didominasi warna abu-abu dan hitam. Di tengahnya, ada meja kerja besar yang penuh dengan dokumen.
Aku masuk begitu saja, lalu mataku tertuju pada sebuah mesin kopi canggih di sudut ruangan. Perfect.
Aku sedang asyik bereksperimen dengan mesin kopi itu—mencoba membuat latte art yang malah terlihat seperti gambar cacing tanah—ketika pintu ruangan terbuka dengan kasar.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?"
Suara itu berat dan bergetar karena amarah. Elio berdiri di ambang pintu, kemeja kerjanya sedikit terbuka di bagian kerah, dan dia tampak baru saja menyelesaikan pertemuan online yang intens.
Aku menoleh dengan tenang, memegang cangkir kopi yang isinya tumpah sedikit ke atas dokumen pentingnya. "Selamat pagi, Pak Suami. Kopi? Saya buatkan spesial untuk menghilangkan stres Bapak."
Elio melangkah mendekat, matanya menatap dokumen yang kini terkena noda kopi cokelat. Wajahnya memerah—bukan karena malu, tapi karena menahan ledakan emosi.
"Aratala. Itu laporan keuangan kuartal ketiga yang harus aku kirim lima menit lagi," desisnya, menahan diri agar tidak berteriak.
Aku meringis melihat noda kopi itu. "Oh... ya ampun, maaf! Tapi tenang saja, tulisannya masih bisa dibaca kok. Lagipula, Bapak kan sudah kaya raya, masa cuma gara-gara noda kopi jadi hancur perusahaannya?"
"KELUAR!" teriaknya akhirnya, membuat vas bunga kecil di meja jatuh dan pecah.
Aku terdiam sejenak. Biasanya aku akan takut, tapi melihat Elio yang biasanya kaku kini kehilangan kontrol karena hal kecil seperti kopi, rasanya malah lucu. Bukannya keluar, aku malah melangkah maju, meletakkan cangkir kopi itu di atas meja yang tersisa bersih.
"Bapak tahu tidak?" kataku dengan nada suara yang melembut, sengaja mengabaikan perintahnya. "Dulu di panti, kalau saya salah, saya akan dihukum berdiri di depan tiang jemuran sampai siang. Bapak marah karena kopi ini, atau karena Bapak sebenarnya kesepian di rumah sebesar ini?"
Elio membeku. Dia menatapku tajam, tapi kali ini tatapannya bukan hanya penuh amarah, tapi juga sesuatu yang lain—sesuatu yang tampak seperti... kejutan.
"Jangan pernah mencoba membaca pikiranku, Aratala," bisik Elio dingin, tapi kali ini suaranya tidak lagi berteriak.
"Kenapa? Takut ketahuan kalau Bapak sebenarnya cuma manusia biasa?" Aku tersenyum miring, lalu berjalan mendekatinya, sengaja menabrakkan bahuku ke bahunya saat aku hendak keluar. "Oh ya, kopi tadi tambahan gula. Bapak terlalu banyak pahit dalam hidup, sekali-kali manis lah."
🌴🌴🌴
aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan menang. Di belakangku, aku bisa mendengar Elio mengumpat dengan suara rendah yang terdengar seperti raungan singa yang terluka.
Aku tidak menunggu jawaban Elio. Aku langsung ngacir menaiki tangga dengan kecepatan atlet lari, napasku sedikit memburu. Jantungku berdegup kencang—bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Berdebat dengan pria kaku seperti Elio ternyata jauh lebih menantang daripada menghadapi tumpukan cucian panti asuhan.
Sampai di lantai atas, aku membuka pintu kamar utama yang luas itu dengan bantingan pelan.
Kamar ini... sangat berbeda dengan seleraku. Dingin, minimalis, dan sangat rapi. Di tengah ruangan, ada sebuah sekat tipis yang seolah-olah menjadi tembok Berlin di antara kami. Di sisi kanan, ada kasur king size milik Elio yang selalu terlihat seperti baru dari hotel bintang lima. Di sisi kiri, ada kasur tambahan yang kupaksa Elio beli—sebuah kasur yang lebih kecil, tapi cukup nyaman untukku.
Aku langsung menghempaskan tubuhku ke kasurku, menatap langit-langit kamar dengan napas yang mulai teratur.
BRAK!
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Elio berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas yang tidak beraturan. Dia pasti baru saja membersihkan tumpahan kopi di dokumennya, dan kini dia datang untuk "mengeksekusi" aku.
Dia berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai marmer. Dia berdiri di depan kasurku, menatapku dari atas dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Apa yang kau lakukan barusan itu melewati batas, Aratala," suaranya rendah, penuh peringatan.
Aku memiringkan kepala, menatapnya tanpa rasa takut sama sekali. Aku bahkan sempat-sempatnya bermain dengan ujung bantal. "Melewati batas gimana? Saya cuma mau bertamu. Lagipula, kan kita suami istri. Masa saya tidak boleh masuk ke ruang kerja suami sendiri?"
Elio mendengus, matanya menyipit. "Kita bukan suami istri sungguhan. Dan kau tahu itu. Jangan bawa perilaku tidak sopanmu dari tempat asalmu ke dalam rumah ini."
Aku bangkit dari kasur, sengaja berdiri tepat di hadapannya sampai jarak kami sangat tipis. Aku bisa mencium aroma parfum cedarwood dan kopi yang tertinggal di kemejanya. "Memangnya kenapa kalau saya tidak sopan? Bapak terganggu? Atau Bapak sebenarnya merasa terancam karena ada orang yang tidak takut dengan wajah datar Bapak?"
Elio terdiam. Dia membuang muka, tapi tangannya yang terkepal di samping tubuh menunjukkan kalau dia sedang menahan diri mati-matian. "Besok kau harus bersiap. Ibu akan datang berkunjung."
"Oh, jadi Bapak takut dimarahi Ibu kalau saya tidak berperilaku baik?" aku terkekeh, lalu kembali menjatuhkan tubuh ke kasurku dan menarik selimut sampai sebatas leher. "Tenang saja, Pak CEO. Selama Ibu transfer uangnya tepat waktu, saya akan jadi istri paling manis di depan dia. Tapi setelah Ibu pulang... well, jangan salahkan saya kalau saya bikin kopi lagi di ruang kerja Bapak."
Elio hanya bisa berdiri mematung di sisi kasurnya, menatapku dengan tatapan seolah dia sedang menyesali keputusan hidup paling buruk yang pernah dia ambil
Elio tidak beranjak. Dia masih berdiri mematung di sana, seperti pilar yang kokoh, menatapku dengan intensitas yang tidak bisa kujelaskan. Tatapannya bukan lagi sekadar amarah; ada sesuatu yang lebih tajam, seolah dia sedang membedah setiap inchi diriku—mencari tahu apakah aku benar-benar berani, atau hanya berpura-pura.
Udara di kamar terasa mendadak tipis. Bulu kudukku meremang. Sifat cegil-ku yang biasanya berani menantang dunia, tiba-tiba ciut hanya karena tatapan mata cokelat gelapnya yang menghunjam.
Aku tidak tahan lagi. Gugup luar biasa, aku segera melompat dari kasur, hampir tersandung kaki sendiri saat buru-buru menyambar handuk.
"A-aku... aku ada kuliah pagi jadi perlu mandi!" ucapku dengan nada yang sengaja kuberikan volume ekstra keras, padahal suaraku sedikit bergetar.
Aku tidak berani menoleh ke belakang untuk melihat ekspresinya. Dengan gerakan kaku, aku melangkah lebar dan menutup pintu kamar mandi dengan bunyi klik yang cukup keras—seolah-olah pintu itu adalah perisai terakhirku dari aura intimidasi Elio.
🌴🌴🌴
Di dalam kamar mandi yang dingin dan bernuansa marmer mewah itu, aku menyandarkan punggung ke pintu. Napasku memburu. Jantungku berdegup kencang seolah baru saja lari maraton.
Bodoh, Aratala. Kenapa harus takut? Dia cuma manusia, bukan hantu! rutukku dalam hati.
Di luar pintu, aku tidak mendengar suara langkah kaki Elio yang menjauh. Dia masih di sana. Berdiri diam di depan pintu kamar mandi, membuatku merasa seolah-olah dia sedang menunggu setiap detak jantungku yang kacau.
"Kuliah pagi..." gumamku pada diri sendiri sambil menatap cermin, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan.
Aku menyalakan shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuhku, berharap itu bisa membasuh rasa gugup yang aneh ini. Tapi di kepalaku, tatapan intens Elio masih terbayang dengan jelas. Ini akan menjadi pagi yang panjang, dan entah kenapa, firasatku mengatakan kalau kuliah pagi hanyalah awal dari kekacauan yang sebenarnya.
🌴🌴🌴
Senyum miring yang sedari tadi disembunyikan Elio akhirnya terukir di wajahnya. Itu bukan senyum manis, melainkan senyum predator yang baru saja menyadari mangsanya melakukan kesalahan konyol.
Aku yang masih mematung di balik pintu kamar mandi baru tersadar saat tanganku meraba-raba dinding, mencari gantungan handuk yang seharusnya ada di sana. Nihil. Handuk itu masih tertinggal rapi di atas tempat tidurku—tepat di bawah tatapan mata elang pria itu.
Sial.
Aku memejamkan mata, merutuki kebodohanku sendiri. Kenapa tadi aku harus berakting se-drama itu?
Di luar sana, aku mendengar suara decitan halus per kasurku. Suara langkah kaki yang tenang, disusul suara gesekan kain saat Elio dengan santainya merebahkan diri. Dia tidak kembali ke kasurnya sendiri. Dia mengambil alih kasurku.
"Aratala?" suara Elio memecah kesunyian kamar, terdengar sangat santai, bahkan mungkin sedikit geli. "Sepertinya kau lupa sesuatu. Handukmu masih di sini."
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Harga diriku sedang berada di titik nadir.
"Bisa... bisa kau letakkan di dekat pintu?" suaraku merendah, kali ini tanpa nada menantang. Aku benar-benar kikuk.
"Aku tidak dengar," jawabnya enteng. Aku bisa membayangkan dia sedang menatap langit-langit kamar dengan tangan tertaut di belakang kepala. "Kau tahu, kamar mandi ini kedap suara. Kalau kau butuh bantuan, kau harus memintanya dengan cara yang benar, bukan?"
Aku menempelkan dahi ke pintu yang dingin. Cegil atau tidak, ini benar-benar memalukan.
"Elio, tolong," ucapku lebih keras, berusaha menahan kekesalan sekaligus rasa gugup yang menjalar ke seluruh tubuh. "Jangan main-main, saya harus berangkat kuliah."
"Permintaan yang bagus," balasnya dari luar. "Tapi aku sedang malas bergerak. Kecuali... ada alasan yang cukup menarik untukku beranjak dari tempat tidurmu yang nyaman ini."
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Dia sedang membalasku. Dia sedang menikmati betapa bingungnya aku di dalam sini. Ini bukan lagi sekadar soal handuk, ini soal Elio yang mulai belajar cara "menjinakkan" sifat nekatku.
Dan sialnya, aku terjebak.
🌴🌴🌴
Tunggu kedepannya yaaa🙏🏻😅
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!