Namaku Rani. Rasa syukur tak pernah berhenti ku ucapkan. Selepas lulus SMK, berbagai macam lowongan pekerjaan telah aku coba. Tak ada kata lelah dan putus asa. Selagi ada kemungkinan pasti akan aku coba. Karena apa? Karena aku hanyalah anak dari keluarga yang kurang mampu. Bapak ku hanya seorang tukang yang biasa ikut di proyek. Ibuku, hanya seorang butuh linting di sebuah pabrik rokok, demi membantu Bapak beliau rela berjibaku dengan aroma tembakau. Aku memiliki seorang adik lelaki. Kami selisih 2 tahun saja.
Dari beberapa lamaran yang aku kirim, alhamdulillah hari ini aku dapat panggilan di sebuah CV yang bergerak di bidang farmasi.
"Mbak, yakin mau kerja aja? Apa nggak kuliah aja to? Sayang loh, beasiswa nya kalau nggak di ambil!" ucap Ibu ketika kami memasak untuk sarapan dan bekal Bapak nanti.
"Nggak papa, Bu. Kerja saja, toh beasiswa juga nggak di cover seratus persen. Biar uangnya nanti buat biaya adek kuliah aja. Tahun depan dia sudah kelas tiga, harus mulai nyiapin biaya buat kuliahnya nanti. Mbak kuliahnya nanti saja, sambil kerja. Ambil kelas malam."
"Hari ini jadi datang interview?"
"Jadi, Bu. Doakan lolos ya. Mbak bisa langsung kerja."
"Iya Mbak, Ibu doakan lancar, diterima kerja, dan nanti Mbak bisa sukses. Bisa mewujudkan mimpi dan cita-cita nya Mbak."
"Aamiin... " jawabku mengaminkan doa tulus dari Ibu.
Aku hanya ingin membantu meringankan beban kedua orang tuaku. Aku juga ingin membanggakan mereka. Siapa lagi yang bisa mengubah jalan hidup jika bukan kita sendiri yang berjuang untuk sebuah perubahan. Siapa lagi yang akan membantu kita selain doa dan kuasa dari Allah.
Akhirnya tak berapa lama masakan pun siap. Setelah sarapan bersama-sama, Ibu pun segera bersiap untuk berangkat kerja. Begitupun Bapak. Sementara adikku, dia masih bisa bersantai karena hari ini dia libur setelah kemaren baru saja ada kegiatan diluar kota. Tahun ini dia masih praktek kerja di unit usaha yang dimiliki sekolahnya, layaknya siswa SMK yang ada di tingkat 2.
Akupun bersiap untuk interview kerja hari ini. Untuk sampai di tempat interview, aku harus naik angkot dulu. Tidak terlalu jauh, sekitar 3 menit perjalanan. Sepanjang jalan tak henti-hentinya ku lantunkan doa dan sholawat agar diberi kelancaran, hingga akhirnya aku pun sampai di tempat tujuan.
"Bismillah.... " aku tarik nafas dalam untuk menenangkan hati dan fikiran.
"Permisi Pak, Selamat pagi. Saya Rani. Kalau mau interview sebelah mana ya? Kemarin saya dihubungi untuk datang pagi ini." sapa ku pada Bapak-bapak yang sedang duduk di meja dekat pintu.
"Oh, iya. Pagi, silahkan duduk Mbak!" jawab Bapak-bapak itu yang ternyata adalah pemilik dari CV Pratama, tempat ku interview hari ini.
"Saya Rani, Pak" ucapku memperkenalkan diri.
"Saya Pak Wandi! Silahkan duduk!"
"Baik Pak, terimakasih."
Butuh waktu beberapa lama hingga akhirnya aku selesai interview. Beberapa pertanyaan juga bisa aku jawab dengan lancar dan meyakinkan.
"Iya, jadi.... selamat ya mbak! Besok sudah bisa mulai bekerja, nanti tugasnya di bagian gudang menyiapkan pesanan obat dari customer. Nanti lebih jelasnya Mbak Rani akan diberi tahu oleh kepala gudangnya."
"Baik Pak, terimakasih." jawabku sambil tersenyum. Setelah itu aku pamit pulang.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya aku mengucapkan rasa syukur. Aku yang hanya seorang lulusan SMK, bisa langsung bekerja setelah lulus. Akan aku buktikan pada mereka, orang yang selama ini meremehkan kami. Tanpa sadar jika sebenarnya mereka sampai pada titik itu bukan karena perjuangan mereka Tapi karena fasilitas dan juga sokongan dana dari nenek.
Ya, sejak kecil aku dan adikku mendapat perlakuan yang berbeda dari nenek. Padahal Bapak adalah anak lelaki satu-satunya. Di saat semua sepupu kami mendapat fasilitas barang-barang yang terbilang mewah saat itu, aku dan adikku tak dapat apa-apa. Saat mereka semua mendapat sokongan dana untuk kuliah dan lain sebagainya, orang tuaku harus banting tulang untuk kami agar bisa sekolah dan makan.
Itulah alasanku kenapa ingin segera bekerja. Meski berawal dari pekerja kasar saja. Tapi sebuah kebanggaan bagiku nanti saat aku bisa menghasilkan uang sendiri dan membeli barang yang aku inginkan dengan uang hasil kerja kerasku sendiri.
*****
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Suasana kerja sangat nyaman dan kekeluargaan menurutku. Insya Allah aku betah dan harus betah. Semua hal aku pelajari, semua petunjuk dari mereka yang lebih senior aku ingat.
Lelah memang, tapi aku nikmati saja. Hingga tak terasa sudah waktunya pulang. Kembali lagi harus sabar menunggu angkot.
"Assalamu'alaikum," ucapku begitu sampai di rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Bapak dan Ibu bersamaan, mereka sedang melihat televisi di ruang tamu.
"Gimana Mbak? Enak kerjanya?" tanya Ibu.
"Ya, dibuat enak mawon Bu. Biar bisa ngumpulin duit buat kuliah nanti." jawabku.
"Kalau nggak kuat, nggak usah dipaksa Mbak! Kamu bisa cari yang lain." ucap Bapak.
"Insya Allah kuat kok, Pak." jawabku agar kedua orang tuaku tenang.
"Pak, Bu... Mbak mau bersih-bersih dulu ya! Bau banget nih!" ujarku sambil terkekeh.
"Iya Mbak, habis itu langsung makan aja,"
"Njeh Bu. Bu, Azka mana?" tanyaku mencari adikku.
"Tadi keluar, dijemput si Mufid. Mau cari alat apa tadi, ga paham Ibu. Buat tugas katanya!"
"Ooo.... ya sudah Bu. Mbak bersih-bersih dulu. Tapi nggak makan, mau sholat langsung tidur aja. Tadi sebelum pulang sama bos nya disuruh makan dulu."
Ibu dan Bapak mengangguk.
Setelah bersih-bersih, segera ku rebahkan badanku yang terasa lelah. Begini rasanya kerja cari uang. Apa kabar Bapak yang bertahun-tahun berjuang demi kami. Terkadang meski sedang sakit beliau tetap memaksa berangkat, begitupun dengan Ibu.
"Ya Allah ya Kariim, berikan nikmat kesehatan untuk kedua orang tuaku. Beri mereka kekuatan, berilah rejeki yang barokah untuk kami semua. Aamiin." ucapku lirih sebelum aku benar-benar terlelap di buai mimpi.
*****
Rasanya belum puas aku tidur, tapi azan subuh sudah terdengar berkumandang. Aku segera bangun dan menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Seperti rutinitas sehari-hari, aku segera membantu Ibu memasak untuk bekal dan sarapan kami. Bekal, adalah bawaan wajib bagi kamu untuk menghemat pengeluaran saat kami beraktivitas di luar rumah.
Seharian kami berkutat dengan aktivitas kami masing-masing hingga selesai dan kembali pulang. Saat sampai di rumah, aku lihat ada tamu adikku. Kali ini perempuan, jarang sekali ada teman perempuannya yang datang ke rumah. Apalagi saat ini dia sedang PKL.
Aku masuk rumah dan mengucapkan salam saat ada di ambang pintu sambil tersenyum pada teman adikku itu. Temannya itupun balas mengangguk dan tersenyum setelah menjawab salamku. Didepan mereka entah ada rangkaian kabel apa, aku tidak paham. Segera saja aku masuk ke kamar setelah itu bersih-bersih. Rasanya badan sudah sangat lengket setelah beraktivitas seharian. Dan bau obat pun terasa menyengat karena seharian ada di sekeliling benda-benda itu. Tubuh pun rasanya lelah dan sudah ingin rebahan di atas tempat tidur karena hari ini begitu padat hingga untuk sekedar duduk santai sebentar saja tidak sempat.
Aku baru keluar beberapa saat kemudian karena merasa lapar. Ternyata teman adikku itu sudah pulang dan terlihat Azka yang sedang asyik duduk lesehan di depan Televisi dengan stik PS di tangannya. Aku segera duduk di samping adikku dengan sepiring makanan dengan sayur sederhana ala rumahan, oseng daun pepaya campur teri medan.
"Ka, Mbak mau tanya boleh?"
"Apa Mbak?"
"Cewek tadi itu pacar kamu?"
"Bukan Mbak, pacarnya Mufid. Tadi dia ada tugas, terus ada bagian rangkaian yang nggak bisa. Jadi dia bawa kesini. Si Mufid kan PKL nya di Gresik. Biasanya kan dia dibantu sama si Mufid kalau nggak bisa."
"Oh ya? Masak? Mbak nggak papa kok kalau kamu punya pacar,tapi harus bisa jaga diri. Sekolah tetep nomer satu. Jangan sibuk pacaran aja. Ingat siapa kita ini. Jangan bikin malu dan kecewa Bapak sama Ibu. Paham kamu, Dek? Satu lagi, meski masih pacaran, kamu jangan sampai jadi perusak hubungan orang! Apalagi sahabat kamu sendiri yang selama ini sudah nemenin kamu! Sakit lho rasanya."
"Iya, Mbak. By the way Anyway bus way.... Curhat ya Bu?"
"Haahhahah.....ya sudah, kamu cepet istirahat,kalau belum makan cepet makan." ucapku sambil berdiri dan membawa piring kosong dan gelas bekas aku makan dan minum tadi.
"Ingat pesan Mbak! Jangan lupa!"
Azka hanya mengangguk karena dia masih serius dengan game nya.
Bukannya aku melarang adikku untuk berpacaran. Aku hanya ingin dia fokus belajar dan tidak mengecewakan orang tua. Sudah banyak yang mereka lakukan demi kami anak-anak nya.
Beberapa tahun berlalu, akhirnya hari ini adikku lulus. Alhamdulillah dia lulus dengan nilai yang lumayan bagus dan langsung di rekrut di tempat dia magang dulu.
Setelah perdebatan panjang dan gencatan senjata dan saling diam selama beberapa hari dengan Azka karena aku kecewa dia menolak saranku untuk lanjut kuliah. Yang aku pikirkan karena dia laki-laki, aku ingin dia memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi agar lebih mudah nantinya mencari pekerjaan karena tanggung jawabnya sebagai laki-laki ke depan akan lebih besar. Setelah dia berjanji akan mengambil kelas malam seperti yang kulakukan saat ini akhirnya aku mengizinkan dia menerima tawaran kerja di tempat magangnya dulu. Ya, aku ambil saja sisi positifnya. Di tengah susahnya mencari pekerjaan, tapi justru tawaran pekerjaan itu yang datang menghampiri.
Aku teringat perjuanganku untuk bisa sampai di titik sekarang tidaklah mudah. Dari diremehkan oleh atasan, dibandingkan dengan karyawan lainnya yang notabene masih baru beberapa bulan kerja, dan saat kesempatan itu datang aku buktikan jika aku lebih baik dari mereka yang dibanggakan. Dan aku akan sangat dibutuhkan oleh mereka.
Saat ini aku dipercaya untuk menghandle beberapa tugas penting, sudah beberapa kali juga aku ditugaskan untuk mengecek beberapa kantor cabang. Tidak mudah memang, apalagi disamping aku bekerja aku juga mengambil kelas malam, melanjutkan pendidikan. Alhamdulillah beberapa bulan lagi aku akan lulus.
*****
Dddrrtt...
Ddrrrtttt.....
Suara getaran ponsel diatas meja kerja. Memang sengaja hanya aku getarkan karena aku tidak mau suaranya terlalu mengganggu, apalagi jika aku sedang melayani konsumen.
Ponsel itu hanya aku lirik, karena aku masih menerima telepon di ponsel kantor yang aku pegang. Setelah selesai, baru aku hubungi kembali.
"Hallo, assalamu'alaikum Mas!" ucapku ketika sambungan telepon terhubung.
"Wa'alaikumsalam, Dek!" jawab suara lelaki di seberang sana. Dia Daniel, lelaki yang hampir dua tahun ini menemaniku, dan menjadi penyemangat perjuanganku. Dia kakak tingkat di tempatku mengambil kuliah malam.
"Maaf Mas, tadi masih online di ponsel kantor. Ada apa Mas?" tanyaku.
"Dek, Sabtu besok jadi kan kita pergi? Berangkat lepas kamu kerja aja nggak papa," ucapnya mengingatkan.
"Astaghfirullah, maaf Mas. Aku lupa. Sabtu besok jadwal ku ke Surabaya, Mas! Nemenin Bu Bos sidak," jawabku tak enak.
"Gimana sih, Dek? Kan sudah jauh-jauh hari kita bikin rencana buat pergi camping." ucap Mas Daniel kecewa.
"Yaaa, gimana lagi Mas. Nggak mungkin juga kan aku minta di tunda. Soalnya minggu depan Bu Bos ada trip keluar." jawabku penuh sesal.
"Tapi Sabtu besok ulang tahunku lho, Dek! Tega bener! Selama ini aku nggak pernah protes kan kalau kamu lebih banyak waktu buat kerja daripada pergi liburan bareng kayak gini. Paling juga jalan-jalan biasa dan itupun nggak pernah lama." ujarnya merajuk.
"Gini deh, Mas. Sabtu depannya lagi aku ijin libur kerja. Kita pergi camping nya Sabtu depan aja. Gimana?" ucapku berusaha membujuk Mas Daniel.
"Terserah deh!" jawabnya lalu menutup sambungan telepon sepihak.
Aku hanya bisa mengelus dada, inilah sifat yang aku tidak suka dari Mas Daniel. Beberapa kali aku bicarakan, dan dia janji bakal belajar berubah. Tapi tetap saja seperti itu.
Hah, aku tarik nafas dalam dan kembali fokus lagi mengerjakan tugasku yang masih ada beberapa belum selesai.
"Ran, udah makan siang?" tanya Mas Yunus, salah satu kurir di kantor.
"Belum Mas, nanggung kurang dikit nih!" jawabku sambil terus fokus pada layar laptop.
"Pengen ngebakso nih, tapi nggak ada teman!" ucapnya sambil duduk di kursi yang ada di sebelah meja ku.
"Terus?" tanyaku. "Tinggal keluar aja kan? Kang baksonya udah buka kan jam segini?"
"Kurang banyak itu cetak faktur nya?" tanya nya lagi.
"Nggak, lima lembar lagi!" jawabku.
"Ya udah, aku tungguin deh!"
"Maksudnya?" aku mengalihkan pandangan sebentar pada lelaki yang jadi pujaan teman-teman bagian gudang ini.
"Gak peka banget ya jadi cewek?"
"Emang situ bilang ngajak makan bakso? Nggak kan? Tadi bilangnya kan pengen ngebakso! Tapi nggak ada teman,l" jawabku.
"Buruan! Aku tunggu di depan aja ya!" ucapnya lalu pergi tanpa menunggu jawaban dariku.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Bukan aku tak paham maksudnya, beberapa kali dia mengungkapkan perasaannya. Tapi aku sudah menjalin hubungan dengan Mas Daniel. Jadi, aku hanya bisa menawarkan pertemanan saja dengannya.
Setelah aku selesaikan faktur yang urgent, aku segera menyusul Mas Yunus yang ternyata masih menunggu di depan.
"Sudah?" tanya nya ketika melihat aku keluar.
"Lho, masih disini? Kirain udah menikmati lezatnya bakso Pak Mardi."
"Kan tadi udah di bilang aku tunggu di depan!"
"Mas berangkat duluan aja, aku masih mau ke toilet bentar. Segan aku kalau ntar penggemar kamu tahu kita keluar makan berdua!" ucapku sambil terkekeh pelan.
"Beneran ya! Susulin!"
"Iya bawel!"
Tak lama, aku sampai di warung bakso Pak Mardi yang terkenal enak di daerah kami. Mas Yunus melambaikan tangannya saat melihat aku berdiri di depan pintu. Aku segera menuju ke arah tempatnya duduk.
"Nih, udah aku pesenin! Kalau kurang tambah aja lagi aja."
"Udah, ini udah cukup kok!" jawabku.
Dia hanya mengangguk sambil meminum segelas jeruk hangat. Ku hembuskan nafasku, laki-laki satu ini begitu hafal dengan apa yang aku suka dan tidak aku suka. Dia begitu mengerti bagaimana aku, sangat jauh berbeda dengan Mas Daniel.
"Hish, mikir apa sih!" gumamku pelan.
"Kenapa?" tanyanya karena mendengar aku bergumam.
"Nggak papa, capek aja Mas!"
"Heh, stop!" ucapnya tiba-tiba membuat aku berhenti menyendokkan sambal ke mangkok.
"Udah ya, adek manis. Sambalnya jangan banyak-banyak!" ucapnya memperingatkan. "Mau nggak bisa bangun lagi? Gara-gara asam lambung naik kebanyakan makan pedas?" tanyanya.
Aku hanya terkekeh, teringat saat aku menghubunginya untuk ditemani ke dokter sepulang kerja. Karena saat itu aku tidak bisa menghubungi Mas Daniel. Dan posisiku masih di kantor karena lembur menyelesaikan mengecek beberapa laporan setelah sidak bersama Bu Bos ke beberapa cabang.
"Iya, iya!" jawabku sambil mengerucutkan bibir.
Kamipun menikmati bakso sambil terus ngobrol hingga tak terasa bakso dihadapan kami sudah habis. Setelah itu kami kembali ke kantor, tentu saja kami tidak masuk bersama. Karena aku yang malas menghadapi sikap random penggemar Mas Yunus. Dan dia memaklumi hal itu.
*****
Sabtu pagi aku sudah bersiap membawa beberapa baju ganti, karena jadwalnya hari ini aku akan menemani Bu Bos mengecek dua cabang yang ada di luar kota, dan rencananya kami akan menginap untuk menghemat waktu daripada harus bolak balik karena dua cabang ini ada dalam satu kota hanya beda daerah saja.
Seperti biasa, saat tiba di kantor aku langsung menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan selama di sana.
Ponselku bergetar waktu aku masih mencetak beberapa data yang akan aku gunakan agar saat tiba disana nanti aku bisa langsung bekerja, tidak perlu menunggu lagi. Kulihat ternyata Bu Bos yang menelepon.
"Pagi Cik!" Sapaku karena Bos ku orang chinesse.
"Pagi Ran! Kami ndek mana?"
"Sudah di depan Cik, masih cetak data buat nanti."
"Eh, sorry ya.... aku lali Ran, hari ini aku ada kondangan sama Pak Wandi. Ke cabang e habis aku pergi aja ya? Nggak popo kan?" tanya Bu Bos.
"Hehehe... ya nggak papa Cik, saya ngikut aja!" jawabku.
"Ya wes, maaf ya... kamu wes datang pagi tapi malah nggak jadi berangkat."
"Nggak papa Cik, kan bisa nyelesaikan kerjaan yang lain tanpa gangguan seles," jawabku.
"Ya wes, eh kamu wes sarapan belum? Tak telpon Pak Wandi ya, biar sekalian di bungkus. Orange lagi beli sarapan."
"Nggak usah Cik, terimakasih. Tadi sudah sarapan!"
"Wes, nggak papa. Lauk e biar di pisah. Kan bisa kamu buat nanti agak siang!"
"Iya Cik, makasih."
"Ya wes, tak siap-siap dulu ya!"
"Iya Cik!"
Lalu sambungan telepon terputus. Aku ingat jika hari ini Mas Daniel ulang tahun. Aku berniat memberi kejutan buat dia. Sudah dua hari ini dia tidak menghubungiku.
"Ngambek rupanya dia!" ucapku sambil terus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Aku berencana memberi sedikit kejutan buat dia nanti sepulang kerja. Kebetulan hari ini hanya setengah hari saja aku bekerja.
Waktu terus berputar, hingga tak terasa sudah waktunya pulang. Setelah selesai merapikan meja, akupun segera pulang. Tak lupa mampir ke toko kue, membeli sedikit kue untuk kejutan Mas Daniel. Aku berniat langsung mampir ke tempat kosnya saja. Malas rasanya kalau sudah sampai rumah terus keluar lagi.
Dengan ojek online yang aku pesan akhirnya aku sampai di tempat kos Mas Daniel. Tempat kos yang dia pilih memang sedikit bebas, beberapa penghuni yang aku kenal menyapa saat aku jalan menuju kamar yang ditempati Mas Daniel. Tapi meski begitu, aku tidak pernah mau masuk kamar lelaki itu jika ke sana. Kami hanya duduk di teras depan kamar yang memang disediakan kursi untuk sekedar duduk dan mengobrol.
Saat sampai di depan kamarnya, kulihat pintu tidak tertutup rapat. Namun langkahku terhenti saat kudengar sayup-sayup suara aneh dari dalam kamar. Jantungku berdetak lebih kencang, tangan ku gemetar saat memegang handle pintu kamar lelaki yang hampir dua tahun ini menjadi kekasihku. Tapi aku harus tahu sebenarnya apa yang dia lakukan. Aku teringat obrolanku dengan Mas Yunus tempo hari saat makan bakso. Karena tidak biasanya dia menanyakan hubunganku dengan Mas Daniel, dan dia juga mengingatkanku agar hati-hati. Sekarang aku baru bisa sedikit menghubungkan, apa mungkin Mas Yunus tahu sesuatu, atau mungkin dia pernah melihat Mas Daniel berbuat sesuatu di belakangku.
Ku kuatkan hati membuka pintu kamar itu, karena aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri seperti apa sebenarnya lelaki yang terlihat baik didepanku selama ini.
Rasanya badanku lemas, kakiku tak sanggup menopang lagi saat aku melihat dua orang berlainan jenis saling memagut mesra dalam keadaan telanjang di atas ranjang. Mereka sedang bercumbu dan memacu, mengejar kepuasan dunia.
"Mas!" ucapku lirih tapi masih dapat di dengar. Mas Daniel yang membelakangiku segera menoleh. Kami semua sama-sama terkejut, apalagi saat aku melihat wanita yang ada di bawah kungkungan Mas Daniel. Dia Yunita, teman baikku selama kuliah. Kami sama-sama mengambil kelas malam.
Kutahan air mata yang akan menetes, ku tahan semua rasa sakit di dada. Aku tidak mau terlihat lemah di depan mereka.
"Maaf, aku ganggu kalian! Aku cuma mau antar ini buat kamu Mas. Selamat ulang tahun ya! Dan, terimakasih untuk kejutan yang kalian berikan!" ucapku.
Lalu aku pergi meninggalkan mereka yang mungkin masih syok dengan kedatanganku. Karena setahu mereka aku sedang pergi keluar kota bersama bos ku.
Sedih memang, kecewa, marah. Semua rasa itu jadi satu. Aku ingin menangis, tapi terasa sayang jika air mata ini jatuh hanya untuk lelaki seperti dia. Sambil sedikit berlari, aku pergi dari tempat kos itu. Aku baru berhenti di sebuah taman yang tak jauh dari tempat kos Mas Daniel. Aku duduk di sana sekedar menenangkan diri.
Kuabaikan panggilan telepon dari Mas Daniel ataupun Yunita. Aku sangat bersyukur, aku tahu semua ini sekarang. Sebelum hubungan kami lebih serius lagi. Selama ini aku memang membatasi hanya sekedar pegangan tangan saja, paling jauh hanya cium kening.
Aku melihat lagi layar ponsel, banyak notif panggilan dari dua orang yang saat ini tidak ingin aku temui. Jariku menari di atas layar ponsel mencari kontak seseorang.
"Assalamu'alaikum!" jawab lelaki di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam, Mas dimana?" tanyaku.
"Baru kelar kirim ini, kenapa? Kamu sakit lagi? Masih di kantor?" tanya Mas Yunus.
"Nggak, Mas. Mas, bisa minta tolong jemput aku di taman kunang-kunang?"
"Iya!" jawabnya. "Kamu nggak papa, Ran? Kamu habis dari tempat pacarmu itu?"
"Aku tunggu ya, Mas!" ucapku tanpa menjawab pertanyaannya.
******
Assalamu'alaikum!" jawab lelaki di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam, Mas dimana?" tanyaku.
"Baru kelar kirim ini, kenapa? Kamu sakit lagi lagi? Masih di kantor?" tanya Mas Yunus.
"Nggak, Mas. Mas, bisa minta tolong jemput aku di taman kunang-kunang?"
"Iya!" jawabnya. "Kamu nggak papa, Ran? Kamu habis dari tempat pacarmu itu?"
"Aku tunggu ya, Mas!" ucapku tanpa menjawab pertanyaannya.
Beberapa lama kemudian, aku melihat sebuah motor berhenti tak jauh dari tempatku duduk. Seorang lelaki dengan postur tinggi dan kulit bersih turun dari motor sambil membawa ransel. Dia berjalan ke arahku, lalu duduk di sampingku. Dia melihat tajam ke arahku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Apa Mas tahu sesuatu yang aku tidak tahu selama ini?" tanyaku.
Dia hanya tersenyum tipis sambil mengulurkan sebotol air mineral yang sudah dia buka segel nya untukku.
"Kenapa nggak ngomong aja Mas?" aku kembali bertanya.
"Kalau aku cerita, kira-kira apa kamu bakal percaya? Apalagi, aku yang sudah beberapa kali menyatakan perasaanku sama kamu. Apa yang sudah kamu ketahui?"
Aku kembali menghela nafas, "Mereka lagi asik main kuda-kudaan pas aku datang tadi." jawabku. Sedangkan air mata masih saja setia menetes dari ujung mataku.
"What? Aku nggak nyangka kalau mereka sejauh itu. Aku cuma pernah lihat mereka makan bareng di cafe punya temen aku. Dan dari gestur mereka, aku bisa menyimpulkan kalau hubungan mereka bukan cuma teman biasa. Itu aja, makanya kemaren aku bilang sama kamu, hati-hati, jaga diri, jaga hati."
"Nangis aja sekarang sepuasnya, tapi kamu mesti janji ini terakhir kamu nangisin lelaki kadal buntung macam dia. Kalau mau pinjam bahu atau dada buat bersandar, nih.... siap dua puluh empat jam macam UGD rumah sakit!" ucapnya sambil menaikturunkan alisnya dan menepuk bagi juga dadanya.
"Apaan sih!" jawabku sambil tersenyum dan menghapus air mata.
"Kamu nggak jadi ikut sidak?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepalaku. "Ntar habis bu bos pergi. Orang nya lupa kalau hari ini ada kondangan." jawabku.
"Mas mau kemana?" tanyaku saat melihat ada matras yang terselip di ransel yang dia bawa.
"Mau camping sama teman-temanku. Kenapa? Mau ikut?"
Aku diam sejenak. "Emang boleh?"
"Boleh aja kalau kamu mau. Ada ceweknya juga kok. Nggak cuma cowok aja!"
"Aku telpon Ibu dulu ya, ijin dulu sama Ibu."
Dia menganggukkan kepalanya.
Aku segera menelepon Ibu, meminta izin untuk ikut camping. Ibu mengizinkan, akupun berpesan untuk tidak mengatakan hal ini ke Mas Daniel jika dia datang mencariku. Aku berjanji akan menceritakan semua pada Ibu nanti setelah pulang camping.
"Let's Go! Kita have fun!"
"langsung ini? Kamu nggak pulang dulu?"
"Nggak usah, nih udah bawa baju ganti kok tadi. "
"Makan dulu tapi ya! Lapar, tadi nggak sempat makan aku!" ajak Mas Yunus.
"Boleh,"
*****
Minggu sore, aku baru pulang camping. Lumayan buat menyegarkan otak yang sempat stres karena pekerjaan, juga hati yang sakit karena ulah mantan. Mas Yunus mengantarku sampai rumah. Setelah istirahat beberapa lama, diapun pamit pulang.
"Mbak, sebenarnya ada apa?" tanya Ibu.
Aku terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Ibu. Mengambil nafas beberapa kali lalu mulai bercerita.
"Hem, Sabtu kemaren harusnya jadwal kunjungan ke cabang sama tacik kan, Bu. Nah, ternyata nggak jadi soalnya tacik ada undangan nikahan kolega nya Pak Bos di luar kota juga. Terus, kemaren itu juga ulang tahun nya Mas Daniel. Jadi aku ada rencana mau datang bikin kejutan buat dia. Nyampe sana malah aku yang dapat kejutan, Bu!" aku mulai menceritakan semua kejadian yang aku alami saat itu.
"Alhamdulillah, semua ditunjukkan sebelum kalian masuk ke jenjang yang lebih serius lagi, mbak."
"Iya, Bu! Mereka ada datang ke rumah nggak Bu?"
"Nggak ada tuh, mbak.. Nggak tahu kalau nanti. Ponsel kamu masih belum kamu aktifkan?"
"Belum Bu, habis baterai. Habis ini baru mau aku charge."
"Ya sudah, nggak usah terlalu dipikir. Emang belum jodoh. Nanti juga bakal ketemu sama yang terbaik."
"Aamiin..... " jawabku. "Bu, aku istirahat dulu ya, nanti misal Mas Daniel apa Yunita kesini, Ibu bangunin aja nggak papa."
"Iya mbak, udah sana istirahat. Besok kerja kan?"
"Njeh Bu," jawabku lalu berdiri dan masuk kamar. Kurebahkan diri, sambil mendengar lantunan sholawat. Hingga akhirnya aku tertidur.
Setelah magrib, terdengar suara Ibu mengetuk pintu kamar. Segera kulepas mukena dan melipatnya lalu kuletakkan di atas rak.
"Njeh, Bu?" tanyaku setelah membuka pintu kamar.
"Ada Daniel di depan." jawab Ibu singkat.
"Njeh, Bu. Matur nuwun." jawabku lalu melangkah ke ruang tamu.
Kulihat seorang lelaki duduk di kursi di teras depan. Dia menunduk, entah apa yang dia pikirkan.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Ran," ucapnya sambil berdiri mendekat.
Aku mengangkat tanganku, mengisyaratkan agar dia tetap di tempatnya. Setelah itu, aku melangkah duduk di kursi yang ada di sampingnya berbatas meja kecil. Aku diam, masih terasa enggan untuk memulai percakapan dengan Mas Daniel.
"Ran, Mas mau minta maaf soal yang kemaren." ucapnya lirih.
"Mulai kapan?" tanyaku dengan tatapan lurus ke depan melihat bunga-bunga milik Ibu yang ada di teras. Bayangan mereka di kamar kembali berputar dalam ingatanku, membuat aku enggan menatap wajah lelaki yang saat ini menatap sendu padaku.
"Hampir enam bulan ini," jawabnya lirih.
"Oke, boleh aku kasih saran?"
"Ran...?" pintanya
"Mas, sebelumya aku mau bilang terimakasih. Hampir dua tahun ini sudah menemani aku berjuang mewujudkan impianku. Kalau boleh aku kasih saran, segeralah kalian menikah. Jangan terlalu lama larut dalam zinah. Aku.. "
"Tapi Ran, aku sayang dan cintanya sama kamu! Aku minta maaf, aku khilaf Ran. Kita mulai lagi dari awal ya! Please!" ucapnya.
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Oke, kita mulai dari awal!"
"Terimakasih, sayang!" ucapnya memotong sambil meraih tanganku.
Secara kutarik tanganku. Sungguh, aku sudah tidak ingin bersentuhan dengannya. "Tunggu Mas, yang ku maksud dari awal itu adalah benar-benar awal. Saat kita belum saling mengenal. Jadi, Mas paham kan, dengan apa yang aku maksudkan?"
"Ran... " ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.
"Mas, please! Sudah ya, aku capek! Besok aku kerja. Jadi maaf, aku mau masuk dulu. Kalau Mas masih mau duduk disini, monggo silahkan. Tapi Maaf, aku nggak bisa menemani. " jawabku lalu berdiri dan berlalu pergi.
Tidak mudah bagiku menerima kembali pengkhianatan mereka. Mungkin tidak akan terlalu sakit jika perempuan itu bukan Yunita, dikhianati oleh orang terdekat itu adalah sesuatu yang sangat amazing buatku. Tapi aku harus belajar ikhlas menerima. Mungkin memang bukan jodoh, sekuat apa aku menggenggam, pasti akan terlepas. Sekuat aku tak memandang, jika sudah jodoh dia pasti akan datang.
*****
"Bismillah," ucapku saat akan berangkat bekerja.
"Mbak," panggil Azka dari pintu teras. "Nebeng ya! Lagi males jalan, motor ku ada di kantor." ucapnya. Tempat kerja Azka memang terbilang tak terlalu jauh jika jalan lewat jalan kampung, tapi capek juga jika harus jalan kaki.
"Lah, emang kemaren pulang jam berapa dari luar kota?"
"Jam sebelas, kan bawa mobil. Aku minta langsung turun depan rumah aja."
"Iya, buruan gih!"
Azka lalu kembali masuk rumah mengambil tasnya.
Setelah mengantar Azka, segera ku pacu motor membelah jalan raya yang mulai ramai. Setelah kurang lebih dua puluh menitan akhirnya aku sampai juga. Tapi aku heran, saat sampai di meja yang biasa aku gunakan, aku menemukan dua batang coklat tergeletak di atas meja. Ada memo yang menempel di sana.
"Keep smile cantik, "
Aku tersenyum membaca memo itu. Siapa lagi, pasti Mas Yunus. Tumben sekali, belum jam delapan tapi dia sudah sampai kantor.
Kuambil ponsel, lalu aku cari kontak Mas Yunus.
"Assalamu'alaikum, Mas!" ucapku ketika telepon terhubung.
"Wa'alaikumussalam,"
"Mas, ada naruh coklat di meja?" tanyaku to the point.
"Hahahha.... bisa langsung ketebak ya?"
"Tulisan tanganmu kayak cakar ayam!" ucapku sambil terkekeh. Padahal tulisan tangannya terbilang rapi untuk ukuran cowok. "Lagi dimana?"
"Ngopi di bawah Cherry!" ucapnya.
"Nitip beliin sarapan ya!" ucapku malu.
"Iya, mau beli apa?"
"Somay di sebelah udah buka belum? Kalau udah itu aja. Kalau belum buka, apa aja deh terserah."
"Eh, nggak ada yang jual sarapan terserah disini ya!" ucapnya tertawa.
"Mas! Please deh, laper ini! Belum sarapan aku tadi di rumah."
"Ciyyyeee, yang patah hati jadi malas makan kayaknya! Awas ntar tambah ramping itu badan! Kayak triplek, nggak ada enak-enaknya kalau dipeluk!"
"Heh! Pagi-pagi udah mesum aja!"
Mas Yunus hanya tertawa menanggapi. "Ya, tunggu ya. Habis ini balik ke kantor kok!"
"Makasih Mas!"
"Sama-sama sayaang!" lalu dia mematikan sambungan sepihak. Rupanya dia hapal aku pasti akan mengomel karena ulah jahilnya itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!