Bab 01
“Ibu cuma perlu bertemu sekali. Pak Burhan orang baik. Dia punya rumah, punya usaha, dan yang paling penting, dia bersedia bantu modal proyekku.”
Maya Lestari baru saja melepas sepatu karetnya di depan pintu ketika kalimat itu dilemparkan Dimas ke wajahnya.
Di ruang tamu kecil rumah lama mereka, kipas angin berputar pelan. Suaranya berdecit, seperti ikut lelah mendengar percakapan yang sejak tadi sudah membuat dada Maya sesak.
Di atas meja, ada map cokelat.
Dimas mendorong map itu ke arahnya.
“Ini biodatanya. Besok sore Ibu ikut aku ke restoran. Jangan bikin malu.”
Maya menatap anak laki-lakinya lama.
Anak yang dulu ia gendong sambil berjualan nasi bungkus di depan pabrik. Anak yang ia sekolahkan dengan uang hasil mengepel lantai hotel, mencuci baju tetangga, dan kerja malam di minimarket. Anak yang pernah menangis karena tak punya sepatu baru saat masuk SMP, lalu Maya diam-diam menjual gelang peninggalan ibunya.
Sekarang anak itu duduk di hadapannya dengan kemeja mahal, jam tangan mengilap, dan wajah yang lebih mirip orang asing.
“Dimas,” ucap Maya pelan, “Ibu sudah lima puluh tahun.”
“Lalu kenapa?” Dimas menyandarkan punggung. “Justru itu. Di usia Ibu sekarang, siapa lagi yang mau bertanggung jawab? Pak Burhan masih mau menerima Ibu. Harusnya Ibu bersyukur.”
Maya merasa ada sesuatu yang patah di dalam dadanya.
“Ibu tidak mencari suami.”
“Ibu juga tidak bisa terus hidup sendirian,” sahut Dimas cepat. “Orang-orang ngomong. Tetangga ngomong. Ibu kerja sampai malam, pulang sendirian, rumah ini makin tua. Kalau nanti Ibu sakit, siapa yang urus?”
“Selama ini Ibu sakit pun Ibu urus sendiri.”
Wajah Dimas mengeras.
Dari arah dapur, Vina keluar sambil membawa gelas jus. Istri Dimas itu memakai daster sutra, rambutnya dijepit asal, tapi gelang emas di tangannya tetap sengaja terlihat.
“Bu Maya, Mas Dimas ini cuma memikirkan kebaikan Ibu,” katanya dengan senyum tipis. “Pak Burhan memang sudah duda, tapi hidupnya mapan. Daripada Ibu kerja jadi cleaning service terus, lebih baik ada yang nafkahi.”
Maya menoleh kepadanya.
Vina jarang memanggilnya Ibu dengan hangat. Biasanya hanya kalau ada tamu atau kalau sedang butuh sesuatu.
“Kamu tahu siapa Pak Burhan itu?” tanya Maya.
Vina mengangkat bahu. “Pengusaha kontraktor. Kenal Papa. Orangnya tegas.”
Tegas.
Maya hampir tertawa.
Ia pernah melihat laki-laki itu dua kali di acara keluarga Vina. Perutnya besar, jalannya pincang, matanya selalu berhenti terlalu lama pada tubuh perempuan. Waktu itu ia bahkan pernah memegang lengan pembantu di rumah Bu Ratna, ibu Vina, sambil tertawa keras.
Orang seperti itu disebut tegas oleh keluarga mereka.
“Kalau begitu, kenapa bukan kamu yang menikah dengan dia?” Maya bertanya.
Wajah Vina langsung berubah.
“Ibu jangan kurang ajar.”
Dimas menghentakkan tangan ke meja. “Jaga ucapan Ibu!”
“Ibu hanya bertanya.”
“Vina istriku. Dia masih muda. Dia ibu dari anakku.” Dimas menatap Maya dengan mata dingin. “Ibu ini sudah tua. Jangan samakan diri Ibu dengan dia.”
Kipas angin terus berputar.
Maya memandang anaknya. Lama sekali.
Ia ingin marah, tapi yang keluar justru rasa lelah. Lelah yang menumpuk sejak bertahun-tahun lalu. Sejak ia mengubur suaminya, sejak ia menolak menikah lagi karena takut Dimas merasa tersisih, sejak ia menahan lapar agar anaknya bisa ikut les, sejak ia menerima hinaan keluarga Vina karena tak membawa harta saat anaknya menikah.
“Jadi menurutmu,” suara Maya bergetar, “Ibu pantas diberikan kepada laki-laki yang bahkan tidak Ibu kenal, hanya karena Ibu sudah tua?”
“Jangan dramatis.” Dimas memalingkan wajah. “Ini bukan diberikan. Ini kesempatan.”
“Kesempatan untuk siapa?”
Dimas diam.
Maya menatap map cokelat itu.
“Untuk proyekmu?”
Rahang Dimas bergerak.
Vina buru-buru menaruh gelas ke meja. “Bu, semua keluarga saling membantu. Papa sudah banyak bantu Mas Dimas. Sekarang ada peluang besar, tapi butuh modal awal. Pak Burhan bersedia masuk, asal hubungan keluarga kita dekat.”
“Hubungan keluarga?” Maya mengulang pelan.
“Kalau Ibu menikah dengan Pak Burhan, semuanya jadi lebih mudah,” jawab Vina.
Maya tiba-tiba merasa rumah itu terlalu sempit. Dinding yang dulu ia cat sendiri sebelum Dimas masuk SD, kursi kayu yang ia beli bekas dari tetangga, lemari kecil berisi foto almarhum ibunya, semua seperti menyaksikan ia sedang ditawar.
“Kalian mau menjual Ibu.”
“Astaghfirullah, Bu!” Vina menutup mulut, tapi matanya menyala marah. “Bahasanya kok kejam sekali? Kami ini anak dan menantu. Kami tidak mungkin menjual Ibu.”
Dimas berdiri.
“Kalau Ibu mau menyebutnya begitu, terserah. Tapi aku butuh uang itu.”
Maya mendongak.
“Untuk pertama kalinya kamu jujur.”
“Aku capek, Bu.” Suara Dimas meninggi. “Aku capek dianggap menantu miskin di keluarga Vina. Aku capek diremehkan Papa mertua. Aku capek kerja siang malam tapi masih dianggap numpang hidup. Satu proyek ini bisa mengubah semuanya.”
“Dan Ibu harus menjadi bayarannya?”
“Ibu sudah membesarkanku. Bukankah dari dulu Ibu bilang hidup Ibu untuk aku?”
Kalimat itu menampar lebih keras daripada bentakan.
Maya ingat dirinya sendiri, bertahun-tahun lalu, memeluk Dimas kecil yang demam dan berkata, “Selama Ibu hidup, hidup Ibu untuk kamu.”
Ia tidak pernah menyangka kalimat seorang ibu bisa dipakai anaknya sebagai tali untuk menjerat lehernya.
“Dimas,” Maya berkata pelan, “seorang ibu berkorban karena sayang. Bukan karena ingin dijadikan barang.”
Dimas mendengus. “Ibu selalu berlebihan.”
“Tidak.” Maya menarik napas. “Kali ini Ibu waras.”
Vina melipat tangan. “Kalau Bu Maya menolak, bagaimana dengan rumah ini?”
Maya menoleh cepat.
Vina tersenyum kecil.
“Mas Dimas juga punya hak sebagai anak. Rumah ini memang atas nama Ibu, tapi nanti jatuhnya juga ke Mas Dimas. Daripada dibiarkan reyot, lebih baik dijual atau diagunkan.”
Maya berdiri begitu cepat sampai lututnya hampir goyah.
“Jangan sentuh rumah ini.”
“Bu, jangan keras kepala,” kata Dimas. “Rumah ini tidak menghasilkan apa-apa.”
“Rumah ini peninggalan ibuku.”
“Nenek sudah meninggal lama.”
“Dan rasa malumu juga sudah meninggal rupanya.”
Mata Dimas membesar.
Untuk sesaat, ia seperti tidak percaya ibunya bisa bicara begitu.
Maya mengambil map cokelat itu, membukanya, lalu melihat foto Pak Burhan yang dicetak di halaman pertama. Laki-laki itu tersenyum dengan gigi kuning dan mata penuh nafsu.
Tangannya gemetar.
Ia merobek kertas itu menjadi dua.
Vina terpekik. “Bu Maya!”
Dimas maju selangkah. “Ibu gila?”
Maya melempar sobekan itu ke meja.
“Besok Ibu tidak akan datang.”
“Ibu akan datang.” Dimas menunjuk wajahnya. “Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau rumah ini tidak lagi aman untuk Ibu tinggali.”
Maya menatap telunjuk anaknya.
Dulu jari kecil itu menggenggam jarinya ketika belajar berjalan. Sekarang jari yang sama mengancamnya.
“Keluar dari rumah Ibu,” ucap Maya.
Dimas terdiam.
“Apa?”
“Keluar.”
Vina tertawa sinis. “Mas, dengar? Ibumu mengusir anak sendiri.”
“Ibu yang mengusir anaknya,” kata Maya, “atau anaknya yang lebih dulu membuang ibunya?”
Wajah Dimas memerah.
Ia menyambar kunci mobil di meja. Vina ikut mengambil tas kecilnya. Sebelum keluar, Dimas berhenti di ambang pintu.
“Besok sore aku jemput. Ibu boleh marah sekarang. Tapi dari kecil sampai sekarang, Ibu selalu menuruti aku.”
Maya tidak menjawab.
Pintu ditutup keras.
Rumah mendadak sunyi.
Maya berdiri di tengah ruang tamu, menatap sobekan foto di meja. Tangannya masih gemetar. Tapi air matanya tidak jatuh.
Ia takut kalau sekali menangis, ia tidak akan bisa berhenti.
Di luar, suara motor tetangga lewat. Dari kejauhan terdengar azan magrib.
Maya memejamkan mata.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak mendoakan Dimas agar sukses.
Ia hanya berdoa agar besok ia masih punya cukup keberanian untuk tidak dijual oleh anaknya sendiri.
Bab 02
Maya tidak tidur malam itu.
Setiap kali matanya terpejam, wajah Dimas muncul. Bukan wajah bayi yang dulu tertidur di dadanya, melainkan wajah laki-laki dewasa yang menunjuknya seperti menagih utang.
Pukul lima pagi, ia sudah bangun.
Rumah masih gelap. Lampu dapur berkedip-kedip. Maya menanak nasi sedikit, memasak telur dadar, lalu memasukkan sebagian ke kotak makan. Ia tidak lapar, tapi tubuhnya butuh tenaga. Hari itu ia mendapat jadwal tambahan di Hotel Mahardika, hotel bintang lima di kawasan Sudirman.
Biasanya ia senang dapat shift di hotel itu. Upahnya lebih baik, tips tamu kadang lumayan, dan mandornya tidak terlalu cerewet selama pekerjaan rapi.
Tapi pagi itu, kakinya terasa berat.
Sebelum berangkat, ia mengunci pintu dua kali. Lalu tiga kali. Ancaman Dimas tentang rumah masih menempel di kepalanya.
“Maya?”
Suara itu datang dari pagar sebelah.
Sari, tetangganya sekaligus sahabat lamanya, keluar sambil membawa keranjang cucian. Perempuan itu beberapa tahun lebih muda, tapi wajahnya tampak lebih tua karena hidup dengan suami pemarah.
“Kamu pucat,” kata Sari. “Dimas datang kemarin?”
Maya memaksakan senyum. “Sebentar saja.”
Sari menatapnya curiga. “Sebentar tapi bikin wajahmu seperti orang habis jatuh dari tangga?”
Maya menggeleng. “Nanti saja ceritanya. Aku takut telat.”
Sari menahan lengannya. Di pergelangan tangan Sari ada lebam biru yang disembunyikan gelang plastik.
Maya langsung lupa pada urusannya sendiri.
“Sari, itu kenapa?”
Sari menarik tangan. “Kena pintu.”
“Pintu yang mana? Pintu rumahmu bisa mabuk dan memukul orang?”
Sari tertawa kecil, tapi matanya basah. “Sudahlah. Kamu juga banyak pikiran.”
Maya ingin memaksa, namun jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu berangkat. Ia hanya menggenggam tangan Sari sebentar.
“Kalau dia memukulmu lagi, lari ke rumahku.”
“Rumahmu sendiri aman?” tanya Sari pelan.
Maya tidak menjawab.
Di bus TransJakarta yang penuh, Maya berdiri sambil memegang tiang. Bau parfum, keringat, dan kopi bercampur. Ia mencoba mengosongkan kepala, tapi kata-kata Dimas tetap mengejarnya.
Ibu sudah tua.
Siapa lagi yang mau bertanggung jawab?
Hidup Ibu untuk aku.
Ketika sampai di hotel, ia langsung berganti seragam. Kemeja biru muda dan celana hitam itu sudah mulai pudar, tapi Maya selalu mencucinya bersih. Ia tidak punya banyak hal yang bisa dibanggakan, jadi ia menjaga pekerjaannya sebaik mungkin.
“Bu Maya,” panggil Pak Rudi, supervisor lantai. “Hari ini lantai dua puluh tiga. Ada tamu VIP checkout mendadak. Cepat, ya.”
“Baik, Pak.”
Maya mengambil troli.
Lantai dua puluh tiga lebih sunyi dari lantai biasa. Karpetnya tebal, lampunya hangat, dan lorongnya harum mahal. Maya membersihkan satu kamar, lalu kamar berikutnya. Punggungnya mulai pegal, tapi ia tidak berhenti. Ia terbiasa bekerja sambil menahan sakit.
Menjelang sore, Pak Rudi datang ke ruang staf.
“Bu Maya, kamu belum minum dari tadi?”
Maya terkejut melihatnya menyodorkan botol air mineral.
Pak Rudi jarang bersikap ramah. Biasanya ia hanya memberi perintah, lalu pergi.
“Terima kasih, Pak. Saya bawa minum sendiri.”
“Ambil saja. Dari manajemen.” Pak Rudi tersenyum. Senyumnya terlalu lebar. “Katanya pekerjaanmu rapi. Kalau performa begini terus, kontrakmu bisa diperpanjang. Mungkin nanti juga didaftarkan BPJS dari vendor baru.”
Maya menatap botol itu.
BPJS.
Kontrak diperpanjang.
Dua hal yang selama ini ia harapkan.
“Benar, Pak?”
“Kamu pikir saya bercanda?” Pak Rudi membuka tutup botol itu, lalu menyerahkannya. “Minum. Setelah itu tolong bersihkan suite 2301. Tamu penting baru keluar. Jangan sampai ada noda.”
Maya ragu sebentar.
Tapi tenggorokannya memang kering. Seharian ia hanya minum sedikit agar tidak bolak-balik ke toilet.
Ia meneguk air itu.
Pak Rudi memperhatikan sampai botolnya turun dari bibirnya.
“Bagus. Cepat ke atas.”
Maya tidak sempat memikirkan keanehan itu.
Suite 2301 luasnya hampir sama dengan seluruh rumahnya. Ada ruang tamu, kamar tidur besar, kamar mandi marmer, dan jendela tinggi yang menghadap gedung-gedung Jakarta. Ia baru saja mengganti seprai ketika kepalanya terasa ringan.
Awalnya ia mengira karena kurang tidur.
Lalu panas muncul dari perutnya.
Maya berhenti. Tangannya mencengkeram pinggir ranjang.
“Ya Allah…”
Napasnya pendek. Pandangannya berputar. Ia meraih ponsel, tapi jari-jarinya gemetar. Keringat dingin keluar di tengkuknya, sementara kulitnya justru terasa terbakar.
Pintu kamar terbuka.
Pak Rudi berdiri di sana.
“Bu Maya? Kamu tidak apa-apa?”
Maya mundur setengah langkah. Entah kenapa, melihat wajahnya membuat rasa takut naik ke tenggorokan.
“Saya… saya mau ke klinik.”
“Tidak perlu. Kamu cuma kecapekan.”
Pak Rudi mendekat.
Maya memaksa kakinya bergerak. Ia melewati Pak Rudi dan keluar ke lorong. Langkahnya tidak lurus. Ia mendengar Pak Rudi mengumpat pelan di belakang, lalu suara sepatu mengejarnya.
Lift di ujung lorong terbuka.
Maya masuk tanpa melihat angka.
Pintu menutup tepat sebelum Pak Rudi sampai.
Di dalam lift, ia menekan tombol sembarangan. Tubuhnya semakin panas. Ia menggigit bibir sampai terasa asin. Jangan pingsan. Jangan jatuh di lorong. Jangan kembali ke kamar itu.
Lift berhenti di lantai tiga puluh.
Pintu terbuka.
Maya keluar dengan langkah terhuyung. Lantai ini lebih sepi. Tidak ada troli, tidak ada staf. Hanya lorong panjang dan pintu-pintu suite dengan nomor emas.
Ia ingin mencari tangga darurat, tapi pandangannya kabur.
Sebuah pintu di depannya terbuka sedikit.
Maya mendorongnya, masuk, lalu menutup pintu. Ia hanya butuh tempat bersembunyi sebentar. Hanya sebentar sampai kepalanya jernih.
Ruangan itu gelap.
Aroma kayu, sabun mahal, dan sesuatu yang maskulin memenuhi hidungnya.
“Siapa?”
Suara laki-laki rendah membuat Maya membeku.
Lampu samping menyala.
Seorang pria berdiri di dekat jendela. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, kemeja putihnya terbuka di bagian kerah. Wajahnya tajam dan dingin, tapi matanya tidak setenang suaranya. Ia seperti orang yang juga sedang menahan sesuatu.
Maya mundur.
“Maaf… saya salah kamar.”
Pria itu menatap seragamnya, lalu wajahnya yang basah keringat.
“Kamu staf hotel?”
Maya mengangguk. “Saya akan keluar.”
Ia berbalik, tapi lututnya lemas.
Pria itu bergerak cepat menangkap lengannya.
Sentuhan itu seperti api.
Maya tersentak, tapi bukannya menjauh, tubuhnya justru goyah ke arahnya. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak mampu mengendalikan reaksi itu.
Mata pria itu menggelap.
“Kamu diberi sesuatu?”
Maya ingin menjawab. Ia ingin mengatakan nama Pak Rudi. Ia ingin meminta tolong. Tapi lidahnya kaku, napasnya pecah, dan kepalanya dipenuhi panas yang memalukan.
“Tolong…” hanya itu yang keluar.
Pria itu mengangkat ponsel, seolah hendak menelepon seseorang. Namun pada saat yang sama, tubuhnya sendiri limbung. Ia mencengkeram meja, rahangnya mengeras.
Maya melihat gelas kristal di meja dekatnya. Sisa minuman berwarna keemasan.
Mereka berdua dijebak.
Kesadaran itu datang terlambat.
Pria itu menatap pintu, lalu menekan kunci elektronik dari dalam. Suaranya lebih serak ketika berkata, “Jangan keluar. Di luar mungkin ada orang yang menunggu.”
Maya mengangguk, tapi tubuhnya tidak menurut.
Ia jatuh ke dadanya.
Pria itu menahan napas.
“Dengar.” Tangannya mencengkeram bahu Maya, mencoba memberi jarak. “Kalau aku menyentuhmu sekarang, aku mungkin tidak bisa berhenti.”
Maya menangis tanpa suara.
Ia tidak tahu apa yang ia lakukan. Ia hanya tahu tubuhnya sakit, kepalanya kacau, dan di antara semua rasa takut itu, lengan pria asing ini terasa seperti satu-satunya tempat yang tidak menyerahkannya kepada orang jahat.
“Jangan panggil Pak Rudi,” bisiknya.
Nama itu membuat mata pria itu menajam.
“Siapa Rudi?”
Maya tidak sempat menjawab.
Panas itu menariknya jatuh lebih dalam.
Malam berlalu dalam potongan-potongan kabur. Suara hujan di kaca. Napas berat. Jemari yang mencoba menahan, lalu menyerah. Pria itu beberapa kali bertanya apakah ia sadar, apakah ia ingin berhenti, apakah ia terluka. Maya hanya ingat ia menggenggam kemejanya dan memanggil Tuhan di antara rasa takut dan rasa asing yang tidak bisa ia jelaskan.
Ketika pagi datang, Maya terbangun oleh cahaya pucat.
Tubuhnya sakit.
Seprai putih kusut. Kemeja pria itu tergeletak di lantai. Di sampingnya, pria itu masih tidur, wajahnya separuh tertutup bayangan. Pada lehernya, dekat jakun, ada bekas gigitan merah.
Maya menutup mulut.
Ingatan malam tadi menghantamnya sedikit demi sedikit.
Ia bangun dengan gemetar, memungut seragamnya, lalu berpakaian secepat mungkin. Ponselnya mati. Kepalanya masih pening, tapi ia harus pergi sebelum pria itu bangun.
Di meja, ada kartu nama.
Raka Wijaya.
CEO Wijaya Group.
Maya tidak tahu siapa dia, tapi nama itu terasa terlalu jauh dari hidupnya.
Ia keluar dari suite dengan langkah tertatih.
Di lorong kosong, ia menahan tangis.
Semalam anaknya ingin menyerahkan ia kepada laki-laki tua demi uang.
Dan malam itu juga, takdir melemparkannya ke ranjang laki-laki asing yang bahkan namanya baru ia baca setelah semuanya terjadi.
Bab 03
Sore berikutnya, Dimas benar-benar datang.
Maya baru pulang dari laundry tempat ia mengambil kerja tambahan. Tubuhnya masih sakit, kepalanya terasa berat, dan setiap kali ia mengingat kamar hotel itu, wajahnya panas karena malu. Ia belum sempat memproses apa pun. Belum sempat menangis dengan benar. Belum sempat mencari Pak Rudi untuk menuntut jawaban.
Mobil Dimas sudah berhenti di depan rumah.
Vina duduk di kursi penumpang, memakai kacamata hitam besar. Di belakang, dua laki-laki berbadan besar menunggu dengan tangan terlipat.
Maya berhenti di pagar.
“Untuk apa mereka?”
Dimas turun. Wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
“Biar Ibu tidak bikin drama di jalan.”
“Dimas, Ibu sudah bilang tidak mau.”
“Dan aku sudah bilang Ibu akan ikut.”
Maya menatap orang-orang di gang. Beberapa tetangga mulai melirik dari balik tirai. Ia tahu kalau ia berteriak, semua orang akan keluar. Tapi apa yang akan mereka lihat? Seorang ibu tua melawan anaknya sendiri. Lalu besok, namanya akan jadi bahan obrolan di warung sayur.
Vina membuka kaca mobil.
“Bu Maya, jangan mempersulit. Reservasi restoran sudah dibayar. Pak Burhan orang sibuk.”
Maya menggenggam tas kainnya.
“Aku bukan barang yang bisa kalian antar ke pembeli.”
Senyum Vina hilang.
Dimas memberi isyarat kepada dua laki-laki itu.
Maya mundur, tapi salah satu dari mereka sudah memegang lengannya. Ia meronta.
“Lepaskan! Dimas!”
Dimas tidak menatap matanya.
“Maaf, Bu. Nanti Ibu akan mengerti.”
Maya hampir tertawa karena kalimat itu. Maaf yang tidak menghentikan apa pun. Maaf yang dipakai untuk menutup dosa.
Ia dimasukkan ke kursi belakang. Dimas duduk di sampingnya, menjaga agar ia tidak membuka pintu. Sepanjang jalan, Maya menatap keluar jendela. Jalanan Jakarta padat seperti biasa. Motor menyelip, pedagang kaki lima mendorong gerobak, orang-orang pulang kerja dengan wajah lelah.
Tidak ada yang tahu seorang ibu sedang dibawa anaknya untuk ditukar dengan modal proyek.
Restoran itu berada di kawasan Menteng. Bangunannya bergaya kolonial, dengan lampu gantung dan meja kayu mahal. Di ruang privat, Pak Burhan sudah menunggu.
Ia memakai batik sutra yang terlalu ketat di perut. Cincin besar melingkar di jarinya. Ketika Maya masuk, matanya langsung turun dari wajah ke tubuhnya, lalu naik lagi dengan senyum yang membuat kulit Maya merinding.
“Akhirnya datang juga,” katanya. “Saya pikir Bu Maya malu-malu.”
Maya duduk karena Dimas menekan bahunya.
Di samping Pak Burhan, seorang perempuan dari biro jodoh tersenyum manis.
“Bu Maya, Pak Burhan ini serius mencari pendamping. Anak-anak sudah besar, rumah sudah ada, usaha lancar. Di usia kita, yang penting kan tenang.”
“Saya tidak mencari pendamping,” jawab Maya.
Senyum perempuan itu membeku.
Pak Burhan tertawa pendek. “Galak juga.”
Dimas segera berkata, “Ibu cuma kaget, Pak. Kemarin kurang sehat.”
“Tidak apa-apa.” Pak Burhan menuang teh ke cangkir Maya. “Perempuan yang sudah lama sendiri biasanya memang keras. Nanti kalau sudah ada suami, pelan-pelan lembut.”
Maya tidak menyentuh cangkir itu.
“Pak Burhan,” ucapnya, “saya datang karena dipaksa anak saya. Saya tidak berniat menikah dengan Bapak.”
Ruangan langsung sunyi.
Dimas menatapnya tajam. “Bu.”
Pak Burhan meletakkan teko dengan pelan. Senyumnya masih ada, tapi matanya berubah.
“Anak Ibu sudah menerima tanda jadi.”
Maya menoleh ke Dimas.
Dimas menghindari tatapannya.
“Berapa?”
“Bukan urusan Ibu,” gumam Dimas.
“Berapa harga ibumu?”
Wajah Dimas memucat.
Pak Burhan tertawa. “Jangan disebut harga. Saya ini orang terhormat. Saya bantu anak Ibu karena saya ingin hubungan baik.”
“Saya tidak punya hubungan baik dengan Bapak.”
“Nanti punya.” Pak Burhan mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Maya.
Maya menarik tangannya cepat.
“Jangan sentuh saya.”
Wajah Pak Burhan mengeras.
“Bu Maya. Saya sudah sabar karena menghormati Dimas. Tapi jangan lupa, saya bisa membuat hidup kalian sulit. Vendor hotel tempat Ibu kerja itu salah satu rekan saya. Laundry kecil tempat Ibu ambil cucian juga bisa saya tutup ordernya. Mau kerja apa nanti?”
Maya menatapnya.
Jadi ini alasan mereka memilih laki-laki itu. Uang dan ancaman.
“Lebih baik saya menyapu jalan daripada tidur di rumah laki-laki seperti Bapak.”
Perempuan biro jodoh terpekik pelan.
Dimas berdiri. “Ibu sudah keterlaluan.”
Pak Burhan menatap Maya dengan napas berat. “Kamu pikir masih muda? Masih bisa memilih? Perempuan seusiamu harusnya tahu diri. Kalau bukan karena anakmu datang baik-baik, saya tidak akan buang waktu.”
“Kalau begitu jangan buang waktu lagi.”
Maya berdiri.
Pak Burhan membanting cangkir ke lantai, pecahannya menyebar. “Duduk!”
Dimas menarik lengan Maya. “Minta maaf.”
“Tidak.”
“Minta maaf, Bu!” seru Dimas lagi
“Lepaskan dia!”
Suara itu datang dari pintu.
Maya menoleh, lalu membeku.
Di ambang ruang privat, berdiri beberapa pria berjas hitam. Di depan mereka, seorang pria tinggi dengan wajah dingin menatap ruangan seperti sedang menilai sampah.
Raka Wijaya.
Bekas gigitan di lehernya samar tertutup kerah kemeja, tapi Maya tetap melihatnya.
Darahnya seolah berhenti mengalir.
Pak Burhan berdiri setengah. “Siapa kalian?”
Seorang pria berjas maju. “Kami dari pihak Tuan Raka. Ada laporan pemaksaan dan transaksi tidak sah terkait Bu Maya Lestari.”
Dimas menegang. “Transaksi apa? Ini urusan keluarga.”
Raka tidak melihat Dimas. Matanya hanya tertuju pada Maya.
“Kamu selalu membiarkan orang menyeretmu seperti ini?”
Kalimat itu dingin, tapi entah kenapa membuat mata Maya panas.
Ia ingin menjawab bahwa tidak. Bahwa ia sudah berusaha. Bahwa ia lelah. Tapi di depan semua orang, suaranya hilang.
Pak Burhan mendengus. “Tuan Raka? Raka Wijaya?”
Wajahnya berubah begitu nama itu sampai di kepalanya.
Raka melangkah masuk.
“Pak Burhan, saya tidak peduli urusan kotormu. Tapi perempuan ini adalah saksi dalam kasus yang sedang saya selidiki.”
Maya mengangkat kepala.
Saksi?
Pak Burhan menelan ludah. “Kasus apa?”
“Staf hotel saya dijebak tadi malam. Ada obat dalam minuman. Nama Pak Rudi sudah kami kantongi.”
Maya hampir jatuh.
Jadi dia tahu.
Dimas menatap Maya, bingung. “Tadi malam? Ibu dari mana?”
Pertanyaan itu terdengar lucu.
Ketika ia diseret, diancam, hampir dijual, anaknya tidak bertanya apakah ia baik-baik saja. Tapi begitu ada laki-laki berkuasa di ruangan, ia baru penasaran.
Raka memberi isyarat. Dua pengawalnya mendekat ke Dimas.
“Jangan sentuh dia,” kata Maya tiba-tiba.
Semua orang menoleh.
Raka menatapnya. “Dia memaksamu.”
“Saya tahu.” Maya menggenggam tasnya. “Tapi dia anak saya. Urusannya dengan saya nanti.”
Raka diam beberapa detik.
“Baik.”
Ia menatap bawahannya. “Bawa Bu Maya keluar.”
“Saya bisa jalan sendiri,” kata Maya.
Raka mendekat. Jarak mereka tinggal satu langkah. Wangi tubuhnya sama seperti semalam, membuat napas Maya kacau.
“Kamu yakin?”
Maya ingin berkata iya.
Tapi lututnya tiba-tiba lemas.
Raka menangkap sikunya sebelum ia jatuh.
Sentuhan itu membuat ruang privat terasa semakin sempit.
Dimas melihat tangan Raka di lengan ibunya. Matanya melebar. “Ibu kenal dia?”
Maya menarik lengannya, tapi Raka tidak langsung melepas.
“Itu bukan urusanmu,” jawab Raka.
Pak Burhan tiba-tiba tertawa gugup. “Tuan Raka, kalau perempuan ini ada urusan dengan Anda, saya mundur. Tidak perlu dibesar-besarkan.”
“Sudah besar sejak kamu membeli manusia lewat anaknya.”
Wajah Pak Burhan pucat.
Raka menoleh ke pengacaranya. “Serahkan rekaman restoran dan bukti transfer kepada polisi. Biar mereka tentukan pasalnya.”
Dimas panik. “Tuan, tunggu! Saya tidak menjual Ibu. Saya hanya menerima bantuan modal.”
“Dengan syarat ibumu menikah?”
Dimas tidak bisa menjawab.
Raka menatapnya seperti menatap benda tidak berguna.
“Kalau kamu bukan anaknya, kakimu sudah patah sebelum aku masuk.”
Maya merinding mendengar nada itu.
Ia seharusnya takut. Tapi yang ia rasakan justru rasa aman yang asing.
Di luar restoran, hujan mulai turun.
Raka membawanya ke mobil hitam yang menunggu di depan. Maya berhenti sebelum masuk.
“Tuan Raka.”
Ia menoleh.
“Tentang semalam…”
Mata Raka menggelap.
“Kita bicara di tempat lain.”
“Tidak. Saya hanya ingin bilang saya tidak sengaja masuk ke kamar Anda. Saya tidak tahu apa yang diberikan Pak Rudi. Saya tidak meminta semua itu.”
Raka menatap wajahnya yang pucat.
“Aku tahu.”
Dua kata itu membuat tenggorokan Maya tercekat.
Ia tidak sadar betapa takutnya ia tidak dipercaya sampai pria itu mengucapkannya.
Namun sebelum ia bisa bernapas lega, Raka membuka pintu mobil dan berkata dengan nada yang kembali dingin.
“Tapi bukan berarti semuanya selesai. Ada hal yang harus kamu jelaskan. Termasuk kenapa setelah malam itu, kamu kabur tanpa meninggalkan satu kata pun.”
Maya menatapnya.
Kabur?
Apakah ia seharusnya duduk di samping ranjang seorang CEO dan meminta sarapan?
Belum sempat ia menjawab, tubuhnya kembali goyah. Hujan, lelah, malu, dan tekanan dua hari terakhir menumpuk menjadi gelap di depan matanya.
Hal terakhir yang ia lihat adalah wajah Raka berubah tegang.
“Maya!”
Untuk pertama kalinya, laki-laki itu memanggil namanya.
Lalu dunia padam.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!