Riuh suara wisudawan memenuhi aula, acara sakral pemindahan tali toga penanda seseorang telah resmi menjadi sarjana baru saja selesai dilaksanakan. Semua wisudawan berhamburan keluar gedung tempat acara dan mencari keluarga masing-masing untuk ditemui.
Laila, wisudawan dengan gelar Sarjana Sastra Inggris dengan kebaya anggun berwarna burgundi menyebarkan pandangan ke segala penjuru untuk mencari Ayahnya di antara lautan manusia. Langkah Laila terhenti tak kala ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"La!" Kejut kedua sahabat Laila dengan wajah tak bersalah karena sudah mengejutkannya.
Keira dan Tasya namanya, mereka bertiga dipertemukan pada hari pertama acara pengenalan mahasiswa baru, mereka satu kelompok kala itu dan yang semakin membuat mereka akrab adalah karena mereka satu kelas juga. Terjalinlah persahabatan itu hingga mereka lulus kuliah.
"Kei, Sya, kalian ngagetin gue aja!" protes Laila.
"Hehehe, sorry bestie" ucap Tasya dengan menyatukan kedua telapak tangan ke depan wajahnya.
"Lagian lo sih kita panggil berkali-kali kagak noleh, malah celingak-celinguk kek bocil hilang," timpal Keira.
"Rame bestie, mana gue denger. Di tambah lagi ni gue lagi nyari Papi, udah di chat dan di telpon kagak nongol-nongol juga batang hidungnya," elak Laila. Tangannya masih sibuk mengetik pesan untuk Ayahnya.
"Ohh, yaudah ni kita bantu cari," tawar Keira.
"Eh eh, itu...itu," ucap Tasya terbata-bata, telunjuknya berfokus pada seseorang.
Kompak Laila dan Keira menoleh pada seseorang yang ditunjuk Tasya.
"Lo nunjuk siapa sih Sya?" tanya Laila sembari mengedar pandangan ke arah depan, karena tidak seorang pun yang ia kenal dari objek yang ditunjuk Tasya.
Keira menyadari seseorang yang mungkin dimaksud oleh Tasya, "Oh itu cowok yang di kafe kemaren kan."
"Iya, itu dia!" ucap Tasya dengan excited.
Keduanya langsung mencoba merapikan penampilan, Tasya bahkan mengeluarkan cermin kecil dari tas yang ia bawa untuk memeriksa riasan.
Sementara Laila masih mengedarkan pandangan dan mencoba fokus dengan sosok pria yang kedua sahabatnya maksud. "Yang mana sih?" tanya Laila.
"Eh eh eh, kok gue rasa dia jalan ke arah kita," ucap Keira.
Laila memicingkan mata, terlihat hanya ada satu pria yang sedari tadi fokus matanya tertuju pada mereka dan memang langkahnya seperti akan menuju ke tempat mereka sedang berdiri saat ini.
Sosok pria tinggi tegap dengan otot lengan terbungkus sempurna pakaian batik yang sedikit pres di badannya, bertengger juga kacamata hitam menutupi matanya. Di tangannya pria itu memegang sebuah buket bunga lily merah muda yang cantik. Langkahnya perlahan tapi pasti dan tanpa sadar karena terlalu fokus melihat penampilan pria tadi, Laila sedikit terkejut ketika pria itu sudah ada tepat di hadapannya menyodorkan buket bunga lily. Sedangkan Keira dan Tasya tak kalah terkejutnya dengan kejadian itu, mereka bergantian bertukar tatap.
Laila mengernyit. "Buat gue?" tanyanya spontan.
"Iya," jawab singkat pria itu sambil tersenyum.
Laila menyambut buket lily merah muda itu dengan senang hati, meskipun sedikit kebingungan. Namun, ia berpikiran mungkin ini kejutan dari pacarnya Devan dan orang di hadapannya ini adalah kurir buket bunga.
Setelah menerima buket itu Laila merogoh tasnya untuk mengambil beberapa lembar uang. "Ini, bonus buat lo," ucap Laila. Ia memberikan uang itu kepada si pengantar bunga.
Pria itu pun terlihat kebingungan dengan apa yang ia terima dari Laila. "Ini untuk apa ya?" tanyanya.
Laila tersenyum simpul. "Bonus buat lo lah, lo kurir buket bunga ini kan. Devan yang kirim bunga ini buat gue kan," jelasnya, sekaligus memastikan.
"Oh, bukan. Saya bukan kurir dan saya tidak kenal dengan Devan," timpal pria itu.
"Jadi, lo siapa?" tanya Laila semakin bingung.
Laila melemparkan pandangan pada kedua sahabatnya dan memberikan isyarat memastikan apakah keduanya mengenali pria di hadapan mereka ini.
Pria itu menyodorkan tangan, "Perkenalkan say..."
Belum sempat pria itu melanjutkan perkenalan diri, Ayah Laila menepuk pundak pria itu dari belakang.
"Papi! dari mana aja sih?" tanya Laila dengan nada sedikit kesal. Laila segera menggandeng lengan Ayahnya.
"Om." Pria tadi langsung salim dengan Ayah Laila, diikuti juga dengan Keira dan Tasya.
"Oh Papi kenal sama dia?" tanya Laila spontan.
"Tentu Papi kenal, perkenalkan ini Arjuna Aksa Wardhana calon suami kamu," jawab Dirga pada putri kesayangannya.
Mata Laila melotot, ia sangat terkejut dengan jawaban Ayahnya yang tanpa ia tahu tiba-tiba datang membawa orang asing pada hari wisudanya dan yang lebih mengguncang hatinya orang itu justru diperkenalkan sebagai calon suami.
"Gak gak..Papi jangan bercanda ya," ucap Laila terbata-bata.
Laila tatap lekat Ayahnya untuk memastikan lagi, namun hanya sebuah anggukan yang Laila terima. Tanpa sadar bunga yang ada di genggaman pun jatuh. Sambil menahan air mata Laila berlari meninggalkan mereka semua.
"Laila!"
Melihat sahabatnya pergi dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Keira dan Tasya berlari menyusul Laila.
...****************...
Dua hari yang lalu...
Pintu kaca berbingkai kayu itu terbuka dengan denting petikan lonceng kecil yang khas di bagian atasnya. Seketika, langkah kaki dari hiruk-pikuk jalanan luar langsung disambut oleh pelukan hangat aroma biji kopi yang baru dipanggang, bercampur samar dengan manisnya aroma panggangan roti dari dapur belakang.
Kafe kecil di sudut kota itu menjadi favorit banyak orang karena menawarkan kehangatan lewat desain interior yang estetik dan instagramable bagi gen z. Dan menjadi tempat bersandar bagi tiga sahabat yang sedang asyik bertukar cerita, sesekali mereka mencondong badan ke depan untuk berbisik di tengah keramaian.
"Udah sampe mana progres persiapan wisuda kalian guys?" tanya Keira.
"Gue mah udah aman semua sih," jawab Laila sembari menyeruput kopi favoritnya.
"Lo jadi beli heels yang lo tunjuk kemarin itu La?" tanya Tasya nimbrung mengikuti ritme topik bahasan.
"Gak jadi, pas gue liat-liat lagi malah gak cocok sama kebaya gue. Jadi too much gitu," jelas Laila.
Tangan Laila kemudian sibuk menari di atas layar ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah gambar pada kedua sahabatnya, "Ini nih, heels yang akhirnya gue beli."
Tasya mengambil nyambut ponsel itu yang kemudian melihatnya bersama Keira yang duduk tepat di sebelahnya.
"Ngena sih kata gue, ini ngena banget dari yang kemaren," ucap Keira sambil menunjuk gambar heels yang ia lihat.
"Iya kannn," balas Laila yang seketika berpose ala-ala model.
Ting!
"Eh, ada Devan nih chat lo La." Mendapati chat Devan masuk, Tasya langsung mengembalikan ponsel itu pada Laila.
"Etdah, baru aja bentaran kita bertiga keluar udah ditanyain aja ama si ayang," sindir Keira.
Mendengar itu Laila membalas dengan menjulurkan lidahnya pada Keira dan lanjut membalas pesan Devan sambil senyum-senyum sendiri.
Keira memutar bola matanya dan menyenggol Tasya, "Udah tuh, kalo udah gitu dunia serasa milik berdua. Kita berdua mah ngontrak doang, ye kan Sya."
"Ya gitu deh," timpal Tasya.
Keduanya lanjut menikmati pesanan mereka sembari melihat sekitar.
Pintu kafe berdenting dan kebetulan Tasya sedang mengedarkan pandangannya menuju pintu. Matanya tertuju pada sosok pria yang baru saja masuk.
"OMG! Kei, lihat ke arah jam 12 sekarang!" perintah Tasya.
Keira pun langsung menoleh perlahan ke arah yang ditunjuk Tasya. Melihat sosok yang dimaksud, mata Keira langsung berbinar. Bagaimana tidak, di depan sana ada pemandangan maha karya Tuhan yang indah. Sosok pria tinggi, tegap dengan otot sedikit menonjol meski terbalut baju kaos hitam yang ia kenakan sedang memesan minuman.
"My type banget woiii," ucap Keira dengan sedikit berbisik.
Keduanya lanjut berbisik-bisik membicarakan pria itu, diikuti dengan cekikikan sesekali dan saling menepuk lengan satu sama lain.
Laila yang tengah sibuk saling membalas pesan Devan pun sedikit terusik dengan kelakuan kedua orang itu yang duduk di hadapannya.
Laila melirik keduanya, kemudian bertanya, "Pada liatin apa sih?"
"Itu La, cowok yang lagi di kasir itu," jawab Keira setengah berbisik.
Laila tanpa aba-aba langsung menoleh ke arah yang dimaksud. Namun sayangnya pria yang dimaksud sudah berbalik ke arah pintu keluar. Alhasil Laila hanya dapat melihat punggung lebar pria itu saja, yang perlahan menjauh dari kafe.
"Yah, telat lo La," ucap Tasya.
"Rugi La, gak liat maha karya Tuhan yang dahsyat tadi, hehehe." Keira terkekeh mengejek Laila.
"Apaan sih gak jelas banget kalian," timpal Laila kemudian lanjut melihat layar ponselnya.
...Bersambung......
Suasana hening menyelimuti mobil yang sedang berjalan tanpa arah tujuan sejak tiga puluh menit lalu. Baik Keira maupun Tasya yang sedang mengendarai mobil dengan fokus belum berani membuka suara. Laila di kursi belakang yang baru saja reda tangisnya menatap kosong ke arah jendela mobil.
"Anter gue ke rumah aja Sya, gue udah gak papa kok." Akhirnya Laila membuka suara, meski dengan nada datar.
"La, kita tau kejadian tadi buat semua syok, terlebih lagi lo. Butuh waktu buat lo ngerti sama keadaan yang terjadi, tapi inget ya La, lo gak sendiri. Kita ada saat lo butuh kapan pun itu," ucap Tasya yang coba menenangkan Laila.
Keira yang duduk di samping Laila pun semakin menguatkan rangkulannya pada Laila. "Iya La, kapan pun lo siap, kita akan selalu ada buat jadi tempat lo cerita," ujarnya.
"Harusnya hari ini jadi hari yang bahagia buat kita semua, kita udah rencanain banyak hal habis wisuda ini, tapi semua hancur gara-gara gue."
Tangis Laila kembali pecah saat mengatakan itu.
"Yaelah La, soal itu bisa kita reschedule kali, ya gak Kei," ujar Tasya.
"Iyalah, itu doang mah," timpal Keira.
"Tapi kita gak jadi bikin lanjutan vidio trend kemarin."
Mendengar kalimat itu membuat Tasya dan Keira kompak tertawa. Mereka tak habis pikir, ternyata meski sedang ditimpa masalah yang Laila khawatirkan justru hal sepele yang bisa dilakukan kapan saja.
Tasya yang sedang mengemudi tertawa terbahak-bahak dengan sesekali tangannya menepuk setir. "Ya ampun La di saat kayak gini yang lo khawatirin cuma hal itu," ucapnya.
Bahkan Keira tertawa hingga air matanya keluar. "La, santuy aja kali. Kita gak apa-apa soal itu," ucapnya agar Laila tenang.
"Gak, gak cuma itu tau. Kalian malah di sini nemenin gue, seharusnya kalian lagi sama keluarga kalian sekarang da..."
"Lah, Emak Bapak gue malah udah pulang duluan tadi La abis kelar wisuda," potong Tasya.
"Soal itu mah gak usah dipikirin La, kita berdua tu emang ngerencanain hari ini tu full buat kita doang. Jadi ritual setelah wisuda kayak foto-foto sama keluarga atau photoshoot ala-ala gitu mah udah kita lakuin seminggu lalu," jelas Keira.
"Iya La, soalnya kita udah mikirin kalo ngelakuin semua itu full di hari ini bakal ribet banget. Setelah diskusi sama keluarga masing-masing, mereka mah setuju aja." Lanjut Keira yang menjelaskan pada Laila.
"Hah? Yang bener aja kalian, kok gue gak tau sih."
"Lo mah kebiasaan skip chat grup sih," sindir Tasya.
"Yaudah, ini sekarang maunya kemana?" tanya Keira.
"Gue belum sanggup buat pulang sebenernya, kita ke hotel biasa aja kali ya," ajak Laila.
Mereka memang memiliki tempat menginap favorit jika ingin staycation bersama.
"Okei, gue booking dulu ya," ujar Keira.
...****************...
"Maafkan sikap Laila tadi Nak Juna," ujar Dirga pada calon mantunya itu.
"Ndak papa Om, saya mengerti perasaan Dek Laila di situasi saat ini."
Arjuna mengerti situasi ini pasti sangat membingungkan bagi Laila, justru ada kekhawatiran di hatinya karena sudah merusak momen bahagia gadis itu.
"Saya justru harus meminta maaf sama Dek Laila Om, karena sudah merusak momen bahagianya di hari wisuda ini," ucap Arjuna dengan tulus.
Dirga tersenyum singkat. "Ndak Nak, ini salah Om sudah bawa kamu hari ini tanpa pemberitahuan sebelumnya pada Laila."
"Diminum dulu kopinya, mumpung masih anget," ajak Dirga.
"Iya Om."
Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu itu, kekhawatiran yang ada di hati Arjuna semakin menjadi karena mereka sudah menunggu kepulangan Laila sedari tadi. Namun, yang ditunggu tak kunjung pulang ke rumah. Arjuna terlihat beberapa kali melihat arlojinya dan menengok ke arah pintu.
"Ndak perlu khawatir Nak Juna, matamu itu loh gak bisa bohong sama Om."
"Ini sudah larut Om, apa perlu saya mencari Dek Laila sekarang?" ucap Arjuna menawarkan diri.
"Memangnya kamu tau mau cari kemana? ndak toh"
Arjuna menggelengkan kepala.
"Biarkan saja, selama dia bersama teman-temannya, Laila akan aman."
Perkataan Om Dirga sedikit memberi kelegaan di hati Arjuna.
"Palingan dia sekarang lagi menginap di rumah salah satu dari mereka, sudah kebiasaannya begitu kalo lagi ngambek sama Om," lanjut Dirga dengan sedikit terkekeh di akhir.
...****************...
"Jadi, lo beneran gak dikasih tau sama sekali sebelumnya tentang tu cowok sama bokap lo La?" tanya Keira. Sudah sejak tadi ia penasaran dengan hal itu.
"Gak sama sekali, makanya gue kaget banget tadi. Pake segala ngenalin tu cowok sebagai calon suami gue lagi, apaan banget dah Papi." Laila menumpahkan kekesalannya.
"Papi lo tau kan kalo lo udah punya pacar?" tanya Tasya.
Laila mengangguk. "Malahan Papi udah kenal kok sama Devan," lanjutnya.
"Hmmm, aneh juga sih," timpal Tasya.
"Ehh tadi siapa namanya, si cowok itu?" tanya Keira sambil mencoba mengingat.
"Eeee, kalo gak salah Arjuna Sa..Saa apa gitu, terus ujungnya ada Wardhana-nya." Tasya berpikir keras mengingat nama itu.
Laila bangkit dari tidurnya dan kemudian melepas timun di kedua matanya. "Kenapa emangnya Kei?" tanyanya.
Keira yang sedari tadi membaluri masker ke wajahnya kini naik ke kasur menemui kedua sahabatnya. Ia mendekatkan diri dan menunjuk ponsel di tangannya.
"Buat cari tau tentang cowok itulah, kita cari tau alasan kenapa Papi lo malah tiba-tiba jodohin lo sama dia," jelas Keira.
Laila dan Tasya kompak mencondongkan diri ke hadapan Keira.
"Okeii, pertama kita ke akun igoy dulu." Dengan lincah jari jemari Keira mengetik sepenggal nama yang mereka ingat pada kolom pencarian.
Muncul nama 'Arjuna Aksa Wardhana' di urutan pertama pencarian.
"Nah ini nih namanya, gue inget sekarang!" teriak Tasya tiba-tiba, sambil menunjuk nama di urutan pertama itu. Hal itu mengejutkan Laila dan Keira.
"Aduh masker gue retak," keluh Tasya setelah sedikit berteriak tadi.
"Yeeee makanya lo, ngagetin aja lagian," protes Laila.
Keira meng-klik username itu, postingan pada laman profil itu hanya berisikan pemandangan awan dan lautan, tidak ada satupun foto yang menampakkan wajah sang pemilik akun, bahkan tidak ada yang menandainya dalam sebuah postingan.
"Misterius juga ya dia," celetuk Keira.
"Udahlah, gak penting banget," ucap Laila.
Kembali Laila merebahkan dirinya.
"Eitsss nanti dulu nona muda, kita bisa cari tau dari orang-orang atau akun yang dia ikutin," potong Tasya.
Keira menunjuk-nunjuk Tasya pertanda setuju dengan ucapan Tasya, "Nah itu."
Lailai memutar bola matanya, tak peduli lagi dengan tingkah kedua sahabatnya.
Dengan lihainya jari Keira mencari tahu tentang Arjuna dari akun yang dia ikuti. Sampai pada satu akun seseorang terdapat sebuah postingan yang menampilkan wajah Arjuna dan beberapa orang memakai baju TNI AU. Keira menunjukkan foto itu pada Tasya.
"Oalah, ni cowok TNI AU ternyata La, sama kayak bokap lo" kata Tasya.
"Pantesan badannya oke punya yak," sambung Keira.
Tasya menyenggol Keira, karena berbicara kurang pantas di situasi sekarang. Keira yang tersadar pun langsung menoleh ke arah Laila. Terlihat wajah Laila kembali murung.
"Gue kayak gak ngenalin Papi gue hari ini, soalnya beliau tu gak pernah sekalipun maksain gue akan hal apapun itu. Hari ini malah tiba-tiba banget bawa orang asing dan ngenalin orang itu sebagai calon suami gue."
"Apa tu cowok udah pengaruhi Papi lo ya La, mungkin aja dia mau naikin jabatannya atau bagusin karirnya lewat Papi lo, dengan cara nikahin anaknya." Tasya mulai berteori liar.
"Udah ah males banget gue mikirnya, badan gue pegel semua dan mau tidur sekarang. Besok aja gue tagih penjelasan Papi," ucap Laila.
Keira mengangguk setuju, "Bener juga tu La, baru berasa sekarang yak badan pegel semua abis ngejalanin prosesi wisuda tadi."
...Bersambung... ...
Pagi ini terasa sedikit berbeda, hujan semalam yang mengguyur seluruh kota membuat cuaca pagi menjadi sejuk. Semua aktivitas sudah di mulai pagi ini, suara anak-anak bersepeda menuju sekolah sudah terdengar. Suara mobil tetangga yang dihidupkan juga sudah terdengar. Pada sebuah rumah terlihat seseorang dengan rambut yang mulai memutih sedang sibuk memberikan makan dan minum burung-burung kesayangannya, tak ketinggalan juga kopi hitam panas dan roti tanpa isian yang sudah setia menemi di atas meja. Sesekali ia membalas sapaan tetangga.
"Pak Dirga!" teriak salah satu tetangga yang hendak berangkat kerja.
"Yo, hati-hati." Dirga membalas sapaan dengan satu tangannya yang ia angkat untuk melambai.
Lalu kembali Dirga memercikkan air pada salah satu burung.
"Eh ada Pak Dirga," sapa seorang tetangga lagi.
"Dalem Bu Siti," jawabnya dengan logat khas jawanya.
"Ini Pak, saya ada sedikit hadiah buat Dek Laila yang kemarin wisuda." Bu Siti memberikan sebuah paperbag, lalu lanjut memberikan rantang pada Dirga.
"Waduh banyak sekali Bu Siti, terima kasih loh ini. Jadi merepotkan Ibu."
Dirga yang merasa tak enak hati karena diberikan hadiah sebanyak itu untuk putrinya.
"Apalah Bapak ini, wong ndak merepotkan Pak, ini ikhlas saya beri untuk Dek Laila."
"Mana Dek Lailanya Pak?" tanya Bu Siti.
"Sedang merayakan wisuda dengan teman-temannya Bu, sekalian menginap mereka."
"Oalah, pantas saja ndak keliatan dari kemarin. Ya sudah saya permisi dulu Pak."
"Baik Bu, terima kasih sekali lagi ya Bu," ucap Dirga.
Bu Siti mengangguk sembari berjalan menuju pagar.
Tak lama setelah kepergian Bu Siti, berhenti sebuah taksi tepat di depan pagar rumah Dirga. Ia sudah menduganya, tepat sesaat sosok putrinya muncul keluar dari taksi itu. Hatinya tenang melihat putrinya pulang dengan selamat, bohong sekali bahwa dia tidak khawatir dengan putri satu-satunya itu. Yang kemarin ia katakan pada Arjuna agar tenang itu hanya untuk menenangkan Arjuna saja, jauh di lubuk hatinya, Dirga tetap khawatir sebagai seorang ayah.
Laila berjalan dengan cepat, wajahnya sudah menggambarkan bagaimana mood-nya saat ini.
"Ehh anak Papi sudah pulang."
Laila bahkan tidak menoleh sedikti pun pada Ayahnya.
"Lala, gimana kemarin pesta wisuda sama teman-teman? Pasti seru ya?" tanya Dirga basa-basi.
Laila menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik mendekati Ayahnya.
"Apanya yang seru Pi, justru Papi hancurin semua jadwal kita kemarin!"
Wajah Laila merah padam, dadanya naik turun dengan cepat.
"Maksud Papi tu apa sih, bawa orang asing ke acara wisuda Lala terus ngenalin itu orang sebagai calon suami di depan sahabat-sahabat aku."
"Dia bukan orang asing Laila."
Mendengar kalimat Ayahnya itu, membuat emosi Laila naik.
"Itu bagi Papi, gak bagi aku Pi."
Mata Laila sudah mulai berkaca-kaca, namun setengah mati ia menahannya agar tidak turun.
"Papi tau aku sudah punya pacar, terus kenapa tiba-tiba jodohin aku kayak gini?"
Mendengar suara gaduh itu, beberapa orang yang lewat sampai menoleh ke arah mereka.
"Sebaiknya kita masuk ke rumah dulu Nak," ajak Dirga.
"Gak, jelasin sekarang Pi, Laila mau tau alasan Papi," tegas Laila.
"Papi memang tau tentang pacarmu itu, tapi Papi tidak suka dengan dia Laila."
"Kenapa? Apa salahnya sama Devan?"
"Firasat Papi gak baik tentang anak itu."
"Firasat? sejak kapan Papi percaya hal yang belum diketahui gitu, bukannya Papi selalu pakai logika dalam berpikir."
"Sejak Papi punya kamu Laila."
Laila mengerutkan dahi.
"Dan sejak... Mamimu meninggalkan kita untuk selamanya," lanjut Dirga.
Air mata yang sedari tadi Laila tahan akhirnya turun juga, kalau sudah membahas soal Ibunya Laila tak bisa kalau tak menangis.
"Kenapa harus bahas Mami sekarang, ini gak ada hubungannya sama Mami!"
"Jangan bikin Mami sebagai tameng buat nutupin kesalahan dan maunya Papi."
Sudah tak tahan lagi dengan situasi yang semakin kacau dan pembicaraan yang tak berarah ini, Laila memutuskan meninggalkan Ayahnya dan masuk ke rumah.
Dirga yang mengerti tidak mencoba untuk menghentikan Laila yang semakin hilang dari pandangan memasuki rumah, ia memberikan ruang lagi pada putrinya untuk menenangkan diri dan akan mencoba mengajak berbicara setelahnya.
Laila yang sudah di dalam kamar semakin jadi tangisnya, dadanya terasa sesak. Entahlah, rasanya ia seperti dikhianati oleh Ayahnya sendiri.
...****************...
Saat malam tiba, terdengar suara berisik dari arah dapur. Tak lama tercium aroma makanan yang membuat perut Laila lapar karena sedari pagi belum di isi apapun. Tenaganya terkuras habis setelah seharian menangis, suara keroncongan terdengar keras dari perutnya.
"Laper banget lagi."
Laila berjalan menuju pintu kamarnya, namun sesaat sebelum membuka pintu ia mengurungkan niatnya itu. Gengsinya sangat tinggi saat ini, rasanya belum sanggup untuk berhadapan dengan Ayahnya.
Namun kalau sudah soal perut mana bisa ia menahannya lebih lama lagi. "Si Papi bisa aja lagi bikin ngiler di jam rawan gini," celetuk Laila.
Mau tak mau Laila memaksakan dirinya untuk pergi menuju dapur. Dari kejauhan sudah terlihat sosok Dirga yang sedang sibuk di depan kompor sedang memasak sesuatu. Sementara di atas meja makan ada beberapa hidangan yang sudah siap untuk disantap.
Suara kursi ditarik mengejutkan Dirga yang tengah fokus menghadap kompor. Ia baru tersadar kalau putrinya sudah ada di meja makan.
"Silahkan dinikmati tuan putri," godanya pada Laila.
Laila dengan wajah tanpa ekspresi andalannya saat ngambek tak bergeming saat digoda oleh Ayahnya. Ia hanya fokus mengisi perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.
"Beberapa masakan ini Bu Siti yang kasih, Papi cuma ngangetin aja." Dirga menaruh makanan yang ia masak sendiri ke atas meja. "Nah, kalau yang ini Papi masak sendiri khusus buat anak Papi," lanjutnya.
Capcai sayur dengan udang adalah masakan kesukaan Laila yang Dirga masak khusus untuk putrinya itu. Saat Laila menyendok beberapa capcai itu ke piringnya membuat Dirga tersenyum.
"Gimana, enak?" tanya Dirga untuk memastikan rasa masakan hasil buatannya.
Laila hanya membalas dengan sebuah anggukan. Dirga pun mengambil piring dan makan bersama.
Setelah santapan malam yang hening itu, mereka kembali duduk berhadapan di atas meja makan, Laila menatap tajam pada Ayahnya. Menuntut penjelasan pada sang Ayah.
"Jadi, kenapa Papi tiba-tiba jodohin aku sama orang itu?" Laila langsung to the point.
Dirga menyodorkan sebuah amplop yang terlihat sedikit usang kepada Laila, di salah satu sisi surat tertulis 'untuk anakku Laila Agni Dania'. Membaca itu langsung Laila mengambil amplop itu. Ia baca kata demi kata di surat itu, diikuti dengan derasnya air yang keluar dari pelupuk mata.
"Papi gak asal saja menjodohkan kamu dengan Arjuna." Dirga mulai menjelaskan alasannya.
"Perihal firasat yang Papi bilang, entahlah perasaan itu muncul saja saat melihat kebersamaan kamu dengan Nak Devan sebelumnya. Mungkin ini intuisi seorang ayah yang tidak bisa dijelaskan dengan logika."
"Beberapa bulan lalu Papi menemukan surat itu saat membongkar barang-barang lama Mamimu yang baru-baru ini sudah berani Papi bongkar dan rapikan." Selama kepergian Istrinya, hidup Dirga sangat hancur bahkan sempat merasa kehilangan arah hidup, namun Laila membuatnya kembali sadar bahwa hidup harus terus berjalan dan dia harus kuat menjalaninya.
Barulah beberapa bulan lalu ia memberanikan diri untuk merapikan dan membersihkan barang-barang mendiang istrinya yang sedari dulu takut ia pegang karena tak mau kembali merasakan rapuhnya menerima kenyataan bahwa istrinya benar-benar sudah meninggalkan mereka selamanya.
"Dari sebuah diary Mamimu, Papi menemukan amplop surat itu, setelah membacanya Papi bertekad untuk mewujudkan harapan terakhir Mamimu La. Papi harap kamu mengerti dan mau bekerjasama untuk mewujudkan itu," jelas Dirga.
Isi diary Ibunya sangat menyentuh Laila, dimana tertulis semua curahan hati Mami saat pertemuannya dengan Ayahnya, masa-masa bahagia mereka, hingga memiliki Laila di tengah mereka.
Namun, yang membuat Laila lama duduk termenung di meja riasnya, adalah isi surat yang ada di amplop usang peninggalan Ibunya. Dibacanya berkali-kali surat yang ada di amplop itu. Berkali-kali pula ia mencocokkan tulisan di surat itu dengan tulisan yang ada di diary Ibunya, semua sama. Ayahnya tidak berbohong, surat itu memang tulisan tangan sang Ibu. Karena awalnya Laila kira ini akal-akalan Ayahnya untuk menjodohkan dia.
Pada surat itu tertulis:
Dear Lala,
Hari ini hati Mami gelisah, pandangan Mami tidak bisa beralih dari Lala. Setelah mengetahui keadaan Mami dari Dr.Arumi, rasanya dunia Mami hancur. Mami ingin sekali menemani tumbuh kembang Lala sampai dewasa. Selalu ada di saat senang dan sedihnya Lala. Tapi keinginan Mami hanya tinggal keinginan semata yang tidak akan bisa Mami gapai. Maafkan Mami ya Lala sayang.
Mami sedih sekali tidak bisa mewujudkan satu hal yang sangat ingin Mami lakukan, yaitu mengantar Lala menuju meja akad bersama Papi. Mengantarkan Lala kepada orang yang tepat untuk hidup Lala, karena Mami tau dunia di luar sana sangat kejam jika dihabiskan dengan orang yang tidak tepat. Lala sayang, meski Mami tidak akan bisa melihat Lala mencapai usia dewasa, melihat Lala bersanding di pelaminan, apakah Mami masih layak untuk meminta satu hal pada Lala. Permintaan Mami hanya satu, kelak menikahlah dengan orang pilihan Papi ya La, karena Mami percaya pada orang pilihan Papi.
'menikahlah dengan orang pilihan Papi'
Kalimat itu terus berputar di kepala Laila. Membuatnya terus berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Tentu sebagai anak ia ingin memenuhi harapan terakhir Ibunya, tapi apakah dengan cara merelakan kehidupannya sendiri.
...Bersambung... ...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!