...BEGINNING...
Weekend ini, Helena terbiasa sendiri di kamar. Ibunya masih tidur karena kelelahan. Ada Art yang membersihkan rumah dari pukul 09.00 sampai 15.00. Ada tukang kebun yang dipanggil saat weekend pukul 09.00. Rumah yang sering sepi, Helena bosan memutuskan untuk jalan sehat pagi ini, di sekitar kompleks.
Menyusuri jalan setapak depan rumahnya menuju jalan keluar kompleks melewati pak satpam,
"Pagi pak, ini ada buah apel 2 sama minuman yogurt" Helena memberikannya pada pak Indra Satpam tua berusia 47 tahun yang sudah lama bekerja di komplek Kamboja ini.
"terimakasih Non Helena, hehe. pagi-pagi gini sudah rajin jalan. apa ndk ke CFD Non. biasanya sama Ibu ke sana kalau weekend bareng tetangga yang lain" tanya pak Indra
"Oh enggak Pak, mama lagi kecapean habis lembur. saya berangkat ya pak" ucap Helena
"Hati-hati Non" balas Pak Indra.
Gang tempat tinggal Helena merupakan Hunian lumayan Elit, beberapa tetangga merupakan pejabat, artis dan pebisnis ternama. Mereka tinggal disitu karena ibunya paham betul tentang relasi dan bisnis. Tetangga mereka juga termasuk berlangganan skincare dan property dengan ibunya.
Saat berjalan, Helena mendengarkan headset bluetooth memutar beberapa lagu tylor Swift dan Olivia Rodrigo favoritnya.
Digang itu, biasa digunakan untuk jogging atau jalan sehat. Kiri dan kanan di tumbuh pohon rindang, namun agak berkurang karena beberapa lokasi akan dijadikan proyek property hunian . Ada beberapa Cafe untuk kaula muda, maklum tak jauh dari sini ada beberapa kampus dan sekolah swasta maupun negri. Helena dan teman-temannya biasa nongkrong kalau malam mingguan atau sendirian aja. Ada juga restaurant-restsurant bernuansa alam istilahnya me lokal, Helena dan ibunya biasanya makan di luar kalau sedang malas untuk masak.
Di jalan dia mampir ke indo****t membeli air mineral dan permen garam Himal****. disitu tak sengaja saat antrian didepannya berdiri seorang lelaki, dari belakang mirip dengan ayahnya tapi badannya bugar, dan lebih muda mungkin sekitar 30 tahunan menurutnya. Saat selesai, Helena bergegas mengikuti pria itu jalan sehat dari arah belakang.
Cukup lama Helena mengikutinya dari belakang, merasakan rindu pada ayahnya. Pria itu berhenti untuk beristirahat dan mengambil beberapa foto sekitar gang, dekat lokasi main badminton.
"Dia mungkin tertarik dengan badminton" pikir Helena.
Helena lalu melewatinya, pria itu tampak bengong memperhatikan wajah Helena yang begitu familiar. Pria itu Edgar, pria yang sudah menempati salah satu rumah di komplek perumahan kamboja, menjadi tetangga baru Helena dan Sandra.
Edgar termangu, mengingat kefamiliaran wajah gadis itu. gadis itu mungkin masih berusia 19 an. Gadis itu betul-betul mirip, layaknya kembali ke 22 tahun lalu saat masa berkuliah. sekarang Edgar sudah berusia 38 tahun. mengingatkannya pada perselingkuhan sang mantan. senyum getir. Sedikit informasi yang ia dengar bahwa Sandra sudah sukses dengan bisnis kosmetik di beberapa kota dan sudah punya banyak cabang.
Helena tiba di rumah, sudah ada Art Bi Titin seorang keturunan Jawa yang baik, anaknya juga sedang kuliah di kampus yang sama seperti Helena. setidaknya itulah yang Helena dengar dari Bi Titin, sudah semester akhir katanya, syukur dapat beasiswa pemerintah.
Suaminya menjadi tukang kebun kami, rekomendasi dari Bi Titin awalnya. karena tukang kebun sebelumnya telah meninggal.
Rumah sudah rapi, makanan sudah dibuatkan bi Titin.
"harumnya... " ucap Helena
Bi Titin yang sedang memasak sup ayam merasa senang atas pujian anak majikannya.
"Non Helena bisa aja, Non Helena mau sarapan apa Non pagi ini. bibi buatin? " tanya bi Titin
"Saya bikin sendiri aja bi, lagi kangen bikin salad" jawab Helena
Helena cukup dekat dengan Bi Titin, sering mengobrol tentang kesehariannya di kampus, maupun hal hal random lainnya.
"Bi tadi pagi saya ketemu laki-laki, terus dari belakang kayak papa" ungkap Helena agak sendu
"sabar ya Non, mudahan nanti bisa temu kangen sama papa Non" ucap bi Titin.
Sejak pergi dari rumah, papanya Bram sulit dihubungi. mamanya bilang papanya pergi ke Belanda, ke pedesaan. Dia sedang menulis buku barunya di sana.
"Helena seneng, setidaknya bisa lihat papa dari belakang lewat orang itu" Helena tersenyum getir
Papa Helena cukup kaya, karena keberhasilannya menulis buku fiksi. Helena sering didongengkan ayahnya, beberapa cerita fiksi sastra. Papanya adalah penulis hebat, karya dengan gaya bahasa yang unik membuat beberapa bukunya dikenal di manca negara. Beberapa buku diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Belanda
Helena kadang jika merindukan papanya, dia akan membaca buku pria itu, walaupun ia sebetulnya agak marah dengan keputusannya meninggalkan mereka berdua hanya memberi kabar saat akhir bulan selama kepergiannya ke Belanda.
Sayu mata Sandra, melampiaskan kesepiannya pada kesibukan kerja. wajah yang kian menua walau sibuk ia akali dengan skincare dan perawatan mahal. tempat tidurnya berantakan, sejarah kelelahan tadi malam membuatnya tidur sembarang asal nyaman.
notifikasi handphone membangunkan ketermenenungannya.
"Weekend no work, no stress. self reward" ucapnya..
ia mengabaikan pesan itu, weekend adalah waktunya bersama Helena. Sadar kalau dia bangun kesiangan, tidak ada CFD, sarapan bubur dipinggir jalan, atau lomba siapa yang jalannya paling jauh jaraknya.
"Ya ampun, maafin Mama Helena" dia tersadar
Sandra membasuh wajah, dan mandi di bathup yang hangat, busa melimpah. Lalu menemui Helena, lihatlah bibirnya mengerucut seperti tikus.
"Mama capek banget kak, nggak sadar ini udah jam 10, kita nonton yuk.. ada film romantis gitu" ucapnya menghibur si gadis yang menuju dewasa itu dengan genre kesukaan kebanyakan remaja
"ma, siang sampe sore ini Helena ada janji sama temen. Kita udah booking lapangan Badminton dan Sekalian mau ngerujak bareng. Malam aja gimana ma? " jawab Helena mengunyah salad
Sandra mengambil sendok dan ikut mengunyah salad di mangkok yang sama.
"Ma, Papa nikah lagi apa gimana. Helena kangen papa" ucap Helena
"Papa kamu katanya lagi fokus nulis" itu jawaban template Sandra pada Helena.
"Papa nggak suka Helena ya ma, makanya papa nggak hubungi Helena, kan Helena anaknya ma" ucap Helena
"Iya kamu anak Papa, tapi papa juga butuh waktu untuk nyembuhin dirinya. Kan selama 2 tahun ini ada ngabarin kamu pas akhir bulan" jawab Helena
"iya tapi kurang banyak telponnya, awas aja kalau Papa nikah lagi terus punya anak" jawab Helena kesal
"Ya namanya juga Duda Lena, kalau ketemu yang cocok ya nikah. ada-ada aja kamu" ucap mamanya ringan
"Ma, mama mau nikah lagi? sama siapa? jangan-jangan pria tua banyak uang, warisannya banyak terus buncit" menggoda ibunya
"Yang ganteng dong, kan enak di tenteng ke mana-mana tu nay" jawab ibunya, mereka tertawa bersama
Helena kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis di salah satu kampus ternama di Kotanya. Karena negosiasi dengan mamanya, sebenarnya Helena penyuka Novel fiksi sastra. Helena tak mau mamanya kecewa karena mengikuti jejak papanya.
Pagi ini dia berangkat ke kampus, agak malas karena hari senin. Setelah satu mata kuliah berakhir, ia akan pergi bersama teman-temannya untuk mengikuti Talkshow wajib untuk angkatannya atas arahan salah satu Dosen.
Menyenangkan baginya karena bisa bertemu mahasiswa dari kampus lain juga kepiawaiannya. ketua BEM yang menjadi moderator. Ganteng emang, cerdas pula saat memimpin acara talkshow dengan kepiawaiannya.
"Ganteng banget Kak Dion, pengen ditembak" ucap salah seorang temannya Dila. Agak centil anaknya, dia sudah naksir Dion sejak jaman SMA. Anakny sholeh alumni Sekolah IT.
"Kenapa gak coba kamu deketin aja Del , kan masih jomblo" ucap Helena
"tau dari mana kamu" menatap curiga
"Del, secara Kak Dion itu populer, siapa sih yang gak kenal
Mereka mendengarkan dengan saksama talkshow tentang kewirausahaan. Yang diundang adalah salah satu Pengusaha Real estate
" Baik temen-temen mari kita sambut tamu istimewa kita Pak Edgar. beliau ini seorang pengusaha Real estate bernama 'E Volkov' " Ucap Dion
Edgar menerima sambutan tepuk tangan meriah, wajahnya berkharisma, menggunakan setelan rapi, rambutnya kece, perawakannya seperti model luar negri, matanya berwarna abu, kulitnya agak tan. Siapa yang tidak terpesona.
Edgar memberikan materi talkshow yang menarik, mengajak anak muda untuk Leadership di dunia bisnis. Gaya bicara yang santai dan diselingi lelucon anak zaman sekarang membuat audiens rileks dan talkshow jadi luwes dan tidak kaku. Beberapa audiens mengangkat tangan menanyakan pertanyaan seputar komunikasi.
Helena memperhatikan Edgar, pesona pria dewasa memang tak bisa ditolak. Dila melihat itu dimata Helena. saat moderator memberi kesempatan terakhir untuk bertanya, Dila memegang tangan Helena untuk bertanya
"Iya silakan" Dion memperhatikan tangan Helena, seorang mahasiswa semester 5 yang menurutnya cantik effortless,
Helena terdiam malu, lalu Dila memegang mix
"maaf Pak temen saya emang gitu orangnya, Dia mau nanya Bapak udah punya istri belum, Helena mau daftar" ucap Dila membuat Helena tertunduk malu
Edgar menyaksikan tingkah lucu audiensnya memberikan jawaban
"okey saya jawab, saya masih single sesuai CV yang dibacakan moderator" jawab Edgar santai
Edgar saat talkshow bukannya tidak memperhatikan audiens. Helena salah satu wajah yang menarik perhatiannya. wajah itu lagi, tapi gadis ini muda mirip dengan mantan kekasihnya saat kuliah dulu.
setelah talkshow Helena dan Dila ke kantin untuk makan siang
"aku pesen bakso, kalau kamu pesan apa Helena"
Tanya Dila
"Samain aja" jawab Helena
"Cie terpesona banget sama pak Edgar.. " ucap Dila
"Bukan terpesona Dil, pak Edgar tuh mirip sama papaku" ucap Helena
"oh... hehe sorry dech kalau gitu bikin kamu jadi pusat perhatian tadi" ucap Dila meminta maaf
Dila adalah temen pertama di kampus, tingkahnya yang out of the box juga salah satu yang bikin Helena suka berteman dengan Dila. Ekstrovet parah.
Dila aktif di UMKM Taekwondo. Dia mudah akrab sama orang lain, pembawaannya supel. Beberapa kali ikut lomba Taekwondo baik tingkat kota maupun nasional.
Dion juga di Taekwondo, makanya Dila sangat mengaguminya,. Terkahir Dion menang lomba Taekwondo tingkat internasional di Malaysia. sedang dirinya tidak ikut karena mengalami cidera saat bermain badminton. tapi sekarang cideranya sudah hilang
Sandra, Mama Helena sedang sibuk dengan Bisnis di Perusahaan Marketing Property. Perusahaan yang sedang melakukan kerja sama dari Harris Development, sebuah perusahaan Real Estate Yang memiliki cabang perusahaan di beberapa negara. Edgar diminta ayahnya mengurusi cabang yang ada di kota Ini.
Sekretaris Sandra menerima laporan bahwa beberapa property klien yang mereka tangani belum juga dapat ditempati karena ada kendala dengan Harris Development. Ada laporan klien bahwa sudah 10 bulan sejak pengajuan ke agency untuk membeli property dari Harris Development belum ada kepastian kapan ditempati. Bukan hanya satu kasus tapi beberapa.
Haris meminta Edgar untuk melakukan audit pada cabang di Kota Ini. Setelah dilakukan Audit ternyata ada kasus korupsi, sehingga membuat Edgar memecat karyawan yang terlibat.
Edgar development dan Perusaan Marketing propery milik Sandra sudah bekerja sama sejak lama. Edgar juga baru tahu ternyata Sandra adalah pemilik Perusahaan ini.
Haria telah membangun perusahaannya sendiri, bernama Edgar Development yang cukup mulai di kenal. Sedang membangun perhotelan dan pusat perbelanjaan. kehadirannya di kota ini akan cukup lama, karena memantau perkembangan perusahaannya dan sekaligus anak cabang perusahaan ayahnya.
"Edgar, Papa minta bantuan kamu untuk bantu awasi perusahaan papa disana. Dan pulanglah dengan membawa calon istrimu" ucap Haris Ayah Edgar.
Di usianya yang cukup matang, Haris ingin keturunan dari Edgar. Ingin merasakan lembutnya tangan cucu, tertawa menyentuh bayi mungil. Meramaikan rumah mereka yang sepi.
Haris ditemani Istrinya Liluna tinggal di Belanda, menikmati masa tua nya. Perusahaan ia percayakan pada Edgar, tapi anaknya begitu keras kepala ingin membuat perusahaannya sendiri. sedangkan Hana, adik Edgar berusia 30 tahun sudah menikah. Suami Hana adalah Anggota Politik yang juga membantu Haris menangani perusahaan. Edward, adalah seseorang yang dapat diandalkan. Edward dan Edgar dulunya teman akrab. Karena pertemanan mereka akhirnya Hana berjodoh. Kisah cinta Mu brother's Friend. Relasi Edward sangat berguna mengembangkan perusahaan Haris. Sedang Hana sibuk di desain gaun pernikahan.
Edgar, sejak kedatangannya di kota ini ia memilih menginap di hotel, hari ini dia akan check-out dari hotel menuju salah satu perumahan di komplek Kamboja. Properti milik ayahnya, dia tak mau repot mengurus ini dan itu, menghabiskan waktu.
Perumahan Elit dengan Full furnished, Edgar akan berangkat sendiri tanpa ditemani Rehan, Ayah Dion. Farhan sahabat Dion merupakan penyuka sesama jenis. Tapi kini dia berubah demi istrinya, mamanya Dion. Dulu, Rehanmenyembunyikan hal ini dengan berpacaran dengan mamanya Dion, Wilona.
"Saya hari ini Check-out dari hotel" ucap Edgar pada Farhan melalui telpon genggamnya
"Okey Edgar, saya harap kamu betah tinggal lagi di sini" balas Rehan.
Rahasia Rehan aman ditangan Edgar, Edgar juga tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Farhan di kota ini . Kota yang penuh kisah masa muda mereka, kisah cinta, dan penghianatan.
"Thanks ya udah jadi tour guide saya di sini. titip salam buat Dion" ucap Edgar.
Edgar mematikan telpon,
"Enggak nyangka Han, kamu bakal punya anak se manly Dion. Mudahan dia nggak ikutin jejak kamu" ucap Edgar menggelengkan kepalanya dan tersenyum. mengingat berapa bagusnya publick speaking Dion, juga keterlibatannya di Organisasi kampus.
Edgar jadi teringat gadis yang bernama Helena,
"Bagaimana kamu, bisa sangat mirip dia? " gumam Edgar
Badan Helena pagi ini agak panas demam, tidak bisa bangun. bibirnya kering, wajahnya pucat mirip seperti mayat. Mamanya mengetuk pintu bermaksud mengajak sarapan, karena biasanya jam segini Helena sudah meminum susu dan Avocado Toast, atau 2 buah telur rebus.
"Helena, kamu udah siap-siap ke kampus. Biasanya hari Kamis kamu ada jadwal kuliah pagi" panggil Sandra mengetik pintu anak gadisnya.
"Helena, are you okay" tanya Sandra. Tak biasanya Helena tak menjawab.
"Helena buka pintunya sayang" pinta Sandra dengan suara khawatir kalau anaknya kenapa-kenapa
Helena mendengar ketukan dan panggilan beberapa kali mamanya, dia beranjak dari kasur, berjalan tertatih seperti mayit yang hidup kembali. tangganya memegang ganggang sambil memutar kunci pintu.
"Ma.. Helena pusing, uhuk.. uhukkk kayaknya mau istirahat dulu ma" ucap Helena
"Yaudah, kamu izin aja kalau gitu. Mama hubungi dosen kamu" ucap Sandra sambil membawa Helena kembali berbaring di kasur.
Sandra bergegas keluar kamar menuju lantai 1 untuk mengambil termometer dan obat di kotak P3K. Sandra hampir saja terjatuh ditangga karena buru-buru.
Sandra tak pernah mengajari Helena untuk marah, sebagai single parent bahkan saat SMP ia meminta wali murid agar menjauhkan Helena dari anak yang punyaa perilaku kurang baik. untung nya Wali kelas mengerti maksud Sandra, sehingga menasehat bahwa Helena perlu belajar beradaptasi sehingga dapat bertindak benar ketika berinteraksi dengan karakter murid yang berbeda-beda.
Helena menjadi anak yang ceria di kelas, bisa dibilang agak cenderung kekanakan. walau awalnya saat awal-awal SMP ia sering menangis mengadukan perbuatan temannya. seiring waktu setelah mendapat coaching dari wali kelas. Helena menjadi anak yang baik dan mampu beradaptasi
"aduh ini suhunya 40, mama kasih paracetamol sama vitamin ya" ucap Sandra lalu bersegera ke dapur menyiapkan bubur
"aduh kayaknya kelamaan kalau bikinn sendiri" gumam Sandra.
"Beli aja" ucapnya berlaku mengendarai mobilnya membeli bubur ayam.
Sekita beberapa menit, ia sampai. masih pukul 07.30 Bi Titin juga belum datang, dia akan telat ke kantor. Dia menghubungi sekretarisnya untuk mengundur jadwal meeting sampai pukul 09.30
"Angel, anakku sakit. Asisten rumah tangga baru datang jam 09.00. tolong di manage meeting. Di undur sampai 09.30" tuturnya di telpon
"baik kak" jawab angel, sekretaris muda lulusan management yang sudah bekerja dengan Sandra sejak kelulusan S1, usianya sekitar 28 tahun. Bisa bicara berbagai bahasa. Helena cukup mengenal Angel karena Sandra kerap membawa Angel kemanapun dia pergi. termasuk rumah, angel juga membantunya selayaknya adik dan kakak.
"sini duduk dulu, pusingnya udah kurang? " tanya Sandra sambil membantu Helena untuk duduk bersandar di kasur. ia hendak menyuapi anaknya
"Buka mulutnya. a.. " sandra memperlakukan Helena layaknya anakk kecil. Helena hanya mampu memakan bubur beberapa suapan saja karena nafsu makannya benar-benar buruk. Bubur ayam yang terasa enak, kini hambar.
"kangen Papa ma" ucap Helena, di respon sendu oleh Sandra
"Abis minum obat kamu telpon papa kamu ya " balas Sandra.
Setelah 30 menit selesai sarapan. Sandra memberikan obat paracetamol dan vitamin ke Helena.
Helena menghubungi Papanya. Tetap saja tidak bisa karena ini bukan akhir bulan. Papanya terlalu disiplin soal berkarya.
"Papa.. angkat pa.. " ucap Helena, sementara Sandra berusaha kuat menghadapi situasi ini. Mantan suaminya sangat terobsesi dengan Novel barunya. Mengagendakan jadwal penulisan novel dengan disiplin sampai-sampai hanya bisa dihubungi saat akhir bulan. Dengan alasan membutuhkan perasaan dan penghayatan. Sandra akui usahanya membuahkan hasil dari bagaimana terkenalnya dia. tapi saat novel yang sempat gagal, dia semakin mengunci diri dan memaksakan kedisiplinan. Dan terus menyalahkan ketidak profesional annya. hingga waktunya banyak dihabiskan untuk menulis, dia mulai berubah. Setidaknya itulah alasan perpisahan orang tuanya yang Helena dengar dari Ibunya. Sedangkan alasan yang tetap di rahasiakan akan tetap menjadi rahasia.
Rumah dia lantai, No 04. Dibelakang dan depan ada kebun cukup rindang terawat. Di jendela kamarnya berhadapan dengan jendela rumah tetangga. Edgar menggeser tirai di jendela kamarnya, memperlihatkan seorang gadis yang terlihat pucat.
"Bukannya itu Helena? " Ucap Edgar
"Dunia begitu sempit, dan permainan takdir apalagi ini Tuhan" lanjutnya
Edgar telah selesai mengemasi pakaiannya ke dalam lemari. Meletakkan laptop dan buku agenda serta Gitar. Sampai hari sudah siang, dia teringat belum sarapan.
Dia memesan makanan siang vis online dan beberapa Box Donat sebagai ramah ramah penghuni baru. Setelah makan siang, Edgar menggnakan baju santai baju kaos putih dan celana pendek krem. Dia membawa Donat ke beberapa rumah lainnya.
Rumah pertama no 3, adalah rumah Dila. Orang tuanya penghuni lama kompleks ini, sekarang Dila sedang kuliah. Yang menyambut kedatangan Edgar adalah Ibunya Dila, Bu Mariam. Ibu sholehah memakai kerudung. Sebagai ibu rumah tangga, sedang ayah Dila seorang Direktur di rumah sakit ternama di kota ini.
"permisi selamat siang Bu, saya Edgar baru menempati rumah nomor 4, salam kenal. ini ada donat kalau berkenan" ucap Edgar menyerahkan Box Donat.
"MasyaAllah makasih ya Mas Ganteng. ini masnya pindah di sini apa sama istri dan anak juga, diajak main kesini mas. Tapi kalau hari kerja gini suami saya kerja jadi ndk bisa namui ke dalem" ucap Bu Mariam. Padahal umur mereka tak beda jauh. .
"Wah, sayangnya saya belum menikah bu." jawab Edgar tersenyum ramah
"jangan panggil ibu, panggil mba aja. saya baru 39 tahun. Adek ini masih muda sudah punya rumah sendiri, keren" ucap Bu Mariam ah
"Baik mba, kalau begitu saya permisi" jawab Edgar meninggalkan rumah Bu Mariamah dengan membawa Box terakhir. Dia telah membagikan Box ke beberapa tetangga. Terakhir ia akan ke rumah Helena.
ting tung... (bel berbunyi).
"Iya mas ada apa? " tanya Bi Titin sopan.
"Saya Edgar mba, saya baru saja menempati rumah nomor 4 .. kita tetangga dekat. ini ada Bingkisan sedikit sebagai tetangga baru" jawab Edgar.
Edgar berharap yang membukakan pintu adalah Helena, bagaimana mungkin di umurnya yang sudah 38 tahun mulai memperhatikan gadis seusia Helena.
Malam tiba, Demam Helena sudah turun tapi tubuhnya masih lemah. Ibunya ada di bawah memanaskan makan malam.
"Okay.. Ready. makan malam udah beres. selanjutnya siapin makan malaam buat Helena" ucap Sandra sedang bergelut di dapur.
Dia menyiapkan sup ayam untuk anak gadisnya itu, dan membawakan donat yang ia temukan di dapur, kata bi Titin dari tetangga penghuni rumah sebelah.
Sandra mengetuk pintu kamar Helena, tak ada jwaban. Menemukan kamar tidak dikunci, Sandra masuk. Ternyata Helena sedang berada di walk-in closet untuk mengganti piyama.
"Ma,... " Helena memeluk dari belakang
"Ada donat... mauuu" ucap Helena langsung mengambil Donat rasa Greentea. Lembut, merek donat yang biasa dibeli Helena kalau lagi badmood, atau pengen nonton di rumah bareng mama atau Dila.
Sandra lalu mengecek suhu tubuh Helena, meletakkan tangannya ke kening anaknya.
"udah turun panasnya, air putihnya diminum biar nggak dehidrasi sayang. Itu donat dari tetangga baru kata bibi. Penghuninya laki-laki dan mungkin saama anggota keluarga yang lain juga" jelas Sandra
"Seru dong ma, kalau dia punya anak seusia aku atau adek kecil bisa diajak main" ucap Helena
"mama gak tau juga, bi Titin bilang sih nggak sempet tanya-tanya. Itu jendela kamu papasan sama kamar tetangga baru. Hati-hati lho kalau berpakaian. Tirainya di tutup aja buat privasi, tapi bakal gelap sih" ucap Sandra menyipitkan mata
"tenang aja ma, Helena bakal hati-hati.. " balas Helena
"Yaudah abisin dulu sup ayamnya, terus minum obat. Nanti mama cek lagi suhu nya. mama ke bawah dulu ya sayang" ucap Sandra
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!