Bab 001: Bangun di Kain Kafan
Bau kapur barus menusuk hidung Sari Wulandari begitu keras sampai dadanya refleks mencari udara.
Ia tidak langsung paham kenapa tubuhnya sulit bergerak. Ada kain kasar membungkus sampai ke leher, ada suara orang membaca istighfar di dekat pintu, dan ada tangis perempuan yang ditahan-tahan seperti takut mengganggu orang mati. Untuk beberapa detik, Sari hanya terbaring dengan mata masih tertutup, mendengarkan dunia berjalan tanpa menunggunya.
"Kasihan Bu Sari. Seumur hidup kerja buat keluarga, akhirnya pulang begini."
"Yang lebih parah, belum dimakamkan saja Pak Hendra sudah bikin resepsi."
"Pelan-pelan. Jangan sampai Nadia dengar."
"Satu komplek juga sudah tahu. Istrinya meninggal pagi, sorenya dia menikah dengan Ratna."
Nama Ratna membuat kesadaran Sari naik seperti air panas. Ia mencoba menggerakkan jari. Kaku, dingin, tetapi bergerak. Telapak tangannya menyentuh kain yang menutup dadanya, lalu ia membuka mata dan melihat kipas ruang tengah berputar lambat di atasnya.
Kain kafan.
Sari menarik napas, tersedak, lalu menggerakkan tangan lebih jelas. Seorang tante di dekat pintu menjerit. Kursi terseret, piring jatuh, dan beberapa orang mundur sambil menyebut nama Tuhan.
Di samping tikar, Nadia mematung dengan kerudung hitam miring. Mata anak bungsunya bengkak, botol minyak kayu putih masih tergenggam di tangan.
"Ibu?"
Sari ingin menjawab, tetapi tenggorokannya seperti penuh pasir. Ia hanya mengangkat tangan sedikit. Nadia jatuh berlutut, menyentuh pipinya, lalu tangisnya pecah.
"Ya Allah... Ibu hangat. Ibu masih hidup."
"Bantu Ibu duduk," bisik Sari.
"Jangan, Bu. Aku panggil ambulans lagi. Ibu baru saja dinyatakan..." Nadia tidak sanggup menyelesaikan kalimat.
Sari menggenggam pergelangan anaknya. Tenaganya kecil, tetapi cukup untuk menahan Nadia. "Ayahmu di mana?"
Wajah Nadia berubah sebelum ia sempat menjawab.
Sari melihat sekeliling. Tidak ada Hendra. Tidak ada Raka. Tidak ada Bayu. Rumah yang katanya sedang berduka hanya dipenuhi tetangga, beberapa kerabat jauh, dan Nadia yang tampak seperti satu-satunya orang yang benar-benar kehilangan dirinya.
"Mereka di mana, Na?"
"Kita ke rumah sakit dulu, ya. Aku takut Ibu pingsan lagi."
"Jawab."
Nadia menggigit bibir sampai pucat. Ia mengambil ponsel dari tas, membuka video yang masih tersimpan di galeri, lalu menyerahkannya pada Sari dengan tangan gemetar.
Di layar, Hendra Prasetyo berdiri di panggung kecil memakai batik baru. Di sebelahnya, Ratna Lestari tersenyum dalam kebaya merah marun, sementara di belakang mereka tertulis Selamat Menempuh Hidup Baru. Raka dan Bayu berdiri di barisan depan, rapi, seolah hari itu memang hari bahagia keluarga.
Sari menatap video itu sampai layar meredup.
"Hari ini?"
Nadia mengangguk sambil menangis. "Aku telepon Ayah berkali-kali. Katanya semua sudah telanjur diatur. Katanya Ibu sudah pergi, jadi jangan bikin keluarga besar malu."
Sari tertawa pendek. Rasanya kering, hampir tidak terdengar seperti tawa. Setelah tiga puluh tahun ia menambal utang pabrik, membuka kios dari uang receh, membayar sekolah anak-anak, mengurus kebun yang dulu ditertawakan Hendra, rupanya kata malu baru muncul ketika ia bangun dari kafan.
"Siapa yang membawa Ibu pulang dari rumah sakit?"
"Aku. Dokter bilang Ibu tidak merespons. Aku panik. Ibu Sri mendesak jenazah dibawa pulang cepat karena katanya pemakaman jangan ditunda. Ayah tidak mengangkat telepon. Mas Raka cuma bilang ikut keputusan keluarga. Mas Bayu juga."
"Surat lengkap resmi dari rumah sakit tadi?"
"Ada di map."
"Simpan. Jangan hilang."
Nadia menatapnya seperti tidak percaya. "Ibu baru sadar, masih sempat mikir bukti?"
"Kalau mereka sempat menikah saat Ibu dikafani, Ibu juga boleh sempat berpikir."
Nadia membuka map kecil di samping tikar. Di dalamnya ada salinan surat keterangan kematian sementara, kuitansi ambulans, catatan IGD, dan fotokopi KTP Sari yang tadi pagi dipakai untuk mengurus pemulangan jenazah. Ujung kertasnya kusut karena Nadia terlalu sering menggenggamnya.
Sari menatap namanya di dokumen itu. Tanggal lahir, alamat, nama suami, semua tertulis rapi. Hidup tiga puluh tahun sebagai istri Hendra ternyata bisa diringkas menjadi beberapa lembar kertas dan satu kain putih.
"Masukkan ke tas," katanya.
"Sekarang?"
"Sekarang."
Beberapa orang yang mendengar langsung menunduk. Seorang paman dari keluarga Hendra mencoba mendekat.
"Sar, jangan gegabah. Ini pasti salah paham. Kita panggil Hendra pulang dulu."
Sari menoleh. "Salah paham apa? Aku salah paham karena belum jadi mayat?"
Paman itu berhenti.
Sari menyingkap kain dari kakinya. Tubuhnya gemetar saat telapak kakinya menyentuh lantai. Nadia langsung menopang, tetapi Sari menolak gamis yang diambilkan dari lemari.
"Biarkan kainnya."
"Bu, orang-orang akan lihat."
"Memang itu tujuannya."
Di sudut ruangan, Ibu RT berbisik ingin menelepon ambulans. Sari mendengarnya dan mengangkat tangan kecil.
"Nanti, Bu. Kalau saya jatuh di jalan, baru panggil ambulans. Sekarang beri saya lima belas menit untuk mengurus hidup saya."
Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang menasihati lagi. Kain putih di tubuh Sari membuat semua kalimat terasa terlambat.
Nadia memasukkan ponsel, dompet, map medis, dan kunci mobil ke dalam satu tas. Tangannya masih gemetar, tetapi matanya mulai berubah.
"Aku punya rekaman suara Ayah tadi pagi," katanya pelan. "Waktu aku minta dia pulang, dia bilang jangan ganggu acara."
"Kirim ke emailmu."
"Sudah."
Sari menatap anaknya. Untuk pertama kalinya sejak membuka mata, ia tidak hanya melihat Nadia sebagai putri yang menangis, melainkan saksi yang sedang belajar berdiri.
Seorang tante dari pihak Hendra berbisik, "Kasihan Hendra kalau acara itu kacau."
Sari berhenti di ambang pintu. Ia tidak mencari siapa yang bicara.
"Kalau kasihan, datanglah ke gedung. Bantu dia menjelaskan kenapa istrinya yang dikira mati bisa berjalan."
Bisik-bisik langsung padam.
Mereka berjalan keluar. Tetangga membuka jalan. Di teras, seorang sepupu Hendra mencoba menahan dengan alasan tidak baik perempuan berkafan keluar rumah.
Sari menatapnya sekali. "Lebih tidak baik suami menikah sebelum istrinya dikubur."
Sepupu itu mundur.
Di mobil, napas Sari tersengal. Nadia duduk di balik setir, ragu menyalakan mesin.
"Ibu bisa pingsan."
"Kalau pingsan, siram air."
"Ibu..."
"Jalan, Na."
Mobil keluar dari komplek. Siang Tangerang Selatan terlalu terang, seperti dunia tidak peduli apakah seorang perempuan baru saja batal mati. Sari menyandarkan kepala ke kursi. Perutnya masih melilit, tangan masih dingin, setiap tarikan napas terasa seperti pinjaman. Namun video Hendra menggenggam tangan Ratna lebih sakit daripada semua itu.
Di lampu merah pertama, Nadia hampir memutar balik ketika melihat bibir Sari memucat.
"Bu, kita ke IGD dulu."
"Setelah gedung."
"Kalau Ibu pingsan sebelum sampai?"
"Rekam juga. Biar lengkap."
"Ini bukan lelucon."
"Ibu tidak sedang melucu," kata Sari. "Kalau Ibu ke rumah sakit sekarang, mereka punya waktu menghapus jejak. Video bisa hilang, tamu bisa pulang, cerita bisa diganti. Ibu sudah terlalu sering kalah karena datang terlambat."
Nadia menggenggam setir lebih kuat. Ketika lampu berubah hijau, ia tidak lagi membahas IGD.
Di perjalanan, ponsel Nadia terus bergetar. Grup keluarga Prasetyo memanggil-manggil namanya, meminta kabar pemakaman, bertanya kenapa rumah duka tiba-tiba ramai. Nadia tidak membuka satu pun.
"Baca yang penting saja nanti," kata Sari.
"Kalau mereka cari Ibu?"
"Mereka tidak mencari Ibu. Mereka mencari cara agar cerita tetap nyaman untuk mereka."
Nadia menelan tangisnya. Kalimat itu pahit, tetapi benar. Sejak kecil, ia melihat ibunya menutup lubang yang dibuat orang lain. Hari ini, untuk pertama kalinya, Sari membiarkan semua orang melihat lubang itu menganga di depan mata mereka sendiri.
"Gedungnya di mana?"
"Dekat jalan utama. Gedung kecil yang biasa dipakai arisan besar."
"Parkir di depan."
"Banyak orang, Bu."
"Bagus." Sari membuka mata. Suaranya serak, tapi dingin. "Ibu mau mereka melihat kain ini sebelum mendengar satu kata pun dari mulutku."
Nadia menatap ibunya dari samping. Seumur hidup, ia melihat Sari menahan diri demi nama keluarga. Hari itu, dalam kain putih yang seharusnya mengantar ke kubur, Sari justru tampak paling hidup.
Bab 002: Resepsi yang Membeku
Pintu gedung resepsi terbuka tepat ketika pembawa acara meminta Hendra Prasetyo dan Ratna Lestari saling menyematkan cincin.
"Sebentar."
Suara Sari Wulandari tidak keras, tetapi musik organ langsung berhenti. Tamu yang sedang mengambil kue menoleh, anak kecil di dekat meja prasmanan ditarik ibunya, dan Hendra berdiri kaku di panggung dengan cincin masih di tangan.
Di ambang pintu, Sari berdiri dalam kain kafan. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan Nadia di belakangnya menggenggam ponsel seperti menggenggam pisau.
"Itu Bu Sari?"
"Bukannya tadi pagi meninggal?"
"Ya Allah..."
Bisik-bisik menyebar lebih cepat daripada suara pengeras. Sari tidak menunggu mereka selesai kaget. Ia melangkah masuk, lurus ke panggung kecil tempat Ratna mundur sampai bahunya menyenggol dekorasi bunga plastik.
"Sa... Sari?" Hendra akhirnya bersuara.
Sari berhenti di ujung karpet merah. "Kenapa? Kaget istrimu belum jadi jenazah?"
Pembawa acara menurunkan mikrofon dan menyingkir pelan. Hendra turun dari panggung, mencoba meraih lengan Sari, tetapi Nadia langsung mengangkat ponsel.
"Jangan sentuh Ibu."
Hendra menahan tangan di udara. "Kamu seharusnya di rumah. Dokter bilang..."
"Dokter salah. Kamu yang terlalu cepat bahagia."
Wajah Hendra menegang. Ia melirik tamu-tamu, lalu merendahkan suara. "Jangan bikin ribut. Kita bicara di luar."
"Kamu mengadakan acara di depan orang banyak saat aku dikafani, tapi aku harus bicara pelan di luar?"
Beberapa tamu yang duduk dekat panggung mulai mundur. Seorang ibu menyembunyikan kotak nasi di bawah kursi, seolah benda itu ikut bersalah. Di meja keluarga, Ibu Sri tidak terlihat. Sari tahu perempuan tua itu cukup pintar untuk tidak hadir di bagian yang bisa disalahkan, tetapi cukup dekat untuk menikmati hasilnya jika acara berjalan lancar.
Nadia bergerak ke sisi kiri, mengambil posisi yang bisa merekam Hendra, Ratna, dan dua kakaknya sekaligus. Sari melihat itu dari sudut mata. Anak perempuan yang tadi pagi gemetar di samping kain kafan kini tahu kamera bisa menjadi perisai.
Ratna turun dari panggung, masih berusaha menjaga senyum. "Bu Sari, kami semua mengira Ibu sudah meninggal. Saya turut bersyukur kalau Ibu masih hidup, tapi acara ini sudah..."
Tamparan Sari menghentikan kalimat itu.
Suara telapak tangannya menghantam pipi Ratna terdengar sampai barisan belakang. Ratna terhuyung, tangan menutup pipi, riasannya mulai retak bersama wajah manis yang tadi ia pamerkan pada tamu.
"Itu untuk kata tapi," kata Sari. "Tidak ada tapi setelah istri sah bangun dari kafan dan menemukan suaminya memasang cincin untuk perempuan lain."
Ratna membelalak. "Kamu tidak berhak mempermalukan saya. Hendra sudah tidak mencintaimu. Kami punya masa lalu."
"Masa lalu yang diberi rumah? Mobil? Uang bulanan? Atau masa lalu yang melahirkan Tania?"
Ruangan langsung riuh. Seorang kerabat Ratna yang duduk dekat meja keluarga menunduk pura-pura sibuk dengan piringnya. Beberapa tamu saling pandang, seolah potongan cerita yang selama ini beredar akhirnya punya nama.
"Jawab," kata Sari. "Kalau kamu berani memakai kebaya pengantin di hari kain kafanku dibentangkan, kamu juga harus berani menjelaskan siapa Tania."
Ratna membuka mulut, tetapi Hendra maju lebih cepat.
"Sari!"
Sari berbalik dan menamparnya.
Kepala Hendra berpaling. Sebelum ia sempat bicara, tamparan kedua mendarat di pipi satunya. Kali ini, tidak ada yang maju melerai. Mungkin karena kain kafan itu. Mungkin karena semua orang tahu dua tamparan masih terlalu ringan untuk laki-laki yang menikah di hari kematian istrinya.
Raka bangkit dari barisan depan. Bayu ikut berdiri, wajahnya pucat.
"Ma, cukup," kata Raka. "Semua tamu melihat."
Sari menatap anak sulungnya. "Kamu juga melihat. Adikmu menangis sendirian di samping kain kafan ibunya, sementara kamu berdiri di sini."
Raka kehilangan kata.
Bayu mendekat setengah langkah. "Ma, kami pikir Mama benar-benar meninggal. Ayah juga butuh didampingi."
"Ayahmu butuh didampingi saat menikah lagi?"
Bayu menunduk.
Raka membuka mulut lagi, lalu menutupnya. Wajahnya menunjukkan pertarungan kecil antara malu dan kebiasaan membela ayahnya. Sari tidak menunggu ia memilih. Selama bertahun-tahun ia terlalu sering menunggu laki-laki di rumah itu memilih benar. Hari ini, ia yang memilih jalan.
Hendra memegang pipinya, malu dan marah bercampur di wajahnya. "Kamu sudah gila."
"Belum." Sari mengambil mikrofon dari meja cincin. "Kalau aku gila, gedung ini sudah lebih berantakan."
Pengeras suara memantulkan napasnya yang pendek. Nadia berdiri di samping panggung, kamera tetap menyala.
"Nama saya Sari Wulandari," kata Sari. "Saya masih istri sah Hendra Prasetyo. Pagi ini saya dikafani setelah rumah sakit menyatakan saya meninggal karena keracunan makanan. Anak perempuan saya menemani saya. Suami saya dan dua anak laki-laki saya tidak ada di rumah karena mereka ada di sini."
Hendra melangkah untuk merebut mikrofon. Sari mengangkatnya lebih tinggi.
"Kalian boleh menyebut ini acara keluarga. Tapi ada pelaminan, cincin, katering, undangan, dan perempuanmu memakai kebaya merah. Jangan minta orang lain ikut pura-pura bodoh."
Beberapa tamu menunduk. Ada yang mundur ke pintu. Ada yang menyimpan ponsel cepat-cepat saat Nadia mengarahkan kamera ke arah mereka.
"Mulai hari ini, saya menggugat cerai Hendra Prasetyo di Pengadilan Agama. Saya juga akan memeriksa harta bersama, rekening usaha, rumah, mobil, transfer untuk Ratna, dan biaya anak yang disembunyikan selama pernikahan saya."
Warna wajah Hendra hilang. Kata harta jauh lebih cepat menembus harga dirinya daripada kata istri.
Ratna ikut pucat saat mendengar kata transfer. Tangannya yang tadi menutup pipi turun sedikit. Di wajahnya muncul rasa takut yang berbeda dari malu, seolah ia baru ingat uang bulanan, cicilan rumah, dan biaya sekolah Tania tidak turun dari langit.
Sari melihat perubahan itu dan menyimpannya dalam kepala, rapi untuk dipakai nanti saat waktunya tiba.
"Sari, jangan macam-macam."
"Aku baru bangun dari kain kafan, Hendra. Ancamanmu terlalu kecil."
Raka bergerak seperti hendak bicara, tetapi Nadia mengarahkan kamera padanya.
"Mas, kalau mau bicara, bicara di depan kamera. Jangan nanti bilang Ibu salah dengar."
Raka menatap adiknya. Malu akhirnya muncul di wajahnya, terlambat tapi nyata. Bayu menarik lengan kakaknya pelan.
Di antara tamu, seseorang mulai berbisik soal polisi, soal Pengadilan Agama, soal apakah acara seperti itu sah atau hanya akal-akalan keluarga. Hendra mendengar potongan kata itu dan rahangnya makin keras. Sari tahu, baginya masalah terbesar bukan luka istrinya, melainkan saksi yang terlalu banyak.
Ratna menangis lebih keras. "Mas, jangan biarkan dia pergi begitu saja."
Hendra memanggil nama Sari, namun tidak berani mengejar. Tamu-tamu sudah memandangnya seperti tontonan kotor, bukan kepala keluarga yang perlu dihormati.
Sari meletakkan mikrofon. Tenaganya hampir habis; lututnya mulai bergetar dan pandangan di tepi matanya menggelap. Nadia cepat menopang lengannya, dan kali ini Sari membiarkan.
Di pintu, Sari berhenti sebentar dan menoleh pada para tamu.
"Silakan lanjut makan. Nasi kotaknya jangan mubazir. Aibnya sudah telanjur matang."
Ia keluar sebelum Hendra menemukan jawaban.
Begitu duduk di mobil, seluruh tubuh Sari menggigil. Nadia menyalakan mesin dengan mata basah.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Sari mengangguk. "Setelah itu ke rumah."
"Rumah?"
"Ambil dokumen. Buku rekening. Sertifikat kios. Kontrak kebun. Ponsel lama Ibu. Semua yang bisa jadi bukti."
Nadia mengunci pintu mobil. Dari kaca spion, Sari melihat Hendra berdiri di depan gedung dengan pipi merah dan wajah kosong. Di belakangnya, Ratna menangis dengan riasan yang luntur.
Raka keluar beberapa langkah dari pintu gedung, tetapi berhenti ketika Bayu menarik lengannya. Tidak ada yang mengejar sampai mobil. Sari tidak kaget. Anak-anaknya sudah terbiasa membiarkan Nadia melakukan bagian sulit.
Nadia melihat juga, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya memasukkan ponsel ke tas, memastikan rekaman tersimpan, lalu menyalakan mode pesawat sebentar agar file tidak terganggu panggilan masuk dari keluarga.
Sari tidak merasa menang. Belum. Hari itu ia baru mengambil kembali suaranya. Sisanya akan ia rebut satu per satu.
Bab 003: Aku Menggugat Cerai
Dokter di IGD memandang Sari seperti melihat kasus yang akan membuat rapat rumah sakit berlangsung panjang.
"Ibu seharusnya tidak langsung pergi dari rumah," katanya hati-hati.
Sari duduk di ranjang pemeriksaan. Kain putih sudah diganti dengan gamis longgar yang dibeli Nadia di toko dekat rumah sakit. Wajahnya masih pucat, tangan dipasangi infus, dan dadanya terasa nyeri setiap menarik napas terlalu dalam.
"Saya seharusnya juga tidak dinyatakan meninggal terlalu cepat, Dok."
Dokter itu terdiam.
Nadia yang berdiri di samping ranjang langsung menggenggam tangan ibunya. "Bu, jangan emosi dulu."
"Ibu tidak emosi. Ibu menjawab."
Perawat di dekat tirai menunduk menahan ekspresi. Dokter menarik napas pelan, lalu kembali menjelaskan bahwa Sari mengalami kondisi lemah berat setelah keracunan, tekanan darah sempat sangat rendah, respons tubuh sulit terdeteksi, dan administrasi keluarga terlalu cepat membawa pulang jenazah.
"Kami akan lakukan pemeriksaan lengkap lagi," kata dokter. "Dan pihak rumah sakit akan membuat laporan koreksi. Untuk urusan dokumen kematian, keluarga harus mengurus pembatalan surat keterangan."
"Keluarga yang mana?" tanya Sari.
Dokter tampak bingung.
Sari tersenyum tipis. "Yang mengurus saya tadi hanya anak perempuan saya. Suami saya sedang resepsi."
Nadia menunduk. Ia tahu ibunya sengaja berkata begitu agar dokter paham betapa kacau situasinya.
Dokter tidak bertanya lebih jauh.
Setelah pemeriksaan awal selesai, Nadia keluar untuk mengurus administrasi. Sari duduk sendirian beberapa menit, menatap selang infus di punggung tangannya.
Tubuhnya lemah.
Tapi kepalanya justru sangat jernih.
Hendra pasti akan memutar cerita. Ratna akan menangis. Raka dan Bayu akan berkata ia mempermalukan keluarga. Ibu Sri akan menyalahkan dirinya karena membuat aib di depan tamu.
Semua itu bisa ia tebak.
Yang tidak ia tebak hanyalah rasa kosong di dadanya.
Tadi saat menampar Hendra, ia tidak merasa puas. Ia hanya merasa seperti baru menutup pintu rumah yang selama ini terbakar pelan-pelan.
Nadia kembali dengan wajah tegang. "Ayah telepon."
"Angkat. Pakai speaker."
"Ibu yakin?"
"Angkat."
Nadia menekan layar. Suara Hendra langsung keluar, keras dan penuh amarah.
"Nadia! Kamu bawa ibumu ke mana? Suruh dia pulang sekarang. Dia sudah bikin malu semua orang!"
Nadia menggenggam ponsel kuat-kuat. "Ibu di rumah sakit. Dia baru diperiksa."
"Rumah sakit? Bagus. Suruh dokter periksa kepalanya juga. Dia benar-benar sudah gila."
Sari mengulurkan tangan. Nadia menyerahkan ponsel.
"Hendra."
Di seberang, suara napas Hendra berhenti sekejap.
"Sari, kamu dengar saya baik-baik. Apa yang kamu lakukan tadi sudah keterlaluan. Kamu menampar Ratna, menampar saya, mempermalukan anak-anak, mempermalukan keluarga besar."
"Aku mempermalukanmu?" Sari bertanya pelan. "Kamu menikahi perempuan lain saat aku dikafani. Tapi yang memalukan aku?"
"Kamu masih bicara soal itu? Semua orang mengira kamu meninggal!"
"Termasuk kamu. Karena itu kamu bahagia sekali."
"Jangan memutarbalikkan keadaan."
"Aku tidak memutar apa pun. Nadia merekam semuanya."
Hendra diam.
Sari bisa membayangkan wajahnya berubah.
"Kamu mau apa?" tanyanya akhirnya.
"Cerai."
"Jangan mengancam."
"Itu bukan ancaman. Itu pemberitahuan."
Hendra tertawa pendek, kasar. "Kamu pikir cerai semudah itu? Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri? Kios kecilmu itu bisa kasih makan sampai kapan? Kebunmu itu bahkan belum tentu untung."
"Kamu akan tahu nanti."
"Sari, jangan sok kuat. Kamu lima puluh dua tahun. Siapa yang mau perempuan tua keras kepala sepertimu?"
Nadia langsung mengangkat kepala. "Ayah!"
Sari memberi isyarat agar Nadia diam.
Ia tidak sakit hati.
Aneh, tapi benar.
Kalimat itu pernah membuatnya terluka. Dulu. Saat Hendra berkata rambutnya kusam, tubuhnya tidak menarik, bajunya seperti ibu-ibu pasar. Dulu ia menangis diam-diam di kamar mandi.
Sekarang, kalimat itu seperti batu kecil dilempar ke dinding tebal.
"Aku cerai bukan untuk dicari laki-laki lain," jawab Sari. "Aku cerai untuk menjauh darimu."
Hendra tidak langsung membalas.
Sari melanjutkan, "Besok pengacara akan menghubungimu. Aku akan ajukan cerai gugat di Pengadilan Agama. Semua transfer untuk Ratna, rumah yang kamu beli, mobil, biaya Tania, semua akan dihitung."
"Kamu tidak punya bukti."
"Belum tentu."
"Sari, jangan macam-macam dengan saya."
"Aku sudah mati sekali hari ini. Kamu terlambat menakut-nakuti."
Ia memutus telepon.
Nadia menatapnya dengan mata basah.
"Ibu benar-benar mau cerai?"
"Ya."
"Tidak menunggu Ayah minta maaf?"
"Kalau orang menikah lagi saat istrinya dikafani, maafnya untuk apa?"
Nadia tidak menjawab.
Sari menatap anaknya. "Kamu takut?"
"Aku takut Ibu sakit lagi."
"Selain itu?"
Nadia menunduk. "Aku takut Mas Raka dan Mas Bayu menyalahkan Ibu. Takut keluarga besar menyerang Ibu. Takut Ayah memutar cerita."
"Mereka akan melakukan semuanya."
Nadia mengangkat wajah.
"Maka dari itu kita jangan kosong," kata Sari. "Mulai sekarang, simpan semua bukti. Video. Foto. Chat. Transfer. Nama saksi. Kalau ada yang menelepon, rekam."
"Baik."
"Jangan bertengkar di grup."
Nadia terkejut. "Tapi kalau mereka fitnah Ibu?"
"Kita jawab dengan bukti, bukan teriakan."
Nadia menggigit bibir, lalu mengangguk. "Aku paham."
Pintu tirai terbuka. Seorang perawat masuk membawa hasil tekanan darah. Setelah memeriksa, ia berkata Sari harus dirawat minimal semalam. Nadia langsung setuju sebelum Sari sempat menolak.
"Ibu tidak boleh kabur lagi," kata Nadia.
"Ibu tidak kabur. Ibu menyerang."
Nadia hampir tertawa, tapi air matanya jatuh duluan.
Malam itu, kabar Sari hidup dan membubarkan resepsi menyebar lebih cepat daripada pengumuman kematian paginya.
Grup keluarga Prasetyo tidak berhenti berbunyi.
Nadia duduk di sofa kamar rawat, membaca pesan satu per satu.
Ibu Sri menulis panjang tentang aib keluarga. Tante Retno dari pihak Hendra menuduh Sari sengaja membuat drama. Raka meminta Nadia membujuk Ibu pulang. Bayu mengirim pesan pribadi, katanya Ibu jangan kebawa emosi karena orang tua sudah sepuh.
Sari hanya meminta Nadia membacakan bagian penting.
"Mas Raka bilang, 'Ibu seharusnya pikirkan cucu-cucu. Jangan sampai perceraian ini bikin keluarga hancur.'"
"Balas: keluarga hancur saat ayah kalian menikah di hari pemakaman ibumu."
Nadia mengetik.
"Bayu bilang, 'Ayah memang salah, tapi Ibu juga jangan mengumbar aib.'"
"Balas: aib tidak lahir dari orang yang membuka pintu. Aib lahir dari orang yang berbuat di dalam rumah."
Nadia mengetik lagi.
Beberapa detik kemudian, grup sunyi.
Sari memejamkan mata. Tubuhnya lelah, tetapi hatinya tidak lagi goyah.
Ponsel Nadia bergetar lagi.
Kali ini dari nomor tidak dikenal.
Nadia mengangkat alis. "Pengacara yang dulu pernah bantu urusan kios, Bu. Pak Surya."
"Angkat."
Nadia mengangkat telepon, lalu menyerahkannya pada Sari.
"Bu Sari," suara Pak Surya terdengar tegas. "Saya baru menerima pesan dari Nadia. Saya turut prihatin atas kejadian hari ini. Kalau Ibu sudah cukup kuat, besok saya bisa datang ke rumah sakit."
"Saya mau cerai."
"Baik. Kita siapkan cerai gugat. Karena Ibu Muslim, jalurnya Pengadilan Agama. Kita juga perlu susun kronologi, bukti perselingkuhan, bukti harta bersama, dan dugaan pengalihan aset."
"Saya punya kios, kebun, rekening usaha. Saya tidak mau semuanya disentuh Hendra."
"Kita lihat pembukuannya. Aset yang tercatat sebagai usaha Ibu harus dipertahankan. Untuk pabrik?"
Sari membuka mata.
Di langit-langit kamar rawat, lampu putih terlihat terlalu terang.
"Dua pabrik itu biarkan dia pegang."
Pak Surya terdiam sejenak. "Ibu yakin?"
"Saya lebih tahu kondisi pabrik itu daripada dia."
"Kalau begitu besok kita bicara detail. Jangan tanda tangan apa pun tanpa saya."
"Baik."
Telepon berakhir.
Nadia menatapnya ragu. "Ibu benar-benar mau melepas pabrik?"
Sari tersenyum kecil.
"Na, orang serakah paling mudah dikalahkan dengan sesuatu yang terlihat menguntungkan."
"Maksud Ibu?"
"Ayahmu masih mengira pabrik itu mahkota. Biarkan dia pakai mahkota yang berkarat."
Nadia menatap ibunya lama.
Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum.
"Ibu terdengar menyeramkan."
"Bagus."
Sari menarik selimut sampai dada.
"Sudah terlalu lama Ibu terdengar lemah."
Di luar kamar, koridor rumah sakit mulai sepi. Tapi ponsel Nadia masih menyala dengan notifikasi baru. Sebuah pesan masuk dari Hendra.
Nadia membacanya pelan.
"Besok Ayah mau datang. Katanya mau bicara empat mata."
Sari menutup mata.
"Tidak ada empat mata lagi. Mulai sekarang, semua pembicaraan harus ada saksi."
"Aku temani."
"Kamu temani. Pengacara temani. Kalau perlu satpam juga temani."
Nadia mengangguk.
Sari mencoba tidur, tetapi pikiran tentang rumah lama muncul. Ada buku rekening di lemari bawah. Ada ponsel lama yang menyimpan pesan Hendra bertahun-tahun. Ada sertifikat kios. Ada kontrak sewa kebun. Ada catatan pesanan pabrik yang dulu ia bantu dapatkan.
Semua harus diamankan sebelum Hendra sadar.
Ia membuka mata lagi.
"Nadia."
"Iya, Bu?"
"Besok pagi, setelah dokter izinkan Ibu keluar sebentar, kita pulang ke rumah."
"Rumah Ayah?"
"Rumah tempat barang-barang Ibu masih disimpan."
Nadia mengerti.
"Aku pesan mobil lebih besar."
Sari mengangguk.
Di dada lemahnya, sesuatu yang lama mati mulai bergerak.
Bukan cinta.
Bukan dendam.
Kesadaran.
Mulai besok, ia tidak lagi menjadi istri yang meminta izin.
Ia menjadi pihak lawan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!