Indonesia
NovelToon NovelToon

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

1

Asap putih mengepul dari tungku besar, memenuhi ruangan sempit yang pengap oleh aroma kedelai rebus. Hamida mengangkat cetakan tahu yang masih panas dengan kedua tangan telanjang. Uap yang mengepul menyengat wajahnya, tetapi ia sudah terlalu terbiasa untuk mengeluh.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dan pernikahannya berakhir, pekerjaan di pabrik tahu milik Kak Dewi menjadi satu-satunya cara agar dapur kecil di gubuknya tetap berasap. Setiap pagi sebelum matahari benar-benar tinggi, ia berangkat setelah memastikan Harapan berangkat sekolah dengan seragam yang selalu dicuci bersih meski mulai pudar warnanya. Anak itu selalu mencium punggung tangannya sebelum berlari menyusuri jalan kampung.

"Nanti pulang jangan lupa cerita dapat nilai berapa," begitu pesan yang selalu Mida ulang setiap hari. Pagi itu pun tak berbeda. Harapan tersenyum lebar sambil mengangguk, lalu menghilang di tikungan jalan. Mida sama sekali tidak tahu bahwa itu adalah senyum terakhir yang ia lihat dari putra semata wayangnya.

Baru beberapa jam bekerja, suara derap langkah tergesa terdengar dari luar pabrik. Seorang lelaki paruh baya berhenti di depan pintu dengan napas memburu. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar, seolah bingung memilih kata yang harus diucapkan. Semua pekerja menoleh. Mida ikut mengangkat kepala dari cetakan tahu yang sedang disusunnya.

"Mi... Mida..." panggil lelaki itu terputus-putus. "Harapan... katanya kecelakaan."

Dunia seolah berhenti berputar. Cetakan tahu yang berada di tangan Mida jatuh menghantam lantai. Air dadih memercik ke mana-mana. "Apa?" suaranya nyaris tak terdengar.

"Di bendungan... cepat ke sana."

Tanpa sempat melepas celemek, Mida berlari keluar pabrik. Sandalnya beberapa kali nyaris terlepas, tetapi ia tak peduli. Napasnya memburu, dadanya sesak, sementara pikirannya dipenuhi doa-doa yang saling bertabrakan. Tidak, anakku pasti hanya terpeleset. Mungkin kakinya patah. Mungkin hanya pingsan. Harapan bisa berenang. Harapan pasti baik-baik saja.

Semakin dekat ke bendungan, semakin banyak warga yang berdiri berkerumun. Tidak ada suara gaduh. Hanya bisik-bisik pelan yang membuat bulu kuduknya meremang. Kerumunan itu perlahan membuka jalan ketika melihat Mida datang. Tak seorang pun berani menatap matanya.

Langkah Mida terhenti. Di tepi sungai yang airnya bahkan tidak tampak deras, sesosok tubuh kecil terbujur kaku. Seluruh tubuhnya telah ditutupi kain putih lusuh. Hanya sepasang kaki mungil yang masih terlihat di balik ujung kain itu. Sepasang kaki yang pagi tadi berlari meninggalkannya menuju sekolah.

"Lepas... lepas kainnya..." suara Mida pecah. Tak ada yang bergerak. Ia menerobos maju, berlutut di samping tubuh kecil itu dengan tangan gemetar. Perlahan ia membuka ujung kain yang menutupi wajahnya.

Wajah Harapan muncul dalam keadaan pucat kebiruan. Mata yang biasanya berbinar kini terpejam rapat. Bibir mungilnya membiru. Di pelipisnya tampak lebam kehitaman, sementara sudut bibirnya menyisakan noda darah yang telah mengering.

"Harapan..." Tak ada jawaban. Mida mengguncang tubuh anaknya berkali-kali. "Bangun, Nak... Ibu datang. Harapan, bangun..." Tubuh kecil itu tetap diam. Jeritan Mida memecah langit siang, menggema di sepanjang bendungan hingga membuat beberapa perempuan ikut menangis. Ia memeluk tubuh Harapan erat-erat, seakan kehangatan pelukannya masih mampu mengembalikan nyawa putranya.

Di kejauhan, suara sirene mulai terdengar. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil polisi berhenti di dekat kerumunan. Dua orang anggota turun bersama petugas yang membawa kantong jenazah. Salah seorang polisi memandang sekilas tubuh Harapan, lalu mengalihkan pandangan kepada warga. "Siapa yang pertama menemukan korban?" tanyanya datar.

Mida mengangkat wajah yang basah oleh air mata. Di balik isak tangis yang tak kunjung reda, sebuah pertanyaan mulai tumbuh perlahan di dalam hatinya. Mengapa tubuh anak yang katanya tenggelam penuh luka?

Tangisan Hamida tak juga reda ketika petugas kepolisian perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Harapan. Ia meronta, memohon agar mereka tidak membawa putranya pergi sebelum ia benar-benar yakin bahwa semua ini bukan mimpi. Namun, tubuh kecil yang sudah dingin itu tetap diangkat ke dalam kantong jenazah berwarna hitam. Ritsleting ditarik perlahan, menghilangkan wajah Harapan dari pandangannya. Seolah untuk kedua kalinya, anak itu direnggut dari pelukannya.

"Bu, jenazah harus dibawa ke rumah sakit dulu," ucap salah seorang polisi dengan nada datar.

"Saya ikut!" seru Hamida sambil naik ke dalam ambulans tanpa menunggu izin siapa pun.

Tak seorang pun menghalanginya. Seorang petugas medis hanya bergeser memberi ruang di samping brankar. Pintu ambulans ditutup. Sirene meraung memecah siang. Mobil mulai melaju meninggalkan bendungan.

Hamida duduk di lantai ambulans, tepat di samping tubuh Harapan. Tangannya tak pernah lepas menggenggam kantong jenazah berisi anaknya yang mulai membeku. Sesekali ia mengusap kaki mungil itu, berharap ada sedikit saja kehangatan yang tersisa.

"Bangun, Nak..." bisiknya lirih. "Kita pulang... Ibu masak sayur bayam kesukaanmu. Bangun ya, Harapan...." Tidak ada jawaban selain bunyi sirene yang bersahutan dengan isak tangisnya.

Sirene ambulans berhenti tepat di depan Instalasi Gawat Darurat. Begitu pintu belakang dibuka, dua petugas segera menurunkan brankar yang membawa tubuh Harapan. Hamida ikut turun dengan langkah sempoyongan, tangannya masih menggenggam ujung kain yang menutupi tubuh putranya, seolah tak rela melepaskannya. Namun, seorang petugas rumah sakit menghalangi langkahnya. "Maaf, Bu. Ibu tunggu di luar dulu."

"Itu anak saya," ucap Hamida dengan suara serak. "Saya ikut."

"Nanti kami panggil."

Tanpa memberi kesempatan Hamida membantah, pintu ruang jenazah ditutup rapat. Hamida berdiri mematung menatap pintu berwarna abu-abu itu. Di balik sana, putra semata wayangnya berada. Ia bahkan tak tahu apa yang sedang dilakukan orang-orang terhadap tubuh anak yang selama delapan tahun ia rawat dengan penuh kasih.

Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa terdengar dari arah lorong. Kak Dewi datang dengan napas tersengal. Perempuan itu langsung memeluk Hamida yang sejak tadi berdiri seperti kehilangan jiwa. "Mida."

Hamida tak mampu berkata apa-apa. Air matanya kembali mengalir deras di bahu atasannya itu.

"Aku di sini," bisik Kak Dewi sambil mengusap punggungnya. "Kamu nggak sendirian."

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Hampir satu jam Hamida hanya duduk di kursi lorong sambil menatap pintu ruang jenazah yang tak kunjung terbuka. Hingga akhirnya seorang petugas keluar mendorong sebuah brankar. Hamida spontan berdiri. Tubuh Harapan sudah terbujur rapi, seluruhnya dibalut kain kafan putih.

Hamida membelalak. "Ini... apa?" sambil menunjuk tubuh putranya.

Petugas itu tampak kebingungan. "Jenazah sudah kami kafani, Bu."

"Siapa yang suruh mengkafani?" teriak Hamida. Lorong rumah sakit mendadak hening. "Aku ibunya!" Suaranya pecah. "Aku yang melahirkan dia! Aku yang berhak memandikan dan mengkafani anakku! Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini tanpa izin dariku?"

2

Tubuh Hamida bergetar hebat. Ia meraih brankar itu, mengusap wajah Harapan yang samar terlihat di balik balutan kain kafan. Tangisnya pecah tanpa mampu lagi dibendung. "Harapan... maafkan Ibu, Nak... Ibu bahkan tidak sempat memandikanmu untuk terakhir kalinya...." Tak seorang pun berani menyela.

Kak Dewi hanya memeluk Hamida dari belakang, sementara matanya perlahan tertuju pada kain kafan yang membungkus tubuh Harapan. Keningnya berkerut. Di bagian pinggang sebelah kiri, kain putih itu mulai berubah warna. Merah. Seperti ada darah yang perlahan merembes dari dalam. Kak Dewi mendekat beberapa langkah. Tatapannya semakin tajam. "Mida" bisiknya pelan. "Ada yang tidak beres."

Hamida mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

"Kamu lihat itu?"

Hamida mengikuti arah telunjuk Kak Dewi. Napasnya seketika tercekat. Darah masih merembes dari balik kain kafan, membasahi kain putih yang seharusnya tetap bersih. Dengan tangan gemetar ia menyentuh bagian yang basah itu. Ketika telapak tangannya diangkat, jari-jarinya dipenuhi darah yang belum mengering.

Kak Dewi menatap tubuh Harapan dengan wajah penuh tanda tanya. "Mi... apa benar Harapan meninggal karena tenggelam?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Hamida terdiam. Pikirannya kembali pada saat pertama kali melihat putranya di tepi bendungan. Wajah Harapan lebam. Pelipisnya membiru. Siku dan lututnya penuh lecet. Ada luka tapi pastinya Mida tidak tahu, luka yang masih mengeluarkan darah.

Kalau benar tenggelam Kenapa tubuhnya babak belur seperti habis dipukuli?

Hamida menggigit bibirnya kuat-kuat. Harapan bukan anak yang takut air. Sejak kecil, putranya sering bermain di sungai bersama teman-temannya. Bahkan ia sudah pandai berenang sebelum duduk di bangku sekolah dasar. Lagi pula, sungai itu bukan sungai yang dalam. Sudah berbulan-bulan hujan tak turun. Musim kemarau membuat air bendungan menyusut hingga hanya setinggi dada orang dewasa.

Lalu Bagaimana mungkin anak yang pandai berenang bisa tenggelam di sungai yang bahkan tidak terlalu dalam? Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang tak menemukan jawaban.

Kak Dewi mendekat, lalu membisikkan sesuatu yang mengubah arah perjuangan Hamida. "Mi... jangan langsung dimakamkan."

Hamida menoleh.

"Mintalah anakmu diotopsi. Kalau memang ini kecelakaan, hasil otopsi akan membuktikannya. Tapi kalau bukan..." Kak Dewi menghentikan ucapannya sejenak. "Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Harapan."

Ucapan Kak Dewi terus terngiang di kepala Hamida. Tatapannya tak pernah lepas dari tubuh Harapan yang telah dibalut kain kafan. Air mata kembali jatuh tanpa henti. Ada sesuatu yang tidak masuk akal. Luka-luka di tubuh putranya, darah yang masih merembes dari balik kain kafan, dan sungai yang bahkan tidak terlalu dalam.

Dengan langkah tergesa, Hamida mencari petugas rumah sakit. "Pak..." suaranya bergetar. "Saya minta anak saya jangan dimakamkan dulu."

Petugas itu menoleh.

"Saya ingin Harapan diotopsi."

"Otopsi?" ulang petugas tersebut.

"Iya. Saya ingin tahu penyebab kematian anak saya yang sebenarnya."

Petugas itu tampak ragu. "Kalau memang keluarga menghendaki, nanti harus ada persetujuan tertulis."

Hamida mengangguk cepat. "Saya ibunya. Saya yang bertanggung jawab. Tolong... jangan serahkan jenazah anak saya dulu sebelum dilakukan otopsi."

Untuk pertama kalinya sejak Harapan ditemukan tak bernyawa, Hamida merasa ia harus melakukan sesuatu. Ia tak lagi hanya menangis. Seorang ibu yang kehilangan anaknya mungkin tak mampu menghidupkan kembali putranya, tetapi ia masih bisa memperjuangkan kebenaran tentang kematiannya.

Belum sempat petugas menyiapkan berkas persetujuan otopsi, lorong rumah sakit mendadak ramai. Keluarga besar dari pihak mantan suami Hamida datang berbondong-bondong. Begitu mendengar Hamida meminta otopsi, wajah mereka berubah.

"Mida!" bentak seorang paman Harapan. "Apa-apaan kamu?"

Hamida menoleh dengan mata sembab. "Saya cuma ingin tahu kenapa anak saya meninggal."

"Bukan begitu caranya!" sahut seorang bibi sambil menunjuk wajah Hamida. "Kamu tahu nggak apa itu otopsi?"

Hamida terdiam.

"Anakmu bakal dibelah! Dadanya dibuka! Tubuhnya dipotong-potong! Sudah meninggal masih mau kamu siksa?"

Tangis Hamida pecah lagi. "Saya cuma..."

"Jangan cuma! Kamu ini ibu macam apa?" hardik yang lain. "Mayat harus segera dimakamkan. Menunda pemakaman itu menyiksa jenazah."

"Kalau memang takdirnya tenggelam, ya terima saja! Jangan bikin ribut."

"Tapi tubuh Harapan banyak luka..." suara Hamida lirih.

"Itu karena hanyut!" potong seseorang.

"Masih ngeyel juga."

"Kamu mau seluruh kampung menganggap keluarga kita macam-macam?"

"Sudahlah, Mida. Ikhlaskan."

Hamida menggeleng pelan. Air matanya tak berhenti mengalir. "Kalau memang ini kecelakaan... kenapa semua orang takut diotopsi?"

Kalimat itu membuat suasana seketika hening. Tak ada yang menjawab. Namun beberapa detik kemudian, suara-suara itu kembali menyerangnya, lebih keras dari sebelumnya.

"Kamu sudah stres!"

"Gila!"

"Ibu macam apa membiarkan anaknya dibedah?"

"Harapan sudah cukup menderita. Jangan tambah penderitaannya."

Ucapan demi ucapan menghantam hati Hamida. Ia berdiri sendirian di tengah lorong rumah sakit, dikepung oleh orang-orang yang seharusnya menguatkannya.

Kak Dewi berusaha membela. "Otopsi bukan untuk menyiksa jenazah. Itu untuk mencari penyebab kematian."

"Tidak usah ikut campur! Ini urusan keluarga kami!" bentak salah seorang kerabat.

Hamida menundukkan kepala. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak sendiri. Di hadapannya, petugas rumah sakit hanya bisa menunggu keputusan keluarga. Akhirnya Dengan suara yang nyaris tak terdengar, Hamida berkata, "Kalau memang kalian semua menolak..." Ia menatap tubuh Harapan untuk terakhir kalinya. "...makamkan saja anakku." Kalimat itu keluar dari bibirnya, tetapi seumur hidup ia tak pernah memaafkan dirinya karena telah mengucapkannya.

***

Mobil jenazah berjalan perlahan menuju pemakaman umum di ujung kampung. Di belakangnya, beberapa sepeda motor dan mobil keluarga mengikuti tanpa banyak percakapan. Hamida duduk diam di dalam mobil, memeluk foto kecil Harapan yang selalu ia simpan di dompet. Air matanya tak pernah berhenti mengalir sejak tadi. Berkali-kali ia menoleh ke arah mobil jenazah di depan, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang sebentar lagi berakhir. Namun setiap meter perjalanan justru semakin membawa putra semata wayangnya menjauh darinya.

Dadanya dipenuhi penyesalan. Apa keputusannya tadi sudah benar? Haruskah ia mempertahankan permintaan otopsi itu, meski seluruh keluarga menentangnya? Atau memang mereka yang benar? Hamida tak tahu. Ia benar-benar tak tahu.

Seumur hidupnya, tak pernah ada yang mengajarinya bagaimana mengambil keputusan sebesar ini. Kedua orang tuanya telah meninggal ketika ia masih belasan tahun. Setelah itu, ia dibesarkan seadanya oleh kerabat yang lebih sibuk memikirkan beban hidup mereka sendiri. Begitu lulus SMA, bukannya diberi kesempatan kuliah atau bekerja, ia justru dinikahkan. Katanya, perempuan tak perlu sekolah tinggi. Tugasnya hanya mengurus rumah, melayani suami, lalu membesarkan anak. Dan Hamida menjalani semuanya.

Dunianya perlahan mengecil. Ia tak punya teman. Tak punya tempat bercerita. Tak mengerti hukum. Tak mengenal siapa pun di luar kampungnya. Hidupnya hanya berputar di antara rumah, pabrik tahu, dan seorang anak laki-laki bernama Harapan.

3

Kini, Harapan telah pergi. Yang tersisa hanyalah dirinya. Sendirian. Di tengah keluarga yang tak pernah benar-benar menganggapnya bagian dari mereka.

Hamida menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah lagi, lebih keras dari sebelumnya. "Maafkan Ibu, Nak..." isaknya lirih. "Ibu tidak punya siapa-siapa untuk membelamu."

Di luar mobil, langit mendadak mendung. Angin berembus pelan, mengiringi perjalanan terakhir seorang anak yang kematiannya akan segera dianggap selesai oleh semua orang. Kecuali oleh ibunya.

***

Azan Asar baru saja selesai ketika tubuh kecil Harapan perlahan diturunkan ke dalam liang lahat. Dua orang lelaki menerima jenazah itu dengan hati-hati, lalu membaringkannya menghadap kiblat. Hamida berdiri di bibir makam. Matanya tak berkedip sedikit pun. Ia menyaksikan setiap gerakan itu seolah sedang melihat sebagian dari hidupnya ikut dikuburkan.

"Pelan-pelan..." bisiknya nyaris tak terdengar. Seolah Harapan masih bisa merasakan dinginnya tanah.

Seorang petugas mulai membuka ikatan kain kafan. Yang lain menyusun papan penutup liang lahat. Lalu segenggam demi segenggam tanah dijatuhkan. Buk... buk... buk... Suara tanah yang menghantam papan kayu terdengar begitu jelas.

Setiap bunyi itu seperti menghantam dada Hamida. Retak. Lalu hancur.

Tubuhnya masih berdiri, tetapi ia merasa seluruh isi dadanya telah runtuh. Napasnya semakin pendek. Lututnya bergetar. Rasanya seperti ada sesuatu yang perlahan ditarik keluar dari dalam dirinya. Bukan jantungnya. Bukan pula darahnya. Melainkan alasan mengapa ia masih ingin hidup.

Harapan adalah satu-satunya orang yang membuatnya bertahan setelah kematian kedua orang tuanya, setelah pernikahan yang gagal, setelah hari-hari panjang yang hanya diisi bekerja di pabrik tahu demi membeli buku, seragam, dan sepatu sekolah.

Kini Alasan itu ikut terkubur.

Hamida jatuh berlutut di depan makam yang masih basah. Tangannya menggenggam tanah merah yang baru saja menimbun tubuh putranya. Air matanya menetes tanpa suara. Konon, ada sebutan bagi anak yang kehilangan orang tua. Ada sebutan bagi seorang istri yang kehilangan suami. Ada pula sebutan bagi suami yang kehilangan istrinya. Namun, tak ada satu kata pun yang diciptakan untuk seorang ibu yang kehilangan anaknya. Mungkin karena rasa sakit itu terlalu besar untuk disimpan dalam sebuah nama. Atau mungkin karena tak ada bahasa yang sanggup menjelaskan bagaimana rasanya ketika seorang ibu harus menguburkan sebagian dari jiwanya sendiri.

Hamida mengusap gundukan tanah itu untuk terakhir kalinya. "Selamat tidur, Harapan..." bisiknya lirih. "Apa pun yang sebenarnya terjadi Ibu akan mencarinya." Meskipun saat itu, Hamida sendiri belum tahu bahwa janji sederhana itu akan membawanya melawan orang-orang yang paling berkuasa di kampungnya.

***

Menjelang Magrib, satu per satu warga mulai berdatangan untuk bertakziah. Sebagian membawa beras, gula, mi instan, dan telur. Sebagian lagi hanya datang dengan doa dan pelukan. Gubuk bambu yang selama ini terasa lengang mendadak dipenuhi suara orang-orang yang mengucapkan belasungkawa.

Namun belum lama para pelayat duduk, kakak tertua mantan suami Hamida berdiri di depan pintu. "Bapak-Ibu," ucapnya lantang. "Takziahnya pindah saja ke rumah kami. Di sana lebih luas. Di sini sempit, panas, nanti tamu tidak nyaman."

Beberapa orang mulai saling berpandangan. Ada yang perlahan berdiri, bersiap mengikuti arahan itu. Hamida hanya menunduk. Ia tak punya tenaga untuk membantah.

Saat itulah Dewi berdiri. "Tunggu dulu." Semua mata tertuju kepadanya. Kak Dewi melangkah ke tengah ruangan, menatap satu per satu keluarga mantan suami Hamida. "Selama delapan tahun Harapan tinggal di mana?" Tak ada yang menjawab. "Di rumah besar kalian?" tanyanya lagi. Suasana tetap hening. Kak Dewi menghela napas. "Harapan tinggal di gubuk sempit ini bersama ibunya." Tatapannya semakin tajam. "Kalau selama hidupnya kalian membiarkan dia tinggal di sini, kenapa setelah meninggal justru kalian ingin mengambil rumah dukanya?"

Seorang perempuan dari keluarga itu mendecak. "Kami cuma ingin menghormati tamu."

"Menghormati tamu?" ulang Kak Dewi. "Yang kehilangan anak itu Hamida, bukan kalian." Tak ada yang berani menyela. Kak Dewi lalu menoleh kepada para pelayat. "Silakan bertakziah di sini." Ia mengangkat tangannya, menunjuk dinding bambu yang mulai lapuk. "Rumah ini memang sempit. Tapi di sinilah Harapan dibesarkan. Di sinilah ia tidur, belajar, tertawa, dan memanggil ibunya setiap hari."

Suasana mendadak sunyi. Tak seorang pun lagi berdiri. Para pelayat kembali duduk di atas tikar yang digelar seadanya.

Di sudut ruangan, Hamida menatap Kak Dewi dengan mata berkaca-kaca. Sejak Harapan meninggal, baru kali itu ada seseorang yang benar-benar berdiri di pihaknya.

Tanpa banyak kata, Kak Dewi menghampiri Hamida, menggenggam tangannya erat. "Mulai hari ini," bisiknya pelan, "jangan biarkan siapa pun mengambil hakmu lagi, Mi." Kalimat itu sederhana. Namun kelak, Hamida akan mengingatnya sebagai awal dari keberaniannya melawan.

***

Malam semakin larut. Tamu yang datang tak pernah benar-benar sepi. Seusai mengaji dan memanjatkan doa, beberapa orang berpamitan sambil menyelipkan amplop putih ke tangan Hamida.

"Ini sedikit buat membantu, ya, Mi."

"Jangan dilihat isinya. Semoga bermanfaat."

Hamida hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Amplop-amplop itu ia letakkan begitu saja di atas meja kecil di sudut ruangan. Bahkan ia belum sempat menghitungnya. Baginya, malam itu tak ada lagi yang lebih berharga daripada seorang anak yang kini telah berbaring sendirian di dalam tanah.

Saat tamu mulai berkurang, kakak mantan suaminya melangkah mendekati meja itu. Tangannya menunjuk tumpukan amplop. "Mida."

Hamida menoleh pelan.

"Nanti amplop takziahnya dihitung."

Hamida mengangguk tanpa banyak berpikir.

"Lalu dibagi dua."

Kening Hamida berkerut. "Dibagi dua?"

"Iya." Perempuan itu menjawab ringan seolah sedang membicarakan sesuatu yang biasa. "Di situ ada hak ayahnya Harapan juga."

Ruangan mendadak sunyi. Hamida menatap perempuan itu beberapa saat, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Ini..." suaranya lirih, "...orang-orang memberi karena Harapan meninggal."

"Makanya dibagi. Joni juga ayahnya Harapan."

Hamida menundukkan kepala. Dadanya kembali sesak. Belum genap beberapa jam anaknya dimakamkan. Belum sempat air matanya mengering. Kini, yang dipersoalkan justru amplop belasungkawa.

Dari arah dapur, Kak Dewi yang sejak tadi membantu mencuci gelas menghentikan kegiatannya. Ia menatap tajam ke arah perempuan itu. "Kalau selama Harapan hidup biaya sekolah, makan, baju, dan obatnya juga dibagi dua, saya tidak akan keberatan amplop itu dibagi dua." Tak seorang pun menjawab. Kak Dewi melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, tetapi setiap katanya terdengar menusuk. "Selama delapan tahun saya hanya melihat Hamida yang bekerja dari pagi sampai sore demi membesarkan anak itu. Sekarang setelah Harapan meninggal, baru semua orang ingat kalau dia punya ayah?"

Ruangan kembali hening. Beberapa tamu saling berpandangan dengan wajah canggung. Tak ada lagi yang berani membahas amplop itu malam itu. Namun, bagi Hamida, kejadian tersebut menjadi satu lagi bukti bahwa setelah kehilangan putranya, ia masih harus menghadapi orang-orang yang lebih sibuk menghitung uang daripada menghormati duka seorang ibu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!