Jam dinding di ruang administrasi logistik sudah menunjuk ke angka sebelas malam lewat sedikit.
Liana mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya yang terasa kaku ke sandaran kursi plastik.
Bahunya merosot, lelah setelah berjam-jam lembur bagai kuda demi menyelesaikan tumpukan manifes pengiriman yang seolah tidak ada habisnya.
Netranya terasa perih, tetapi ada secercah rasa lega yang menyelusup di dada ketika ia berhasil menyusun map terakhir ke dalam rak. Selesai juga.
Liana bergegas membereskan barang-barangnya ke dalam tas kanvas lusuh miliknya.
Pikiran wanita berusia dua puluh dua tahun itu sudah melompat jauh ke depan: sebuah kasur tipis di kamar kost, keheningan, dan tidur nyenyak tanpa gangguan. Hanya itu yang ia inginkan saat ini.
Setelah berpamitan singkat pada satpam yang berjaga di gerbang depan, Liana menuntun sepeda motor matic-nya keluar.
Malam sudah terlalu larut, dan pilihan terbaiknya adalah lewat jalan pintas—sebuah jalur potong yang melintasi area pergudangan sepi dan temaram.
Jalanan itu memang minim lampu penerangan, tetapi jauh lebih cepat untuk sampai ke area rumah kostnya.
Angin malam berembus menusuk jaket tipis yang dikenakannya.
Jalanan begitu lengang, hanya menyisakan suara deru halus mesin motornya yang membelah keheningan.
Namun, kedamaian di jalan raya tidak bertahan lama.
Brak!!!
Suara benturan keras tiba-kira menggema, memecah kesunyian malam dengan brutal.
Liana spontan mengerem motornya mendadak. Jantungnya mencelos ke dada.
Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, keheningan malam langsung berganti dengan raungan mesin motor berkekuatan besar yang saling bersahutan.
Suaranya memekakkan telinga, berseliweran dari arah persimpangan di depannya. Itu adalah suara khas dari bentrokan geng motor yang sedang bertikai.
Ciaaat!
Klentang!
Suara besi beradu dan teriakan kemarahan terdengar samar dari kejauhan.
Liana mencengkeram stang motornya erat-erat, tubuhnya gemetar parah.
Ia ingin memutar balik, namun rasa takut justru membuatnya terpaku di tempat.
Tidak berselang lama, terdengar suara dentuman keras kedua akibat benturan hebat.
Tak lama kemudian, suara raungan motor-motor besar itu perlahan-lahan menjauh dan menghilang di kegelapan malam, meninggalkan keheningan mencekam yang kembali merayap.
Liana memberanikan diri melajukan motornya pelan, sangat pelan, berniat untuk segera lewat dan pergi dari sana.
Namun, tepat di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip suram beberapa puluh meter di depannya, langkahnya terhenti.
Di sana, sebuah motor sport hitam besar tergeletak dalam kondisi hancur parah.
Asap tipis mengepul dari mesinnya yang terkoyak. Dan yang membuat darah Liana berdesir hebat adalah sesosok tubuh pria yang terkapar tak berdaya di samping reruntuhan motor tersebut.
Pria itu tampak tidak bergerak, separuh tubuhnya tersembunyi di dalam bayang-bayang malam yang pekat.
Detak jantung Liana bergemuruh hebat, seirama dengan denyut ketakutan yang mendadak menguasai seluruh rongga dadanya.
Logikanya berteriak untuk segera memutar gas dan kabur sejauh mungkin.
Namun, melihat tubuh yang terkapar tak berdaya di bawah temaram lampu jalan yang berkedip suram itu, rasa kemanusiaan Liana justru menahan langkahnya.
Dengan tangan gemetar, ia menyandarkan motornya di tepi jalan.
Langkah kakinya terasa sangat berat saat mendekati rongsokan motor sport hitam yang masih mengepulkan asap tipis.
Bau hangus oli dan bensin yang bocor menyengat hidung, berbaur dengan aroma anyir darah yang langsung membuat Liana mual.
"Hal-halo? Anda bisa mendengar saya?" suara Liana bergetar, nyaris tertelan keheningan malam yang mencekam.
Liana berlutut di samping pria itu. Di bawah penerangan yang sangat minim, ia tidak bisa melihat wajah sang pria dengan jelas.
Wajah itu tertutup noda darah, debu jalanan, dan sebagian tertutup oleh rambut hitamnya yang berantakan.
Liana tidak akan pernah tahu bahwa sosok yang sedang sekarat di depannya ini adalah Kenzo, pemimpin geng motor kejam yang paling ditakuti di kota ini.
Liana mencoba memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan pria itu.
Namun, saat kulit mereka bersentuhan, Liana tersentak.
Suhu tubuh pria itu luar biasa panas, seolah ia sedang dibakar oleh demam yang abnormal.
Pria itu mulai mengerang—bukan hanya erangan kesakitan akibat luka hantam, melainkan erangan yang sarat akan frustrasi, napasnya terengah-engah, memburu dengan liar.
Pria ini tidak sekadar terluka. Tubuhnya sedang bereaksi hebat terhadap sesuatu—sebuah efek obat perangsang dosis tinggi yang dipaksakan masuk ke dalam sistem tubuhnya sebelum kecelakaan itu terjadi.
"N-napas Anda. Tunggu, saya akan ambil ponsel untuk panggil ambulans—"
Sebelum Liana sempat menarik tangannya, sebuah gerakan secepat kilat dan tak terduga terjadi.
Pria itu, dengan sisa tenaga yang luar biasa besar dan mencengkeram pergelangan tangan Liana hingga memar.
Sret!
Dengan satu gerakan brutal yang tak terbantahkan, Kenzo merenggut bandana kain hitam yang mengikat kepalanya.
Sebelum Liana sempat memekik, kain itu sudah melilit erat di wajahnya, mengikat indra penglihatannya ke dalam kegelapan total.
"Tolong aku..." bisik Kenzo dengan suaranya rendah, serak, dan berbahaya—terdengar seperti perintah mutlak alih-alih sebuah permohonan.
Napas panas pria itu berembus kasar di ceruk leher Liana, mengirimkan gelombang ngeri yang melumpuhkan akal sehatnya.
Suasana di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat menakutkan.
Kegelapan yang dipaksakan itu membuat Liana kehilangan orientasi.
Suara gesekan daun, tetesan bensin yang bocor, dan deru napas memburu pria di atasnya terdengar sepuluh kali lebih keras dan mengancam.
Liana merasa seperti mangsa yang terkunci di dalam perangkap tak kasatmata.
"Jangan tutup mataku. Apa yang kamu lakukan?!" teriak Liana histeris.
Air mata kepanikan mulai meleleh di balik kain hitam yang menutup matanya.
Ia meronta, mencoba mendorong dada bidang pria itu, namun tubuh besar di atasnya terasa seperti batu karang yang mustahil digeser.
"Lepaskan! Tolong, jangan lakukan ini!"
Namun, kegelapan malam itu seolah menelan semua jeritannya, menyisakan Liana yang terperangkap dalam cengkeraman sang monster yang sedang kehilangan kendali.
Pria itu, menggunakan sisa tenaga liarnya yang didorong oleh zat sialan di dalam darahnya, bergerak brutal.
Ia menyeret tubuh Liana, mengabaikan motor matic wanita itu yang sempat ia tendang dan pinggirkan sedikit agar tidak menarik perhatian di tepi jalan.
Dengan satu sentakan kasar, ia membawa Liana paksa ke arah semak-semak yang gelap, lebat, dan tersembunyi dari pandangan dunia.
Liana menangis histeris. Air matanya merembes basah menembus kain bandana yang mengikat matanya.
Kegelapan total ini membuatnya seribu kali lebih rentan.
"Tolong jangan. Tolong, saya hanya ingin membantu Anda..."
Liana memohon dengan suara parau, seluruh tubuhnya bergetar hebat menghadapi ancaman yang tak kasatmata.
Namun, pria itu sudah kehilangan kewarasannya. Ia tidak peduli.
Dengan cepat, ia membekap mulut Liana dengan telapak tangannya yang besar dan hangat, meredam jeritan wanita itu hingga hanya tersisa lenguhan pasrah yang malang.
Aroma anyir darah dari luka sang pria dan wangi maskulin yang pekat kini mengepung indra penciuman Liana, mengunci oksigennya.
Di bawah kegelapan malam yang dingin, tanpa visual sama sekali, indra pendengaran dan peraba Liana menjadi aktif dengan cara yang menyiksa.
Ia bisa mendengar suara gesekan dedaunan kering yang terinjak, robekan kain yang kasar, dan deru napas berat yang memburu tepat di atas wajahnya.
Sentuhan demi sentuhan kasar yang menerpa kulitnya terasa seperti sayatan pisau yang menorehkan trauma mendalam.
Malam itu, di atas tanah yang lembap, Liana harus menerima kenyataan paling pahit dalam hidupnya.
Niat tulus kemanusiaannya dibalas dengan kebiadaban.
Kehormatan dan kesucian yang ia jaga setengah mati direnggut paksa oleh orang asing yang baru saja ingin ia tolong.
Setiap detiknya adalah neraka. Rasa sakit fisik tidak sebanding dengan hancurnya harga diri yang sehancur-hancurnya.
Beberapa waktu yang terasa seperti keabadian berlalu, Kenzo akhirnya bangkit dengan napas terengah-engah.
Tanpa sepatah kata pun, ia meninggalkan Liana begitu saja di semak-semak dalam kondisi kacau, pakaian yang koyak, dan jiwa yang hancur lebur.
Melalui pendengarannya yang peka, Liana samar-samar mendengar langkah kaki berat pria itu menjauh, disusul suara deru mesin motor lain yang tampaknya datang menjemputnya, lalu menghilang ditelan kegelapan malam.
Suasana kembali sunyi, menyisakan suara jangkrik dan embusan angin malam yang kini terasa mengejeknya.
Liana tidak lagi menjerit. Ia menangis dalam diam, air matanya terus mengalir tanpa suara.
Tubuhnya gemetar hebat, meringkuk defensif sambil memeluk dirinya sendiri di atas tanah yang dingin.
Dunia rasanya runtuh seketika. Liana meraba wajahnya, melepas ikatan bandana hitam yang menutup matanya dengan tangan yang terus gemetar.
"Kz..." gumam Liana saat menatap tulisan di bandana hitam milik lelaki itu.
Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Liana bersumpah dalam hati.
Ia akan mengubur malam ini sedalam mungkin. Ia akan pulang, membersihkan dirinya dari sisa-sisa kebejatan pria itu, dan berharap dengan sangat agar takdir tidak akan pernah mempertemukannya lagi dengan monster malam itu.
Sementara itu di tempat lain dimana Liana merayap dalam kehancuran di atas tanah yang dingin, di sudut lain kota yang gemerlap, sebuah skenario licik justru sedang menemui kegagalannya.
Di dalam salah satu kamar suite mewah di hotel berbintang lima, Kania berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
Gaun satin merah sepinggang yang dikenakannya tampak kontras dengan raut wajahnya yang mulai diselimuti kecemasan.
Sesekali jemarinya yang dihiasi cat kuku mahal mengetuk-ngetuk layar ponsel, menunggu kabar yang tak kunjung datang.
Di atas meja nakas, dua buah gelas kristal berisi minuman yang telah dicampur dengan zat perangsang dosis tinggi—zat yang sama dengan yang mengalir di darah pria yang ia incar—kini sudah mendingin.
"Harusnya efek obat itu sudah bekerja sekarang," gumam Kania dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal erat.
"Aku sudah membayar mahal orang-orang geng motor saingan itu untuk menjebaknya dan memastikan dia meminumnya sebelum mereka bertikai. Kenzo tidak punya pilihan lain malam ini selain datang kepadaku!"
Kania tersenyum sinis membayangkan rencananya.
Jika ia berhasil menyeret Kenzo ke ranjangnya malam ini, tidak akan ada lagi yang bisa menghalanginya untuk menjadi ratu di samping pemimpin tertinggi Black Cobra.
Status, kekayaan, dan kekuasaan Kenzo akan berada di genggamannya.
"Aku harus berhasil mendapatkan Kenzo. Harus," bisik Kania penuh ambisi.
Namun, Kania tidak pernah tahu bahwa rencananya telah meleset jauh. Pria yang dinantinya bagai singa lapar itu tidak pernah menuju ke hotel tempatnya berada.
Brak!
Pintu penthouse apartemen mewah di lantai paling atas menembuk dinding saat ditendang kasar dari luar.
Kenzo melangkah masuk dengan napas yang masih memburu hebat.
Keringat dingin bercampur darah kering membasahi kemeja hitamnya yang sudah robek di beberapa bagian.
Efek obat perangsang sialan itu perlahan mulai menyurut dari darahnya, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa dan sisa-sisa gairah pekat yang perlahan mendingin.
Akal sehatnya perlahan-lahan kembali pulih.
Ia melemparkan jaket kulitnya ke lantai dengan kasar, lalu berjalan menuju cermin besar di ruang tengah.
Kenzo menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya yang tegas dan rahangnya yang kokoh tampak berantakan, dihiasi memar kebiruan akibat kecelakaan dan perkelahian beberapa jam lalu.
Namun, bukan luka-luka itu yang mengusik pikirannya.
Pria itu menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang masih bergetar.
Kilasan peristiwa di semak-semak pergudangan tadi mendadak berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Suara tangisan histeris yang malang, tubuh mungil yang gemetar hebat di bawah cengkeramannya, dan aroma tubuh yang murni—bukan wangi parfum murahan wanita malam yang biasa ia temui, melainkan aroma manis yang polos.
Wanita asing yang sebenarnya berniat menolongnya.
Kenzo mendengus, meraba kantong celananya. Alisnya langsung bertaut rapat saat menyadari sesuatu yang hilang.
"Bandana-ku..." gumam Kenzo, suaranya terdengar rendah dan berbahaya di dalam keheningan apartemennya.
Bandana hitam berlogo bordir inisial "Kz" yang selalu terikat di kepalanya sebagai simbol kekuasaannya telah hilang.
Ia ingat betul, ia menggunakan kain itu untuk membutakan mata wanita tadi agar wajahnya tidak dikenali.
Kenzo mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku-buku jarinya memutih.
Ada rasa asing yang anehnya mulai menggerogoti dadanya—sebuah obsesi gelap yang tiba-tiba meletup tanpa alasan.
Ia tidak tahu siapa wanita itu, bagaimana rupa wajah di balik kain hitam tadi, atau ke mana wanita itu pergi.
Satu hal yang pasti, takdir telah mengikat mereka dengan cara yang paling brutal. Dan bagi seorang Kenzo, apa yang sudah disentuhnya, selamanya akan menjadi miliknya.
Keesokan paginya, Liana terbangun dengan tubuh yang luar biasa sakit.
Sinar matahari yang menerobos celah ventilasi kamar kostnya terasa begitu menyengat, memaksa netranya yang sembap untuk terbuka.
Detik berikutnya, rasa perih yang teramat sangat menjalar dari bagian bawah tubuhnya, seketika menghantam kesadarannya dan mengingatkannya pada neraka semalam.
Liana bangkit dengan bertumpu pada lengannya, tetapi ia langsung meringis.
Di pergelangan tangannya, jejak memar kebiruan berbentuk cengkeraman jari tangan yang besar tercetak dengan begitu jelas.
Kulitnya yang putih kini ternoda oleh tanda kebrutalan seorang monster.
Air mata Liana kembali menetes, luruh membasahi bantalnya yang sudah lembap sejak semalam.
Dengan tubuh gemetar, ia meraih tas kanvas lusuh yang tergeletak di lantai dekat tempat tidur.
Jemarinya meraba ke bagian dalam, lalu menarik selembar kain yang sengaja ia sembunyikan di sana.
Sebuah bandana kain hitam dengan rajutan inisial "Kz" berwarna perak yang kontras.
Liana menatap benda itu dengan tatapan kosong sekaligus ngeri.
Kain inilah yang semalam merenggut penglihatannya, mengurungnya dalam kegelapan saat kehormatannya dihancurkan tanpa ampun.
Benda ini adalah bukti nyata—sebuah saksi bisu bahwa kejadian traumatis semalam bukan sekadar mimpi buruk atau delusi dari rasa lelahnya. Itu nyata. Ia telah dinodai oleh pria asing berdarah dingin.
"Mengapa harus aku...?" bisik Liana parau, suaranya tercekat di tenggorokan yang terasa kering.
Dadanya berdenyut menyakitkan, dipenuhi rasa sesak dan kehancuran yang tak kasatmata.
Jiwanya terguncang hebat, rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia ini.
Namun, jam dinding yang terus berdetak seolah menariknya kembali pada realitas yang kejam. Pukul tujuh pagi.
Meskipun batinnya menjerit menolak, Liana memaksa dirinya untuk turun dari ranjang.
Kakinya gemetar saat menapak di lantai semen yang dingin, menahan rasa sakit di sekujur persendian.
Ia melangkah ke kamar mandi, menyalakan pancuran air, dan mulai menggosok kulitnya dengan kasar.
Ia menuangkan sabun berkali-kali, menggosok lengan, leher, dan tubuhnya hingga memerah, mencoba menghapus sisa-sisa aroma maskulin dan sentuhan menjijikkan yang masih terasa melekat erat.
Liana menangis di bawah guyuran air, meredam suara tangisannya agar tidak terdengar oleh penghuni kost lain.
Setelah selesai, ia menatap pantulan dirinya di cermin buram.
Wajahnya pucat, matanya bengkak, tetapi ada binar tekad yang dipaksakan di sana.
Liana tahu ia tidak boleh ambruk. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan dunia.
Ia adalah sebatang kara di kota kejam ini; ia butuh pekerjaan di perusahaan logistik itu untuk membayar sewa kost dan bertahan hidup.
Mengurung diri dan meratapi nasib tidak akan memberinya makan.
Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Liana memakai kemeja kerja berlengan panjang untuk menutupi memar di tangannya.
Ia memulas riasan tipis demi menyamarkan rona pucat di wajahnya, menyembunyikan luka terdalamnya di balik topeng profesionalisme.
Sebelum melangkah keluar kamar, ia melirik tasnya, meyakinkan diri bahwa benda bertuliskan "Kz" itu terkunci rapat di dalam sana—sama seperti tekadnya untuk mengubur memori malam itu sedalam mungkin.
Liana menarik napas panjang, menegakkan bahunya, dan melangkah keluar untuk menghadapi dunia.
Langkah kaki Liana terasa begitu berat saat ia memasuki area kantor administrasi logistik.
Atmosfer tempat kerja yang biasanya sibuk dan bising oleh deru truk di luar, hari ini terasa berbeda.
Di beberapa sudut ruangan, para karyawan tampak berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, saling berbisik dengan raut wajah tegang.
"Kalian dengar tidak? Semalam di jalur pergudangan belakang ada bentrokan besar," bisik seorang staf dari divisi keuangan yang dilewati Liana.
"Iya, katanya geng motor Black Cobra diserang musuhnya. Ada kecelakaan parah juga di sana semalam. Polisi sampai turun tangan subuh tadi
Mendengar kata 'kecelakaan' dan 'jalur pergudangan," jantung Liana serasa berhenti berdetak.
Darahnya berdesir dingin. Ia mempercepat langkah, setengah berlari menuju kubikel mejanya demi menghindari obrolan yang membuat luka semalam kembali menganga.
Liana duduk di kursinya, mencoba fokus pada layar komputer. Namun, jemarinya membeku di atas papan ketik.
Sepanjang pagi itu, Liana bekerja dengan gerakan lambat dan tatapan kosong.
Pikirannya melayang, terjebak dalam kegelapan dan tangisan minta tolong yang ia suarakan semalam.
Wajahnya yang biasa cerah dan penuh semangat, kini pucat pasi bagai mayat hidup.
Riasan tipis yang ia poles tadi pagi sama sekali tidak mampu menyembunyikan gurat trauma di matanya.
Rista, sahabat dekat sekaligus rekan kerja yang mejanya tepat berada di sebelah Liana, sejak tadi memperhatikan gerak-gerik aneh itu.
Menyadari perubahan drastis pada sahabatnya, Rista akhirnya tidak tahan untuk tidak bertindak.
Ia bangkit dan langsung menghampiri meja Liana.
Rista mengetuk meja Liana pelan, lalu mengerutkan kening penuh rasa khawatir.
"Pucat sekali kamu, Li. Kamu sakit?"
Deg!
Liana tersentak panik. Pertanyaan sederhana itu terdengar seperti tuduhan yang mengintimidasi di telinganya.
Ia buru-buru menarik lengan kemeja panjangnya ke bawah, memastikan memar kebiruan di pergelangan tangannya tidak mengintip keluar.
Ia mencoba tersenyum kaku—sebuah senyuman yang tampak begitu dipaksakan demi menutupi trauma hebat yang sedang mencabik-cabik batinnya.
"N-nggak apa-apa, Ris. Mungkin, cuma karena mau datang bulan," bohong Liana dengan suara bergetar yang berusaha ia tegangkan.
Matanya bergerak gelisah, tidak berani menatap langsung manik mata Rista.
Rista menyipitkan mata, menelisik raut wajah sahabatnya. Ia tahu betul bagaimana Liana jika sedang datang bulan, dan ini sama sekali tidak terlihat seperti itu. Liana tampak ketakutan, seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.
Rista tidak sepenuhnya percaya dengan alasan itu, tetapi melihat tubuh Liana yang menegang defensif, ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh demi kenyamanan Liana.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau kamu merasa sudah tidak kuat, jangan dipaksakan ya, Li. Minta izin pulang saja," kata Rista lembut sambil menepuk bahu Liana pelan sebelum kembali ke mejanya.
Sentuhan di bahu itu membuat Liana sedikit tersentak, namun ia hanya bisa mengangguk pelan.
Setelah Rista pergi, Liana menunduk dalam-dalam. Air matanya nyaris tumpah lagi. Ia tahu, mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Sementara Liana berjuang mengumpulkan sisa-sisa jiwanya yang hancur di kantor logistik, suasana di sudut lain kota menyajikan kontras yang luar biasa ekstrem.
Di lantai tiga Rumah Sakit Husada, atmosfer begitu tenang, elegan, dan steril.
Aroma aromaterapi lavender yang menenangkan menguar halus di udara, berpadu dengan pencahayaan hangat yang sengaja dirancang untuk memberi kenyamanan.
Di balik pintu kayu jati berpelat kuningan bertuliskan dr. Kenzo, Sp.OG, sebuah konsultasi medis sedang berlangsung dengan penuh profesionalisme.
Di dalam ruangan itu, seorang pria dengan potongan rambut rapi dan pembawaan yang luar biasa tenang sedang memeriksa seorang pasien.
Gerakan tangannya saat memegang alat ultrasonografi (USG) begitu presisi dan berhati-hati.
Wajahnya yang rupawan tampak fokus menatap layar monitor, menampilkan senyum tipis yang menenangkan saat menjelaskan kondisi janin kepada sang pasien.
Pria itu adalah Dokter Kenzo. Di dunia medis, ia dikenal sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang sangat dihormati, tampan, dan terkenal bertangan dingin.
Kombinasi antara kecerdasan, ketampanan yang memikat, dan reputasi medis yang cemerlang membuatnya menjadi dokter kandungan primadona.
Pasien-pasien setianya bukanlah orang sembarangan, melainkan kaum ekspatriat dan sosialita papan atas kota ini yang rela mengantre berbulan-bulan demi mendapatkan jadwal pemeriksaannya.
"Semuanya terlihat sangat bagus dan sehat, Nyonya. Jaga pola makan dan pastikan vitaminnya diminum teratur," ucap Kenzo dengan suara bariton yang lembut dan begitu meneduhkan.
Suara yang sanggup membuat pasien mana pun merasa aman dan memercayakan hidup mereka kepadanya.
Sang pasien tersenyum lebar, berulang kali mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan dengan hati puas.
Begitu pintu ruang praktik tertutup rapat dan menyisakan dirinya sendiri, transformasi yang mengerikan terjadi.
Senyum ramah yang menghiasi wajah Kenzo lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata yang sedingin es dan rahang yang mengeras kaku.
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja ergonomis miliknya, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Tidak ada satu orang pun di rumah sakit ini—mulai dari jajaran direksi, para perawat, hingga pasien-pasien kelas atas itu— yang menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan.
Mereka tidak tahu bahwa di balik jas putih yang bersih, wangi, dan steril itu, mengalir darah seorang kriminal bertangan besi.
Kenzo adalah pemimpin tertinggi Black Cobra—geng motor paling kejam, disegani, dan tak kenal ampun yang menguasai jalanan hitam dan dunia bawah kota ini.
Jika di siang hari ia adalah sang penyelamat yang membantu kelahiran kehidupan baru, maka di malam hari, ia adalah sang malaikat maut yang tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang berani mengusik wilayahnya.
Kenzo menatap telapak tangannya yang terbalut sarung tangan medis lateks.
Ingatannya kembali berputar pada sisa-sisa kegilaan semalam.
Zat perangsang sialan yang dipaksakan masuk ke tubuhnya, kecelakaan hebat itu, dan, wanita beraroma manis di semak-semak pergudangan.
Dengan sentakan kasar, ia melepas sarung tangan lateksnya dan membuangnya ke tempat sampah medis.
Pria itu mengambil ponselnya di atas meja, lalu mengetik sebuah pesan singkat kepada anggota geng motornya luar sana.
[Cari wanita yang ada di jalur pergudangan belakang semalam. Bawa dia ke hadapanku hidup-hidup.]
Jam praktik Dokter Kenzo hari itu baru saja usai. Di luar jendela besar ruang kerjanya, langit senja perlahan meredup digantikan oleh temaram lampu kota.
Setelah membersihkan tangannya, Kenzo baru saja hendak melepas jas putih kebanggaannya ketika pintu ruang praktiknya tiba-tiba terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.
Seorang wanita dengan pakaian modis masuk dengan langkah terburu-buru.
Wajah Kania tampak cemas, napasnya sedikit memburu seolah ia baru saja berlari melewati koridor rumah sakit.
Ekspresi wajahnya kembali datar, sedingin es, menatap wanita yang kini berdiri di depan mejanya itu.
"Semalam kamu kemana, Kenzo?" tanya Kania langsung, matanya menatap Kenzo dengan intens, mencoba mencari tanda-tanda atau luka di tubuh pria itu.
Sebagai wanita yang diam-diam menaruh hati dan terus memantau pergerakan Kenzo, hilangnya pria itu semalam di area pergudangan membuatnya sangat cemas.
Kenzo menaikkan satu alisnya tipis.
"Aku pulang, Kania. Kenapa?" jawabnya santai, suaranya bariton dan begitu tenang, seolah tidak ada satu pun kekacauan yang terjadi semalam.
Kania meremas tali tasnya, tampak gugup di bawah tatapan tajam Kenzo.
"T-tidak apa-apa. Aku hanya, takut kalau ada geng motor yang mengganggumu di jalan."
Sorot mata Kenzo seketika menajam. Kalimat Kania barusan memicu naluri kewaspadaannya.
Bagaimana wanita ini bisa tahu tentang kejadian semalam? Apakah dia tahu sesuatu tentang penyerangan yang dialaminya?
"Geng motor lain? Maksudnya?" tanya Kenzo dingin, menekankan setiap kata dengan tekanan yang mengintimidasi.
Menyadari dirinya hampir saja keceplosan dan takut rahasianya—atau keterikatannya dengan informasi dunia bawah—ketahuan oleh Kenzo, Kania langsung panik.
Ia buru-buru mengubah ekspresi wajahnya dan memaksakan sebuah senyuman manis demi mengalihkan pembicaraan.
"Ah, bukan apa-apa! Maksudku, belakangan ini kan berita di televisi sering menayangkan bentrokan geng motor yang meresahkan di jalanan malam," kilah Kania cepat.
Ia melangkah lebih dekat ke meja kerja Kenzo, mencoba mencairkan ketegangan.
"Daripada membahas itu, bagaimana kalau kita makan malam bersama sekarang? Kamu pasti lelah setelah seharian praktik."
Kenzo hanya menatap Kania datar, tidak mengiyakan namun juga tidak langsung menolak, sementara otaknya terus menganalisis setiap gerak-gerik wanita di depannya.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, jam pulang kantor akhirnya tiba.
Liana berjalan gontai menuju tempat parkir motor di kantor logistik.
Tubuhnya masih terasa luar biasa remuk, dan setiap langkah yang ia ambil terasa bagai siksaan fisik yang nyata.
Kelelahan mentalnya jauh lebih parah; bayangan hitam dan dinginnya malam itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Saat menghidupkan mesin motor matic-nya, Liana menatap jalan keluar gerbang. Ingatannya langsung melayang pada jalur pintas pergudangan sepi yang biasa ia lalui.
Tubuhnya mendadak merinding hebat, dan rasa trauma yang pekat kembali mencekik dadanya.
'Tidak. Aku tidak akan pernah lewat sana lagi,' batin Liana berteriak histeris.
Dengan tangan yang masih gemetar di atas stang motor, Liana memutuskan untuk memutar arah.
Ia memilih untuk mencari jalan lain—jalan raya utama yang jauh lebih memutar, lebih ramai, dan diterangi lampu jalan yang terang benderang.
Meskipun membutuhkan waktu setengah jam lebih lama untuk sampai ke kostnya, Liana tidak peduli.
Baginya, jalan pintas itu kini telah menjelma menjadi sebuah gerbang neraka yang tidak akan pernah sudi ia lewati lagi seumur hidupnya.
Pagi itu, udara di dalam kamar kost Liana terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Keheningan yang sunyi mendadak pecah oleh dering nyaring alarm ponsel di atas meja kayu kecil.
Liana mengerang pelan, baru saja hendak membuka matanya yang terasa berat.
Namun, belum sempat ia mendudukkan tubuhnya dengan tegak di atas kasur tipis itu, sebuah gelombang mual yang luar biasa dahsyat mendadak naik dari ulu hatinya, menghantam dadanya tanpa ampun.
Perutnya terasa seperti diaduk-aduk dengan kasar oleh tangan tak kasat mata.
Rasa mual itu begitu mendesak dan menyiksa. Tanpa sempat berpikir atau bahkan memakai alas kaki, Liana langsung meloncat dari kasur.
Ia berlari sekencang mungkin keluar kamar, menyusuri lorong kost yang masih sepi, dan menerobos masuk ke kamar mandi umum di ujung koridor.
Hoeeekkk!
Liana jatuh berlutut di atas lantai semen yang dingin di depan kloset.
Tubuhnya melengkung, mencengkeram pinggiran keramik dengan kuku-kuku yang memutih saat ia muntah hebat.
Dada dan tenggorokannya terasa terbakar. Perutnya bergejolak mengeluarkan cairan asam yang menyiksa hingga air matanya meleleh membasahi pipi.
Ia terus memuntahkan apa saja yang bisa dikeluarkan, menyisakan tubuh yang gemetar hebat dan napas yang memburu liar dalam keheningan kamar mandi yang pengap.
Sambil terduduk lemas di lantai yang basah dan dingin, Liana bersandar pada dinding.
Ia mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya, menyeka sisa air liur dan air mata di wajahnya dengan punggung tangan yang gemetar parah.
Di tengah usahanya untuk menenangkan diri, sebuah kilasan ingatan yang mengerikan mendadak melintas di kepalanya.
Pikirannya tiba-tiba ditarik paksa pada sebuah fakta medis yang selama ini ia abaikan, ia tekan, dan ia sangkal setengah mati karena terlalu sibuk bekerja demi melupakan trauma neraka malam itu.
"Tunggu..." bisik Liana parau. Suaranya bergetar di dalam ruangan sempit itu.
Jantungnya mulai berdegup kencang, menciptakan ritme kepanikan yang bertalu-talu di dadanya.
Liana meraba saku daster tidurnya dengan panik, mencari ponsel yang untungnya sempat ia sambar saat berlari tadi.
Dengan jemari yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan ponselnya, ia membuka aplikasi kalender.
"Sekarang tanggal berapa...?" gumamnya, matanya menatap nanar angka-angka di layar digital tersebut.
Detik itu juga, napas Liana tercekat. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah disedot habis.
"Biasanya tanggal 18 aku sudah menstruasi," bisik Liana pada kesunyian yang mencekam.
"Tapi sekarang, sudah lewat hampir tujuh minggu dari tanggal seharusnya."
Sejak malam terkutuk di semak-semak pergudangan itu, Liana memang hidup dalam penyangkalan total.
Ia terlalu takut untuk memeriksa kalender menstruasinya, terlalu ngeri untuk menghadapi kenyataan.
Namun kini, angka di layar ponselnya tidak bisa berbohong.
Tubuh Liana seketika membeku bagai batu es. Kenyataan itu menghantamnya dengan begitu brutal, layaknya hantaman godam besar yang menghancurkan seluruh sisa kewarasannya.
Ia sudah terlambat datang bulan selama hampir tujuh Minggu.
"N-nggak... Nggak mungkin. Ini cuma karena aku stres. Iya, aku cuma kecapekan kerja..." Liana meracau, berusaha keras menepis ketakutan gila yang mulai merayap dan mencengkeram isi kepalanya.
Bertekad untuk mengusir pikiran buruk itu, Liana memaksakan diri untuk bangkit dengan bertumpu pada wastafel. Langkahnya limbung.
Ia menyalakan keran, berniat mencuci mukanya dengan sabun pembersih wajah beraroma buah yang ada di sana agar merasa lebih segar dan waras.
Namun, begitu ia memencet botol sabun dan setetes cairan sabun itu mengenai tangannya, aroma buah yang biasanya terasa manis dan sangat ia sukai itu menguar ke udara.
Deg.
Bagi indra penciuman Liana saat ini, bau sabun itu mendadak tercium sangat menyengat, menusuk hidung, dan begitu menjijikkan.
Aroma yang biasanya menyegarkan itu kini terasa seperti racun yang memuakkan.
Perutnya kembali bergejolak hebat, jauh lebih brutal dari sebelumnya.
Hoeeekkk!
Liana kembali muntah, mencengkeram wastafel erat-erat seolah hidupnya bergantung pada benda porselen itu.
Tubuhnya menolak wewangian itu dengan reaksi yang teramat ekstrem.
Setelah gejolak itu mereda, Liana perlahan merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding kamar mandi yang dingin.
Ia menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana, dan mulai menangis histeris dalam diam.
Bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan agar tidak terdengar ke luar.
Tubuhnya menolak bau wewangian. Tubuhnya menuntut rasa mual di pagi hari.
Ini adalah gejala klasik yang tidak bisa lagi ia sangkal dengan alasan stres atau kelelahan.
Di dalam rahimnya, di dalam tubuh yang dijaganya dengan penuh kehormatan selama dua puluh dua tahun ini, benih dari monster kejam malam itu tampaknya telah tertanam dan mulai tumbuh.
Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini menjelma menjadi kenyataan yang paling mengerikan.
Sementara tangis Liana pecah di lantai kamar mandi kostnya yang dingin, suasana di penthouse apartemen mewah milik Kenzo justru dipenuhi ketegangan yang pekat.
Asap rokok membubung ke langit-langit ruangan yang luas.
Tiga orang pria dengan pakaian kasual namun berkelas—yang tidak lain adalah petinggi geng motor Black Cobra—duduk di sofa kulit dengan raut wajah serius.
Mereka baru saja menyampaikan laporan perkembangan perburuan yang diperintahkan oleh pemimpin mereka.
"Kami sudah menyisir seluruh area pergudangan, memeriksa CCTV di persimpangan jalan malam itu, bahkan memeriksa beberapa klinik terdekat," ucap salah satu pria bertubuh tegap dengan tato ular di lengannya. Ia menggelengkan kepala pelan.
"Hasilnya nihil, Bos. Jalur itu terlalu gelap, dan sepertinya wanita itu tahu cara menghilang dengan cepat. Kami belum menemukan keberadaan wanita itu."
Kenzo yang berdiri di dekat jendela besar sambil menatap pemandangan kota langsung mengeraskan rahangnya.
Tatapannya sedingin es, mencerminkan kekecewaan sekaligus kemarahan yang tertahan.
Tangannya yang memegang cangkir kopi hitam mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.
Bagaimana bisa seorang wanita biasa lolos dari radar pencarian Black Cobra?
Melihat ketegangan yang menyelimuti Kenzo, William—atau yang biasa dipanggil Willy, sahabat sekaligus orang kepercayaan Kenzo di dunia bawah—mencoba mencairkan suasana.
Ia menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menatap Kenzo dengan senyum jahil yang memprovokasi.
"Sebenarnya, apakah dia wanita yang cantik, Kenzo? Sampai-sampai seorang pemimpin Black Cobra yang biasanya tidak peduli pada wanita, mendadak mengerahkan seluruh anggota untuk mencarinya?" tanya Willy dengan nada menggoda.
Bugh!
Tanpa diduga, sebuah bantal sofa kecil melayang cepat dan telak menghantam wajah Willy.
Kenzo melemparkannya dengan akurasi yang luar biasa dan wajah tanpa ekspresi.
"Aduh! Sialan, sakit tahu!" gerutu Willy sambil menangkap bantal tersebut, sementara dua anggota lainnya berusaha menahan tawa melihat tingkah konyol sang wakil ketua.
Willy membenahi posisi duduknya, lalu kembali terkekeh pelan.
"Tapi serius, ini pertama kalinya aku melihatmu sefrustrasi ini hanya karena seorang wanita. Sepertinya pimpinan tertinggi geng Cobra sedang jatuh cinta, hah?"
"Diam!!" bentak Kenzo dengan suara baritonnya yang rendah dan penuh penekanan.
Kilatan mata Kenzo seketika membuat seisi ruangan membeku.
Suasana santai itu lenyap dalam sedetik, berganti dengan aura intimidasi yang pekat.
" Cinta?"
Kenzo tahu itu bukan cinta. Itu adalah kepemilikan.
Obsesi gelap yang lahir dari malam terkutuk itu telah mencengkeram akal sehatnya, dan ia tidak akan tenang sebelum menemukan wanita itu.
Kenzo melirik jam tangan Rolex hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Pukul tujuh lewat lima belas pagi. Sisi gelapnya harus segera ditidurkan, karena sisi profesionalnya sudah menanti di rumah sakit.
Ia berbalik, mengambil jas dokter putih bersih yang tersampir di dekat pintu, lalu memakainya dengan gerakan yang sangat rapi.
Perubahan auranya begitu cepat—dari seorang bos mafia kejam menjadi seorang dokter spesialis yang berwibawa.
"Ayo kita berangkat kerja ke tempat masing-masing," ucap Kenzo dingin kepada teman-teman gangsternya.
"Dan ingat, pencarian tetap berjalan. Aku ingin identitas wanita itu ada di mejaku secepatnya."
Dengan langkah tegap dan pembawaan yang tenang, Dokter Kenzo melangkah keluar dari apartemennya, siap mengenakan topeng malaikat penolongnya di Rumah Sakit Husada.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!